TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 11


__ADS_3

"Eh pak Andra, sudah lama tidak kemari." Ucap perempuan cantik dengan ramah dan sopan yang berpenampilan rapih dan cukup formal dengan seutas senyum.


Saat aku dan om nyebelin ini sudah masuk ke dalam sebuah toko perhiasan yang cukup luas dan terlihat mewah.


"Mari silahkan duduk pak Andra, oya kenapa pak Andra tidak datang bersama ibu?" Ucap perempuan cantik itu ramah.


Tanpa menjawab pertanyaan si mbak cantik ini si om nyebelin ini pun langsung mendudukan bokongnya ke sofa berukuran cukup untuk di duduki sekitar tiga orang yang tersedia di pinggir sudut di dalam toko perhiasan ini yang di depannya ada sebuah meja kaca persegi.


Tapi kok si mbaknya bisa tau sih nama si om nyebelin ini,


mungkin si mbak ini pemilik toko perhiasan ini kali ya.


Aku masih berdiri di sisi sofa karena masih sungkan untuk duduk.


" Alena sini duduk." Tiba-tiba suara bariton itu menyuruhku untuk duduk siapa lagi kalau bukan si om nyebelin tersebut.


Aku pun berjalan hendak menjatuhkan bokongku di atas sofa yang berwarna maroon tersebut.


Toko perhiasan ini memang cukup luas dan terlihat bagus serta mewah, pengunjungnya juga lumayan ramai.


" Oya, bapak dan mbaknya mau minum apa ? " Tanya si mbak itu ramah kepada kami.


Mbak itu pun duduk di sisi kanan tepat di sebelah tempat duduk si om nyebelin ini dengan kursi yang berbeda dan bukan kursi sofa melainkan kursi plastik dengan kaki kursinya yang berbahan besi.


Terus paen ini si mbaknya pake nawarin kami minum, ini beneran atau begimana?


Kan setau aku paling minun air AQ*A gelas ya kan.


Apa ini serius mau kasi kami minuman sesuai kemauan kami ? Terheran-heran aku jadinya.


Apa karena si om nyebelin ini beneran langganan di toko perhiasan ini ?


Tapi paen si om nyebelin ini berlangganan di toko perhiasan, kan dia belum nikah beli perhiasan untuk siapa coba ?


Apa untuk mamanya itu si nenek fashionable itu?


Aku jadi kepo dan herman , eh maksud aku itu heran kok aku malah bawa-bawa nama si herman segala.


" Espresso hangat." Ucap si om nyebelin ini datar.


Dan si mbak itu pun melirik ke arahku seakan mengisyaratkan minuman apa yang aku inginkan.


" Ah ya orange jus dingin saja mbak." Ucapku sedikit kikuk.


Dan si mbak itu pun hanya membalas dengan senyuman ramah kepadaku.


" Sar..,Sari sini."Si mbak itu memanggil pramuniaganya.


"Iya mbak Mira ada apa ?" Jawab si mbak yang katanya bernama Sari ini setelah tiba di hadapan kami tepat juga di hadapan si mbak yang dari awal menyapa dan melayani kami.


"Kamu pesanankan sekarang espresso hangat satu dan orange jus dingin satu segera ya." Titahnya dengan suara pelan.


"Baik mbak." Jawab si mbak pramuniaga setelah si mbak ini memyelipkan sesuatu kepada si mbak pramuniaga itu dan ia pun berlalu pergi.


"Apakah ada yang bisa kami bantu pak Andra ? " Tanyanya si mbak ini tetap ramah kepada si om nyebelin itu.


"Saya mau memesan cincin pernikahan namun bukan dari bahan emas, melainkan palladium murni." Ucap si om nyebelin itu datar.


"Oh maaf buat siapa ya pak Andra ? " Tanya si mbak ini dengan ramah dan sopan tapi terlihat ada rasa keheranan sedikit di wajahnya.


"Untuk saya dan calon istri saya." Jawab si om nyebelin ini dengan tegas.


"Pak Andra mau menikah." Ucap si mbak ini terlihat kanget tapi expresinya kembali ia normalkan.


"Iya dan gadis yang duduk di sebelah saya ini calon istri saya." Ucap si om nyebelin ini dengan tegasnya.


"Mau desain seperti apa kiranya yang pak Andra inginkan?" Tanya si mbaknya dengan ramah.


Tak lama mbak pramuniaga tadi datang ke arah kami membawa dua pesanan minuman kami tadi.


