
POV ANDRA.
Sekarang aku sudah berada di RS, dan di dalam ruangan sana Alena sedang di tangani oleh dokter dan beberepa perawat.
Aku duduk dengan bagian keningku bersandar di atas kedua telapak tanganku yang ku tangkupkan dengan kedua siku tanganku menopang di atas kedua lututku, aku menunggu di kursi tunggu yang telah tersedia dengan perasaan cemas dan juga rasa bersalah.
Di RS ini sudah sangat sunyi karena ini sudah pukul 01 :40 wib , tapi untungnya masih ada dokter jaga yang memang sedang bertugas hingga dini hari.
Kudengar suara beberapa langkah seperti melangkah ke arah sini.
"Nak Andra apa yang terjadi dengan Alena?" Aku mengangkat kepalaku saat pertanyaan itu terdengar tepat di depanku.
Ada Mama Lilis ibu mertuaku kini sedang berdiri tepat di hadapanku yang terduduk frustasi di kursi tunggu ini tadi seorang diri.
Aku bangkit dari dudukku dan ku salim takzim Mama Lilis begitu juga dengan Papa Sutrisno, yang baru saja tiba di RS ini. Tadi setelah dokter datang hendak menangani Alena aku langsung mengabari kedua orang tua Alena dan berlanjut mengabari orang tuaku.
"Alena mengalami pendarahan Ma." Aku menjawab , setelah aku berucap demikian aku kembali menunduk.
"Dimana sekarang Alenanya Nak Andra?" Kini Papa Sutrisno bertanya.
Ku dongakkan kepalaku kembali. "Sedang di tangani dokter di ruang seberang ini Pa." Jawabku lagi.
Kemudian deru langkah kembali mengarah ke arah sini, aku menoleh ke sumber suara langkah itu yang ternyata Mama dan Papa ku baru tiba.
"Lek apa yang terjadi , kenapa Alena Lek?" Mamaku bertanya bertubi-tubi padaku saat sudah berada di sebelah ku berdiri kini.
"Lena sepertinya mengalami pendarahan Ma." Jawabku lesu.
Mama terdengar menghela nafas pelan lalu kembali berucap. "Apa Alena sedang hamil Ndra dan kenapa bisa pendarahan?"
Aku membeliakan mata saat mendengar Mama ku berkata apa Alena hamil?, hingga akhirnya aku mengeleng lemah dan berucap. "Andra nggak tau pasti Alena kenapa Mah, begitu juga Andra nggak tau apakah Alena hamil atau tidak. Yang Andra tau Lena mulai mengeluarkan darah saat kami sel___"
Pintu terbuka dari ruangan yang disana Alena sedang di tangani dan munculah dokter perempuan berhijab, sebelum kalimatku sepenuhnya selesai terucap.
Aku langsung melangkah lebar menuju sang dokter berhijab itu. "Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanyaku dengan penuh kecemasan.
"Sebaiknya Bapak ikut keruangan saya sekarang, biar saya jelaskan disana." Dokter berhijab itu pun melangkah menuju ruangannya dan diikuti oleh ku dari arah belakang.
"Silahkan duduk Pak." Seru dokter berhijab yang menangani Alena.
Ia merupakan dokter spesialis kandungan ( SpOG ) yang ternyata tengah malam ini baru saja menagani pasien melahirkan normal di RS ini, sebelum beberapa menit setelahnya kami sampai di RS ini.
Aku langsung mendudukan bokongku di kursi yang telah di sediakan tepat di sebrang meja kerja sang dokter, tanpa berucap. Fikiranku samakin cemas setelah aku harus di panggil ke ruangan ini oleh sang dokter.
"Begini ya Pak, istri Bapak___"
Tokk
Tokk
"Ya."
Muncullah sebagian badan dari seseorang yang mengetuk pintu ruangan sang dokter, lalu berkata.
"Maaf bu dokter saya menganggu, bolehkan saya masuk?" Ternyata yang mengetuk pintu ruangan dokter ini adalah Mama ku.
"Maaf ibu, ibu ini siapa dan ada kepentingan apa dengan saya?" Tanya sang dokter dengan nada ramahnya.
"Maaf Dok beliau adalah Mama saya." Ungkapku pada akhirnya.
"Oh, oke silahkan masuk ibu." Seru sang dokter berhijab ini pada akhirnya. Mama pun duduk di kursi tepat disebelah ku.
"Oke saya mulai menjelaskan ya." Dokter berhijab ini berucap ramah dan ia melirik sekilas ke arah Mama, dan kembali menatap pada ku.
