TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 9


__ADS_3

Aku pun melangkahkan kakiku menuju pintu utama untuk langsung saja membuka pintunya, tanpa harus ku chek dari jendela siapa gerangan yang bertamu malam ini.


Ceklek...


Terbukalah pintu utama dan pertama yang aku lihat adalah kakek-kakek gagah itu beserta nenek-nenek fashionable itu yang tak lain adalah eyang-eyangnya sahabatku si Vera.


Sungguh aku terkejut hingga mataku sedikit terbelalak dan mulutku sedikit ternganga.


Detak jantungku pun tiba-tiba berpacu lebih cepat, namun aku yakin ini bukan karena jatuh cinta tapi rasa takut.


Ya takut dengan kedatangan mereka yang aku juga belum tau pasti sih tujuannya apa?


Hanya takut kalau-kalau apa yang di tuduhkan si nenek fashionable itu kemarin-kemarin padaku bersama si om nyebelin itu ia ungkapkan kepada kedua orang tuaku.


Padahal jelaskan itu semua salah faham dan hanya tuduhan semata bukan fakta yang sebenarnya terjadi.


Mau apa eyang-eyangnya si Vera datang ke rumahku ? Aku berusaha agar terlihat biasa aja.


Eyang-eyangnya Vera masih di depan pintu utama rumahku hingga suara mama mengema dengan lembut.


"Saha neng nu namu?" Tanya Mama seraya berjalan menghampiriku dan melirik kepada pintu utama yang sudah ku buka tadi.


( Siapa neng yang bertamu ? ) .


"Ah..i...ini Mah ..?" Ucapanku serasa sedikit terbata sangkin deg degkan karena takut dan binggung.


Sungguh aku takut kesalah fahaman ini termakan mentah-mentah oleh kedua orang tua ku, jika si nenek fashionable ini menyampaikannya.


Ucapanku pun terpotong sebelum benar-benar aku lanjutkan hingga selesai, saat mama pun sudah berada di samping ku tepat di depan pintu utama berhadapan dengan kedua eyangnya si Vera.


"Assalamu’alaikum." Salam kedua eyangnya Vera.


"Wa’alaikumsalam." Balasku dan mama namun suaraku terdengar lirih dari suara mama.


Aku pun menyalami dengan takzim kedua eyangnya Vera, tetap berusaha sopan karena orang tua ku selalu mengajarkan begitu.


"Perkenalkan saya Saputri Rahmawati dan ini suami saya Ahmad Abraham." Ucap si nenek fashionable itu dengan ramah memperkenalkan dirinya dan suaminya si kakek gagah itu dengan di akhiri uluran tangan kepada mamaku.


" Saya Lilis Rosyida." Ujar mama ramah sambil menyambut uluran tangan si nenek fashionable itu dan bersalaman.


Sedangkan kepada si kakek gagah itu mama hanya menangkupkan kedua telapak tangan mama di depan dada.


Dan di balas anggukan dan seutas senyum ramah dan sopan oleh si kakek gagah itu.


"Silahkan masuk ibu , bapak." Mama pun dengan ramahnya mempersilahakan mereka untuk masuk.


Mereka pun masuk perlahan dengan mama berjalan di depannya menuju kursi ukir kayu jati jepara yang ada di ruang tamu kami, mama mempersilahkan mereka sebagai tamu untuk duduk.


Aku masih bengong di posisiku tadi hingga papa muncul tiba-tiba.


"Assalamu’alaikum." Salam Papa.


"Wa’alaikumsalam." Balasku yang masih mematung di depan pintu dibarengi suara serempak dari mereka yang sudah duduk di ruang tamu di sertai lirikan mata mereka menelisik ke arah depan pintu.


"Lena kamu ngapaen berdiri disitu? " Ujar sang Mama, aku hanya membalas dengan senyum kikuk.


Papa dengan stelan baju koko dan sarungnya serta peci yang menutup setengah kepalanya baru saja sampai di depan pintu utama rumah kami. Kemudian masuk dan menuju kursi ruang tamu yang agak kedalam dan tidak begitu terlihat jika dari pintu utama rumah kami ini.


"Ada tamu toh rupanya?" Ujar papa.


"Papa kok baru pulang?" Mama langsung bertanya pada papa


Iya tadi selesai sholat isya berjamaah di mesjid di ajak ngobrol sebentar sama pak RT, terus tetiba kunci motor p


Papa ilang gitu makanya baru pulang." Jawab papa menjelaskan secara singkat, dan tepat.


