
Tapi itu nyata aku melihatnya bergerak dan bibirnya pun bergerak walaupun sama pelan dan matanya masih tertutup. Aku pun dengan segera menekan tombol nurse call.
Beberapa saat kemudian perawat pun datang bersamaan dengan seorang dokter.
"Maaf bu Alena, apa yang terjadi?" Tanya sang dokter.
"Suami saya menunjukkan tanda-tanda pergerakan di telunjuk tangan kanannya barusan dok." Jawabku singkat tapi setidakmya jelas maksudnya.
Kemudian dokter pun segera memeriksakan si om. Jari telunjuk si om dari tangan kanannya kini malah semakin jelas terlihat bergerak.
"Al..Ale..na..?" Terdegar suara lirih si om yang agak terbata dari balik nasogastric tubenya , tapi cukup tertangkap panca indera telinga kami. Karena bibirnya pun terlihat bergerak pelan sekali.
"Al..Alena..?" Hingga pada akhirnya dengan perlahan kedua kelopak mata si om terbuka.
Sang dokter pun membukakan nasogastric tube lalu melepasnya secara sempurna.
"A..lena...?" Lirihnya dengan terbata.
Kini kedua bola mata mengarah memindai setiap yang ada di sekitarannya berada. Aku pun dengan segera lebih mendekatkan diriku pada si om. Kini aku sudah tepat dekat dihadapan si om dari sisi kanannya.
Si om memandangku dengan lekat seraya memanggil namaku lagi dengan nada rendah dan terbata.
"A..le..na."
"Kamu baik-baik saja kan?" Suaranya yang masih pelan terdengar seperti orang yang tengah khawatir.
Aku mengangguk pelan "Lena baik-baik saja." Jawabku dengan seutas senyum, agar si om merasa lebih lega.
Karena aku tak mau si om mengkhawatirkan aku yang memang baik-baik saja, agar tidak menjadi beban fikirannya. Apalagi ia baru saja siuman dari komanya yang mencapai hampir 2 bulan lamanya.
Matanya si om kini memindai diriku, seakan memastikan apakah yang ku katakan itu benar. "Alhamdulillah, jika kamu baik-baik saja Alena. Saya lega." Serunya pelan sambil menghela napas pelan sebagai tanda ia benar-benar lega.
"Maaf pak Liandra saya periksa kembali." Izin sang dokter dan langsung memulai memeriksa si om kembali dengan menyenterkan kedua kelopak mata si om bergantian secara pelan.
"Apa yang anda rasakan?" Tanya dokter pada si om.
"Baik." Jawab singkat si om.
"Ok, tapi jika pak Liandra mengalami keluhan kiranya bisa langsung konsultasikan kepada saya."
Si om hanya mengangguk pelan, sebagai jawaban.
"Kalau begitu saya permisi ya pak Liandra dan bu Alena." Pamit sang dokter dengan ramahnya.
"Iya dok, terima kasih." Seru ku ramah.
Sang dokter pun keluar dari kamar rawat inap ini sedangkan kedua perawat ini masih dengan tugasnya melepas secara perlahan beberapa alat yang masih menempel di bagian tubuh si om.
Aku pun dengan segera memberi kabar baik ini kepada mertuaku dan kedua orang tua ku, termasuk kepada Vera sahabatku via aplikasi berlogo hijau itu.
Kini tinggallah kami berdua kembali di kamar rawat inap VVIP ini, namun kali ini jelas berbeda karena keadaan si om sudah tak koma lagi.
Aku pun ntah tanpa sadar atau tidak malah tetiba berhambur memeluk si om rasanya ingin memastikan dengan lebih jelas lewat pelukan, kalau si om beneran sudah tidak terbaring koma lagi di atas bednya.
Aku memeluk erat si om dan si om hanya pasrah dengan perbuatanku tanpa membalas pelukanku, tak masalah sih bagi ku. Toh aku hanya menyalurkan rasa syukur dan bahagiaku saja karena si om yang sudah siuman.
