
Sudah satu minggu berlalu sejak kejadian aku di antar pulang oleh si om nyebelin itu ke rumahku setelah kami dari toko perhiasan yang mewah itu.
Dan sejak itu juga aku tak bertemu lagi dengan si om nyebelin itu dan belum ada kabar lagi tentangnya.
Ntahlah si om nyebelin itu kemana atau lagi ngapaen aku nggak perduli, paling juga seperti biasa si om nyebelin itu kerja dan kerja di lihat dari gelagatnya.
Aku juga tak pernah bertanya kepada Vera tentang si om nyebelin itu apalagi menghubungi si om nyebelin itu lewat aplikasi hijau berlambang gagang telepon berwarna putih itu tak pernah, walau hanya chat apalagi vical atau pun panggilan suara malas banget deh.
Walau kami sudah sama-sama tukeran nomor ponsel atau nomor wa waktu di acara makan malam bersama keluarga Vera di rumahnya.
Lagian apa pentingnya juga aku chat atau panggilan suara sama si om nyebelin itu yakan.
Kini aku sedang di kampus satu bulan setengah lagi aku akan melaksanakan ujian akhir semester jadi insya Allah aku akan naik ke semester 5 sebentar lagi.
"Jam mata kuliah saya telah berakhir jangan lupa belajar di rumah, karena tak lama lagi kita akan ujian akhir semester. Assalammualaikum." Ucap sang dosen tersebut sebelum berlalu pergi meninggalkan ruang kelasku.
"Waalaikumsalam." Ucapku dan teman-teman sekelasku serempak.
"Len kita nongkrong dulu yuk di cafe sebrang kampus sebelum pulang." Ajak Vera padaku.
Aku anggukan kepalaku sebagai jawaban dan kamipun berjalan keluar kelas hendak menuju cafe sebrang tersebut.
"Len lo nggak bencikan sama gue?" Cetus Vera tiba-tiba bertanya begitu padaku setelah kami duduk santai dan memesan minuman dan cemilan di cafe ini.
Alisku bertautan mendengar ucapan Vera barusan merasa heran kenapa Vera berkata begitu maksudnya apa ?
"Loh maksudnya apa Ver kok lo ngomong gitu? Lagian kenapa gue harus benci sama lo?" Ada-ada aja ah si Vera fikirku dan aku masih bingung.
"Ya bisa jadi lo benci sama gue karen__" Ucapan Vera terpotong saat seorang waitress datang membawa semua pesanan kami tadi.
"Selamat menikmati." Ucap waitress itu dengan ramah dan berlalu pergi dari hadapan kami satelah kami pun mengucapkan terima kasih kepadanya.
" Ya bisa jadi lo benci sama gue kan karena lo harus menikah dengan om gue." Ucap Vera langsung setelah si waitress itu pergi.
Aku menyedot orange jussku beberapa teguk dan menatap Vera.
" Ya nggak lah Ver lagian nggak guna juga gue benci sama lo gegara ini. Tapi tunggu om elo itu baikan orangnya. Gue kadang jadi takut kek cerita-cerita di novel-novel itu yang tentang suami yang jahat-jahat atau kasar-kasar gitu ke istrinya." Ntah kenapa tetiba aku jadi mikir begitu makanya ku coba kali ini bertanya aja sedikit tentang si om nyebelin itu ke keponakannya langsung.
"Insya Allah om gue nggak bakal jadi suami kek gitu dah, om gue itu baik orangnya dan perhatian biar dia itu jarang senyum dan kadang nyebelin karena terlalu diam. Kalau nggak penting-penting banget ya jarang ngomong." Ucap Vera mencoba memberi keterangan tentang omnya yang nyebelin itu sambil mengunyah kentang gorengnya.
"Ya walaupun gue nggak cinta sama om elo itu ya tetep, siapa yang mau nikah dengan suami jahat atau kasar." Ucapku lagi.
"Maaf ya Len lo jadi harus nikah sama orang yang nggak lo cinta bahkan nggak lo kenal." Lirihnya Vera.
"Ya ntah lah Ver mungkin ini nasib dan cara jodoh gue datang kali. Tapi yang lebih nggak enak di fikiran gue pasti eyang putri lo itu udah mengira gue perempuan murahan, karena kesalah pahaman waktu itu di kamar itu." Cetusku lesu.
"Ya nggak gitu juga kali ah pemikiran eyang putri gue, lagian kalau eyang putri gue anggap lo murahan pasti eyang putri nggak bakal ambil keputusan agar kalian segera menikah. Pasti eyang putri bakal mikir dan bertindak lain apalagi kan elo bukan hamil." Lanjut Vera berpendapat.
Aku diam sejenak berfikir yang ntah apa juga yang terfikir olehku. Tapi tetiba aku mencoba bertanya pekerjaan si om nyebelin itu dan beberapa hal tentang si om nyebelin itu kepada Vera.
