TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 14


__ADS_3

Mobil Pajero Sport hitam milik Andra berhenti tepat di sebelah gerbang kampus tempat Alena berkuliah.


Hari ini hari senin tepat hari ini adalah pertama kali aku di antar si om nyebelin ini ke kampus dengan status kami yang sudah sebagai pasutri sah. Dan hari ini tepat sudah tiga hari aku berstatus menjadi istri Liandra Alvian Abraham alias si om nyebelin.


Aku hendak mengangkat atau mentengadahkan tangan kananku kepada si om nyebelin ini setelah aku melepaskan sabuk pengamanku. Namun, suara bariton milik si om nyebelin ini terdengar ke gendang teligaku sebelum aku melakukanya.


"Alena nanti tolong kamu kirimkan nomor rekening kamu ya!" Perintahnya dengan suara tegas.


Aku menoleh ke arah si om nyebelin ini dengan wajah heran untuk apa si om ini minta nomor rekeningku? fikirku.


"Untuk apa om?" Tanyaku langsung.


"Kamu kan sudah menjadi istri sah saya sekarang, jadi kamu itu tanggung jawab saya. Mulai sekarang apa-apa kebutuhan kamu saya yang akan memenuhinya termasuk biaya kuliah kamu." Ucap si om nyebelin ini menegaskan.


"Satu hal lagi kamu jangan meminta uang lagi kepada kedua orang tua kamu ya Alena dan jika kamu butuh sesuatu dan tidak cukup dengan memakai uang yang sudah saya transfer tiap bulannya kamu bisa meminta kepada saya lagi." Tegasnya lagi.


"Iya om." Jawabku singkat.


Setelahnya aku mentengadahkan tangan kananku kehadapan si om nyebelin ini.


Datang si om nyebelin ini langsung merogo saku celana bahannya dan ternyata ia mengeluarkam dompet hitamnya dari dalam celana bahannya yang berwarna hitam kemudian berusaha membuka dompetnya.


Namun, aku langsung berkata. "Om ngapaen ngeluarin dompet om?" Tanyaku dengan raut wajahku keheranan.


Dan tangan kananku masih di posisi tadi mentengadah kepadanya.


Si om nyebelin ini pun menghentikan pergerakkannya yang ingin membuka dompetnya dan menoleh menatapku heran.


"Kamu minta uang jajankan? Maaf saya kelupaan." Ucapnya datar.


"Eh...Bukan om Lena bukan mau minta uang jajan. Tapi mau meminta tangan kanan om untuk Lena salamin takzim, sebelum Lena keluar mobil." Jelasku singkat.


Si om nyebelin ini kembali hendak membuka dompetnya hingga dompetnyapun terbuka lalu mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompetnya.


"Ini uang jajan kamu untuk hari ini ya, setelahnya saya akan transfer saja sekalian uang nafkan kebutuhan kamu yang lain setiap bulannya. Jadi saya harap nanti jangan lupa mengirim nomor rekening kamu ke nomor WA saya." Tegasnya lagi tanpa ingin dibantah sambil menyodorkan dan meletakkan beberapa lembar uang berwarna merah tersebut ke telapak tangan kananku.


"Tapi om Lena masih ada uang jajan dari Papa Lena yang bulan ini, kan ini masih pertengahan bulan dan jatah bulanan Lena masih ada." Terangku padanya.


Apa yang ku katakan memang benar adanya lagian beberapa bulan ini aku tidak banyak beli-beli atau shopping-shopping jadi jatahku bulan ini dan beberapa bulan lalu masih banyak tersisa.


ΔΆ


Jadi bisa kutabung saja uangnya, lagian aku masih merasa sungkan menerima uang atau apapun dari si om nyebelin ini. Walaupun ia sudah menjadi suami sahku, tapi jika menolak aku seperti tidak menghargainya.


"Sudah ambil saja itu hak kamu dari suamimu." Tegasnya.


Ku tarik tangan kananku tadi aku lihat dan aku hitung lembar merah tersebut , kok banyak banget fikirku.


