
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga acara resepsi ini." Aku kini telah masuk ke dalam kamar hotel dan langsung menuju meja rias dan mendudukan bokongku di kursinya.
Duduk mengahadap cermin meja rias di sebuah kamar hotel berbintang 5 ini telah di sulap menjadi kamar pengantin yang cantik seperti kamarku waktu itu yang juga di sulap menjadi kamar pengantin.
Namun kali ini kamar ini jauh lebih cantik dan mewah dengan taburan kelopak-kelopak dari bunga mawar merah di atas ranjang king sizenya dan di tengah ranjangnya kelopak-kelopak bunga mawar merah itu berbentuk hati yang cukup besar.
Serta ada gulungan-gulungan selimut atau bad cover yang di bentuk menjadi sepasang angsa yang menempel beberhadapan dengan ujung bibirnya menyatu seperti sedang berci*man. Dan juga beberapa bunga di rangkai indah di sekitaran kamar hotel ini dan sebagainya yang semakin mempercantik kamar pengantin ini.
Sepertinya si nenek fashionable itu yang menjadi dalang dari semua hal yang ada di kamar hotel ini yang aku dan si om nyebelin itu akan tempati.
Tadi si om nyebelin itu menyuruhku untuk masuk kamar hotel duluan saja dan itu kusambut dengan senang hati, karena aku memang sudah muak berlama-lama disana. Lelah rasanya badan ini dan juga batin ini. Sekilas aku takjub dengan apa yang ku lihat di dalam kamar hotel yang aku dan si om nyebelin itu akan tempati.
Namun, apa gunanya juga kamar pengantin yang indah ini toh aku tidak ingin ada malam pengantin atau malam pertama terjadi diantara aku dan si om nyebelin itu. Tapi apa aku bisa menolaknya jika si om nyebelin itu tiba-tiba meminta haknya kali ini dan ia tidak memperdulikan lagi janji atau pun ucapannya kala itu.
Aku seakan berfikir keras atas kemungkinan-kemungkinan itu bisa terjadi , apalagi tadi Vera berkata dan membahas akan hal tersebut.
Aku jadi deg deg kan rasanya serba salah jika aku menolak tidak memberikan haknya si om nyebelin itu yang sudah menjadi suami sah ku. Jelas itu bisa jadi dosaku apalagi jika si om nyebelin itu yang memintanya duluan.
'Argh...lieur...lieur..pala eneng mama..' Pekikku membatin sambil aku mengusap wajahku kasar dengan tisu basah hendak memulai untuk membersihkan make up di area wajahku ini.
Ku sudahi membersihkan make up yang tadi menempel di wajahku kini aku akan melepas cepolan mungil yang membentuk di rambutku. Setelahnya aku berbegas ke kamar mandi rasanya ingin merendamkan tubuh ini di dalam badthube dengan air hangat dan aroma terapi yang menyegarkan untuk merilekskan semuanya.
Cukup lama aku berendam di dalam bathtub hampir 30 menitan aku sudah menyelesaikan aktivitasku di kamar mandi.
Kini aku sudah keluar dari kamar mandi dengan berbalut piyama berbahan satin berwarna pink lengkap di tubuhku. Dengan atasannya yang berlengan pendek dan bawahannya celana panjang serta handuk yang melilit di kepalaku.
Baru saja aku keluar dari kamar mandi pintu kamar hotel ini sudah di ketuk dari luar aku yakin itu pasti si om nyebelin itu.
Tokk...
Tokk...
Tokk...
Ceklek...
"Kamu sudah mandi?" Ucapnya datar setelah ia masuk dan melewatiku.
Kan bener si om nyebelin ini yang datang aku hanya diam malas menjawab ucapannya. la membuka jas hitamnya meletakannya di sofa berwarna putih yang tersedia di dalam kamar hotel ini. Ku lihat dasi kupu-kupunya sudah tidak ada di kerah kemejanya dari sejak awal tadi ia masuk ke kamar hotel ini.