"Oya pekerjaan om lo yang nyebelin itu apa sih Ver terus umurnya berapa kok bisa punya keponakan seumur kita. Padahal gue lihat om lo yang nyebelin itu nggak tua-tua banget." Tanyaku saja langsung ntah aku jadi berani pula sekarang bertanya tentang si om nyebelin itu pada Vera.
"Om gue itu kerjanya sebagai Advokat dan selain itu dia juga seorang pembisnis. Umur om gue itu 33 tahun beda 8 tahun sama papa gue, papa gue kan nikah muda dulu dan tanpa pacaran. Pacarannya setelah mama dan papa gue nikah dan setelah beberapa bulan nikah mama gue hamil deh dan taunya sekali hamil anak kembar tapi tak seiras hehe."
Aku hanya diam menyimak penjabaran si Vera sambil aku memakan cemilanku yang juga kentang goreng.
__ADS_1
"Nah kalau om gue itu samaan kayak elo Len belum pernah pacaran biar om gue udah umur segitu, dia ntu fokus banget sama pendidikannya dan karriernya ampe ngelaba cewek aja nggak sempat kali apalagi pacaran.
Tapi nggak tau dah kalau soal jatuh cinta si om gue itu yang memang ganteng dan cerdas itu udah pernah apa belum hehe." Terang si Vera panjang kali lebar kepadaku.
Aku pun hanya manggut-manggut sebagai respon.
"Oya om lo yang nyebelin itu sayang banget keknya sama eyang putri lo ya." Ucapku saja pada Vera.
Vera yang masih terus mengunyahpun berucap tanpa di jeda.
"Ya bener banget sayang dan perhatian. Om gue kan ne lagi ke Surabaya sejak 3 hari lalu urus urusan pekerjaannya mungkin bakal balik pas kalian akan melaksanakan akad nikah. Dan bisa jadi ntar si om bakal pindah tugas bener-bener ke Jakarta setelah kalian nikah, kan lo kuliahnya disini jadi kemungkinan besar begitu kali ya itu seh menurut feeling gue Len. Karena beberapa bisnis dan klien si om gue juga ada kok di kota ini. Lagian mana bisa kan jauh-jauh apalagi masih penganten baru nanti hehe." Wah-wah si Vera-Vera bisa aja ne anak udah kesana aja cerocosnya.
Oo, jadi si om nyebelin itu lagi ke luar kota toh.
Aku jadi ragukan sama ucapan si om nyebelin itu yang bakal nggak akan nyentuh gue minimal sampe gue lulus kuliah dan wisuda.
Apa gue cerita aja ya sama Vera tentang yang di ungkapkan si om nyebelin itu tak akan menyentuh gue dulu walau nanti kami udah sah dan resmi.
π¬π¬π¬
"ANdra gimana cincin pernikahan kamu dan Alena sudah siap belumΔΉ? Terus maharnya udah disiapkan jugakan Ndra?" Tanya si nenek fashionable itu pada Andra.
"Insya Allah udah mah dan besok baru bisa Andra ambil sekalian cincinnya ke toko perhiasannya mah." Jawab Andra yang baru saja tiba siang ini di rumah Abizar sang abang setelah dari Surabaya mengurus dan menyelesaikan beberapa pekerjaannya disana.
"Ya Mamah hanya sekalian mengingatkan biar kamu nggak lupa Ndra soalnyakan pernikahan kamu dan Alena tinggal beberapa hari lagi, kamu nggak lupakan Ndra ?" Tegas Saputri alias si nenek fashionable pada Andra.
"Hemm." Hanya deheman sebagai respon Andra kepada sang mamahnya.
Andra pun langsung menuju lantai atas hendak masuk ke kamarnya yang ada di rumah abangnya tersebut.
Tokk...
Tokk...
Andra pun menaruh ponselnya di atas nakas dan bangkit dari ranjangnya menuju pintu dan membuka pintu kamarnya setelah memutar kuncinya karena tadi Andra mengunci pintu kamarnya setelah masuk ke dalam kamarnya.
Ceklek...
"Mamah ada apa ? " Tanya Andra setelah melihat mamanya tepat berdiri di hadapannya sekarang.
"Ada yang mau mama tanya, mama masuk ya." Sang mamah pun langsung nyelonong masuk saja ke kamar si anak bungsunya itu.
"Mau nanya apa Mah ?" Ujar Andra sambil menutup pintu kamarnya dan ikut duduk di tepi ranjang bersebelahan dengan mamanya.
"Alena minta mahar apa sama kamu?" Tanya mamanya kepo.
"Alena sih di tanya mahar apa hanya jawab terserah , Andra coba tanya lagi waktu itu dia malah bilang yang sama terserah. Andra jadi binggung tapi akhirnya Andra temukan yang kira-kira bisa jadi maharnya dan semoga Alena suka." Terang Andra panjang kali lebar kepada mamanya.
"Jadi kamu kasih mahar apa untuk Alena?" Saputri sang mama pun semakin kepo.