"Alhamdulillah om kini sudah siuman, Alena seneng lihatnya." Ucapku masih dengan memeluk tubuh kekarnya yang terasa agak kurus dari sebelumnya itu pun jelas terlihat dengan kasat mata.
Mungkin efek koma dan hanya asupan lewat alat bantu saja si om dapat makan dan minum dan itu pun jelas berbeda dengan orang yang sehat dan tidak koma asupan makanan dan minumannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi Alena terhadap saya, setelah kejadian waktu itu?" Tanya si om di sela-sela pelukan ku kepadanya.
Mata ku berkaca-kaca terasa air bening itu ingin menerobos keluar dari tempatnya, tapi aku tahan. Rasa haru dan bahagia karena si om benar-benar sudah siuman, tapi ada juga sedikit rasa sedih jika menginggat kejadian naas yang menimpa kami khususnya si om.
Aku menghembuskan napas pelan, lalu melerai pelukkan ku pada tubuh si om dan segera mengusap air mataku asal dengan kedua tanganku.
"Setelah kejadian itu om tak sadarkan diri lalu di bawa ke RS hal itu di bantu oleh teman om yang tak sengaja lewat dan melihat kita."
Aku menjeda sejenak ucapanku, bola mataku bergerak mamandang setiap wajah si om yang kali ini begitu dekat dan tepat dihadapanku. Wajahnya tetap saja terlihat tampan dan memesona walaupun masih terlihat pucat sekali.
"Lalu setelah tiba di RS dengan menggunakan ambulan om harus di operasi, setelah operasi dan operasi pun berjalan lancar. Tapi om malah kehilangan banyak darah dan membutuhkan transfusi darah. Setelah transfusi darah selesai om malah koma, hingga hampir 2 bulan lamanya."
"Siapa teman saya yang sudah ikut membantu membawa saya ke RS Alena?" Tanya si om seakan penasaran.
"Om Reza, om. Om Reza juga ikut andil sebagai salah satu pendonor darah untuk om selain Papa Abraham." Terangku.
Si om hanya diam mendengarnya tanpa komentar atau bertanya lagi.
Aku pun kembali berucap. "Maafin Alena ya om, maafin." Ucapku tulus dengan perasaan bersalah itu jelas masih terasa oleh ku, air mataku pun tetiba malah meleleh keluar dan tak tertahan lagi.
"Apa maksud kata maaf kamu tadi Alena?" Kini sebelah alis si om terangkat matanya seakan menelisik ke arah ku.
Aku menunduk "Akibat Alena om jadi mengalami insident parah kala itu hingga berujung koma."
"Insident itu bukan karena kamu Alena, ini musibah yang sudah takdirnya." Tutur si om datar.
Aku mendongak dan memandang ke arah si om dengan dalam. "Tapi kan tetap saja, Lena merasa bersalah karena tidak bisa berbuat apa-apa kala itu om." Ucapku sendu sambil terus memandangnya dengan tatapan dalam dan derai air mata.
"Sudah jangan nangis!" Ucapnya tegas.
Eh aku malah makin mewek hiks. Tanpa di duga si om malah memegang wajahku, kedua ibu jarinya menghapus air mataku lembut. "Udah jangan nangis, kayak anak kecil aja kamu Lena." Ucapnya terdengar lembut.
Mata kami kini saling menatap malah tatapan itu serasa dalam, aku malah merasa gugup sekali. Gimana nggak gugup juga wajahku kini ditangkup si om bahkan itu membuat detak jantungku berpacu dengan kencangnya.
Batinku berkata. "Apa si om akan menciumku?" Eh aku malah memejamkan kedua mataku, apa-apaan ini ya Allah? Kok aku malah berfikir dan seperti berharap akan di cium olehnya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali lalu terdengar suara seseorang mengucapkan salam.
"Assalamualaikum." Aku cukup kenal dengan suara itu.
Dengan segera aku membuka kedua mataku lalu segera menjauhkan wajahku dari tangan si om yang masih menangkup wajahku.
"Wa'alaikumsalam." Seru kami berdua membalas salam mereka.
Mama mertua ku masuk dengan langkah lebar menuju ke arah si om.
