TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 1


__ADS_3

"Loh om siapa kok ada di kamar ini?" Aku terkejut saat keluar dari kamar mandi aku melihat ada sosok pria duduk bersandar diatas ranjang dengan menundukan kepalanya ke layar gawai serius memainkan gawainya.


Sedangkan aku masih dalam keadaan memakai handuk kimono selutut berwarna putih dan rambutku di bungkus handuk berwarna putih juga di atas kepalaku.


Pria itu seketika mendogak mendengar suaraku dan matanya langsung menatap ke arah ku.


Aku masih berdiri mematung di posisiku tadi, kaget jelas masih kaget sampai aku terdiam kek orang beg*.


"Loh harusnya saya yang bertanya kamu ini siapa , kok bisa ada dikamar ini?" Tanyanya dengan nada dingin namun tatapannya terus tertuju padaku.


Aku pun mulai menuju ke arahnya tanpa ragu, ntah kenapa bisa-bisa saja aku jadi tidak gugup lagi setelah sekilas tadi aku terkejut dan gugup.


Aku menatapnya dengan tatapan jengkel.


Mungkin rasa jengkelku lebih dominan sekarang jadi aku tidak gugup lagi malah seakan-akan sok berani.


"Om jangan macem-macem deh, Om ini siapa kok bisa ada di kamar ini?" Aku berkata dengan nada marah dan lebih menaikan sedikit volume suaraku tepat di hadapannya , tanpa rasa takut sambil berkacak pinggang.


Tetiba si pria ini bangkit dari posisinya yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang dan mamasukan gawainya ke dalam kantong celananya.


Pria ini malah menuju diriku sontak aku mundur beberapa langkah dan pria itu malah terus berjalan maju kehadapanku. Sehingga akupun terus berjalan mundur dan akhirnya membentur di dinding dan mentok berdiri dengan bersandar tanpa sengaja di dinding tersebut.


Eh pria ini sekarang yang berkacak pinggang di hadapanku dengan terus menatapku tajam. Kami masih memiliki jarak sekitar setengah meter dengan posisi saling berhadapan.


"Siapa yang macam-macam? Saya dari tadi anteng di ranjang ini sambil memainkan ponsel saya." Ucapnya tetap dengan nada dingin dan expresi dinginnya matanya menatapku kembali, namun kali ini dengan tatapan tajam.


Akupun tak berpaling dari pria dihadapanku masih menatapnya dengan tatapan jengkelku.


'Duh kok di lihat-lihat om ini ganteng juga dan belum terlalu tua keknya.'


'Pria ini siapanya si Vera sih?'


'Loh aku kok jadi bicara yang nggak penting gini sih.' Gumamku dalam hati.


"Ih si om ini ogeb juga kali ya, bukan gitu maksud aku om."


Aku memutar kedua bola mataku malas dan makin jengkel.


"Om ini ngerti kagak sih. Om ini siapa? Kenapa bisa ada di kamar ini? Apa om nggak salah masuk kamar atau bisa jadi om juga apa nggak salah masuk rumah?" Cerocosku tanpa henti kepada si pria di hadapanku ini, yang masih berdecak pinggang dan matanya masih tetap menatapku tajam.


"Hah...,apa itu ogeb?" Tanyanya dengan tatapan heran kepadaku dan dahinya tetiba berkerut.


Ingin rasanya aku tertawa karena tetiba wajahnya malah seakan mengemaskan.


Namun, aku tahan rasa ingin ketawaku. Aku kan lagi kesal kenapa jadi ingin ketawa tiba-tiba.

__ADS_1


Ahh.., entahlah om ini bikin aku tidak singkron.


"Bagus om keluar aja deh dari kamar ini , udah tau salah kamar masih aja tetep disini om ini." Tukasku dengan dengan tatapan jengkel.


"Eh girl kamu ini yang salah masuk kamar plus salah masuk rumah tau." Tegasnya dengan nada bicaranya yang kembali dingin serta tatapannya yang kembali tajam kepadaku.


