
"Kamu mau naik perahu?" Tetiba si om nyebelin ini menawariku naik perahu yang ada di sekitaran Mangrove Wonorejo Surabaya ini.
Aku mengedarkan pandanganku dan beralih menatap ke perahu-perahu yang terlihat di sekitaran pinggiran sungai ini.
"Boleh om." Jawabku singkat.
Kami pun hendak menaiki perahu dan tentunya setelah si om nyebelin membeli tiket untul dapat menaiki perahu tersebut. Perahu yang akan kami tumpangi terbuat dari kayu yang berukuran lumayan besar dan panjang. Dengan sebagian perahu di beri atap penuntup berbahan plastik tebal seperti bahan terpal di bagian atasnya khususnya di bagian bangku untuk para penumpang duduk.
Aku dan si om nyebelin pun duduk berdampingan di bangku yang tersusun rapih seperti bangku di dalam bis.
Di sisi kanan dan kiri perahu terbuka jadi kita yang naik untuk menyusuri muara sungai ini dapat melihat sekitaran yang akan kita lalui nantinya.
Satu bangku bisa muat untuk duduk dua orang bagi bobot yang berukuran sedang, nah kalau bobot yang berukuran besar jelas cukup untuk dirinya sendiri duduk.
Aku hendak melangkahkan kaki ke perahu tersebut setelah si om nyebelin ini yang melangkah duluan untuk menaiki perahu ini.
Namun tanpa di duga si om nyebelin pun mengulurkan tangan kanannya ke arahku sepertinya ia hendak membantu ku naik ke atas perahu ini.
Aku tak langsung mengapai uluran tangannya melainkan melihat kearah kanan dan kiriku, memastikan jika si om nyebelin memang mengulurkan tangannya untukku. Aku kan nggak mau keGERERAN pemirsa hehe.
Setelah yakin bahwa ternyata si om nyebelin memang mengulurkan tangan kanannya kepadaku , aku langsung mengapainya. Si om nyebelin pun menuntunku menaiki perahu dan duduk di bangku depan bersebelahan dengannya.
Perahu yang kami tumpangi pun mulai bergerak menyusuri muara sungai ini. Angin bertiup semiliran menambah sejuk
di wajah dan membuat beberapa bagian dari rambutku berterbangan kesana kemari apalagi aku tidak mengikat rambutku.
Aku mencoba memotret sekitaran yang ku inginkan saat menyusuri muara sungai ini. Sambil melihat keindahan alamnya khususnya di sisi kanan dan kiri akan terlihat bergabagai jenis tanaman bakau dan di di iringi suara-suara kicauan burung-burung di alam bebas ini.
Kadang kita juga bisa melihat berbagai jenis hewan langka yang kadang berkeliaran di bagian-bagian arean dekat muara sungai ini. Aku duduk tepat di bagian sisi kiri perahu dan jelas di sebelahku duduk adalah si om nyebelin.
Kami sibuk memerhatikan pemandangan sekitar muara sungai yang kami lalui ini. Aku juga masih tetap fokus memotret mana yang aku inginkan untuk ku potret sebagai kenang-kenangan.
Aku juga tak lupa berfoto selfie saat duduk di bangku perahu ini dan si om nyebelin ini tak ku rihaukan, aku asik saja dengan apa yang ingin ku lakukan sekarang.
Kami akan tiba di dermaga berikutnya dan akan berhenti sejenak disana yang terdapat gezebo-gazebo untuk berehat sambil melihat-lihat atau pun makan, jika bawa makanan sendiri. Nanti wajib kumpul lagi di dermaga ini pukul 15:30 untuk kembali lagi ke dermaga awal dan pulang karena sore tempat ini jelas tutup.
Tak terasa kami sudah kembali lagi ke perahu dan perahu pun sudah bergerak meuju dermaga awal.
Tanpa di undang hujan turun secara tiba-tiba dari atas langit dengan begitu derasnya, saat perahu kami sudah hampir separuh jalan menuju dermaga awal. Sungguh hujan turun dengan derasnya. Padahal dari tadi pagi hingga siang menjelang sore cuaca begitu cerah dan teriknya, walaupun udaranya sejuk.
Sangkin derasnya hujan yang di sertai angin lumayan menerpa. Kami pun para penumpang jadi terkena air hujan juga walaupun duduk di bangku yang memang bagiannya diberi atap penutup dari perahu ini.
Namun sisi kanan dan kirinya tidak tertutup dan memang terpalnya dari awal tidak di turunkan, melainkan di gulung naik ke atas. Itu agar mempermudah para penumpang bisa dengan leluasa melihat pemandangannya dari tempat dudukny.