"Andra kamu sudah siuman le..?" Mama mertua langsung berhambur memeluk sang putra bungsunya.
Lalu melerai pelukkannya dan langsung membingkai wajah si om dengan kedua telapak tangannya, mata Mama mertua menelisik dalam ke wajah dan manik si om.
"Ada yang sakit nggak Andra, terus kamu inget sama Mama dan semuanya kan Le?" Kejar Mama mertua bertanya kepada si om.
Dahi si om berkerut dan kedua alisnya saling bertautan dengan expresi wajah yang malah seakan lucu dan mengemaskan, karena Mama mertua masih membingkai wajah si om dengan sedikit menekan pelan. Mungkin efek terlalu bersemangat dan bahagia melihat putra bungsunya yang selama ini koma telah sadar kembali.
__ADS_1
"Mama ini apa-apaan sih?" Timpal Papa mertua.
"Apa-apaan bagaimana sih Pah?" Heran Mama mertua menatap tajam ke arah suaminya itu seperkian menit.
"Ya tadi Mama bilang kamu inget sama Mama dan semuanya kan Le? Kan aneh aja Mama ini." Geleng-geleng si Papa mertua.
"Ya mana tau orang habis koma sebulan lebih bahkan hampir 2 bulan lamanya, membuat memory putra bungsu kita ini hilang semua. Seperti istilahnya amnesia, kek di film-film itu loh Pah." Mama mertua menjelaskan lalu matanya kembali menatap si om penuh selidik.
"Ini realita Mah bukan film." Tegas Papa mertua sambil mengeleng-geleng kepalanya, mungkin merasa lucu sekaligus aneh dengan tanggapan istrinya.
"Alhamdulillah Andra baik-baik saja Mah dan Andra tidak amnesia." Suara deep voice si om terdengar sebagai bukti lebih nyata kepada Mamanya.
"Alhamdulillah, Papa sangat bersyukur akhirnya kamu siuman Le." Papa mertua menimpali.
Kini Mama mertua melepas kedua tangannya yang membingkai di wajah si om lalu kembali berhambur memeluk erat si om dengan penuh kasih sayang.
"Mama khawatir banget tau sama kamu Andra, semoga kejadian ini tidak terulang lagi."
"Aamiin." Sambungku bersamaan Papa mertua dan si om.
Mama mertua kembali berhambur memeluk si om dan di sambut si om dengan membalas pelukkan Mamanya, dan Mamanya malah semakin erat memeluknya.
Oalah sebegitu sayangnya lah Mama mertuaku ini kepada si om putra bungsunya. Si om pasrah saja dengan perlakuan Mamanya yang mungkin menyalurkan rasa rindu dan bahagianya.
Cukup lama Mama mertua memeluk sayang si om, hingga kemudian melerai pelukkannya setelah merasa cukup tersalurkan perasaan haru itu kepada sang putra. Hoho terlihat gumus sekali ibu dan anak ini ya ternyata.
🍬🍬🍬
"Om, wajah om udah penuh bulu-bulu halus tuh." Ucapku melirik ke arah area wajahnya yang jelas di dagu terlihat bulu-bulu mulai tumbuh , kumis tipisnyan juga menumbuh.
"Gimana kalau Lena cukurin?" Ntah keberanian dari mana aku bisa tiba-tiba punya ide dan melontarkan niatan semacam itu.
Si om melirik ke arahku dengan lirikan heran sesaat lalu kembali ke mode datarnya.
"Apa kamu nggak salah ngomong Len?" Selidiknya.
Dasar om-om, udah terlanjur terlontar oleh lidahku bagus langsung dieksekusikan aja lah sekarang. Aku langsung izin sejenak kepada si om untuk keluar barang membeli alat cukur dan sabun / gel khusus untuk mencukur. Segera aku melaksanakan niatanku tadi.
"Om Lena izin keluar bentar ya?
"Mau kemana?" Tanyanya.
"Ada deh bentaran aja boleh ya om." Tanpa menunggu jawabannya aku langsung bergegas mengambil dompetku dan melangkah keluar kamar rawat inap VVIP ini.