"Om ini mah kebanyakan atuh kalau untuk satu hari sampe lima lembar uang merah begini." Ketusku sedikit sewot habis ne si om nyebelin ngasihnya emang kebanyakan rasa aku, ntar si om nyebelin ini ngira aku matre banget atau boros banget lagi kalau langsung terima gitu aja.


"Kalau rasa kamu kebanyakan ya sudah tabung saja atau kamu belikan apa yang kamu perlukan." Ucapnya enteng.


"Nggak ah om kan tadi Lena udah bilang kalau jatah bulan ini yang dari papa juga masih ada, Lena nggak mau bikin bangrut seketika gara-gara om terlalu loyal sama Lena." Cerocosku saja langsung ke intinya.


"Insya Allah saya nggak akan bangrut jika rezeky yang saya cari dan dapat saya serahkan kepada istri sah saya. Malah mungkin saya akan semakin sukses jika kamu menerimanya dan memakainya dengan sebaik-baiknya dan kamu doakan saya yang baik-baik." Ceramah si om nyebelin ini dengan datarnya.


Aku hanya bisa terbengong mendengarnya, mau tak mau aku terima aja kali ya, toh nolak juga tetap nggak bisa.


Si om nyebelin ini kan secara nggak langsung bicaranya tadi seperti tak boleh di bantah. Aku langsung memasukan uang tadi ke dalam tasku.


"Terima kasih ya om." Ucapku padanya dan langsung mengapai tangan kanannya lalu menyium punggung tangannya takzim.


Si om nyebelin itu hanya diam tak menjawab.


Aku pun membuka pintu mobil lalu berucap salam kemudian menutup pintu mobil setelah mendegar sekilas balasan salamku dari suara bariton si om nyebelin ini.


"Eh Lena tadi kamu di anter siapa? Soalnya mobilnya beda?" Siska bertanya saat ia sudah berjalan di sebelahku dan aku sudah masuk gerbang kampus.


Tadi Siska menghampiriku dari arah belakangku dan mensejajarkan langkahnya dengan langkah kakiku. Siska adalah salah satu teman sekelas dan sekampusku.


Siska tadi menghampiriku tiba-tiba dan kami berjalan beriringan menuju lantai tiga dimana disanalah ruang kelas kami berada.


"Oh itu bukan siapa-siapa." Jawabku bohong dengan senyum kikuk.


Jujur aku masih bingung mau menjawab apa jika orang kampus bertanya perihal pernikahanku ini yang terkesan dadakan.


Memang setelah ujian akhir semester nanti aku pasti akan mengundang teman-teman kampusku dan juga para dosen khsusnya dosen-dosen fakultas ekonomi karena aku kan kuliah dijurusan ekonomi managemen.


Tapi untuk saat ini aku masih enggan untuk memberi tau teman-teman kampusku kalau aku memang baru saja menikah.


Ya tepatnya baru menikah dengan si om nyebelin itu yang tak lain adalah pamannya Vera sahabatku. Ntah bagaimana reaksi dan tanggapan mereka teman-teman kampusku jika tau suamiku adalah omnya Vera.


"Tapi gue lihat kek cowok ganteng deh di dalam mobil tadi?" Tebakan Siska memang benar kan si om nyebelin itu memang ganteng.


"Ya papa gue kan memang ganteng secara lelaki , ya kali lelaki di kata cantik." Kekehku beralasan.


Biasakan aku pergi sendiri kalau tidak naik motor scoopy hitamku atau naik mobil Honda Jazzku yang berwarna putih, kadang-kadang mama atau papa mau mengatarkanku kalau pas bisa dengan memakai mobil mereka masing-masing.


Kini aku sudah duduk di mejaku di dalam kelas, tak lama bell masukpun berbunyi dan tanpa menunggu lama sang dosen pun tiba dan masuk ke dalam ruang kelas kami.


Mata kuliah pertama di pagi hari ini pun di mulai seperti biasanya dengan baik.


