Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 66 Terpaksa Berbohong


__ADS_3

Melihat kedatangan sahabatnya, Sandi segera mengakhiri panggilan teleponnya. Dia bergegas menghampiri Tantra yang berjalan ke arahnya.


"Sorry, Bro! Aku telat," sesal Tantra dengan ber-tos ala laki-laki.


"Iya gak apa. Apa semuanya sudah diurus?" tanya Sandi.


"Oh, kalau hal itu udah. Tapi ada hal lain yang harus kita urus. Nanti aku cerita kalau sudah sampai di rumah. Kamu menginap saja di rumahku. Tidak usah menginap di hotel," usul Tantra.


"Baiklah!" sahut Sandi


Keduanya berjalan beriringan seraya mengobrol menuju ke mobil. Namun, entah kenapa Sandi merasa ada hal yang berbeda dari Tantra. Namun, dia enggan untuk bertanya pada sahabatnya itu. Mereka bersahabat baik saat masih sama-sama duduk di bangku kuliah.


Dulu Tantra kuliah di ibukota. Meskipun tidak satu jurusan dengan Sandi, tetapi mereka berteman baik saat sama-sama menjadi anggota BEM. Apalagi, apartemen tempat mereka tinggal berdampingan. Sandi sering bermain bersama dengan Tantra saat Thalia sudah pulang ke rumahnya. Karena saat ada gadis itu ada, Sandi pasti mengikuti ke manapun Thalia pergi.


Tidak butuh waktu lama, mereka sudah tiba di rumah Tantra. Sebuah rumah dengan bergaya khas daerah itu dengan gapura yang dihiasi ukiran indah menyambut kedatangan mereka. Orang tua Tantra langsung menyambut kedatangan mereka, begitupun dengan seorang gadis cantik yang memiliki surai hitam sepinggang.


Tantri, adiknya Tantra yang usianya dua tahun lebih muda dari Tantra, dia sangat mengidolakan Sandi. Sampai dia tidak bisa membedakan antara cinta dan kagum. Hampir setiap hari dia menanyakan tentang Sandi pada kakaknya karena sudah sangat lama pemuda itu tidak datang ke kotanya untuk mengecek cafe.


"Kak Sandi kemana saja? Kenapa tidak pernah datang ke mari?" tanya Tantri langsung memeluk Sandi.


"Maaf Tantri, Kakak sibuk. Apalagi, sebentar lagi istri kakak mau melahirkan. Kakak tidak bisa lama-lama meninggalkan dia kalau tidak terlalu penting," jelas Sandi seraya melepaskan pelukan Tantri. Entahlah, dia merasa tidak enak hati mendapatkan pelukan dari Tantri. Apalagi itu di depan orang tua gadis itu.


"Om, Tante apa kabar?" sapa Sandi seraya mencium punggung tangan orang tua sahabatnya.


"Om dan Tante baik! Ayo Nak Sandi, istirahat dulu di dalam," ajak Bagus, ayahnya Tantra.


"Terima kasih, Om." Sandi pun mengikuti kedua orang tua itu yang berjalan menuju ke ruang tamu.


Mereka berbincang-bincang saling bertanya kabar satu sama lain. Sampai akhirnya Sandi teringat dengan tujuan awalnya dia datang ke kota itu. Tidak ingin mengulur waktu lagi, dia pun berbicara pada sahabatnya.


"Tan, ayo kita ke kafe dulu! Aku ingin melihat kondisinya," ajak Sandi.


"Santai saja, San! Polisi sudah menanganinya," sahut Tantra.

__ADS_1


Kenapa dia seperti menahan aku di sini. Sebenarnya ada apa dengan kafe itu, batin Sandi.


"Aku hanya ingin melihatnya langsung. Kalau kerugiannya besar, mau aku tutup saja kafe. Tapi kalau masih dalam batas wajar mungkin masih bisa dilanjutkan," ucap Sandi.


Gawat, Sandi malah berencana ingin menutup kafe itu. Padahal kafenya lagi rame dengan pengunjung, batin Tantra.


"Makan dulu ya! Habis makan baru kita ke kafe," ucap Tantra.


"Baiklah!" sahut Sandi pasrah.


...***...