__ADS_1
"Pakai ini." Si om nyebelin ini tanpa diduga mamakaikan jaketnya kepundakku.
Aku yang memang tidak melihat kearahnya dari tadi jelas kaget, namun dengan ekspresi yang tak begitu terlihat. Si om nyebelin pun hanya memakai kaos putih polosnya yang tidak terlalu tebal dan kembali memakaikan tas ransel hitamnya ke pundaknya.
"Om kenapa jaket om dipakaikan ke Alena?" Tanyaku heran menatap ke arah si om yang duduk begitu dekat di sebelah kananku.
"Sudah jangan bawel pakai saja yang benar jaketnya!" Perintahnya seakan tak boleh di bantah dan tanpa mau peduli apalagi mejawab pertanyaanku barusan.
Si*lan kan bener-bener selalu nyebelin si om nyebelin kutu kupret ini. Nggak pernah pas jawabannya setiap aku tanya baik-baik pu , maksudnya apa coba ? Bikin naik darah tinggi anak perempuan orang biarpun ni lelaki tua udah jadi suami sahku , tetep aja kan aku ini anak perempuan orang alias mama dan papa aku.
Aku hanya diam tak bicara lagi sambil memanyunkan bibir sexy ku dan mau tak aku memakai jaketnya dengan benar.
Tapi apa si om nyebelin tak kedinginan hanya pake kaos tipis begitu, lagian aku kan sudah pakai baju berbahan sweeter. Ntar si om nyebelin ini jadi sakit setelah pulang dari sini kan aku juga yang repot dan merasa bersalah.
Kami masih di tengah muara sungai ini mau balik ke tempat awal kami menaiki perahu ini masih cukup jauh. Apalagi karena keadaan yang hujan deras secara tiba-tiba di sertai angin yang lumayan menerpa membuat si pemilik perahu cukup susah mengendalikan perahu ini agar segera kembali ke tempat dimana kami menaikinya tadi.
Alhamdulillah akhirnya kami sampai juga di dermaga awal tempat dimana tadi kami maniki perahu pertama kali. Kami berteduh dahulu disini, hujan pun masih turun begitu derasnya.
Si om nyebelin pun malah menggenggam telapak tangan kananku menariknya halus untuk bangkit dari bangku penumpamg yang kami duduki dari tadi. Badanku dan badan si om nyebelin pun basah kuyub, karena kami duduk di bangku penumpang paling depan yang jelas bagian depan tidak tertutup, makanya air hujan pun tak bisa terelakkan membasahi kami.
Karena bagian depan perahu jelas tak tertutupi di tambah hujan deras yang di sertai angin yang turun tiba-tiba , membuat terpal yang berada di bagian kanan dan kiri perahu belum tertutup sehingga air hujan yang deras menerobos masuk begitu saja.
Setelah beberapa menit barulah si pemilik perahu membuka tali ikatan pada terpal dan terpal itu menjulur ke bawah hingga menutup bagian perahu. Tapi tetap saja angin memaksa air hujan yang deras itu masuk melalui celah-celah kecil dari terpal yang tidak tertutup rapat.
"Kamu basah kuyub Alena." Ucap si om nyebelin sambil memandangiku kasihan padahal dia sendiri juga basah kuyub marjiom.
Si om nyebelin hanya diam tanpa berucap lagi dan pandangannya sudah ke lain arah. Kami duduk di kursi berbahan bambu dengan ukuran yang cukup panjang dan lebar, lantainya pun dari bambu semua dari bambu yang ada di dermaga ini.
"Apa pulang saja Alena kamu sudah basah kuyub begitu nanti kamu bisa sakit kalau memakai baju basah begitu." Jujur aku sudha kendingan ku rasa bibirku sudah membiru dan badanku memang sedikit mengigil.
Tapi ku lihat si om ini belum membiru bibirnya apa dia sebenarnya nggak kedingan mana hujan deras, kena hujan dan basah kuyub lagi. Badannya terbuat dari apa sih bisa kek taham gitu fikirku.
"Terserah om saja deh Alena ikut aja." Ucapku dengan nada sedikit gemertaran mungkin efek aku sudah kedinginan.
Hujan masih terus turun dengan derasnya belum ada tanya-tanda mereda.
"Kamu tunggu sini dulu ya Alena ntar lagi kita pulang." Si om nyebelin pun berlalu pergi tanpa menunggu aku bicara atau bertanya.
Ntah akan kemana si om nyebelin yang ku lihat ia keluar dari tempat ini menembus derasnya air hujan ntah menuju kemana dan akan ngapain. Aku duduk sambil kedua tanganku masih betah saling memeluk dan mengelus-ngelus lembut pada masing-masing sisi lenganku karena kedinginan.
