
"Lo mau uang nggak Ser?" .
"Mau lah hanya orang bod*h yang nggak mau uang, orang gil* aja masih mau sama uang." Cercanya wanita yang sedang memakai baju tangtop dan celana pendek ketat atau sering di sebut hotpants.
"Nah, kalau elo mau uang. Elo harus melakukan apa yang gue suruh, bisa kan Ser?"
"Emang apa yang harus gue lakuin?"
"Gampang, elo harus bisa tidur sama seorang lelaki. Terus elo rekam adegan panas kalian. Setelahnya elo kirim ke gue."
"Semudah itu yang harus gue lakukuin? Tapi tunggu untuk apa di rekam?"
"Rekaman itu akan jadi bukti dan akan di sebar luaskan di media sosial. Ibarat kita akan membuat skandal dan hal itu akan membuat repotasinya hancur dan rusak seketika."
"Oo, begitu."Seru si wanita.
"Bagaimana, apa kau mau Ser? Tenang aja imbalan yang elo dapat bertubi-tubi." Sekilas si wanita itu berfikir.
"Apa pekerjaan lelaki yang akan gue tiduri itu?"
"Yang jelas ia seorang lelaki mapan yang memiliki cukup banyak bisnis." Terang si lelaki.
"So kenapa kita harus menjebaknya sejauh itu? Apa elo memiliki dendam pribadi sama lelaki tersebut?" Tanya si wanita itu sedikit penasaran.
"Bukan gue yang ada masalah dan dendam pribadi dengan lelaki yang akan kita jebak itu, melainkan temanku."
"Tapi satu yang perlu elo tau Ser, lelaki ini tidak bisa kau goda dengan rayuan mautmu begitu juga dengan tubuh molek dan sexy mu ini. Dia adalah lelaki yang punya prinsip kuat dan terbilang dingin."
"Ah masa, setau gue lelaki itu sedingin apapun bahkan se alim apapun. Jika udah di goda dengan kemolekan tubuh perempuan mana bisa nggak nyerah kepada si perempuan." Si wanita tersebut seakan tak percaya dengan keterangan yang lelaki itu katakan padanya.
"Gue serius Serl. Soalnya tu lelaki udah pernah mau di jebak dengan godaan semacam itu, tapi nihil."
"Jadi bagaimana gue bisa membawanya tidur bersama gue, kalau begitu faktanya?" Dahi dan mata wanita itu berkerut dan menyipit karena merasa heran dan kebingungan dengan fakta yang ia dapat.
"Tenang teman gue dan gue udah tau caranya, ntar tepat tanggal mainnya akan di mulai elo juga bakal tau." Ujar si lelaki dengan senyum devilnya.
Lalu si lelaki itu mengeluarkan dan menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat dengan tampakkan yang cukup mengembung, dari situ dapat tersimpulkan bahwa isi lembaran di dalamnya pasti banyak.
"Ini jatah awal buat elo sebagai DP nya sisanya entar pas kerjaan elo kelar, dan ini gue kasih lihat foto lelaki yang akan elo jebak nantinya."
"Wah ini mah ganteng banget dan terlihat masih muda." Tutur wanita itu dengan reaksi mata terbelalak karena terpesonanya, efek isi dalam foto tersebut.
"Makanya gue bilang tadi elo bakal dapat imbalan bertubi-tubi, nah ini dia maksud gue tadi."
"So ni lelaki udah punya bini belum?"
"Udah."
"Wah beruntung banget tu cewek yang jadi bininya, gue jadi berasa iri." Cetus si wanita itu dengan terus memandangi foto lelaki yang akan jadi target jebakan mereka.
"Jangan bilang elo naksir sama tu lelaki Ser." Telisik si lelaki itu sambil merampas gawainya dari tangan si wanita tersebut, yang asik memandangi foto targetnya dari layar gawainya.
"Roy kirim dong foto tu cowok ke gue." Seru si wanita tersebut dengan gaya memelasnya.
