
"Sayang?" Panggilnya lembut.
"Apa..?" Ketus sewot.
"Kamu kenapa kok dari sejak kita dari Mall itu sepertinya acuh tak acuh sama Mas."
Kini si om mulai memelukku dari belakang kedua tangannya menyelinap masuk ke sisi kanan dan kiri tubuhku. Aku membiarkannya tapi dengan perasaan masih kesal.
"Udah jangan ngendus-ngendus gitu Mas, Lena mau tidur."
"Ya udah tidur aja, Mas kan cuma ngendus aja." Si om suami masih dengan aksinya.
"Udah ya Mas." Sentakku.
"Kamu cemburu ya sayang?" Pertanyaan itu tiba-tiba si om suami lontarkan, aku memutar bola mata dengan malas.
"Siapa yang cemburu, kesel aja. Kenapa mbak Niken ada di dalam mobil Mas gitu tadi , duduk di sebelah kursi kemudi."
"Kan tadi udah mas kasih tau." Kini si om suami menghentikan aktivitasnya yang ngedus-ngedus di ceruk leherku.
Aku menghela napas cepat untuk sekali helaan. "Tetep aja Lena nggak suka dan masih kesel."
"Kesel sama Mas atau sama Niken?" Kini si om memutar tubuh ku agar bisa berhadapan dengannya.
Ku beranikan menatap ke arah dua manik itu. "Dua-duanya." Jawabku dengan terus menatap kedua maniknya.
"Kamu kalau kesel sama Mas , karena apa?" Kembali ia bertanya, seakan kepo dengan jawabanku.
"Karena Mas sepertinya terlalu dekat dengan mbak Niken."
"Mas tidak dekat dengan Niken ataupun perempuan lain, Alena sayang. Kecuali dengan klient Mas. Tapi itu juga dekat sewajarnya sebagai seorang klient dengan partnernya, tidak lebih." Tuturnya si om suami.
Aku masih cemberut dan menampakkan ekspresi tak suka padanya, sambil menundukkan kepalaku malas menatapnya kembali. "Kok masih cemberut gitu, heumm." Ujarnya lembut sambil mengangkat daguku agar wajahku kembali menghadapnya.
"Udah ah tidur sana." Ujarku sambil mendorong dadanya, tapi tidak ada pergeseran darinya.
"Kamu nggak percaya sama suami mu ini sayang? Kan Mas udah bilang sebelumnya Mas tidak ada apa-apa sama Niken, tadi dia nyelonong masuk kan Mas langsung keluar dari dalam mobil meninggalkannya di dalam mobil sendiri." Jelasnya sambil membawa tatapan kami bertemu pandang.
"Mas nggak ada ngapaen-ngapaen kan sama Mbak Niken di dalam mobil , pas Alena pergi ke toilet. Kalian bukan sengaja ketemuan kan disana." Ntah kenapa aku jadi takut dan berfikir begitu pada si om suami.
Sungguh aku nggak mau suamiku diam-diam selingkuh seperti kebanyakan cerita di novel-novel bahkan kehidupan nyata juga cukup banyak kejadian begitu.
"Tidak ada sayang, Mas juga heran dan kesal kenapa Niken bisa ada disana saat itu dan tiba-tiba masuk ke dalam mobil."
"Sepertinya Mbak Niken itu suka sama Mas, atau jangan-jangan memang masih suka sama Mas. Makanya dia terus mengejar Mas."
"Udahlah sayang jangan mikirin hal begitu, yang terpenting Mas sayang dan cintanya sama kamu istri Mas. Insha Allah perasaan ini dan kebersamaan kita sampai jannah ya, aamiin." Ia menarikku dalam dekapannya, hingga wajahku menempel tepat di dada bidangnya yang selalu terasa nyaman bagiku.
Aku menarik wajahku dari dadanya. "Ya Mas sekarang bisa bilang begitu, ntar kalau lama-lama Mas malah jadi tergoda sama Mbak Niken atau perempuan lain gimana?" Ku menatap kedua manik itu dalam, sembari menghela nafas pelan.