Mbak pramuniaga itu pun meletakkan satu gelas panjang yang berisikan orange jus dingin serta satu gelas sedang berserta cawannya di atas meja yang ada di hadapanku dan si om nyebelin ini.


Setelahnya si mbak pramuniaga itu pun pergi dari hadapan kami.


"Silahkan di nikmati minumannya pak Andra dan mbaknya." Si mbak ini mempersilahkan kami dengan ramahnya.


"Terima kasih." Ucapku ramah kepada si mbak tersebut sedangkan si om nyebelin ini tak merespon hanya berkata.


"Saya mau desain yang simple dan polos saja seperti desain sebuah cincin pernikahan pada umumnya tapi di balik cincinnya saya ingin di ukirkan nama pasangannya masing-masing. Saya juga maunya khusus untuk cincin perempuannya di bagian depannya di beri beberapa titik mata berlian di sisi kanan dan kiri cincinnya dan di tengahnya diberi satu mata berlian yang cukup besar agar terlihat lebih manis." Papar si om nyebelin ini panjang kali lebar memberikan penjelasan kepada si mbak tersebut tetap dengan expresi datarnya.


Bisa juga ya si om nyebelin ini mempunyai ide pake di ukir segala nama pasangannya di balik cincinnya , aku kira dia nggak bakal sebegitunya untuk desain cincin pernikahan kami aku saja tidak sampai sedetail itu memikirkannya apalagi ini terbilang pernikahan dadakan.


"Baik pak Andra akan kami desain sesuai keinginan pak Andra." Ucap si mbak itu kembali dengan ramahnya.

__ADS_1


"Berapa lama proses pengerjaannya ? " Si om nyebelin itu bertanya.


"Paling cepat dua minggu proses pengerjaannya baru bisa selesai dan itu sudah proses yang paling cepat dalam pembuatan sebuah cincin couple pak Andra." Terang si mbak tersebut.


"Ok kalau begitu." Tegas si om nyebelin ini.


"Mari pak Andra kita ukur dulu lingkar jari manisnya agar ukurannya sesuai begitu juga dengan si mbaknya" Ucap si mbak tersebut .


Dan si om nyebelin ini hanya menjawab dengan anggukan saja.


Dan jari manis bagian tangan kiri kami pun di ukur lingkarannya oleh salah satu mbak pramuniaga toko perhiasan ini yang sudah ada di hadapan kami.


Kemudian si om nyebelin ini menuliskan namanya dan namaku , tepatnya nama panggilan kami masing-masing bukan nama panjang kami


Nama panggilan kami akan di tulis besandingan di balik lingkar cincin pernikahan kami masing-masing.


Sok sweet banget kan si om nyebelin ini inget ya bukan so sweet tapi sok sweet.


Jujur aku belum tau nama panjang si om nyebelin ini dan aku juga nggak tau apalah si om nyebelin ini sudah tau atau belum nama panjangku ?


"Sudah selesai mengukurnya ya pak Andra dan mbaknya." Ucap si mbak ini setelah usai mengukur jari manis kami.


"Oya Mira buatkan saja nota resminya oke." Titah si om nyebelin ini kepada si mbak ini.


Maksudnya apa coba si om nyebelin ini bilang begitu,kan pastikah dibuatkan nota transaksinya masa nggak.


"Baik pak Andra mohon tunggu sebentar." Si mbak tersebut pun bangkit dari duduknya dan berlalu dari hadapan kami.


Si om nyebelin ini pun bangkit dari duduknya dan mengeluarkan dompetnya dari saku belakang celana bahannya lalu ia duduk kembali.


Si om nyebelin ini pun meminum kembali espressonya nah kalau aku sudah hampir tandas jus jerukku yang ada di dalam gelasnya.


Mbak itu kembali lagi ke hadapan kami dengan membawa sesuatu.


"Silahkan pak Andra bisa tanda tangani tanda terimanya." Ucap si mbak tersebut setlah ia duduk di kursinya tadi dna menyodorkan nota dan pulpen kepada si om nyebelin ini.


Si om nyebelin itu pun meneliti sejenak kertas nota tersebut lalu membubuhkan tanda tangannya di atas kertas nota tersebut.


"Saya bayar lewat rek B**." Ucap si om nyebelin ini.


"Baik pak Andra. " Ucap si mbak tersebut.


