
Dua hari sudah Thalia di rawat di rumah sakit. Sedikit pun Sandi tidak pernah jauh dari Thalia. Dia bahkan memesan kamar khusus yang bisa membawa bayinya ikut serta bersamanya di ruang perawatan Thalia. Tak ketinggalan perawat yang memantau perkembangan bayi laki-laki yang dia beri nama Stanley Lancanter. Namun dasar Sandi, dia memberi nama panggilan Ale pada putranya.
Oek ... oek ... oek ...
Sandi langsung terbangun mendengar suara bayinya yang menangis. Tak lupa dia pun segera membangunkan Thalia yang tertidur dalam pelukannya. Orang tua baru itu dengan sigap ikut menenangkan bayinya. Meskipun sebenarnya ada perawat yang siap sedia bersama bayi mereka tetapi Sandi maupun Thalia selalu ikut serta membantu perawat itu
"Sus, Ale pipis apa mau mimi?" tanya Thalia.
"Dia pipis Mbak!" jawab Perawat itu.
"Apa perlu saya pumping sekarang?" tanya Thalia lagi.
"Boleh Mbak! Untuk persediaan, jangan lupa diberi tanggal ya Mbak!" perawat itu mengingat kembali apa yang harus Thalia lakukan saat dia selesai pumping.
Mendengar apa yang perawat itu katakan, Sandi pun segera menyiapkan alat pumping untuk menyedot sumber kehidupan putranya dari buah kesayangannya, Tak lupa apron yang khusus dia pakai untuk pumping, sudah terpasang rapi di tubuh Thalia.
Perawat yang sudah selesai mengganti popok bayi Thalia hanya tersenyum melihat Thalia dan Sandi yang selalu kompak. Meskipun terkadang kelakuan Sandi membuat dia malu sendiri melihatnya.
"Tali, kalau aku aku ikut minum boleh gak sih? Aku kho pengen nyicip ya!" ujar Sandi dengan menatap lekat alat pumping di dada Thalia.
"Sandal ikh, apaan? Masa iya diminum. Memang kamu ingin menjadi anak aku?"
"Ya enggaklah! Enakkan jadi suami kamu. Kalau jadi anak kamu, nanti aku gak bisa ninaninu," sanggah Sandi.
"Dasar omes! Sudah mending kamu tidur saja sana!" usir Thalia.
"Aku gak bisa tidur kalau gak peluk kamu. Aku juga sudah pesan buat tempat tidur kita, Ale pakai tempat tidur tambahan di samping kamu."
"Kamu pesan sama siapa?" tanya Thalia.
"Aku pakai jasa desain interior dari perusahaan Argantara. Pokoknya kamu pasti suka pas nanti kita ke sana sepulang dari sini," ucap Sandi dengan senyum yang mengembang dari kedua sudut bibirnya.
__ADS_1
Setelah selesai pumping dan bayi Ale pun sudah kembali terlelap, mereka pun kembali melanjutkan tidurnya. Tidak jauh berbeda dengan perawat yang menjaga Ale. Meskipun sebenarnya tugas dia menjaga Ale bergantian dengan temannya, tetapi Sandi maupun Thalia tidak keberatan jika perawat itu tidur saat bayinya tidur.
Keesokan harinya, Raline dan Melati datang berkunjung. Mereka memang setiap hari menyempatkan diri untuk mengunjungi Thalia dan bayinya termasuk bayi besarnya juga. Meskipun lelah setiap hari Raline pulang pergi ke rumah sakit. Akan tetapi, dia merasa sangat bahagia karena dia bisa menyiapkan makanan untuk Sandi setiap hari.
Keinginannya yang selama bertahun-tahun dia pendam di dalam hati, akhirnya dapat terwujud juga. Sandi pun sudah semakin mencair pada mamanya. Dia akhirnya bisa menyadari perjuangan seorang ibu saat melahirkan anaknya begitu berat. Rasanya tidak adil jika dia masih menyimpan rasa sakit hati karena perceraian orang tuanya. Apalagi sampai tidak bisa memaafkan kesalahan mamanya.
"Nak, hari ini Mama buat sop kambing." Raline langsung menyiapkan makanan untuk Sandi setibanya di ruang perawatan Thalia.
"Makasih, Mah! Setiap hari bersusah payah menyiapkan makanan untuk aku," ucap Sandi seraya menatap nanar makanan di depannya.