"Apalagi Mbak Niken itu cantik dan modis, tampilannya selalu sexy." Imbuhku lagi, kembali aku menunduk.
"Kok nunduk lagi, sini lihat wajah dan mata Mas." Ucap ya sambil kembali menarik daguku agar kembali mengarah ke wajah dan matanya.
"Bagi Mas hanya kamu perempuan tercantik kedua setelah Mama, dan hanya kamu yang bisa membuat Mas tergoda." Pungkasnya.
__ADS_1
"Alah gombal." Sewotku.
"Gombal atau tidak itulah faktanya. Lagian kalau Mas mau sudah dari dulu saja Mas pacaran atau menikahi Niken atau perempuan lain. Kenapa harus kamu sayang, yang kamu tau sendiri kan asal muasalnya pernikahan kita karena salah paham yang secara tidak langsung adalah tuntutan dari keluarga Mas. Mas bisa aja ngelak menikah dengan kamu sayang, saat itu kalau memang Mas ada apa-apa dan suka sama Niken. Tapi nyatanya kan Mas tidak begitu. Karena memang Mas tidak pernah ada hubungan apapun terhadap Niken selain dia teman masa SMA Mas, dan. Mas juga tidak pernah punya perasaan apapun kepadanya selain menganggap Niken itu teman biasa." Ucap si om suami panjang lebar kepadaku.
Ku tatap dalam kedua manik elang itu, menjelajahi isinya. Apakah tersimpan kebohongan kah disana?
"Masih belum yakin dan percaya sama Mas, suami kamu ini hmm? Atau kah masih cemburu buta?" Ujarnya dengan menatap dalam juga ke manikku.
"Nggak tau ah." Sewot ku , masih sedikit kesal.
Namun , dari mata elang itu tidak ada kebohongan disana setelah ku selami dalam tadi. Begitu juga ucapannya jelas dan lembut , tapi tegas tanpa neko-neko.
"Mau bukti?" Katanya mebuatku menatap intens padanya.
"Buktiin pake apa emangnya?" Ucapku lagi-lagi dengan nada kesal.
"Ini." Tanpa ku duga si om suami menyentuh bibirku dengan bibirnya.
Aku spontan membelalakan mataku karena reaksi yang di lakukan si om suami, di luar dugaanku. Namun, ada geleyeran yang sangat dahsyat dari perbuatannya tersebut.
Ia mulai ******* bibirku pelan dan lembut, membuat
geleyeran yang sudah lama tak aku rasakan sejak kejadian penjebakan itu terjadi. Ntah bagaimana aku akhirnya malah terbuai dan menikmati *******-******* dari bibir si om suami terhadap bibirku.
Sehingga pada akhirnya aku pun sadar atau tanpa sadar membalas ci*man tersebut, hingga ci*man itu saling membalas dan berlangsung cukup lama serta menciptakan suara-suara khas dari sana. Si om suami pun semakin menarik tengkukku untuk memperdalam ci*man kami.
Kami mengakhiri kissing kami setelah pasokan oksigen terasa minim sekali. Nafas kami masih naik turun akibat olahraga bibir yang kami perbuat barusan. Aku memukul pelan dadanya kerena kesal tapi juga senang, ntah kenapa bisa begitu aku pun tak mengerti.
"Mas ini apa sih main nyosor aja kayak entok." Seruku masih dengan nada sewot.
"Udah ah tidur, geseran dikit napa si Mas." Ujarku sambil sedikit mendorong tubuhnya agar agak menjauh dariku, tidak terhimpit oleh tubuh kekarnya ini.
"Ya sudah tidur saja, tidur dalam pelukan Mas." Saat si om suami akan kembali menarikku dalam dekapannya, aku mencoba menghalaunya.