Papapun menyalami si kakek gagah itu dengan berjabat tangan dan si nenek fashionble itu dengan menangkup kedua telapak tangan papa di depan dada.

__ADS_1


"Jadi udah ketemu apa belum kunci motornya Pa?" Mama bertanya lagi.


"Alhamdulillah sudah Mah." Jawab papa singkat lalu mendaratkan bokongnnya di atas kursi ukir jati jepara duduk di sebelah Mama.


" Perkenalkan Pak saya Ahmad Abraham dan ini istri saya Saputri Rahmawati." Sekarang giliran si kakek gagah itu memperkenalkan dirinya dan istrinya kepada papa.


"Saya Sutrisno Papanya Alena." Balas papa singkat dan tepat dengan ramah.


"Neng bikinin minum ya buat tamu kita." Titah sang mama.


Aku pun mengiyakan perintah mama dengan anggukan dan mulai berjalan menuju dapur.


Namun langkahku terhenti ketika mendengar ucapan salam.


"Assalamu’alaikum." Salamnya.


"Wa’alaikumsalam." Di jawab serempak oleh kami semua yang ada di dalam ruangan ini.


"Eh kamu nak, ayo masuk-masuk." Ada apa ini kok Papa seakan sudah kenal dan akrab dengan ne orang.


Orang tersebut pun masuk setelah melepas sepatunya.


"Bapak Sutrisno kenal dengan anak saya ini? " Ucap si nenek fashionable itu merasa heran dan kanget.


"Baru kenal tadi Mah waktu di mesjid." Jawab orang itu siapa lagi kalau bukan si om nyebelin itu.


"Oo, tadi kamu izin keluar bentar ternyata mau ke mesjid dulu untuk sholat isya toh Ndra." Nah kali ini suara si kakek gagah itu yang berucap selalu terlihat santuy si kakek gagah itu.


Kok bisa sih papa ketemu sama si om nyebelin itu di mesjid kompleks ini kebetulan atau takdir sih, aku berasa gimana gitu.


"Loh jadi lelaki tampan ini putra ibu dan bapak?" Celetuk si papa.


Ih si papa pake dikatain ganteng segala lagi tu om nyebelin, pasti tu kupingnya naik dah setelah dipuji ganteng oleh papaku.


Mereka pun tertawa lirih dan aku langsung berlalu menuju dapur untuk membuat minuman untuk tetamu malam ini.


🍬🍬🍬


Kini aku baru kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan berisikan minuman teh hangat sebanyak lima cangkir di sertai satu piring yang berisikan potongan-potongan brownis coklat buatan mama tadi siang.


Kalian tau kan mamaku ini doyan bikin-bikin kue selingan mama selain menjadi IRT dirumah sendiri dan merangkap pemilik beberapa butik busana muslim di kota ini.


Ku letakkan semua sajian tadi ke atas meja ruang tamu, aku pun hendak berdiri sempurna dan kembali ke dapur dengan membawa nampan almunium ini.


Tapi mama menghentikan pergerakanku dengan kata-katanya.


"Neng mau kemana? Disini aja atuh sini duduk sebelah mamah!" Titahnya tegas dan aku hanya bisa pasrah dengan ucapan mamah barusan.


Aku pun duduk tepat di sebelah sisi kiri mama dan papa duduk tepat di sebelah sisi kanan mama dalam satu kursi yang memanjang dan cukup lebar.


Sedangkan para eyangnya si Vera tepat duduk dihadapan kami dengan posisi si kakek gagah itu berhadapan dengan mama dan si nenek fashionable itu berhadapan dengan papa dan dengan kursi yang sama panjang dan lebarnya seperti kursi ukir yang kami duduki.


Nah si om nyebelin itu duduk di kursi terpisah namun tepat  di sisi kanan papa tepatnya ia duduk di single seat.


"Silahkan ibu, bapak dan nak Andra di minum tehnya dan cicipi bolu brownisnya yang tidak seberapa." Ucap Mama mempersilahkan dengan ramahnya.


"Nak Andra ini lo yang tadi menemukan kunci motor papa yang ternyata tercecer disekitaran halaman perkarangan mesjid komplek kita." Ungkap papa pada semua yang ada di ruang tamu ini.


"Oo, begitu toh pak." Ucap si nenek fashionable itu merespon.


