TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 28


__ADS_3

"Alena."


"Eh kak Fandi."


"Belum pulang?"


"Belum kak, Lena lagi nunggu jemputan kak." Ucapku dengan cengiran.


Kak Fandi tiba-tiba sudah muncul duduk di sebelahku aku tak menyadarinya, karena sibuk melamun sambil memikirkan kenapa si om nyebelin belum juga tiba.


Kami berada di sebuah tempat khusus yang memang sengaja di buat di sekitaran gerbang utama untuk para mahasiswa/i menunggu jemputan atau sekedar duduk-duduk saja. Hujan kini sudah cukup mereda hanya saja masih gerimis mengundang cukup deras.


Aku mencoba mengirim pesan kepada si om nyebelin menanyakan dimana kah ia berada, apakah sudah dalam perjalanan ke kampus untuk menjemputku?


[ Assalamualaikum. Om dimana? Kok belum nyampe-nyampe sih di kampus ? Lena kan udah nungguin om dari tadi tau.] Send.


Pesanku pun terkirim kepada kontak si om nyebelin melalui aplikasi berlogo hijau itu. Namun , ku lihat masih centak satu berwarna abu-abu.


'Apakah nomor si om nggak aktif ya? Tapi tumben.' Fikirku membatin.


"Gimana udah mau sampai belum jemputannya?" Tanya kak Fandi dengan menatapku, ntah kenapa sejak aku memberikan kartu undangan resepsi pernikahanku kala itu tatapan kak Fandi terhadapku seakan berbeda dari biasanya dan itu sulit sekali kuartikan.


"Belum tau ne kak Lena baru aja coba WA lagi tanya udah sampai mana?" Terangku apa adanya.


"Coba telpon aja langsung Len biar lebih jelas soalnyakan udah malam ntar lagi kampusnya bakal makin sepi dan tutup." Aku pun mencoba saran kak Fandi barusan, karena dari tadi aku sudah menunggu.


Tak biasanya si om nyebelin tidak on time begini bahkan sudah lewat berjam-jam lamanya seperti ini. Ku tekan kontak si om nyebelin melalui panggilan suara dari aplikasi berlogo hijau itu , tapi kok tidak nyambung ya?


Lalu ku chek pesanku tadi ternyata masih centak 1 berwarna abu-abu seperti beberapa menit lalu. Tak tunggu lama aku langsung beralih ke panggilan telepon biasa ke nomor kontak si om nyebelin.


'Nomor yang anda tuju sedang diluar jangkauan, anda dapat melakukan pesan suara setelah dana berikut.'


Tutt...Tutt...Tutt...


Langsung ku matikan saja ternyata suara operator yang menjawab panggilan teleponku barusan.


"Kenapa kontak si om nyebelin nggak aktif sih?" Pekikku dalam hati.


"Gimana?" Aku menggeleng saat kak Fandi bertanya.


"Kenapa, nomornya nggak aktif?" Aku mengangguk sebagai jawaban saat kak Fandi bertanya lagi.


Kami hening untuk beberapa waktu sambil aku masih mencoba menghubungi nomor kontak si om nyebelin dan masih saja sama tak aktif.


"Kalau kakak antar saja kamu pulang, gimana Alena?" Aku menimang-nimang gawaiku sambil memikirkan pernawaran kak Fandi padaku saat ini.


Jelas aku bingung mau menolak jelas hari semakin malam walaupun baru jam setengah 7 malam belum malam banget sih. Tapi kan kampus sudah mau sepi dan tutup si om nyebelin juga takutnya memang lagi nggak bisa jemput makanya dari tadi kok nggak muncul-muncul kan aneh juga.


Namun , mau menerimanya aku juga merasa tak enak karena aku sudah berstatus istri orang. Mau izin dengan si om nyebelin juga nggak bisa saat ini karena nomor kontaknya tak aktif. Walaupun ya jelas aku dan kak Fandi hanya sebatas seorang adik tingkat dan katingnya ibarat juga hanya teman biasa.


"Udah tenang aja ntar kakak yang langsung menghadap dan laporan kepada pak komandan mu Lena agar ia tak salah faham tentang kita. Ini sudah malam kampus juga sudah sepi dan akan segera di tutup." Seakan kak Fandi tau dengan apa yang aku fikirkan dan aku khawatirkan, hingga ia pun mau memberi solusi dari ucapannya barusan.