"Om mau mandikan sebentar Lena siapkan dulu airnya dan pakaian ganti om." Ucapku sambil akan menuju kamar mandi namun belum sempat aku lolos masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamar hotel ini ia sudah berucap lagi.
"Sudah tidak usah saya sedang tak mau berendam di bathtub lagian sebentar lagi adzan magrib akan berkumandang. Kalau kamu mau kamu siapkan saja pakaian ganti saya dan pakaian sholat saya." Sanggahnya dengan tegas dan datar.
"Ya kan memang dari awal juga udah aku bilang mau menyiapkan pakaian ganti elu oom. Jadi paen elu bilang 'Kalau kamu mau siapkan saja pakaian ganti saya dan pakaian sholat saya'." Gerutuku dalam hati dengan nada dibuat-buat kan memang nyebelin banget ni si om om.
Si om nyebelin ini langsung berlalu ke kamar mandi setelah ia mengambil handuknya dari dalam koper. Aku pun langsung menyiapkan saja pakaian sholatnya yaitu baju koko, sarung , peci dan sajadah serta tak lupa ********** di tambah celana katun pendek dan baju kaos polos berwarna putih sebagai baju santainya nanti.
Sebagian keluarga juga menginap di hotel berbintang 5 ini setelah acara resepsi pernikahan kami usai. Diantaranya kedua orang tua kami , kedua orang tua Vera dan saudara kembarnya si Andi dan pastinya Vera juga ikut menginap di hotel ini serta beberapa keluarga si om nyebelin ini yang khususnya jauh-jauh datang dari Surabaya ke Jakarta untuk menghadiri acara resepsi pernikahan kami.
Bada magrib pun tiba dan si om nyebelin ini sudah keluar dari kamar mandi hanya dengan dibalut handuk yang dililit ke pinggangnya sebatas lutut. Dadanya terexpose jelas saat dia melangkah hendak mengambil baju dengan rambutnya yang masih basah dan tak beraturan, tapi malah menambah kesan seksi pada dirinya.
Hadeh apa-apaan aku ini fikirku membatin. Si om nyebelin ini pun mengambil pakaian yang sudah aku siapkan tadi di atas ranjang membawanya ke kamar mandi dan menyisakan baju koko, kain sarung dan pecinya saja di atas ranjang.
Aku masih sibuk di depan cermin meja rias mengeringkan rambutku dengan hair dryer yang tersedia di kamar hotel ini.
Sekilas kulirik si om nyebelin itu sudah memakai celana pendeknya yang sebatas lutut dan kaos polosnya yang berwana putih. Si om nyebelin ini pun memakai sarung lalu ia juga memakai baju kokonya.
"Alena sekarang kamu berwudhu setelahnya kenakan mukenamu kita sholat berjamaah disini sakarang!" Titahnya tegas.
Akupun segera ke kamar mandi untuk berwudhu tanpa menjawab ucapannya tadi.
🍬🍬🍬
Aku mencium punggung tangan kanan si om nyebelin ini dengan takzim setelah kami selesai sholat magrib berjamaah dan berdoa. Aku melepas mukena melipatnya dengan rapih dan meletakkannya ke dalam lemari yang tersedia di dalam kamar hotel ini.
Aku beranjak menaiki ranjang king size yang empuk itu, sabodo teuing dah itu angsa-angsaannya sama bunga-bunganya rusak. Rasanya aku ingin segera merebahkan tubuh ini di atasnya sekarang juga.
Ku lirik sebentar si om nyebelin ini setelah aku merebahkan tubuhku ini di atas ranjang yang empuk ini dengan sudah berselimutkan hingga sebatas dada.
Ternyata si om nyebelin ini hendak membaca Al-Qur'an.
Aku baru tau kalau si om nyebelin ini suka membawa Al-Qur'an yang berukuran seperti buku diary yang covernya di lapisi oleh kain cukup tebal yang ber-retsleting full dibagian sisinya.
Si om nyebelin ini pun memulai membaca Al Qur'annya masha Allah terdengar merdu selalu saat ia melantunkan ayat-ayat suci tersebut memalui indera mengecapnya.
