TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 62B


__ADS_3

Tanpa terasa sudah hampir 2 bulan lebih aku tinggal di rumah Mama dan Papaku kembali sejak kejadian si om suami tiba-tiba muncul di saat ban mobilku kempes/bocor, hingga pada akhirnya aku harus bertukar mobil dengannya. Hingga malamnya ia kembali membawa mobilku ke rumah Papa Mamaku.


Selama itu juga si om suami selalu mengunjungiku khususnya di malam hari atau sore hari saat ia pulang cepat dari kantornya.


Aku selalu cuekin dia dan tanpa menemuinya sekalipun, bener-bener aku abaikan ia. Sampai saat ia datang membawa mobilku dan menyerahkan kuncinya pada Mama, aku pun menitipkan kunci dan STNK mobilnya pada Mama saja. Aku masih sangat malas dan enggan jika harus bertemu lagi dengan si om suami, yang membuatku masih merasa marah , sakit dan takut atau trauma.


Tapi ia tetep getol banget datang mengunjungiku setiap hari nggak pernah absen. Namun, tanpa ikut menginap di rumah Mama Papa. Walaupun Mama dan Papa pernah menawarinya agar ia menginap saja barang semalam saja di rumah Mama Papa.


Tapi ia juga beralasan ke kantor cukup jauh dari sini itu saja alasanannya setiap di suruh atau di tawari Mama Papa menginap disini. Bagus deh fikirku, walaupun aku cukup tau memang cukup jauh sih dari sini ke kantor law firm tempat ia berekerja sekaligus kantor miliknya itu.


Jujur aku memang belum pernah masuk ke kantor law firm nya selama kami menikah, termasuk belum pernah ke sana. Karena memang aku rasa juga nggak penting banget kok aku ke sana.


Seperti malam ini si om suami kembali datang dan Mama sibuk membujukku agar aku menemui si om suami walaupun ya selama itu aju terus menolak. Lagian udah di bilang pergi dan nggak mau di ganggu sama kehadiran tu lakik. Eh dia kekeuh datang terus tiap malam, bener-bener menyebalkan.


"Udah atuh Neng kamu jangan kelewatan gitu, gih atuh temui eta suami kamu. Kasihan dia udah tiap malam datang dan nungguin kamu, eh kamunya malah cuekin dia setengah mati gitu. Kamu bahkan nggak mau mendengarkan penjelasan sebenarnya dari mulut dia. Coba atuh kamu fikir baik-baik, jangan ego kamu aja atuh Neng yang di turuti dan di gedein. Si kasep eta teh sebenarnya tidak salah sama sekali itu hanya kecelakaan yang tidak bisa ia hindari. Mama hanya bisa bersyukur kamu teh masih baik-baik saja , istilahnya masih bisa sehat kembali seperti sekarang."


"Ih Mama bicara apa sih bikin lieur Eneng aja tau." Sewotku pada Mama gegara tu lelaki yang berstatus suamiku.


Ntah kenapa kali ini aku sampai begini hanya karena kesal dan benci menginggat kejadian yang di sebabkan dari ulah si om suami yang menyebalkan itu.


"Si eneng sekarang teh sewotan pisan sih Neng ari tentang si Kasep. Dia tu masih suami kamu Neng inget eta, ulah kalewetan kitu. Ntar ari si kasep udah muak terus ilang rasa cintanya ke kamu dan dia beneran mau bubar terus dapat pengganti kamu gimana? Yang lebih fatalnya lagi disitu kamu baru menyadarinya dan tidak bisa kembali lagi , itu lah penyesalan namanya."


Penuturan Mama barusan yang cukup panjang lebar membuatku sedikit tertohok, dan itu membuatku terdiam sambil berfikir.


Mama menepuk punggung lengan kiriku pelan yang berada di atas pahaku, lalu Mama bangkit dari duduknya di atas tempat tidurku. "Udah atuh kalau gitu mah Mama ke depan lagi temui si Nak Andra." Mamapun melangkah ke balik pintu kamarku hingga ia menghilang dari balik pintu tersebut.


