
"Om kita beneran berwisata hanya berdua saja?" Tanyaku pada si om nyebelin saat kami akan menuju mobil Fortuner hitam miliknya yang terparkir di basement kediaman Abraham.
"Heumm"
"Gak ajak bik Ijah dan lainnya om untuk ikut berwisata bareng kita kan seru om," Saranku antusias kan berwisata rame-rame lebih seru.
Mana tau kan saranku ini bakal di iyakan oleh si om nyebelin, agar aku juga nggak berduaan aja sama ni makhluk nyebelin seontera jagad.
"Tidak Alena." Idih saran aku jangankan diiyakan di pertimbangkan aja nggak sama sekali , nah ntu langsung di kata tidak jelas itu ditolak yekan.
Dasar om nyebelin , om freezer, om tripleks , patung manekin, makhluk astral sudahlah lengkap umpatanku untuk si om nyebelin ini. Tapi hanya di dalam hati saja aku melontarkannya.
Sambil bibirku mengerucut manyun-manyun nggak jelas serah dah ni si om nyebelin mau anggap aku paan bodo amat.
"Ih si om pelit aamirr. Jangan pelit-pelit om apalagi sama mereka yang berkerja untuk kita di tambah kerjaannya selalu baik dan amanah. Ntar rezeky om seret loh baru nyaho." Cibirku, mataku menatapnya kesal.
Kini kami sudah masuk dan berada di dalam mobil duduk berdampingan di kabin terdepan mobil fortuner hitam milik si om nyebelin ini. Dengan posisi si om nyebelin ini jelas duduk di bangku kemudi sebagai pengemudinya dan aku sebagai penumpang tunggalnya yang duduk tepat di sebelah kirinya.
"Kamu ngatain saya atau nyumpahin saya Alena?"
Si om nyebelin ini langsung menoleh ke arahku dengan tatapan tajam dari mata elangnya.
Degg..
Sepertinya kata-kataku tadi membuatnya marahkah?
Duh aku kan nggak bermaksud begito loh om, lagian kalau om pelit dan seret rezekynya kan aku juga yang repot ntar nggak dapat nafkah materi yang maksimal darinya.
Ya bukan aku materialistis melainkan realistis dong. Ya kan bayar kuliah dan lainnya kan pake duit bukan pake daun pisang apalagi pake daun jeruk purut.
"Idih si om souzon aja sama Alena. Siapa yang ngatain apalagi nyumpahin , Alena cuma kasi krisan ( kritik dan saran) gitu lo om." Elakku, ya yang tadi itu memang bukan maksudku seperti yang si om nyebelin ucapkan dan pikirkan.
"Bukannya kamu yang selama ini souzon sama saya Alena." Ucapnya telak.
"Yach habisnya tingkah om itu lebih sering membuat Alena jadi berfikir begitu baik sadar atau tanpa sadar." Jelas aku nggak mau kalah dengan apa yang di ucapkan si om nyebelin ini padaku.
"Dasar bocah." ejek si om nyebelin.
"Dasar om-om."ejekku tak mau kalah.
"Biar om-om saya tetap ganteng kok." Ucapnya pongah.
Ih aku tau kali om kalau situ ganteng tapi nggak usah sombong gitu juga kali.
"Songong amat dah si om." Sungutku memalingkan wajah ke arah jendela mobil.
Si om nyebelin pun menghidupkan mobilnya dan mulai melajukan mobilnya. Pagi ini pukul tepat pukul 07:45 kami sudah mulai berangkat ke Mangrove Wonorejo yang terletak di Jl. Raya Wonorejo, Kota Surabaya , Jawa Timur. Buka setiap hari pada pukul 08:00 pagi sampai dengan pukul 18:00 sore.
Aku tidak membawa apa-apa karena kata si om akan pulang hari alias nanti sore. Jadi fikirku aku hanya membawa mukena, dompet dan juga ponsel pintarku serta powerbank saja sudah cukup selain beberapa bedak tabur dan lip balm serta hand body di dalam tas selempangku yang berwarna hitam berukuran sedang.
Kali ini si om nyebelin mamakai stelan casual yang membuat ia terlihat lebih muda dan keren yaitu jaket berbahan jeans berwarna kehitaman gitu dengan dipadu kaos putih polos di dalamnya serta celana panjang berbahan jeans berwarna biru pudar dengan menggunakan sepatu sneakers cowok berwarna putih.
