
Selama di perjalanan dari bandara menuju kediaman orang tua si om nyebelin ini hening yang terasa begitu dominan. Hanya tadi ada beberapa obrolan kecil tentang pertanyaan si pak Jamet sang sopir bertanya perihal namaku dan juga keadaan mertuaku dan juga keluarga Vera serta bagaimana acara resepsi pernikahan kami.
Akhirnya kami tiba di depan kediaman keluarga Abraham yang tepatnya kali ini di Surabaya. Tampak menjulang tinggi sebuah pagar besi berwarna putih dominan dengan ukiran-ukiran klasik.
Mobil alphard berwarna putih yang menjeput kami beberapa menit lalu di bandara kini mulai mamasuki halaman kediaman keluarga Abraham yang tepatnya kediaman orang tua si om nyebelin ini. Setelah secara otomatis pagar yang menjulang tinggi tersebut terbuka lebar.
Mobil pun berjalan cukup lurus menuju pintu utama yang ternyata berada di sebelah kanan, mobil pun berbelok ke kanan di mana rumah mewah ini bener-bener berdiri kokoh bernuasakan serba putih.
Mataku memindai setiap sudut yang aku lihat disini sejak pertama melihat pagarnya yang menjulang tinggi hingga masuk ke bagian halaman atau perkarangan kediaman ini.
Terlihat pintu utamanya nampak didominasi dengan warna cokelat tua serta kaca yang besar dan elegen bergaya klasik, setelah mobil benar-benar behenti di depan pintu utama.
"Sudah sampai den Andra dan non Alena." Ucap pak Jamet.
Si om nyebelin pun membuka sabung pegamananya dan hendak membuka pintu sebelum ia berkata "Ayok Alena kita turun." Titahnya.
"Iya om." Jawabku.
Sebelum menuju teras yang cukup luas dan pintu utama kita harus menaiki beberapa anak tangga yang berukuran sedang yang berbahan marmer.
Seperti telah mengetahui kedatangan kami setelah kami turun dari mobil tak lama langsung terlihat pintu utama terbuka, dan menampakkan seorang wanita paruh baya dengan stelan daster batik berwarna coklat.
"Selamat datang den , non." Ucapnya dengan ramah.
Si om nyebelin pun melangkahkan kakinya menuju pintu utama yang di iringi langkahku juga dari belakang. Pak Jamet sibuk membawa barang-barang bawaan kami yang berada di belakang mobil untuk di bawa kedalam rumah.
"Assalamu'alaikum." Ucap si om nyebelin setelah masuk kedalam rumah nan megah ini.
"Wa'alaikumsalam. Mari den dan non masuk , den Andra gimana kabarnya? Lancarkan acara resepsi nikahannya den?"Tanya si wanita paruh baya tersebut dengan ramahnya.
"Alhamdulillah bik saya sehat dan alhamdulillah acaranya berjalan lancar." Jawab si om.
"Oya ini toh istrinya den? Ayu tenan den , sopo jenengne?" Ucap si wanita paruh baya tersebut sambil melirik ke arahku lalu kembali melirik ke arah si om nyebelin.
"Iya bik ini istri saya , namanya Salena bik panggilannya Alena." Terang si om nyebelin dan ia pun mejatuhkan bobotnya di salah satu kursi ruang tamu rumah ini yang begitu luas.
"Silahkan duduk non." Ucap si wanita paruh baya itu ramah.
Si wanita paruh baya itu pun menatapku kembali dengan senyuman ramah dan sedikit membukukkan badannya sekilas kepadaku seraya berucap."Selamat datang ya cah ayu non Alena di kediaman keluarga Abraham".
Aku pun hanya membalasnya dengan senyuman ramah di sertai agukan sekali tanda kesopanan kepadanya yang lebih tua. Kemudian aku pun duduk di kursi ruang tamu megah ini yang berhadapan dengan si om nyebelin.
"Mau minum apa den dan non?" Tanyanya kembali si wanita paruh baya yang aku belum tau namanya bik siapa.
"Saya mau yang dingin saja ya bik." Ucap si om nyebelin dengan datarnya.
"Baik den, non Alena minum apa non?"
"Samain saja bik." Ucapku.
"Baik non , bibik ke belakang dulu ya." Wanita paruh baya itupun langsung melesat pergi dari hadapan kami.
🍬🍬🍬
"Eh non jangan biar bibik saja yang kerjain semua ini! " Ujar bik Ijah merasa tak enak hati.
"Nggak apa-apa bik Alena sudah biasa kok ngelakuin beginian di rumah." Tangan kurus nan putih merona Alena sigap mencuci piring dan gelas kotor bekas ia dan sang suami tadi makan malam.
"Tapi non ntar non capek dan ntar bibik malah kena sembur sama si'aden." Bik Ijak mencoba mengingatkan dengan perasaan takut-takut.
"Nggak bakalan deh bik Alena kan cuma bantu nyuci piring seginian aja nggak bakal capek kok." Ucapku dengan senyuman kepada bik Ijah salah satu ART di kediaman keluarga Abraham ini.