Tadi Mama berucap sambil kami duduk berhadapan di atas tempat tidurku ini. Aku masih terdiam dalam dudukku berfikir keras dengan ucapan Mama tadi dan mencoba memantapkan hati. Namun , rasanya hati ku masih kesal sekali dan masih menyimpan benci serta takut.


Keputusan ku masih tetap sama malas untuk menemuinya, apalagi kembali tinggal bersamanya. Sudah biarkan saja si om nyebelin itu menunggu atau bagaimana. I don't care and i hate you, crazy husband.


___


"Ma , Pah sudah malam saya pamit dulu kalau begitu. Maaf sudah menganggu waktu Mama dan Papa." Ujar Andra merasa tak enak hati karena setiap malam datang ke rumah sang mertua, yang tujuan utamanya adalah melihat sang istri yang masih betah di kediaman orang tuanya sendiri.


"Harusnya kami yang minta maaf sama kamu Nak Andra, Lena masih saja enggan menemui kamu. Sepertinya dia masih butuh waktu, kamu teh yang sabar ya kasep." Mama Lilis meminta maaf sekaligus mencoba menyemangati sang menantu semata wayangnya yang tampan itu.


"Insha Allah saya akan tetap menunggu dan sabar Mah semampu saya, selagi Allah masih memberikan saya kekuatan itu." Tutur Andra sopan.


Kini Andra berajak dari duduknya lalu menyalami takzim kedua mertua.


"Hati-hati di jalan ya Ndra." Papa mertua Andra mengingatkan sambil menepuk pelan pundak sang menantunya itu.


Andra hanya mengangguk sebagai responnya, kini mereka bertiga melangkah menuju pintu utama.


"Assalamualaikum." Salam Andra kepada kedua mertuanya itu, dan kedua mertuanya pun membalas salam Andra dengan lengkapnya.


Andra pun sudah mengerakkan mobilnya membunyikan klakson sebagai tanda ia akan pergi dari area halaman rumah mertuanya dengan sekali lambaian tangan kanannya di balik kemudinya, yang kini ia buka jendela pintu kemudinya.


🍬🍬🍬


Sudah 1 minggu ini si om suami nggak datang-datang lagi ke rumah Mama Papa, sejak malam itu saat terakhir Mama menasehatiku di kamar dan mencoba membujukku untuk kelaur kamar, agar hendaknya aku mencoba menemui si om suami. Tapi pada akhirnya aku tetap tak mau menemuinya.


Siang ini kami sudah kelar perkuliahan di hari ini, seperti biasa aku berjalan beriringan dengan Vera sahabatku menuju parkiran roda 4 khusus anak kampus ini.

__ADS_1


"Oya gue duluan ya Ver, langsung pulang juga kan?" Seru ku hendak berpamitan.


"Tunggu Len keknya gue harus bilang ini ke elo deh, gimana kalau kita bicara dalam mobil saja barang sebentar." Dagu Vera menunjuk ke arah mobil mazda cx 5 warna merah miliknya yang terparkir di sebrang sana.


Mataku menelisik ke arah wajah Vera. "Maksud lo harus bilang apa sih Ver?" Aku binggung.


"Makanya udah kita bicara dulu di dalam mobil aja." Aku pun mengangguk dan melangkah mengikuti Vera.


Kini kami sudah di dalam mobil Vera dengan menghidupkan mesin agar ac mobil bisa dihidupkan , soalnya siang menjelang sore ini Jakarta begitu semakin membuat gerah.


Vera duduk di kursi kemudi dan aku duduk di sebelahnya. Posisi kami kini sedikit menyaping agar kami bisa saling berhadapan.


"Len gue cukup tau perasaan elo karena kejadian itu, walaupun gue nggak mengalaminya. Namun, harusnya elo jangan egois banget pake nggak mau mendengarkan penjelasan om gue dan seakan sekarang elo membencinya sekali ampe nggak mau ketemu apalagi pulang bersama om gue yang jelas itu suami elo Len." Vera menghela nafas agak berat, karena ia berbicara mengebu-ngebu gitu.


