
Suara ricuh di salah satu kampus kenamaan yang ada di kota Jakarta, bukan ricuh karena ada demo atau ospek melainkan memang aktivitas di sekitaran kampus ini selalu ramai dan terdengar bisik oleh para lalu lalang mahasiswa/i termasuk para dosennya.
Aku akan ke kantor dosen untuk mengajukan proposal pengajuan judul skripsi ku , hari ini. Kaki ku melangkah lebar dengan tangan memegang map berisi proposal pengajuan judul skripsi ku nanti.
Kini sudah di depan ruang para dosen dan akan melangkah masuk.
"Assalamualaikum. Permisi." Salam ku saat sudah di ambang pintu kantor para dosen.
"Wa'alaikumsalam. Ya ada apa?" Salah satu staf sekaligus dosen merespon ku yang kini nampak di ruang ini.
"Pak Zauzi ada?" Tanyaku.
"Ada, di ruangannya."
"Terima kasih."
Aku melangkah masuk , di dalam ruang para dosen ini ada juga beberapan ruang di dalamnya yang khusus untuk ruang pribadi dosen. Termasuk pak Zauzi dosen sekaligus staf penyeleksi proposal pengajuan judul skripsi bagi mahasiswa semester atas.
Tokk...
Tokk...
"Permisi Pak. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam. Ya masuk." Jawabnya dari kursi singasananya.
Aku pun melangkah menuju ke hadapannya dan begitu tiba di hadapannya. "Pak saya Alena dari Fakultas Ekonomi hendak magukan proposal pengajuan judul skripsi." Tutur ku masih berdiri di hadapannya yang di batasi meja kerjanya.
"Oke, mana proposal kamu?" Matanya melirik ke arahku saat dia masih sibuk dengan layar laptop di depannya. "Oya silahkan duduk , nanti kamu pendarahan pula karena berdiri terus disitu." Etdah si bapak dosen satu ini memang selalu terkenal homuris katanya biar tempangnya terlihat serius.
"Terima kasih, Pak." Aku pun duduk sesuai intruksinya yang bapak Zauzi ini sampaikan sedikit dengan candaan.
Pak Zauzi ini hanya saat semester 3 dan 4 saja masuk ke kelas ku mengajar selebihnya tidak, dia mengajar memang kalem dan diselingi candaan, santai jadinya.
Proposal ku sedang di chek olehnya secara random, tapi dengan teliti. "Ketiga judul yang kamu ajukan bagus-bagus." Ucapannya sambil manggut-manggut masih tetap mengcheknya.
"Ini semua ide kamu Lena?" Pak Zauzi melirik ke arahku dengan kaca mata bacanya yang sedikit ia turunkan.
"Iya Pak itu semua ide saya dan saya sudah cari serta dapatkan referensinya dari buku-buku dan sumber-sumber yang sudah saya siapkan nanti untuk di kelolah menjadi skripsi." Jawabku sikat dan tepat.
Kembali Pak Zauzi manggut-manggut lalu berkata. "Wah jadi kamu sudah mempersiapkan semaksimal itu Lena?"
"Iya, Pak. Saya ingin segera lulus dan berwisuda di tahun ini." Ucapku mantap.
"Bagus itu, bagaimana kalau besok kamu menghadap saya lagi dan bawa beberapa referensi dari ketiga judul ini yang akan kamu masukan nanti di dalam skripsi. Bila mana dari ketiga judul ini salah satunya terpilih." Waduh gimana ya masa bukunya aku bawa semua kan bukunya lumayan tebal-tebal dan banyak, mana 3 judul yang mau di kroschek hedeh.
"Ah gitu ya Pak?" Aku sungguh sedikit terkejut mendengar perintah si Pak dosen ini.
"Iya Lena, bagaimana kamu bisa kan?" Matanya menelisik ke arah ku.
"Bisa lah masa nggak bisa." Tuturnya lagi santai tapi seakan tak bisa di bantah.
"Iya, Pak insha Allah saya bisa." Ucapku memantapkan diri.