Hingga beberapa menit si om nyebelin ini menyudahi aktivitas membaca Al Qur'annya.
"Alena kamu tidak membaca Al Qur'an barang beberapa ayat sebelum kita makan malam ? " Ucapnya datar tanpa menoleh kepadaku.
Si om nyebelin itu meletakan Al Qur'an miliknya ke dalam lemari hotel ini kemudian melipat sajadahnya. Ia masih sibuk sendiri aku pun mengabaikan ucapannya tadi di balik selimut.
"Alena kenapa kamu tak menjawab ataupun melaksanakan apa yang saya ucapakan tadi ke kamu ? " Ujarnya dengan tetap dengan nada dinginnya.
Aku pun masih mengabaikan ucapannya dibalik selimut hingga ku merasa jika si om nyebelin ini menghapiriku. Si om nyebelin ini menyibak selimutku yang dari tadi sudah aku selimuti ketubuhku hingga menutup kepalaku.
"Kamu ngaji dulu Alena barang sebentar baru kita makan malam." Titahnya lagi setelah ia menyibak selimutku hingga setengah badanku yang terbalut piyama terlihat.
Aku yang meringkuk di atas ranjang karena menahan sakit yang tiba-tiba menyerangku. Hingga keringat dingin keluar dari tubuhku rambutku yang tadinya sudah kering kini kembali basah karena keringat tak sehat itu keluar. Ku rasakan baju piyamaku yang berbahan satin ini sudah agak basah.
"Kamu kenapa Alena?" Tanyanya dan terdengar ada rasa khawatir dari nada bicaranya kali ini.
Aku masih meringkuk di atas ranjang empuk ini dengan kepalaku yang masih menunduk dalam rasanya aku tak sanggup untuk bergerak dan bersuara saat ini.
Si om nyebelin ini pun menyibak rambutku yang menutupi wajahku.
__ADS_1
"Astagfirullah Alena kamu keringat dingin begini." Ucapannya terdengar kaget.
Ya padahal suhu AC di kamar hotel ini terbilang dingin ya masa ya aku jadi keringat dingin begini. Tapi ya memang begitu yang kurasakan akibat sakit yang tiba-tiba menghampiriku.
Si om nyebelin ini pun mencoba mengubah posisiku yang meringkuk kesamping untuk menghadap ke arahnya.
Kini posisiku berubah terlentang dan wajahku pun akhirnya terlihat jelas oleh si om nyebelin. Aku masih memejamkan mataku sambil menahan sakitku.
Kemudian si om nyebelin ini membalikkan bantalan kepalaku, sekarang kepalaku berada di atas bagian bantal yang tidak basah. Aku rasa si om nyebelin ini cukup faham karena bantal kepalaku sudah basah akibat keringat dingin yang timbul dari dahi dan kepalaku hingga membuat basah bantal yang ku kenakan ini.
"Ya Allah Alena kamu pucat sekali , lamu sakit?" Ucapnya terdegar kembali dengan nada khawatir dan kagetnya.
Aku hanya menganggukan kepalaku lemah sebagai jawaban dengan mata masih memejam.
Andra sudah duduk di sisi ranjang tepat di hadapan Alena dengan masih lengkap mengenakan baju koko, sarung dan peci yang menutupi sebagian kepalanya itu menambah ketampanannya.
"Apa yang sakit biar saya coba bantu cari obatnya dan segera di obati." Tanyanya tegas kali ini.
Dengan lemah aku berucap " Ulu hati Lena perih om , perih banget." Mataku terbuka dengan perlahan kurasa mataku ini berkaca-kaca dan dadaku terasa sesak menahan sakit dan perih di ulu hati ini.
"Sekarang kamu lepas pengait yang ada di punggungmu!"
"Hah." Pekikku dalam hati dengan mata membola merasa terkejut dengan perintah si om nyebelin ini barusan, maksudnya apa coba ?
"Pe-pengait apa om?" Ucapku terbata antara kaget , bingung dan juga gugup dengan masih merasakan sakit yang amat nyeri di ulu hatiku.