Aku pun tersenyum sambil menganggukkan kepala dengan pelan sebagai tanda aku menyetujui tawaran dan ide kak Fandi.


"Kalau gitu kakak ambil mobil kakak dulu disana oke!" Ucapnya sambil menunjuk ke arah yang akan kak Fandi tuju.


Kak Fandi pun berlalu berjalan menuju parkiran mobil depan khusus mahasiswa/i dan aku kembali menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Terima kasih ya kak, maaf Lena jadi merepotkan kakak." Ucapku tulus dan sungguh tak enak hati padanya , tapi mau bagaimana lagi dari pada dari pada.

__ADS_1


Rasaku juga aku akan lebih aman jika di antar pulang saja kali ini oleh kak Fandi , habis si om nyebelin memang kan selalu nyebelin deh. Bisa-bisanya dia tidak mengabari apalagi menjemputku pulang kampus kali ini. Mana nomor kontaknya pake di matikan segala.


Apa si om nyebelin udah mulai bosen ya berbaik hati dan sikap lagi terhadapku? Ahhrg..., kok aku jadi begini sih?Berasa nggak rela gitu kalau nggak di perdulikan oleh si om nyebelin.


"Udah jangan bilang begitu Alena , kakak nggak pernah merasa di repotkan oleh kamu lagian kan bukan kamu yang memintanya. Malainkan kakak yang menawarkan diri dengan ikhlas untuk mengantarkan kamu pulang." Kak Fandi berucap dengan terus menatap lurus ke jalan sambil menyetir mobilnya.


Ya kami sekarang sudah berada di dalam mobil dan sudah mulai berjalan pelan menuju pulang ke rumahku.


"Oya Alena apa kamu tidak lapar? Ini juga sudah hampir jam 7 malam, bagaimana kalau kita mampir sebentar sekedar untuk mengisi perut terlebih dahulu sebelum menuju rumah kamu Len?" Ucapan kak Fandi memang benar aku lapar apalagi hujan deras dari tadi menguyur kota ini.


Bahkan sekarang pun masih rintik-rintik diluar dan itu membuat udara tetap dingin. Kalian pasti tau jika udara dingin dan hujan masih mengguyur di luaran walaupun ngerimis mengundang, tapi cukup deras setelah hujan lebat. Nah pasti hawa lapar itu akan bergemuruh bukan di dalam perut kita saat situasi seperti ini.


Cacing pun bahkan bisa berdisko lemah di dalam sana, tapi suaranya bisa begitu kuat hingga terdengar dari balik perut dan baju kita karena efek lapar. Namun , untung kali ini cacing di dalam perutku belum mengeluarkan suaranya. Hanya masih berdisko lemah di dalam sana sebagai isyarat bahwa ia dan aku mulai lapar.


Dengan terpaksa kali ini aku iyakan ajakan kak Fandi untuk mampir mengisi perut terlebih dahulu sebelum menuju pulang ke rumahku. Ini pertama kali aku dengan terpaksa mau ikut ajakan kak Fandi setelah aku menikah.


Sebelumnya aku memang sudah pernah beberapa kali makan bersama kak Fandi atau ajakan kak Fandi, kalau tidak makan di kantin kampus ya ke perpustakaan kampus hanya itu.


Kami pun tiba di sebuah cafe anak muda biasa nongkrong dan makan di sekitaran kota Jakarta. Tanpa menunggu lama pesanan kami pun tiba aku pun makan dengan lahapnya karena memang aku sebenarnya sudah lapar, bahkan aku tanpa malu memesan dua menu atau dua porsi makanan sekaligus plus pake nasi putih dan dua gelas lemon tea hangat plus satu botol sedang air mineral.


Selain teman-temanku khsusnya yang segenk , kak Fandi juga memang tak heran dan tau akan hal itu. Karena di kantin kampus pun aku kadang mau memesan dua porsi makanan dan juga dua gelas minuman bahkan juga di tambah air mineralnya satu botol sedang. Namun , dua porsi yang ku maksud tidak sama menunya melainkan berbeda, yang sering sama itu minumannya tapi dua porsi.


Alhamdulillahnya walau begitu perutku tidak pernah terlihat buncit begitu juga badanku tetap stabil saja bobotnya alias tidak gendut hehe.


"Porsi makan kamu tetap sama ya Alena tidak berubah hehe." Kekehnya kak Fandi menanggapi ulah makanku malam ini.