"Wahh..Wahh..gawat lo Ser keknya lo beneran naksir pada pandangan pertama sama tu lelaki." Tebak si lelaki yang disebut Roy tadi.
"Udah buruan kirim fotonya. Lagian bukan urusan elo juga gue mau naksir atau nggak sama tu cowok, intinya kan kita mau jebak dia. Gue siap banget malah tanpa dibayar sekalipun."
"Wahh..Beneran sinting lo Ser. Ntar beneran nggak gue bayar lo baru elo gigit jari, tapi gue nggak sejahat itu lah sama elo Serly."
"Nah, karena gue tau elo nggak setega itu sama gue makanya gue berani ngomong gitu tadi hehe."
__ADS_1
"Tu udah gue kirim fotonya, udah puas lo." Si wanita itu hanya senyum sumringah, setelah ia melihat foto lelaki yang akan jadi targetnya itu telah di muncul di layar gawainya lalu.
"Oke, gue tunggu tanggal mainnya." Seru si wanita itu dengan senyum nakalnya, ia masih memandangi foto target jebakannya itu.
🍬🍬🍬
POV ANDRA.
"Mbak anda sungguh tidak sopan menerobos masuk ke kantor ini."
"Saya ini datang baik-baik kenapa tidak di izinkan masuk hah."
"Ini perintah Pak Andra, tolong jangan membuat kami di hukum atas tindakan lancang anda Mbak."
"Udah minggir kamu, saya nggak akan bikin onar kalau saya nggak di usir seperti tadi."
"Saya hanya menjalankan tugas dari pemilik kantor ini Mbak, jadi saya harap mbak segera pergi dari sini. Atau saya akan berlaku kasar lebih dari ini mbak."
"Silahkan saja kalau kamu berani dan bisa." Tantang wanita itu tak ada rasa takut.
Wanita itu pun malah berlari menuju ruangan yang memang ia tuju dari awal ia sampai disini, gerakannya yang cepat dan lincah membuat sang sekuriti dan 1 orang karyawan kantor ini pun tak bisa menghalaunya lagi. Di tambah wanita ini sangat tidak gampang menyerah, setelah tadi diusir dengan tegasnya ia malah kembali lagi dengan nekadnya dan tanpa rasa malu sedikitpun.
Namun, tak selang lama seorang satpam dan 1 orang karyawan di kantor ini pun dapat megejarnya dan berada di dekat wanita itu.
"Mbak..ayo keluar dari sini." Titah kedua lelaki itu sambil masing-masing dari mereka memegang tangan kanan dan kiri si wanita itu.
"Lepass...Kalian jangan kurang ajar ya sama saya." Si wanita itu menghentak-hentakkan kedua tangannya hingga pada akhirnya ia bisa terlepas dari kedua pria itu.
Lalu ia menerobos masuk ke ruang yang dari tadi ingin ia tuju.
Saat aku sedang fokus dengan layar laptopku samar-samar aku mendengar keributan dari luar pintu ruang kerjaku ini dan..__
Ceklekk..
Suara heels terdengar bergerak menuju tempat ku berada.
"Alvian." Aku tau siapa yang kini di hadapanku, tapi aku mengabaikannya dan mataku tetap fokus pada layar dihadapanku begitu juga 10 jariku pun tetap fokus menari-nari di sekitaran keyboardnya.
Ceklekk..
"Maaf Pak, mbak ini nekad dan menerobos paksa untuk masuk." Saat security masuk ke dalam ruanganku.
Sang security itu berdiri di balik pintu dengan wajah panik, aku milirik sekilas ke arahnya.
"Baiklah kali ini biar saya yang mengurusnya." Seruku dingin, mataku kembali ke layar laptopku.
"Siap Pak, terima kasih saya permisi." Ucapnya di akhiri membungkukkan separuh badannya lalu lenyap dari ruangan ku ini.
Wanita yang di hadapanku ini sejak beberapa menit lalu sudah duduk santai di kursi yang tersedia di depan meja kerjaku. Sungguh ia wanita yang tidak tau malu sudah di tolak dan di usir secara kasar masih saja berani menapakkan kaki serta dirinya di kantor ini, tanpa rasa bersalah ataupun risih sedikitpun.
