
Matahari sudah bergeser ke arah barat . Sean terus memandang rumah sakit tempat Xing lu di rawat . hingga saat ini , dia masih memikirkan tentang ucapan Mario dan RB secara bergantian dan di tambah lagi perasaan nya yang kini merasa tak baik tentang Nesya . akhirnya Sean mengeluarkan ponsel nya untuk menghubungi RB .
" halo " ucap RB di telfon .
" aku ingin menemui Nesya sekarang . perasaan ku tak enak "
" siap tuan ! "
" aku tunggu di depan lobby rumah sakit . kalian cepat lah " ucap Sean dengan perasaan yang tidak mengenakan .
seketika Sean melihat ke arah luar dan ternyata ada mendung serta cahaya kilat yang tanda nya akan turun hujan .
" petir ! " seketika Sean teringat pada Nesya .
" permisi , pasien yang bernama Xing lu di rawat dimana ? "
" mohon tunggu sebentar pak " ucap perawat magang itu sambil mengotak Atik komputer nya .
" pasien Xing lu berada di ruang bugenvil kamar 015 " ucap perawat itu .
" terimakasih " ucap Sean langsung menghambur mencari nama ruangan itu . dia terus berdoa agar jangan ada petir agar Nesya nya tidak merasa takut .
ruang bugenvil sudah ketemu , sekarang Sean hanya perlu mencari nomor kamar Xing lu .
" ini kamar nya " ucap Sean lalu mengintip di balik kaca transparan berbentuk persegi panjang yang menempel di pintu . mata Sean terus mencari keberadaan Nesya tetapi nihil . dia hanya melihat Xing lu yang menelfon seseorang dengan raut wajah licik .
Pelan-pelan dia membuka pintu itu tanpa menimbulkan suara untuk mendengar percakapan Xing lu .
" hahaha bagus . biar dia mati ketakutan di kegelapan " ucap Xing lu dengan puas .
" kau tidak lupa untuk mengunci nya dari luar kan ? " ucap Xing lu .
" bagus kau memang perawat yang licik . tidak salah aku bekerja sama dengan orang seperti mu . uang mu akan cair satu menit lagi " ucap Xing lu dan langsung mematikan telfon nya .
Sean pun pergi tanpa menutup pintu kamar dengan benar .
dia mencari ruang gelap yang di katakan Xing lu . kini hujan sudah turun dan petir mulai menyambar bergantian dengan kilat nya . saat Sean sibuk mencari ruangan itu , ponsel nya telah berbunyi .
" halo " ucap Sean .
" tuan , anda dimana ? kami sudah sampai di lobby rumah sakit " ucap RB .
" sekarang kau bantu aku mencari Nesya di semua penjuru ruangan yang gelap "
" Nesya berada di pojok barat rumah sakit . aku tidak tahu dimana tepat nya tapi titik merah ini menunjukan bahwa dia ada disana " saut Mario .
" baiklah aku tahu tempat itu " ucap Sean langsung menutup telfon dan bergegas menolong Nesya .
" tenang nes , aku datang " hanya kata itu yang mewakili rasa cemas nya . Sean terus berlari ke arah barat dan menemukan ruangan yang tidak memiliki cahaya sama sekali -kamar mayat .
__ADS_1
" Nesya apa kau di dalam " ucap Sean sambil memukul mukul pintu dengan telapak tangan nya .
"tolong ! aku takut ! " ucap Nesya menangis sambil menjerit .
Sean hanya mendengar suara Nesya yang samar akibat ruang mayat itu tidak ada fentilasi udara sama sekali .
" bertahanlah " ucap Sean lalu berjalan mundur untuk bersiap mendobrak pintu itu .
BRAAK...!!!
pintu pun terbuka dan benar saja , ruangan itu gelap hingga Sean tidak bisa melihat keberadaan Nesya .
" nes kamu dimana ? " ucap Sean sambil melihat dengan jeli di keadaan gelap itu .
seketika petir kembali menyambar dan kilatan nya menunjukan mayat mayat yang tertutup selimut putih .
" aku disini ! " ucap Nesya dengan ketakutan .
" tenang lah aku ada disini " ucap Sean sambil mendekap tubuh Nesya .
Deg !
" suara ini " ucap Nesya merasa tak asing dengan suara orang yang ada di depan nya . Nesya pun mengeratkan pegangan tangan nya di pinggang Sean .
" tenang lah kau aman bersama ku , jangan menangis lagi ok " ucap Sean sambil mengelus punggung Nesya .
" tubuh ini . aku seperti mengenal nya " ucap Nesya dalam hati .