"Mama malah senang bisa menyiapkan makanan untuk kamu. Apapun yang Mama lakukan untuk kamu, Mama tidak merasa bersusah payah."
"Maafkan aku, Mah! Selama ini sudah berkeras hati tidak mau memaafkan Mama," ucap Sandi seraya memeluk mamanya
"Terima kasih Nak, sudah bisa menerima Mama seutuhnya."
Suasana haru itu pecah saat terdengar suara ketukan pintu. Setelah dipersilakan masuk, nampak Gunawan dan beberapa karyawan kafe datang menjenguk baby Ale. Mereka membawa sebuah bingkisan yang besar sebagai kado untuk bayi kecil itu.
"Selamat Mbak Thalia. Tadi kami hampir menyasar. Tidak tahu kalau di rumah sakit ini ada ruangan khusus selain VIP," ucap Tiara.
"Makasih, kalian sudah menyempatkan datang ke sini. Bayiku lahir prematur jadi dia masih memerlukan perawatan khusus. Makanya sengaja memesan ruangan yang bisa satu kamar dengan Ale," jelas Thalia.
"Namanya Ale-ale Mbak?" tanya Tiara.
"Bukan, namanya Stanley Lancaster. Dipanggil Ale saja biar mudah," terang Thalia.
"Hehehe ... Lucu panggilannya."
Mereka larut dalam obrolan. Hingga saat sudah lama berada di sana, akhirnya Gunawan dan yang lainnya berpamitan. Sandi pun mengantar mereka sampai di depan pintu.
"Sandi, aku dengar Tantri dirawat di sini. Apa kamu pernah bertemu?" tanya Gunawan sebelum dia pergi.
__ADS_1
"Aku tidak pernah pergi ke mana pun. Setiap hari hanya menemani Tali."
"Oh, baguslah. Sebenarnya aku ingin menjenguk adiknya Tantra. Kasian, pas waktu itu datang ke kafe, dia kambuh. Mukanya keluar ruam merah-merah," tutur Gunawan.
"Apa, lupusnya kambuh? Aku juga kasian sebenarnya, tapi gak mungkin aku mengikuti keinginan dia. Sudahlah, yuk aku antar sampai bawah! Kayanya butuh kopi," ajak Sandi dengan merangkul Gunawan.
Mereka terus saja mengobrol sepanjang jalan. Tanpa sadar hampir berpapasan dengan Tantra yang baru saja mengurus administrasi adiknya. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat, melihat Sandi dan Gunawan yang sedang asyik mengobrol.
Sampai akhirnya, kemarahan akibat adiknya tidak bisa diselamatkan, membuat dia lepas kontrol dan hilang akal sehatnya. Tantra langsung bergegas menghampiri Sandi dan Gunawan yang berjalan di depannya. Saat sudah dekat, tanpa menunggu lama lagi, Tantra langsung menendang Sandi sekuat tenaganya.
Sandi langsung tersungkur mendapatkan serangan dadakan dari Tantra. Dia sangat terkejut melihat sorot mata Tantra yang penuh dengan kemarahan kepadanya. Namun Tantra tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, dia pun langsung menyerang Sandi dengan membabi-buta.
"PUAS KAMU! GARA-GARA KAMU ADIKKU MENINGGAL DALAM KESEDIHAN. KAMU SUDAH TAHU KALAU SAKIT ADIKKU TIDAK ADA OBATNYA TAPI KENAPA KAMU MEMBERINYA HARAPAN PALSU?"
"Tantra tenang! Ini rumah sakit," ucap Gunawan langsung memeluk Tantra dari belakang. Sampai akhirnya satpam datang untuk mengamankan.
"Maaf, Mas! Jangan buat keributan di sini. Ayo ikut ke kantor!" Satpam itu langsung membawa Tantra ke kantor keamanan rumah sakit. Sementara Sandi dibawa ke ruang IGD oleh Gunawan.
"Sial banget! Tulang ku rasanya mau patah. Tendangan dia kuat sekali," ucap Sandi seraya meringis kesakitan.
"Kadang kalau kita bertaubat itu ujiannya berat. Mungkin ini salah satu ujian kamu karena dulu sering mempermainkan hati banyak gadis," ucap Gunawan dengan terus memapah Sandi.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, dan favorite....
...Terima kasih....
Sambil nunggu Playboy update, yuk kepoin karya keren yang satu ini.
__ADS_1