"Pengait bra kamu." Tegasnya tanpa rasa malu.
Yaelah om aku lagi sakit begini ya masa diminta jatah MP alias malam pertama, kalau gitu si om nyebelin ini bohong dong katanya nggak akan menyetuh aku sampai aku lulus kuliah. Aku mengeleng cepat tanda tak mau masih dengan menahan sakitku.
"Ayo cepat! Kamu mau sakit di ulu hatimu itu cepat hilang nggak?" Lanjutnya lagi dengan tegas.
Ya maulah tapi apa hubungannya coba dengan harus melepas pengait braku sendiri. Aku masih keukeuh menggelengkan kepalaku tanda tak mau. Ntah sudah seperti apa ekspresi wajahnya antara sakit, menahan sakit dan juga takut.
"Ayok Alena cepat buka sekarang atau saya yang bukakan sendiri." Ancamnya dengan tegas.
Aku menggeleng lagi dengan cepat tanda tak mau sambil terus menahan rasa sakit di ulu hatiku dan sedikit sesak karena perih ini serta was-was. Aku takut-takut jika si om nyebelin ini sendiri yang bakalan beneran membuka pengait braku.
Aku menatapnya dengan tajam dengan mataku yang berkaca-kaca sambil terus merasakan kesakitan yang teramat sakit di ulu hatiku ini. Si om nyebelin ini tega banget sih sama aku, fikirku.
"Saya menyuruh kamu membuka pengait bra kamu bukan mau macem-macem itu salah satu cara meredakan rasa sakit di ulu hati Alena. Jika dalam keadaan seperti ini kamu masih memakai sesuatu yang mengetat di bagian atas tubuhmu itu. Maka itu akan membuat sesak dan juga kesakitan yang lebih di ulu hatimu. Jadi kamu jangan berfikiran ngeres! Ayok cepat buka pengait bra kamu itu sekarang. Kamu tenang saja saya akan memejamkan kedua mata saya dan tidak akan menintip barang sedikitpun." Si om nyebelin ini pun langsung membalikan badannya membelakangiku.
Aku pun segera melakukan apa yang di titahkan si om nyebelin ini dengan lemah dan ragu ditambah was-was dari balik selimut tebal yang aku lampirkan ke tubuhku agar tertutup. Setelah pengait braku terlepas aku menutupi tubuhku hingga sebatas dada dengan selimutku.
Malulah jika terlihat dalam dadaku ini dari balik kemeja piyama satinku yang terbilang tipis, karena pengait branya sudah aku buka.
Sedangkan bra tersebut pelan-pelan ku biarkan mengantung di dalam tubuhku begitu saja setelah ku lepaskan pengaitnya.
"Sudah kamu bukakan bra kamu?" Tanyanya lagi soal bra padaku tanpa rasa malu sedangkan aku merasa sudah menahan malu setengah mati bersamaan dengan menahan sakit ini.
Aku berucap "Sudah om." dengan pelan seperti gumaman, namun ku rasa ia cukup bisa mendengarnya karena jarak kami yang memang dekat.
Deg.
Gil* ya ne om om aku kan jadi kesal sekarang sambil masih terus menahan sakit di ulu hatiku.
"Sudah kamu nggak usah malu saya kan suami kamu, sini!" Todongnya lagi tanpa rasa malu dengan sebelah tangannya mentengadah ke arahku seperti meminta benda sensitif tersebut yang merupakan kepunyaan setiap perempuan yang sudah balig.
Aku menggelengkan kepala dengan cepat tanda tak mau. Si om nyebelin ini menghela nafasnya berat lalu geleng-geleng kepala dan menurunkan tangan kananya yang tadi ia tengadahkan ke arahku.
"Kamu ada bawa minyak kayu putih tidak?" Tanyanya lagi dengan topik lain.
Aku menganggukkan kembali kepalaku sebagai jawaban.
Si om nyebelin ini sepertinya langsung faham lalu menuju koper kami dan memeriksa isi koper tersebut. Mencoba mencari minyak kayu putih tersebut.
