TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 57B


__ADS_3

Setelah tadi memesan makanan kami pun diwajibkan menunggu pesanan datang beberapa menit. Tiba-tiba Alena berucap.


"Oya, Mas apakah mbak Niken ini hadir saat acara resepsi pernikahan kita?"


"Ah kebetulan kalian menikah aku masih di luar negeri Alena, dan baru beberapa hari ini aku tiba di indonesia." Tanpa aku duga Niken yang menjawab pertanyaan Alena yang ia tuju padaku, karena jelas tadi Alena menyebut kata Mas.


"Oo, begitu ya?" Alena menanggapi dengan senyuman kembali.


"Oya berarti kalian menikah sudah berapa lama ya Alena?" Niken kembali bersuara.


"Sudah 1 tahun mbak." Alena menjawab.


"Oo, tidak terasa ya ternyata sudah 1 tahun." Seru Niken.


"Maaf telah menunggu." Sang pelanyan pun datang seraya menghidangkan pesanan kami semua di atas meja.


"Karena pesanan sudah datang, sebaiknya kita mulai saja makannya." Seruku, agar tidak membuang waktu karena jujur aku pun sudah lapar akibat emosi sekaligus menahan emosi saat di kantor akibat ulah Niken.


Kami pun mulai memakan makan siang kami dengan tenang dan hening sejenak, hingga Niken kembali bersuara.


"Jadi kegiatan kamu apa Alena sekarang?"


"Lena masih kuliah mbak, dan sedang memulai nyusun skripsi." Niken yang bergumam O sambil manggut-manggut.


"Kamu tau nggak Alena, aku dan Vian itu dulunya sangat dekat sekali sampai orang-orang mengira kami pacaran." Apa maksud Niken berucap begitu pada Alena istriku.


"Oo, gitu ya mbak." Sahut Alena.


Niken melirik Alena seraya menyuapkan kembali makanannya.


"Niken sepertinya kamu salah berucap , kita tidak sedekat itu." Ujarku dingin dengan mata menatap tajam ke arahnya.


Niken hanya diam saja menanggapinya. Kami pun telah menyelesaikan makan siang kami hari ini.


Setelah aku membayar semuanya aku pun ingin segera pergi dari sini. "Karena makan siang bersama sudah selesai. Ayo kita pulang sayang." Ajakku pada Alena sambil mengenggam tangan kirinya, dan membawanya untuk berdiri begitu juga dengan ku.


"Niken kami pamit." Ucapku datar menatap ke arahnya.


"Kenapa cepat sekali, aku belum puas mengobrol dengan mu Vian?"


"Maaf saya masih ada pekerjaan lagi." Aku pun menarik Alena lembut agar ikut dengan ku dan segara keluar dari restoran ini, lebih tepatnya dari Niken.


Aku sudah sangat muak dari tadi harus menghadapi Niken yang semakin aneh saja. Aku pun akan mengantarkan Alena pulang terlebih dahulu baru bersiap kembali untuk urusan pekerjaanku.


Sore nanti aku akan menemui salah satu klienku.


Kini aku sudah di atas kuda besiku dan Alena juga sudah berada di boncnegan. Aku lajukan kuda besiku dengan kecepatan sedang di siang hari ini, membelah jalanan kota ini yang belum begitu ramai padat.


"Jangan percaya omongan Niken yang mengatakan kami pernah dekat. Itu semua omong kosong." Ucap ku saat kami sudah berada di apartement, agar Alena tidak salah faham dan berfikir macam-macam.


"Iya kah? Nanti Mas yang bohong dan sok nggak pernah pacaran atau dekat dengan perempuan taunya punya mantan yaitu mbak Niken tadi."


"Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa tanya saja sama Reza atau juga Vera."


"Ah ntar Vera sama Om Reza udah sekongkolan sama Mas."


"Apa Mama saya juga bisa saya sekongkolin hal semacam itu." Lena pun terdiam merasa apa yang barusan aku ucapkan itu bukan pembelaan, tapi kenyataan.


Aku pun menarik tubuh Alena membawanya ke dalam dekapanku.


"Sudah ayok ambil wudhu sekarang. Kita sholat dzuhur berjamaah, selagi masih ada waktu." Karena tadi kami memang belum sempat melaksanakan ibadah tersebut.


Alena mengangguk dalam dekapanku lalu berkata. "Lena sayang sama Mas."

__ADS_1


"Iya sayang, saya juga sayang bahkan sayang sekali sama kamu Alena." Seruku lalu mengecup pucuk kepalanya lembut.


Kemudian melerai pelukan kami, dan Alena mulai duluan melangkah menuju kamar mandi.


Tadi sebelum aku ke restoran dimana Niken menunggu ku untuk makan siang bersama, disaat itulah aku menjemput seperti biasa istriku di kampus karena kebetulan jadwalnya hari ini pulang atau usai perkuliahannya pukul 11: 30 wib.