🍬🍬🍬


Saat hari minggu kemarin ketika kedua orang tuaku pergi ke rumah nenekku dan meninggalkan aku dan si om nyebelin itu berdua saja di rumah papa.


Tak lama setelah papa dan mama berangkat si om nyebelin itu mengajakku untuk siap-siap ke rumah Vera.


Aku malah merasa lega dengan ajakan si om nyebelin itu, karena jelas dengan begitu aku akan terselamatkan dari melakukan hubungan pasutri walaupun kami sudah sah.


Tapi maaf om aku belum siap dan aku selalu berharap ucapan si om nyebelin itu sebelum kami akad nikah waktu itu benar-benar si om tepati minimal sampai aku lulus kuliah.


Aku pun segera siap-siap dan si om juga tak lama menelpon papa meminta izin untuk menghargai kalau papa sang pemilik rumah.


Duh si om nyebelin itu terkadang kelakuannya selalu tak terduga dan itu membuat aku terherman-herman alias terheran - heran dan juga teroget-oget opps maksudnya terkaget-kaget.


"Aduh pengantin baru kok udah keluyuran aja kemari." Cetus si nenek fashionable dengan senyum-senyum mengoda.


Saat aku dan si om nyebelin baru sampai di rumah Vera hari minggu kemarin. Aku dan si om nyebelin ini hanya diam acuh tak acuh dengan ucapan si nenek fashionable.


Saat di rumah Vera hari minggu kemarin pas makan siang bersama semua keluarga kecil om Abizar berkumpul Vera dan saudara kembarnya yang tak seiras yaitu Andi,tante kemala, si kakek gagah itu dan tak ketinggalan pastinya si nenek fashionable itu ibu mertuaku.

__ADS_1


Aku meraih piring si om nyebelin dan menuangkan nasi ke piringnya, cukup banyak hidangan yang tersaji di atas meja makan besar ini.


"Om mau makan pakai apa?" Tanyaku setelah menuangkan nasi putih di atas piringnya.


"Loh kok manggilnya masih om sih sama suami, nak Lena?" Celetuk tante Kemala mamanya Vera lembut tapi tidak luput dari nada herannya.


Oya karena begitu banyak hidangan di meja makan ini makanya kali ini aku bertanya kepada si om nyebelin ini, tidak mungkinkan aku letakan semua sayur-mayur dan semua lauk yang ada sebagai teman makan nasinya si om nyebelin ini di piringnya.


Bayangkan saja di meja makan yang besar ini tersaji sayur lodeh, cah kangkung , cumi sambal lado , lele goreng , sambal terasi, tempe goreng , udang tempung crispy dan beberapa buah-buahan serta kerupuk udang dan kerupuk emping dalam toples khusus masing-masing.


Berbeda dengan hidangan di rumahku dengan kedua orang tuaku. Kami selalu masak secukupnya dan menunya juga tidak banyak yang seringan masak dua sampai tiga menu dan paling banyak biasa hanya empat menu itu juga jarang tidak sebanyak ini.


Seperti kemarin saat si om dirumahku hanya tiga menu malah lauk dan sayur jadi aku tak bertanya ke si om mau makan pake apa. Langsung letak aja sabodo teuing kala itu si om nyebelin ini mau memakannya atau tidak, karena masih untung juga kan aku yang menikah dadakan sama dia masih mau berbaik hati sebagai istrinya.


Bukan pelit seh ya cuma memang masak secukupnya saja, karena mama juga suka bikin kue-kue jadi kadang ya kue jadi cemilan udah cukup bikin kenyang lagi.


Lagian kami cuma bertiga di rumah jadi wajar ya masak ya nggak banyak-banyak seperti di rumah vera yang para ART dan pekerja lainnya di rumah ini juga menu


makanananya sama dengan yang di makan oleh para sang majikan.


"Maaf , Alena belum terbiasa tante eh.." Aku berucap gugup karena serba salah hingga mengantungkan kalimat terakhirku.


Si om nyebelin ini pun menyahut pertanyaanku setelah ungakapan rasa tak enakku dan serba salahku barusan terlontar tak sampai selesai.


