TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 63


__ADS_3

Sejak aku tau kebenarannya dari Vera sahabatku kalau si om suami di jebak, aku sungguh menyesali keegoisanku selama ini pada si om suami. Besoknya aku mencoba ke kantornya si om suami, usai pulang kuliah. Aku sengaja tidak memberi tahu si om suami kalau siang menjelang sore ini aku akan menuju ke kantor Law Firm-nya.


Ku lajukan dengan semangat mobil honda jazz ku, aku ingin segera mengakhiri permusuhan sepihak ini dari si suami. Walaupun jujur rasa traumaku masih ada sedikit. Tapi rasa benciku seakan sudah menguar begitu saja, begitu juga sakitnya.


Tringg...


Tringg...


Tiba-tiba saat di perjalanan menuju kantor Law Firm si om suami, gawaiku berbunyi dari dalam tasku. Aku pun menepikan mobilku sejenak di si jalan, untuk dapat melihat dan mengangkat panggilan telepon dari gawaiku.


Ku raih tas yang berada di kursi sebelah kemudiku setelah aku menepikan mobilku. Ku buka tas ku dan mencari gawaiku di dalam sana, setelah kutemukan gawaiku ku langsung ku lihat siapa yang menelponku.


Nada deringnya masih terus berbunyi makin nyaring setelah gawai tersebut ku keluarkan dan berada di genggamanku.


"Nomor siapa sih kok nggak ada namanya? Angkat nggak ya?" Aku berfikir sejenak kiranya mengangkat panggilan tak di kenal ini atau tidak, sambil terus aku menatap ke layar gawaiku yang masih terus berdering.


Tringg...


Tringg...


"Angkat aja deh, siapa tau penting." Akhirnya ku tekan tombol menerima.


["Hallo Assalamualaikum. Ini siapa ya?"]. Ucapku memulai percakapan saat menerima panggilan tadi.


["Maaf apakah ini nomornya mbak Alena istrinya Pak Liandra Alvian Abraham?" ] Terdengar suara lelaki dari sebrang panggilan.


[ "Iya, maaf ini siapa ya?" ] Tanyaku heran sekaligus penasaran.


[ "Maaf mbak ini saya Amar, tadi saya menemukan mobil yang menabrak pohon dan pemiliknya juga pingsan di dalam mobil. Jadi saya membawanya ke rumah saya dan dengan terpaksa saya mengchek dompetnya untuk menemukan identitasnya dan nomor hp yang bisa di hubungin, untuk memberi kabar. Dan yang saya temukan adalah nomor hp dengan nama Alena sang istri di kertas yang ada di dalam dompetnya." ]


[ "Astagfirullah, jadi sekarang keadaan pak Andranya bagaimana dan dimana sekarang?" ]


Aku terkejut sekaligus panik mendapat kabar demikian barusan.


[ "Pak Liandranya masih pingsan dan masih di rumah saya. Sebaiknya mbak segera kesini untuk melihat sekaligus menjemputnya. Akan saya kirim alamatnya ke mbak segera." ]


Tanpa banyak tanya lagi dan tanpa banyak fikir aku mengiyakan saja.


[ "Iya pak atau mas, terima kasih banyak." ]


Sambungan telepon pun langsung terputus begitu saja dari pihak seberang dan langsung masuk pesan baru ke gawaiku.


Aku pun langsung mengecheknya ternyata ya alamat lengkap dari yang katanya bernama Amar yang menelponku barusan.


Akupun yang hari ini baru kelar perkuliahan dan keluar ruang kelas, bergegas ke parkiran mengambil mobilku dan langsung tancap ke alamat yang barusan ku terima.


Perasaan sungguh sangat cemas semoga si om baik-baik saja, jujur aku masih merasa seperti trauma. Jikalau si om suami mengalami hal-hal buruk lagi seperti dulu yang sampai mengakibatkan ia koma hampir 2 bulan lamanya.


Aku lajukan kendaraan roda 4 ku lebih cepat dari biasanya, aku sedikit agak kesulitan mencari alamatnya karena alamatnya terbilang cukup jauh dan ternyata masuk jalan-jalan yang sepertinya belum pernah ku lalui sebelumnya. Selang hampir 1 jam 45 menitan aku tiba di alamat yang ku tuju. Tapi aku herannya kok gedung tua? Yang sudah tak terawat dan kosong.


"Apa ini bener alamatnya kah?" Aku menelisik penampakkan gedung tua itu dari dalam kaca mobil depan kemudiku, lalu membuka gawaiku memastikan kembali dengan isi pesan tadi tentang alamatnya.