"Begini ya Pak, istri Bapak mengalami pendarahan yang di akibat dari hubungan intim yang dilakukan secara kasar dan dalam waktu yang tanpa Jeda. Sedangkan daya tahan tubuh si pasien ternyata tidak sebaik itu."
"Maaf dokter , apakah Alena hamil sebelum pendarahan tadi dok?" Tiba-tiba Mama langsung bertanya demikian.
"Tidak bu, pasien sama sekali tidak dalam keadaan hamil, seperti yang sudah saya jelaskan tadi. Akibat dari pada itu pasien masih lemah dan syok di tambah pasien mengalami pendarahan cukup hebat dan juga kehilangan darah yang cukup banyak. Untung saja stok golongan darah B+ yang merupakan golongan darah pasien masih tersedia cukup di RS ini, sehingga mempermudah kami untuk langsung melakukan transfusi darah kepada istri Bapak." Sang dokter menjeda penjelasannya lalu raut wajahnya menjadi berbeda dari sebelumnya dan aku tidak bisa mengartikannya hingga sang dokter kembali berucap.
"Tapi kenapa dok, Alena menantu saya bisa mengalami pendarahan padahal ia tidak dalam keadaan hamil? Maaf ya bu dokter saya sungguh belum begitu faham dan masih penasaran. Soalnya setau dan pernah saya dengar hanya orang hamil jika mengalami hubungan intim yang kuat dan terbilang kasar yang akan mengalami pendarahan, kecuali di perkosa dengan jahatnya apalagi ramai-ramai. Sekali lagi maaf ya bu dokter saya hanya penasaran dan sungguh tidak tau." Ya ampun Mama sungguh blak-blak sekali aku jadi nggak enak sebagai lelaki sendiri disini dan seakan jadi tersangka muthlak, karena penuturan Mama yang panjang barusan.
Sejujurnya aku juga tidak faham dan penasaran jauh dari pada Mama.
__ADS_1
"Oke, saya jelaskan lebih detail dan mudah di fahami.
Dalam hubungan rumah tangga kegiatan se*ks seharusnya merupakan pengalaman yang menyenangkan baik bagi laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi terkadang se*ks justru menjadi pengalaman yang mengerikan, bahkan menimbulkan cedera.
Mungkin banyak dari kita belum pernah mendengar kasus di mana seorang pria yang pen*isnya patah saat berhubungan seksu*al , dan di sisi lain aktivitas se*ks yang terlalu bergairah bisa membuat perempuan mengalami cedera berupa memar serviks atau juga cidera leher rahim.
Kondisi tersebut juga sebenarnya bisa disebabkan oleh beberapa hal yang berbeda, termasuk melahirkan atau saat bayi menendang leher rahim ketika ibu hamil. Namun , penyebab umum dalam masalah ini pada perempuan ialah memar serviks atau juga cedera leher rahim yang saat berhubungan se*ks sang pen*is pasangan membentur terlalu keras dan kuat.
Hal ini merupakan keadaan yang mengerikan karena dapat menyebabkan wanita mengalami rasa sakit yang parah, berdarah, bahkan keram sehingga yang lebih fatal mengalami pendarahan.
Serta muncul rasa sakit yang berkaitan dengan perut, dan rasa tidak nyaman saat berhubungan se*ks. Gejala tersebut bisa bertahan selama seminggu atau juga nyeri di perut dan keram bisa dimulai dalam waktu 24 sampai 48 jam setelah memar atau cedera awal terjadi.
Namun, ada juga pendarahan yang dapat langsung terjadi saat itu juga dan ada pendarahan yang terjadi seperti bercak saat periode menstruasi. Tapi ada pula yang mengalami pendarahan parah dan harus segera mendapat penanganan dokter. Nah istri Bapak kini mengalami cedera leher rahim." Tutur sang ibu dokter berhijab ini panjang lebar kepada kami.
"Oo, ngeri juga ya Dok. Saya benar-benar baru tau dan faham." Mamah berkomentar dengan mimik tidak enak sepertinya Mamah jadi semakin cemas kepada Alena.
"Tapi ada yang mau saya sampaikan yang lebih penting lagi dari pada hal yang barusan saya sampaikan dan jelaskan." Mimik sang dokter berubah tidak seperti tadi, akan tetapi aku tidak dapat mengartikannya.
"Cedera leher rahim yang dibiarkan terus-menerus dapat menyebar ke organ reproduksi lainnya, mulai dari rahim, tuba falopii, hingga ke rongga panggul dan perut. Hal itu dapat menyebabkan masalah kesuburan bahkan pada akhirnya susah hamil." Ungkapan sang dokter barusan membuat aku dan Mama saling padang dengan tatapan terkejut, karena tidak menyangka akan mendengarkan hal demikian tentang Alena istri ku.