"Oke kalau gitu ke tiga proposal kamu ini saya simpan dulu disini sampai besok saya akan menentukan bagaimana selanjutnya. Setelah kamu bawa semua sumber dan referensinya." Tegasnya.
"Ah iya Pak, terima kasih. Kalau begitu saya undur diri, permisi Pak. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." Balasnya, aku pun bangkit dari dudukku dan keluar dari ruangan ini.
🍬🍬🍬
POV ANDRA.
Tokk...
Tokk..
Ceklek..
"Pak?"
"Heumm." Aku yang masih fokus pada layar laptopku yang ada di depanku, hanya berdehuem sebagai jawaban tanpa menoleh.
"Maaf Pak ini ada tamu yang ingin bertemu dengan bapak, katanya mbak ini ingin konsultasi langsung pada Pak Andra."
"Heumm." Aku masih fokus dengan layar laptopku.
__ADS_1
"Silahkan mbak duduk dulu, dan permisi saya tinggal dulu." Ucap salah satu karyawan kantor Andra yang mengantar perempuan yang akan berkonsultasi itu.
"Terima kasih." Seru si perempuan itu.
Kini karywan itu sudah keluar dari ruangan Andra, perempuan itu duduk di sofa yang memang tersedia di ruangan Andra. Sedangkan Andra masih fokus dengan aktivitas di meja kerjanya.
Selang beberapa menit aku mengakhiri aktivitas ku di depan layar laptopku, bangkit dari kursi kebesaranku menuju sofa seberang sana yang terlihat ada perempuan berambut panjang terurai dengan memakai dress pendek tanpa lengan berwarna serba putih,
Namun, aku tak jelas melihat wajahnya karena saat ini perempuan itu sedang menunduk memandang ke layar gawainya, dengan rambutnya yang bagian depan sedikit menutupi wajahnya.
Kini aku sudah berada dihadapan perempuan tadi yang masih dengan posisinya sibuk dengan layar gawainya. "Eheumm. Maaf anda ingin berkonsultasi tentang apa mbak?"
Perempuan itu pun mengangkat kepalanya dan "Hai Vian." Sapanya dengan senyum merekahnya.
Degg....
"Niken."
"Iya ini aku Niken." Ia berucap dengan sumringah.
"Jadi apa yang mau kamu konsultasikan kepada saya, Niken?"
"Aku ke sini bukan untuk konsultasi, melainkan ingin bertemu dengan kamu langsung Alvian."
"Ada keperluan apa kamu ingin bertemu langsung dengan saya?" Selidikku, dengan sebelah alisku terangkat.
"Aku rindu dengan mu Vian bahkan teramat rindu."
Aku menyergitkan dahi."Apa maksud kamu Niken."
"Kamu tau Vian saat kamu menolakku dulu dan tak lama aku pun berpacaran dengan yang lain. Itu kulakukan hanya untuk membuatmu cemburu, tapi yang lebih utama agar aku dapat melupakan kamu dan mencoba mencintai kekasihku. Namun, itu semua nihil aku masih tetap mencintaimu. Dan saat aku putuskan ke luar negeri aku berfikir agar bisa melupakan mu, ternyata tidak sama sekali. Sampai detik ini aku masih mencintai mu bahkan semakin mencintai mu Alvian."
Penuturannya yang panjang lebar itu membuat ku kaget, sungguh tidak pernah aku sangka Niken bisa memiliki perasaan itu sampai saat ini, tapi itu makin membuatku tidak suka.
"Maaf, jika tidak ada kepentingan. Lebih baik kamu pergi dari sini Niken." Ucapku pada akhirnya dengan tegas dan syarat penekanan di setiap kata.
"Hei apa-apaan ini Liandra kita sudah lama sekali tidak bertemu, kenapa kamu masih saja bersikap dingin padaku. Padahal aku datang kesini baik-baik dari luar negeri hanya untuk menemuimu. Aku ingin merajut kasih dengan mu dan aku ingin kita menikah." Terlihat Niken mengatakan hal barusan dengan entengnya tanpa berfikir atau bertanya dulu padaku , apakah aku sudah menikah atau belum.