" jangan ! . aku takut " ucap Nesya melarang Sean untuk berdiri .
setelah itu Sean merogoh saku celana nya dan mengeluarkan ponsel .
" sekarang bagaimana ? " ucap Sean sambil menerangi Nesya dengan cahaya senter seperti dulu saat Nesya ketakutan di kamar nya .
Nesya pun sedikit demi sedikit melonggarkan tangan nya dan mendongak ke arah sean .
" kak Sean ! " ucap Nesya tak percaya .
" iya ini aku " ucap Sean tersenyum .
" aku merindukan mu kak . kenapa kau tega meninggalkan ku " ucap Nesya memeluk Sean lebih erat lagi .
" sekarang aku di depan mu . kau bisa mengobati rindu mu " ucap Sean memeluk Nesya .
" kak bawa aku pergi bersama mu lagi " ucap Nesya dengan suara yang terputus-putus Karen tangis haru nya bertemu dengan Sean .
" jika kau bersama ku . kita tidak akan pernah bisa tenang nes . Ghuzheng pasti akan terus mencari mu "
" aku lebih memilih berlari terus bersama mu daripada hidup dengan nya . ku mohon kak ! " ucap Nesya sambil memohon pada Sean .
" maafkan aku nes "
__ADS_1
" kenapa kau datang hanya meminta maaf . tidak kah kau ingin menjelaskan sesuatu pada ku ? " ucap Nesya dengan tetap memeluk Sean .
" apa kau benar-benar berniat melupakan ku sampai hati kau memberikan ku pada adik mu" ucap Nesya lagi .
" kenapa kau diam " ucap Nesya sambil terisak .
" saat ini aku belum bisa memberikan penjelasan banyak pada mu" gumam Sean dalam hati .
" kak Sean ! " Nesya memanggil Sean dengan menarik kerah blazer nya . Sean pun menatap bola mata Nesya dengan lekat .
" ku mohon setelah pertemuan kita hari ini , kau jangan pergi lagi " ucap Nesya sambil meletakan tangan kanan Sean di atas kepala nya .
" aku ingin kau bersumpah atas mendiang ibu ku " dia menyuruh Sean untuk berjanji . petir kembali menyambar dan Nesya merangkul Sean lagi .
" jangan takut , disini ada aku " ucap Sean dengan terus merangkul serta mengelus rambut Nesya .
" tanpa kau suruh untuk bersumpah , aku akan tetap berada di dekat mu nes . itu pasti " ucap Sean dalam hati nya .
Nesya samar - samar terlelap di dada bidang pria tampan itu . hingga tak terasa kini Nesya telah berbaring di sofa ruang rawat Xing lu dengan di temani Ghuzheng . Nesya menatap ke sekeliling saat membuka mata nya .
" nes kamu sudah bangun ? " ucap ghuzheng tersenyum .
" kak Sean kemana ? " ucap Nesya sambil terduduk .
" disini tidak ada dia . yang menemukan mu itu aku " ucap ghuzheng datar .
" tidak . yang menolong ku bukan kamu tapi kak Sean " ucap Nesya .
" kamu berhalusinasi nes . jelas-jelas yang menolong mu di kamar mayat itu aku .kenapa kau malah menyebut nama nya ! " ucap ghuzheng menyentak Nesya .
" ghuzheng . jangan terlalu keras pada Nesya" ucap Xing lu yang berada di ranjang .
" aku tidak berbohong pada kalian . tadi aku sempat mengobrol dengan kak Sean . dia masih hidup ,dia menemui ku " ucap Nesya .
" jangan sebut nama nya . bagi ku dia sudah mati dia bukan kerabat ku lagi ! " teriak ghuzheng .
" kenapa kau memusuhi nya ? . kenapa kau jahat pada orang yang menyayangi mu !!! "
" dia Yang jahat pada ku . dari awal dia yang memiliki niat untuk merebut mu dari ku " saut ghuzheng tidak memberi kesempatan Nesya untuk berbicara lagi .
" aku tidak mau tahu. lusa kita akan melangsungkan pernikahan " ucap Ghuzheng lalu pergi dari kamar Xing lu .
" aku tidak mau menikah dengan pria pemaksa seperti mu ! kau egois Ghuzheng " ucap Nesya sambil berteriak .
Xing lu hanya menatap Nesya dengan pandangan jijik dan mulai berfikir bagaimana cara untuk menyingkirkan Nesya .
" akan ku pasti kan kau akan mati secara mengenaskan bersama mimpi mu Nesya " ucap Xing lu sambil melihat pisau buah yang tergeletak di samping buah apel .
BONUS
__ADS_1