"Saya tidak memvonis secara muthlak karena bisa saja Allah memberi kemudahan di kemudian hari, akan tetapi apa yang saya lihat secara ilmu medis itulah yang bisa saya sampaikan. Saya harap Bapak jangan dulu melakukan
hubungan intim dengan istri Bapak dalam waktu dekat ini, meski pun istri bapak sudah benar-benar pulih dan sehat secara fisik. Karena kemungkinan istri Bapak mengalami trauma sikis dan juga fisik, akibat dari maaf ya Pak kebrutalan Bapak dalam melakuan hubungan intim tersebut. Saya juga menyarankan Bapak berkonsultasi ke psikolog masalah sikis istri Bapak, selain tetap menjalani pengobatan medis lebih lanjut untuk penyembuhan maksimal dari cedera leher rahim istri Bapak. Saya khawatir istri Bapak mengalami trauma psikis dan fisik akibat dari tindakan Bapak itu. Karena tidak sedikit perempuan yang mengalami tindakan brutal akibat gairah yang berlebihan walaupun tidak ada penganiaya pemukulan misalnya, tetap saja bisa membuat perempuan itu mejandi traumatik walaupun yang melakukannya suaminya sendiri." Kembali sang dokter menjelaskan panjang lebar perihal ini.
Penjelasan yang aku dengar semuanya dari sang dokter membuat hatiku tercubit kuat dan aku semakin merasa bersalah.
"Tapi alhamdulillah istri bapak sudah melewati masa ktitisnya dan saya harap juga Bapak lain kali lebih bisa mengontrol emosional dan gelora seksual bapak ya, jangan sampai mengulanginya lagi. Kasihan istrinya sampai syok dan pendarahan begitu." Dokter berhijab itu menjelaskan kembali sekaligus memperigati aku.
Aku tidak mengelak atau membantah peringatan dari sang dokter, karena memang aku salah walaupun itu kulakukan di luar kendali ku efek obat sialan itu dan perempuan iblis itu. Kalau pun ku katakan aku dalam pengaruh obat perangsang dengan level tinggi pada sang dokter pasti itu tidak bisa membantu apapun. Jadi rasanya tidak perlu aku mengatakan itu pada sang dokter kecuali pada Mama mungkin.
Tatapan Mama kini menyorot tajam padaku, aku pun mencoba mengalihkannya dengan kembali bersuara.
"Bolehkah saya menjenguk istri saya Dok?" Tanyaku yang memang penasaran ingin melihat keadaan istri tercintaku, masih dengan kecemasan yang dominan walaupun dokter telah berkata bahwa Alena sudah melewati masa kritisnya.
"Tentu saja boleh Bapak, tapi setelah istri bapak di pindahkan ke ruang rawat inap sebentar lagi ya. Istri bapak juga belum sadarkan diri. Nanti jika istri Bapak sudah siuman jangan di ajak berbicara banyak-banyak dulu ya Pak." Dokter berhijab itu selalu ramah dalam berucap, aku pun mengangguk sambil berkata.
"Baik Dok dan terima kasih banyak, kalau begitu saya undur diri." Seruku seraya bangkit dari dudukku dan membukukkan sedikit tubuhku sebagai ungkapan terima kasihku kembali, yang juga di ikuti Mama.
___
Sungguh ini semua salahku dan kebodohan ku yang bisa terjebak oleh minuman yang telah di campurkan obat sialan itu secara diam-diam.
"Maafkan saya Alena." Ucapku lirih sekali.
"Andra kemari sebentar Mama mau bicara?" Mama memanggilku dari sofa di seberang sana yang beliau duduki bersama Papa.
Sedangkan kedua mertuaku tadi izin pulang dan besok pagi kembali lagi kesini, atas saranku juga. Awalnya mereka hanya akan pulang sebentar untuk membawa pakaian dalam Alena dan keperluan Alena yang belum sempat ku bawa, karena terburu-buru.
Di rumah orang tua Alena masih cukup ada pakaian-pakaiannya yang memang sengaja tidak di bawa semua. Walaupun di RS ini yang menggunakan kamar rawat inap VVIP, jelas pasien mendapatkan fasilitas pakaian seragam inap selama di rawat di RS ini.
Mama kembali menatap ku dengan tajam saat aku sudah duduk di sofa seberang Mama dan Papaku duduk yang di batasi oleh meja berbentuk persegi panjang.
"Apa yang kamu lakukan pada istrimu Andra?" Ucap Mama dengan intonasi marahnya, tapi nada suaranya pelan.