Sedangkan aku mengenakan atasan berlengan panjang berbahan sweeter lembut berwarna pink dipadu celana jeans biru dongker tak lupa aku memakai sepatu sneakers ku yang berwarna putih pula sama seperti warna sepatu sneakersnya si om nyebelin ini. Tapi inget kami nggak janjian ya apalagi sok-sokan couple-lan sesuatu nggak ya.
"Om berapa jam perjalanan kita dari sini kesana?" tanyaku penasaran, karena aku memang belum pernah kesana.
Ya boro-boro ke Mangrove Wonorejo, ke Surabaya saja baru ini pertama kalinya bagiku.
Aku masih duduk bersandar nyaman di bangku penumpang depan sebelah kiri si om nyebelin ini
mengemudikan mobilnya sambil mataku sesekali melihat ke arah depan kaca dan ke arah kiriku yaitu jendela mobil.
"Sekitar 30-45menit." jawabnya singkat tanpa menoleh padaku tetap fokus melihat jalan sambil mengemudikan mobil.
"Oo, kirain Alena kita bakalan menempuh berjam-jam lamanya untuk menuju kesana. Oya tempatnya bagus kah om?" Tanyaku lagi dari pada diem aja fikirku coba bertanya-tanya karena aku cukup kepo dengan tempat yang akan si om nyebelin ini suguhkan padaku.
Mau cari dan lihat di mbah go*gle aku lagi malas dari semalam untuk aku buka-buka mbah go*gle sampai sekarang, aku lebih suka buka applikasi baca novel lalu membaca novelnya yang aku suka dan kira-kira menarik bagiku.
"Kamu lihat saja nanti pas kita sudah sampai tujuan." Lagi-lagi jawaban singkat, tepat dan padat dengan mode datar itu selalu jadi andalan si om nyebelin ini.
Aku hanya memutar bola mata malas dan kembali fokus ke jendela mobil sebelah kiriku melihat jalanan-jalanan yang kami lalui selama pergi menuju ke Mongrove Wonorejo.
Hening tanpa percakapan dan juga tanpa suara musik melantun dari audio mobilnya si om ini. Kami hanya fokus ke masing-masing aktivitas yaitu si om nyebelin ini mengemudi dan aku jelas melihat jalanan sekitar melalui jendela mobil.
🍬🍬🍬
Memasuki hutan mangrove kita akan disambut dengan pohon-pohon bakau yang banyak sekali dan itu terlihat indah dan menyegarkan mata bagi kita yang biasanya melihat jalan raya dan gedung-gedung pencakar langit yang sering terlihat banyak di Jakarta.
Kami akan segera sampai di pintu utama tempat ini si om segera memarkirkan mobilnya di area parkiran khusus parkir mobil.
"Kita sudah sampai ya om?" Tanyaku memastikan setelah si om nyebelin ini mematikan mesin mobilnya dan memarkirkan mobilnya dengan baik dan benar.
"Ayok turun." Titah si om nyebelin sambil melepas sabuk pengamannya.
__ADS_1
'Ih nggak nyambung lain yang ditanya lain juga yang di jawab, dasar om om nyebelin.' Sungutku dalam hati dengan rasa kesal.
Aku pun melepas sabuk pengamanku dan segera turun dari dalam mobil ini.
Any way, but the way kapan si om nyebelin ini bawa ransel kok tiba-tiba udah ada ransel aja bertengger di punggungnya. Perasaanku tadi yang aku lihat si om nyebelin ini nggak bawa apa-apa selain bawa dirinya sendiri, diriku dan mobil Fortuner hitam miliknya ini.
"Kamu jangan jauh-jauh dari saya, ntar kamu ilang!" Intruksinya tegas sambil sekilas si om nyebelin ini melirikku dengan mata elangnya.
"Emang Alena bocah apa pake takut ilang segala," cecarku pada si om nyebelin.
"Ya emang bocah aja yang bisa ilang orang dewasa juga bisa ilang kalau nggak hati-hati jaga diri dan saya nggak mau jadi repot mencari kamu kalau sampai kamu beneran ilang." Tegasnya memperingati.
