TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 54


__ADS_3

"Kamu lagi masak apa sayang?" Aku tersentak kanget saat ada dua tangan melingkar di perutku, memelukku dari belakang.


"Ya Alloh Om ngagetin banget sih." Sewotku.


"Maaf ya sayang, saya udah kangen jadinya saat masuk tadi langsung mencari kamu, yang ternyata ada di dapur."


"Tumben om pulang sore gini."


"Heumm, kerjaan saya sudah selesai hari ini. Jadi untuk apa berlama-lam di kantor atau di luar kalau di rumah sendiri ada istri secantik ini yang selalu bikin saya kangen setiap waktu."


"Iya tapi ini dilepas dulu, Lena lagi masak loh Om. Ntar nggak kelar-kelar masaknya." Ketusku karena si om bukannya melepas pelukannya dari belakang tubuhku, eh ne lakik malah ngendus-ngendus di ceruk leher ku.


"Udah sekali-kali masak kek gini kan nggak apa-apa sayang, emang lagi masak apa sih kok di bungkus daun pisang gitu?"


"Ini mau masak nasi bakar, udah dong om Lena lagi masak ini loh. Lena jadi kesusahan mau bungkusnya ini, mana om pake ngedus-ngedus leher Lena begitu lagi, geli tau." Aku mengomel.


"Ehhmm." Lagi-lagi di endusin si om ceruk leher ku tanpa ia perdulikan omelanku.


"Udah yukk kita ibadah dulu di kamar, tinggalin itu. Nanti saya bantu lanjutin lagi."


"Ih om apa'an sih mana bisa gitu, nanggung ini." Cebikku.


"Ini lebih nanggung sayang, ehhmmm." Ih si om makin menelusupkan wajahnya ke ceruk leherku, dan itu membuatku jadi tak fokus untuk memasak.


"Tahan dulu dong om, Lena kan lagi mas___" Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku bibirku sudah di bungkam oleh bibir sexynya si om suami ku.


Lalu tanpa di duga si om malah mengangkat tubuhku, mengendongku ala bridal style. Dengan refleks aku melingkarkan kedua tangan ku ke lehernya, ia pun membawaku ke kamar kami. Sambil tak melepaskan pagutan kami.


Sungguh si om memang di luar dugaan sore-sore gini sekitar jam 4 sore udah ngajak ibadah ranjang, mana aku masih masak untuk menu makan malam kami. Aku sengaja sore ini membuat nasi bakar agar ada varian lebih berbeda dari menu-menu sebelumnya.


Eh baru mau membungkus nasinya yang sudah ku bumbui dan akan ku laukki untuk isian dan menambah rasa lebih enak dalam nasi bakarnya nanti, malah udah di kacaukan oleh si om sang suami tercinta dan tertampan milik ku.


___


Kini malam pun telah datang aku dan si om pun sedamg menikmati santap makan malam kami, untungnya jadi juga malam ini makan nasi bakar ala Alena. Tadi selesai pergelutan cinta kami, cepat aku ke dapur untuk menyelesaikan masakanku yang tertunda akibat ulah si om sebelum aku mandi dan tiba masuk waktu maghrib.


Tapi tak lama aku sampai di dapur ternyata si om nyusul dan membuktikan ucapannya tadi, yang akan bantuin aku memasak.


"Enak nasi bakarnya udah mirip seperti nasi bakar di restoran atau cafe." Seru si om.


"Iya kah om."


"Eheumm. Saya beruntung sekali punya istri cantik dan pandai memasak atau mengolah makanan menjadi enak."


"Udah om jangan muji-muji Lena begitu ntar Lena jadi belagak hehe." Seruku dengan kekehan.


"Besok malam kita kerumah mas Abizar ya sayang, makan malam disana. Insha Allah besok pagi Mama dan Papa sudah tiba juga di Jakarta."


"Oke." Seruku.


🍬🍬🍬


"Akhirnya datang juga kalian datang nuga Nak, Mama kangen sama kalian." Si om menyalami takzim Mamanya di lanjut aku.


Lalu beralih salam ke Papa Abraham dan lainnya, kami baru saja sampai di kediaman abangnya dari suamiku.


