TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 17


__ADS_3

Tingtong...


Tingtong..


Ceklek..


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Balas bu lilis dan punggung tangannya dicium takzim oleh si pemberi salam.


"Ayo masuk nak." Bu Lilis mempersilahkan dengan ramah.


Ia pun masuk dengan menyeret kopernya." Mama apa kabar?." Tanyanya.


"Alhamdulillah sehat , kamu nak sehatkan?" Tanya balik bu lilis mama Alena kepada sang menantu yang tak lain adalah Andra.


Sabtu pukul 11 pagi menjelang siang ini Andra baru tiba di rumah mertuanya tadi sekitar pukul 10 pagi ia baru sampai di bandara Seokarno Hatta.


Setelah sampai di bandara Andra langsung memesan taxi online menuju ke rumah mertuanya dimana ada Alena juga sang istri kecilnya.


"Alhamdulillah Andra sehat wa'alfiat mah. Oya papa dan Alena sehat kan mah?" Andra dan bu Lilis sang ibu mertua masih berdiri di ruang tamu sambil bertukar sua.


"Alhamdulillah sehat juga papa dan Alena. Oya Alena baru aja naik masuk kamar habis bantu-bantu mama masak tadi. Ya sudah nak Andra mau langsung naik aja atau mah mama buatkan minum?" Terang bu Lilis panjang lebar kepada menantunya.


"Nggak Mah , makasih Andra langsung naik aja ke atas ke kamar." Tukasnya sambil kembali hendak menyeret kopernya naik ke anak tangga.


"Ya sudah kamu pasti lelah istirahat saja dulu." Ucap bu Lilis ramah.


"Ya Mah." Jawab Andra di barengin anggukan dan mulai menaiki anak tangga dengan mengangkat kopernya.


Tokk..


Tokk..


Tokk..


"Alena...?"


Tokk..


Tokk..


Karena tak ada jawaban dan pintu kamar tak kunjung dibuka dari dalam kamar Andra pun terpaksa mencoba meraih hendle pintu dan memutar hendlenya ke bawah.


Ternyata tak di kunci dan terbukalah celah dari daun pintu itu, Andra langsung membuka lebar pintu kamar yang pertama ia lihat tak ada Alena di kamar.


Andra langsung masuk dan menyeret kopernya ke dalam kamar Alena yang kini juga jadi kamarnya, setelahnya Andra menutup rapat pintu kamar tersebut.


Sekilas Andra mendengar gemericik suara air menandakan Alena pasti sedang berada di kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut. Andra menyimpan kopernya di sudut tembok dekat pintu kamar.


Tanpa aba-aba Andra langsung merebahkan bobotnya di atas ranjang yang empuk dan cukup besar itu ia merasa lelah di perjalanan , walau tadi ia naik pesawat kelas atas.


Ia memejamkan kedua matanya menikmati barang sejenak kenyamanan tersebut.


"Aaaa....." Hingga jeritan histeris sang istri mengaketkannya membuat Andra terpaksa membuka matanya kembali dan bangkit dari rebahannya di atas tempat tidur tersebut seketika.


Andra hanya diam tak bicara dan masih berdiri terpaku melihat Alena dengan kedua tangannya menyilang menutupi kedua dadanya yang terbalut handuk sebatas paha serta lilitan handuk di kepalanya.


Adengan ini berasa dejavu bagi Andra saat pertama kali bertemu Alena bedanya kala itu Alena memakai kimono handuk sehingga tidak terexpose pundang mulusnya dan leher jenjangya, tapi paha mulusnya yang terexpose jelas.


Sedangkan kali ini 3 hal itu terexpose semua dengan jelas di hadapan kedua bola mata Andra.


Andra langsung memalingkan badannya dari hadapan Alena, mereka berdua jadi salah tingkah bersamaan.


"Om kok bisa ada disini?" Ketusnya Alena.

__ADS_1


Alena pun langsung menuju lemari pakaiannya membuka lemarinya dan memilih cepat pakaian yang akan ia pakai.