"Andra kasih mahar satu set perhiasan emas berlian mah buat Alena yang isinya dalam satu set perhiasan tersebut ada satu kalung , sepasang anting dan satu gelang tangan dan itu set perhiasan emas berlian limited edition yang ada di toko perhiasan mama." Jelas Andra pada mamanya.
"Oo, baguslah kalau begitu mama senang kalau begitu. Tapi Alena udah tau belum mahar kamu tersebut ? " Tanya sang mamah belum cukup puas.
"Belum Mah soalnya itu Andra belinya kan pesan ke Mira dari WA saat Andra masih di Surabaya waktu itu dan Mira memberi tau kalau ada satu set perhiasan emas berlian yang limited edition di toko. Lalu Mira mengirimkan foto lengkapnya dan juga video set perhiasan tersebut ke Andra dan Andra lihat memang cantik jadi Andra ambil saja sebagai mahar nikah kami nanti." Jelas Andra lagi panjang kali lebar.
__ADS_1
Sang Mamah pun manggut-manggut faham dan tersenyum.
"Mama harap kamu bisa benar-benar mencintai dan menyayangi Alena ya Ndra. Mama yakin insya Allah kalau kalian itu memang sudah di takdirkan berjodoh dan mama harap kamu jangan sakiti Alena. Jadilah suami yang baik, setia dan bertanggung jawab untuk istrimu kelak, karena itu tugas utama seorang suami." Sang mamah memberi
wejangan kepada sang anak bungsunya.
"Iya mah isnya Allah." Respon Andra sang bungsu.
"Ya sudah kamu istirahat ya Ndra, mama pamit ke kamar mamah." Seru sang mama sambil beranjak dari duduknya di tepi ranjang dan keluar kamar.
"Iya mah." Jawab Andra singkat dan sang mama pun telah keluar dari kamarnya tersebut.
π¬π¬π¬
Tak terasa hari menuju ijab kabul Andra dan Alena sudah di depan mata. Kini telah berkumpul semua dari kedua belah pihak keluarga pengantin dan hanya beberapa rekan penting dan dekat saja yang di undang di acara ijab kabul ini.
Karena nanti di acara resepsi pernikahan saja akan di undang semua rekan dan teman-teman lainnya.
βSaya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Liandra Alvian Abraham bin Ahmad Abraham dengan anak saya yang bernama Salena Paramita binti Sutrisno dengan maskawinnya berupa satu set perhiasan emas berlian dan seperangkat alat sholat tunai.β Ucap papa Alena dengan lantangnya.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Salena Paramita binti Sutrisno dengan maskawinnya yang tersebut, tunai.β Sahut Andra tak kalah lantangnya.
"Bagaimana para saksi?" Suara pak penghulu.
"Sah."
"Sah."
"Alhamdulillah." Seru semua orang yang hadir di ruangan ini.
"Sekarang bawa kemari pengantin wanitanya." Titah Abraham si kakek gagah itu yang tak lain adalah papanya Andra.
Acara ijab kabul di laksanakan di kediaman rumah Alena walau tidak terlalu mewah tapi sakral dan berjalan lancar.
Dihadiri hanya oleh kedua keluarga inti dan para tetangga sekitar.
Alena yang sudah terlihat sangat cantik dan menawan dengan make up dari MUA yang pasti sudah profesional dengan di balut kebaya bewarna putih di tubuh langsingnya dan sanggul mungil di kepalanya sungguh membuat Alena semakin anggun dan sempurna walaupun make upnya tidak terlalu menor bahkan minimalis tapi elegan.
Sedangkan Andra terlihat semakin tampan dengan stelan jas hitamnya yang di padu dengan kemeja putihnya di balik jasnya walaupun tanpa dasi serta rambutnya yang di tata dengan pomade terbaiknya.
Alena kini telah ada di hadapan Andra mereka saling memasangkan cincin pernikahan mereka masing-masing ke jari manis mereka masing-masing.
Sampai waktu dimana Alena mengecup punggung tangan Andra dan Andra mengecup kening Alena lembut.
Setelahnya mereka menandatangani berkas yang harus mereka tanda tangani yaitu akte nikah kemudian penyerahan surat nikah masing-masing oleh petugas KUA atau bapak penghulu kepada Alena dan Andra.
Setelahnya semua keluarga dan tamu yang memang di undang dalam acara akad nikah Andra dan Alena bisa menikmati hidangan yang sudah tersaji baik dan enak-enak pastinya.
"Jadi aku sekarang udah jadi istri sah seseorang ya. Ya Alloh naha asa nggak redho gini sih nikah kayak kepaksa gini , walaupun si lakiknya ganteng pisan juga asa miris atuh diriku mana nggak cinta lagi dan pake ada tragedi-tragedi yang di tuduhkan. Jadi eneng teh kudu kumaha atuh setelah jadi istrinya si om nyebelin ini?" Batinku menjerit.
π¬π¬π¬
Bersambung...
Salam sehat selalu ya semua dari riritambun π₯°
__ADS_1