"Disini gue nggak ngebelain siapa-siapa hanya ingin memberi tahu fakta sebenarnya yang gue dengar dan gue tahu Len. Elo nggak tahu kan kalau om gue yang notabenenya suami elo itu kena jebak, om Andra itu dijebak pake obat perangsang level tinggi. Ada perempuan yang secara diam-diam memasukkan obat panas dan mengerikan itu ke minumannya om Andra.


Elo tau nggak Len di saat obat itu sudah beraksi dan si perempuan yang menjebak om Andra itu pun semakin beraksi dengan mencoba mengoda dan mengajak om gue itu, agar mau meniduri si itu perempuan. Tapi om gue dengan keras dan mati-matian menahan dan melawan reaksi dari obat perangsang dengan level tinggi itu serta melawan untuk tidak menyambut godaan di depannya. Padahal om gue udah dalam pengaruh obat gil* itu Len.


Elo bayangin deh Len gimana tersiksanya om gue menahan dan berperang dengan nafsunya yang sudah ada di bawah pengaruh obat aneh itu. Tapi om gue masih bisa menahannya walaupun dengan begitu sulitnya, agar dia nggak berzina walaupun itu bukan mau dan niat dia. Jadi yang elo alami itu akibat om gue , rasanya lebih tepat disebut insident yang om Andra juga nggak mau itu terjadi sama elo Len." Aku lihat Vera begitu meletup-letup mengunggapkan ini semua dengan wajah memerah seperti menahan kesal disertai matanya yang berkaca-kaca.


Baru kali ini aku melihat Vera sang sahabatku semarah ini ,rasanya ia begitu kesal dan geram sekali padaku atas tingkah ku selama ini terhadap omnya itu.


Aku malah menunduk dalam mencoba menenangkan hati dan fikiranku, lagi-lagi aku merasa tertohok. Namun, kali ini begitu tertohok sekaligus merasa bersalah sekali , karena penuturan Vera yang panjang lebar barusan tentang si om suami. Sungguh aku nggak menyangka jika si om dijebak separah itu, dan lebih aku nggak pernah berfikir jika si om begitu menjaga dirinya mati-matian juga demi aku.


Kini tanpa bisa ku hindari air mataku pun luluh juga ke permukaan wajahku.


"Sekarang terserah elo Len, gue sebenarnya geram sama kesal sekali sama elo. Namun, gue juga mengerti perasaan elo, tapi lama-lama gue rasa elo egois dan kelewatan banget sama om gue. Elo bener-bener nggak mikirin gimana perasaan suami lo sendiri, dia itu juga menyesal dan merasa bersalah. Karena kenapa?" Sentak Vera manatap tajam pada ku, aku hanya bisa terdiam sambil terus mengeluarkan air bening itu dari kedua kelopak mataku.


"Karena kenapa elo harus jadi korbannya, elo tau om gue masih bisa merasa kalau elo korbannya padahal semakin ke sini perasaan gue malah suami elo itu yang jadi korban pada akhirnya. Efek ke egoan elo sendiri yang lebay itu Len." Vera benar-benar meluapkan semuanya kekesalannya berserta uneg-unegnya yang selama ini ia pendam.


Gue makin terisak dengan semua penjelasan yang Vera ungkapkan. Vera mengusap air matanya secara kasar yang tadi sempat jatuh ke permukaan wajahnya. Lalu tanpa berkata lagi Vera langsung saja membalikkan tubuhnya ke arah pintu mobil dan membukanya lalu turun, tanpa pamit pada ku.


Sepertinya Vera kini benar-benar marah dan tak bisa nenahan rasa kesal dan marahnya lagi pada ku sehingga ia kini seperti itu padaku. Aku terima dengan pasrah kini aku hanya bisa menangis sendiri dalam mobilku sendiri dengan sesegukan, menyesalkan keegoisanku sendiri yang benar kata Vera lebay.