Sambil sibuk memilih dan mengambil apa yang akan ia ambil di dalam lemari ia pun bersuara kembali.


"Tetap dengan posisi seperti itu jangan berbalik badan ya om! Awas aja kalau om berbalik badan apalagi ngintip." Perintah Alena ketus.


Ntah mengapa Andra jadi merasa gugup tiba-tiba padahal waktu pertama kali bertemu Alena juga tak jauh beda kondisinya dengan saat ini yang Andra lihat dari Alena dan juga di dalam sebuah kamar hanya berdua saja. Tapi tak berbuat hal macam-macam seperti yang di tuduhkan mamanya Andra.


Andra tak menjawab hanya tetap bergeming di tempatnya berdirinya tadi. Alena pun langsung meleset ke arah kamar mandi sambil membaca pakaiannya dan memakai pakaiannya di dalam kamar mandi.


Biasanya sejak mereka sudah resmi menikah Alena selalu membawa salin pakaiannya ke dalam kamar mandi jika mandi dan memakai pakaiannya di dalam kamar mandi.


Namun, kali ini sedang tidak ada Andra karena selama Andra sedang pergi ke Surabaya jelas Alena setiap selesai mandi memakai pakaiannya seperti sebelum menikah di dalam kamarnya bukan di dalam kamar mandi.


Dan naasnya Alena kali ini lagi-lagi terledor lupa mengunci pintu. Untung saja selama ini papanya jarang masuk ke kamar anak perempuan semata wayangnya ini. Apalagi tanpa mengetuk pintu atau main nyelonong membuka pintu dan masuk tanpa izin Alena.


Papanya Alena orangnya cukup teliti dan sopan tidak suka main masuk ke kamar orang lain tanpa izin walau itu kamar anak perempuannya sendiri.


Sepeninggalan Alena masuk kembali ke kamar mandi Andra masih tetap bergeming di posisinya serasa seperti orang beg*.


Sambil memegang dadanya Andra masih menstabilkan debar jantungnya dan rasa gugupnya kali ini. Rasanya baru kali ini dia merasakan debaran aneh di dalam dada saat melihat perempuan, tak seperti biasanya cuek dan biasa saja.


Apa yang sebenarnya terjadi pada Andra apakah ini gejala sakit jantung atau jatuh cinta..?


Alena sudah keluar dari kamar mandi dan sudah memakai pakaiannya. Sambil berjalan pelan kedua tangannya masih mengelap-ngelap rambutnya yang basah dengan handuknya.


"Om kenapa nggak ngetuk pintu dulu sih sebelum masuk kamar , tuman." Ketusnya Alena geram lalu duduk di hadapan cermin meja riasnya.


Kini Andra sudah duduk di tepi ranjang dan rasa gugup serta debaran jantungnya yang kencang tadi sudah cukup mereda.


"Tadi saya sudah ketuk pintu berkali-kali tapi kamu nggak dengar apalagi bukain pintu, jadi saya coba saja membuka pintu ternyata tidak di kunci dan langsung masuk." Alena melirik sekilas ke arah Andra yang ia juluki sebagai om nyebelin itu dari pantulan cermin riasnya.


Alena melihat Andra yang duduk di tepi ranjang sambil menundukan kepalanya seakan si om nyebelin itu benar-benar sedang menatap ke arah lantai dan memerhatikan lantai tersebut.


Andra merasa mulai kesal dengan ucapan Alena dan menjawab kembali tapi kali ini Andra berucap ketus tidak seperti barusan.


"Ya nggak bisa gitu juga Alena saya ini kan suami kamu kamar ini juga berarti kamar saya walaupun barang-barang dikamar ini lebih dominan milik kamu." Ucapan Andra kali ini diiringi sedikit emosi.


'Iya juga ya yang dikatakan si om nyebelin ini.' Ucapan Alena dalam hati.


"Aarrgh..Ribet amat seh jadi pasutri semua jadi berasa harus berbagi bersama jadi nggak leluasa ah." Geram Alena sendiri sambil mengacak rambutnya yang masih basah.


