TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 69


__ADS_3

Ting Tong.


Ting Tong.


Bell apartement berbunyi, aku yang duduk di kursi meja makan di ruang dapur setelah minum air hangatpun kini bangkit hendak membuka pintu.


Sambil berjalan pelan aku berucap. "Siapa pagi-pagi bertamu?"


Ku buka pintu.


Ceklek.


"Pagi Neng Lena?" Sapa bu Tuti, ramah.


"Pagi bu." Sapaku balik.


"Tadi Mas boss telpon saya Neng suruh beberes di sini, maka sebab itu saya datang atas perintah Mas boss." Bu Tuti memang memanggil si om suami dengan sebutan Mas boss, saat pernah ku tanya kenapa nyebutnya gitu?


Bu Tuti bilang kan sama tukang bebersih panggilan dan Mas Andra selaku boss bagi saya. Karena sudah banyak membantu melebihi yang lain, makanya saya panggil Mas boss aja.


"Ah iya bu silahkan masuk." Aku mengeser tubuhku memberi ruang agar perempuan paruh baya yang berbadan tambun ini bisa masuk ke dalam.


"Assalammualaikum." Salamnya setelah bu Tuti masuk dan aku pun segera menutup pintu.


"Oya Bu Tuti udah sarapan?" Tanyaku mana tau belum sarapan ne ibu kan kasihan juga , mana kerja lagi.


"Udah tadi Neng, kenapa?" Serunya sopan dan selalu ramah.


"Tapi kalau ibu mau makan atau bikin teh dan kopi bikin aja bu bisa chek cari di lemari ini ya bu kopi dan teh nya, serta gula dan susu kental manisnya ada di kulkas." Tawarku setelah kamu kini sampai di dapur.


"Oya, tadi juga Lena ada bikin kebab dan masih ada beberpa potong lagi, silahkan di makan saja bu. Jangan sungkan ya, seperti biasa saja." Seruku sambil membuka sekilas tudung nasi di atas meja makan , yang terdapat 2 kebab di atas piring.


"Iya Neng terima kasih. Ibu mau mulai beberesnya dulu ya." Timpalnya bergegas mengambil sapu dan kemoceng yang ada di sudut dapur ini.


"Ya silahkan bu." Ucapku.


Tiba-tiba kau kembali seperti mau muntah lagi, langsung aku berlari menuju westafel dapur.


"Hueekkk...Hueeekkk.."


Tak ada yang keluar selain air dari dalan mulutku.


"Hueeekkk...Hueeekkk.." Tiba-tiba ada tangan yang menyentuh tengkuk leherku.


Dari aromanya dan bentuk tangannya yang nenyentuh kulit tengkukku, ku tahu itu bu Tuti. Ia ingin membantu ku agar bisa muntah dengan lebih enteng.


"Hueeekkk...Hueeekkk.." Sama hanya air yang keluar dari mulutku.


Ku basuh bibirku dangan air yang mengalir dari ujung keran westafel ini , lalu mencuci tangan ku dengan sabun gel pencuci tangan yang selalu ku letakkan bersebelahan dengan sabun cair pemcuci piring.


Lalu bu Tuti membantuku melangkah menuju kursi meja makan yang ada di dapur ini, aku pun mendudukan tubuhku disana dengan lemah.


"Ini Neng, pake dulu biar agak mendingan." Bu Tuti menyodorkan sebuah botol kecil berwarna hijau yang merupakan minyak kayu putih padaku.


Aku melirik ke arah bu Tuti setelah tadi melirik tangannya yang beyodorkan botol kecil berwarna hijau itu padaku. Kemudian aku meraih botol kecil itu.


"Terima kasih ya bu." Seruku, sambil mengoles lembut leherku keliling dan perutku serta kepalaku di titik sudut kanan dna kirinya dengan minyak kayu putih ini.


"Sama-sama Neng Lena." Ujarnya.


"Neng bagusan istirahat aja di kamar, eneng pucet banget loh dan terlihat lemas banget." Bu Tuti memicingkan mata dengan sedikit ada nada khawatir saat ia berucap barusan.


"Iya bu ntah kenapa sejak subuh tadi kepala Lena mulai terasa sakit, tadi Lena sudah sarapan dan minum obat dan tidur. Tapi masih terasa pusingnya di tambah mual dan muntah secara tiba-tiba, saat terbangun begitu barusan mual dan muntah kembali." Terang ku sedikit berbagi keluhan yang kurasakan saat ini.