🍬🍬🍬


POV ANDRA


Sudah 1 minggu ini aku di Surabaya, aku mencoba mengambil kasus di kota pahlawan ini yang juga kota dan kampung halaman Mama ku. Aku juga sengaja kembali ke kota ini ke rumah orang tuaku yang ada disini, ini cara aku juga agar sedikit melupakan masalahku dengan Alena istriku.


Ku rasa ia sungguh membenci ku sampai selalu mengabaikan ku tidak pernah sekalipun ia mau bertemu dengan ku setiap aku mendatanginya ke rumah orang tuanya, hampir 2 bulan Alena tinggal kembali bersama orang tuanya di rumah orang tuanya. Selama itu juga aku selalu mendatanginya tanpa absen khususnya setiap malam, aku sengaja selalu datang malam agar Alena tidak merasa aku menganggu kegiatannya atau merasa risih.


Karena aku terus datang berkali-kali setiap hari , maka sebab itu aku datangnya selalu malam hari saja. Aku juga sengaja tidak mendatanginya di kampus, hanya sesekali aku mencoba mengikutinya secara diam-diam memantaunya dari jauh. Hingga saat aku mengikutinya dan memantaunya dari jauh, saat pagi-pagi Alena menuju ke kampusnya mobilnya tiba-tiba berhenti dan Alena turun dari mobilnya. Aku lihat Alena seperti kebingungan dan terlihat frustasi menatap mobilnya yang ia berhentikan tiba-tiba itu.


Saat itu juga aku langsung turun dari mobilku yang tak jauh terparkir mendadak. Karena melihat mobilnya Alena berhenti di sisi jalan yang tak begitu ramai, yang ternyata mobilnya mengalami kempes ban. Aku pun langsung membantunya tanpa bertanya dan aba-aba lagi. Ku kihat wajahnya kala itu kesal sekali dna kaget sekali atas kemunculanku, tapi kalau pun aku tinggalkan Alena begitu saja jelas aku tidak tega.


Sampai aku pun menyuruhnya untuk memakai mobilku saja agar Alena bisa segera ke kampus, mungkin saja ia sedang butuh ke kampus cepat dan jangan terlambat. Akhirnya Alena mau juga memakai mobilku untuk le kampusnya pagi itu, walaupun aku lihat dari gelagatnya ia merasa terpaksa. Karena pergi pun tanpa aba-aba ataupun sekedar basa-basi pamit.


Tapi tidak mengapa aku terima saja Alena berlaku begitu, ia masih mau menerima tawaranku atau lebih tepatnya perintahku untuk ia mamakai mobilku saja kali ini. Itu sudah membuatku senang.


Tapi saat malamnya aku datang ke rumah orang tuanya untuk menemuinya sekaligus mengembalikan mobil dan kuncinya. Ia masih tetap seperti biasa tidak mau bertemu dengan ku, sampai kunci dan STNK mobilku Alena titipkan lewat Mamanya untuk di berikan kepadaku. Sebenarnya aku merasa tersiksa ia terus mengabaikanku , karena aku begitu ingin kembali bersama seperti sedia kala.


Sungguh kejadian penjebakkan itu membuat rumah tanggaku tidak baik lagi seperti dulu, bahkan saat awal-awal pernikahan kami saja yang menikah karena kesalah fahaman orang tuaku dan desakkan orang tuaku yang tidak langsung. Tapi tidak membuat sikap Alena secuek dan separah itu padaku.

__ADS_1


Mereka yang telah menjebakku akhirnya bisa di proses hukum dan masuk penjara. Tapi satu yang masih aku belum yakin atas pengakuannya mereka, yang mengatakan itu hanya iseng mereka dan tidak ada dalang lain di balik penjebakkan itu. Mereka melakukan itu hanya karena perempuan iblis itu yang tergila-gila padaku, rasanya cukup tidak masuk akal pengakuan itu bagi ku.


Tapi setidaknya mereka berdua si pelaku langsung penjebakkanku itu masuk buih dan semoga kapok, mereka berdua juga ternyata selama kenal dengan ku memakai nama samaran.