"Oya tante Kemala eh maaf mbak maksud Lena, ini Lena ada sedikit bawakan sesuatu." Aku masih susah untuk memanggil Mamanya Vera dengan panggilan mbak begitu juga ke Papanya Vera untuk memanggil mas.


"Apa ini Lena?" Tanya Mamanya Vera.


"Hanya beberapa risol mayones dan puding lumut." Jawabku.


Mama Vera pun membuka kotak box berwarna ungu dan hijau yang berukuran lebar itu.


"Wahh..Enak banget ini pastinya Alena, kamu yang bikin semua sendiri atau beli?" Mata Mama Vera terlihat takjub dengan cemilan yang ku bawa.


"Ini semua Lena yang bikin mbak dan jelas enak banget rasanya, karena bikinnya pake hati." Tiba-tiba si om merangkul pinggangku dengan tangan kirinya dan berkata demikian dengan senyumannya, kemudian tangan kanannya menyomot 1 risol mayones dan mengigitnya.


Aku hanya bisa pasrah dengan perasaan campur aduk karena ulahnya si om kali ini sambil berseru. "Mas Andra bisa aja." Jawabku dengan senyum kaku dan melirik sekilas ke arah si om dengan mata melotot, ia malah cuek aja.


Duh aku malah jadi deg deg kan begini dan merasa malu. Pasalnya selama kami nikah dan berkumpul keluarga si om begini, baru kali ini si om bersikap sedekat ini pada ku di depan keluarganya ini.


"Masha Allah ternyata bener kata Vera kalau kamu itu sama seperti Mama kamu suka dan pinter masak. Terima kasih ya Alena atas bawaannya." Seru Mama Vera tersenyum manis pada ku dan si om.


"Iya, sama-sama." Ujarku seraya tersenyum.


Kami semua sudah di meja makan dan sedang menyiapkan makan malam bersama malam ini.


"Mama icip dulu satu ya puding lumutnya udah nggak sabar, karena tampilannya bikin ngiler hehe." Tiba-tiba kini Mama mertua muncul di hadapan kami yang sedang menyusun cemilan yang aku bawa dari apartement.


"Enakk dan lembut banget puding lumutnya Lena, manisnya juga pas nggak kemanisan." Puji Mama melirik padaku dengan semyuman merekah, si om masih saja merangkul pinggangku.


Aku dari tadi menahan malu dan gugup ini loh tau nggak.


"Terima kasih Ma." Ujarku tersemyun pada Mama.


"Beruntung kamu Andra dapat istri cantik, muda dan jago masak atau jago bikin makanan. Bisa masak sama jago masak itu beda loh. Karena bisa masak belum tentu jago masak dalam arti belum tentu masakan atau makanan yang di olah dan di bikin akan menjadi enak dan pas rasanya." Puji Mama lagi panjang lebar.


"Iya bener tu kata Mama, Alena terbilang masuk katagori jago masak. Vera juga pernah bilang gitu ke mbak kan Vera dulu sering main ke rumahnya Lena , waktu kalian belum nikah makanya Vera tau." Timpal Mama Vera panjang lebar.

__ADS_1


"Ah masih jago Mama Lena sama mbak kemala dibanding Lena bukan apa-apa." Aku merasa tak enak dan malu di puji begitu, bukan malah jadi sok atau melambung.


"Duh mesra banget sih Om Andra sama sahabat aqu, pake rangkul-rangkul pinggangnya segala.." Suara cempreng itu menggema di sekitaran ruang makan yang terbilang luas ini, Si Vera yang baru saja muncul udah kek petasan nyasar bunyinya mengagetkan ku.


Aku mendeling melihat Vera karena mulutnya yang kadang suka heboh nggak ketulungan, persis petasan nyasar.


Si om hanya diam tak menanggapinya tapi tak juga melepas sebelah tangannya dari pinggangku, Mama mertua dan Mamanya Vera begitu juga Vera malah senyum-senyum sambil melirik ke arah kami.


Rasanya wajahku sudah memerah seperti tomat , aku hanya bisa menunduk untuk sedikit menyamarkannya dari mereka. Makan malam pun akan segera di mulai.