Kami masih di RS setelah semalam si om baru siuman, karena kata dokter besok atau lusa kemungkinan si om baru di perbolehkan pulang. Selama hmpir 2 bulan koma jelas membuat bulu-bulu mulai terlihat tumbuh di area wajah si om, walaupun terlihat sexy tapi tetep saja rasanya aku tak biasa dengan penampilannya seperti itu.
Aku pun telah tiba si mini market yang tidak jauh dari RS langsung aku cari apa yang aku butuhkan.
"Ah ini dia." Gercep aku langsung melangkah ke kasir untuk transaksi pembayaran.
Aku berjalan dengan langkah sedikit cepat menuju kembali ke RS. Saat tiba kembali ke kamar rawat inap si om, ku lihat ia sedang berdiri memunggunggi arah pintu. Tubuhnya
mengahadap kaca besar yang memperlihatkan suasana luar yang cukup ramai disana dari lantai 1 gedung RS ini.
"Assalamualaikum." Salamku pelan setelah masuk dan menutup rapat pintu.
"Wa'alaikumsalam." Balas si om, walaupun dengan suara pelan tetap bisa terdengar oleh indera pendengaran si om.
"Oh ini, yuk makanya om ikut Lena sekarang." Akupun menarik lengan kekar si om dan membawanya ke kamar mandi.
"Kamu mau apa Alena?"
"Udah om nurut aja deh kali ini sama Alena ok."
Kami sudah di dalam kamar mandi lalu ku keluarkan isi dalam keresek putih tersebut dan terpampanglah alat cukur biasa serta gel / sabun khusus untuk mencukur, sikat gigi dan 1 wadah berbentuk seperti mangkuk ukuran asbak sedang berbahan plastik yang ku letakkan di sisi atas yang masih satu bagian dengan westafel.
"Kamu mau apa Alena?" Ucap si om dengan ekspresi bingungnya.
"Ya om bisa lihatkan alat apa yang barusan Alena beli dan letakkan ini?" Ucapku seraya mata dan tangan kananku mengarah ke benda-benda tersebut.
"Lena mau bantu om mencukur bulu-bulu yang sudah tumbuh di area wajah om."
Ku cuci terlebih dahulu kedua tanganku dengan sabun pembersih tangan setelahnya segera ku ambil gel/sabun khusus mencukur ku tuang ke dalam wadah tersebut, lalu ku aduk-aduk dengan sikat gigi yang baru tadi hingga sesuai yang di butuhkan.
Saat aku akan meletakkan cream busa dari sabun/gel khusus mencukur ke wajah si om, eh ia seakan enggan. Karena ia sedikit menarik wajahnya menjauh dari ku sedangkan aku sudah berjinjit dihadapannya , efek tinggi badanku yang hanya sebatas bahu si om kurang lebih begitu.
"Om sini dong terus om agak nunduk gitu, nggak lihat Lena kesusahan ni mau kasih creamnya ke dagu dan sebagian area wajah om." Cerocosku agak ngegas.
"Udah biar saya lakukan sendiri saja." Aku menggeleng kuat tanda tak terima.
"Nggak..Nggak..Om nggak menghargai banget sih Lena udah capek-capek beli alat-alat ini, hanya untuk bisa membantu om secara langsung."
Si om pun akhirnya pasrah tanpa berucap lagi dan protes lagi ia akhirnya menundukkan tubuhnya serta menyodorkan wajahnya.
Tapi tunggu kenapa aku jadi tetiba deg deg kan begini. Terdiam sejenak kami berdua dengan kedua manik kami saling menatap. Tapi tak lama aku langsung mulai saja menyapukan busa dari sabun khusus pencukur itu ke wajah si om tepatnya ke bagian dagu dan rahang si om sampai bagian kumisnya.
Ku basuh terlebih dahulu kedua telapak tangan ku dengan air yang mengalir di kran westafel, lalu langsung membuka dan memainkan alat cukur elektrik tersebut ke bagian area wajah si om yang memang akan di eksekusi oleh alat tersebut melalui bantuan tanganku juga.
