TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 6


__ADS_3

Di sebuah taman di belakang rumah Abizar terdapat pria berpostur tubuh tinggi mengenakan baju berbahan sweeter berwarna putih dan berlengan panjang.


Namun pria itu mengulung asal kedua lengan bajunya beberapa centi hingga hampir sebatas siku tangannya. Dipadu dengan celana santainya yang panjang berwrna kream muda.


Pria itu tak lain adalah Andra adik bungsunya Abizar.


Andra sedang duduk di gazebo yang ada di taman belakang rumah ini dengan cahaya lampu di sekitarnya serta cahaya dari bulan dan bintang pada malam hari ini.


Sejak tetiba kabur dari makan malam bersama tadi Andra langsung menuju taman dan duduk di gazebo hingga kini.


Seakan bosan dengan tuduhan dari mamahnya Andra mencoba menangkan diri di tempat ini sambil menikmati udara malam ini yang cukup cerah.


"Andra kamu disini toh, Mas cari-cari loh dari tadi." Tetiba datanglah Abizar menepuk pundang adiknya itu lalu duduk tepat di sebelah sang adik.


Andra pun hanya bergeming di tempatnya duduk seakan belum mau berucap.


"Mas tau kamu pasti kefikiran sama ucapan dan tuduhan Mamah kan. Mas percaya kok sama kamu Ndra kalau kamu nggak berbuat seperti Mamah ucapkan." Terang sang abang.


"Tapi Mas, kalau Mamah terus bicara ngawur seperti tadi dan terus memaksa Andra untuk menikahi itu perempuan gimana coba?" Ungkap sang adik masih dengan menundukan kepalanya dari tadi sambil memainkan ranting yang tadi ia petik dari salah satu tangkai bunga yang ada di sekitaran taman ini.


"Ya sudah menikah saja dengan Alena." Ucap Abizar enteng.


Spontan Andra langsung menatap abangnya dengan tatapan melotot seakan tak percaya dengan apa yang dilontarkan abangnya barusan padanya.


"Katanya Mas nggak percaya dengan tuduhan Mamah kepada Andra , nah kenapa Mas malah setuju kalau Andra menikah dengan perempuan itu." Ketusnya dengan tatapan kesal pada abangnya.


"Mas memang nggak percaya sama tuduhan Mamah ke kamu Andra , tapi bukan berarti Mas nggak setuju kalau kamu menikah saja dengan Alena." Masih dengan entengnya Abizar berucap sedangkan Andra semakin kesal dan memelototkan matanya sangkin tak percayanya dengan ucapan-ucapan Abizar kali ini.


"Ini gil* Mas , rasanya semua orang di rumah ini satu persatu sepertinya sudah gil*." Gumam Andra kesal, tapi masih bisa terdengar Abizar.


" Gil* bagaimana? Anjuran menikah itu kan ibadah Andra." Tegas Abizar.


"Ya tapi bukan karena paksaan apalagi tuduhan Mas di tambah lagi tanpa cinta." Andra pun bangkit dari duduknya dan melangkah beberapa langkah ke depan mendogakkan wajahnya ke atas menatap langit malam.


"Witing Tresno Jalaran Soko Kulino Ndra , Cinta tumbuh karena terbiasa bukan?" Lontarnya Abizar kembali dengan pepatah jawa yang sudah tak asing lagi terdengar di khalayak umum.


Andra hanya bisa tersenyum kecut menanggapi lontaran Abizar yang sungguh semakin tak terduga malam ini baginya.


"Lagian Alena itu perempuan baik-baik Ndra, anak itu juga cantik bukan. Alena itu tidak pernah pacaran walaupun ada beberapa cowok mendekatinya dia tidak mau menanggapinya, kalau di fikir-fikir hal yang satu itu ada miripnya dengan kamu hehehe."


Lanjut Abizar panjang lebar kepada sang adik dengan kekehan ringan.

__ADS_1


"Tetep aja nggak kek gini juga keadaannya, Andra juga belum kefikiran ke arah sana. Andra kemari kan awalnya urusan pekerjaan ntah kenapa malah timbul masalah kesalah fahaman ini." Keluhnya dan menundukkan wajahnya memerhatikan dan memainkan kembali ranting tadi.


"Diusia mu sekarang kamu sudah sangat matang untuk menikah Andra, fikirkan masa depan asmara kamu mau sampai kapan kamu melajang seperti ini."


Abizar pun bangkit dari duduknya melangkah mendekati Andra sang adik, berhenti tepat di sebelah kanan Andra berdiri.


"Mamah sudah kepengen banget melihat anak bungsunya ini yang ia sayangi untuk berbahagia dalam sebuah pernikahan Ndra. Kamu anak baik Andra perhatian dan sopan apalagi kepada orang tua. Namun kamu melupakan beberapa yang orang tua inginkan selama ini khususnya Mamah." Terangnya lagi panjang lebar kepada sang adik mencoba dan berharap sang adik dapat berfikir lebih dewasa tentang akan kehidupan pribadinya.