Andra tak merespon celetukan Alena ia memilih kembali diam dan mulai beranjak dari posisinya yang hendak mandi untuk meredakan emosi dan debaran jantungnya tadi agar benar-benar reda.


Sebelum Andra memasuki kamar mandi Alena buru-buru bangkit dari duduknya lalu membuka lemari pakaianya dan mengambil handuk kemudian menyodorkannya ke si om nyebelin ini.


"Ini om handuknya , om pasti mau mandikan?" Tebakan Alena memang tepat sasaran.


Andra menerima handuk tersebut dari tangan Alena dengan expresi dingin lalu berbalik menuju kopernya hendak mengambil baju. Namun, lagi-lagi Alena berusaha melakukan tugasnya sebagai istri walau masih hal kecil.


"Sini om biar Alena aja yang siapkan baju om ,ya itu juga jika om izinkan kembali Alena membongkar dan menyusun pakaian om dan barang-barang om yang ada di koper om ke dalam lemari." Alena mencoba menawarkan diri kembali melakukan yang memang seharusnya ia lakukan sebagai istri.


Andra tak menggubris ucapan Alena tapi ia bangkit dari jongkoknya saat tadi ia hendak mengambil baju gantinya di dalam kopernya, untuk ia ganti di dalam kamar mandi setelah nanti selesai mandi.


Alena kini berjongkok mengambil alih untuk menyusun pakaian-pakaian Andra dan barang-barang Andra yang ada di dalam kopernya seperti laptop, charger gawai dan sebagainya. Andra pun langsung bergegas ke kamar mandi.


Setelah Alena menyusun semua yang ada di koper Andra.


Alena menyiapkan pakaian sholat Andra karena waktu sudah menuju bada dzuhur Andra lebih sering sholat berjamaah di mesjid itu tak jauh beda dengan kebiasaan papanya sendiri..


Andra lebih suka ke mesjid memakai sarung saat sholat makanya Alena menyiapkan baju koko dan sarung serta peci untuk pakaian sholat suaminya tersebut yang selalu ia juluki so om nyebelin.


Alena meletakan semua itu di atas ranjang tak lupa juga disebelahnya ia meletakan baju ganti pakaian rumahan untuk Andra yang akan di pakai setelah pulang dari mesjid nanti.


🍬🍬🍬

__ADS_1


POV Fandi.


Saat aku telah menyelesaikan ujianku hari ini dan mengumpulkan lembar jawabannya aku pun langsung pamit keluar kelasku.


Dan saat aku sedang duduk santai di sekitaran koridor di luar ruang kelasku aku melihat Alena berjalan di sekitaran koridor ini.


Aku pun beranjak dari dudukku dan melangkah langsung untuk menghampirinya


"Alena mau kemana?" Tanyaku langsung saat kami sudah sama-sama berhadapan.


"Lena memang mau menemui kakak." Ucapnya langsung.


"Ada apa? Apa ada yang bisa kakak bantu?" Tanyaku lagi lembut dan dengan senyum manisku.


"Alena mau menyerahkan ini kak jangan sampai nggak datang ya kak." Ucapnya sambil menyodorkan sebuah kotak persegi yang sepertinya sebuah undangan yang baru saja dia keluarkan dari dalam tasnya.


"Undangan apa ini Alena?" Tanyaku setelah aku menerima kotak undangan tersebut.


"Coba kak Fandi buka dulu kotak undangannya!" Pintanya.


Aku terkejut hingga kedua mata ini terbelalak


setelah ku membuka kotak undangan tersebut dan melihat dengan jelas tertera tulisan nama Liandra Alvian Abraham S.H. dengan Salena Paramita sebagai kedua mempelai.


"Kamu mau menikah Alena?" Tatapanku mengarah ke matanya cukup tajam.


Ia hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Sedangkan aku malah mengelengkan kepalaku merasa tak percaya dan terasa hati ini seperti di goreskan dengan pisau tajam berkali-kali.