__ADS_1
"Ya tapi tetap bibik nggak enak sama non Alena dan juga den Andra. Kalau di kediaman non udah biasa dengan pekerjaan ini tolong di sini non biasakan semua biar bibik dan teman-teman bibik para ART yang mengerjakannya. Kan non Alena adalah istri den Andra, tolong ya non ntar bibik atau yang lainnya juga bisa kena sembur aden nantinya." Papar si bik Ijah panjang kali lebar dengan memelas.
"Emang om Andra suka marah-marah gitu ke pekerja yang ada di kediaman ini bik?" Tanyaku penasaran apakah si om nyebelin itu memang tukang marah-marah jika ada baginya yang tak sesuai dengan kemaunya dari para pekerja di kediamannya ini.
"Nggak sih non, den Andra itu walaupun terbilang pendiam atau lebih sering bersikap dingin. Tapi si den Andra itu orangnya baik dan peduli tidak arogan ataupun neko-neko." Terang si bik Ijah padaku.
Aku manggut-manggut saja sebagai respon dan berkata "Oo, gitu ya bik? Ya jadi hal kayak gini nggak apa-apa kali bik." Aku berucap dengan mengulas senyum pada bik Ijah.
Aku mengelap kedua tanganku di handuk kecil yang bergantung di depan bagian sebelah kanan westafel cuci piring ini. Selesai juga nyupir ku ( Nyupir \= Nyuci piring ).
"Ya tapi kan non Alena ini majikan bibik juga." Ucapnya.
"Udah ah bik Ijah ini majikan juga kan kita sama-sama manusia. Kalau gitu Alena masuk kamar duluan ya bik." Pamitku pada bik Ijah dengan kembali mengulas senyum.
"Iya non, terima kasih." Ucap bik Ijah ramah.
"Sama -sama bik." Balasku ramah.
Akupun melangkah hendak menaiki anak tangga.
Aku pengen rebahan di tempat tidur setelah nanti aku melaksanakan ibadah sholat Isya terlebih dahulu.
🍬🍬🍬
"Saya pergi dulu ya Alena, pagi ini saya harus ke pengadilan. Saya harap kamu baik-baik saja di rumah. Jika butuh sesuatu kamu bisa minta tolong kepada bik Ijah sebagai kepala ART di rumah ini bik Ijah adalah ART terlama di rumah ini." Ucap si om nyebelin setelah ia menyelesaikan sarapannya pagi ini.
"Iya om." Sahutku.
Si om nyebelin pun beranjak dari duduknya dan aku pun begitu, ku raih tas kerjanya yang tadi aku letakan di sebelah kursi meja makan ini untuk ku bawa hingga depan pintu utama rumah besar dan megah ini.
"Oya bik tolong jaga dan bantu Alena ya jika ia butuh apa-apa!" Intruksi si om nyebelin ini kepada bik Ijah saat akan berjalan menuju pintu utama rumah ini.
"Siap den!" Sahut bi Ijah dengan anggukan kepalanya.
Kemudian si om nyebelin ini berjalan menuju pintu utama hendak menuju mobil sedan Honda Civic hitam miliknya untuk berangkat ke pengadilan.
Ku angsurkan tas kerja miliknya dan kuraih tangan kanannya lalu kucium takzim punggung tangannya saat kami sudha berada di teras besar rumah megah ini.
"Assalamu'alaikum." Ucapnya setelah ku cium punggung tangan kanannya.
"Waalaikum'salam." Balasku.
Si om nyebelin pun memasuki mobilnya dan menjalankan mobilnya keluar dari kediaman rumah megah ini. Setelahnya aku kembali ke dalam rumah kembali aku bingung nggak tau mau ngapaen.
Jadi ku coba ke dapur saja melihat para ART sedang mengerjakan apa mana tau ada yang bisa kubantu sebagai kegiatanku sekarang.
Saat tiba di dapur aku tidak melihat bi Ijah maupun kawanya apa mereka sedang melakukan pekerjaan lain di ruangan lain, fikirku.
Oya aku jadi ada ide dari pada aku nggak ada kerjaan bagusan aku bikin dessert aja.
🍬🍬🍬
Sudah 4 hari aku berada di Surabaya dan di kediaman ini. Si om nyebelin masih sibuk ke pengadilan dan ke kantor kejaksaan itu yang aku tau dari si om nyebelin itu sendiri, karena si om selalu berkata akan pergi kemana pagi-pagi sebelum ia berangkat.
Selama itu juga aku hanya di rumah megah ini saja sambil berkreasi membuat kue yang aku bisa sebagai penghilang rasa bosanku, tak jauh beda seperti di rumahku dulu juga.
Si om nyebelin itu aku suguhin kue-kue buatan ku selalu tanpa komentar hanya diam saja menikmati , nah kalau para pekerja disini mereka sangat suka katanya enak-enak.