Tiba-tiba wanita paruh baya di hadapanku ini tersenyum menatapku. "Apa Eneng sudah datang bulan belum." Aku mulai berfikir setelah pertanyaan itu meluncur dari mulut Bu Tuti.


Aku mengeleng baru menyadari aku sudah 2 minggu telat menstruasi. "Sepertinya eneng hamil deh." Sontak aku sedikit kaget dengan pernyataan si bu Tuti.


"Gimana kalau kita chek pake tes pack aja Neng." Bu Tuti memberikan ide yang kurasa tidak buruk.


"Ah tidak usah bu sepertinya ini hanya masuk angin saja, rasanya Lena belum tentu hamil." Seruku, menginggat kalau insident akibat penjebakan yang di alami si om suami kala itu. Hingga membuatku terluka mengatakan kalau aku bisa saja sulit hamil.


Jadi rasanya tidak mungkin aku hamil secepat ini, dan bisa jadi telat menstruasi ku yang sudah 2 minggu ini hanyalah kebetulan saja.


"Tidak ada salahnya kita coba chek dulu dengan menggunakan tes pack, baru nanti Eneng chek lagi ke dokter kandungan." Kembali si bu Tuti memberi ide itu dan seakan menbujukku, agar aku berkenan melakukan tes tersebut.


____


"Ini Neng test packnya." Bu Tuti baru saja sampai kembali ke apartemen setelah beberapa menit turun kebawah membeli benda itu di apotek terdekat.


Tadi aku memberinya uang untuk membelinya, ku raih 2 jenis test pack dengan berbeda merek. Karena ku pernah baca kalau mau test pack jangan 1 kali atau 1 merek test pack saja. Tapi kalau bisa 2 sampai 3 test pack berbeda merek, agar lebih akurat hasilnya.


Maka dari itu tadi aku menyuruh bu Tuti membeli benda tes itu lebih dari 2 dengan berbeda merek. "Saya ke kamar mandi dulu ya bu mulai mencoba tesnya." Seruku, bangkit sari dudukku menuju kamar mandi yang tersedia di sekitar dapur ini juga.


"Perlu ibu bantu Neng? Soalnya Eneng masih lemes gitu , ibu takut Eneng jatuh pingsan di dalam kamar mandi." Bu Tuti terlihat khawatir dan peduli padaku.


Aku tersenyum sambil mengeleng pelan. "Nggak usah bu, insha Allah Lena masih kuat dan bisa melakukannya sendiri." Bu Tuti mengangguk , lalu aku melangkah pelan karena memang aku lemes seperti yang bu Tuti bilang tadi.


Namun, aku mencoba sendiri untuk melakukannya. Aku pun merasa masih cukup ada tenaga untuk melakukannya insha Allah.


*


Mata ku terbelalak saat aku melihat setiap benda pipih tipis dan kecil berwarna putih itu yang dari keduanya masing-masing menunjukkan garis 2 berwarna merah. Menandakan positif, berarti aku benar-benar hamil saat ini.


Aku tidak tau perasaanku tak bisa ku pastikan apakah kau bahagia atau terharu, aku masih binggung dan gamang. Tapi yang jelas pasti si om suami akan senang sekali mengetahui ini.


Sungguh aku masih tertengun di dalam kamar mandi sambil memandangi 2 benda pipih kecil itu. Masih tak percaya aku akan hamil secepat ini, walaupun ya aku menikah hampir 2 tahun sudah lamanya dengan om sahabatku itu.


Namun, setelah 1 tahun menikah barulah kami seperti suami istri sejati dan seutuhnya. Karena baru melakukan ritual intim itu setelah 1 tahun menikah.


Ceklek.


Aku keluar kamar mandi , di sebrang sana terlihat bu Tuti memerhatikan ku. Lalu ia menghampiriku. "Gimana Neng hasil tesnya?" Tanya bu Tuti antusias dengan wajah berseri.


Aku refleks mengangguk sambil tersenyum manis pada padanya. "Alhamdulillah." Seru bu Tuti semakin berseri wajahnya.


