
" aku tidak mau menikah dengan pria pemaksa seperti mu ! kau egois Ghuzheng " ucap Nesya sambil berteriak .
Xing lu hanya menatap Nesya dengan pandangan jijik dan mulai berfikir bagaimana cara untuk menyingkirkan Nesya .
" ku pasti kan kau akan mati secara mengenaskan bersama mimpi mu Nesya " ucap Xing lu sambil melihat pisau buah yang tergeletak di samping buah apel .
" nesya , apa kau benar - benar tidak mau menikah dengan Ghuzheng ? " tanya xing lu sambil turun dari ranjang nya mendekati Nesya .
" aku tidak mau . aku sangat ingin lari dari nya " ucap Nesya dengan mata nya yang masih sembab.
" jika aku menawarkan bantuan untuk mu . apa kau mau ? " ucap Xing lu dengan tersenyum tulus .
" itu arti nya kau mau membantu ku " ucap Nesya menatap Xing lu seperti menatap Dewi penolong nya . astaga nesya sadarlah gadis di depan mu itu jelmaan iblis .
" iya aku akan membantu mu . dengan syarat kau harus menuruti segala perintah ku bagaimana ? " ucap Xing lu yang kini duduk sambil mengelus rambut Nesya .
" baiklah aku akan menuruti segala ucapan mu . terimakasih Xing lu kau memang sahabat ku " ucap Nesya seraya memeluk Xing lu tetapi ekspresi nya berubah menjadi bimbang kembali dan mulai melepas pelukan nya .
" tapi...bagaimana kamu akan membantu ku . kamu sedang sakit bukan ? " ucap Nesya menatap Xing lu dengan sedih .
" aku tidak separah itu Nesya . melihat mu terbebas dari Ghuzheng aku merasa lebih senang " ucap Xing lu tersenyum licik tetapi Nesya tidak melihat gelagat buruk dari iblis kecil itu .
" tentu saja aku senang . peti mati mu sudah menunggu untuk kau masuki " ucap Xing lu dalam hati dengan nada yang ketus .
" sekali lagi terimakasih Xing lu . aku banyak berhutang Budi pada mu . jika waktu nya nanti aku akan membalas nya " ucap Nesya dengan tulus seraya memegang tangan Xing lu .
.
.
.
Di apartemen mewah yang di tinggali Sean dan RB . Disana sudah ada Mario yang duduk di sofa dengan di temani dua orang yang tak lain adalah Sean dan RB .
" bagaimana keadaan Nesya tadi ? kenapa dia sampai tidak sadarkan diri" tanya Mario serius memandang Sean .
" dia tadi hanya ketiduran di pelukan ku " Mario pun mengangguk-anggukan kepala nya .
" kurang ajar sekali orang yang memasukan Nesya ke kamar mayat . aku akan mencari dan memberinya pelajaran ! lihat saja nanti ." ujar Mario dengan geram .
" tidak perlu . aku sudah lebih dulu memberinya pelajaran " ucap Sean santai .
" maksud mu ? " ucap Mario yang tak paham dengan maksud Sean .
" dia sudah di pecat dari rumah sakit itu " ucap Sean .
" dia bekerja di rumah sakit? " Mario menebak dengan ekspresi kaget yang tidak bisa dia sembunyikan .
" tepat nya dia seorang perawat " ucap Sean sambil membuka kaleng pepsi yang ada di depan nya .
" rencana kita selanjut nya bagaimana ? " RB mulai menanyakan perihal misi ini .
__ADS_1
" tunggu kabar lagi . kita lihat situasi nya " ujar Sean dengan serius .
tiba-tiba ponsel Mario berbunyi.
" halo "
" ....."
" benarkah ? baiklah aku akan ke rumah sakit sekarang " ucap Mario dengan ekspresi yang tidak percaya .
" kau mau kemana ? " ucap Sean yang tertarik dengan masalah si penelfon tadi .
" diva sudah bisa bicara lagi kak . aku ingin melihat nya " ucap Mario dengan senang .
" boleh aku ikut bersama RB ? " ucap Sean.
" ayo ! " ucap Mario dengan berjalan cepat di susul Sean dan RB di belakang nya .
Sesampainya di tempat parkir yang tidak jauh dengan bangunan gedung apartemen . Kini sean memasuki pintu mobil yang sejajar dengan Mario sedangkan RB berada di kursi penumpang belakang .
" apa yang terjadi pada diva ? " ucap Sean yang tidak tahu mengenai diva .
" dia kecelakaan yang di sebab kan oleh Xing lu " ucap Mario sambil menyetir mobil .