Oya selama aku disini si om nyebelin itu selalu tidur di ruang kerjanya yang bersebelahan dengan kamarnya dan di dalam kamarnya ada pintu yang bisa langsung terhubung ke ruang kerjanya si om nyebelin itu.
Di ruang kerjanya memang ada satu sofa berukuran cukup pajang dan lebar. Nah disanalah ku lihat si om nyebelin tersebut tidur saat tak sengaja aku masuk ke ruang kerjanya untuk membangunkannya agar segera melaksanakan sholat subuh.
__ADS_1
"Eh den Andra sudah pulang toh."
"Iya bik, oya Alena lagi ngapain ya bik?"
"Itu si cah ayu lagi di taman belakang dekat kolam renang lagi nyatai sambil baca buku vel,..vel apa gitu bibik lupa apa ya kata si cah ayu?" Si bik Ijah berucap dengan gelagat polos seorang orang tua saat ingin bekata soal buku apa yang di baca oleh Alena di taman belakang.
"Novel maksud bibik?" Tebak Andra datar.
"Nah itu maksud bibik hehe." Seru bik Ijah dengan kekehan.
"Mau bibik buatkan minuman sekalian nggak den? Tadi non Alena bikin sesuatu lagi kali ini bikin bolu, tapi lupa bibik nama bolunya itu apa hehe." Ucapnya di akhiri cengiran.
"Boleh bik , ntar bawa dan letak saja di taman belakang dekat kolam renang dimana Alena berada ya bik! Saya mau kamar dulu ganti baju." Titahnya Andra datar dan segera berbalik badan menuju ke lantai atas dimana terletak kamarnya.
"Nggih den." Seru bik Ijah.
🍬🍬🍬
"Bik ini untuk siapa kopi dan red velvetnya?" Tanyaku saat bik Ijah datang dengan membawa dan meletakkan bawaannya tersebut diatas meja ini.
"Ini tuk den Andra non." Jawab si bik Ijah.
Aku hanya menganggukkan kepala saja sebagai jawaban.
"Bibik ke dalam dulu ya cah ayu." Ucap bik ijah sopan.
"Iya, terima kasih ya bik." Ujarku padanya.
Oo,si om nyebelin itu sudah pulang toh tumben pulang sore kali ini. Tapi ngapaen si om nyebelin itu pake mau ngopi disini segala bareng aku coba? Ih malas banget deh, lagi enak-enak baca novel sendiri eh ntu si freezer pake mau datang dimari segala sih.
Aku lanjut membaca buku novelku dengan judul "SU4M1KU P3L1H4R44N T4NT3-T4NT3" yang belum sempat aku tamatkan membacanya. Buku novel ini kubawa dan ku beli beberapa bulan lalu di Jakarta jauh sebelum aku melaksanakan UAS.
Saat aku kembali asik membaca buku novelku suara barithon khas milik seseorang menguar terdengar ke area gendang telingaku. Dan aku sudah sangat hafal akan suara khas itu.
"Kamu baca novel beginian Alena?" Tanyanya si om nyebelin ini dengan memperhatikan dekat-dekat buku novelku ini.
"Yach emang kenapa om?" Jawabku lain lebih kepada sebuah pertanyaan dengan raut wajahku keheranan.
Buku novelku kini sudah berada di panggkuanku dan si om nyebelin ini ntah sejak kapan sudah duduk di kursi santai di sebelahku dengan dibatasi oleh sebuah meja.
"Nggak apa-apa kirain saya kamu baca novel yang biasa-biasa saja, rupanya novel berkisah tak jauh beda dari perselingkuhan dalam rumah tangga. Saya heran aja kenapa ya perempuan itu suka banget baca hal-hal yang menyakitkan atau menguras emosi seperti itu." Jelasnya panjang kali lebar.
Aku malas menjawabnya jadi hanya diam saja meresponnya dan kembali ku raih buku novelku yang ada di pangkuanku lanjut membacanya.
"Kamu hobby ya bikin-bikin makanan." Ucapnya si om nyebelin ini sambil memakan Red Velvet buatanku tadi pagi.
"Iya om karena kebiasaan dirumah juga sama mamah." Ucapku masih tetap fokus membaca buku novelku.
"Besok kita pergi pagi-pagi setelah sarapan untuk berwisata" Ucapnya membuatku berhenti sejenak membaca buku novelku dan menoleh kepadanya.
"Berwisata kemana om ? Siapa saja yang ikut?" Tanyaku antusias.
"Ke Mangrove Wonorejo dan hanya kita berdua saja yang pergi kesana besok." Apa berdua saja katanya , duh aku kok jadi was-was ya.
Tapi kalau pun ajak yang lain juga nggak ngaruh ya kalau nginep tetep aja tidurnya sekamar dengan si om nyebelin ini, wong ne si om nyebelin ini kan suami sah ku. Yang ada mereka akan curiga kalau kami tidur pisah kamar.
'Ya Alloh tolong jangan sampai hal-hal yang selalu di inginkan seorang pria menimpa diriku.' Harapku membatin.
🍬🍬🍬
Bersambung...
__ADS_1
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