"Cumi balado, udang crispy, cah kangkung dan kasih sambal terasinya juga." Jawabnya si om nyebelin ini singkat , cepat dan padat dengan nada datar sedatar papan tripleks.


Aku pun segera mengambil dan meletakan semua lauk yang si om nyebelin ini sebut tadi ke piringnya dan meletakkanya di hadapannya. Lanjut menuangkan minuman ke dalam gelasnya.


Aku jadi binggung dan serba salah harus menyebut apa tetua di rumah ini , setelah aku Sah menjadi istri si om nyebelin ini. Tadi aku mau menyebut tante kemala kakak atau mbak juga aku jadi ragu berasa nggak sopan karena dari segi umur jelas kan tante Kemala ini lebih pantas ku panggil tante.


Karena umur tante Kemala tidak jauh beda dengan umur mama.


"Udah soal sebutan atau panggilan biar saja senyamannya nak Alena saja, mungkin kedepannya nak Alena akan bisa merubah panggilannya kepada Andra dan kita sesuai panggilan menurut silsilah dari perkawinannya ini." Itu ucapan dari si kakek gagah itu santuy yang tak lain adalah papa mertuaku sejak kemarin pagi.


"Tapi Mama mohon di usahakan ya nak Alena karena kalau orang yang mendengarnya apalagi saat kamu memanggil suamimu dengan sebutan om, pasti pemikiran orang bisa lain." Ujar si nenek fashionable.


"Nak Alena kan bisa panggil Andra dengan sebutan mas atau aa." Timpal om Abizar papanya Vera.


Aku hanya senyum menyimak setiap ucapan yang terlontar dari tetua yang ada di meja makan ini.


"Oya nak Alena , Andra ini makanan kesukaannya itu cah kangkung dan seafood-seafood gitu apalagi kalau ada sambelnya doyan banget. Dan kebetulan disini lagi ada masak makanan kesukaannya." Bebernya si nenek fashionable ini kepadaku.


"Ah iya eyang.., eh Mamah." Jawabku terbata dengan senyum kikuk dan salah tingkah dengan situasi ini.


"Andra dan Alena nanti jangan lupa minggu depan chek surat undangan dan souvenir untuk resepsi pernikahan kalian mungkin sudah rampung agar segera di tulis nama-nama yang akan di undang serta membagikan ke masing-masing dari mereka yang kita undang." Si nenek fashionable ini mengingatkanku dan om nyebelin ini.


"Iya Mah." Jawab si om nyebelin ini singkat kemudian di susul oleh suaraku " Iya eyang Putri eh maaf Mam..mah."


Ucapanku sedikit terbata.


Si nenek fashionable ini hanya tersenyum manis padaku, aku jadi mearasa tak enak hati.


Tapi ya gimana , aku masih merasa canggung jika secepat ini mengubah panggilanku kepada tetua di rumah ini bahkan kepada si om nyebelin ini yang sudah sah menjadi suamiku.


🍬🍬🍬


Hari demi hari pun berlalu kini sudah hari jum'at saja dan sudah satu minggu pernikahanku dengan si om nyebelin itu sejak akad nikah kami hari sabtu lalu.


Setelah makan malam dan membereskan meja makan serta mencuci piring dan kawan-kawannya aku kembali menuju ke kamar.


Kulihat sekilas dari belakang ia duduk si om nyebelin itu sedang mengerjakan sebuah dokumen penting kayaknya.


Tapi aku tidak tau pasti dokumen apa itu.


Aku naik ke atas ranjang duduk menyandar di kepala ranjang dan memainkan gawaiku.


Setelah beberapa menit memainkan gawai aku beranjak ke kamar mandi yang tersedia di dalam kamarku. Hendak mencuci muka dan sikat gigi lalu berskincare malam itulah rutinitas malamku sebelum tidur.


Saat tiga hal tadi sudah terselesaikan maka aku kembali ke atas ranjang kembali ke posisi tadi duduk bersandar di kepala ranjang dan mencoba memainkan gawaiku lagi sejenak.