"Ya , tapi Mamah nggak mikirin perasaan perempuan itu Mas main maksa menikah dan nuduh kami berbuat mes*m apa itu nggak menjadi beban bagi perempuan itu . Perempuan itu juga sahabatnya Vera keponakan Andra jelas umurnya pastikan seumuran Vera 19 tahun." Ungkapnya mengebu seakan beban masalah ini ingin Andra luapkan bertubi-tubi.


"Tidak ada masalah rasa Mas akan usia dan status Alena saat ini ia pasti akan menerimanya pelan-pelan dengan ikhlas. Dan kamu Ndra coba pertimbangkan lagi baik-baik karena ini juga harapan mamah melihat kamu menikah, jangan sampai penyakit mamah kambuh lagi seperti dulu akibat beban fikiran." Abizar pun berlalu meninggalkan Andra yang masih betah di posisinya berdiri saat ini.


Tak lama setelah Abizar pergi, Andra pun melempar asal ranting kecil yang tadi ia mainkan kesembarang tempat kemudian berjalan menuju ke dalam rumah.


🍬🍬🍬


Kini tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 00:01 namun aku belum bisa memejamkan mataku, aku belum mengantuk.


Dan tadi mencoba mengerjakan kembali tugas kuliahnya namun tidak bisa fokus hingga aku akhiri saja dari pada nggak karuan ntar isi tugas makalahnya.


" Huft haus." Monolognnya.


Akhirnya aku memutuskan keluar kamar dan turun kebawah segera menuju dapur, rasanya hausnya benar-benar tak bisa di pending apalagi belum tidur begini.


Saklar lampu pun ku tekan dan hiduplah lampu, aku pun langsung menuju bagian-bagian dapur mencari dimana tempat menyimpan gelas.


"Dimana seh gelasnya?" Lirihku merasa binggung kok belum nemu gelasnya dimana letaknya seh.


Tiba-tiba suara mengagetkanku saat aku sedang kebinggungan mencari gelas, aku tadi tidak lihat dan lupa bertanya pada Vera atau bi Minah dimana letak gelas atau piring di dapur ini.


Aku membungkukkan hampir setengah badanku giliran mencoba membuka salah satu lemari dapur bagian bawah yang terletak di ujung dapur.


Mana tau di lemari dapur bagian ini tersimpan gelasnya fikirku.


Ku buka langsung lemari dapur bagian bawah di hadapanku.


Krekk...


"Alhamdulillah, nah ini dia gelasnya." Seruku sambil mengucap hamdalah.


Ku raih satu gelas itu dari dalam lemari dapur tersebut perlahan dan ku tutup kembali lemari dapur tersebut.

__ADS_1


"Kamu mau ngapaen di dapur ini?"


"Eh setan.., setan.." Latahku menggema di dapur ini saat mendengar suara bariton itu mengejutkanku.


Hingga gelas bening berbahan kaca yang tadi sudah ku genggam di tangan kananku, spontan terlepas hingga jatuh ke lantai marmer dapur ini dengan cepatnya.


Prakk...


Dan saat aku sudah berbalik badan dengan sempurna karena kurasakan suaranya tadi berasal dari belakang badanku.


Ternyata eh ternyata suara bariton tadi yang tak lain adalah si om ganteng yang nyebelin itu.


Ntah sejak kapan om nyebelin ini muncul dan sudah ada tepat di belakangku berjarak kurang dari satu meter dengan bokongnya bertopang pada kitchen set dan tangannya bersedekap serta tatapannya datar menelisik diriku.


"Astagfirullahaladzim." Lirihku mencoba menenangkan diriku sendiri.


Yah aku seakan ketanggap basah lagi nyolong aja seh, padahal cuma mau minum karena tetiba aku merasa haus.


Oya kadang aku bisa latah tak terduga kalau kaget tapi lebih sering tidak latah sih.


Aku tak menghiraukannya dan langsung berjongkok hendak memunguti pecahan gelas yang berserakan tadi di lantai marmer dapur ini.


"Auww " Pekikku saat jari telunjukku ternyata tersengat pecahan gelas kaca itu dan mengeluarkan darah segar dengan cukup deras.


"Kamu kenapa?" Refleks si om ganteng tapi nyebelin itu menghapiriku dan berjongkok tepat di sebelah sisi kiriku.


Dan tanpa di duga si om nyebelin ini malah menarik jari telunjukku yang terluka, kemudian dengan cepat ia memasukan jari telunjukku yang terluka dan berdarah tadi ke dalam mulutnya.


Tanpa rasa jijik si om itu mengemut telujukku yang terluka tadi dan menghisap darahnya beberapa detik.


"HEI KALIAN LAGI NGAPAEN DISITU?"


Sontak aku dan si om nyebelin ini menoleh ke sumber suara dengan mata terbelalak karena terkejut.


Sialnya lagi si om masih menyesap telunjukku yang terluka tadi dan posisi kami masih berjongkok dengan jarak begitu dekat.


'OMG cobaan apa lagi sekarang, yang kemarin sore aja belum kelar kenapa ini seakan nambah lagi.' Pekikku dalam hati.


🍬🍬🍬


Bersambung...

__ADS_1


Hayo siapa kira-kira yang memergoki si om dan si Alena di dapur..? 😁🤣


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰


__ADS_2