"Pasti Mas boss seneng banget Neng kalau tau Eneng hamil. Eneng jangan capek-capek ya apalagi stress, nanti ke dokter kandungan Neng sama Mas Boss ya untuk periksa lebih jelasnya. Biar nanti Eneng dikasi vitamin sama obat agar mengurangi muntah-muntah dan mualnya." Tutur bu Tuti lembut memberi saran. Aku mengangguk kembali merasa haru.


Bu Tuti ini memang orang baik, dan juga bu Tuti pernah bilang kalau si om suami ini orangnya biar terlihat dingin. Tapi baik dan sopan sama yang lebih tua. Serta selalu memberi tips dan upah yang terbilang besar pada bu Tuti, seperti waktu itu saat bu Tuti pusing anaknya mau bayar uang kuliah karena mah ujian.


Si om suami membantu dengan membari cuma-cuma uang untuk anak bu Tuti membayar uang kuliah anaknya. Bu Tuti memiliki 2 anak, paling besar sudah kuliah semester 4 dan paling kecil masih SMP. Yang pertama anaknya perempuan dan yang bungsu laki-laki.

__ADS_1


Sedangkan suami pengangguran terbilang kerjanya serabutan , hobby minum-minum. Kasihan juga mendengar cerita sedikit tentang kisah keluarga bu Tuti.


●●●●


Hari ini aku sudah lebih membaik rasa mual-mual dan pusingku tidak aku alami. Jadi setelah kemarin aku mengalami pusing dan mual serta muntah. Karena hari ini sudah jauh lebih fit aku putuskan nantin siang akan ke kantor si om suami, guna mengantar makan siang dan makan siang bersama di kantornya sekaligus memberi tahukan kabar bahagia ini.


Aku sengaja kemarin tidak langsung mengabarinya baik lewat telpon ataupun secara langsung saat si om suami sudah pulang ke apartement. Hari ini lah saatnya tanpa menundanya lagi untuk mengabarkan hal penting dan baik ini, kepada si om suami.


"Akhirnya masakkanku sudah tersusun rapih di dalam rantang tupperware." Ya rantang tupperware dengan 4 kotak berwarna warni.


Aku pun mulai bersiap keluar ke basement untuk segera bergegas melajukan kendaraan roda 4 ku, menuju kantornya si om.


Ini lah pertama kali hal nyata aku jadi masuk ke dalam bangunan kantor suamiku, setelah pernah aku akan kemari. Tapi gagal karena penelpon misterius itu hingga aku pada akhirnya terjebak dan disekap di sebuah gedung tua yang kosong.


Aku pun bertanya kepada mbak-mbak yang ada di sana. "Permisi mbak Pak Andranya ada?" Tanyaku ramah pada mbak yang ada di meja hampir seperti resepsionis yang tidak jauh dari pintu masuk kantor ini.


"Maaf, mbak ini siapa dan ada keperluan apa dengan Pak Liandra?" Tanyanya tak kalah ramah.


"Saya Alena, istrinya Pak Andra." Jawabku sebenarnya.


"Oya, kok saya lupa ya. Padahal saya sempat di undang dan datang ke acara resepsinya Pak Liandra." Ucapnya dengan senyuman yang terlihat seperti ia merasa tak enak hati, karena tak menyadari siapa diriku.


"Duh maaf ya bu, saya tidak menyadarinya." Mbak ini menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan senyuman memohon maaf.


"Iya, nggak apa-pa mbak." Seruku dengan senyuman.


Tidak terlalu masalah sih bagi ku, lagian resepsi kami sudah sekitar hampir 2 tahun yang lalu dan aku juga mereka lihat dalam balutan dan make up pengantin. Pasti beda lah sama penampilan ku sekarang dan hari-hari ku yang selalu kasual dan jarang banget make up.


"Pak Andranya ada kan mbak?" Tanya ku kembali mengenai keberadaan si om suami di kantornya ini.


"Ada kok bu, tapi Pak Liandra sedang meeting di kantor ini juga. Ibu bisa tunggu beliau di ruang kerjanya. Namun, sebentar ya bu saya akan suruh orang mengantarkan ibu ke ruangan Bapak." Serunya.


Aku mengangguk dengan memberi senyuman ramahku. Mbak tersebut yang aku lihat name tagnya yang mengantung di lehernya bertuliskan Endah itu pun mengangkat gagang telepon kantor yang ada di atas mejanya, memanggil orang yang tadi ia maksudkan.


