TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 43


__ADS_3

"Ini bu laporan bulan ini." Mira mengulurkan sebuah map berwarna biru itu kepada Mama Andra dengan sopan.


Mama Andra pun menerimanya dan mulai membuka isi map tersebut perlahan dan mengcheknya dengan hati-hati. Laporan data keluar masuk perihal toko perhiasan 'Bintang S' sengaja di bikin menjadi 2 alternatif secara manual di liat dalam map ( walaupun tetap di tulisan ketikan bukan tulisan tangan ) dan satu lagi melalui file data di email khusus.


Saputri alias Mama Andra selalu datang setiap bulannya untuk mengechek data dalam map tersebut sekaligus memantau langsung keadaan dan kegiatan yang ada di toko perhiasannya yang di Jakarta. Jika ia memang sedang berada di kota ini, bagitupun dengan yang di Surabaya.


Toko perhiasan ini sudah berdiri dan berjalan selama kurang lebih sejak 15 tahunan. Yang awalnya belum sebesar ini dan belum seramai ini bentuk dan isinya apalagi hasilnya. Nah selama 7 tahun terkahir ini Mira adalah orang yang di percayakan Saputri dalam mengelola toko perhiasan ini, yang merupakan pusatnya.


Toko perhiasan 'Bintang S' ini pun sudah memiliki cabang sebanyak 2 cabang yang satu masih sekitaran Jakarta dan satunya lagi cabangnya ada di Surabaya. Di cabang toko perhiasan Mamanya Andra masing-masing sudah ada orang kepercayaan yang khusus di pilih Saputri dalam mengelolanya.


Mira pun dari sejak lulus SMA sudah di percaya oleh Saputri sang pemilik toko, untuk menggelola toko perhiasan ini sambil Mira berkuliah. Mira disini adalah managernya , Mirapun cukup kompeten dalam memanagementkan toko perhiasan ini dengan jujur dan amanah , walaupun di sambi Mira sambil berkuliah kala itu hingga akhirnya Mira bisa lulus S1 dan berwisuda.


"Ok , semuanya baik seperti biasa. Terima kasih ya Mira." Ucap Saputri dengan senyuman manisnya walau sudah berumur , sungguh Saputri masih terlihat cantik dengan versi tuanya dan terbilang awet muda tidak terlihat seperti nenek-nenek usia 58 tahun. Melainkan seperti usia 45 tahunan.


"Sama-sama bu." Balasnya tak kalah ramah dengan senyumannya.


Saputri pun kembali menyedot es lemon teanya melalui sedotan yang memang sudah tersedia di dalam gelasnya.


"Oya, bu. Kapan ibu mau ke RS lagi menjenguk Pak Andra?" Sebenarnya Mira cukup tau kalau Saputri atasan sekaligus pemilik toko tempat ia bekerja ini, jelas setiap hari pasti ke RS untuk menjenguk dan juga menjaga Andra putra atasannya.


"Setelah dari sini ibu langsung menuju RS, ada apa Mira?" Imbuh Saputri.


"Bolehkan saya ikut menjenguk Pak Andra bersama ibu hari ini? ..." Mira mengantungkan ucapannya, mencoba berfikir alasan apa yang bisa ia berikan, jikakalau ia ditanya kenapa mau menjenguk anak atasannya.


Karena pada dasarnya Mira tidak akrab dengan keluarga atasannya hanya sebatas tau saja.


"Saya hanya ingin melihat keadaan Pak Andra secara langsung bu, walaupun mungkin keadaannya masih tetap sama. Menjenguk orang sakit juga kan wajib dan berpahala, di tambah lagi ikut mendo'akannya." Akhirnya kalimat itulah yang terlontar dari mulut Mira sebagai alasan yang memang cukup logis.


"Ya boleh dong Mira kamu menjenguk Andra, masa nggak boleh. Kita ini kan juga keluarga, kamu kan dari dulu sudah ibu anggap seperti anak sendiri." Dengan penuh kelembutan dan senyuman Saputri bertutur sembari telapak tangannya bertumpu ke telapak tangan Mira yang bertenger di atas pahanya yang tertutup rok span itu.


"Iya bu , terima kasih banyak ibu sudah sangat banyak membantu saya dan ibu saya selama ibu saya masih hidup. Saya tak bisa membalasnya walaupun saya bekerja dan mengabdi seumur hidup saya kepada ibu." Tuturnya sendu.


"Kamu tidak perlu sebegitunya Mira jangan jadi beban oleh kamu, selama ini ibu ikhlas membantu kamu." Timpal Saputri lembut sambil meraih tubuh Mira dan memeluknya. Lalu disela mereka saling berpelukan Saputri pun seraya berucap lagi.


"Udah yuk sekarang kita berangkat ke RS." Di balas ganggukkan oleh Mira lalu mereka melerai pelukkannya.


"Santi , kamari sebentar!" Panggil Saputri kepada salah satu karyawannya.


"Iya, bu ada yang bisa Santi bantu kah?" Tuturnya ramah sambil membungkukan tubuhnya sejenak kepada Saputri sang pemilik toko perhiasan.