____


"Gimana Len elo udah jatuh cinta belum sama om gue?"


"Menurut elo Ver?"


"Yeii di tanya malah balik nanya bukannya di jawab. Tapi menurut gue elo sebenarnya juga udah jatuh cinta sama om gue yang guateng itu, tapi lo sok gensi ya kan." Tebak Vera sok tau , haha padahal tebakkannya bener dan tepat banget.


"Ya gitu deh." Jawabku dengan senyum malu-malu.


"Tuh kan , duh yang pada jatuh cinta dan berasa manten baru hehe." Ejek Vera.


Aku dan Vera sahabatku sekarang sedang berada di gazebo yang memang selalu ada di taman atau halaman belakang rumahnya Vera. Tadi selepas makan malam jam 7 , kami sekeluarga melaksanakan sholat isya berjamaah di mushola rumah ini yang memang ukuran musholanya cukup luas.


Malam ini aku dan si om akan menginap disini, karena tadi saat di meja makan Mama mertua yang meminta kami untuk menginap di sini. Kebetulan juga besok adalah hari minggu.


"Duh jangan-jangan malam ne ngejatah lagi si om gue sama elu haha.." Seru Vera ngakak di akhir kalimatnya.


"Dasar lu omes juga." Cebikku.


"Alah elu malu pula sama gue Len Len , kek bukan sahabat aja terus kek kita baru kenal aja." Serunya lagi.


"Jadi kapan gue dapat keponakan nya nih, tapi tiap malam elo bilang om gue ngejatah terus."


"Ih..apaan si lo Ver gue kan gue masih kuliah, masalah yang ada."


"Yeii..Hamil sama suami sah sendiri mah kagak ada masalah biar masih kuliah, yang masalah itu kalau masih kuliah hamil sama pacar non halal apalagi hamil sama suami orang. Nauzubillah deh." Ujar si Vera sambil tepul-tepuk keningnya di akhir ucapannya.


"Iya sih, udah lah gue mah ikhlas aja."


"Iya dong ikhlas wong om gue kan guateng paripurna di tambah kaya n baik walaupun ya dingin , tapi keknya sama elo sekarang nggak gitu lagi deh gue lihatnya dan dengarnya dari cerita lo selama ini. Semenjak lu curhat kalau kalian udah malam pertama."


"Ya kurang lebih gitu deh Ver. Gue selalu saja nemu dan dapat kejutan-kejutan baru pada diri si om elo itu. Tapi malah bikin gue makin meleleh."


"Cie jadi udah fix dong ya sahabat gue yang cantik dan pinter ini jatuh cinta sama om gue yang dingin tapi guatengnya paripurna itu." Seruan si Vera membuat aku jadi malu pasti wajahku udah merona kek tomat atau kepiting rebus.


"Ih udah dong Ver elo jangan mengejek gue, malu tau gue."


"Ih elo ya lama-lama mulutnya bijak banget gitu sih suka pas kalau ngomong." Sindirku tak mau kalah.


"Gue bahagia ni Len akhirnya om gue dan elo saling jatuh cinta, cuitt...cuitt.." Serunya lagi pake di cuitt-cuittin segala lagi.


"Ya gue juga nggak tau kapan gue mulai jatuh cinta sama om elo itu Ver, intinya selama malam pertama kami yang telat itu. Gue merasa selalu berbunga-bunga seperti orang jaruh cinta, apalagi om elo lama-lama berubah semakin romantis tapi hiper juga."


"Walau gue belum menikah dan mengalami hal begituan , cuma gue rasa masih wajar kok itu asal si om hipernya kan cuma sama elo dan tidak kasar." Aku manggut-manggut menanggapi pemikiran Vera sahabatku.


"Karena gue pernah dengar dari ustadz yang kala itu membahas tentang syawat lelaki atau suami dalam islam. Ya memang begitulah lelaki normalnya dia nggak akan bosan sama istrinya biar kata tiap malam minta HB ( hubungan ) , karena lelaki akan pusing kepalanya jika hasratnya itu tak tersalurkan saat syawatnya sedang ada atau memuncang. Maka layanilah suami maka ibadah yang akan kamu dapat sebagai istrinya."