Tak lama datanglah seorang lelaki berbadan kurus dengan tinggi badan yang terbilang sedang untuk ukuran tinggi badan cowok, terlihat masih muda fikirku sekitar 20 tahunan lebih dikit.


"Maaf mbak Endah ada keperluan apa memanggil saya?" Tanya lelaki kurus berseragam OB tersebut dengan ramah dan sopan.


"Tolong Jo antarkan ibu Alena ini ke ruangan Pak Liandra, ibu ini istrinya Pak Liandra." Titah mbak Endah tersebut kepada lelaki bertubuh kurus dengan stelah OB.


Sang OB pun beralih menatap ke arahku. "Mari bu saya antarkan." Serunya ramah sambil membungkukkan setengah badannya sebentar padaku , sebagai rasa hormat dan sebelah tangannya merentang mempersilahkan aku melangkah.


"Silakan bu Alena." Ujar si mbak Endah dengan senyuman ramah, ia pun sedikit merentangkan sebelah tangannya mempersilahkan ku.


"Terima kasih." Jawabku ramah, sambil mulai melangkah mengikuti sang OB tadi.


Aku dan lelaki kurus ini kini masuk ke dalam lift dan keadaan kantor lagi sepi begitu juga di dalam lift yang hanya ada aku dan OB tadi.


Ting..


Suara lift berbunyi menandakan sudah sampai dilantai yang di tuju dan terbukalah pintu liftnya.


"Mari bu." Seru sang OB merentangkan kembali sebelah tangan mempersilahkan dengan ramah dan sopannya, kami pun keluar dari lift.


Aku mengikuti sang OB dari belakang tubuhnya yang berjalan di depanku.


"Di sebelah mana ruangannya ya?" Tanyaku sambil terus berjalan pelan bersama di belakang sang OB.


Aku manggut-manggut sambil ber O ria.


"Nah ini dia kita sudah sampai di depan pintu ruangan Pak boss." Ucapnya selali ramah dari awal kemunculannya.


Aku terdiam sejenak di tempatku menatap ke depan, dimana aku kini tepat di depan pintu ruangan suamiku.


"Saya permisi ya bu." Izinnya menunduk sekilas dengan sopan.


Aku menatap ke arahnya. "Terima kasih ya." Ucapku ramah, ia mengangguk ramah sebagai respon dan nerucap. "Sama-sama bu."


Setelah menghilangnya sang OB tadi dari pandanganku, aku pun memulai memegang hendle pintu ruang kerja suamiku. Kemudian memutarnya ke arah bawah agar pintunya terbuka.


"Assalamualaikum." Saat aku sudah masuk ke dalam ruangan kerja suamiku, lalu menutupnya rapat.


Pertama masuk ke dalam sini semakin terasa sejuk dan adem, serta pemandangan di dalam sini terlihat dan terbilang klasik. Seperti biasa ia sepertinya memang tipikal lelaki pembersih dan rapih bukan hanya visualnya saja yang good looking. Tapi tempat serta barang-barang miliknya juga selalu bersih dan tersusun rapih.


Aku mendudukan diriku di sofa yang terbilang bisa muat untuk 2-3 orang selain ada 2 sofa single dan sofa yang sama di sebrang sana, seperti yang aku duduki saat ini yang terhalang oleh meja persegi. Ku letakkan sudah rantang tupperware yang ku bawa , di meja sofa ini.


Tadi aku memang sampai ke sini sekitar jam setengah 11: 20 menit, terbilang belum benar-benar masuk jam makan atau jam istirahat kerja. Sedangkan sekarang pun masih pukul 11: 30 menit.


Kini aku mengambil gawaiku dari dalam tas, lalu mulai berseluncur memainkannya sambil bersandar di kepala sofa dengan santai.


Ceklek..


Terdengar suara pintu terbuka, spontan kepala ku menoleh ke arah sana melihat ternyata si om suami telah masuk. Namun , ia belum menyadari ada aku disini. Karena ia masih berdiri tak jauh di balik pintu yang sudah tertutup rapat itu sambil membuka dan membolak-balikkan beberapa berkas yang ada di tangannya, secara fokus.


Tak lama ia mengangkat kepalanya mengarah lurus. "Sayang kamu disin." Serunya sedikit kanget dan heran.


Mungkin ia tidak mengira aku bakal kesini, kemudian wajahnya menampilkan semyuman lebar padaku dengan mata yang berbinar. Ia pun melangkahkan kakinya menuju keberadaanku.