Si om nyebelin pun berjalan menuju gerbang seperti gapura selamat datang yang terbuat dari bambu dan aku lihat ada tulisan Jogging Track Ekowisata Mangrove Wonorejo, Surabaya di bagian atasnya dengan jelas.
Kami pun masuk ke Mangrove bagian Jogging Track-nya.
Jogging track ini juga berfungsi sebagai lintas jalan para pengunjung ketika masuk ke area hutan bakau. Cuacanya juga terasa sejuk walaupun matahari kali ini cukup terik di pagi hari ini.
"Ya tapi nggak gitu juga kali om konsepnya." Ketusku sambil mengerucutkan bibirku kesal.
Pada Jogging track ini terlihat terbuat dari papan-papan kayu yang di lapisi bambu tebal yang disusun merapat sepanjang jembatan dan kokoh saat di injak.
Aku dan si om nyebelin ini melangkah menyusuri jembatan kayu yang padu dengan bambu yang kuat dan kokoh. Mataku meneliti setiap bagiannya melirik kemana saja mata memandang. Bener-bener alam banget serba hijau dan asri.
"Om ada bawa kamera nggak?" Tanyaku sambil mata ini masih menikmati pemandangan yang ada disekitarnya.
Si om langsung membalik ranselnya ke arah depan membuka retsletingnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam ranselnya.
"Hanya kamera ini yang saya bawa." Si om nyebelin menyodorkan kamera pocket merk can*n berwarna hitam di padu silver kepadaku.
Aku pun langsung menerimanya "Wah ini lebih dari cukup om, tapi boleh Alena pinjem dulu kan?" Tanyaku memastikan.
"Dasar bocah kalau saya nggak mau kasih pake kamu untuk apa saya repot-repot sodorkan kamera itu ke kamu Alena." Ucapnya penuh penekanan di akhir kalimat.
Iya juga ya ih aku kadang oon juga, tapi kan aku niatnya mau memastikan lagi apa boleh aku pinjem atau pake itu kameranya si om nyebelin.
"Kalau kamu mau minum dan ngemil saya ada bawa beberapa cemilan dan air mineral botol di dalam ransel ini. Kalau kamu mau bilang saja pada saya." Ucapnya sambil menujuk ranselnya sebagai isyarat memberi tahuku.
Oo,rupanya di dalam ransel itu snack-snack toh.
"Iya om , terima kasih. Nanti kalau Alena mau pasti Alena langsung minta sama om." Ucapku dengan seulas senyum kusunggingkan untuk si om nyebelin ini.
Kurang manis apa coba aku padanya , tapi dia ne selalu jadi yang menyebalkan kan seontera jagad.
"Baru 3 kali sama ini saya kesini." Jawabnya singkat dengan ekspresi datarnya.
"Sama siapa aja om dan kapan?" Loh kok aku jadi kepo gini sama si om nyebelin ini, tapi dari pada diem aja kan kurang seru juga kali berwisata nggak ada obrolannya hanya menyaksikan dan foto-foto doang garing dong.
"Kepo kamu ya?" ucapnya.
"Eh...eh si om tau juga kepo?" Ejekku.
Si om nyebelin malah diem aja tanpa ekspresi hedeh, bukannya menjawab pertanyaanku tadi. Bener-bener nyebelin si om ini yang sudah bergelar suamiku.
Di sepanjang Jogging Track ini terdapat tanaman bakau serba hijau. Namun bukan hanya satu jenis tanaman bakau saja, melainkan berbagai jenis tanaman bakau terdapat disekitar sisi kiri dan sekitar sisi kanan dari sepanjang Jogging Track ini yang menyejukkan mata.
Telinga kita juga akan dimanjakan dengan suara gemericik air dan kicauan burung yang terbang dari satu dahan ke dahan lainnya saling bersautan merdu.
Pengunjung pun sudah mulai ramai mungkin karena hari ini hari sabtu yang tandanya sudah masuk hari weekend.
"Om tolong fotoin Alena dong disitu." Aku menunjuk ke arah sebuah rumah joglo yang disekitarnya dikelilingi dengan tanaman bakau serba hijau.
