TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 7


__ADS_3

Seseorang mengeliat di atas ranjang besar di dalam sebuah kamar dengan cahaya lampu yang menderang di dalam kamar tersebut.


Tangan kanannya refleks mengucek perlahan mata kanannya, dan menguap secara tiba-tiba.


Kemudian ia membuka matanya perlahan dan mendudukan tubuhnya sejenak hendak menuju kamar mandi yang ada di kamar tersebut.


Beberapa saat kemudian seseorang itu memutar hendle pintu kamar mandi dan keluar dari sana , setelah menyelesaikan aktivitasnya di dalam kamar mandi tadi.


"Loh papa kok nggak ada ya? Kayaknya nggak nyadar deh tadi sangkin udah mau ke kamar mandi." Monolognya.


Seseorang itu pun seakan hendak mencoba keluar kamar, berjalan menuju pintu kamarnya.


Akhirnya ia pun telah keluar kamar dan menelusuri beberapa ruangan yang ada di lantai bawah ini, mencari ke ruang keluarga/tv.


Namun ia tidak menemukan seseorang yang ia maksud tadi dan ia pun hendak mencari ke sisi ruangan lain.


🍬🍬🍬


"HEI KALIAN LAGI NGAPAEN DISITU?"


Sontak aku dan si om nyebelin ini menoleh ke sumber suara dengan mata terbelalak karena terkejut.


Sialnya lagi si om masih menyesap telunjukku yang terluka tadi dan posisi kami masih berjongkok dengan jarak begitu dekat.


'OMG cobaan apa lagi sekarang, yang kemarin sore aja belum kelar kenapa ini seakan nambah lagi.' Pekikku dalam hati.


"Papa"


"Eyang"


Aku dan si om nyebelin itu pun bersuara bersamaan menyebut panggilannya si kakek gagah itu , setelah beberapa detik tadi kami sempat terpelogok kaget atas suara yang si kakek gagah itu lontarkan secara lantang.


"Papa disini? Loh kalian ngapaen?" Lontaran suara itu semakin menggema keras di ruangan dapur ini dengan suasana yang sudah hening karena sudah tengah malam.


Kedua bola mata kami terbelalak lagi saat mendengar suara muncul kembali dan itu adalah suara si nenek fashionable itu, yang tiba-tiba saja muncul tanpa di undang.


Aku dan si om nyebelin pun spontan berdiri bersamaan, dan ntah sadar atau tanpa sadar si om nyebelin itu pun masih betah mengenggam jari telunjukku yang terluka akibat pecahan gelas kaca yang terjatuh tadi.


Dan ntah kenapa juga aku merasa tak bisa melepaskan genggamannya dari jari telunjukku ini.


"Nah ini pasti ulah kamu kan Andra? Kamu mau mes*min perempuan ini lagi terus si perempuannya nggak mau jadi kamu memaksanya sehingga gelas kaca itu jatuh dan pecah." Dugaan dan tuduhan bertubi-tubi itu keluar lagi dari mulut sang nenek-nenek fashionable itu.

__ADS_1


Nenek fashionable itu baru saja muncul sudah menduga dan menuduh yang tidak-tidak lagi dan lagi kepada kami, tidak jauh beda seperti dugaan dan tuduhannya kemarin sore.


Nah si kakek gagah ini yang duluan datang serta mergokin aku dan si om nyebelin ini juga takutnya malah mikir macem-macem lagi sekarang terhadap kami, karena kejadian tengah malam ini.


'Ya Allah tolonglah hamba mu ini' monologku membatin.


Si om nyebelin pun langsung melepas genggamannya dari telunjuk tangan kananku, menghempaskannya dengan sedikit kasar.


Sudah entah bagaimana lagi raut wajahku dan si om nyebelin itu akibat kejadian tengah malam ini yang tak kami duga.


"Ya ampun itu darah dari tangan kamu?" Ucap si nenek fashionable itu dari wajahnya tersirat kekhawatiran dan si nenek itu pun langsung menghapiriku.


Terrnyata darahnya masih belum berhenti apa lukanya cukup lebar hingga masih mengeluarkan darah, fikirku.


Bahkan sampai menetes darahnya di lantai beberapa titik karena saat si om nyebelin tadi menghempasnya dengan sedikit kasar, posisi jari-jariku memang dalam keadaan mengarah ke lantai.


Otomatis kan kalau darahnya akan menetes ke lantai jika jika dsrahnya belum berhenti dengan posisinya seperti itu.


Si nenek fashionable itu pun meraih tangan kananku yang terluka ini, menyeretku sedikit cepat dan aku malah nurut saja tanpa sedikit pun bertanya ataupun menolaknya.