"Yess udah beres." Senyumku mengembang.
"Nah begini kan jauh jadi lebih ganteng, om." Mataku berbinar puas akan hasilnya.
'Akhirnya selesai juga mencukur si om suami.' Seruku dalam hati, lah loh kok aku jadi mengatainya om suami sih.
Aku masih memandang wajah si om yang telah bersih dan halus dengan ketampanan yang jelas makin terpancar.
Eh si om hanya menanggapinya tanpa suara dan dengan ekspresi datarnya saja. Aku palingkan wajah dan tatapanku darinya.
Ya bok kasi apresiasi gitu dengan mengucapkan kata terima kasih. Aku mengendus kesal tapi tetap dengan endusan perlahan, agar tak mencolok kalau aku tetiba kesel sama ne om-om.
Sepertinya ne orang kembali bikin aku kesel lagi setengah mati, dan sepertinya julukan si om nyebelin masih sangat cocok di sematkan untuknya dari aku.
Aku pun melangkah hendak membuka pintu kamar mandi dan keluar dari kamar mandi yang berukuran terbilang cukup luas untuk ukuran kamar mandi bagian dalam dari kamar inap kelas VVIP ini.
"Terima kasih Alena." Langkahku terhenti sejenak saat si om mengucapkan kalimat tersebut.
"Terima kasih atas semuanya khususnya selama saya koma kamu tetap setia mendampingi saya dan mendo'akan saya."
Walau dengan nada datar tapi aku sudah senang aku pun berbalik sambil berkata "Sama-sama om." Ucapku dengan senyum terbaikku.
Lalu aku pun keluar dari kamar mandi tersebut meninggalkan si om yang masih memantul wajahnya di cermin westafel kamar mandi. Ntah mengapa saat si om mengucapkan rasa terima kasihnya tadi , itu justru membuatku gugup secara tiba-tiba. Mungkin saja wajahku sudah merona hanya karena ucapannya tadi.
"Huft aku ini kenapa sih?" Pekikku dalam hati.
__ADS_1
🍬🍬🍬
"Om kok pagi-pagi gini udah rapih banget dengan stelan kantor lagi?" Tanya ku heran.
"Om mau kemana , jangan bilang om mau ke kantor." Lanjutku lagi menelisik.
"Saya bosen Alena di rumah rebahan dan hanya makan , tidur dan menonton TV atau kegiatan monoton di apartement ini. Hal itu semua sudah saya lalui selama hampir satu minggu ini." Timpal si om dengan nada sedikit kesal.
Ting Tong..
Suara bell apartement terdengar aku yang sedang menyiapkan sarapan mulai melangkah menuju pintu depan.
"Assalamualaikum." Salam Mama dan Papa mertua.
"Wa'alaikumsalam." Balasku lalu menyalimi takzim Mama mertua dan Papa mertua yang baru saja tiba di apartement kami.
Sudah 5 hari aku dan si om kembali tinggal di apartement yang tepatnya milik si om, setelah si om siuman kala itu ia di rawat dulu selama 3 hari di RS baru di izinkan pulang setelah pemeriksaan lebih lanjut dan dokter menyatakan baik-baik saja.
"Andra kamu kok pagi-pagi udah rapih dengan stelan kantor begitu?" Telisik Mama mertua dengan dahi berkerut dan mata menatap serius ke arah si om, saat melihat sang putra bungsunya dari jarak tidak jauh dengan ruang depan.
Si om pun langsung bergegas menghampiri dan menyalami takzim kedua orang tuanya.
"Andra Mama nggak izin ya kalau kamu ke kantor dan bekerja , kamu masih harus istirahat lebih banyak lagi. Tanpa mengurusi pekerjaan apalagi kasus-kasus itu."
"Mah Andra ini punya tanggung jawab khususnya mencari dan memberi nafkah ke istri Andra." Jawab si om lembut.