"Cie gaya lo Ver kasi pandangan pake referensi dari ustadz segala, keknya calon istri ustadz ne lo Ver." Seruku dan si Vera pun mengaminkannya.


"Nggak apapa asal ustadz nya juga ganteng. Aamiin, ya rabbal alamin." Sambil kedua telapak tangan Vera menengadah lalu mengusap ke wajahnya.


"Gue bantu do'a deh ntar Ver."


"Makasi, gue juga bantuin doa untuk kalian agar gue segera dapat ponakan yang lucu dari elo sama om Andra."


Aku hanya senyum saja menangapinya. "Oya ngomong-ngomong om gue udah tau belum kalau elu udah jatuh cinta sama dia juga." Aku pun mengeleng pelan saat Vera melontarkan pertanyaan tersebut padaku.


"Gue masih malu harus mengakui dan mengungkapkannya kepada om Andra , walaupun ada sedikit iseng aku belum mau mengatakannya." Jujurku pada akhirnya, Vera manggut-manggut sambil ber O ria.


Untungnya yang bersangkutan nggak ada disini begitu juga yang lainnya selain kami berdua di gazebo malam ini, yang di terangi lampu gazebo dan lampu taman kediaman ini di tambah cahaya rembulan dan bintang-bintang yang lagi cerah.


"Eheumm.., hemm." Suara deheuman seseorang terdengar seakan mengema di sekitaran taman dan gazebo malam ini.


Seketika itu juga aku dan Vera menoleh ke sumber deheuman tersebut. Aku mendelik saat mendapati si om yang sudah ada di hadapan kami berdiri di luar gazebo yang kami tempati.


"Duh ne lakik dengar kagak ya kalimat-kalimat terakhir yang kami obrolkan tadi? Moga-moga nggak dengar deh, aku kan malu dan belum siap si om tau perasaanku sebenarnya ke dia." Was-wasku membatin.


"Vera kamu di panggil Mas Abizar?" Kata si Om dengan mode datar dan dinginnya, sambil kedua tangannya di masukkannya ke dalam saku celana panjangnya bagian kanan dan kiri.


"Oh gitu ya Om, emang ada apa Papa manggil Vera?" Terlihat Vera menyergitkan dahinya.


"Udah sana masuk, Papa kamu sudah menunggu." Si om berucap tetap dengan mode dinginnya.


"Len gue masuk dulu ya." Ku anggukin, lalu Vera beranjak turun dari gazebo dan pergi dari area ini.


Setelah Vera pergi si om beringsut masuk ke bagian dalam gazebo , aku yang memang dari tadi bersama Vera duduk dengan selonjoran kaki. Seketika si om malah rebahan dengan menjatuhkan kepalanya ke atas kedua pahaku yang tertutup celana jins panjang.


"Om paen sih rebahan begini disini ntar kalau ada yang lihat gimana?" Sewotku sambil mataku menelisik ke sana kemari, was was ada yang lihat.

__ADS_1


"Kok panggil saya dengan sebutan Om lagi sih, tadi kan udah manggilnya Mas." Sendunya.


"Itu kan karena pas lagi sama keluarga atau pas bersama orang banyak sih Om."


"Mulai saat ini biasakan dimanapun dan hanya kita berdua saja pun kamu panggil saya Mas, ya sayang!" Titahnya kali ini seakan tak bisa di bantah, sambil kami saling menatap dan si om malah membelai bibirku lembut.


Mjj


Dengan ragu aku berusaha memanggilnya Mas saat kami pun berdua saja.


"Oke deh om eh mas.?"


"Apa coba ulangi yang bener." Katanya dengan mata menatap terus ke arahku dan bibirku.


"Iya, tapi itu tangan jangan gatel ke bibir orang, lagian ini kita lagi di luar."


"Biar aja kita kan pasangan sah , kenapa takut." Ucap si om enteng sambil memandangi ku dari posisi kepalanya yang ada di atas kedua pahaku.


"Ya tapi kan nggak di tempat umum kek gini juga kali om." Sewotku lagi.