Keesokan harinya sebelum fajar menyingsing, Sandi sudah berada di dalam pesawat. Dia sengaja pulang pagi-pagi buta karena tidak mau kalau sampai Tantra menahannya dan memaksa Sandi untuk menyetujui permintaan sahabatnya. Biarlah kali ini dia egois, karena Sandi tidak ingin mengorbankan anak dan istrinya demi kebahagiaan orang lain.


Flashback on


Saat Sandi sedang berada di ruangan yang dia jadikan sebagai kantor. Sandi tidak menemukan hal yang janggal dengan brangkassnya. Tidak seperti habis dibuka paksa. Dia yakin, kalau laci besi itu dibuka oleh orang yang mengetahui password-nya. Namun, saat Sandi akan menanyakan hal itu. Tiba-tiba saja Tantra berbicara hal yang mengejutkan dia.


"Lalu, maksud kamu berbohong itu apa?" tanya Sandi kaget.


"Ada hal lain yang harus aku bicarakan langsung dengan kamu."


"Soa?" tanya Sandi heran. Dia mengambil semua uang yang ada di lemari besi itu dan memasukkannya ke dalam tas punggung yang dia bawa dari Jakarta.


"Bereskan saja dulu uangnya!" suruh Tantra.


Sandi hanya mengikuti apa yang Tantra katakan. Setelah dia selesai membereskan gepokan uang yang ada di laci besi itu, Sandi pun menghampiri Tantra yang sedang duduk di sofa.


"Sandi, aku hanya ingin minta pertanggungjawaban kamu. Karena kamu sering memberi harapan pada adikku, dia jadi tergila-gila sama kamu. Dia ingin menikah dengan kamu," beber Tantra dengan menatap lekat sahabatnya.


"Apa kamu bilang?! Menikah?! Yang benar saja, aku sudah menikah dan sebentar lagi istriku akan melahirkan. Kamu juga tahu bagaimana dekatnya aku dengan Tali. Mana mungkin aku mau berpisah dengan dia," pekik Sandi merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tantra.


"Kamu tidak harus berpisah dengan dia. Kamu bisa menjadikan adikku sebagai istri kedua kamu. Hanya kamu yang membuat dia bersemangat menjalani hidupnya, kamu tahu sendiri kan adikku mengidap penyakit apa?" tanya Tantra dengan wajah penuh pengharapan.

__ADS_1


"Aku tahu, tapi aku minta maaf tidak bisa menikah dengan adik kamu. Aku memang sayang dengan adik kamu tapi hanya sebatas adik. Please Tantra, jangan jadikan lupus adik kamu sebagai alat untuk mengikat aku. Aku bersedia membantu pengobatan adik kamu, tapi aku tidak bersedia untuk menikah dengannya."


"Sandi, selama ini aku sering membantu kamu. Kali ini aku minta tolong sama kamu agar kamu mau menikah dengan adikku. Bukan uang kamu yang aku inginkan tapi kesembuhan adikku. Hanya saat bersama kamu keadaannya membaik. Tapi saat kamu lama tidak mengunjunginya, keadaan dia memburuk. Makanya aku terpaksa berbohong."


"Tantra, ini keputusan besar buat aku. Aku minta waktu untuk memikirkannya."


"Baiklah! Aku harap, kamu tidak mengecewakan aku."


"Iya!" Sandi hanya bisa tersenyum samar.


Dia ingin menolong sahabatnya, tetapi dia juga tidak ingin mengorbankan kebahagiaannya bersama dengan Thalia. Seandainya istrinya itu tahu dia menikah lagi di saat Thalia sedang hamil besar, sudah pasti hal itu akan menyakiti hati istrinya.


"Ayo kita pulang! Kafe juga sudah tutup," ajak Tantra.


"Sepertinya aku menginap di hotel yang dekat sini saja. Aku butuh waktu untuk sendiri. Aku ingin mengambil keputusan yang sekiranya tidak merugikan orang lain."


"Kenapa tidak menginap di rumahku saja? Kamu bisa tidur di kamar tamu."


"Sorry Tantra! Aku benar-benar butuh waktu untuk memikirkan semuanya."


"Baiklah! Aku harap keputusan kamu tidak mengecewakan aku."


Flashback off


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....


...Terima kasih!"...


Mampir juga kak ke karya terbaru Author


__ADS_1


__ADS_2