"Ini om kameranya." Si om pun meraih kameranya yang aku sodorkan padanya dan aku pun langsung melesat ke depan rumah joglo tersebut berpose untuk difoto.
"Ayo om , yang bagus ya om fotoinnya awas lo kalau jelek." Titahku di iringi ancaman tanpa peduli gimana nanti tanggapannya, bod* amat dah yang penting aku mau foto-foto dulu.
Cekrek...
Cekrek...
"Ih si om main cekrek-cekrek aja tanpa aba-aba kan Alena belum siap sepenuhnya, ntar jelek dong fotonya Alena." Kesalku pada si om nyebelin ini.
"Udah kamu tenang aja bagus kok, udah pinjem kamera saya di tambah kamu suruh-suruh saya untuk jadi tukang foto kamu. Eh kamu malah protes lagi." Sungutnya panjang kali lebar.
"Terus deh si om gitu aja di hitung-hitung ikhlas nggak sih ini?Oya sini kameranya om! Alena mau lihat beneran bagus nggak om fotoin Alena?" Kuraih dengan cepat kamera yang ada di tangan si om nyebelin ini.
Kubuka dan ku chek hasil jepretan si om nyebelin ini ,aku manggut-manggut tanda ya memang bagus hasil cepretan si om.
"Untung bagus hasil cepretan om kalau nggak Alena banting aja ne kameranya." Ancamku berkelakar.
"Coba aja banting paling jatah bulanan kamu saya potong sebagai kompensasi." Aku pun membeliakan mata ke arah si om nyebelin ini, karena tak habis fikir masih bisa dia minta kompensasi kepada aku yang notabene istri sahnya sendiri.
"Ih bener-bener deh om ini perhitungan banget jadi orang ternyata ya, mungkin itu juga yang membuat om lama membujang selama ini." Cecarku kesal.
__ADS_1
Si om nyebelin pun mulai melangkahkan kakinya lagi menyusuri area Jogging Track ini tanpa mempedulikan ocehanku lagi.
Joging Track ini tidak hanya lurus dalam satu perjalanan melainkan bercabang , dan hampir setiap beberapa meter terdapat tempat sampah agar memudahkan setiap pengunjung membuang sampah pada tempatnya.
Banyak spot-spot menarik yang bisa kita manfaatkan sebagai latar berfoto yang juga bikin kece. Aku pun meminta si om memfotokan ku lagi dan lagi hehe.
"Om tolong fotoin lagi dong." Titahku dengan di akhiri cengiran.
Si om pun langsung meraih kameranya dan mulai untuk memfotokanku kembali.
Cekrek...
Cekrek...
"Ih si om kan selalu deh main cekrek-cekrek aja tanpa aba-aba." Rajukku sambil menghentakan kakiku dan mengerucutkan bibisku.
Eh si om nyebelin ini malah diam aja tanpa ekspresi dasar menekin untung ganteng. Ia pun kembali memberikan kameranya kepadaku.
"Om bagi minumnya dong udah terasa haus nih tenggorokan." Ucapku meminta minuman yang kata si om tadi ada di dalam tas ranselnya.
Ia pun langsung menarik ranselnya ke bagian depan dan membuka retsleting ranselnya merogoh dan memberikan air mineral botol kepadaku yang masih bersegel.
"Nih, nggak sekalian mau cemilannya?" Tawarnya.
Aku mengeleng seraya berkata "Nanti aja om Alena masih mau memandangi pemandangan yang ada disini dan maaih mau foto-fotoin yang ada di sekitar sini yang bagus untuk jadi kenang-kenangan." Kuakhiri dengan cengiran sok polosku hehe.
Tak terasa hari sudah akan memasuki waktu dzuhur dan makan siang. Kami pun kembali menyusuri area Jogging Track ini hingga setelah itu, kami berbelok ke kanan melalui jogging track ini dan ternyata sampai di Sentra Kuliner.
Si om nyebelin ini pun masuki Sentral Kuliner tersebut di ikuti olehku dari belakang. Tepat di depan saat masuk tertera di atasnya tulisan Sentra Kuliner MIC dengan sedikit menaiki anak tangga berbahan kayu di depan pintu masuknya.
Bangunannya juga berdominan berbahan kayu serta Sentra Kuliner MIC cukup luas dan bersih.