Sebenarnya aku kasihan juga sama si om nyebelin ini karena sudah dua malam ini ia tidur di bawah tepatnya di atas karpet bulu yang ada di kamarku ini.


Tapi aku takut jika aku berbaik hati mengajaknya untuk tidur di atas ranjang ini bersamaku si om nyebelin ini bakalan khilaf sengaja atau tidak.


Rasa takutku lebih dominan dari pada rasa kasihanku, tapi herannya si om nyebelin ini kok fine-fine aja tidur di bawah hanya dengan beralaskan karpet bulu lembutku yang tak seberapa.


Itu juga atas kemauan dan inisiatifnya juga kok bukan aku yang nyuruh, jadi sabodo teuing dah.


"Saya hari senin pagi akan berangkat ke Surabaya kamu tidak apa-apakan saya tinggal dalam beberapa hari atau juga beberapa minggu hingga beberapa bulan. Pekerjaan saya memang lebih dominan di sana jadi ya saya tetap harus bolak-balik Jakarta - Surabaya." Ucapnya menjelaskan masih dengan fokus ke layar monitor laptopnya dengan kaca mata yang bertenger kokoh di hidung kokohnya itu tanpa melirikku.


Sering-sering aja om keluar kotanya dan lama-lama kan lebih aman bagiku. Karena kami akan berjauhan dan itu akan membuat kami tidak akan melakulan kekhilafan khususnya si om nyebelin ini tidak akan melakukan kekhilafan lebih kepadaku.


Cukup kala itu saja si om nyebelin ini mencium kening dan hidungku aku harap hal tersebut tidak terulang lagi apalagi lebih dari itu jangan sampai deh.


"Iya om nggak apa-apa kok." Ucapku sambil melirik sekilas kepadanya dan kembali menatap layar gawaiku.


"Oya besok setelah makan siang kita langsung chek kartu undangan resepsi pernikahan kita." Ucapnya lagi dan itu masih tetap sama tanpa menoleh ataupun melirikku sepertinya si om nyebelin ini memang gila kerja kali ya fokus banget.


"Iya om." Ucapku singkat.


Aku pun langsung meletakkan gawaiku di atas nakas sebelah ranjangku, aku menarik selimut dan mulai memejamkan mata menuju alam bawah sadarku.


Biar kan sajalah si om nyebelin ini fokus saja dengan kerjaannya dia kan udah tua bukan anak-anak lagi yang harus di jagain atau di nina boboin bukan?


🍬🍬🍬


"Kita singgah dulu ya sebentar." Duh kata singgah yang si om nyebelin ini lontarkan kok bikin aku was-was ya?


Kami baru saja selesai mengchek kartu undangan dan souvenir untuk acara resepsi pernikahan kami nanti.


Mau singgah kemana coba apa jangan-jangan si om nyebelin ini mau bawa aku singgah ke hotel gitu.


Ih aku jadi bergidik ngeri dah jadinya, gimana nich ?


"Emang mm..mau singgah kemana om?" Tanyaku ucapan sedikit terbata.


"Udah kamu ikut aja." Jawabnya singkat banget.


Duh jangan-jangan bener nih si om nyebelin ini mau bawa aku ke hotel dan ia mau membobol gawangku.


'Aduh kumaha atuh iyeu teh mamah..' Jeritku dalam hati.

__ADS_1


Lagi-lagi aku di bikin ketar-ketir sama ni si om nyebelin ini, bener-bener dah nyebelin ni si om om.


Aku jadi gelisah dudukku jadi nggak tenang fikiranku kemana-mana.


"Kamu kenapa Alena kok jadi gelisah gitu?" Si om nyebelin ini bertanya sambil melirikku sekilas-sekilas dengan tetap fokus menyedir mobilnya.


"Ah nggak om , eh maksudnya kita nggak langsung pulang aja om?" Ujarku gugup.


"Nggak bisa ini mendesak." Ujarnya tegas.