Hingga akhirnya si om nyebelin ini datang kembali duduk di tepi ranjang menghadap ke arahku dengan membawa minyak kayu putih. Aku memang sudah membawa dan menyimpan minyak kayu putih tersebut kemarin di bagian kantong yang ada di dalam koper kami.
"Ini kamu bisakan mengoleskannya sendiri?" Ia meyodorkan minyak kayu putih itu tepat ke arahku.
Aku mengangguk lemah dan berusaha meraih minyak kayu putih tersebut dari tangan kanan si om nyebelin ini. Si om nyebelin ini seakan peka ia langsung memalingkan badannya dari hadapanku yang hendak mengoleskan minyak kayu putih tersebut ke dada dan perutku. Khususnya ke bagian dimana ulu hatiku yang terasa sakit dan perih sekali.
Ku lihat si om nyebelin ini menelpon seseorang dari panggilan intercom kamar hotel ini berbicara cukup panjang lebar, tapi samar-samar suaranya. Mungkin si om nyebelin ini meminta lanyanan kamar.
Aku masih menahan sakit sambil memegangi bagian dadaku yang terasa sakit di ulu hatiku. Belum ada perubahan berarti setelah beberapa menit tadi aku mengoleskan cukup banyak minyak kayu putih tersebut.
"Om sakit." Rintihku.
"Tahan dulu ya Alena." Aku melirik ke arah si om nyebelin ini yang sudah dekat sekali denganku.
"Duh nggak tahan om sakit beneran ini. Auww.. Om makin sakit." Rintihku lagi rasanya bener-bener sakit apakah harus seperti ini malam pertamaku.
"Saya mohon sabar dulu ya, ini sebentar lagi kok." Mohonnya.
"Tapi Alena sudah nggak tahan lagi om sakit banget dan perih banget om." Rasanya keringat dingin sudah menjalar di tubuhku , karena aku terus menahan sakit dan perih ini.
Dan si om ini masih terus menyuruhku untuk bertahan.
"Duh gimana ini? Kan baru juga?" Si om nyebelin ini merasa bingung karena rasa kesakitanku hingga dia sepertinya mengantungkan kalimat terkahirnya.
"Ya udah cepetan dong! Jangan lama-lama Alena udah nggak tahan ni sakit sama perihnya om." Paksaku padanya aku sungguh sudah tak tahan menahannya, berharap cepat berakhir kesakitan ini.
"Sabar ya Alena saya usahakan kamu nggak akan kesakitan lagi. Tapi kamu harus mau sabar menahannya dulu barang beberapa menit mungkin. Ini juga saya masih mencoba agar kamu tidak merasa sakit lagi melainkan nyaman dan enakan." Bujuk si om nyebelin ini padaku masih terus berusaha.
Rasanya mataku sudah berair di pelupuk mata.
__ADS_1
Harusnya aku sudah bisa merebahkan tubuhku dengan nyaman di ranjang empuk ini usai berakhirnya acara resepsi pernikahan ini.
Tapi malah aku harus mengalami hal semacam ini. Ini semua gara-gara si om nyebelin ini makanya juga aku harus kesakitan seperti ini di malam pertamaku.
Tokk...
Tokk...
Suara ketukan pintu kamar hotel kami pun terdengar dari luar.
Si om pun langsung beranjak pergi menuju pintu kamar hotel ini.
Ceklek...
Terdengar samar-samar suara dari sebrang sana di depan pintu kamar hotel kami ini dari indera pendengaranku ntah ini efek aku yang dalam mode kesakitan dan menahan sakit atau memang suara mereka cukup pelan karena jarak cukup jauh juga.
Ku lihat si om nyebelin ini masuk dengan membawa nampan yang berisi sesuatu yang aku belum tau jelas apa itu. Meletakannya di atas meja yang ada di depan sofa. Lalu si om nyebelin ini menuju koper yang sepertinya mengambil dompetnya, ya benar ia mengambil dompetnya dan membawanya. Si om nyebelin ini pun segera kembali ke depan pintu dengan langkah lebar.