Dahiku langsung berkerut mendengar apa yang barusan pria ini katakan kepadaku.


Sudah jelas dia yang salah masuk kamar plus rumah malah balik ngatain aku sebaliknya.


"Eh om nggak usah ngadi-ngadi deh , sekarang om keluar deh dari kamar ini tuh pintunya di sebelah sana." Tukasku lagi dan kali ini dengan nada lebih tegas dengan telunjuk tangan kiriku menjulur menunjuk ke arah pintu kamar ini.


Eh dia malah makin mendekati ku, hingga jarak kami yang sebelumnya masih setengah meter kini hanya beberapa senti lagi d*d*nya bisa menyentuh d*d*ku yang masih terbalut handuk kimono. Sedangkan si om ini dari awal tubuh bagian atasnya terbalut kemeja berwarna abu-abu berlengan panjang yang kedua lengan kemejanya sudah tergulung asal hingga sikunya dan kancing kemejanya sudah terbuka tiga kancingnya mulai dari kancing atas.


Duh kan jantungku sekarang tetiba maraton begini.


'Emakkk...? Help me, eneng atut.' Jeritku dalam hati aku aku malah jadi gugup dan semakin gugup ditambah wajahnya si om ini tetiba malah makin mendekat.


Hingga akhirnya si om ini menarik sebelah lenganku cukup kuat dan menyeretku menuju pintu kamar ini.


"Oya, tunggu. Baju kamu mana apa perlu kamu saya kasih pinjam baju saya agar kamu bisa keluar dari kamar ini dengan jauh lebih baik dari sekedar memakai handuk kimono ini beserta handuk yang melilit di kepalamu itu." Ujarnya tatapannya masih tajam kepadaku dan iapun menghentikan langkahnya sebelum sampai pintu kamar ini, begitu juga aku ikut berhenti seketika juga.


Om ini pun masih memegang sebelah lenganku dengan cukup kuat. Kami masih bergeming di posisi kami tadi.


Hingga akhirnya krekk...?!


"Andra!?"


Aku dan Om ini pun sontak menoleh ke arah suara berasal dengan mata terbelalak.


"Andra kenapa ada seorang perempuan di kamar ini bersama kamu?" Ucapnya dengan nada meninggi dan tatapan mata bertanya-tanya, namun tajam serta raut wajah yang terkejut kearah kami lebih tepatnya kepada om ini.


Sontak si om ini melepaskan genggamannya dari sebelah tanganku, setelah mendengar ucapan dari seorang wanita yang kira-kira lebih cocok aku panggil nenek kali ya.


Tapi nenek ini terlihat lebih muda dan terawat serta cukup fashionable.


"Mah, mamah jangan salah faham dulu. Andra bisa jelasin ini semua, Andra juga nggak tau perempuan ini siapa dan mengapa bisa ada disini." Ucap si om ini dengan sekilas menatap nenek tersebut lalu kembali menatapku disertai telunjuk tangan kirinya menunjuk-nunjuk kearah wajahku yang geulis ini.


"Mau jelasin apalagi kamu Andra sudah jelas sekarang kamu ketangkap basah begini, masih mau ngelak gitu?" Ucap sang nenek-nenek fashionable ini kearah kami tetiba dengan berkacak pinggang , tatapnya masih menajam.


"Tolong mamah jangan berfikiran aneh-aneh dulu mah, demi Allah Andra nggak kenal perempuan ini dan Andra nggak tau kenapa perempuan ini ada di kamar ini." Tegas si om ini dan ada nada sedikit memelas dari ucapannya tersebut.


"Andra jangan berani bawa-bawa nama Allah sembarangan dosa tau, yang ada nanti kamu malah tambah dosa. Itu lihat kemeja kamu udah pada terlepas sebagian kancingnya, terus ne perempuan dibalut handuk kimono begini dan rambutnya habis keramaskan makanya di lilit handuk begitu juga itu rambutnya." Ujarnya si nenek fashionable ini tanpa henti sambil menunjuk-nunjuk kearah yang terbalut di badan kami masing-masing, dengan tatapnya tetap tajam.