Aku bangkit dan menciun tangannya takzim saat ia sudah berada di sebelahku."Kapan kamu sampai disini sayang? Apakah Mas membuatmu menunggu lama?" Serunya lalu kami duduk bersisihan dengan saling berhadapan di dalam satu sofa panjang ini.


"Nggak kok Mas, Lena hanya baru beberapa menit saja sampai dan menunggu Mas." Jawabku tersenyum.


"Oo." Katanya sambil manggut-manggut kecil.


"Sudah selesai meetingnya Mas?" Tanyaku kemudian.


"Alhamdulillah, sudah. So ada apa kamu ke sini sayang?" Kini ia bertanya dan mebuatku mengerucutkan bibirku, karena pertanyaannya itu.


Apa ia tak suka aku mendatanginya di kantornya?


"Kenapa? Apa Lena nggak boleh mendatangi suaminya sendiri di kantornya?" Ucapku sewot.


"Bukan begitu sayang, tentu saja boleh istri Mas mendatangi Mas selaku suami." Tuturnya lembut seraya tersenyum.


"Kirain." Lirihku sambil melirik padanya.


Si om suami menyentuh rantang tupperware yang mu bawa dan ku letak di atas meja, di hadapan kami. "Kamu membawakan Mas bekal, sayang?" Aku mengangguk dengan semyuman terbaikku.


"Wah pasti menu di dalam ini enak sekali." Serunya, sambil memengang rantang tupperware itu.


Aku letakkan gawaiku diatas meja lalu berlarih ke rantang tupperware untuk mulai membukanya , dan menyusunnya satu persatu. Terlihat satu kotak nasi putih, sambal goreng baby cumi , sayur cah kangkung/ tumis kangkung. Serta di kotak terakhir ada udang goreng krispy. Tak lupa aku keluarkan dari dalam tas ku satu kotak sedang yang berisikan potongan buah pepaya dan juga pentolan buah anggur.

__ADS_1


Mata si om berbinar saat melihat menu makanan di meja sofa ini. "Wah ini sungguh membuat Mas semakin terasa lapar. Apalagi ini merupakan makanan kesukaan Mas. Terima kasih ya sayang." Ungkapnya berbinar sambil membelai kepala ku.


"Oya, Sayang bagaimana kalau makan siangnya selepas sholat dzuhur." Ucapnya terjeda lalu sejenak ia melirik ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Ini sudah pukul 11: 46 , sebentar lagi akan adzan dzuhur.


Saya akan sholat berjamaah bersama yang lain di lantai 3 disana ada mushola. Kamu apa mau ikut sholat berjamaah atau sholat sendiri saja di ruang ini, sayang?" Sambungnya.


"Lena ikut Mas saja dan lainnya sholat berjamaah di mushola kantor ini deh." Seruku.


Setelah ku fikir-fikir aku ikut saja sholat berjamaah dengannya dan lainnya di mushola kantor ini. Aku penasaran dengan mushola kantor ini, aku fikir di kantor ini tidak ada musholanya ternyata ada.


**


Kini kami sedang menyantap makan siang kami, si om suami terlihat lahap mamakan makan siangnya bahkan dengan menggunakan tangan kanannya tanpa sendok. Mungkin itu karena lapar sekaligus itu adalah makanan kesukaannya.


Tadi ada ada bapak-bapak yang juga lawyer di kantor Law Firm si om suami yang sebaya seperti Papaku sebagai imam sholat berjamaah kami. Cukup banyak yang ikut sholat berjamaah tadi. Tapi tidak semua hadir karena sebagian dari mereka ada yang tugas keluar menemui klient atau ke kantor kejaksaan atau juga ke kapolsek, dan lainnya.


Terlihat musholanya tadi juga cukup luas dan bagus serta bersih. Usai sholat dzuhur berjamaah tadi aku izin dan di antarkan serta di tungguin langsung oleh si om suami ke pantri untuk mengambil piring dan gelas serta beberapa sendok untuk lunch kami di atas, tepatnya di ruang kerjanya si om suami.


Tiba-tiba aku merasa mual dan seperti ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutku. Aku pun segera berlari ke sudut ruangan yang disana terdapat kamar mandi di dalamnya. Ku lihat sekilas si om suami terlihat heran.


