TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 51B


__ADS_3

POV ANDRA.


"Saya ini lelaki Lena, lagian saya masih pakai celana traning panjang. Kamu perempuan beda, apalagi kamu ini perempuan saya , istri saya. Saya nggak suka istri saya berpakaian terbuka begitu di luar apalagi di hadapan kaum lelaki seperti tadi. Kamu juga tumben pake acara ke tempat fitness tadi, heum?" Sebelah alisku terangkat di akhir ucapanku barusan sambil menatap tajam dirinya.


Aku menghela napas dengan gusarnya sungguh aku kesal sekali dengan tingkah Alena kali ini.


"Lena tadi hanya iseng pengen nyoba ikutan ngegym makanya nyusulin om ke tempat fitness." Ucapnya pelan melirik ke arahku kemudian menundukkan kepalanya, sambil memainkan ujung-ujung jemarinya disana.


"Iseng kamu bilang Alena, tanpa rasa malu kamu mempertontonkan lekuk tubuhmu begitu saja." Aku hanya kembali menghembuskan nafas berat, sambil menatap heran atas kelakuan istri bocahku ku ini.


Ia hanya terdiam sambil terus menunduk dengan masih memainkan ujung-ujung jemarinya.


"Saya harap lain kali kamu harus lebih inget dan lebih menjaga batasan mu sebagai seorang istri Alena, kita sudah menikah selama satu tahun apa kamu lupa akan itu. Sampai nggak sadar sekarang ini kamu itu bukan hanya sekedar seorang mahasiswi yang sudah semester 7, tapi juga seorang istri. Apa karena tidak ada cinta diantara kita jadi kamu mau berlaku seenaknya saja." Tegasku panjang lebar aku sungguh begitu kesal dan marah atas kelakuannya kali ini.


Aku putuskan meninggalkannya dan segera menuju kamar kami. Ntah mengapa rasa kesal dan marahku begitu berbeda kali ini dibanding dulu saat aku menegur dan marah pada Vera yang juga pernah berpakaian terlalu terbuka. Walaupun jelas Vera itu hanya keponakkanku, tapi tetap saja aku pamannya punya kewajiban hampir sama seperti ayahnya dalam hal-hal tertentu yang ada dalam ajaran islam.


Sampai di dalam kamar aku langsung saja menuju kamar mandi yang berada di dalamnya, lebih baik aku segera menguyur tubuhku agar aku lebih rileks. Masuk dan mengunci pintu kamar mandi, karena masih bertelanjang dada aku langsung membuka celana beserta ********** lalu menaruhnya ke keranjang pakaian kotor yang selalu tersedia di dalam kamar mandi ini.


Lanjut menuju tempat pemandian shower, ku hidupkan shower dengan full dan "Byurr.." air bak hujan pun turun dengan derasnya mulai membasahi kepala dan seluruh tubuhku. Aku terdiam menikmati sejuknya air shower ini sambil memejamkan kedua mataku.


🍬🍬🍬


Sore ini aku kembali ke kantor lagi setelah hari ini aku habis dari kantor polisi untuk mendampingi salah satu klien ku dalam mengangani kasus pencemaran nama baik di media sosial yang berimbas di dunia nyata.


Aku duduk di kursi kebesaranku kali ini aku memang tidak terlalu sibuk dan sudah menyelesaikan kan membaca file-file dan berkas-berkas dari kasus-kasus yang masuk ke meja kerjaku yang akan aku tangani nantinya.


Ntah kenapa aku kembali kefikiran dan terbayang akan Alena. Aku pun terkadang serasa kembali tak tenang dan gelisah, seperti ada yang mengganjal di benakku. Tapi aku selama ini masih belum yakin. Apa benar yang kurasakan ini?


Tanpa terasa iphone ku bergetar dari balik jas ku, ku raih benda pipih itu dari balik jasku. Melihat layarnya ternyata getaran yang muncul dari penanda waktu sholat, yang sengaja ku stel sejak dulu di iphone pintarku.


Aku pun meletakkan kembali iphoneku, tapi kali ini di atas meja kerjaku. Lalu beralih ke kamar mandi yang ada di dalam ruanganku untuk berwudhu dan segera melaksanakan sholat maghrib di dalam ruangan kerjaku ini.