Si om suami terdiam sejenak. "Ya sudah tidurlah." Ujar si om suami lalu mulai menjauh dariku dan beranjak dari atas ranjang.
"Mas mau kemana?" Tanyaku heran, sepertinya si om kesal padaku. Walaupun tidak terlalu kentara tapi aku bisa merasakan itu.
Sejenak si om suami menghentikan langkahnya. "Mau ke kamar mandi, berwudhu sebelum tidur. Kamu tidak ikut berwudhu juga." Serunya lalu mulai kembali melanjutkan langakahnya.
Namun, sesaat kemudian sebelum si om suami benar-benar melangkah menjauh dari hadapanku. Aku pun segera bangkit dari atas ranjang lalu berhambur memeluk tubuhnya dari belakang.
Kurasakan tanganku yang melingkar di perut dan pinggangnya ia sentuh lembut. "Maafin Alena ya Mas." Ungkapku, rasanya aku terlalu egois selalu berprasangka yang tak semestinya pada suamiku yang baik dan sholeh ini.
"Minta maaf untuk apa sayang." Tanyanya lalu ia memutar tubuhnya pelan, ia juga membukukkan sedikit tubuhnya hingga kini wajah kami berhadapan.
Ia pun menangkup wajahku lembut dengan menyorot kedua manikku dalam. "Minta maaf karena Lena cenderung berprasangka aneh atau jelek pada Mas." Ucapku sendu dengan pandanganku kembali menunduk, rasanya malu juga karena sifatku yang satu ini seperti kekanak-kanakkan.
"Mas juga minta maaf ya." Aku mengangguk cepat dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Mata kami kembali saling bertemu dan menatap dalam, sedetik kemudian si om suami kembali menyentuh bibirku dengan bibirnya. Ia pun kembali melakukannya dengan lembut seperti tadi, tapi syarat menuntut.
Aku kembali terbuai dan membalas ******* itu, kami saling menikmati ci*man ini kembali. Kedua mataku menutup rapat dan kedua tangan ku pun sudah pas melingkar di lehernya.
Tiba-tiba si om suami melepas pangutannya, aku refleks membuka mataku terlihat disana matanya sudah mulai berkabut. Ia seakan ingin meminta dan melakukan lebih dari ini.
__ADS_1
"Bolehkan saya melakukan lebih dari ini?" Suaranya sudah parau dan semakin berat, dengan tatapan berkabut seakan menahan sesuatu yang mulai bergejolak pada dirinya.
Akupun mengangguk tanpa berfikir lagi, karena ini memang hak dan kewajiban kami sebagai pasutri. Selama ini aku sudah egois menahannya agar tidak menyentuhku, padahal itu adalah kebutuhannya juga sebagai lelaki dewasa. Apalagi sudah memiliki istri jelas itu kebutuhan setiap suami, bukan.
Si om suami pun langsung mengendongku ala bridal style membawaku dan merebahkanku dengan penuh kehati-hatian di atas ranjang. Hingga akhirnya terjadilah kembali pertempuran panas kami, aku pasrah menikmatinya.
Si om suami begitu berhati-hati dan penuh kelembutan melakukannya kali ini. Sungguh ia memperlakukanku seperti benda yang begitu berharga dan jangan sampai aku terluka lagi atau kesakitan lagi seperti kejadian malam itu.
🍬🍬🍬
Setelah kejadian kami kembali memadu kasih di malam itu, hubungan kami semakin berwarna dan semakin harmonis. Si om suami pun jelas kembali seperti mode awal yaitu tukang minta jatah sesukanya, saat aku lagi masak seperti sebelum-sebelumnya termasuk saat aku sedang sibuk mengetik skripsiku. Kata si om suami kan masih libur semester.
Nanti kalau udah usai liburnya katanya akan ia kurang-kurangi sebisanya, agar tidak sering-sering minta jatah.
