
Reno terlihat mengatur napasnya yang masih menggebu-gebu karena marah-marah tadi. Baru kali ini aku melihat Reno semarah itu sorot matanya tadi begitu memerah dan tajam sekali sepertinya ia begitu marah kepada Kak Fandi karena kelakuannya tadi kepadaku.
Sedangkan Aku mengatur perasaanku yang jelas masih ketakutan tapi aku berusaha menormalkannya.
"Lo nggak papa kan Alena?" Tanya Reno padaku, kami kini sudah berada dari tempat berlainan dari koridor tadi.
"Nggak papa kok Ren, makasi ya udah nolongin gue Ren." Ucapku tulus.
"Yakin lo nggak papa Len?"
Aku mengangguk dan berkata "Iya, yakin Ren aku beneran nggak papa. Setidaknya sekarang gue sudah lepas dari kejadian tadi. Sekali lagi makasi ya Ren." Ulangku lagi di akhir kalimat kembali berucap terima kasih kepada Reno.
"Ini minum dulu." Reno menyodorkan sebotol air mineral yang masih utuh bersegel yang tadi terlihat sekilas ia ambil dari dalam tas ranselnya.
Aku mengulurkan tangan mengapai botol plastik bening yang tutupnya berwarna biru tua itu. Lalu mencoba membukanya. Namun sebelum aku membukanya Reno meraih kembali botol itu dari tangan kananku.
Ternyata Reno hendak membuka segel tutup botolnya. "Imi minum udah terbuka!" Titahnya lembut saat kamu sudah duduk di dudukan yang berbahan keramik di padu semen di salah satu sisi dekat ruangan kelas para mahasiswa.
Ku teguk air mineral itu langsung Glek..Glek..Glek.
Hingga akhirnya air di dalam botol plastik itu tandas sepatuhnya.
"Alhamdulillah." Ucapku.
Menutup kembali botolnya. "Makasi ya minumnya Ren." Ucapku tulus. Reno memang salah satu sahabat terbaikku juga.
"Iya Len, gue kan temen lo juga." Balasnya seraya senyum. Ku balas lagi dengan senyuman juga.
Mata kuliah kami sudah selesai tadi dan aku hendak ke parkiran untuk mengambil mobil dan pulang. Tapi rencana mau ke perpustakaan dulu. Eh taunya tanpa diduga aku malah bertemu Kak Fandi.
Nah Vera sahabatku sudah pamit pulang duluan setelah kami tadi sempat ngobrol beberapa menit di dalam ruang kelas sebelum akhirnya terpisah. Karena kami kendaran masing-masing ke kampus.
Dan perihal Kak Fandi itu hanya Vera yang tau di kampus ini, karena hanya Vera yang selama ini selalu aku percayakan jika aku bercerita atau curhat.
Hari ini si om nyebelin nggak bisa mengantar dan tidak bisa menjemputku, di karena ia sudah berangkat langsung setelah sarapan. Untuk urusan pekerjaannya katanya ia ke kantornya yang ada di Jakarta setelahnya akan ke kantor kejaksaan baru setelahnya kepengadilan hendak mendapingi clientnya di persidangan.
Kali ini si om nyebelin memang sedang ada beberapa client di Jakarta. Bahkan setelah persidangan katanya ia juga akan mememui clientnya yang lain. Sibuk dan padat juga ternyata ya seorang yang berprofesi sebagai ahli atau kuasa hukum ini.
Sudah seminggu berlalu dari kejadian naas yang membuatku hampir di lecehkan oleh kak Fandi. Sejak aku yang tidak masuk satu hari dari kuliahku besoknya aku kembali ke kampus. Sejak itu juga asal aku ke kampus jujur aku selalu merasa was-was kalau-kalau aku bertemu dengan kak Fandi lagi.
Walaupun pasti aku akan bertemu dengannya karena ini kampus dimana kak Fandi menuntut ilmu walaupun ia sudah study akhir dan tinggal menyusun skripsinya, maka sebab itu pasti bisa saja aku masih akan bertemu atau sekedar melihatnya secara tak sengaja. Kecuali kak Fandi telah lulus dan wisuda atau aku yang pindah kuliah dari kampus ini dengan segera.