Hari ini aku pulang malam lagi dari kantor Law Firm yang pertama aku tempati dan bekerja, sebelum akhirnya aku membuka kantor Law Firm di Jakarta. Namun, kantor Law Firm yang ada di sini bukan kantor milikku. Aku berjalan keluar ruanganku lalu turun menggunakan lift.


Ting..


Lift pun terbuka pintunya , kini tiba di lantai 1 melewati lobi.


"Alvian." Seketika kaki ku tefleks berhenti berhenti setelah sebelumnya aku menoleh tepat ke depan disana terlihat seorang perempuan cantik yang sangat ku kenal.


Ku tatap sekilas perempuan itu dengan tatapan tajamku secara dingin. Tanpa perlu berucap aku melangkah kembali mengabaikannya dan melewatinya yang berada di depanku tadi.


Perempuan itu berjalan sedikit berlari suara heelnya terdengar nyaring sekali, ia menghampiriku mensejajarkan langkahnya dengan langkahku. Aku tetap fokus melangkah dengan pandangan juga fokus ke depan.


"Vian kamu tidak bisa mengabaikanku seperti ini, aku jauh-jauh mendatangi mu kesini setelah aku tau kau pisah rumah dan pisah ranjang dengan istri bocah mu itu."


Deggg...


Dari mana perempuan aneh ini bisa tau menahu aku sedang pisang rumah dan pisah ranjang dengan Alena?


Seketika langkahku terhenti setelah mendengar ucapan Niken barusan, untung saja kantor sudah sangat sepi sehingga tidak ada yang mendengar.


Aku menoleh padanya yang juga refleks berhent melangkah. "Siapa bilang saya pisah rumah dan pisang ranjang dengan istri saya?" Tanyaku mencoba menelisik.


"Sudahlah Vian kamu jangan coba-coba membantah, aku sudah tahu. Aku akan menunggu mu hingga benar-benar bercerai dengan istri bocah mu itu Vian." Perempuan ini sungguh semakin tidak tau malu, ekspresinya begitu kentara.


"Jaga ucapanmu Niken?" Tegasku dengan sorot mataku mengintimidasi.


"Ayolah Vian kamu jangan terlalu naif." Ucapnya dengan ekspresi yang aku tidak suka sama sekali.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini Niken dan jangan menjadi perempuan bodoh apalagi murahan, karena sampai kapanpun saya tidak akan mencintaimu apalagi menikahi mu." Aku langsung melangkah lebar menuju mobilku meninggalkan Niken yang ternyata kembali mengejar langkahku.


"Ya Tuhan kenapa aku di dekatkan lagi dengan perempuan yang tidak aku sukai, sedangkan istriku sendiri malah mengabaikanku. Padahal bukan karena kesalahan yang sengaja ku buat padanya." Pekikku membatin.


"Alvian tunggu." Mau tidak mau aku berhenti karena satpam jelas ada didepan sana.


"Kamu mau apa lagi Niken?" Tanyaku dingin.


"Kamu kan sudah tau Vian mau ku apa? Aku hanya ingin kita menikah, aku jadi istri kedua mu pun aku rela."


"Maaf Niken , sudah saya bilang kan saya tidak ada niatan berpoligami." Aku menghela nafas sejenak.


"Kamu bawa mobil tidak? Kalau tidak biar kali ini saya mengantarmu pulang." Aku mencoba manawarinya pulang bersama agar ia segera lenyap dari sini dan dari hadapanku.


"Aku tadi hanya di antar sopirku saja kesini." Jawabnya.


Kini kami sudah di dalam mobil, dan melaju menuju rumahnya. Niken ini memang aslinya orang Surabaya, tapi sejak lulus kuliah ia ke Jakarta mengikuti kegiatan modelingnya hingga akhirnya ia ke luar negri. Itu yang aku tau.


🍬🍬🍬


**Bersambung...

__ADS_1


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰**


__ADS_2