Seandainya pun aku belum menikah tetap saja aku tidak mau merajut kasih, apalagi menikah dengannya. Karena dari dulu sampai kapan pun aku memang tidak pernah menyukainya apalagi mencintainya.
"Saya sudah menikah Niken dan saya juga sangat mencintai istri saya." Ungkapku yang sejujurnya dengan tegas, semoga perempuan ini mau menerima kenyataan yang sesungguhnya.
Aku menghela napas dalam-dalam karena menahan amarah. "Untuk apa saya berbohong, tidak ada gunanya."
"Aku tidak percaya." Ujarnya lagi.
"Itu terserah kamu bukan urusan saya, yang jelas itulah kenyataannya." Tegasku.
"Kenapa kamu tega berlaku begitu sama aku Vian, kamu tega. Perempuan seperti apa sih yang bisa merebut hati mu dan menjadi istri mu?"
Aku menatapnya tajam sungguh aku semakin heran dengan tingkah Niken teman masa SMA ku dulu, yang memang dari awal SMA ia mulai menyukaiku dan pernah menyatakan cinta padaku pada zaman itu. Tapi aku menolaknya tanpa fikir panjang karena memang aku tidak mencintainya dan tidak mau pacaran.
"Sebaiknya kamu pergi dari kantor saya sekarang Niken, saya masih banyak perkejaan." Usirku masih secara halus.
Namun, tiba-tiba suara hight heelsnya terdengar seperti berlari kecil dan tanpa ku duga Niken memelukku dari belakang saat aku akan melangkah menuju meja kerjaku.
"Niken kamu jangan kurang ajar." Bentak ku sambil melepas kuat kedua tangannya yang melingkar di tubuhku serta menjauhkan tubuhnya dari tubuhku.
Aku tidak perduli sekasar apa aku sekarang ini padanya, bahkan ia hampir terjatuh terhuyung ke belakang. Toh ini juga karena ulahnya yang kurang ajar pada ku.
Ia mengeleng seraya berkata. "Nggak Vian. Aku sangat mencintai kamu, aku pulang kembali ke indonesia ini hanya karena harapan bisa merajut kasih dan menikah dengan mu."
"Kamu jangan bodoh Niken kamu itu cantik dan terpelajar banyak lelaki yang menyukaimu, lupakan saya. Karena jelas saya tidak pernah menaruh hati pada kamu, saya mencintai istri saya." Tegasku dengan nada tinggi.
"Tapi aku hanya mencintai kamu Vian, kenapa kamu tidak pernah mau mengerti akan perasaanku selama ini." Suaranya bergetar dengan matanya menatap tajam padaku dan air matanya kini benar-benar telah keluar sempurna dari tempatnya.
Ia hendak melangkah lagi ke arah ku, seakan ingin mengapaiku atau menyentuhku kembali. Kedua telapak tanganku terangkat untuk menghalau agar ia tidak mendekat padaku, apalagi menyentuhku kembali.
"Cukup Niken, jangan membuat saya bisa berlaku lebih kasar lagi sama kamu."
"Hu...hu..kamu jahat Vian." Ia malah semakin menangis.
Sungguh perempuan ini menyusahkan saja, ya Allah kenapa aku harus dihadapkan kembali dengan Niken yang malah semakin aneh menurutku.
Dengan terpaksa aku menarik sebelah tangannya secara kasar menyeretnya menuju pintu, agar ia keluar dari ruangan ini.
"Kamu tidak bisa berlaku seperti ini kepada ku Vian." Aku tidak memperdulikan rontaannya atau pun ocehannya.
__ADS_1
Aku hempas ia begitu saja keluar dari ruanganku, lalu ku tutup pintu rapat-rapat dan menguncinya.
Dengan langkah lebar aku menuju meja kerjaku meraih gagap telepon hendak menghubungi pos satpan melalui intercom.
"Halo Pak. Jika ada perempuan tadi yang bernama Niken Annara datang ke kantor ini lagi, harap jangan di izinkan masuk oke.
" ___ "
"Terima kasih." Tutt..,tutt..
🍬🍬🍬
"Len gimana judul skripsi udah di Acc hari ini?"
"Alhamdulillah udah Ver." Ucapku dengan sumringah.