Awalnya si om nyebelin ingin membawa perkara tersebut ke meja hijau , tapi aku langsung melarangnya. Jika perkara itu di bawa ke meja hijau jelas orang tuaku akan tau yang sebenarnya, kalau anak gadis semata wayangnya ini hampir tertimpa pelecehan dan itu akan membuat orang tuaku malah semakin khawatir.
Namun, alasan tak tega juga sempat terbesit di benakku kepada kak Fandi. Akan tetapi alasan yang satu itu tidak aku ungkapkan kepada si om nyebelin. Takut salah-salah si om nyebelin malah salah faham lagi, walaupun sebenernya aku kan yang selalu salah faham terhadap si om nyebelin itu.
Aku tak memiliki perasaan apa-apa atau lebih kepada kak Fandi selain kagum layaknya seorang adik tingkat kepada kakak tingkatnya yang memang baik dan berprestasi selain kak Fandi memang memiliki wajah yang tampan.
Lagian ku fikir sudahlah yang terpenting sekarang aku baik-baik saja. Hanya saja aku jadi sedikit parno saja rasanya dan tak ingin bertemu lagi dengan Kak Fandi. Kejadian itu membuat aku jelas kecewa kepada Kak Fandi.
Sebenarnya aku heran dan kaget sekali atas kelakuan kak Fandi kala itu terhadapku. Bahkan hari ini kejadian tadi semakin membuatku heran dan kaget. Kak Fandi yang aku kenal santuy dan berprestasi tanpa cela.
__ADS_1
Tetiba mengapa kala itu dia berubah drastis saat di apartement itu dia seakan menjadi setan, bahkan tadi bisa-bisanya Kak Fandi main memelukku tanpa rasa malu dan berdosa.
Seakan Kak Fandi menjadi Kak Fandi yang tak ku kenal dan yang membuatku kaget lagi Kak Fandi menyatakan cintanya padaku. Cinta macam apa itu berani dan ingin melecehkan. Apa itu namanya cinta? Sungguh aneh menurutku, rasanya aku bahkan jijik sekarang terhadap Kak Fandi.
Syukurnya si om nyebelin itu mengiyakan permohananku untuk tidak menuntut atau memperkarakan kejadian itu ke kantor polisi atau meja hijau. Namun, si om nyebelin berkata kalau kejadian lagi atau kak Fandi macam-macam lagi maka tidak ada ampun baginya. Serta si om nyebelin juga menwanti-wanti aku, agar aku selalu berhati-hati dan tidak dekat-dekat lagi dengan kak Fandi.
Tapi pada dasarnya aku memang tidak dekat-dekat banget kok sama kak Fandi hanya biasa saja. Dan kalian tau sejak kejadian itu sebenarnya kak Fandi berusaha menghubungiku via WA atau pun telepon biasa. Namun, aku mengabaikannya. Kak Fandi sempat mengirimi pesan maaf dan menyesal via Wa, tapi aku abaikan hanya ku read saja.
Eh kak Fandi makin terus menelpon ku dari wa dan no telepon biasa hingga akhirnya aku blokir nomor kontaknya dari aplikasi WA ku dan telepon biasa juga. Hal itu jelas juga tak aku sampaikan kepada si om nyebelin, itu kulakukan hanya untuk menjaga ketenangan kami.
Karena aku malas jika nanti malah membuat si om terbebani atau malah kami berdebat. Rasanya aku lelah saja sambil pelan-pelan melupakan kejadian yang hampir membuatku hancur.
Aku juga akan berusaha untuk berfikir jernih kepada si om nyebelin agar tak salah faham lagi. Rasanya aku sangat bersalah kepada si om nyebelin yang jelas dia adalah suamiku, selama ini dia sudah sangat perduli dan baik serta tidak macam-macamin aku dan tidak banyak menuntutku sebagai istrinya.
Cinta rasanya aku belum bisa rasakan itu di hatiku kepada si om nyebelin. Tapi setiap berada dengannya aku merasa nyaman dan terlindungi walaupun jujur si om tetep nyebelin.
