TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 64


__ADS_3

Mataku terbuka perlahan dan aku terkejut saat mendapati diriku dalam keadaan di ikat di atas kursi kayu, dengan bibirku yang juga di ikat oleh kain, sehingga wajahku terasa tertarik atau sedikit tercengkram efek ikatan yang cukup kuat sampai ke belakang kepalaku.


Aku mengangkat kepalaku."Dimana aku?" Gumamku lirih dengan mataku menyisiri tempat dimana aku kini berada.


Di sebuah ruangan yang cukup luas, dan kosong. Ruangan ini terbilang seperti gudang, karena ruangan ini yang tak terawat dengan penecahayaan lampu yang terbilang minim dengan warna lampu kuning keorange-orangenan.


"Mas Andra..?" Panggilku membatin, sekarang bagaimana keadaan dirinya dan dimana?


Sedangkan aku terikat disini dan ini ntah dimana? Yang aku ingat sore tadi saat akan melangkah tiba-tiba dari arha belakang ada yang membekam mulutku, sehingga aku tak berdaya dan akhirnya pingsan.


Krekk..


Terdengar pintu terbuka, aku pun langsung menoleh ke depan tepat dimana suara pintu yang terbuka tadi terdengar. Tapi kini telah tertutup rapat kembali, aku terkejut ada seorang pria dengan perawakan cukup tampan melangkah pelan ke arah ku.


Aku memerhatikan pria itu siapa kah dia? Apa maksudnya menculik ku seperti ini? Aku berfikir keras dalam otakku.


Pria itu mematuk arloji di pergelangan tangan kirinya. "Obat bius itu tepat berakhir di jam setengah 12 malam ini." Ucanya tepat setelah pria itu berdiri di hadapanku.


Ternyata sekarang sudah larut malam, bagaimana ini?


Kini aku hanya bisa menundukkan kepala ku dengan perasaan takut dan bertanya-tanya.


Ku beranikan mendongak ke arahnya dengan tatapan tidak sukaku kepada pria yang ada di hadapanku ini.


Pria itu kini berjongkok menyesuaikan tinggi badannya dengan posisiku yang duduk terikat di kursi kayu ini, kursi yang seperti kursi anak sekolah SD.


Aku pun refleks tidak mendongak lagi dan malah mengikuti arah wajah pria ini dengan tatapan marahku. Pria ini malah menatapku lekat. "Istri Andra memang cantik, baru kali ini aku bisa melihat mu seintens ini." Sontak mataku terbelalak karena terkejut dengan apa yang pria ini barusan ucapkan.


Pria ini pun tersenyum aneh kepadaku di akhir kalimatnya tadi. Siapakah pria ini? Ia mengenal si om suami dan juga ia tau aku adalah istri Mas Andra. Tapi mengapa ia menculik ku , ada apa sebenarnya?


Pria ini pun bergerak dan ternyata ia membuka ikatan kain yang menutup mulutku secara asal tadi.


"Siapa kamu hah? Apa masalahmu dengan Mas Andra hingga menculikku?" Bentakku menelisik setelah kain tadi terlepas dari mulut dan wajahku, dengan tatapan tajam.


Pria ini pun kembali berjongkok di hadapanku. Aku berusaha tidak lemah walaupun sejujurnya aku takut pada pria ini.


"Aww..Aww..Ternyata istri Andra bisa galak juga." Serunya dengan mimik yang jelas itu membuatku merasa jijik.


"Apa kamu tidal mengingatku?" Tanyanya dengan tatap intensnya dan senyum menjijikkan itu.


Dahiku mengerut seraya berfikir, aku memang tidak ingat bahkan tidak tau.


"Aku adalah salah satu karyawan di kantor Law Firm suamimu yang juga pernah diundang dan hadir di acara resepsi pernikahan kalian dulu. Aku juga sempat menyalami kalian di pelaminan." Pria itu hening beberapa saat dan akupun tak menjawab pertanyaannya.


"Ku rasa kamu memang tidak menginggatnya." Ujar pria tersebut.


"Lantas kenapa anda menculikku?" Tanyaku lagi dengan nada keras dan tatapan yang selalu tajam pada pria ini.


"Ssttt.." Aku meringis saat tiba-tiba pria ini mencengkram kuat kedua pipiku dengan tangan kanannya.