"Kita makan siang dulu disini setelah itu kita ke mushola untuk menunaikan sholat dzuhur." Ucap si om nyebelin ini datar sedatar papan talenan, setelah kami duduk di salah satu kursi yang terdapat di meja pengunjung yang ada di Sentra Kuliner MIC ini.
Ku anggukkan kepalaku sebagai respon dan mengedarkan pandanganku kesekitaran Sentra Kuliner MIC ini.
"Kamu mau pesan makanan apa Alena?" Tanyanya si om padaku.
"Emang ada apa aja om?", tanya ku balik.
"Biasanya disini hanya ada ayam geprek/penyet , ikan gurami bakar, pop mie dan cumi serta kepiting yang dimasak seperti sambal pada gitu. Kamu mau apa?" Si om nyebelin menjelaskan.
"Permisi mau pesan apa ya mas dan mbak?" Tanya sang pelayan setelah ia sampai di hadapan meja kami.
"Saya pesan gurami bakar aja sama nasi putihnya seporsi dan teh manis hangat satu ya mbak." Ucap si om nyebelin ini mengatakan pesanannya langsung pada pelayan tersebut.
"Mbaknya apa ya?"Tanyanya si pelayan tersebut ramah.
"Saya ayam geprek 2 porsi sambalnya banyakin ya mbak dan nasi putihnya satu porsi saja mbak di tambah sama teh manis hangat satu." Ucapku mejelaskan pesananku pada si mbak pelayan.
"Baik harap menunggu ya." Pelayan tersebut pun berlalu pergi dari hadapan meja kami.
Aku cengiran ke arah si om nyebelin sambil berkata "Nggak apa kan om kalau Alena pesan ayam gepreknya 2 porsi hehe?"
"Heumm." Dehemannya saja yang keluar sebagai respon.
"Kamu sudah pernah ke Surabaya sebelumnya?" wah-wah si om ini sedang bertanya padaku gitu kah, aku sampai celingukan ke kanan, ke kiri bahkan sampai ke belakang dengan refleks untuk memastikan apakah benar si om nyebelin ini bertanya padaku.
"Udah nggak usah celingak celingukan gitu saya jelas bertanya sama kamu Alena." Cetusnya.
"Oo,kirain Lena om bertanya pada diri om sendiri. Jadi sekarang om kepo nih ceritanya sama Alena?" cebikku dengan ekspresi mengejek.
Si om pun beralih kepada gawai pintarnya sepertinya mengalihkan ejekkan ku tadi, sa bod* teuing dah tadi aku bertanya juga dia nggak jawab malah langsung ngatain aku kepo.
Kemudian pesanan kami pun datang, aku langsung melahapnya karena aku memang sudah merasa lapar hingga aku memesan 2 porsi ayam geprek walaupun nasi putihnya tetap 1 porsi.
Kami makan siang di Sentra Kuliner MIC ini dengan hening maksudnya antara aku dan si om nyebelin ini tidak berucap hanya fokus saja dengan makanan kami dan fikiran kami saja.
Selesai kami makan kami pun keluar dari Sentra Kuliner MIC ini dan membayarnya kami segera menuju mushola yang ada di sekitaran Mangrove Wonorejo ini. Untuk melaksanakan sholat dzuhur setelah hampir 1 jaman lebih dikit berlalu adzan dzuhur berkumandang, mumpung masih ada waktu maka selesai makan siang kami langsung menuju mushola.
Kini aku sudah selesai sholat dzuhur dan keluar dari mushola, ku lihat si om nyebelin sudah berdiri di depan sekitaran mushola ini.
Kami pun berjalan beiringan kembali menyusuri sekitaran Mangrove Wonorejo ini hingga sampai di sebuah tepian sebuah sunggai yang juga di lalui oleh jembatan berbahan kayu yang dilapisi bambu merata dan kokoh.
"Kamu mau naik perahu?" Tetiba si om nyebelin ini menawariku naik perahu yang ada di sekitaran Mangrove Wonorejo Surabaya ini.
Aku mengedarkan pandanganku dan beralih menatap ke perahu-perahu yang terlihat di sekitaran pinggiran sungai ini.
"Boleh om." Jawabku singkat.
🍬🍬🍬
Bersambung...
__ADS_1
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