Aku menunduk sejenak lalu menarik nafasku pelan, mencoba mencari pasukan udara sejenak ke paru-paru agar sedikit sesak di dadaku sedikit saja lebih plong. Walaupun kenyataannya sama saja tidak berarti banyak hanya sesaat.
Aku mengangkat kepalaku dan menegakkan tubuhku mulai berbicara untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Andra mengauli istri Andra dengan kasar Ma dan secara terus menerus tanpa henti, tap__"
"Kamu gila Andra, apakah nafsu birahi kamu separah itu? Sepertinya kamu juga butuh konseling ke psikolog mengenai seksualitas mu yang brutal itu Andra." Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku , Mama dengan cukup lantang menghardikku.
"Pantas saja penampilan mu begitu berantakkan tak karuan begini Andra. Jadi tadi kamu habis mengempur istrimu seberutal itu sampai-sampai ia pendarahan." Hardik Mama lagi padaku.
"Andra memang salah Ma, tapi tidak semua yang Mama ucapkan itu benar. Andra tadi belum selesai bicara Mama sudah memotongnya dengan prediksi Mama sendiri."
"Kamu mau mengelak lagi Andra hah?" Mama masih emosi hingga dia seakan enggan mendengar penjelasan ku lagi yang sebenarnya belum tuntas.
"Mah.., kita dengarkan dulu penjelasan Andra anak kita sampai selesai." Papa menengahi.
"Andra tidak begitu Mah dan keberutalan yang terjadi malam tadi adalah yang pertama dan Andra berjanji ini yang terakhir. Andra melakukan itu di luar kendali Andra Mah, dan Andra dalam pengaruh obat perangsang level tinggi."
"Apa..?" Pekik Mama cukup keras, karena kagetnya.
__ADS_1
"Jadi sekarang kamu begituan pake obat perangsang? Untuk apa kamu harus memakai obat semacam itu Andra?" Mama menatap tidak percaya dan geleng-geleng kepala mendengar kata obat sialan itu.
"Bukan Andra sengaja Mah memakai dan meminum obat semacam itu, tapi Andra di jebak. Kemarin siang menjelang sore Andra ke rumah salah satu klient Andra untuk temu janji membahas dan pergi bersama sang klient tersebut untuk meninjau tanah bersengketa.
Namun, saat Andra tiba di rumahnya orang yang bersangkutan sedang di luar dan dalam perjalanan pulang. Jadi Andra mencoba menunggunya. Tanpa Andra duga perempuan yang mengaku adiknya klient Andra itu menyuguhkan minuman untuk Andra, berupa teh manis yang ternyata diam-diam sudah perempuan itu campurkan dengan obat perangsang level tinggi." Aku menjeda penuturanku, mengambil udara sejenak melalui hidung dan menghembuskannya kembali melalui bibirku pelan.
"Mati-matian Andra menahan gejolak dari pengaruh obat perangsang itu Mah, agar Andra tidak benar-benar melahap dan meladeni perempuan aneh itu. Perempuan itu terus mencoba agar Andra bisa tidur bersamanya, karena pengaruh obat gil* yang sudah perempuan aneh itu berikan secara diam-diam pada Andra Mah. Hingga akhirnya Andra bisa membuka pintu utama yang ntah sejak kapan terkunci dan bisa meloloskan diri dari perempuan gil* itu.
Andra juga hampir saja menabrak orang saat motor Andra lajukan dengan kecepatan tinggi menuju apartement sambil terus menahan gejolak gil* itu, hingga tiba di apartement dengan selamat dan menyalurkannya langsung pada Alena. Andra juga tidak pernah menduga pengaruh obat aneh itu semenggil*a itu dan Andra juga tidak menduga Alena akan mengalami pendarahan akibat pergaulan Andra padanya."
Mama dan Papa terdiam menanggapi dan mendengar setiap penjelasanku barusan, dengan wajah seakan sulit aku artikan.
"Kamu harus usut dan tuntut mereka-mereka yang terlibat dalam penjebakan kamu itu Andra, Mama tidak akan memaafkan mereka yang telah menjebakmu dan berdampak pada Alena hingga ia mengalami imbasnya yang begitu sakitnya. Dan kamu harus rawat dan bawa istri mu itu berobat dengan baik, karena ini juga tidak luput karena kesalahanmu baik sengaja atau tidak. Kamu faham kan Ndra." Mama memperingati ku secara tegas, dengan sorot matanya yang kembali tajam padaku.
"Baik, Mah." Ucapku patuh pada akhirnya.