"Aku ingin memancingnya agar ia datang kemari dan aku bisa membunuhnya dengan tangan ku sendiri." Aku terkejut atas pengakuannya.


Ucapannya penuh penekanan dengan tatapan yang begitu tajam dan megintimidasi, pria ini samakin mencengkram kuat rahang /kedua pipiku sampai bibirku seakan maju tak karuan bentuknya karena ulahnya.


Aku membatin kenapa selalu ada yang berusaha ingin membunuh Mas Andra, apa salah Mas Andra sampai mereka mendendam separah itu?


"Kau tau kenapa aku ingin membunuhnya?" Ucapnya menatap tajam kepadaku, aku hanya bisa pasrah dengan cengkeramannya yang teramat kuat.


Mau melawan daya tahan tubuhku sepertinya habis, mana aku tadi tidak makan malam. Aku pun merasa obat bius yang membuatku jatuh pingsan tadi, masih memberi efek lemas pada tubuhku. Meskipun aku sudah sadarkan diri dari bius tersebut.


Pria ini tiba-tiba menyentak wajahku kasar dari cengkeramannya tadi, membuat aku meringis kembali efek kesakitan. Kurasa kedua pipiku sudah memerah akibat cengkramannya.


Pria itu pun berdiri lalu berjalan memutari tubuhku yang terikat di kursi ini, seraya berucap kembali.


"Suamimu itu manusia sombong dan sok suci, dia selalu saja berprinsip dan menjunjung tinggi kejujuran. Aku pernah menjebaknya dengan kemolekkan dan kecantikkan seorang perempuan untuk menggodanya, agar ia bisa terkena skandal dan membuat repotasi suamimu buruk dan karirnya hancur." Aku terus dibuat terkejut atas setiap ungkapannya saat ini.


Pria itu menghentikan ucapannya lalu terdiam di belakang tubuhku. Aku bisa merasakan itu memalui sudut mataku yang lihat bayangan dari kedua tangannya memegang kedua ujung dari kepala kursi ini.


"Tapi apa?" Lantangnya dan hening sejenak.


"Andra ternyata tak semudah itu digoda oleh perempuan. Aku masih berusaha lagi dengan cara yang lain, tapi tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Aku kembali menyuruh seseorang untuk menyamar dan memasukan obat perangsang dengan level tinggi ke dalam minuman Andra. Namun, apa? Lagi-lagi dia bisa tak tergoda dengan perempuan yang jelas ada di hadapannya mengoda dirinya yang bahkan sudah dalam pengaruh obat perangsang dalam level tinggi. Padahal aku sudah menyusun rencana itu dengan sebaik-baiknya, agar suamimu yang sok suci itu melakulan hubungan haram itu dan merekamnya. Kemudian bisa aku sebarkan ke mensod, guna menghancurkan repotasi dan hidupnya."


Keterkejutanku ternyata tidak sampai disitu, lagi-lagi pria ini mengungkapkan rencananya yang sempat berjalan. Namun, gagal lagi dan lagi. Ternyata mas Andra begitu menjaga dirinya agar tetap bisa jauh dari perbuatan tidak senonoh yang merupakan dosa besar. Apalagi jika di sengaja melakukannya.


Pria itu kembali melangkah dan kini ia sudah kembali berjongkok di hadapanku.


"Kenapa anda begitu dendam pada Mas Andra , sehingga ingin membunuhnya? Apa salahnya Mas Andra yang menjunjung kejujuran, apa itu merugikanmu?" Aku mencoba menelisik.


"Ya itu merugikanku, sangat merugikanku. Karena aku di pecat secara tidak hormat dari kantor Law Firm yang ia miliki dan juga kelola. Hanya karena aku menangani kasus pelaku suap secara diam-diam. Aku memang bukan orang suci , aku butuh uang untuk menunjang hidupku dan keluarga ku. Lagian dosa di tanggung masing-masing individu. Tapi Andra menyama ratakan prinsipnya dengan orang lain, dia juga terlalu naif bagiku." Pria ini berucap dengan penuh amarah, seakan ia sedang mengeluarkan unek-uneknya.


Ini sungguh di luar dugaanku, kini baru aku tau dan menyadari bahwa pria ini sanggup mengarang cerita dan menyuruh orang lain untuk menelponku dan mengatakan kalau suamiku mengalami kecelakaan siang tadi.