Maka dari itu lah aku iyakan saja pada akhirnya ajakan Niken ingin makan siang dengan ku. Karena aku akan membawa istriku diam-diam dan tiba-tiba , untuk ikut serta makan siang bersama ku dan Niken.


Awalnya Alena agak menolak karena sudah ada janji untuk menemani Vera ke Gramedia, tapi untungnya Vera mengerti dan akhirnya mengalah. Karena hal itu aku pun memberikan uang jajan 2 lembar merah kepada Vera. Aku memang terkadang masih mau memberi jajan 2 keponakan ku yang sudah besar-besar itu, siapa lagi kalau bukan Vera dan saudara kembarnya yang tidak seiras yaitu Andi.


Saat menunggu Alena selesai bersih-bersih dan berwudhu di dalam kamar mandi. Tiba-tiba aku merasa getaran di balik jasku.


Drett...Drett.


Ku raih benda pipih milikku yang masih di balik jasku, membuka dan melihat ke layar benda pipih ku yang ternyata ada pesan masuk dari aplikasi hijau itu.


[ Vian kenapa saat makan siang kita tadi kamu membawa istri mu? ] Isi pesan yang Niken kirim.


Aku pun membalas pesannya dengan isi.


[ Itulah syarat yang saya maksud jika kamu ingin makan siang bersama saya Niken. Sayangnya kamu tidak bertanya lebih jelas akan syaratnya. Jadi tanpa fikir lagi saya pun langsung saja membawa istri saya makan siang bersama kita tadi. Kamu faham kan maksud saya dan saya harap kamu tidak perlu berharap lagi yang tidak semestinya.] Send.


Tidak lama pesan balasan dari Niken masuk dengan isi.


[ Aku mencintai mu Vian dan status mu yang sudah beristri sekarang pun tidak merubah perasaanku terhadapmu. ]


Aku tidak membalas pesan Niken lagi, cukup tadi saja aku mebalasnya. Aku pun meletakkan benda pipih milikku di atas nakas dan setelahnya keluarlah Alena dari kamar mandi. Aku pun segera menuju kamar mandi untuk segera berwudhu dan segera melaksanakan ibadah sholat dzuhur ku yang sudah tertunda tadi.


🍬🍬🍬


Aku pun melangkah menuju pagar rumah Pak Candra salah satu klien ku yang 3 hari lalu datang ke kantorku. Ia datang untuk konsultasi masalah persengketaan tanah dan lahan. Kali ini aku menyambangi datang ke rumahnya untuk membahas akan masalah dan kasusnya tersebut serta akan pergi bersama untuk meninjau langsung tanah dan lahan yang sedang jadi seketa tersebut.


Di sini Pak Candra telah di rugikan karena persengketaan akan tanah dan lahan tersebut, maka sebab itu kini ia mengambil jalur hukum karena pihak kedua dan ketiga tidak bisa di ajak berdamai secara baik dan tidak mau ganti rugi.


Tokk..


Tokk..


"Assalamualaikum." Salamku setelah seseorang membuka pintu utama dari rumah pak Candra.


"Waalaikumsalam. Mau cari siapa ya Mas?"


"Pak Candra." Jawabku datar pada seorang perempuan yang membuka pintu tadi.


"Oo, mari masuk mas." Dengan ragu aku masuk sambil sedikit melirik ke dalam rumah Pak Candra.


"Silakan duduk Mas." Serunya lagi dengan ramah.


Namun, sebelum aku duduk aku pun mulai bertanya lagi.


"Pak Candranya mana?"


"Bang Candra masih di jalan sebentar lagi sampai kok, tadi abang saya itu sedang ke RS karena membawa istrinya berobat." Aku pun manggut-manggut seraya menjatuhkan pelan bokongku di salah satu kursi yang ada di ruang tamu ini.


"Perkenalkan saya Sarah adiknya Pak Candra." Tiba-tiba perempuan ini mengulurkan tangan kanannya sambil tersenyum manis kepada ku.


Aku hanya menangkupkan kedua telapak tanganku di depan dadaku dan berucap. "Saya Andra kuasa hukum yang di minta Pak Candra kemari untuk masalah persengketaan tanah dan lahan." Aku berucap apa adanya, lalu membubarkan kedua telapak tanganku dari tangkupannya.


Wanita yang mengaku bernama Sarah itu pun menarik tanganya kembali dari hadapanku.


"Mas Andra mau minum apa?" Tanya wanita beranama Sarah itu.


"Terima kasih tidak usah." Tegasku malas saja.

__ADS_1


"Loh kok begitu, nanti saya kena marah loh Mas. Kalau abang saya itu marah ada tamu tidak disuguhi minum." Ungkapnya agak sendu, tapi selalu masih dengan senyumannya.


"Tidak usah repot-repot air putih saja tidak apa-apa." Pungkasku pada akhirnya.


"Teh manis saja ya Mas masa tamu cuma minum air putih." Aku hanya diam saja menanggapinya tanpa berucap lagi.


"Tunggu sebentar ya Mas saya buatkan dulu minumnya." Serunya lagi lalu melangkah ke belakang.