🍬🍬🍬
"Saya harap anda bisa membuat anak saya lepas dari tuduhannya dan tidak di penjara."
"Itu tidak mungkin Pak."
"Tidak mungkin bagaimana? Anda ini kan ahli hukum dan saya membayar anda untuk bisa membuat anak saya terbebas dari jerat hukum, apa susahnya kan itu sudah tugas anda sebagai kuasa hukum yang saya sewa dengan mahal." Jelas seorang pria paruh baya tadi tanpa ragu.
"Tugas saya menegakkan keadilan bukan membiarkan keadilan itu teraniaya." Tegasnya lagi dari bibir seorang kuasa hukum tersebut.
"Anak saya itu korban bukan terdakwa, setidaknya anak saya hanya masuk panti rehabilitasi bukan lapas tempat para penjahat."
"Ya bagaimana saya ingin anak saya bebas dari tuduhan itu, anda berserta tim anda akan saya bayar mahal." Pinta pria paruh baya itu yang terkesan arongan.
"Tugas saya sebagai advokat hanya mendampingi dan membela anak bapak dalam mendapatkan hak-haknya serta keamanannya , selama menjadi terdakwa hingga vonis di jatuhkan. Selebihnya itu bukan wewenang saya , termasuk jika tim saya ada andil sebagai pengacara anak bapak. Tugas mereka di didik bukan semata-mata untuk memenangkan kasus clientnya atau bukan juga karena uang semata. Saya dan tim saya di didik untuk menegakkan kebenaran." Terang sang Andra singkat dan tepat dengan tegas.
"Anda tidak bisa begitu dong Pak Liandra, saya kan sudah men-DP anda dengan jumlah yang cukup besar." Pria paruh baya itu tak terima atas kalimat-kalimat yang telah di lontarkan oleh Liandra Alvian Abraham,S.H.
Tanpa fikir panjang kuasa hukum yang tepatnya berprofesi sebagai advokat itu yang tak lain adalah Andra, segera membuka tas kerjanya merogoh isinya dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat yang terlihat mengembung isinya.
Dengan sigap Andra meletakkannya amplop tersebut di atas meja dan menyodorkannya tepat ke hadapan pria paruh baya tersebut, lalu berkata sebelum Andra melepaskan tangan kanannya dari atas amplop berwarna coklat itu.
"Ini saya kembalikan uang DP yang sudah bapak berikan kepada saya kala itu, saya mengundurkan diri menjadi kuasa hukum anak bapak mulai saat ini. Terima kasih dan assalammualaikum." Andra menarik tangan kanannya dari atas amplop coklat itu lalu berdiri dari duduknya dan segera hengkang dari ruangan tersebut.
Pria paruh baya itu hanya bisa cengok melihat reaksi Andra kepadanya lalu berkata. "Dasar munafik." Kesalnya.
🍬🍬🍬
Kini aku , si om nyebelin dan kedua orang tuaku berada di meja makan sedang menikmati makam malam bersama di rumah.
Kami dengan khidmat menyantap makan malam kami masing-masing sambil sesekali saling bercerita hingga akhirnya si om menyampaikan sesuatu yang di luar dugaanku.
"Ma, Pa Andra ingin izin membawa Alena tinggal bersama Andra di sebuah apartement yang sudah Andra sediakan." Ungkapannya itu nyaris membuat ku terbatuk-batuk karena tersedak air salivaku sendiri yang mendengarnya.
Untungnya hal itu tak terjadi akan tetapi aku malah jadi deg deg kan. Ih bener-bener ne si om selalu nyebelin kok nggak bilang-bilang dulu sih sama aku sebelum ia berkata kepada Mama dan Papaku. Ih masa aku harus tinggal berdua aja sama si om nyebelin di sebuah apartement, OH MY GOD HORRORNYA.
__ADS_1
"Kenapa harus izin lagi nak Andra kamu kan suaminya semua keputusan ada di tangan kamu jika perihal Alena. Asal itu hal baik dan tidak menyimpang dari ajaran agama." Ih si Papa malah berucap begitu lagi.