Bodohnya aku percaya begitu saja pada penelpon misterius itu. Sampai-sampai aku turuti pergi menuju alamat yang penelpon misterius itu kirimkan ke kontakku.


Harusnya aku mencoba menelpon Mas Andra terlebih dahulu untuk memastikannya sebelum aku benar-benar pergi ke alamat tersebut, sampai pada akhirnya aku tersekap disini.


"Sepertinya bermain-main dengan seorang wanita cantik yang merupakan istri dari seorang yang paling ku benci sangat menarik." Ucapnya sambil berserigai jahat tepat di hadapanku, membuat aku seketika bergidik dalam diamku.


"Apa maksud anda?" Sentakku was-was menatap tajam ke arahnya.


"Kalau hanya memancing Andra kemari lalu dia datang dan aku langsung membunuhnya, rasanya itu kurang seru. Kau faham maksudku bukan, sayang." Kembali pria ini berserigai jahat dan menjijikkan sekali menurutku.


Aku semakin bergidik ngeri, tapi apa yang bisa kulakukan? Ya Allah tolong selamat hamba? Tiba-tiba mataku seakan memanas seperti menahan buliran air yang ingin lolos dari tempatnya disana. Apa ini hukuman yang ku terima atas keegoisan ku selama ini kepada suamiku sendiri?


"Hohoho..Jangan menangis. Kau jadi terlihat sangat menyedihkan seperti itu honey, aku benci itu." Tiba-tiba jemarinya menyentuh pipiku, itu membuatku semakin bergidik dan merasa jijik.


Aku mengeleng-ngeleng kuat sebagai penolakan atas apa yang pria ini lakukan. Aku mau menepis tangannya saja dengan tanganku, namun jelas aku tak bisa. Karena kedua tanganku di ikat ke belakang kursi yang mendudukan ku ini.


"Jangan macam-macam dan jangan menyentuhku." Marahku dengan tenaga yang tersisa dan air mata yang semakin mengalir.


Pria ini kembali menyerigai. "Tenang malam ini aku belum mau bermain dengan mu honey, kau harus bersabar terlebih dahulu okey." Lagi-lagi ucapan menjijikan dan serigai menjijikkan itu aku lihat dan ku dengar dari pria aneh ini.


Aku hanya bisa menatapnya dengan penuh kebencian dalam derai air mataku ini yang masih terus mengalir tanpa bisa ku hentikan, sambil dalam hati terus merampal do'a agar aku dapat selamat dari pria aneh ini.


🍬🍬🍬


POV ANDRA.


[ Assalammualaikum. Mah ada apa?] . Jawabku setelah menganggkat panggilan vicall dari Mama, terlihat di layar sana wajah Mama cemas sekali.


[ Waalaikumsalam. Andra cepat kamu pulang ke Jakarta sekarang juga? ] Seru Mama tegas dan berapi-api.


[ Loh ada apa sih Mah, mana bisa Andra masih belum selesai semua kerjaan disini. ]


[ Pulang sekarang atau Mama benar-benar melarangmu sebagai Advokat? ] Ultimatum Mama masih dengan nada berapi-api.


[ Mama apa-apan sih? ] Dahiku menyergit mendengar ultimatumnya itu.


[ Alena istri kamu menghilang Andra, sudah dari kemarin ia di kabarkan oleh mertua belum pulang-pulang kerumahnya sana. Nomor kontaknya Alena juga tidak aktif , bahkan mertua mu sudah mencarinya dengan menhubungi teman-teman Alena. ] Terkejut? Jelas aku terkejut atas kabar yang Mama katakan lewat panggilan video call yang saat ini sadang berlangsung dengan ku.

__ADS_1


[ Vera tau tidak keberadaan Alena Mah?] Aku mencoba bertanya begitu, karena Vera kan sahabat istri ku. Mana tau Vera tau.


[ Kalau Vera tau ngapaen kami sepanik ini dan harus menguhubungi kamu Andra. Ayok sekarang kamu pesan tiket dan pulang ke Jakarta hari ini juga, jangan fikirkan pekerjaan mu atau kasus-kasus mu yang belum kelar itu. Sedangkan kasus istri mu sendiri yang kini menghilang belum terurus dengan benar, apalagi menemukannya. Kami juga sudah mengechek ke apartement kalian, tapi Alena pun sama sekali tidak ada.] Lanjut Mama mengebu-ngebu.