"Huueeekkk..Huueeekkk.." Untung aku telah tiba di dalam kamar mandi ini dan langsung termuntah ke westafel.


Keluar lah semua yang barusan saja ku makan tadi , hingga terdengar suara deep voice itu. "Kamu kenapa sayang?" Tanyanya heran dan ada nada khawatir.


"Huueeekkk...Huueeekkk.." Si om suami memijat pelan tengkuk leherku. Kembali aku mengeluarlan isian yang jorok dan tak enak dari dalam mulutku. "Huueeekkk...Huueeekkk..." Keringat pun rasanya mulai membasahi keningku dan kepalaku kembali terasa pusing.


Ku basuh bibirku dan sekitarannya , lalu mencuci tangan ku bersih dengan sabun dan air setelah aku merasa tak ingin muntah lagi serta yang ku muntahkan tadi sudah tak ada dari pandangan.


"Sayang kamu jadi pucat begini." Saat si ia melihatku wajahku dekat dengan menangkupkan kedua tangannya di wajahku.


"Sebaiknya ke dokter sekarang ya sayang." Serunya kembali.


Aku mengeleng lemah karena memang tetiba aku merasa lemas dan makin terasa sakit di kepalaku, hingga keringat dingin malah makin terasa megalir di kening dan beberapa bagian tubuhku.


Tanpa ku duga si om suami langsung mengendong tubuhku secara bridal style. Aku hanya bisa pasrah karena untuk bersuara saja rasanya tak sanggup efek lemasnya badan ini dan lagi tadi aku begitu banyak memuntahkan sesuatu dari dalam mulutku.


Aku di rebahkan di atas salah satu sofa panjang yang ada di ruangan kerjanya. "Minumlah dulu sayang." Ia menyarankan ku untuk minum, aku mengangguk pelan.


Kemudian membantuku memposisikan aku agar duduk, lalu menyodorkan 1 gelas yang berisi air putih tersebut. Kembali aku merebahkan diri di atas sofa ini. "Kamu ada bawa minyak kayu putih sayang?" Tanyanya masih dengan raut wajah sendu dan khawatir.


Aku mengangguk sebagai jawaban dan seolah si om mengerti lalu ia meraih tasku, membuka tasnya lalu merogoh isinya untuk mencari benda yang tadi ia tanyakan padaku.


"Sayang ini milik siapa?" Tanyanya dengan posisi berdiri dan mimik sangat heran seraya menunjukkan 2 benda pipih berwarna putih itu ke hadapanku.


Aku terdiam menatap ke arah 2 benda itu kemudian ke arah wajahnya. Kurasa ia menemukannya saat barusan tadi ia mencari minyak kayu putih di dalam tasku. Sejenak ia seperti berfikir.


"Apa kamu hamil sayang?" Tebaknya to the point.


Aku pun tersenyum seraya mengangguk mantap, si om suami langsung mengucapkan hamdalah dengan wajah berbinar.


Si om suami lalu meletakkan 2 test pack itu di atas meja lalu berjongkok. "Terima kasih ya sayang." Ucapnya menatapku lekat, terlihat penuh ketulusan dan binar bahagia di wajah dan matanya.


Aku hanya bisa tersenyum sambil mengangguk, lalu ia mulai membuka tutup botol hijau yang ia genggam di tangan kirinya. Menuangkannya sedikit demi sedikit dan mengoleskannya ke leher ku dan tengkukku lalu ke bagian kening ku bagian kanan dan kiri beberapa titik. Hingga mengoleskan ke bagian perutku dari balik bajuku.


"Makasi ya Mas." Ucapku bahagia suamiku ini selalu perhatian di saat aku sedang kurang enak badan, atau lelah.


Tadi niatnya setelah makan akan ku beri tahu, tapi malah tiba-tiba aku mual kembali dan muntah-muntah. Hingga ia sendiri yang menemukan test pack itu.


"Kapan kamu mengecheknya dengan 2 benda itu sayang?" Ia mencoba ingin tau lebih detail tentang kabar yang baru ia terima, sambil mengenggam telapal tangan kiriku dengan kedua tangan kekarnya itu.


"Kemarin pagi Mas , saat bu Tuti masih di apartement dan ia juga yang merasa gejalaku kemarin mual dan muntah-muntah adalah karena aku hamil. Maka dari itu aku dan bu Tuti berinisiatif mengecheknya terlebih dahulu dengan test pack. Mengingat aku sudah telat haid sekitar 2 minggu."


