TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 8


__ADS_3

Tok...


Tok...


Tok...


Ceklek...


"Loh kok rapih sih terus ngapaen lo bawa-bawa tas Len ? " Vera mengerutkan dahinya merasa heran setelah pintu kamar yang ia ketuk tadi ku buka dan melihat ku pagi ini dengan membawa tasku.


Pagi ini aku sudah mandi dan rapih dan hari ini adalah hari minggu.


Aku sudah mamakai stelah jeansku senada dengan t-shirtnya yang berwarna putih bertuliskan GUESS di depannya, aku selalu berpenampilan casual namun kata orang-orang aku tetap terlihat enak di pandang.


Dengan rambut panjang yang tergerai indah dan kulitku yang putih bersih.


Aku memang belum berhijab karena aku merasa masih belum bisa memantapkan hati akan hal tersebut.


Setiap orang berproses bukan akan tingkat penampilannya baik itu dalam penampilannya yang memang seharusnya dan sewajibnya sesuai kaidah ajaran agamanya.


Mungkin suatu saat nanti seorang Alena akan menghijrahkan penampilannya dan lebih beriman lagi kepada sang Allah dari sebelumnya.


Aku pun sudah siap membawa hobo bagku dan laptopku yang sudah tersimpan rapih di dalam tas laptopku.


Sebelum aku mengatakan niatanku bahwa pagi ini aku akan langsung pulang Vera malah sudah menarikku kembali ke dalam kamar ini mengajakku duduk bersama di tepi ranjang dan ia pun mengeluarkan kembali suaranya.


"Jangan bilang lo mau pulang pagi ini Len?" Kan tebakkan si Vera tepat sasaran lagi.


Aku mengangguk pelan sambil berkata. "Maaf Ver aku harus pulang pagi ini." Raut wajah Vera pun terlihat cemberut , sepertinya ia tak suka aku cepat pulang.


"Kan tugas makalah kuliah kita aja belum kelar , ya masa lo udah mau pulang aja pagi-pagi gini lagi." Ocehnya sedikit ada nada kesal dalam ocehannya barusan.


Awalnya memang aku akan pulang hari senin saja dan berangkat kuliah dari ruman Vera bersama-sama, tapi kejadian kemarin sore dan tadi malam tepatnya tengah malam tadi membuatku tak enak hati dan tak nyaman.


Walaupun kejadian-kejadian tersebut memang faktanya tidak seperti yang di tuduhkan nenek fashionable itu alias eyang putrinya Vera sahabatku.


Ku rasa Vera dan kedua orang tuanya belum tau soal kejadian tengah malam tadi.


"Ya udah kita kerjainnya masing-masing aja ya Vera, maafin gue. Gue harap lo ngerti deh." Memelasku padanya.


"Ahh elo Len nggak jadi nggak asyik banget seh, baru juga kali ini lo bisa keluar sambil nginep tempat gue. Belum apa-apa udah mau pulang cepat aja, ini ne gara-gara om sama eyang putri aneh-aneh." Gerutunya tanpa henti.


Nah Vera aja tetiba bisa sebegitu kesalnya pula sama eyang putri dan omnya yang nyebelin itu, apa kabar dunia sama gue yang jadi korban tuduhan eyang putrinya dan ulah omnya yang tetiba muncul dalam kamar ini kemarin sore.


"Jadi serius Len lo mau pulang pagi ini ? Inget Len ini pertama kali lo di izinin bisa menginap di rumah orang lain dan itu karena menginap di rumah sahabat lo, belum tentu kan bakal bisa dapat izin begini lagi dari sekian tahun nggak di izinin." Tegas Vera seakan menakutiku.


"Yei apaan juga kalau ntar malah seperti judul novel pula


' Menginap Di Rumah Sahabatku, Akupun Berakhir Menjadi Tantenya' kan nggak lucu Markoneng." Kelakarku pada Vera sahabatku ini.