Dan dia memanggil salah satu pramuniaganya yang sepertinya akan menyuruh untuk membawa mesin gesek kartu atm untuk pembayaran.


Si om nyebelin ini pun membuka dompetnya dan mengeluarkan kartu atmnya tersebut.


Lalu menyodorkan kartu atmnya itu kepada si mbak tersebut.


"Ini Mir kartu atmnya."


Si mbak tersebut pun meraih kartu atm yang di sodorkan oleh si om nyebelin ini.


Kemudian mengesekan kartu atm si om nyebelin ini ke mesin gesek ( mesin EDC ) dan menekan tombolnya beberapa kali ,kemudian menyodorkan mesin


EDC tersebut kapada si om nyebelin ini.


"Silahkan masukan pinnya pak Andra." Ucap si mbak itu ramah dan sopan.


Si om nyebelin ini mulai menekan tombolnya memasukan pinnya dengan teliti dan gerakan cepat tapi pasti.


"Terima kasih pak." Ucap si mbak tersebut.


Jujur aku kepo berapa harga cincin pernikahannya karena tadi aku tidak dapat melihat jelas isi tulisan yang ada di notanya saat si om nyebelin ini membubuhi tanda tangannya sebagai tanda terima tepatnya tanda terima pembayaran.


Si om nyebelin ini pun bangkit dari duduknya melihat itu aku juga ikut bangkit, karena pasti kami akan keluar dari toko perhiasan yang mewah ini setelah selesai urusanya tinggal nanti tiba waktu pengambilannya mungkin kami akan datnag lagi.


Ya itu juga kalau si om ajak aku lagi kali ya.


Si om nyebelin ini pun memasukan dompetnya kembali ke saku belakang celana bahannya setelah ia memasukan kartu atmnya tadi ke dalam dompetnya.


"Kalau begitu saya permisi dulu dan terima kasih ya Mira." Ucap si om nyebelin ini namun expresinya tetap datar tanpa senyum, aneh juga ya.


"Sama-sama pak Andra." Balas si mbaknya dengan seutas senyum.


Setelah mengucapkan itu si om nyebelin itu pun hendak keluar dari himpitan sofa dan meja kaca dan memberi kode padaku agar segera melangkah maju.


Aku pun tak menunggu lama langsung berjalan melangkah menuju pintu keluar toko perhiasan ini.


Namun saat masih berjalan menuju pintu toko perhiasan ini.


Terdengar bisik-bisik yang cukup bisa ku dengar dari beberapa pramuniaga yang sedang tak melayani konsumen berkata.


"Duh si pak Andra bakalan nikah."

__ADS_1


"Akhrinya si tampan ketemu si cantik cocok."


"Wah bakalan ada yang potek neh."


Begitulah yang tertangkap dari indra pendengaranku ku rasa si om nyebelin ini juga pasti cukup bisa mendengarnya.


🍬🍬🍬


Kini aku dan si om nyebelin ini sudah di dalam mobil, tepatnya mobil si om nyebelin ini.


Tadi dia datang kerumah menjeputku tiba-tiba tanpa mengabariku terlebih dahulu kalau ingin ke toko perhiasan untuk membeli cincin pernikahan kami.


Di perjalanan baik pergi dan pulang tetap sama seperti waktu itu si om nyebelin ini di perintah mengantarku pulang dari menginap di rumah Vera ya selalu diam tanpa ada percakapan.


Aku juga nggak tau kan mau bicara apa jadinya ya diam juga.


Namun kali ini aku mencoba ingin bertanya kepada si om nyebelin ini.


"Om , Kenapa tiba-tiba om mengiyakan untuk menikahi Alena ? Kan awalnya om yang bisa menyuarakan penolakan atas tuduhan dan kesalah fahaman waktu itu." Tanyaku tanpa ragu dan penasaran.


Si om nyebelin ini masih fokus menyetir dan padangannya juga masih lurus ke depan.


Kami masih terus berjalan menuju rumahku dan tak lama mobil pun berhenti tepat di depan pagar rumahku.


Hingga suara bariton si om nyebelin ini terdengar saat aku akan melepas sabuk pengamanku.


"Saya mengiyakan untuk menikahi kamu karena saya ingin membahagiakan mama saya dan mungkin ini waktu yang tepat saya bisa mewujudkan kemauan mama saya. Walaupun saya tau ini semua salah faham, tapi mamah saya terus meminta saya untuk segera menikahi kamu.