"Kamu tolong hendle dulu toko ini, Mira akan pergi dulu dengan ibu." Perintahnya kepada Santi.


"Baik bu." Jawab singkat Santi dengan sopan.


Mira pun segara mengambil tasnya dan segera kembali ke hadapan Saputri, kemudian mereka berjalan beriringan menuju keluar toko hendak menluncur ke RS.


___


"Ok mata kuliah saya hari ini telah selesai jangan lupa kerjakan tugas makalah kalian, minggu depan di kumpul jangan sampai ada yang tidak mengumpul. Assalamualaikum, dan selamat sore." Bapak dosen itu pun lalu melangkah menuju pintu ruang kelas ini, hendak segera keluar.

__ADS_1


Para mahasiswa/i pun telah membalas salam dari sang bapak dosen tersebut secara serempak.


"Ahh kelar juga kuliah hari ini." Seru Vera tepat duduk di sebelah Alena.


"Bete juga kalau udah tu dosen yang ngajar, mukanya itu loh datar banget dan nggak pernah senyum sama sekali. Mana bicaranya rasa kek gaya bicara robot." Cerocos Vera nggak ada henti seakan mengeluarkan unek-unek tentang dosennya yabg satu itu.


"Elo ne ya Ver ada aja pake ngatain tu Bapak Hartono kek robot segala nggak ada senyumnya, padahal om kamu sendiri juga gitu kali Ver." Adu Alena sambil mengemasin pelan binder dan juga alat tulisnya di atas meja.


"Yei beda dong cinn, om gue itu biar dingin dan kaku kek robot tapi kan ganteng pake banget. Lihat dong gue ponakkannya juga cantik pake banget, terus om gue biar udah ada ponakkan segede ini si om gue tetep aja ganteng pake banget bodynya juga atletis nggak kek om-om yang buncit perutnya pada umumnya." Imbuh Vera panjang lebar dengan percaya diri 1945 udah kek lagi bacain proklamsi kemerdekaan aja.


"Iya deh gue ngalah aja, lagi malas berdebat gue." Cueknya Alena.


Kini mereka pun berjalan beriringan untuk keluar dari ruang kelas ini dan menuju parkiran khusus maha siswa.


"Len elo nggak bakalan ninggalin om gue kan? Apalagi di saat sekarang ini om gue masih dalam keadaan koma." Vera sedikit merasa was-was kalau-kalau Alena bakal minta cerai kepada om-nya, karena keadaannya sekarang ini yang sudah hampir genap 1 bulan lamanya masih dalam keadaan koma.


"Elo ngomong apa sih Ver? Aku nggak bakal ninggalin om kamu di kala keadaannya seperti sekarang ini. Gue merasa bertanggung jawab atas keadaan om Andra, malah gue merasa bersalah tau nggak sih." Raut wajah Lena kini menjadi terlihat sendu ia memang sebenarnya merasa bersalah dan khawatir sekali dengan keadaan Andra sang suami.


"Maaf ya Len gue hanya merasa sedikit khawatir, jikalau elo merasa bosan dengan keadaan om gue yang masih koma. Elo kan masih muda lagi , bisa aja kan elo mikir buat apa sih gue hidup sama orang koma." Sambungnya lagi, kini mereka telah sampai di parkiran khusus mahasiswa.


Mereka masih berdiri berdua di sisi parkiran yang terbilang luas ini.


"Insha Allah gue nggak begitu, malah gue sedih dan sungguh merasa bersalah. Karena saat insident itu terjadi gua nggak bisa berbuat apa-apa untuk menolong si om." Terlihat mata Alena berkaca-kaca kini dan suaranya sedikit bergetar.


"Semoga om Andra segera sadar dan sehat kembali dan elo Len jangan merasa bersalah begitu, ini kan musibah mana ada juga yang mau kena musibah. Gue berharap elo dapat terus bersabar dan semangat dalam menunggu dan menjaga om gue itu. Gue juga berharap suatu saat Allah membuat kalian berdua jatuh cinta dan berjodoh sampai akhir hayat, aamiin." Itulah harapan terbesar Vera kepada hubungan rumah tangga omnya dan sahabatnya, sejak om nya resmi mengikrarkan ijab qabul untuk sahabatnya.


"Udah ah gue kan harus balik lagi ke RS Ver." Sela Alena tak mau berlama-lama meninggalkan Andra sang suami, ia benar-benar merasa bertanggung jawab untuk menjaga dan merawat si om suami.


"Iya, elo juga hati-hati ya Ver ."


"Ok, udah gih masuk dan jalan duluan." Alena pun langsung membuka pintu kemudinya dan langsung menghidupkan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan area kampus menuju RS.


Malam ini Alena akan di temani oleh Vera sang sahabat di RS.


____


"Pak Andra.." Ucapnya sendu dengan menatap wajah tampan itu yang masih tertidur bak putri tidur.


Wanita itu pun memberanikan diri lebih dekat lagi dan berusaha menyentuh wajah tampan yang terbaring itu.


Ia pun akhirnya menyentuh wajah tampan itu membelainya lembut. Ia pun mendekatkan wajahnya ke telingga kanan Andra lalu berucap pelan tepat di telingga Andra.