"Kalau begitu nak Andra ini Om kandungnya Vera dong kalau papanya Vera adalah abang kandungnya nak Andra." Tanya papa dengan nada memastikan secara langsung.


"Iya pak." Jawab si kakek gagah itu singkat.


Papa pun hanya mangut-mangut menanggapinya.


"Neng kamu kenapa nggak bilang dari awal tadi kalau mereka ini keluarganya Vera." Ucap mama dan aku hanya merespon dengan senyuman terpaksa.

__ADS_1


Duh ne jantungku debar-debar terus takut dan was was tau.


"Maaf jika kedatangan kami ini terkesan mendadak dan tanpa sepengetahuan bapak dan ibu terlebih dahulu." Ucap si kakek gagah itu.


"Iya tidak apa-apa pak , lantas ada kepentingan apakah yang membawa bapak, ibu dan nak Andra ini kerumah kami." Tukas papa serius.


"Jadi begini ya pak Sutris dan bu Lilis kedatangan kami kemari bermaksud untuk melamar Alena putri bapak dan ibu untuk anak kami Andra."


DEG...


Bagai petir menyambar jantungku semakin berpacu lebih kencang, kenapa jadi beneran melamar tanpa basa basi.


Ya Allah eneng teh can siap atuh ari kudu nikah muda secepat ini.


( Ya Allah eneng ini belum siap dong jika harus nikah muda secepat ini ).


Dosa naon abdi teh ya Alloh hampura ya Alloh..!!


( Dosa apa saya ini ya Allah mohon ampunan ya Allah..!! ).


Mama papa pun terkejut akan niatan mereka yang baru saja di lontarkan oleh si kakek gagah itu.


Terlihat mama dan papa membelalakan kedua bola matanya masing-masing dan berpandangan sedangkan aku terpelongo dengan mata terbelalak juga kemudian menundukan kepala.


Karena merasa takut dan malu dalam waktu bersamaan.


Si om nyebelin itu malah anteng-anteng bae dengan expresi datarnya yang sok beku kek prezer.


"Apa saya tidak salah dengar ya pak ?" Celah papa merasa ragu akan apa yang di dengarnya barusan.


" Kami serius ingin melamar Alena putri bapak untuk putra bungsu kami Andra." Suara yang seakan mengulang ucapan tadi bernada tegas dan itu adalah suara si nenek fashionable itu.


Mama dan papa pun kembali merasa heran dan tatapannya menelisik kepada mereka dan terakhir jatuh kepadaku yang masih menunduk dengan memainkan jari jemariku.


Aku gugup dan takut-takut ntah apa yang ada di fikiran kedua orang tua ku saat ini akan hal ini.


" Bagaimana Alena apakah kamu manerima lamaran ini?"


Papa langsung menanyakan jawabanku sekarang.


Ini gil* kenapa papa yang langsung bertanya kepadaku hal ini membuat aku jadi makin gugup.


Apalagi ada nada berbeda saat papa berucap tadi padaku yang sulit aku artikan dan itu jelas membuat aku malah menjadi semakin takut-takut.


Aku harus jawab apa jadi merasa serba salah.


Jujur aku tak ingin menikah secepat ini apalagi dengan si om yang nyebelin ini dan itu tanpa cinta.


Si om nyebelin ini malah enteng aja sih nggak bereaksi nolak gitu kayak sebelum-sebelumnya kan ni om nyebelin selalu duluan menyuarakan penolakannya dan bantahannya.


Ini kenapa beneran beku kayak prizer sih ini om nyebelin dan bener-bener makin nyebelin ni om-om.


Aku masih diam belum bersuara dan kedua eyangnya Vera serta kedua orang tua ku terus menatap ke arahku yang juga aku masih menunduk.


Hanya si om nyebelin itu yang dari awal datang kemari banyakan menatap ke lain arah dan bersikap sok beku kayak prezer.


"Bagaimana nak Alena?" Suara itu keluar lagi dan itu jelas suara si kakek gagah itu dengan nada selow.


Apa aku harus jawab sekarang ya , kok jadi terintimidasi gini sih kesannya.


Duh kenapa tetiba jadi kelu lagi sih ni lidahku setiap berhadapan dengan si nenek fashionable itu.


🍬🍬🍬


Bersambung...


Salam sehat selalu ya all dari @riritambun 🥰

__ADS_1


__ADS_2