"Kalian berdua pasti habis berbuat mesumkan di kamar ini? , bukti sudah cukup jelaslah apalagi." Tudingnya tanpa mau mendengar penjelasan kami atau setidaknya penjelasanya om ini, yang aku rasa si om ini anaknya kali.

__ADS_1


Kami benar-benar seperti orang ogeb karena seakan tak bisa berkata-kata langsung tentang apa yang sebenarnya terj.,-adi, kalau aku dan si om ini nggak berbuat ***-*** opps mesum maksudnya.


Ingat ya nggak berbuat mesum , bukan sebaliknya.


"Mamah jangan lihat sekilas begitu, apa yang mamah lihat tidak seperti yang mamah prediksikan kepada kami. Andra juga nggak sembarangan bawa-bawa nama Allah, Andra masih tau dosa mah, Andra nggak sebej*t itulah Mah. Percaya sama Andra Mah." Cerocos si om menjelaskan panjang kali lebar tentang situasi yang sebenarnya.


Ntahlah aku benar-benar tak mengerti ini hari apa seh kok gini banget ?


Kenapa juga lidahku ini terasa kelu saat ini hingga tidak dapat berucap dan tidak ikut menjelaskan yang sebenarnya.


Ntar si om ini kira aku kesenangan pula lagi dengan situasi saat ini, padahal sebaliknya. Iih ini si om juga bisa-bisanya salah masuk kamar.


"Pokoknya kamu Andra harus bertanggung jawab kepada perempuan ini!" Tegasnya si nenek ini dengan nada lantang.


Nah bener tuh Nek si om ini harus tanggung jawab karena udah salah masuk kamar ini, kan ada aku disini kenapa dia tetep masuk kamar ini.


Kan ini bukan kamar si om ganteng ini.


Ihh..,kok aku malah bilang ni si om ganteng lagi sih..?


Kenapa aku semakin tidak singkron begini sih ucapan di hati dengan pemikiranku sekarang ini.


"Bertanggung jawab apa sih Mah, Andra nggak ngapaen-ngapaenin ini perempuan kok. Mamah harusnya percaya sama Andra anak Mamah sendiri jangan asal memprediksikan kejadian, jika belum tau jelas mah kejadian sebenarnya." Kata si om dengan nada kesalnya, aku rasa si om udah jengah kali dengan tudingan mamahnya yang salah.


"Mamah nggak mau tau pokoknya kamu harus menikahi perempuan ini secepatnya!." Tegasnya nenek fashionable ini lagi dengan nada lebih lantang dari sebelumnya kepada si om dengan tatapan terakhir tertuju kepadaku.


Aku dan si om ini pun sontak mebelalakan kedua bola mata kami seakan bola mata kami ingin meloncat keluar dari tempatnya.


Nek tanggung jawab sih tanggung jawab tapi nggak harus nikahin aku juga si om ini. Bukan ini juga tanggung jawab yang aku harapkan walaupun si om ini ganteng seh , tapi aku belum mau nikah mana aku masih muda masih 19 tahun.


Aku juga masih kuliah dan baru semester 4 , walaupun ya aku tau ada beberapa orang yang kuliah dengan status sudah menikah bahkan memiliki anak. Tapi mereka berstatus menikah bukan juga menikah karena insiden.


"Mah nggak bisa gitu dong." Tukas si om dengan nada sedikit meninggi.


"Eyang putri, ada apa ini ? Loh kenapa ada om Andra di kamar ini?" Nah si Vera malah baru muncul dengan diakhiri keterkejutannya.


Vera help me. Aku nggak mau barakhir seperti yang dikatakan oleh nenek ini.


"Andra , Alena..?" Tiba-tiba juga muncul orang tua Vera , mereka pun tak kalah terkejut saat sudah tiba di kamar ini dan melihat aku beserta om ini di kamar ini.


'Arghh..Ini gimana cerita bisa begini, emak tolongin eneng mak..?!' Jeritku dalam hati.


🍬🍬🍬


**Bersambung...

__ADS_1


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰**


__ADS_2