[ Iya Mah. ] Jawabku singkat dan lugas.


[ Kamu yang lebih berwenang melaporkan kasus kehilangan Alena, karena kamu suaminya. Mama tunggu kamu Ndra.]


[ Oke Mah, Andra akan langsung beli tiket dan terbang ke Jakarta hari ini juga ]


[ Heumm, hati-hati ya Lek. Assalamualaikum.]


[ Waalaikumsalam. ] Jawabku dengan membalas salam Mama lalu panggilan video call pun berakhir.


Aku memejamkan mata lalu menarik nafas panjang. Ku rasakan udara masuk melalui hidungku , terus mengalir menuju paru-paruku. Lalu rongga dadaku mengembang , tertahan sejenak dan sesaat kemudian secara perlahan udara itu kembali ku hembuskan melalui mulutku. Kemudian kedua kelopak mataku ku pun kembali ku buka.


"Ya Allah lindungilah istri hamba dimanapun ia berada." Itulah doa dan harapan yang aku panjatkan dalam hatiku.


Segera aku memesan tiket pesawat untuk terbang hari ini juga ke Jakarta, kalau bisa saat ini juga.


____


"Assalammualaikum." Salamku saat tiba dan masuk ke dalam rumah Mas Abizar.


"Waalaikumsalam. Eh Den Andra udah sampai." Aku mengangguk sambil menjawab. "Iya bik." Kepada bik Minah.


"Mama sama Papa dimana bik?" Tanya ku.


"Ibu eyang dan lainnya ada di ruang makan Den, sedang makan malam bersama. Den Andra mau sekalian makan malam biar bik Minah siapkan piring dan gelasnya." Jawabnya bik Minah.


"Ah, tidak terima kasih bik. Nanti saja, saya mau ke kamar saja dulu. Nanti kasih tau saja Mama sama lainnya kalau saya sudah sampai dan ada di kamar." Seruku.


"Iya Den." Kata bik Minah seraya menganggukkan kepalanya pelan.


Aku pun langsung melangkah untuk menapaki anak tangga agar segera sampai di lantai atas, dimana biasanya salah satu kamar khusus itu selalu jadi tempat istirahat ku selama aku menginap di rumah ini.


🍬🍬🍬


Tring...


Tring...


Tring...


Tring...


"Shodaqallahul 'azhim." Saat setelah aku menyelesaikan bacaan Al-qur'an ku.


Dering yang terdengar cukup nyaring karena ini masih cukup pagi, membuat aku terkesan sedikit mempercepat bacaan Al-qur'an ku. Walaupun memang sudah di sela-sela bacaan terakhirku.


Aku langsung bergerak mengapai benda pipih milikku itu yang masih terus berdering.


"My Wife..?" Gumamku lirih dengan menyergitkan dahi.


Nomor Alena melakukan panggilan telepon di waktu yang bahkan sudah lewat jam tengah malam begini, tidak biasanya fikirku.


Langsung saja ku tekan tombol hijau untuk menjawab panggilan suara dari kontak istriku, semoga ini jawaban dari hilangnya Alena sejak kemarin-kemarin tanpa kabar.


[ Assalammualaikum.. Sayang kamu dimana? ] Tanyaku to the point.


[ Hallo Andra, apa kabarmu? ]


Degg..


[ Dony..? ] Tebakku yakin.


[ Ternyata kau masih mengenali suara ku Ndra, kau pasti terkejut dan heran bukan? Kenapa aku bisa menelpon mu menggunakan nomor kontak istri mu yang cantik itu? ]


[ Jangan macam-macam kamu Dony. ] Bentkakku tegas, aku yakin sepertinya Alena diculik olehnya.


[ Tenang bro , aku nggak akan macam-macam hanya cukup 1 macam saja aku butuh kehadiranmu disini. Agar aku bisa membunuhmu dengan tangan ku sendiri.] Terangnya tanpa beban dan dosa di seberang telepon.