"Tapi nggak apa juga kalau elo Len jadi tante gue sungguhan, seru juga kali gue punya tante seumuran kayak lo bahkam sahabatan. Yekan?" Ujarnya sumbringah , yei ini anak tadi seperti kesal dengan tuduhan eyang putrinya bahkan dengan omnya sendiri.


Tetiba malah bicara begitu seakan setuju saja jika aku beneran menikah dengan omnya yang nyebelin itu.


"Au ah Ver." Jawabku cuek.


"Ya udah serah lo deh Len kalau mau pulang pagi ini , nggak mungkin gue maksa lo." Vera pun pasrah.


🍬🍬🍬


Di ruang makan sudah berkumpul keluarga kecil penghuni rumah ini untuk menyantap sarapan.


Aku pun duduk bersebelahan dengan Vera seperti waktu makan malam kemarin.


Cukup ada beberapa pilihan menu sarapan yang audah tersedia di meja makan yang besar ini, ada roti tawar beserta bermacam-macam selai, roti bakar , termasuk lontong sayur yang mungkin sepertinya beli bukan di buat sendiri.


Sedangkan minuman ada susu, teh manis hangat serta kopi dan tak lupa air mineral.


Kali ini aku memilih menyantap roti bakar dan teh manis hangat untuk sarapan.


Aku pun telah selesai dengan sarapanku sedangkan yang lain masih menlahap sarapannya.


Aku sengaja mempercepat proses menyantap sarapanku agar segera enyah dari rumah ini, jujur aku merasa tak nyaman dan takut akan timbul kesalah fahaman yang baru lagi jika aku terus berlama-lama disini.


"Tante , Alena mau pamit pulang ya." Aku beranjak dari kursiku dan langsung menghampiri tante Kemala untuk berpamitan dan menyalaminya.


"Loh bukannya besok Alena baru akan pulang sekalian ke kampus bareng Vera ya?" Tante Kemala memastikan hal tersebut kepadaku.


"Maaf tante tetiba hari ini Lena ada keperluan mendadak jadi harus pulang sekarang." Elakku terpaksa aku seperti agak berbohong agar bisa pulang sekarang, tidak mungkin juga kan jika aku harus berkata kalau ini akibat kesalahfahaman kemarin sore dan tengah malam tadi.


"Oo, ya sudah kalau begitu kamu hati-hati di jalan. Oya kamu pulang di ant__"

__ADS_1


Belum sempat ucapan tante Kemala selesai ada yang memotong ucapanya.


"Andra kamu antar nak Alena pulang ke rumahnya sekarang! " Tegasnya menyuruh si om nyebelin itu untuk mengatarku.


Seketika aku kaget dengan perintah barusan.


"Mamah apa-apaan lagi seh kok malah menyuruh Andra anterin ini perempuan, lagian Andra masih ada kerjaan untuk urusan klien Andra nanti siang." Si om nyebelin itu berusaha menolak perintah dari mamahnya yaitu si nenek fashionable itu.


"Kan masih siang nanti kamu ketemu klien kamu, masih ada waktu kamu bisa antar nak Alena pulang kerumahnya sekarang." Titah si nenek fashionable itu seakan tak boleh di bantah.


Kan bener lidahku lagi-lagi kelu setiap berhadapan dengan ne nenek fashionable ini.


"Tapi mah, And__ ?" Ucap si om seakan gambang di awang-awang.


"Jangan membantah Andra! " Tekannya si nenek fashionable itu.


Siapa lagi yang mampu berucap begitu selain si nenek fashionable ini.


Terlihat helaan nafas berat keluar dari bibir seksinya si om nyebelin itu.


Hah apa kamu bilang Alena seksi ? wah sepertinya aku sudah gila kemarin aku sempat bilang ganteng terus sekarang kenapa aku malah bilang si om nyebelin ini seksi.


Ya kan memang sebenarnya si om nyebelin ini ganteng dan seksi, lagian kalau kita bilang orang itu ganteng dan seksi kan bukan berarti juga suka apalagi cinta.


"Iya mah." Ucapnya pasrah atas perintah si nenek fashionable itu.