"Ini nggak mungkin." Lirihku dan kurasa Alena cukup mendengarnya.


Selama ini aku cukup menunjukkan ketertarikanku pada Alena , namun aku memang belum pernah sekalipun mengungkapnya secara langsung pada Alena. Karena aku berfikir dia memang sedang tak mau pacaran dan hanya ingin fokus pada kuliahnya dulu.


Aku beranggapan begitu karena cukup banyak lelaki-lelaki dikampus ini saja dulu yang menaruh hati pada Alena bahkan terdengar sudah ada beberapa dari mereka yang menyatakan perasaannya serta ingin menjadikan Alena kekasihnya.


Tapi Alena selalu menolaknya secara halus dengan alasan katanya lagi fokus saja dulu dengan kuliahnya jadi tak mau pacaran dulu atau sejenisnya. Dan Alena pernah berkata secara langsung padaku saat kami pernah mengobrol, aku dengan sengaja menanyakan soal penolakan-penolakan itu.


"Len kamu kenapa nggak menerima salah satu dari mereka para lelaki yang menyatakan perasaannya pada kamu tepatnya yang menembakmu?" Dan jawabannya Alena adalah.


"Alena lagi berusaha fokus saja dulu untuk belajar dan kuliah kak, lagian pacaran itu juga sebenarnya kan lebih banyak nggak baiknya dari pada baiknya. Jadi Alena nggak mau pacaran lebih milih menikah saja langsung nanti-nanti setelah Alena lulus kuliah." Jawabnya cukup membuat hati ini lega.


Berarti aku tidak perlu terlalu khawatir fikirku setelah mendengar jawabannya. Aku masih bisa menyiapkan ujian akhirku dan skripsiku lalu bekerja sambil menunggu Alena lulus kuliah barulah aku langsung akan melamarnya kelak.


Tapi sepertinya aku ketiban sial Alena yang merupakan pujaan hatiku sejak aku bertemu ia dulu pertama kali saat ospek mabar 2 tahun yang lalu di kampus ini. Malah kini ternyata ia sudah sah sebagai istri lelaki lain.


Aku tak tau apakah aku akan datang ke acara resepsi pernikahannya nanti dan jika bisa datang apakah aku akan kuat melihatnya bersanding di pelaminan bersama lelaki yang menjadi suaminya.


Sejak kejadian Alena memberi undangan pernikahannya kepadaku, aku semakin tak fokus dalam belajar dan ujian serta menyusun skripsi. Dan sejak itu juga hampir setiap malam pergi ke club dan pulang dengan kondisi mabuk tapi tidak pulang kerumah melainkan ke hotel seorang diri.


Ntah kenapa aku jadi lelaki rapuh seperti ini. Aku yang tak biasa dan tak pernah ke club dan minum cairan haram itu pun tiba-tiba memberanikan diri datang ke club sendiri dan meminum miras itu sendiri hingga mabuk.


Ujianku jadi berantakan aku tak tau jelas hingga aku mengerjakan asal ujianku yang tinggal 1 hari itu. Dan itu terjadi akibat malamnya itu aku tidak belajar dan malah mabuk-mabukan di club hingga akhirnya aku telat ke kampus untuk ujian terakhirku.


Mamaku belum tau akan perubahanku ini karena aku selalu berusaha agar mama tak melihatku mabuk dan patah hati ini.


Aku berbohong kepada orang tua ku dengan mengatakan aku menginap di rumah teman untuk mengerjakan skripsi bareng temanku sebagai alasanku saja.


Sebelumnya aku pernah patah hati dan kecewa waktu aku SMA dulu karena pacarku ternyata berselingkuh dengan lelaki lain. Sejak itulah aku putuskan pacarku itu dan tak ingin pacaran lagi hingga akhirnya aku bertemu Alena dan langsung jatuh hati padanya saat pandangan pertama hingga kini.


🍬🍬🍬


Bersambung...


Salam sehat selalu dari riritambun 🥰

__ADS_1


__ADS_2