[ Oke, berikan alamatnya saya akan datang sekarang juga setelah menerima alamatnya. Tapi ingat JANGAN PERNAH MENYENTUH ISTRI KU, kau dengar itu!__ ] . Tegasku dengan nada penekanan di akhir kalimat dan syarat mengintimidasinya.


[ Santai bro, akan aku kirimkan alamatnya. Namun, ingat ini hanya urusan antara kita, jangan bawa-bawa yang lain kau faham kan Ndra.]


[ Oke. ]


Tutt...


Tutt...


Tanganku mengepal kuat setelah panggilan suara tadi terputus begitu saja dari seberang sana.


Ting..


Bunyi dari benda pipihku yang masih ku genggam itu nada notifikasi yang masuk ke aplikasi hijau itu. Ternyata itu pesan dari Dony yang mengirim alamatnya.


Aku tidak menyangka akan mendapat telepon dari Dony, selepas aku tadi membaca Al-qur'an setelah aku sebelumnya telah meyelesaikan ibadah tahajud ku tadi. Yang membuat aku menjadi emosi begini kenapa Dony harus menculik istriku, awas saja kalau dia macam-macam pada Alena.


Ku lirik jam dinding yang bertenger di sudut sana kini jarum pendek itu mengarah di angka 3 sedangkan jarum panjangnya tepat berada di atas angka 12 .


Aku pun bergegas segera bersiap untuk menuju alamat tersebut, menganti baju ku dan mengambil kunci mobilku. Melangkah lebar keluar kamar disambung menuruni undukkan tangga untuk sampai ke lantai bawah.


Ku ambil kunci pintu rumah utama yang selalu tergantung di tempatnya yang khusus di sediakan, di sana tergantung 2 kunci dari pintu utama. Maka aku mengambil satunya dari kunci tersebut, untuk ku bawa sekaligus.


"Pak Heru tolong bukakan gerbang!" Titahku dari dalam kemudiku setelah ku buka jendela kemudiku agak sedikit berteriak memanggilnya, karena ia ada di dalam pos berserta satpam yang satu lagi.


Pak Heru pun keluar dari posnya menghampiriku. "Loh malam-malam gini mau kemana Den Andra?" Tanyanya dengan mimik kaget dan juga heran.


"Saya ada urusan penting Pak Heru, tolong bukain gerbangnya!"


"A..Siap Den." Dengan gaya hormat lalu Pak Heru sang satpam kediaman mas Abizar pun langsung melangkah dan membuka gerbang dengan lebar.


Aku pun menklasok Pak Heru dan berucap terima kasih lalu gegas melajukan kembali mobilku keluar gerbang serta sedikit ngebut dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Itu Den Andra tumben dini hari udah keluar aja." Gumam Pak Heru setelah tak melihat mobil sedan civic milik majikannya tadi.


___


Back to Alena.


"Sekarang kita akan menunggu, apakah seorang Liandra Alvian Abraham SH. Itu kali ini pun bernyali untuk datang kemari menyerahkan nyawanya. Haha.." Pria yang berperawakan dewasa dan tampan itu bermolog dengan di akhiri tawa iblisnya


Pria itu sepertinya sudah terlalu dendam dan terobsesi untuk bisa membalas dendamnya, yang sudah sering gagal. Hingga cara nekad ini lah yang akhirnya pria itu ambil.


Krett..


Pria yang bernama Dony tadi kini kembali membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan dimana Alena di sekap. Alena yang kini kembali bibirnya di ikat kain hingga kepalanya itu tertunduk diatas kursi yang ia duduki, masih dengan kedua tangannya yang terikat ke belakang.

__ADS_1


Alena begitu terlihat lemah dan berantakan serta pucat, bagaimana tidak Alena selama hampir 3 hari 2 malam di sekap di sini tanpa di beri makan yang jelas. Hanya sesekali di beri air minum dengan cara di siram asal ke wajahnya dari atas, serta di kasi makan roti murah dan sedikit sekali, bahkan terbilang tidak makan.


BYURRR...


Aku tersentak saat air tiba-tiba mengalir dari atas kepalaku yang tertunduk, aku mengangkat kepalaku terlihat tepat di depan wajahku muncul wajah lelaki menjijikkan itu berseringai.


"Hallo honey ku, kau sudah bangun. Selamat pagi." Dia menyapa dengan tatapan yang menjijikkan sekali menurutku.