"Wih enak dong, gue masih harus kasih jdul baru lagi yang kemarin-kemarin itu semua nggak ada yang di acc judulnya. Pusing gue harus cari jadul baru lagi dan sumber baru lagi untuk pengajuan proposal baru lagi."
"Sabar ya insha Allah di mudahkan." Aku menyemangati Vera sahabatku sekaligus keponakan suamiku.
"Iya, elo enak banget sekali ajukan langsung ada yang di acc. Nggak ribet kek gue gini."
"Lagi rezeky gue kali di percepat hehe, semangat ya sahabatku sayang." Sambil aku merangkul pundaknya gemas, kami pun saling tersenyum.
"Eh elo tau nggak Len, pas kita di gazebo taman belakang rumah gue."
"Ya, kenapa Ver?"
"Kan om gue bilang ke gue, kalau gue di panggil sama Papa gue dan lagi di tunggu sama Papa gue. Eh itu ternyata modusnya si om gue alias suami elo. Dasar ya, sangkin udah ngebet pengen berduaan sama elo jadi modus gitu si om Andra."
"Ah masa sih?" Aku sedikit kaget juga dengan keusilan di om suami sama keponakannya ini.
"Dasar bener fix masa puber, gue maklum aja sama om gue itu. Namanya baru jatuh cinta, sekalinya jatuh cinta pun bukan sama pacar tapi sama istri sendiri hehe."
"Jadi ini elo seperti biasa kan di jemput sama your husband?"
"Iya Ver."
"Udah nyampe belum sang jemputan?"
"Lg otw keknya." Ujarku.
Drett.
Gawaiku bergetar ternyata pesan dari aplikasi berlogo hijau itu masuk.
[ "Assalamualaikum. Sayang, saya sudah di depan kampus seperti biasa." ] Begitulah isi pesannya sebagai laporan bahwa ia telah tiba untuk menjemput.
Tanpa harus membalasnya si om suami sudah faham, asal sudah ada tanda centang 2 berwarna biru itu pertanda sudah terbaca bukan. Serta segera aku akan menuju si om suami telah menunggu.
"Cie udah panggil sayang-sayang ya." Dasar Vera suka aja ngintip pesan orang, dasar nggak sopan.
"Dasar lo ya suka banget ngintip pesan orang." Sewotku.
"Oloh gitu aje Lena..Hehe." Serunya dengan tampang watadosnya.
"Ya udah yuk. Ntar gue langsung keparkiran mobil aja ya Len, elo kan langsung pulang sama your husband."
Aku hanya manggut-manggut mejawabnya.
Kali ini si om kembali mengantar jemputku sekaligus ia berangkat kerja menggunakan kuda besinya , apalagi kalau bukan motor sportnya yang berwarna serba hitam dengan helm full facenya yang juga serba hitam dan gelap.
Apalagi hari ini si om suami memakai baju kerjanya dengan stelan jas serba hitam, dari dasi, celana panjang juga berwarna hitam di tambah lagi sarung tangannya berwarna hitam dan sepatu fantofelnya yang juga berwarna hitam mengkilap. Hanya kemeja dalamnya saja berwarna putih, dilihat-lihat malah makin keren si om suami dengan gaya dan stelan begitu menunggangi motor sportnya ini.
Udah kek CEO muda nan tampan kek di drakor dan dracin kali ya, hehe. Mana gaya sok cool nya itu lagi , duh bikin gemes si om suami.
Aku sudah menghampirinya yang sudah menunggu ku diatas kuda besinya. Seperti biasa si om suami bakal memakaikan ku helm, sebelum aku menaiki kuda besinya di belakang tunganggannya.
"Udah Mas , yuk jalan."
Si om suami pun menghidupkan motor sportnya dan melajukannya setelah aku berada di boncengannya dengan baik dan benar. Ia melaju membelah jalanan kota ini dengan kecepatan sedang.
🍬🍬🍬
Bersambung...
Maaf ya kali ini segini dan begini dulu ya isi babnya, semoga tidak bosan dan terus berkenan membacanya hingga bab terakhir..
__ADS_1
Terima kasih..🙏
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