"Assalamu’alaikum. Warahmatullah." Salam ku seraya mamalingkan kepalaku ke arah kanan.


"Assalamu’alaikum. Warahmatullah." Salam ku seraya memalingkan kepalaku ke arah kiri.


Aku baru saja menyelesaikan ibadah 3 raka'at ku d hari ini.


Beralih aku membaca Al Qur'an yang biasa sudah aku sediakan sejak awal di ruang kerjaku ini yang memang di dalam ruang kerjaku ini selain ada kamar mandi tersedia juga ruang sholat yang tidak luas hanya muat untuk 1 orang saja.


Terkadang aku memang melaksanakan ibadah sholat dan membaca Al-qur'an di sini.


"Shodaqallahul 'azhim." Alhamdulillah kini aku baru saja menyelesaikan kan bacaan Al qur'an ku.


Berlanjut ku menengadah kedua telapak tangan ku untuk memanjatkan do'a. Setelahnya aku pun melipat sajadah dan meletakkannya di tempatnya begitu juga dengan Al-qur'annya.


____


"Alena."


"Ya Om."


"Apa kamu bahagia dengan pernikahan ini?"


"Lah, kenapa Om nanya begitu?" Dahinya menyergit menatap ke arahku dengan kedua pipinya yang cukup mengembung akibat sedang mengunyah makan malamnya.


"Tolong jawab saya Alena dan berikan jawaban yang jujur." Sejak tadi sore aku merenung dan kepikiran Alena aku jadi penasaran ingin tau akan hal tersebut.


"Alhamdulillah Lena cukup bahagia om." Jawabnya.


"Apa kamu yakin akan ucapanmu barusan Lena?" Mataku memicing menatapnya menelisik.


Alena pun menganggukkan kepalanya pelan seraya berkata. "Iya."

__ADS_1


"Kalau saya mulai jatuh cinta gimana Alena?"


"Apaaa, om jatuh cinta? Tuh kan om punya wanita idaman lain kan?" Matanya menatap tajam ke arahku.


"Kamu kenapa selalu souzon sama saya, Alena?"


"Ya kan emang bener kan apa yang Lena bilang tadi?" Selalu saja ia bersepekualasi jelek terhadap saya, mungkin ini yang membuat kami jadi susah bersatu atau menyadari perasaan masing-masing.


"Saya jatuh cinta sama kamu Alena." Ungkapku tegas pada akhirnya.


"Uhukkk..."


"Uhukkk.."


Aku langsung menyodorkan air putih yang ada di atas meja kepada Alena.


"Ini minum dulu pelan-pelan." Seruku padanya.


Ia pun meninum air putih yang aku sodorkan secara cepat hingga tandas tak bersisa.


"Kamu nggak apapa kan Alena?"


"Ah iya Om nggak apapa." Jawabnya terkesan cepat sakali. Ia pun langsung bangkit dari duduknya dengan membawa gelas dan piring kotornya ke arah westafel secara terburu-buru.


"Apa Alena merasa tak nyaman dengan ungkapan ku tadi?" Fikirku dalam hati.


"Alena kamu jangan terbebani dengan ungkapan saya tadi, saya tidak memaksa kamu agar segera membalas perasaan saya ini. Semua adalah proses, saya hanya tidak ingin lebih lama lagi memendam dan menyadari bahwa saya ternyata sudah jatuh cinta kepada kamu." Ungkapku secara lebih terbuka, aku berharap kalimat ku ini dapat membuatnya lebih nyaman.


Alena hanya terdiam di depan westafel, aku pun bangkit dan membawa piring serta gelas kotor bekas makan malamku ke arah westafel. Meletakkannya di dalam westafel , ku lihat Alena hanya bengong akhirnya ku bantu saja ia mencuci piring dan gelas bekas makan malam kami.


"Eh om ngapaen?" Tanyanya dengan pandangan terkejut.


"Saya mau bantu kamu sedikit, apa nggak boleh?"


Tapi ia terdiam saat aku berkata. "Siapa bilang cuci piring itu bukan kerjaan kaum lelaki, ini kerjaan setiap kaum manusia apalagi jika sudah balig." Tegasku.