Hingga akhirnya aku dan si nenek fashionable tersebut telah berada di depan westafel , si nenek ini pun menhidupkan keran westafel tersebut lalu mengarahkan telunjukku yang terluka tadi ke arah mulut keran dan mencucinya dengan air yang mengalir dari mulut keran tersebut.


"Ah i..iya Pah." Jawab si om nyebelin itu dengan nada yang seakan si om nyebelin itu sedikit gugup atau apalah aku juga kurang faham.


Si om nyebelin itu pun segera berjalan mencari kotak P3K tersebut.


🍬🍬🍬


Kini aku telah diduduk di salah satu kursi meja makan bundar yang ada tepat di dapur ini, sepertinya ini meja makan untuk mereka para ART dan beberapa pekerja yang ada di rumah ini.


Di hadapanku duduklah si nenek fashionable itu sedang mengobati luka di jari telunjuk tangan kananku dengan telaten dan hati-hati.


Ya Allah aku merasa seperti anaknya sendiri diperlakukan seperti ini oleh si nenek fashionable ini.


"Ok, sudah selesai. Lain kali hati-hati ya nak." Ucap si nenek fashionable itu dengan lembut dan senyumannya.


"Terima kasih, e..eyang p..putri." Ungkapku sedikit terbata saat aku menyebut panggilannya dengan senyum kikuk.


Baru kali ini aku melihat si nenek fashionable ini tersenyum, malah tersenyum kepadaku sejak aku pertama kali bertemu dengan si nenek fashionable ini kemarin sore.


"Sebenarnya apa yang kalian lakukan tadi di dapur ini berduaan?" Tiba-tiba saja pertanyaan itu terdengar ke telinggaku , yang tak lain adalah suara si kakek gagah tersebut walau dengan nada ramah tapi aku merasa kaget.

__ADS_1


Hingga aku terbegong di tempat dudukku sedangkan si om nyebelin itu yang baru saja selesai membersihkan semua pecahan-pecahan gelas kaca tadi berhenti saat ia hendak keluar dari dapur ini.


Si om nyebelin itu pun membalikan badannya ke arah kami dimana aku dan si nenek fashionable ini masih tetap duduk di posisi kami tadi.


Sedangkan si eyang duduk santai di belakang tempat duduk eyang putri.


"Pah kami tidak ngapaen-ngapaen , tadi Andra ke dapur seorang diri untuk minun haus dan melihat perempuan ini sudah ada di dapur ini sendiri." Jawab si om nyebelin itu tapi ia memang tampan sanyang nyebelin pake banget bagiku.


"Dan kamu Alena ngapaen tadi di dapur?" Tanya si kakek gagah itu padaku tetap dengan ramah.


"Alena ke dapur mau minum eyang haus, tapi tiba-tiba muncul om nyebelin ini Lena kaget hingga gelas yang ada di genggaman Lena seketika lepas dan jatuh begitu saja ke lantai." Ucapku menjelaskan tumben kali ini aku bisa bersuara untuk menjelaskan apa yang terjadi berbeda dengan kemarin sore.


"Apa kamu sebut saya om nyebelin." Ucapnya si om nyebelin itu dengan nada dan raut wajah kesal.


Aku hanya diam tak memjawab malas meresponnya.


"Nah janjian kalian berdua di dapur ini kan, kalian udah cocok haus aja bisa berbarengan gitu di tengah malam. Itu tandanya jodoh , udah Ndra kamu lamar saja perempuanmu ini besok kepada orang tuanya."


Kumat lagi deh si nenek fashionable ini , kok keukeuh ni nenek-nenek mau menikahkan kami.


Kami seakan kena ngerebek dua kali walaupun sebenarnya kami tidak ngapain-ngapain apalagi mes*m.


"Mamah udah dong jangan ngawur terus ucapan dan fikirannya." Kesalnya si om nyebelin itu pada ibunya.


"Sudah-sudah sekarang nak Alena kembali ke kamar ya sudah larut namun masih ada waktu istirahat sebelum tiba waktu subuh." Titah si kakek gagah itu padaku dan juga si om nyebelin itu.


"Kamu juga Andra!"


"Sini Eyang antar kamu ke kamar, ntar kalau nggak Eyang antar kalian malah mau berduaan lagi dan melakukan mes*m!" Cerocos si nenek fashionable ini lagi sambil menarik pelan sebelah tanganku untuk bangkit dari dudukku dan si nenek ini pun ntah sejak kapan sudah berdiri dari duduknya yang tadi hadapanku.


Terlihat jelas raut wajah si om nyebelin itu kesal dengan apa yang di lontarkan mamahnya ini.


Emang ne nenek-nenek kumat-kumat.


Tapi si kakek gagah itu malah terkekeh pelan, emang lucu gitu yang ada nyebelin juga ne nenek sama kayak anaknya yang udah om-om ini.


🍬🍬🍬


Bersambung...


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰

__ADS_1


__ADS_2