Aku hanya bisa terdiam sambil menatapnya tajam, kalau bibirku tidak di ikat begini dengan kain sudah ku ludahi wajahnya yang berani sekali mendekat sedekat ini padaku.


"Bagaimana apa kau siap bersenang-senang denganku A-L-E-N-A." Pria menjijikkan itu mengeja namaku di akhir kalimat.


"Ya Allah tolong lah hamba mu ini." Rampal ku berdoa dalam hati, dengan perasaan harap-harap cemas.


Pria ini tiba-tiba berdiri dan membuka sabuknya , aku melotot melihat apa yang kini sedang pria ini lakukan. Mau apa dia membuka sabuknya? Otakku berfikir aneh-aneh dengan perasaan sangat takut dan cemas. Badanku rasanya mulai gemetar.


Setelah sabuknya terlepas sempurna dari pinggangnya, ia kembali menyerigai jahat seraya menatapku tajam.


"Mungkin kita bisa pemanasan terlebih dahulu sebelum bersenang-senang honey." Ya Allah pria ini mau berbuat apa? Aku berusaha berontak dengan bergerak-gerak di atas kursiku beruasaha membuka ikatan tanganku yang ada di belakang kursi.


Aku terus mencoba bergerak dan melepas tali ikatan di tanganku, sambil terus menatap ke arah pria itu dengan kepalaku mengeleng-geleng kuat sebagai isyarat aku memohon padanya agar tidak berbuat macam-macam pada diriku.


Pria itu mulai mengangkat tangan kanannya yang memegang sabuk tersebut.


Cattss..


Sabuk itu dia ayunkan kuat hingga ujungnya menyentuh lantai dan berbunyi khas, terlihat wajah pria itu kembali menyerigai.


Cattss...


Kini sabuk itu dia ayukan kepada diriku, aku refleks menutup mataku saat sabuk itu menyentuh bagian dari tubuhku ini.


Cattss...


Cattss...


Cattss...


Pria itu terus meyebat tubuhku secara kuat dengan sabuknya.


___


POV ANDRA


"Dony."


"Dony."


Sebelum aku kembali berteriak memanggil manusia brengsek itu tiba-toba dia sudah muncul di hadapanku dengan tenangnya, Dony juga menyungingkan seringai jahatnya. Aku menatapnya dengan sangat tajam dan penuh intimidasi.


"Aku tau kau pasti datang Andra , nyalimu memang terlalu besar bahkan setiap waktu.


"Dimana istriku?" Tanyaku tegas.


Aku malas berbasa basi pada manusia ini.


"Santai bro istrimu ada di tempat yang aman dan tidak jauh dari sini kok." Jawabnya enteng.


Kami kini berada di lantai 1 bagian dalam gedung tua yang jumlahnya berlantai 4, gedung tua ini sudah tidak terpakai dan kosong yang berada di pinggiran kota Jakarta. Cukup jauh aku tadi melajukan roda 4 ku dari kediaman mas Abizar untuk sampai disini tepat pukul 03: 30 dini hari, terbilang cepat karena jalanan sedang sangat lengah. Karena ini jam sebagian orang-orang masih banyak di alam mimpi.


"Jangan main-main dengan saya Dony, cepat beritahu saya dimana Alena dan serahkan segera Alena pada saya?" Lantangku dengan tatapan nyalang di hadapannya, aku masih berusaha mengontrol emosiku.


"Sebelum aku serahkan istrimu yang masih muda dan cantik itu, aku kau harus tersiksa terlebih dahulu sebelum akhirnya kau mati di tanganku Andra." Dony berkata dengan penuh percaya diri dengan tatapan mengintimidasi ke arah mataku.


"Apa yang mau kau lakukan hah, untuk membuatku tersiksa Dony?" Tantangku tanpa rasa takut sedikitpun.


Kini ia menyerigai kembali kepadaku.


"Kau pasti tersiksa bukan jika aku menyiksa istri tercintamu itu, apalagi jika aku meyiksanya dengan kemikmatan." Dony berucap dengan terus menyungingkan seringainya.


Tanganku mengepal lalu aku pun. 'BUGH.' ...'BUGH.' Ku layangkan tinju ke wajahnya sebanyak 2 kali, hingga ia tersungkur ke lantai dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.