Alena malah merebut piring yang sedang ku sabunin dengan spons busa. Namun, aku menahannya hingga Alena pun tak bisa berkutik lagi.


"Udah biar saya saja, membantu itu tidak boleh setengah jalan. Jadi biarkan saya yang cuci ini semua hingga selesai, lagian ini tidak banyak dan mudah."


"Tapi om.."


"Membantu istri dalam kerjaan rumah juga kan adalah tugas suami." Alena pun hanya diam menyaksikan aku sampai selesai mencuci piring dan gelas bekas makan kami dan membersihkan westafel dengan hingga rapih dan bersih tanpa sisa sabun atau air yang menempel dan bergenang di sisi-sisi westafel cuci piring ini.


Setelahnya aku mencuci tangan dengan sabun pembersih tangan lalu hendak kembali ke kamar, karena ku lihat Alena sudah bergerak memasukkan sisa sayur dan lauk makan malam kami ke tempatnya.


"Kamu nggak ada tugas kampus yang akan di kumpul besok?" Tanya ku sebelum aku melangkah menuju kamar.


Alena mengeleng saraya berkata. "Nggak ada Om."


Aku pun melangkah pergi menuju kamar.


🍬🍬🍬


Sejak aku mengungkapkan perasaanku yang sejujurnya pada Alena , ia malah semakin terlihat lebih banyak diam dan tidak sebawel biasanya yang terkadang ia memang sedikit bawel. Aku juga tidak tau dengan pasti kapan aku mulai jatuh cinta kepada Alena istriku sendiri.


Yang aku tau malam itu saat aku mengakuinya di hadapan Alena agar aku lebih lega, tak gelisah lagi seperti beberapa hari lalu. Aku juga baru menyadari kalau beberapa hari lalu aku sebenarnya cemburu kepada Alena puncaknya saat tiba-tiba Davin muncul setelah sekian lama dan ia malah seperti menunjukkan rasa ketertarikannya pada Alena istriku, di tambah Alena malah seperti fine-fine saja saat Davin yang katanya tak sengaja bertemu dan mengajaknya sarapan bersama.


Karena kesalnya aku akan hal itu aku jadi semakin cuek dan dingin dalam bersikap dari biasanya bahkan aku sampe sengaja pulang tengah-tengah malam, agar tidak


bertemu Alena. Tapi Alena malah menuduhku memiliki wanita idaman lain, tanpa bukti.


Aku bersyukur kala itu sahabatku Reza datang dan memberi beberapa masukan dan kritikan pada ku, itu membuat aku secara perlahan bisa berfikir lebih baik dalam hal perasaanku ini. Reza memang sahabat ku satu-satunya yang paling mengerti aku dan paling baik padaku. Makanya aku selalu respek dan mau membantu dia semaksimal mungkin dan semampuku.

__ADS_1


Kami tak pernah merasa bersaing atau iri. Aku juga suka jiwa tulus dan seloroh Reza ia pun pekerja keras , walaupun dia terkadang somplak dan masih suka hal-hal seperti ke club sesekali atau juga karaokean. Tapi dia bukan playboy apalagi pemain perempuan , Reza juga bukan pemakai drugs. Tapi ia masih mau sesekali minum.


Aku berharap Alena suatu saat nanti bisa membalas perasaanku ini dengan tulus. Karena jujur aku terbilang telat sekali jatuh cinta. Mungkin ini terdengar impossible tapi inilah kenyataan diriku. Seorang Liandra Alvian Abraham S.H lelaki yang baru merasakan namanya jatuh cinta di umur yang telah genap 34 tahun, aneh tapi nyata.


___


"Om." Panggil Alena pelan saat aku sudah merebahkan tubuhku hendak tidur, tapi membelakanginya.


Akupun kembali ke posisi awal duduk bersandar di kepala ranjang bersebelahan dengan Alena yang juga duduk bersila sambil bersandar di kepala ranjang, dengan memegang bantal guling yang ia panggku.


"Ada apa?" Jawabku sambil menatap ke arahnya.


"Alena ingin menjadi istri om seutuhnya." Ucapannya tapi tanpa melihat ke arahku, ia sibuk memegang guling yang ia pangku.