Selang beberapa menit perempuan bernama Sarah yang katanya adiknya Pak Candra itu pun datang kembali sembari membawa baki yang diatas baki tersebut ada secankir teh manis, seperti yang tadi ia tawarkan padaku.


"Silahkan di minun Mas teh manisnya selagi hangat." Perempuan itu pun meletakkan secankir teh tersebut di atas meja tepat di dahadapanku.


Perempuan itu pun duduk di sebrang ku duduk, ia berpenampilan hanya memakai daster tipis dan pendek serta berlengan pendek saja. Sebenarnya aku merasa risih dari tadi disini menunggu Pak Candra dengan keberadaan perempuan muda yang mengaku adiknya itu.


Kenapa Pak Candra selaku abangnya membiarkan adik perempuannya berpakaian begini di luar kamarnya, apalagi saat ada tamu yang bukan mahramnya.


"Mas di minum dulu tehnya nanti dingin nggak enak."


Berhubung aku pun tiba-tiba merasa haus dan sepertinya tenggorokkan ku pun harus di basahi , maka aku pun meminum teh itu setelah beberapa menit perempuan itu berucap demikian.


Ku letakkan cawan dan cangkir teh tersebut kembali di atas meja, yang isinya sudah separuh lebih kandas ku sesap.


"Berapa lama lagi Pak Candra tiba." Tanyaku pada perempuan di sebrang meja ini.


"Mungkin sebentar lagi Mas." Jawabnya penuh senyum.


Aku selalu datar dan bicara seperlunya saja pada perempuan ini. Ku raih benda pipihku di balik jas hitamku aku mencoba menghubungi kontak Pak Candra, tapi tidak di angkat. Ku coba menunggu beberapa menit lagi, jika setelahnya Pak Candra tidak kunjung tiba maka aku akan angkat kaki dari rumahnya ini.


Mungkin besok aku akan temu janji lagi dengan Pak Candra untuk membahas lebih lanjut dan meninjau lahan sengketa itu secara langsung.


Ntah kenapa tiba-tiba tubuhku serasa panas begini, ada apa ini? Nafasku pun serasa memburu di tambah bagian sensitif tubuhku di bawah sana serasa berkedut secara tiba-tiba. Aku mencoba mengatur nafasku dan menahan gejolak yang tiba-tiba muncul. Peluhku pun mulai berjatuhan dari keningku.


"Ssttt.." Aku berusaha menahan gelora yang sungguh tidak tau mengapa bisa muncul begini.


Ku lihat perempuan di sebrang sana hanya diam sambil memerhatikan ku atau lebih tepatnya tingkahku. Mataku menelisik dan mencoba berfikir apa yang terjadi saat ini padaku, sepertinya..?


"Apa yang kamu campurkan pada teh ini?" Aku berucap nyalang pada perempuan itu , sambil menunjuk cangkir yang masih berisikan sedikit teh di dalam sana.


Perempuan itu hanya tersenyum menjijikkan, lalu berkata.


"Hanya sebuah obat perangsang dengan dosis tinggi kok, untuk membuat kamu tidur sama aku." Nada bicaranya sungguh menjijikan di tambah tatapan matanya yang begitu menyorot nafsu kepadaku.


Aku berusaha mati-matian menahan ereksi dan gejolak tubuhku yang terasa panas dan menginginkan sesuatu.


Ya Allah tolonglah hamba jauhkan hamba dari kemaksiatan dan perbuatan zina. Aku mencoba beristighfar tapi pengaruh obat ini membuatku bleng.


Aku berusaha berdiri bahkan setelah berdiri aku pun masih terus berusaha berdiri dengan tegak, berjalan ke arah pintu.


Perempuan itu pun mulai menghadangku dia membelai wajahku. "Errrggghhh..." Aku menggeram tertahan. Aku dorong tubuh perempuan itu agar manjauh dari tubuhku. Sampai ia terjatuh terduduk di atas ubin dingin itu.


"Auwh.." Ringisnya, aku tidak perduli.


Perempuan itu mulai bangkit, aku terus berusaha untuk membuka pintu. Tapi nihil karena ternyata pintunnya terkunci ntah sejak kapan.


"Sudahlah Mas Andra mari aku bantu tuntaskan hasrat mu itu? Kita akan sama-sama enak, aku akan melakukannya dengan ikhlas dan memberikan service terbaikku untuk mu Mas Andra." Tanpa rasa malu dan seakan akrab perempuan yang mengaku adiknya Pak Candra itu berkata demikian.


Ya Allah kenapa aku harus terjebak dalam situasi dan keadaan seperti ini? Aku harus bisa keluar dari rumah ini, yang sekarang aku berfikir rumah siapakah ini dan mengapa Pak Candra bisa-bisanya menjebak aku begini.


"Sssstttt." Aku berusaha kembali menahan eranganku akibat obat sialan ini. Sakit dan panas di sekujur tubuhku karena gejolak yang di paksa ku tahan.


🍬🍬🍬


Bersambung....

__ADS_1


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰


__ADS_2