"Ini makan dulu p*op mie panas ini dan minum teh manis hangat ini." Selang beberapa menit tiba-tiba si om nyebelin muncul di sampingku duduk dan menyodorkan makanan yang di dalam cup besar dan minuman yang di dalam plastik bening di ikat karet dengan di ujung atasnya sudah muncul ujung sedotannya.
Aku tertengun melihat apa yang di sodorkan si om tersebut menatap ke arah yanv di sodorkan si om lalu beralih kapada si om nyebelin.
__ADS_1
"Ayo makan Alena biar badan kamu agak hangatan dan nggak kedinginan seperti itu." Titah si om nyebelin dengan menatapku dan mengerakkan dagunya sekali ke arahku saat mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Trus om nggak makan dan minum yang hangat-hangat juga?" Tanyaku melelidik soalnya yang aku lihat si om nyebelin hanya membawa 1 cup besar p*op mie dan satu bungkus plastik bening teh manis hangat.
Apa ne orang bener-bener nggak kedinginan gitu udah absah kuyub gitu mana hawanya juga dingin disini.
"Udah cepet makan dan minum itu nanti keburu dingin itu semua." Ketusnya datar menatap ke depan.
"Tapi om gimana?" Aku jelas sedikit khawatir juga kalau si om nyebelin ini sakit kan barabe.
"Saya sudah minum teh manis hangat tadi di sana saat menunggu pesanan ini semua untuk kamu." Tegasnya.
Aku pun langsung menyantap apa yang sudah si om nyebelin ini bawa untukku dan tanpa perlu banyak waktu semuanya sudah ludes ku lahap tak bersisa. Setelahnya kami masih berdiam di tempat ini sambil menunggu hujan berhenti.
Dan hingga hampir setengah jam berlalu dari aku menghabiskan makanan dan minumanku tadi yang di bawa si om nyebelin, hujan tak kunjung reda masih tetap turun dengan derasnya.
Hawa pun semankin dingin pakaianku yang basah serasa hampir lengket sekali di badan ini dengan rasa dingin yang menyeruak ke badanku. Walaupun tadi sudah makan dan minum yang hangat-hangat kok rasanya tidak bertahan lama. Rasa dingin yang sebelumnya terasa dingin sekali kembali melanda di badanku.
'Si om nyebelin ini apa nggak kedingan gitu? Tahan banget apa di tahan-tahan ya?' Gumamku dalam hati sambil aku terus menahan dingin yang kurasa di sekujur tubuhku.
"Kamu tunggu sebentar disini ya Alena , saya coba keluar lagi sebentar." Ucapnya si om nyebelin dan berlari kecil keluar dari tempat ini menembus kembali hujan yang masih terus turun dengan derasnya.
Aku tak tau si om nyebelin mau mencari apa atau melakukan apa lagi.
Aku masih terdiam disini sambil menahan dingin dan ahri semakin sore dan gelap. Saat aku pun masih terus melihat ke arah luar yang masih tetap hujan deras ku lihat si om nyebelin berlari ke arahku.
"Maaf saya tidak menemukan payung ternyata di sekitar sini tidak ada yang menjual payung dan yang memiliki payung pun hanya beberapa orang, ia membutuhkannya."
Ya ampyun si om nyebelin ini ternyata nyari payung.
Tapi untuk apalagi coba orang kita udah kena hujan duluan juga dari tadi. Apa mungkin si om nyebelin ini nggak mau aku kena hujan lagi saat akan menuju parkiran untuk masuk ke dalam mobil dan pulang gitu?
"Loh om nyari payung barusan untuk apa toh kita udah kehujanan duluan om?"
"Ya tapi kan hujannya masih sangat deras dan kita akan ke parkiran mobil lalu pulang. Saya nggak mau kamu kena hujan lagi Alena." Terangnya sesuai seperti perkiraanku.
Nah kalian pasti heran kenapa nggal si om nyebelin ini aja lari-lari ke parkiran mobil lalu ambil dan bawa mobilnya kemari dan menjemputku disini di depan tempat ini. Jadi kan aku bisa langsung masuk mobil tanpa kena hujan lagi.
Tapi sayangnya jalur keluar dari area ini untuk menuju pulang itu berlawanan arah dan tidak semudah itu.
"Ya udah om Alena nggak apa kok nggak di payung juga, lagian lari bentar aja kita ke parkiran mobilnya." Aku berucap sambil nyengir kuda kepada si om nyebelin alias suamiku yang kadang ada saja sikapnya yang di luar dugaanku, tapi membuatku seakan benar-benar dilindungi olehnya.
🍬🍬🍬
__ADS_1
Bersambung..
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