"Sekarang lebih baik kamu segera mandi junub Andra, agar nanti kamu bisa langsung sholat taubat sebelum masuk waktunya sholat subuh nanti." Aku mendelik saat Mama berucap mandi junub, memang Mama selalu blak-blakan.
Walaupun di ruang rawat inap VVIP ini dan saat ini hanya ada aku dan kedua orang tuaku beserta Alena yang belum sadarkan diri, tetap saja kata-kata Mama tadi membuatku terkejut dan cukup risih.
"Nah pake itu , di dalam sana sudah ada baju dan celana serta pakaian dalam di tambah alat sholat seperti sarung dan sajadah kecil dari Mas mu si Abizar. Pakai saja itu dulu , masih untung Mas mu itu mau Mama suruh dan Mama bangunkan hanya untuk mengatarkan itu smua untuk mu Andra." Mama melemparkan tas parasut berukuran sedang berwarna hitam ke arahku secara asal dan cukup kasar hingga mengenai wajahku.
Tanpa menjawab aku pun bangkit dari sofa yang ku duduki dan dengan langkah gontai aku menuju kamar mandi untuk melaksanakan mandi junud yang juga sudah di titahnya Mama padaku.
"Jangan lupa mohon ampun kamu nanti Andra sama Allah, karena sudah menyakiti istrimu walaupun itu ketidak sengajaanmu begitu juga mohon maaf kamu pada istrimu langsung saat ia sudah sadarkan diri." Mama kembali mengintruksiku saat aku melangkah menuju kamar mandi, yang hanya ku balas dengan anggukan saja.
🍬🍬🍬
"Ma..Mamma.." Aku mendengar Alena memanggil Mamanya dengan suara terbata dan lirihnya, kedua matanya masih terpejam.
Sepertinya ia mengigau atau juga bermimpi.
"Mam..Mama.." Lirihnya kembali.
Ku elus punggung tangannya lembut yang dari tadi ku genggam. Tiba-tiba secara perlahan kedua mata Alena pun terbuka dengan sempurna yang lalu ia mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya pelan dan menelisik sekitarannya.
"Mas Andra." Panggilnya dengan suara lemah.
"Iya sayang, ini saya Mas Andra suami kamu." Seruku lembut masih terus mengelus dan mengenggam tangan kanannya yang tanpa selang infus, sambil menatapnya lembut.
"Alena dimana Mas, kenapa di infus?" Tanyanya , wajahnya masih kentara sekali begitu pucat dan syarat kelelahan disana.
"Kita di rumah sakit sayang." Tuturku lembut, matanya menelisik ke tangannya yang ada selang infus.
"Maafkan saya Alena."
"Maafkan saya telah berlaku kasar pada mu semalam tanpa henti." Aku memohon maaf langsung tanpa pikir panjang lagi dan ku tunda lagi, dengan nada sendu.
Ku bawa tangannya yang ku genggam ke arah wajahku seakan aku mencium takzim.
"Haus...Alena haus Mas." Dengan sigap aku segera melepas lembut tangannya yang ada di genggaman ku tadi , seraya mengambil botol mineral membukanya dan memasukkan sedotan kedalam botol tersebut.
Kemudian ku bantu Alena bangun agar duduk sedikit bersandar lalu menyodorkan ujung atas sedotan itu agar ia bisa meminumnya dari sana dengan mudah, dengan tanganku terus memegang botol mineral tersebut.
Meletakkan kembali di atas meja nakas sebelah bed Alena , botol berisi separuh air mineral yang baru saja di tegak oleh Alena istriku.
"Alena kenapa bisa di rawat di sini Mas?"
Aku menghela nafas pelan, berat rasanya untuk menjelaskannya pada Alena.
"Kamu pendarahan sayang, maka sebab itu kamu di rawat di sini."
"Alena kan tidak hamil dan baru saja selesai masa haid kenapa bisa pendarahan, Mas?"
Sejenak Alena langsung terdiam seakan mengingat atau baru menyadari sesuatu, dan tanpa ku duga ia langsung menarik tangannya yang sedang ku genggam dari genggamanku dengan cepat dan membalikkan tubuhnya condong membelakangi ku yang duduk disisi kanan bednya.
Hati ku mencelos melihatnya seperti ini padaku , sepertinya istriku benar-benar marah atau bahkan mulai membenci dan lebih parahnya lagi jika ia trauma akan kehadiranku.
"Ya Allah aku tau aku salah, apa tidak ada kesempatan atau kata maaf dari istriku untuk ku." Senduku dalam hati.
🍬🍬🍬
Bersambung...
__ADS_1
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🤗