Aku pun berpamitan dan menyalamin takzim tetua di yang ada di ruang makan ini, sebelum aku melunjur keluar rumah dan pulang di antar si om nyebelin itu.


Oalah aku sengaja ingin cepat pulang pagi ini agar tak terjebak dengan si om nyebelin ini dan tidak di tudik aneh-aneh lagi, ini malah harus berdekatan dengannya lagi kalau seperti ini.


🍬🍬🍬


Kami sudah berada di dalam mobil yang tepatnya mobil si om byebelin itu.


Tak ada percakapan di antara kami dari awal berangkat hingga sebentar lagi akan sampai di rumahku.


Jarak tempuh dari rumah Vera ke rumahku tidak terlalu jauh hanya sekitaran 30-40 menitan.


Wajahnya si om nyebelin ne juga nggak ada semyum-senyumnya sedikitpun dingin banget kek prizer , pantes aja nggak ada yang suka dan belum nikah-nikah udah om om gini.


Ganteng seh iya , seksi juga tapi kalau dingin kek prizer terus nyebelin siapa yang doyan yekan ?


What..? Tadi aku menyebutnya kembali ganteng dan seksi, apa-apaan aku ini, jangan sampai aku suka apalagi jatuh cinta sama ne om om nyebelin ini.


Ternyata kami sudah di depan gerbang rumahku yang sedang-sedang saja ukurannya berbeda dengan rumah Vera, tapi ya nggak masalah toh kami juga hanya tinggal bertiga.


"Sudah sampai rupanya." Gumamku.


Aku pun meraih sabuk pengamanku dan membukanya dan sebelum aku membuka pintu kulirik laptopku yang berada di dalam tasnya yang terletak di atas bangku penumpang belakang mobil ini.


Aku hendak meraihnya begitu juga hobo bagku yang juga berada berdekatan dengan laptopku yang di dalam tasnya.


Namun suara bariton om nyebelin ini terdegar sebelum aku hendek meraih barang-barangku tadi.


"Sudah keluar saja dulu nanti saya yang ambilkan barang-barang kamu itu." Tukasnya pada ku dengan datarnya.


What..?


Sok baik banget ni om om nyebelin ini , fikirku.


Aku hanya diam dan membuka pintu mobilnya hendak keluar.


Si om nyebelin itu pun keluar dari mobilnya, ia memakai t-shirt polosnya berlengan pendek berwarna putih di padu dengan celana jeans panjang berwarna hitam.


Dengan tampilannya seperti sekarang ini si om lebih terlihat muda apalagi rambut pendeknya itu di sertai poni berserakan di keningnya.


Hidungnya yang mancung bak prosotan anak TK dengan rahangnya yang tegas, kulitnya putih bersih ala lelaki korea.


Namun bukan ocik-ocik ya readers hehehe.


"Loh om mau di bawa kemana barang-barang saya?" Tanyaku si on nyebelin itu.


Karena terlihat si om nyebelin itu menenteng hobo bagku di pundak kirinya dan laptopku yang sudah terbungkus ke dalam tasnya ia sampir di pundak kanannya.


Lalu ia seakan hendak berjalan tapi berhenti sejenak seperti ia  menungguku membuka pintu gerbang yang bagian pintu kecilnya.


"Udah kamu buka pagar gerbangnya sekarang ini biar saya bawakan dulu barang-barang kamu ini sampai kamu masuk." Titahnya seakan tak bisa di bantah.


Aku akhirnya nurut saja tanpa menjawab.


Aku pun membuka pintu gerbang yang bagian kecilnya lalu masuk ke halaman depan rumahku di ikuti olehnya dari belakang.

__ADS_1


Setibanya aku di teras rumah, si om nyebelin itu pun langsung meletakan kedua tas ku tadi di atas kursi jepara yang ada di teras rumahku.


"Karena perintah mamah saya sudah selasai atas kamu, saya permisi." Ucapnya dingin.


"Terima kasih ya om." Ujarku pada si om nyebelin itu.