Kan bener ne si om nyebelin mencurigakan dan bener-bener nyebelin pake banget. Kini kami tiba di sebuah gedung yang aku lihat cukup besar dan tinggi ini beneran hotel yang terletak di Jakarta pusat.


"Alena ayo turun!" si om nyebelin ini membuka pintunya dan turun dari mobil , aku masih bergeming beberapa detik hingga akhirnya akupun turun dari mobil.


Ini yang tadi katanya mendesak? Mendesak hasratnya gitu? Tiba di lobi hotel si om mengeluarkan gawainya melihat ke arah layar gawainya, aku rasa dia sedang membaca pesan masuk di gawainya.


Setelahnya memasukan kembali gawainya ke saku celananya ia berjalan menuju lift aku pun hanya mengikuti nya secara refleks. Tiba di lantai atas lantai sekian aku berjalan di koridor hotel bersama si om nyebelin ini hanya berdua aku melirik kanan dan kiri lorong sepi walaupun ini masih sore.


"Om kita mau ngapaen kesini , ini kan hotel?" Aku bertanya sambil kami terus berjalan menyusuri lorong hotel ini.


"Menurut kamu kita mau ngapaen ke hotel ini?" Yei ditanya malah balik nanya si om nyebelin ini.


"Om jangan macem-macem ya sama Alena." Ancamku dengan mataku yang menajam menatap ke arahnya.


"Saya nggak akan macam-macam cukup satu macam saja." Ucapnya enteng dan datar bener bener sedatar papan tripleks.


Tuh kan si om nyebelin ini pasti udah rencanain ini, bener nggak bisa di percaya si om nyebelin ini. Mau lari tapi kok kakiku malah nggak mau lari dari sini malah mau jalan terus mengikuti si om nyebelin ini, aneh kan ?


"Om kita pulang aja yuk sekarang." Aku berusaha kembali agar si om mau pulang aja.


"Kan tadi saya bilang ini mendesak mana bisa pulang sekarang." Mendesak endasmu bener-bener si om ini nyebelin banget seh.


Ini aku harus kumaha atuh ?


"Om kalau nggak Alena pulang sendiri aja deh." Ucapku was-was.


"Kamu kenapa seh Alena kok seperti ketakutan gitu?"


"Ya om ngapaen bawa Alena ke hotel segala , ya Alena jadi takut." Sewotku dengan raut wajah takut-takut.


"Baru kali ini saya lihat ada seorang istri takut dibawa ke hotel oleh suami sah nya sendiri. Sedangkan ada perempuan lain yang seorang selingkuhan atau simpanan saja malah bangga di bawa ke hotel bahkan oleh suami orang lain." Ucapnya datar namun malah membuat separuh hatiku tertegun seketika.


"Tapi om bilang waktu itu nggak akan menyentuh Alena minimal sampai Alena lulus kuliah , berarti ucapan om waktu itu bohong dong." Todongku padanya dengan sewot.


Langkahnya terhenti dan refleks langkahku pun terhenti tepat di sampingnya.


"Maksud kamu apa Alena?" Tuh kan si om ini pura-pura bego.


"Dasar om udah nyebelin mesum lagi." Cercaku.


"Mesum kata kamu mesum bagaimana? Masa bawa istri sah sendiri saya dikata mesum. Lagian saya kemari ini memang mendesak Alena tidak bisa jika tidak sekarang saya kesini makanya saya sekalian saja ajak kamu." Ucapnya datar selalu begitu.


"Mendesak hasrat om gitu maksud om makanya pake langsung bawa-bawa Alena ke hotel ini?" Cerocosku lagi.


Sebelah alisnya terangkat seolah heran atas ucapanku barusan.


"Hasrat kamu bilang? Saya kemari itu mau ketemu teman saya yang juga seorang pria dan teman saya itu ada kebutuhan mendesak sore ini yang mau dia berikan kepada saya." Ucapnya menjelaskan secara singkat dan aku malah jadi mikir ke arah lain sekarang.


Dan baru aku sadari ternyata kami sudah ada tepat di depan pintu kamar hotel ini dengan.