"Iya tapi tidak harus sekarang juga kan kamu harus mengerjakan dan menangani kasus-kasus kembali. Lagian bisnis kamu masih ada yang lain yang jauh lebih menjanjikan dan lebih aman dari sekedar bekerja di bidang hukum yang penuh resiko berat bahkan membahayakan nyawa kamu sendiri." Tegas Mama mertua.
Si om menghela nafas secara perlahan mimik wajahnya sulit diartikan.
"Ayo kita ke meja makan saja untuk segera sarapan, Papa sudah lapar nih." Potong Papa Abraham menengahi sebelum Mama mertua yang seakan ingin melontarkan ucapannya lagi yang lain.
Kami pun langsung menuju meja makan yang terletak tidak jauh dari ruang depan dan meja makan tersebut masih satu ruangan dengan dapur.
🍬🍬🍬
Tiga bulan telah berlalu tanpa terasa setelah kejadian Mama mertua yang datang kala itu ke apartement dan melarang si om untuk ke kantor bahkan bekerja kembali di bidang hukum. Dan saat itu pun si om seakan mengalah sementara untuk tidak ke kantor law firmnya kembali off dari rutinitas kerjanya di bidang hukum hingga 2 minggu lamanya.
Namun, setelahnya si om ternyata tetep menjalankan profesinya di bidang hukum walaupun Mamanya seperti dengan terpaksa membiarkannya. Kecintaan si om pada bidang hukum sungguh tak bisa diremehkan dan tak bisa di hentikan walaupun resikonya lebih besar. Aku pun sejujurnya khawatir kejadian yang membahayakan dirinya si om kembali terjadi di kemudian hari.
Tapi jawaban si om kepada kami simple sekali sebagai memberi kami pemahaman dan pengertian kembali seperti sebelum insident itu terjadi.
"Dimana pun kita berada, apapun pekerjaan kita jika ajal sudah tiba waktunya maka nggak ada yang bisa mengelak walaupun sedetik saja. Positif thinking dan berdo'a saja yang terbaik tidak usah mencemaskan hal-hal yang bahkan belum tentu terjadi." Wah sungguh si om saat melontarkan kalimat itu semua tanpa beban dan juga tanpa kecemasan , seakan apa yang pernah ia alami dan ketahui itu hanyalah insident kecil yang tak berarti.
Tidak terasa pernikahan ku dengan si om sudah memasuki usia 12 bulan, sungguh masih terbilang seumur jagung walaupun sudah 1 tahun. Dan sekitar kurang lebih 1 bulan lagi aku akan melaksanakan ujian semester 6.
Seperti biasa aku lebih sering di antar dan di jemput ke kampus oleh si om. Kecuali jika si om ada jadwal dadakan atau yang bentrok dengan jadwal ia ke pengadilan, kantor kejaksaan dan kantor polisi atau sejenisnya.
___
"Huft segernya udah mandi." Aku keluar dari kamar mandi masih menggunakan kimono handuk dan rambutku pun terbungkus oleh handuk.
Lalu langsung melangkah menuju meja rias dan mendudukan bokongku di kursi yang tersedia selalu di depan meja rias tersebut. Aku mulai mamakai diodoran ke kanan dan kiri ketiku, setelahnya mataku baru menyadari jika di atas meja rias ini di bagian sisi kiri tergelatak sebuah benda berbentuk persegi dengan ukuran yang terbilang kecil tidak besar juga tidak.
Kuraih kertas memo berukuran kecil berwarna kuning yang bertuliskan tulisan tangan dengan tinta cair berwarna hitam. Yang berada tepat di atas kotak persegi tersebut.
Ku telisik tulisannya "Tulisannya rapih dan bagus banget" Puji ku melihat tulisan yang memang bagus.
Aku mulai membaca isi tulisan di kertas tersebut.
Happy Milad Alena.
Semoga suka , from Liandra.
Tanpa di duga jantungku seakan maraton dan bibirku tertarik ke atas hanya karena isi tulisannya.
Jadi ceritanya kotak persegi itu adalah kado ultah untukku dari suami ku si lelaki nyebelin yang udah om om. Ya ampyun nggak pernah sedikit pun aku membayangkan si om nyebelin itu akan semanis ini pada ku di saat besok adalah tepat tanggal ulang tahunnya. Besok juga genap usiaku menginjak 20 tahun.