"Kamu kan sudah menjadi istri saya selama setahun ini, Alena."


Terdengar ia menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan dan menghadap ke arahku.


"Sekarang Lena siap memberikan hak om selaku suami."


Aku tertengun mendengar ucapannya, yang tidak terduga bagiku.


"Apa kamu yakin Alena?" Aku menatapnya untuk lebih memastikannya.


"Lena yakin 100% Om. Sekarang Lena sadar dan nggak mau terus menjadi istri yang durhaka kepada suami sendiri." Tiba-tiba sudut bibir ku melengkung sedikit.


Aku manatap dalam ke arah dua manik matanya."Apa harus kita lakukan malam ini juga?" Tanyaku dengan lembut sambil memegang kedua bahunya.


Kedua manik Alena bergerak seakan berfikir ulang, lalu manatap ke arah ku kembali.


"Apa om belum yakin?" Kini ia yang bertanya sebaliknya.


"Saya yakin 100% sama seperti kamu Alena." Ucapku lembut tapi penuh penegasan, sambil terus menatap dalam kedua maniknya itu.


"Kalau begitu kita melaksanakan terlebih dahulu sholat zifaf 2 raka'at ya." Dahinya menyergit dan matanya memicing heran.


"Karena ini akan menjadi malam pertama kita melakukan hubungan suami istri, setelah kita sah. Walaupun seharusnya sholat sunnah ini lebih tepat dilaksanakan tidak jauh hari selepas hari ijab qobul terlaksana. Tapi karena saya ingin mencari keberkahan lebih banyak dalam pernikahan ini, maka sebaiknya kita lakukan ibadah sholat zifaf ini sebelum kita melakukan ibadah di atas ranjang ini." Terang ku lembut dengan di akhiri semyuman untuk istri bocahku ini.


"Tapi Lena nggak tau bacaan niatnya dan bacaan apa yang ada dalam sholat zifaf itu om?"


"Bacaan dan tata caranya sama seperti sholat subuh yang beda hanya niat dan tidak memakai do'a qunut di dalamnya saat rakaat kedua. Lagian kan nanti kamu jadi makmun saya di belakang dan saya akan melafazkan bacaannya sedikit keras agar kamu dapat mendengar dan mengikutinya, seperti sholat berjamaah pada umumnya. Tapi tetap baca niatnya dalam hati sendiri." Terangku kembali panjang lebar lalu melepas genggamanku pada kedua bahu Alena.


"Ya terus bacaan niatnya gimana om, kan Lena nggak tau apalagi hafal." Ucapnya sambil memanyunkan bibir merah mudanya itu.


"Bacaan niatnya pendek, pasti kamu langsung bisa menghafalnya setelah saya beritahu. Sholat zifaf ini adalah sholat sunnah berjamaah yang hanya di laksanakan khusus untuk suami dan istri sebelum melakukan pergaulan malam pertama. Setelahnya tidak perlu lagi melaksanakannya sholat zifaf, cukup membaca do'anya saja sebelum melakukan hubungan suami istri."


Alena pun manggut-manggut seraya berkata. "Oo, gitu ya Om." Ia terdiam dan menjeda ucapannya lalu. "Terus baca niatnya apa Om?" Serunya.


"Usholli sunnatan lailataz zifafi rok’ataini lillahi ta’ala , yang artinya Saya shalat sunnah malam pengantin dua rakaat karena Allah Ta’ala."


"Gimana udah faham kan istri bocahku." Ucapku lembut rasanya aku akan semakin lembut dalam berucap pada istri bocahku ini.


Alena mengangguk-anggukkan kepalanya tanda ia telah faham, dengan semua penjelasanku tadi yang panjang lebar.


"Ya sudah ayok ambil wudhu." Aku pun beranjak dari atas ranjang hendak menuju kamar mandi, diikuti oleh Alena.


Aku bukanlah orang yang alim, tapi aku berusaha untuk mengamalkan ajaran agamaku semampuku untuk diriku dan juga istriku serta anak-anak ku kelak.


🍬🍬🍬


Bersambung...


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰

__ADS_1


__ADS_2