"Hehe..Lapar kak." Cengirku dan berucap sambil melanjutkan makanku yang sedikit lagi akan kandas.


Tak lama aku dan kak Fandi pun keluar dari cafe tersebut, kak Fandi pun mulai kembali melajukan mobilnya.


🍬🍬🍬


"Terima kasih ya pak Alvian atas solusi dan bantuannya." Ucap pak Damar client baruku, minggu depan aku akan mendampinginya ke pengadilan sebagai kuasa hukumnya.


"Sama-sama pak Damar terima kasih sudah mempercayakan saya sebagai kuasa hukum bapak nantinya." Ucapku lugas dan tulus.


"Ya itu juga sebenarnya tidak luput dari rekomendasi pak Wijaya yang telah menginfokan kepada saya akan kinerja anda pak Alvian yang selalu amanah dan tegas mendampingi para client anda. Itu juga terbukti dari bagaimana pak Wijaya menceritakan yang ia alami dulu kepada saya tentang ia yang tersandung kasus fitnah. Pak Wijaya berkata pak Alvian lah yang kala itu sebagai pendamping dan kuasa hukumnya dengan sebaik mungkin telah menyelamatkan beliau dari fitnah itu." Terang pak Damar padaku.


"Semua itu atas izin Allah pak, saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lalukan saja. Karena itu juga sudah menjadi tanggung jawab saya dan profesi saya pada mestinya." Ucapku apa adanya.


"Ah pak Alvian ini merendah hehe. Baiklah kalau begitu saya pamit dulu ya pak Alvian sampai berjumpa minggu depan." Ucapnya seraya akan melangkah menuju pintu untuk keluar dibarengi oleh ku yang akan mengantarkannya ke pintu depan cafe ini.


Aku pun membalasnya dengan anggukan sekilas setelah pak Damar mulai keluar dari cafe ini. Hari ini aku sedang berada di cafe dimana cafe ini adalah salah satu bisnis kuliner yang aku jalankan bersama beberapa orang-orang kepercayaanku beberapa tahun lalu hingga kini.


Aku pun kembali melangkah masuk menuju ruanganku tadi.


Karena waktu sudah memasuki bada maghrib maka aku pun segera berwudhu untuk melaksaksanakan ibadah sholat maghrib.


***


Iris mataku pun tanpa sengaja melirik ke arah ponselku yang berada di atas meja kerjaku saat aku hendak menyusun berkas-berkas yang baru saja tadi aku dapatkan dari client baruku. Aku baru saja menyelesaikan 3 raka'atku.


Ternyata tanpa aku sadari ponselku telah padam dari tadi, karena kehabisan daya dan disini pula aku baru menyadari bahwa aku belum menjemput Alena. Mataku pun melirik ke arah pergelangan tangan kananku yang di lingkari oleh arloji, melihat jam berapa kah sekarang.


"Astagfirullah ternyata sudah hampir jam 7 malam."


"Ya Allah bagaimana bisa aku melupakan pesan masuk dari Alena tadi." Aku berucap sambil mengusap wajahku gusar merasa cemas dan bersalah.


Tanpa banyak berfikir lagi aku pun langsung mengerakkan tubuh ini keluar menuju parkiran mobil dan melajukan mesin roda 4 ku menuju kampus tempat Alena berkuliah.

__ADS_1


Tadi saat Alena mengirim pesan menginfokan agar aku menjemputnya, saat itu aku memang sedang berbincang-bincang dengan client baruku. Mendiskusikan kasus yang ia hadapi dan yang akan aku tangani.


Nah setelah pesan ku baca sekilas aku lanjut berdiskusi, karena aku fikir tidak akan lama. Namun, ternyata aku keliru walaupun tidak terlalu lama setelahnya diskusi itupun selesai. Tapi aku malah tidak sengaja kelupaan, lupa menjemput sesuai waktunya dan lupa memberi kabar.


Setidaknya aku tadi harusnya mengabari Alena agar dia bisa pulang duluan menggunakan taxi oline atau lebih baik pulang bersama Vera saja biar lebih aman. Sungguh aku benar-benar kelupaan tanpa disengaja, mungkin karena tadi aku terlalu fokus juga berdiskusi masalah kasus clientku yang juga tiba-tiba datang menemui ku di cafe tanpa konfirmasi terlebih dahulu.