Saya tidak mau mama saya kambuh lagi penyakitnya seperti dulu jadi saya iyakan saja kemauannya agar menikahi kamu." Jawab si om nyebelin ini panjang lebar masih dengan nada datar dan tanpa expresi.


Setidaknya aku sudah cukup tau jawaban dari pertanyaanku tadi yang jelas aku memang penasaran sejak si om nyebelin ini datang bersama si nenek fashionable itu dna si kakek gagah itu ke rumahku kala itu untuk melamarku.


"Saya minta maaf jika kamu keberatan atau malah membenci saya, tapi saya harap kita bisa menjalani pernikahan kita nanti dengan sungguh-sungguh bukan pura-pura. Karena pernikahan bukan permainan melainkan ibadah." Ucap si om nyebelin ini sungguh diluar dugaanku.


Aku kira ia hanya menganggap pernikahan kami nanti hanya pura-pura walaupun pernikahan kami nanti tetap sah di mata agama dan resmi di mata negara.


Berarti aku harus siap melayani si om nyebelin ini di atas ranjang gitu nanti setelah kami sah menjadi pasutri alias pasangan suami istri.


Ya Alloh aku belum siap pacaran aja kagak pernah masa langsung malam pertama dengan si om nyebelin ini.


Eh tapi tunggu tadi si om nyebelin ini bilang minta maaf kepadaku, aku ngggak salah dengarkan tadi.


Ya aku nggak salah dengar tumben si om nyebelin ini waras.


Aku masih terdiam mencerna kata-kata yang terlontar dari mulut si om nyebelin ini, aku belum bisa berkata-kata lagi tapi si om nyebelin ini mulai bersuara lagi.


"Kamu tenang saja setelah kita menikah nanti saya tidak akan menyentuh kamu minimal sampai kamu lulus kuliah dan wisuda atau maksimal sampai rasa cinta itu tumbuh di antara kita." Pempaparan kali ini bahkan jauh di luar dugaanku.


Apa bisa pria sepertinya menahan hasratnya kepada sesuatu yang sudah sah nantinya, apalagi aku masih sekitaran dua tahun lagi baru bisa lulus kuliah dan wisuda.


Itu bukan waktu yang cepat bagi seseorang dapat menahan hasratnya kepada sesuatu yang memang sudah sah menjadi miliknya.


Tapi aku juga belum siap untuk melakukan hal itu walaupun kepada si om nyebelin ini setelah nanti ia sah menjadi suamiku.


Aku jadi agak kurang yakin jika si om nyebelin ini bisa menahan hasratnya selama itu atau jangan-jangan si om nyebelin ini impoten atau penyuka sesama jenis ?


Aku jadi agak curiga soalnya dia terbilang sudah tua lebih tepatnya dewasa tapi masa belum nikah-nikah.


Ya walaupun aku cukup sadar jodoh itu kan siapa yang tau kapan akan benar-benar datang.


Terus jodoh si om nyebelin ini aku gitu ?


Arggg..., rumit juga kek gini.


Aku masih diam membisu asli aku bingung dengan semua ungkapan si om nyebelin ini.


"Sudah jangan jadi beban fikiran lebih baik kamu fokus saja ke kuliah kamu dan saya tidak akan mengekang kamu kok asal kamu tetap harus tau batasan, apalagi setelah kita sah dan resmi menikah nanti. Agar kita tidak menambah dosa sebagai suami istri yang sah nanti , karena setelah menikah dalam agama kita semua semakin ada batasan tapi bukan kekangan. Semoga kamu bisa faham akan maksud saya ini." Ucapnya lagi panjangan kali lebar tapi syarat ketegasan.


Aku masih tertengun di posisiku namun terakhir dengan cepat aku bersikap biasa saja dan hendak keluar dari mobil isi om nyebelin ini.


"Oya, om nggak singgah dulu kerumah." Tawarku iseng saja.


Aku sudah tidak tau harus berkata apalagi untuk merespon semua yang si om nyebelin ini paparkan barusan padaku.


"Tidak terima kasih saya masih ada urusan kerjaan sore ini hingga malam. Sampaikan saja salam saya kepada kedua orang tua kamu Alena." Ucapnya datar padaku.


"Ok." Responku singkat.


Tangan kiriku bergerak untuk membuka pintu mobil dan keluar dari mobil si om nyebelin ini dengan expressi tak jelas.


🍬🍬🍬


Bersambung...

__ADS_1


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰


__ADS_2