Dony masih di posisinya ia menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan kirinya, sambil menatapku santai dan ia tambahi dengan senyuman mengejeknya padaku.


Aku mencengkram kerah bajunya dan menariknya berdiri sejajarkan dengan ku, sambil aku masih mencengkeram kerah bajunya. Aku pun berucap dengan tatapan mengintimidasi padanya dan ucapanku pun penuh penegasan serta penekanan.


"Jangan berani kurang ajar kau terhadap istriku Don, apalagi menyakitinya. Aku bisa membunuhmu jika kau mencoba melakukannya." Ku lepaskan cengkramanku dengan kasar dari kerah bajunya, hingga membuat tubuh Dony hampir terjerembab kembali.


Kembali pria brengsek ini menyerigai, muak sekali aku melihat tingkahnya. Aku mengabaikannya dan mulai melangkah mencari dimana keberadaan Alena istriku.


"Alena..?"


"Alena..?"


Aku mencoba terus menelusuri setiap sudut yang ada di gedung tua ini. Sepertinya di lantai 1 ini tidak ada keberadaan Alena setelah aku mencari ke setiap sudut. Kini aku beralih melangkah untuk menepaki undukan tangga menuju ke lantai atas atau tepatnya lantai 2 dari gedung tua tak terawat dan kosong ini. Aku sampai di lantai 2 dan menyusuri setiap tempat yang ada di lantai 2 ini.


Kini aku melihat di seberang sana ada ruangan di lantai 2 ini yang memiliki pintu dan tertutup rapat. Ku langkahkan kedua kaki ini dengan langkah lebar menuju ruangan itu. Saat ku pengang dan dorong hendle pintu itu ke bawah, ternyata terkunci. Itu membuatku semakin yakin jika Alena pasti ada di dalam sana.


Ku gedor pintu ini. "Alena..?" Panggilku dengan nada berteriak.


Aku mencoba mendobrak pintu tersebut..


Brukk...


Brukk...


Brukk...


Alhamdulillah akhirnya aku bisa mendobrak pintu ini, aku hampir saja tersungkur ke bawah tadi setelah pintu ini terbuka. Namun, mungkin saja pintu ini pun sudah tua dan tidak kuat lagi. Jadi aku bisa mendobraknya hanya dalam 3 kali hentakan tubuhku ke pintu tersebut.


Saat aku melihat seisi ruangan di ruang ini, langsung terlihat di seberang sana ada perempuan yang duduk dengan kedua tangannya terikat ke belakang kursi. Kepalanya yang menunduk dalam dan rambutnya yang terurai ke depan menutupi bagian depan wajahnya.


Langsung aku berlari menuju ke arah dimana perempuan itu berada yang aku yakini itu adalah Alena istriku. Kini aku telah berjongkok untuk mensejajarkan posisiku dan megangkat kepala perempuan yang menunduk terlalu dalam itu ke hadapanku.


"Alena." Kini sudah jelas terlihat bahwa perempuan ini adalah istriku.


Segera ku lepas bibirnya yang tertutup kain yang di ikat secara asal itu.


"Sayang, bangun sayang. Ini saya Andra suamimu." Seruku sambil terus memegang kepala yang mengapit wajahnya itu.


Alena tidak sadarkan diri keadaannya begitu kacau dan wajahnya pucat sekali. Sekarang aku bergerak ke belakang kursi berjongkok disana, untuk melepas tali yang mengikat kedua tangan Alena di balik belakang kursi ini. Kuat sekali baj*ingan itu mengikatnya sampai berbekas sekali di area kedua pergelangan tangan Alena, saat tali itu sudah mulai kubuka dan mulai melerai lilitan-lilitan yang melilit di kedua lengan Alena.


"Kau tak bisa pergi dari sini hidup-hidup Andra." Sesaat aku baru saja selesai melepas tali ikatan dari kedua tangan Alena dengan sempurna.


Dony datang dan berada di sisi sebelah tubuhku yang masih berjongkok dengan ujung pistol yang ia todongkan tepat di sebelah kepalaku. Aku bisa melihat itu dari ekor mataku dan merasakan ujung pistol itu berada di samping kepalaku.


Sepertinya Dony benar-benar berniat sekali ingin membunuhku.


🍬🍬🍬

__ADS_1


Bersambung...


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰


__ADS_2