Si om malah memiringkan badannya dan membenamkan wajahnya ke perutku yang masih tertutup oleh bajuku, sambil kedua tangannya kini melingkar ke bagian tubuhku.


"Dasar bayi kolot." Ejekku.


"Tapi kamu kan suka dan cinta sama bayi kolot ini ,sayang." Timpalnya di balik suaranya yang agak tertahan efek wajahnya yang masih ia benamkan ke perutku.


"Siapa bilang PD banget." Cebikku melihat ke arah nya yang masih santai mebenamkan wajahnya dengan kedua tangannga yang masih melingkar ketubuhku.


"Tadi saya dengar lo sayang?" Katanya dan kini ia sudah mebalikkan badannya ke posisi awal yaitu telentang denga matanya menatap ke arah ku dalam.


"Dengar apa emang om, eh mas tadi?" Telisikku.


"Dengar kalau kamu tadi bilang, kamu sudah jatuh cinta kepada saya." Aku langsung memalingkan wajahku dan tatapanku yang tadi menatapnya.


Rasanya beneran masih malu jika si om tau akan perasaanku yang juga sama dengannya.


"Udah sini wajahnya jangan di palingkan gitu." Seru si om suami yang malah makin megarahkan wajahnya ke atas untuk dapat menatapku lebih jelas, kepalanya masih ada di pangkuanku.


"Udah dong jangan di liatin gitu, Lena kan jadi malu." Ujarku.


"Aduh istri cantikku pake malu segala saat kita bercinta kamu kok bisa nggak semalu ini."


"Ya itu mah beda kali Mas." Aku berucap sambil memanyun-manyunkan bibirku.


"Ya udah biar nggak malu kek gitu udah yukk ngamar aja, kita ibadah malam ini di kamar yang jadi saksi bisu pertemuan kita pertama kali." Si om suami pun bangkit dari pangkuanku.


Tapi usilnya dia malah mengecup bibirku sekilas saat ia akan bangkit. Etdah ne om om, aku refleks terbengong setelahnya.


Tu lakik malah senyum dengan watados-nya.


( watados panjangnnya wajah tanpa dosa , mana tau ada yang lupa atau belum tau )


____


"Sayang sini." Sebelah tangannya melambai saat melihat aku sudah keluar dari kamar mandi yang ada di kamar ini.


Kamar yang menjadi moment pertama kali aku dan si om bertemu dengan drama salah faham kami semua dan kenyolan ku juga.


Si om suami sudah berada di atas ranjang dengan sebagian tubuhnya bersandar di kepala ranjang , yang kini juga sudah memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang tanpa busana. Terlihat tubuhnya yang berotot dan kulitnya yang putih mulus. Aku yang dipanggil jadi tertegun di posisiku.


"Sayang sini dong." Panggilnya lagi dengan sebelah tangannya kembali melambai.


Aku kini sudah berganti pakaian dengan piyama berlengan panjang dan celana panjang.


"Cepet dong sayang saya udah kangen nih." Serunya manja.


Aku pun menuju si om suami kemudiam duduk di tepi ranjang.


"Sini dong masa jauhan gitu, kan kita mau menunaikan ibadah ranjang kembali malam ini." Duh gimana ini, mau jujur tapi aku kasihan.


Mana ne lakik udah standby gini.


"Ah iya om eh mas." Ucapku salah sebut sekaligus bingung.


"Ya sudah sini dong sayang, naik jangan di sisi ranjang."


"Anu mas , maaf ya mas Lena tetiba tadi pas pipis ternyata Lena baru keluar." Ku jeda ucapanku.


Dahi si om berkerut di tambah kedua alisnya saling bertautan.


"Maksud kamu apa sayang?" Tanyanya dengan mimik bingungnya.


Dengan ragu aku kembali berucap. "Lena baru aja keluar haidnya Mas." Seketika raut wajah si om suami cegok lalu ia menghela napas berat seakan menahan sesuatu.


Kini terlihat wajah tampannya menjadi lemas dan sedikit kecewa.


🍬🍬🍬


Bersambung...

__ADS_1


Kasihan si om suami kena zonk..🤭🤣


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰


__ADS_2