"Andra hanya mencoba menghormati Papa sebagai kepala keluarga utama di rumah ini dan maksud Andra mengajak Alena tinggal di apartement nanti. Itu setidaknya selama kami belum memiliki anak serta tujuannya untuk memandirikan kami berdua sebagai pasangan suami istri."
"Bagus atuh Nak Andra, Mama mendukung." Idih si Mama make ikut ngedukung sagala.
"Jadi rencananya kapan kalian akan pindah?" Papa bertanya.
"Insya Allah lusa." What, muka gile lusa nggak sekalian aja malam ini pindahnya om.
"Ok, tidak masalah ya kan Alena?" Papa berucap di akhiri melirik padaku.
"Ah i..iya Pa." Jawabku kikuk.
"Terima kasih Pa , Ma." Si om nyebelin berucap dan Papa Mama hanya membalasnya dengan anggukan di sertai senyuman.
Bagaimana aku bisa ngelak ini apalagi nolak kalau begini ceritanya. Takutnya Mama dan Papa juga nggak bakal setuju jika aku menolak dengan alasan aku belum siap jauh lama-lama dengan Mama , Papa.
Kan bener-bener nyebelin, ngeselin , geramin , iihhh ini om om.
"Om kok nggak bilang-bilang dulu sih sama Lena kalau kita mau pindah dari sini." Ucapku ketus saat aku dan si om nyebelin baru masuk bersama ke dalam kamar.
Eh ni oom di tanya malah cuek bebek dia hanya santai berjalan ke arah dimana dia akan mengambil laptopnya dan mulai membukanya duduk seperti biasanya di atas kerpet berbulu halus itu. 'Keheulen teuing sih, dasar Mamang-mamang.' Cebikku membatin.
"Om dengar nggak sih apa yang Alena bicarakan?" Sentakku geram tepat di sebelah telinganya, budeg-budeg deh ni oom nyebelin.
"Kamu itu mau bikin gendang telinga saya pecah ya Alena?" Ucapnya nyolot tapi expresinya tetep datar-datar aja kek vampire peak.
"Makanya kalau orang lagi nanya itu di jawab jangan kek orang budeg atau ogeb." Ketusku dengan mata melotot ke arahnya.
"Kenapa om main mau pindah-pindah aja sih? Bukannya bilang dulu sama Lena malah bilang duluan sama Mama Papa, trus lusa pulak tu pindahnya udah kek orang kena gusur aja buru-buru banget."
Nada bicaraku ketus terus kali ini habisnya geram banget sama ni oom nyebelin. Lagi-lagi ne oom cuek bebek sibuk dengan ketikan di laptopnya, ih karpet bener ne Mamang-mamang.
"Udah selesai ngocehnya?" Ucapnya datar masih sibuk dengan sepuluh jarinya di atas keyboard menari-nari dan tanpa menoleh kepadaku.
"Ih bener-bener nyebelin deh oom." Mulutku manyun-manyun kesel karena reaksinya lalu aku hendak melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan sikat gigi sebelum tidur.
"Kalau pun saya bilang dulu sama kamu tetep saja kan tidak merubah atau membatalkan kita untuk pindah nantinya." Langkahku terhenti saat si om nyebelin berucap, ada benernya juga sih apa yang ia katakan.
"Tapi tetep aja dong om Lena ini kan istri om harusnya apa-apa di diskusikan terlebih dahulu bersama, sebelum di realisasikan." Loh kok aku berucap seakan mengakui kalau aku istrinya si om nyebelin ini kepadanya.
Aku memejamkan mataku dengan expresi malu untuk saja posisiku membelakanginya, kalau tidak apakah aku akan semakin malu atas ucapanku barusan. Ku rasa wajahlu sudah memerah seperti kepiting rebus , bukan karena aku malu tersipu melainkan malu karena memalukan atas kekonyolan ucapanku sendiri barusan.
Setelahnya cepat-cepat aku melangkah menuju kamar mandi rasanya aku sudah ingin menghilang saja dari sini.
🍬🍬🍬
Bersambung...
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰
__ADS_1