"Pak kenapa jadi seperti ini, cepatlah bangun Pak. Pak Andra tau sejak saya mengetahui Pak Andra koma akibat insident ini, hati saya semakin hancur. Saya begitu sedih menerima kenyataan tersebut. Pak Andra masih ingatkan , kalau saya mencintai anda. Walaupun saya tak mungkin bisa memiliki bapak dan itu meyakitkan. Tapi melihat Pak Andra terbaring seperti ini, itu jauh lebih menyakitkan bagi saya Pak Andra." Mira sungguh terlalu berani berbicara begitu dengan jarak sedekat itu kepada Andra yang terbaring koma di bed electricnya.


Tanpa ia sadar Alena sudah masuk ke dalam kamar kini.


"Kamu siapa?" Alena bertanya dengan perasaan aneh melihat seorang wanita berbadan langsing begitu dekat ke bagian wajah suaminya.


Sontak wanita tersebut bangkit dari membungkuknya dan menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


"Loh ini kan mbak yang di toko perhiasan itu? Telunjuk Alena mengarah rendah ke arah wanita di hadapannya kini.


"Ah iya mbak, saya Mira manager toko perhiasan 'Bintang S'." Ucapnya canggung dan gugup karena baru saja terpergok.


Dalam hati Mira ia merekuti kejadian ini dan dalam hatinya bertanya-tanya, apakah Alena mendengarkan apa yang ia ucapkan tadi semua kepada Andra?


"Mbak tadi ngapaen ya kok membungkuk begitu dekat ke arah wajah suami saya?" Alena merasa penasaran dan mencoba menelisik.


"Ah itu anu mbak...___?"


"Alena kamu sudah pulang dari kampus Nak?" Mama mertua baru nonggol dan menyapanya dengan pertanyaan barusan.


"Eh iya Mah, Alena baru kelar kuliah hari ini."


"Mama dari mana?" Alena bertanya pada Mama mertuanya.


Sedangkan Mira merasa beruntung karena Saputri muncul di saat yang tepat, menurutnya.


"Mama dari toilet Nak, nggak tau tetiba tadi Mama mules banget. Jadi ne Mama tinggal deh Mira sebentar sama Andra." Jawaban itu tidak membuat Alena merasa tenang, Alena masih merasa aneh dan heran serta penasaran dengan apa yang di lakukan Mira tadi kepada Andra.


Alena juga heran kenapa Mira bisa ada disini dan bersama Mama mertuanya, sebenarnya Mira ini siapanya keluarga dari suaminya sih?


"Oya, Nak Lena. Mira ini ingin menjengguk Andra. Jadi tadi saat Mama mampir ke toko , sekalian aja Mama ajak Mira. Nggak apa kan Nak?"


"Ah iya Ma , nggak papa." Mau tak mau Lena menjawab begitu.


Sebenarnya tak ada yang salah bagi Lena jika Mira datang kesini untuk menjenguk suaminya, yang Lena binggungkan itu Mira ini siapa sih? Mengapa wanita ini seakan cukup dekat dengan Mama mertuanya dan juga Andra sang suami.


🍬🍬🍬


"Semoga Anda tenang di alam baka. Selamat jalan." Ucapnya penuh kepuasan dengan suara lirih, setelah ia menyuntikkan cairan obat ke dalam botol infus Andra.


Ntah obat apa yang ia suntikkan tersebut.


Lelaki dengan fostur tubuh terbilang pendek dan mengenakan celana hitam bahan dipadu sepatu hitam ala lelaki, di sertai memakai jas putih ala dokter dengan kaca mata bergagang tebal berwarna hitam ditambah wajahnya sebagian tertutup masker medis berwarna kehijauan ala RS.


Baru saja masuk ke dalam kamar rawat Andra setelah di telisik saat Alena sedang sibuk di kamar mandi, karena tetiba mules yang begitu menghujam perutnya hingga terasa perih sekali dan ingin mengeluarkan suatu kotoran.


Setelah tugas utama lelaki berpenampilan bak dokter itu selesai terhadap Andra, maka lelaki tersebut pun segera keluar dari kamar ini dengan langkah sedikit terburu-buru. Karena tindakannya berpacu begitu kencang dengan waktu dan detak jantungnya.


Kini lelaki itu telah keluar dari kamar rawat Andra, lelaki itu pun sudah memastikan tidak meninggalkan jejak apapun disana sebelum ia keluar dari kamar tersebut termasuk keluar dari RS ini.


Tak lama beberapa menit reaksi terjadi pada tubuh Andra, ia tiba-tiba mengalami kejang-kejang. Tubuhnya bergetar hebat monitor pun berbunyi tak karuan, di kamar rawat VVIP ini sepi tak ada orang lain selain Alena yang masih di dalam toilet yang juga berada di bagian agak sudut kamar rawat ini.


🍬🍬🍬


Bersambung..


Bagaimana readers? Masih betah menunggu dan mengikuti kisah ini kan? Terima kasih banyak ya bagi para pembaca..🙏

__ADS_1


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰


__ADS_2