Dengan fokusku ke arah layar laptopku aku bertanya dengan nada dinginku. "Ada urusan apa lagi hingga dirimu kembali kesini pagi ini Niken?" Ya siapa lagi yang tidak malu sebagai perempuan saat ini menurut ku kalau bukan Niken teman SMA ku dulu.
"Hanya ingin bertemu dengan mu si pria dingin dan angkuh, tapi ntah mengapa aku begitu mencintainya sehingga tak bisa melupakannya." Sungguh menjijikkan aku mendengar pengakuannya yang terasa aneh dan berlebihan itu.
"Sebaiknya jangan membuang waktu mu disini Niken." Aku lagi-lagi berbicara tanpa menoleh padanya , fokusku tetap pada apa yang sedang ku kerjakan di layar laptopku dan keyboard di atas mejaku.
"Aku tidak membuang waktu disini melainkan memberikan waktuku untuk lelaki yang aku cintai, apa itu salah?" Pernyataan dan pertanyaan konyol sekali yang ia lontarkan barusan, bagaimana bisa ia benar-benar tidak merasa salah.
"Salah, sangat salah karena kau memberi dan mencintai lelaki yang kini telah beristri dan kau masih saja mengharapkannya. Jatuh cinta, memang tidak pernah tau akan jatuh kepada siapa dan sah-sah saja. Tapi jika cinta itu ternyata telah dimiliki seseorang dan sudah sah dengan yang lain, harusnya tidak usah berharap lagi apalagi di kejar." Aku mencoba memberinya penuturan secara baik-baik, agar terbuka fikirannya dan segera melupakan yang tidak perlu ia perjuangkan.
"Sudahlah Vian aku tak butuh ceramahmu yang aku butuh adalah hati mu untukku, aku tidak perduli kau sudah menikah atau belum. Lagian dalam islam lelaki memiliki istri lebih dari satu itu sah-sah saja dan halal bukan, aku rela menjadi istri kedua mu asal aku bisa hidup bersamamu." Ini gila, sungguh gila dan di luar dugaanku apa yang barusan ia katakan ingin menjadi istri keduaku.
__ADS_1
"Itu jika istri pertama mengizinkannya. Namun, sayangnya saya tidak pernah ada niatan untuk berpoligami walaupun seandainya istri saya mengizinkannya." Tegasku tanpa neko-neko.
"Jadi segeralah kau angkat kaki dari sini Niken, jangan sampai orang-orang di kantor ini jadi salah faham atas kehadiran mu yang tidak ada urusannya dengan pekerjaan saya." Tegasku lagi penuh intonasi tinggi dan penekanan.
"Aku tidak mau." Dasar perempuan keras kepala dan tidak tau malu.
Segera aku bangkit dari kursi kebesaranku mendorongnya ke belakang lalu melangkah menuju perempuan yang ada di seberang meja kerjaku. "Ayo, keluar dari sini. Saya tidak suka ada penganggu saat saya sedang bekerja apalagi penganggu hidup saya." Lagi-lagi aku harus berlaku kasar pada Niken, aku menarik paksa tangan Niken agar ia bangkit dari duduknya.
Kemudian aku menyeretnya agar keluar dari ruangan ku, dia yang membuat aku begini.
Sungguh aku tidak habis fikir watak apa dan hati apa yang ada pada diri Niken , apa dia salah satu dari bibit pelakor untuk rumah tanggaku. Seperti yang pernah aku temui dan tangani dulu , dalam kasus perceraian akibat dari suaminya yang di rebut oleh wanita lain.
"Vian kenapa kamu sekarang jadi kasar begini sih?" Niken semakin heran dan terkejut dengan sikap kasarku sekarang padanya.
Aku melepas tanganku dari sebelah tangannya yang aku tarik paksa tadi. Niken meringis sepertinya dia kesakitan karena ulahku, aku membuang wajah ke arah lain sambil mengambil napas kasar. Aku jadi serba salah , memang tidak seharusnya lelaki bersikap kasar pada wanita.