Si om nyebelin itu pun langsung melangkah pergi dari sini hingga aku tak melihat punggungnya lagi dan suara mobilnya pun telah berlalu pergi meninggalkan depan rumah ini.


🍬🍬🍬


Tingtong..


Aku memencet bel rumahku setelah ku tenteng laptopku yang ada di dalam tasnya dengan tangan kiriku dan megait hobo bagku di pundak kananku.


Tak lama papa lah yang membukakan pintu depan.


"Assalamu’alaikum." Salamku saat hendak memasuki rumah dan segera menyalami papa dengan takzim.


"Wa’alaikumssalam." Balas Papa dengan kening berkerut.


Bukannya besok kamu baru akan pulang Len setelah besok selesai kuliah di kampus ?"


"Oo, itu nggak apa pah emang Lena nggak kerasan menginap lama-lama di tempat orang walaupun rumah sahabat sendiri." Cengirku merasa jawabanku seakan bualan.


"Kalau gitu Lena langsung ke kamar dulu ya pah, oya mamah mana pah?" Ucapku lagi masih terhenti langkahku.


"Mama di dapur kami baru selesai sarapan, kamu sudah sarapan belum?" Lanjut papa.


"Sudah Pah." Jawabku singkat dan aku langsung menaiki anak tangga menuju kamarku.


🍬🍬🍬


Hari senin pun tiba dan untungnya aku sudah menyelesaikan tugas makalah kuliahku tadi malam.


Pagi ini aku akan ke kampus karena hari senin jam kuliah pertama di mulai pukul 08:00 pagi.


Selesai sarapan aku pun berangkat menuju kampus dengan motor Scopyku yang berwarna hitam dipadu sedikit warna putih , tak lupa helm doraemonku yang berwarna hitam.


"Mah , Pah eneng berangkat dulu ya." Pamitku dengan menyalami punggung tangan kedua orang tua ku takzim


"Iya hati-hati di jalan dan belajar yang bener selalu ya neng." Nasehat kecil mamah ini selalu lekat di telingaku.


Soalnya setiap aku akan berangkat menuntut ilmu pasti kalimat itulah yang selalu terlontar dari bibir mamah.


"Iya Mah , assalamu’alaikum." Aku pun segera keluar melalui pintu samping karena motor Scopyku di parkir dekat dapur.


"Wa’alaikumssalam." Serempak kedua orang tua ku membalas salamku.


Hari senin selalu jadi hari paling sibuk dan padat bagi banyak orang.


Tanpa terasa kuliahku hari senin ini selesai dan tugas makalahku sudah ku kumpul pada dosen bersangkutan.


Dan malam pun menjelang selepas menunaikan sholat isya aku hendak ke bawah untuk makan malam bersama.


Seperti biasa mamah terlihat sudah sibuk di dapur dan meja makan berukuran sedang disana pun siap untuk di tata oleh piring-piring makan dan gelasnya.


Tingtong...


Tingtong..


Suara bel pun mengema kedalam rumah hingga ke dapur.


"Sahanya Neng nu namu eta? " Ujar si mamah dengan bahasa sundanya.


( Siapa ya neng yang bertamu itu ? ).


Aku hanya mengedikkan bahuku sekali sebagai responku atas pertanyaan mamah tadi.


"Sok atuh ku eneng di tempo heula teras bukakeun panto na!" Titah si mamah kembali dengan bahasa sundanya.


( Silahkan sama eneng di lihat dulu terus bukakan pintunya ).


Aku pun melangkahkan kakiku menuju pintu utama untuk langsung saja membuka pintunya, tanpa harus ku chek dari jendela siapa gerangan yang bertamu malam ini.


Ceklek...


Terbukalah pintu utama dan pertama yang aku lihat adalah kakek-kakek gagah itu beserta nenek-nenek fashionable itu yang tak lain adalah eyang-eyangnya sahabatku si Vera.


🍬🍬🍬


Bersambung...

__ADS_1


Salam sehat selalu ya dari @riritambun 🥰


__ADS_2