"Iya bener sih ini alamatnya." Monologku, sambil masih mengenggam gawaiku.


Mungkin rumahnya ada di balik gedung tua ini kali, kan bisa saja di dalam sana ada permukiman warga. Sebelum aku keluar dari mobil aku mencoba menghubungi nomor si Amar tadi yang memberi tahuku.


[ "Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan." ]


Suara operator yang terdengar dari seberang sana.


"Loh kok nomornya nggak aktif sih." Aku heran dan bingung dengan perasaan yang cemas dan panik dari tadi.


Namun, aku mencoba mengendalikannya. Ku ulang sekali lagi menghubungi kontak Amar, tapi tetap sama hanya suara operator yang tersambung dan terdengar dari seberang sana. Ku coba lagi hingga beberapa kali menghubungi nomor si Amar tadi, masih tetap selalu suara operator yang terdengar dari sebrang sana.


Ku coba men-SMSnya karena memang nomornya tadi menelpon melalui panggilan telepon biasa dan alamat yang dikirimkan juga menggunakan pesan SMS, nomor tersebut juga memang tidak bisa tersambung ke aplikasi berlogo hijau itu saat aku mencoba ingin menghubunginya lewat aplikasi tersebut.

__ADS_1


[ Assalammualaikum. Maaf mas/pak Amar saya sudah sampai, rumah mas/pak Amar di sebelah mananya? Kenapa yang terlihat hanya sebuah gedung tua disini? ]


Begitulah isi SMS yang ku kirim pada orang tersebut , namun SMS ku malah tidak terbaca alias masih pending.


Lagi-lagi aku mencoba menghubungi nomor kontak tersebut dan lagi-lagi tidak tersambung kepada sang empunya.


"Duh kenapa jadi nggak bisa di hubungin gini sih nomornya?" Kesalku sambil memukul setir kemudiku dengan diselimuti perasaan khawatir, bagaimana keadaan si om suami sekarang?


Akhirnya ku putuskan keluar dari kemudiku bersiap melangkah hendak menuju sekitaran gedung tua di depanku ini, mana tau benar alamatnya ada disini dan mana tau benar di belakang-belakang sana ada permukiman warga.


Dari tempat aku memarkirkan kendaraan roda 4 ku memang jalannya tidak cukup untuk mobil masuk. Karena yang ada hanya jalan kecil yang hanya bisa di lewati oleh kendaraan roda 2 saja di sekitar belakang gedung tua itu.


Kini aku sudah keluar dari dalam kemudiku, aku mematung di depan pintu kemudiku dengan kedua mata ini menyusuri setiap sudut dan sisi yang ada di seberangku.


Hari memang sudah beranjak sore sekitaran pukul 16: 38 wib, aku sebenarnya agak was-was juga sendiri di tempat ini karena sungguh tempat ini sepi sekali. Tapi aku beranikan diri demi menemukan si om suami yang katanya sedang pinsang akibat insident. Aku pun mulai melangkah setelah ku kunci pintu mobilku.


Tapi saat aku akan melangkah tiba-tiba ada tangan yang di lapisi sapu tangan dari arah belakang tubuhku yang membekam mulut dan hidungku secara bersamaan.


"Mmmhhp." Aku mencoba meronta untuk melepaskan diri, tapi rasanya tiba-tiba kepalaku pusing dan mataku berkunang-kunang, sehingga setelahnya yang kurasakan adalah gelap gulita.


🍬🍬🍬


POV ANDRA


"Vian kenapa kamu memblokir nomorku kembali?" Perempuan yang memakai dress berwarna merah dengan motif bunga-bunga itu tiba-tiba datang dengan emosinya pada ku.


"Memang seharusnya begitulah yang ku lakukan , sama seperti sebelumnya." Tukasku dingin tanpa menoleh pada perempuan itu yang tepat dihadapanku.


"Waktu itu kamu mau mengantarku pulang tanpa ku minta, kenapa setelah itu sekarang kamu kembali bersikap tidak perduli lagi terhadapku Vian." Nafasnya terdengar naik turun karena emosinya.


Aku tidak mengindahkannya aku pun kembali berjalan menuju parkiran dimana mobilku terparkir disana.


"Alvian." Teriaknya tidak aku hiraukan, kalau sang sekuriti menegur dan mengusirnya aku pun tidak perduli.


Kini setelah tiba di depan mobilku aku pun langsung masuk ke kursi kemudiku, saat aku sudah masuk dan menghidupkan mesin mobil. Saat itu juga perempuan yang bernama Niken itu sampai di sebelah pintu kemudiku dan mengetuk-ngetuk kaca jendela kemudiku berulang-ulang seraya berkata.