RB di belakang hanya mendengarkan mereka yang sedang bertukar cerita diva saat kecelakaan . dia terus menguping pembicaraan sampai pada akhirnya Sean berkata sesuatu yang membuat RB angkat bicara .
" apa mungkin supir itu bersekongkol dengan Xing lu untuk menyingkirkan diva ? " ucap Sean sambil menoleh ke Mario .
" maksud mu ? " ucap Sean yang tidak mengerti ucapan RB .
" aku adalah anak supir taxi itu " ucap RB menatap Sean dengan berani . tiba-tiba Mario menepikan mobil nya tanpa mematikan mesin mobil.
" tunggu tunggu . berarti selama ini kau menyembunyikan identitas mu pada kak Sean juga ? " ucap Mario .
" benar " ucap RB berganti menatap Mario .
" kenapa kau membantu ku . apa yang kau mau ? " ucap Sean menatap RB .
" aku ingin menuntut balas Xing lu atas kematian ayah ku " ucap RB .
" maksud mu ? " ucap mario yang tidak mengerti arti ucapan RB .
" kalian akan lihat saat waktunya tiba " ucap RB dengan wajah berubah menjadi dingin .
kini wajah Sean berubah serius dan Mario nampak terdiam sambil menatap Sean.
" tenang lah . aku berada di pihak kalian , aku tidak akan membahayakan kalian " ucap RB tersenyum tipis untuk menghilangkan kesan dingin.
" terutama anda , tuan " ucap RB menatap Sean dengan lekat . dia benar - benar terpesona oleh kedewasaan Sean .
" baiklah kita bahas itu lagi nanti . sekarang cepat menuju rumah sakit " ucap Sean lalu menatap ke arah depan dengan pikiran yang kacau tidak karuan .
__ADS_1
.
.
.
sesampainya di rumah sakit , Mario berlari lebih dulu dan di ikuti dua orang tadi . kini mereka telah tiba di ruangan terang dan di sambut seorang gadis yang duduk bersandar di kepala ranjang dengan tersenyum pucat .
" diva " panggil Mario pada sepupu nya itu sambil berjalan cepat dan memeluk nya .
" kau sudah bisa bicara . apa yang kau rasakan " ucap Mario memegang kedua pipi diva .
" aku tidak apa apa . terimakasih kau telah merawat ku Mario " ucap diva sambil terisak tangis .
beberapa menit kemudian diva menyadari ada dua orang di belakang Mario yang sedang memperhatikan mereka .
" kak Sean " ucap diva menatap Sean dengan kaget .
" iya ini aku " ucap Sean sambil tersenyum untuk menyambut kesadaran diva .
" bukan kah kakak sudah .... " ucap diva dengan rasa bingung bercampur takut.
" sudah apa ? " ucap Sean mengerutkan dahi nya .
" tidak. tidak ada " ucap diva seperti menyembunyikan sesuatu .
" diva , kau sudah berjanji pada ku bahwa tidak ada yang kau sembunyikan lagi . ayo katakan " ucap Mario dengan lembut .
" 4 hari yang lalu , Xing lu datang kemari dengan menyamar sebagai perawat dan dia mengatakan bahwa kak Sean sudah mati di tangan nya " ungkap nya dengan rasa takut sambil meremas lengan Mario .
" setelah itu dia mengancam ku . dia ingin mengakhiri hidup ku secara perlahan . aku takut " ucap diva menangis lagi. .
" dia tidak akan pernah menyakiti mu selagi ada aku " ucap RB dengan tegas untuk menenangkan diva .
" siapa kau ? " ucap diva mendongak menatap RB .
" aku RB teman Mario " ucap RB memperkenalkan diri nya .
" apa kau mengingat supir taxi yang kau tumpangi?" ucap Mario mengingatkan kembali .
" ya aku masih mengingat supir itu . beliau orang yang baik , saat aku menangis di taxi , beliau mencoba menghibur ku . beliau juga mengatakan mempunyai anak perempuan yang umur nya 3 tahun di atas ku "
" aku lah anak itu " saut RB ikut menitihkan air mata lalu dengan cepat mengusap nya .
" sungguh ! " ucap diva tidak percaya .
" ya aku anak supir taxi itu "
" bagaimana keadaan beliau kak ? " ucap diva memegang tangan RB dengan cemas .
" ayah ku sudah meninggal saat di larikan ke rumah sakit . dia tidak seberuntung diri mu " ucap RB .
__ADS_1
" maafkan aku kak " diva bersimpuh di hadapan RB .