Si om manggut-manggut mendengar penuturanku. "Bersrti belum ada periksa ke dokter kandungan." Aku mengangguk saat ia berkata begitu. "Ok nanti kita periksa ya sayang ke dokter kandungan." Aku kembali mangangguk dengan memberi senyuman manisku pada suami tertampanku ini.


"Tapi disini tidak ada tempat tidur ataupun kamar sayang? Pasti badanmu akan tidak nyaman rebahan atau pun tidur di sofa ini." Ucapnya sendu, merasa tak enak hati padaku.


"Nggak apa-apa kok Mas , Lena masih merasa nyaman kok rebahan di sofa ini. Kalau Mas masih ada kerjaan kerjakanlah Lena akan menunggunya disini." Ya aku malas kembali lagi ke apartement setelah makan siang disini.


"Yakin kamu mau menunggu Mas disini." Si om suami memastikannya lagi.


"Iya Mas suami." Seruku.


Kuliah ku juga sudah kelar begitu juga dengan ujian semester akhirnya, aku hanya tinggal menunggu acara wisuda saja. Sepertinya Allah bagitu baik dengan rencananya yang juga di luar dugaanku. Aku kini hamil setelah aku menyelesaikan semua urusan skripsi dan ujian semester akhirku di tambah aku pun telah menyelesaikan sidang skripsiku dengan baik.


___


"Kandungannya kini sudah memasuki usia 6 minggu ya ibu dan bapak. Kandungannya juga baik dan sehat." Seru seorang dokter spesialis yang sama kala saat aku mengalami insident karena penjebakkan yang di terima si om suami waktu itu.


Aku dan si om suami mengangguk menyimak penuturan si ibu dokter berhijab ini.


"Saya harap ibunya jangan lelah apalagi stress ya, serta makanlah makanan yang lebih bergizi dan teratur. Nanti saya akan resepkan vitamin dan penguat kandungan serta obat anti mualnya untuk mengurangi rasa mual dan muntah-muntahnya. Kalau bisa konsumsi juga susu ibu hamil minimal 1x dalam sehari, ntah itu sebelum tidur malam." Tutur sang bu dokter berhijab ini lagi kepada kami.


"Baik dok." Seru kami berdua pelan.


"Tolong dijaga dengan baik ya Pak istrinya, apalagi sedang hamil muda dan hamil pertama seperti ini. Ia pasti sangat sensitif dan ingin di manja-manja dan di beri perhatian lebih dari biasanya. Apalagi calon ibunya terbilang masih muda usianya 20 tahunan." Nasehat bu dokter ini lebih kepada si om suami.


"Dok kalau melakukan hubungan suami istri bagaimana apakah boleh?"


Degg..


Aku menoleh dan mendelik ke arah si om suami yang duduk tepat di sebelahku. Sang dokter pun tersenyum lalu berkata. "Boleh saja bapak, asal jangan terlalu sering apalagi dengan gerakan berutal." Si om langsung sumbringah dan aku kembali mendelikkan kedua bola mataku kepadanya.


Dasar lelaki sepertinya nggak bakal jauh-jauh dari ************ atau mesum. Apalagi jika ia sudah merasakannya hal itu seperti candu yang tidak bisa di hindari, mungkin itu juga yang di alami si om suami.


"Iya Dok." Ujarnya si om suami.


"Namun untuk sekarang-sekarang ini tahan dulu ya Pak, karena kandungan si ibunya juga masih sangat muda dan itu biasanya lebih rentan. Jika di lakukan untuk berhubungan badan, salah-salah bisa pendarahan. Mengertikan bapak?" Seru sang dokter lagi panjang lebar memperingati.


"Faham Dok." Sahut si om dengan mimik agak kurang enak di lihat alias lesu.


Hahaha..Rasain puasa deh si om suami. Aku tersenyum sambil menahan tawa, geli melihat dan mendengar akan pembahasan perihal hubungan intim itu.


●●●●


Bersambung..


Tinggalkan jejak ya di kolom komentar, sebagai penyemangat saya agar semakin semangat menulis.


Terima kasih..🙏🙏

__ADS_1


Salam sehat selalu ya dari riritambun..🥰


__ADS_2