"Terima kasih ya." Kata itu yang sekilas aku dengar jelas ke telingaku dan aku mendengar suara pintu di tutup dan kunci di putar.
Dan ntah bagaimana rasanya si om nyebelin ini sudah muncul dihadapan ku saja saat posisiku berbalik ke bagian kiriku.
"Minum air jahe hangat ini! Ini salah satu minuman herbal untuk meredakan nyeri di ulu hati." Titahnya dengan seutas penjelasan kepadaku akan minuman yang akan ku minum sekarang.
Setelah si om nyebelin ini meletakan nampan yang penuh berisi itu di atas nakas. Si om nyebelin ini pun berusaha mendudukan posisiku dengan menyadarkan punggungku di kepala ranjang dan ia pun duduk tepat si sisi ranjang di dahapanku.
Ia menyodorkan gelas bening yang berisikan air jahe hangat tersebut kepadaku.
"Ayo segera di minum! Mau cepat hilangkan sakit yang kamu rasakan di ulu hatimu itu Alena ?" Tegasnya dengan wajah dingin kembali kali ini hanya ada sedikit saja cela kekhawatirannya tidak seperti sebelumnya.
Mungkin karena ia merasa obatnya sudah ada pasti aku akan segera sembuh jadi si om nyebelin ini kembali ke mode asalnya.
Akupun segera maraih gelas tersebut dan meneguk isinya hingga hampir tandas walaupun dengan rasa tak enak meminumnya.
"Nah sekarang kamu kompres perut mu itu dengan ini." Si om nyebelin ini menyodorkan alat kompres yang di bagian alatnya terdapat lingkaran pipih sebagai tutup kompresnya.
Aku masih diam tak bersuara ataupun meraih alat kompres yang si om nyebelin ini sodorkan ke hadapanku. Aku pun masih memerhatikan si om nyebelin ini merasa ia kok perhatian banget samaku.
"Ayok kenapa diam saja mau cepat reda nggak sakit di ulu hatimu itu Alena? Atau mau saya yang kompreskan ke perut kamu langsung?" Aku langsung mengeleng cepat lalu merebut dengan malas alat kompresan tersebut dari tangan kanan si om nyebelin ini.
Sebelum ia benar-benar melakukan tindakan mengompres perutku sekarang ini yang otomatis kalau ia yang kompreskan pasti ia akan menyibak naik baju piyamaku dan melihat perut rataku yang putih mulus.
Takkan kubiarkan itu terjadi aku langsung memasukan kompresan tersebut masuk kedalam balik baju piyamaku yang juga di tutupi selimut tebal dari kamar hotel ini dan meletakkan kompresan air dingin tersebut di atas kulit purutku.
"Bagaimana sudah enakan dan sudah berkurangkah rasa sakit di ulu hati kamu Alena?"
"Alhamdullilah sudah agak berkurang om." Jawabku pelan.
"Alhamdullilah kalau begitu. Apa kamu belum ada makan dari sejak pagi?" Tanyanya kembali dengan mode datarnya.
Akupun kembali menggelengkan kepalaku sebagai jawaban. Lalu si om nyebelin ini meraih sebuah mamkuk berukuran sedang berwarna putih berbahan batu itu dari atas nampan yang berada tepat di atas nakas sebelah diriku duduk bersandar di kepala ranjang.
"Sekarang kamu makan oatmeal ini sampai habis!" Titahnya dengan nada tegas dan tatapan dinginya seakan tak boleh dibantah.
Si om nyebelin ini pun menyendokan oatmeal tersebut dan mencoba menyuapiku. Aku hanya bisa membuka mulutku pasrah menerima suapan yang ia sodorkan ke mulutku.
Loh aku kok jadi melow gini seakan ingin nangis tapi bukan karena menahan sakit walaupun memang masih terasa sakit sedikit ulu hatiku.
Melainkan ingin nangis karena perlakuan si om nyebelin ini kepadaku sejenak aku menatap wajah si om nyebelin ini lekat-lekat. Dan yang di tatap hanya terus melanjutkan kegiatannya menyuapiku tanpa ekspresi.