Apakah Alena masih menungguku di kampus seorang diri dan belum pulang hingga kini? Ntah lah aku juga tak tau, ponselku yang padam total langsung ku cas dengan pengecasan yang selalu tersedia di dalam kabin mobilku yang memang sudah ku rancang khusus pada seseorang yang ahli di bidangnya dari sejak awal saat aku sudah mulai memiliki kendaraan roda 4 ini.


Aku melajukan cukup cepat kendaraan roda 4 ku ini , walau gerimis masih membasahi jalanan yang licin akibat hujan deras yang beberapa menit lalu. Agar aku segera sampai di depan gerbang kampusnya Alena.


Sesampainya aku di depan gerbang ku lihat memang kampus sudah cukup sunyi hanya beberapa saja yang terlihat lalu lalang di sekitar kampus yang sepertinya juga memang mahasiswa.


Aku menepikan kendaraanku dan turun keluar dari mobil menerobos gerimis yang sebenarnya masih cukup deras, untuk melihat dan menanyakan Alena bila perlu kepada sang security kampus. Saat sudah benar-benar berada di depan gerbang sungguh aku tidak melihat keberadaan Alena. Hingga tiba-tiba aku mendegar seseorang bertanya padaku.


"Maaf, mas sepertinya mas ini mencari seseorang?"


"Ah iya, pak. Saya mau menjemput istri saya yang berkuliah dikampus ini. Seharusnya sudah dari sore tadi saya datang untuk menjemputnya, tapi karena ada urusan mendadak saya jadi tidak tepat waktu."


"Para mahasiswa sudah pada pulang sore tadi mas dan tidak ada jam perkuliahan malam di kampus ini. Mungkin istri mas sudah pulang dari sore tadi." Terang sang security kampus ini yang sepertinya dari awal kedatanganku ia cukup menangkap apa yang aku fikirkan.


"Terima kasih ya pak , kalau begitu saya permisi undur diri."


"Iya sama-sama mas." Balas sang security dengan ramahnya.


Aku pun kembali ke mobil dengan berlari kecil karena gerimis masih betah menguyur kota ini. Saat aku sudah di dalam mobil kembali ku coba menyalakan ponselku yang sedari tadi padam, mungkin sekarang sudah cukup terisi dayanya walaupun hanya beberapa persin karena pengecasan masih belum selesai total.


Tanpa butuh waktu lama saat ponselku sudah menyala masuklah beberapa pesan dan yang paling utama aku mengchek pesan yang memang ternyata ada pesan baru masuk dari Alena yang memang sudah beberapa jam lalu ia kirim ke kontakku yang berbunyi.


[ Assalamualaikum. Om dimana? Kok belum nyampe-nyampe sih di kampus ? Lena kan udah nungguin om dari tadi tau.]


Ya ampyun ternyata Alena menunggu cukup lama pesannya baru aku lihat dan baca sekarang. Aku langsung mencoba meneleponnya menekan panggilan suara pada kontaknya dari aplikasi berlogo hijau itu.


Tidak ada jawaban ku coba lagi hingga padam sendiri kembali, lalu ku coba panggilan telepon biasa dan nyatanya tidak aktif. Mungkin ponselnya padam karena kehabisan daya fikirku. Tapi apakah Alena sudah berada di rumah sekarang?


Aku bingung ingin bertanya kepada mertuaku melalui sambungan telepon tapi aku ragu dan merasa sudah tidak becus sebagai suami dalam menjemput istri. Nah inilah mungkin yang membuatku selama ini belum menikah juga, hingga akhirnya kini aku sudah menikah karena salah faham dan juga dorongan dari orang tua.


Kalau tidak ku rasa aku masih tetap melajang, karena aku belum layak rasanya menjadi imam apalagi imam yang baik untuk bisa membagi waktu kerjaku dengan istri atau keluarga kecilku.


Mau tidak mau aku mencoba menghubungi nomor telpon mama mertuaku apapun yang pun itu adalah tanggung jawabku. Namun , di saat aku akan menekan nomor kontak mama mertua tiba-tiba ada panggilan telpon masuk dari nomor kontak sahabatku yang bernama Reza.


Aku langsung mengangkat panggilan suara dari Reza sahabatku tersebut setelah beberapa detik.


[ "Halo.. Assalamualaikum. Ya Za ad__" ]


[ "____" ]


[ "Oke gue segera kesana sekarang." ]


Tutt...


Tutt...


Tutt...


🍬🍬🍬


Bersambung..


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰

__ADS_1


__ADS_2