Tapi wanita ini sungguh menguji kesabaranku , aku tidak suka ada wanita modelan begini yang hilang akal karena cinta butanya.
"Jadi apa maumu sekarang Niken? Kenapa kamu membuat saya berlaku kasar kembali terhadap mu, tidakkah sudah jelas apa yang saya katakan padamu. Jangan berjuang hal yang tak seharusnya kau perjuangkan Niken, sadarlah. Tidak selamanya juga cinta itu harus memiliki, dan tidak selamanya cinta itu harus terbalas. Harusnya kau faham itu Niken." Rasanya aku sudah cukup bertutur panjang lebar sejak di pertemukan kembali dengan Niken, karena ulahnya.
Rasanya aku sudah tidak tau lagi harus bagaimana menghadapi perempuan ini. Ya Alloh lindungilah aku serta jauhkan lah aku dari perbuatan buruk dan kemaksiatan.
"Aku ingin kita makan siang bersama kali ini, tolong jangan tolak aku untuk kali ini saja Vian?" Ia berucap dengan tatapan yang penuh harap.
Aku berpikir sejenak kalau aku tolak lagi jelas Niken tidak akan mau pergi juga, apalagi melihatnya berlaku keras seperti ini.
"Oke kita akan makan siang bersama, tapi dengan satu syarat." Aku mencoba bernegoisasi sebagai trikku untuk menyingkirkannya.
Sepertinya perempuan ini tidak bisa langsung di kerasin harus dengan trik lain.
Niken mengernyitkan dahinya. "Syarat..?" Serunya sejenak lalu ,wajahnya syarat kesenangan. "Oke, nggak masalah asal kau bisa makan siang bersama ku hari ini."
_____
Back to Alena.
"Ver gimana udah lo ajukan proposal pengajuan judul lo yang baru?" Tanyaku penasaran.
"Besok insha Allah keknya baru gue coba ajukan lagi yang baru, soalnya belum kelar semua hehe." Cengirnya di akhir kalimat yang aku rasa malah seperti rasa malunya , karena belum kelar.
"Ih biasa dong Ver, semangat ya moga pas pengajuan kedua judul elo langsung di acc."
Langsung ia berseru sambil mentengadahkan kedua telapak tangannya. "Aamiin." Lalu menyapu ke wajahnya.
"Oya, ntar elo temani gue ke gramedia dong Len. Tapi elo izin dulu sama your husband, kalau nggak berabe gue bisa kena amuk sama si om gue yang gantengnya paripurna itu."
"Ya pastilah gue izin dulu kalau mau pergi, apalagi tanpa dia." Jawabku.
"Sipp dah." Seru Vera sambil mengacungkan ibu jarinya kepadaku, lalu terdengar dera langkah masuk ke dalam ruangan kelas ini dan suara.
"Ok bagaimana , apakah tugas yang tadi saya beri sudah pada selesai kah? Bagi yang sudah selasai ayok sekarang sudah bisa di kumpul ke meja saya." Suara bu dosen mengintruksi aku dan Vera yang mengobrol barusan di sela jam pelajaran yang masih berlangsung.
Sedetik setelahnya aku dan Vera pun bangkit dari bangku tempat duduk kami untuk mengumpulkan kertas tugas latihan kami yang memang telah selesai kami kerjakan, dari dosen kami dengan mata kuliah yang bernama Matematika Bisnis.
Tadi sang ibu dosen baru saja permisi dari toilet. Maka sebab itulah aku dan Vera yang duduk sebangku bisa intermezo sejenak, alias mengobrol sedikit di sela sang ibu dosen yang masih belum kembali ke ruang kelas kami dari permisinya tadi ke toilet.
Karena perubahan jadwal mulai minggu lalu , maka mulai hari ini tepat hari kamis dan besok hari jum'at. Kami masuk kuliah pagi dan pulangnya tepat sekitaran jam makan siang yang akan tiba sebentar lagi.
🍬🍬🍬
Bersambung...
__ADS_1
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