Aku hanya bisa pasrah dan agak merasa lucu dengan tabiat dan kelakuan si om suami yang seperti itu. Tapi jika aku menolak jelas itu dosa. Apalagi ia sebagai suami sudah sangat baik dan bertanggung jawab lahir bathin padaku sebagai istrinya? Ia pun suami yang terbilang romantis walaupun lebih sering kaku.
Tapi ia berusaha selalu menjadi yang terbaik untukku dengan perhatiannya serta pengertiannya juga, dengan sesekali mau membantumu dalam urusan rumah tangga seperti mencuci piring dan hal kecil lainnya seperti membersihan kamar mandi dan beberes.
Seperti saat ini hari minggu libur hari terakhir ku di semester ini, ia mencuci piring bekas sarapan kami dan membiarkan aku duduk santai saja sambil nonton tv.
Beberapa menit kemudian si om suami berhambur duduk di sofa ini tepat di sebelahku, yang sedang menonton cartoon persegi berwarna kuning itu.
"Nanti Mas mau pergi berenang mau ikut nggak?" Ujarnya, dengan pandangannya mengarah ke layar LCD di depan kami.
Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan heran.
"Emang boleh, biasanya Mas melarang Lena karena nggak mau tubuh Lena terekspose oleh khalayak banyak. Apalagi kaum lelaki bukan, kok sekarang tumben Mas ajak Lena? Udah berubah fikiran atau Mas sekarang udah rela bagi-bagi penampakkan tubuhku." Cetusku, neh lah aku selalu asal bunyi kadang kepada suamiku sendiri.
Padahal prediksi ku seringan salah faham.
"Husss..Enak aja." Tegasnya menatap ku.
"Siapa bilang Mas rela tubuh istri tercinta Mas memakai pakaian minim di depan banyak orang, kalau kamu Mas akan sewa privat area kolam renang itu hanya untuk kita berdua saja. Dan meminta pelayan atau pengantar makanan dan minuman untuk kita nanti wajib perempuan saja. Jadi tidak akan ada satu lelaki pun yang bisa melihat istri mas yang cantik ini berenang." Tegasnya panjang lebar.
"Yeii..enak di Mas lah abs Mas yang sexy itu terlihat dan di nikmati oleh mereka pengawai perempuan." Sewotku sambil memanyunkan bibirku.
"Kaun perempuan tidak terlalu parah jika melihat aurat lelaki sayang, berbeda dengan kaum lelaki yang melihat aurat perempuan. Mereka juga tidak akan berjaga atau berada disana terlalu lama, hanya akan muncul jika kita membutuhkan atau saat mengantar pesanan kita saja kok." Begitulah penjelasan yang si om suami katakan barusan.
"Ok deh Lena ikut, udah lama banget Lena nggak berenang." Seruku.
"Ya udah kita siap-siap." Si om pun beranjak berdiri dari duduknya, menoleh pada ku yang masih duduk.
"Sekarang Mas mau berenangnya? Emang udah mas sewa privat, area kolamnya sampai ketat itu?" Tanyaku merasa cukup heran kembali.
Si om suami mengangguk sambil berucap. "Iya udah karena Mas yakin kamu pasti mau, maka dari itu sudah mas booking privat sejak kemarin." Ungkapnya lagi.
Ia pun mulai melangkah menuju kamar kami, aku pun mulai bangkit dari dudukku dan menyusul suamiku ke kamar untuk bersiap-siap berenang di area kolam renang yang juga tersedia di gedung apartement ini.
🍬🍬🍬
Bersambung..
Maaf ya baru bisa up lagi, selama ini kehabisan kouta. Dan belum bisa beli atau isi lagi, hingga baru ini saya bisa isi kouta lagi dan publish bab dari cerita ini. Terima kasih bagi para pembaca yang tetap setia menunggu dan tetap mengikuti setiap bab dari cerita ini..🙏🙏..
Mohon suportnya ya dan tinggalkan jejak ya di kolom komentar serta dukungan votenya..🙏😊
__ADS_1
Salam sehat selalu ya dari riritambun..🥰