Aku tidak perduli, persetan dengan dia mau pulang dengan siapa di waktu sudah malam sekitar pukul 22: 00 ini. Ku lajukan saja mobilku tanpa menoleh apalagi membuka kaca jendela kemudiku yang terus di ketuk oleh Niken.


Hari ini aku kembali pulang malam dari kantor Law Firm Surabaya di mana awal aku bernaung sebagai ahli hukum atau tepatnya sebagai advokat.


"Assalamualaikum." Salamku setelah aku masuk pintu utama rumah orang tuaku.


"Waalaikumsalam. Den Andra baru pulang? Kok pulang malam terus Den?" Bik Ijah menghampiriku dan menanyaiku.


"Iya bik, lagi banyak-banyaknya kerjaan di kantor sekarang-sekarang ini." Jawabku apa adanya.


"Aden mau di siapkan makan atau bagaimana?" Tanya bik Ijah lagi dengan sopan.


"Boleh bik, tapi saya mau ke kamar dulu. Saya mau mandi dan ganti baju dulu." Ujarku.


"Inggih Den." Kata bik Ijah.


Aku pun hendak melangkah untuk menaiki anak tangga menuju ke lantai 2 dimana kamarku berada.


Ceklek.


Ku buka pintu kamarku dan ku tutup dengan rapat serta ku kunci pintu kamarku , berjaga-jaga agar tidak ada orang sembarangan masuk. Akupun membuka jasku serta dasiku, meraih benda pipih milikku yang ada di saku dalam jas ku. Ku letakkan benda pipih itu di atas nakas sebelah bed tidur, membuka arlojiku dan ikut meletakkannya di nakas tersebut.


Kemudian aku berlalu bergegas menuju kamar mandi rasanya lengket sekali sudah tubuh ini, ingin segera di guyur oleh air dingin jauh lebih segar rasanya.


Selang beberapa menit aku pun selesai mandi dan merasa segar, setelah berpakaian lengkap aku pun bergegas keluar kamar dan turun hendak menuju ruang makan. Bik Ijah pasti sudah menyiapkan makan malam ku yang terbilang sangat telat karena ini sudah pukul 22 : 43.


Namun, karena dari siang aku belum makan nasi sama sekali karena sedang sibuk dan tidak bereselera makan. Maka malam ini aku merasa perutku mulai terasa amat lapar, makanya aku memutuskan makan walaupun hanya sedikit nasi saja beserta lauknya. Agar tidurku jauh lebih nyenyak karena perutku telah terisi.


___

__ADS_1


Usai makan aku langsung ke kamarku kembali duduk di tepi ranjang beresebelahan dengan nakas, ku gapai benda pipih milikku yang tadi ku letakkan di nakas ini.


Ku tekan tombol on-off, aku akan mengaktifkan kembali kontakku yang sengaja tadi ku padamkan malas rasanya. Karena Niken terus menghubungi ku serta menchat ku. Walau setelahnya aku memang langsung memblokir kontakknya.


Drett...


Drett...


Benda pipihku bergetar ku chek ternyata ada beberapa pesan masuk ke aplikasi hijau itu serta pesan sms juga.


Namun, dahiku mengerut mataku lebih menelisik jelas ke pop up pesan di layar atas gadgetku. Disana ada pesan masuk dari kontak yang bertuliskan 'My Wife ❤' itu jelas pesan dari Alena.


Aku langsung membuka pesan atas nama kontak tersebut ternyata cukup banyak panggilan tidak terjawab tadi sore dari Alena ke kontakku baik dari aplikasi berlogo hijau itu serta dari panggilan telepon biasa.


"Tumben Alena menghubungi ku?" Gumamku pada diri sendiri.


Tanpa ragu aku pun langsung menghubungi kontaknya, tapi kini malah nomor kontaknya yang tidak aktif. Aku mengulang melakukan panggilan suara ke nomor kontak Alena, sama tidak aktif. Ku putuskan saja besok lagi untuk menghubunginya, sekarang aku akan ke berlabuh ke alam mimpi.


Karena besok pagi-pagi aku harus bersiap mengunjungi klient ku yang ada di lapas, untuk membahas kasusnya yang akan naik banding. Akibat dugaan penyalah gunaan surat , tapi sebenarnya klientku itu sudah mengganti rugi sesuai perjanjian. Namun, pihak penggugat tidak terima dan meminta klient ku itu tetap harus di buih walaupun sudah memenuhi tanggung jawabnya sesuai kesepakatan sebelumnya.