"Setelah ini kamu ganti baju!" Titahnya lagi kepadaku setelah aku menghabisi oatmeal yang ia suapkan tadi padaku.
Dan kini ia menyodorkan gelas panjang kepadaku yang berisikam air minerel. Aku pun langsung menerimanya dan meneguknya hingga tandas tak tersisa.
Ia meraih gelas kosong tersebut dan meletakkannya di atas nampan. Bangkit dari duduknya dan menuju lemari mengambil baju kaos omblong berwarna hitam lalu menyerahkannya kepadaku.
"Pakai ini sebagai baju gantimu Alena!" Perintahnya lagi selalu tak ingin dan tak boleh di bantah.
Tapi ini kan kaos omblong si om nyebelin ini. Ya masa aku pakai baju si om nyebelin ini sih, fikirku membatin.
Aku menatap kaos omblong polos berwarna hitam yang sudah ada di pangkuanku lalu menatap ke arah wajah si om nyebelin ini dengan tatapan heran dan bertanya.
"Ini kan baju om masa aku pakai baju om sih. Kan aku juga ada bawa baju kali om." Tukasku tak terima.
"Ya kenapa emang kalau kamu pakai baju saya toh itu hanya kaos omblomg biasa yabg biasa di pakai oleh pria ataupun wanita pada umumnya. Tidak ada masalah kok apalagi kamu itu kan istri saya dan saya ini suami kamu Salena Paramita." Sanggahnya tak mau kalah.
"Saya lihat juga tadi kamu tidak ada bawa baju kaos omblong yang ada hanya piyama, dress dan juga kaos ngepas. Makanya saya kasi kamu pakai saja dulu kaos omblong saya yang berwarna hitam ini. Emangnya kamu mau GUNUNG KEMBAR KAMU ITU yang tak memakai bra samar-samar terlihat oleh saya begitu saja karena piyama satin kamu yang tipis itu atau baju kaos ngepas kamu ? Lagian piyama kamu itu sudah basah karena keringat dingin kamu tadi. Jadi harus di ganti agar kamu tidak masuk angin." Ujarnya panjang kali lebar , lebar kali panjang.
Deg..
Kedua mataku membola serasa ingin loncat dari tempatnya mendengar si om nyebelin ini mengatakan 'gunung kembar. Ih dasar mesum juga ne si om nyebelin batinku kesal dan malu dalam waktu bersamaan.
Hedeh bisa cerewet sekaligus bicara vulgar juga toh rupanya si om nyebelin ini yang setauku selama ini si om nyebelin ini begitu dingin kek freezer. Tapi kan nggak mesti memperjelas kata-kata 'gunung kembar kamu itu' juga kali om. Bener-bener nyebelin si om ini. Dengan pasrah dan terpaksa akupun harus memakai kaos oblong si om nyebelin ini.
"Kamu ganti saja disini saya akan ke kamar mandi dulu." Si om nyebelin ini pun langsung menuju kamar mandi.
Tiba-tiba langkahnya si om berhenti setelah beberapa jarak dari ranjang ini. Seketika ia melepas peci dari atas kepalanya sambil berucap.
"Lain kali jangan sampai tidak makan seperti hari ini kalau tidak mau kambuh lagi nyeri di ulu hati kamu Alena!" Tegasnya dan kali ini si om nyebelin ini benar-benar menuju kamar mandi sampai ia masuk ke dalamnya.
Aku memerhatikan itu hingga akhir agar aku yakin jika aku akan benar-benar aman untuk menganti bajuku ini. Dan syukurlah nyeri yang teramat sakit menyerang ulu hatiku tadi sekarang sudah benar-benar hilang.
Si om nyebelin ini seperti seorang tabib saja soalnya ia pun memberi pengobatan juga bener-bener secara herbal tapi memang ampuh. Aku sekarang jadi merasa nggak enak hati selalu berfikiran tidak baik kepada si om nyebelin tersebut yang jelas-jelas sudah sah menjadi suamiku.
🍬🍬🍬
__ADS_1
Bersambung...
Salam sehat selalu ya dari @riritambun 🥰