"Om mau ngapaen ketemu teman pria di kamar hotel begini , jangan-jangan om mempunyai kelainan hom*s*ksu*al lagi?" Ucapanku lebih mirip menuduh dengan mata sedikit membelalak.


"Jadi sekarang kamu menuduh saya lelaki tidak normal seperti itu , ya saya nggak terlalu kaget karena cukup ada orang-orang juga menganggap saya pria tidak normal atau penyuka sesama jenis. Di tambah lagi selama ini saya seakan pria yang belum menikah di umur sudah 30 tahun lebih." Ucapnya tetap datar-datar saja.


Tiba-tiba pintu kamar hotel di hadapan kami pun terbuka.


Ku lihat seorang pria yang cukup tampan muncul dari balik pintu tersebut.


" Gimana sudah siap?" Ucap si om langsung pada pria itu.


"Dia siapa Vian?" Pria tersebut melirik diriku menelisik padaku dari ujung kaki hingga kepala maksudnya apa coba ?


"Oo, ini Alena is__" Belum sempat ucapan si om nyebelin ini selesai pria tersebut sudah berbicara lagi.


"Oo, tunggu bentar gue ambil dulu di dalam." Ucapnya tersenyum lalu kembali masuk kedalam kamar hotel.


Aku Hanya bisa diam di posisi awal begitu juga si om nyebelin ini. Pria tadi kembali ke hadapan kami kali ini dengan membawa satu lembar amplop besar berwarna coklat di tangan kanannya.


"Ini bro gue harap lo bisa membantu kasus saudara gue itu." Ucapnya sambil menyodorkan amplop besar berwarna coklat tersebut kepada si om nyebelin ini.


"Insya Allah gue usahakan." Si om itu menerima amplop besar berwarna coklat tersebut.


"Kalau begitu kami pamit ya Za." Si om nyebelin itu pun menarik sebelah tanganku untuk ikut berjalan bersamanya setelah pria itu menganggukkan kepalanya sebagai respon pamitnya si om nyebelin ini kepadanya.


Kami kembali berjalan di koridor hotel ini dengan tanganku masih di genggam oleh si om nyebelin ini, tapi kok aku malah jadi deg-degkan gini.


Aku memang belum pernah bergenggaman tangan seperti ini dengan seorang laki-laki selain dulu saat aku kecil itu juga dulu saat aku akan menyeberang jalan dengan papa.


"Om yang ada di amplop itu bukan uang suap kan?" Si om nyebelin ini menghentikan langkahnya dan melepaskan genggamannya dari tangan kananku.


"Kamu ini ya tadi kamu berfikir saya akan mesumin kamu atau bermesuman dengan teman saya yang juga seorang pria. Sekarang kamu malah berfikir saya telah menerima suap." Sentaknya padaku terlihat ia marah atas ucapanku tadi.


Kan aku takut aja ne si om nyebelin nerima uang suap kan aku nggak mau di nafkahi dengan uang haram.


"Ya mana tau om memang menerima suap." Ucapku dengan kedua bola mataku sekilas kuputar malas.


"Seburuk itukah saya di mata kamu , apa itu semua karena pernikahan ini?" Bentaknya cukup memekik di telingaku.


"Om bukan begitu juga maksud Alena."


Ya memang maksud aku bukan begitu juga aku hanya takut dan waspada saja , apa salah ? Si om nyebelin ini pun hanya diam tak mengeluarkan sepatah katapun lagi lalu ia berjalan cepat mendahuluiku.


Aku langsung saja kembali berjalan mencoba mengikuti langkahnya.


'Apakah si om nyebelin ini marah beneran kepadaku ?' Tanyaku bermonolog dalam hatiku.


Tibanya di dalam mobil di perjalanan semua serasa hening walaupun memang biasanya selalu begitu jarang sekali ada percakapan di antara kami jika memang perlu baru kami bicara.


Ah sabodo teuing dah kalau bener si om nyebelin ini marah.


🍬🍬🍬

__ADS_1


Bersambung..


Salam sehat selalu ya dari riritambun πŸ₯°


__ADS_2