Aku juga masih menyelidikki sendiri tentang klientku ini lebih detail lagi, tanpa sepengetahuannya. Agar aku bisa bersikap sesuai kebutuhan serta tidak ada kesalahan dan kesilapan dalam membela ataupun memperjuangkan sebuah perkara atau menangani sebuah kasus.


Karena semua itu akan di pertanggung jawabkan kelak di akhirat nanti, apakah kau berada di pihak yang benar atau sebaliknya. Jika berada di pihak sebaliknya jelas aku akan ikut menanggung dosanya nanti di hadapan Allah SWT.


Seperti yang pernah aku bilang aku memang bukan orang alim dan suci. Tapi aku selalu berusaha semampu aku agar bisa meminimalis untuk berbuat hal buruk, termasuk dosa.


🍬🍬🍬


"Jadi apakah bapak menyimpan surat perjanjian itu yang asli?" Tanya ku tegas pada klient yang aku kunjungi pagi ini di sebuah lapas di kota ini.


"Saya masih terus menginggat dimana surat itu berada, seinget saya. Saya menyimpannya di rumah saya. Tapi ntah bagaimana sebelum vonis saya jatuh hingga saya di bui di lapas ini, surat itu pun hilang. Saya curiga itu adalah ulah mereka si pihak penuntut. Agar saya benar-benar bisa masuk bui ini." Terangnya pajang lebar.


"Tanpa surat itu kita bakal susah untuk naik banding Pak?" Tegasku lagi pada sang klient.


Sang klient pun terdiam tanpa berucap, untuk beberapa menit ia seperti berfikir keras akan kasusnya ini.


"Mungkin anda bisa mencoba ke rumah saya Pak Liandra untuk menanyakan pada istri saya, mungkin saja ada solusi dia menemukan surat itu." Aku menyergit mendengar ucapannya barusan.


"Oke bapak tulis dulu alamat jelas bapak biar segera saya akan ke rumah bapak, menemui istri bapak perihal surat tersebut. Saya juga akan mencoba mengupayakan cara lain untuk dapat menemukan surat itu. Jika kita benar insha Allah ada jalan kita benar-benar terlepas dari jerat hukum yang seharusnya tidak kita terima." Tuturku tegas pada Pak Broto sang klient.


Pak Broto hanya manggut-manggut pelan tanpa ekspresi. Setelah ia menulis alamatnya dan menulis nama istrinya di kertas dan pulpen yang aku sodorkan tadi. Aku pun akan segera undur diri dari lapas ini, khususnya dari hadapan klientku ini.


Aku menarik bokongku dari kursi kayu ini menyodorkan tangan kanan untuk berjabat tangan dengan Pak Broto sang klient. "Saya permisi undur diri dulu ya Pak Broto." Izinku.


"Ya saya harap Pak Liandra bisa membantu saya." Matanya syarat sekali permohonan saat kedua manik kami saling bertemu pandang.


Aku mengangguk sambil berucap. "Insha Allah Pak." Kami pun melepas jabatan tangan kami.


Kemudian aku berbalik badan dan melangkah menjauh dari hadapannya hingga keluar lah aku dari lapas ini.


____


"Piuhh." Aku mengembuskan napas lalu melonggarkan dasiku dan duduk sejenak di tepi bed kamarku.


Aku baru saja pulang ke rumah ini kembali setelah hari ini wara - wiri mengurusi kasus klientku, serta kembali lagi ke kantor kejaksaan tadi sore sejenak. Kemudian menemui klientku yang lain di sebuah cafe petang tadi, lalu kembali lagi kantor Law Firm dan berkutat lagi dengan beberapa berkas-berkas kasus yang belum sempat ku teliti dan chek hingga waktu beranjak malam kembali.


Ku gapai benda pipih milikku dari balik jas ku , membuka kuncinya dengan sandi lalu menuju ke aplikasi berwarna hijau dan mencari kontak dengan nama 'My Wife ❤'. Setelah menemukan kontak tersebut langsung saja ku menekan tombol panggilan video ke.


Akan tetapi tidak terhubung, dahiku mengerut heran. Ku coba lagi tetap hasilnya sama. Aku lihat juga statusnya offline tidak online.


"Mungkin ia sudah tidur atau sibuk untuk mulai menyusun skripsinya." Fikirku bermonolog.


Ku letakkan benda pipih itu di atas nakas dan aku pun bangkit hendak melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


🍬🍬🍬

__ADS_1


Bersambung...


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰


__ADS_2