Kotak itu dibungkus dengan pembungkus berwarna hitam polos dengan di padukan ikatan pita jepang yang dirangkai cantik seperti bunga berwarna silver mengkilat.
Ku letakkan kertas bertuliskan tadi lalu kuraih kotak tersebut sambil memandangnya dengan terheran-heran.
"Ini beneran dari si om nyebelin kah? Aku nggak sedang mimpi bahagia kan?"
Refleks ku cubit sebelah pipiku geram. "Auww." Ternyata sakit berarti ini bukan mimpi.
"Dari mana si om nyebelin itu tau kalau besok adalah tanggal ulang tahun ku?" Ku bolak balik kotak kado ini dengan kedua tanganku.
"Isinya apa yach...?" Jujur aku keheranan , aku juga penasaran di tambah tak menyangka apakah bener ini ulah si om nyebelin itu? Tapi ini nyata bukan mimpi.
Ku menimang-nimang kotak ini berfikir haruskan kutanyakan atau ku buka saja langsung. Si om masih belum pulang dari urusan pekerjaannya hari ini. Sedangkan aku sore ini baru saja pulang dari kampus beberapa menit lalu.
Setelah ku timang-timang dan ku fikir-fikir akhirnya ku buka saja kado ini, wong jelas kok di memonya tertera namaku.
Ku lepas perlahan pita berwarna silver mengkilat yang terbentuk indah dan cantik itu, berlanjut membuka kertas kadonya yang berwarna hitam pekat tanpa motif sedikitpun. Tapi sungguh bungkus kadonya terlihat cantik dan elegant, dan aku menyukai hasil pakingannya.
"Panasaran apa sih isinya." Monologku sambil terus membuka kertas kadonya.
"Longines." Lirihku.
Tertulis jelas tulisan tersebut di atas kotak yang baru saja ku buka bungkus kertasnya.
Ku buka segera kotak tersebut tanpa menunggu lama. "Cantik." Lirihku kembali dengan mata berbinar dan dada berdebar karena terharu dan bahagia.
Ku raih arloji wanita yang simple tapi sungguh elegant. Dengan kepala jamnya berbentuk lingkaran dan talinya berwarna merah maroon, dalam bagan luarnya berwarna silver serta bagan diameter atau lingkaran di dalamnya berwarna putih serta jarum jamnya yang berwarna silver.
Di dalam arloji itu angka waktunya menggunakan mata-mata kecil dari diamond dan selain itu di dalam bagan arloji juga terdapat angka tanggal dari angka 1-31. Sungguh arloji ini begitu cantik elegant.
"Ya ampyun ini kan arloji mahal banget dan branded dari Swiss lagi, si om ini ngapaen juga coba kasih kado semahal ini." Cerocos ku pada diriku sendiri sambil terus memandangi arloji mewah ini dengan perasaan berseri-seri.
Akhirnya ku coba pasangkan di pergelangan tangan kiriku, woww begitu indah dan terlihat begitu elegant kesannya setelah benda mewah itu bertenger sempurna di pergelangan tangan kiriku.
"Walaupun hanya begini caranya dia memberi kado, tapi so sweet juga si om nyebelin itu. Namun, dari mana si om tau tanggal lahirku?" Lagi-lagi pertanyaan itu tertera di benakku.
"Terus kok bisa-bisanya tu si om pake kasi kado segala, nah aku apa kabar ultahnya aja aku nggak tau boro-boro mau kasih kado apalagi yang semahal seperti ini." Cerocos ku sambil aku pun senyum-senyum sendiri dan tak henti-henti mata ini berbinar memandangi arloji berkelas ini.
Ternyata ada sisi lain lagi yang baru saja aku temukan dari seorang Liandra Alvian Abraham si lelaki dewasa yang bagi ku selalu nyebelin dan dingin kek freezer.
🍬🍬🍬
Bersambung...
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰
__ADS_1