TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 27


__ADS_3

Waktu liburan semester telah usai dan kini aku telah kembali ke Jakarta dan berkuliah kembali seperti biasa.


Kami masih tinggal di rumahku tepatnya rumah kedua orang tuaku.


Karena hari ini masih pagi jadi tadi si om nyebelin seperti biasa mengantarku ke kampus lalu ia berkata akan ke rumah Vera. Setelahnya akan ke suatu tempat yang aku tak tau karena dia hanya berkata urusan bisnisnya sudah itu saja.


"Alena."


Aku menoleh ke arah dimana aku mendengar suara memanggil namaku agak keras di lorong kampusku saat aku akan menuju ruang kelasku.


"Alena."


"Eh kakak."


"Apa kabar Alena?"


"Alhamdulillah baik kak. Kakak apa kabar? Oya, kok kak Fandi waktu itu ngg__"


"Maafkan kakak ya Alena? Kakak tidak datang ke acara resepsi pernikahan kamu, soalnya kakak waktu itu sedang tidak sehat." Ucapanku di potong oleh kak Fandi sebelum aku menyelesaikannya.


Tapi apa yang di ucapkan kak Fandi adalah jawaban dari apa yang akan aku tanyakan tadi saat kalimat terakhirku belum sempat terlontar hingga selesai.


Aku menatap sekilas mata kak Fandi yang tak seperti biasanya. Namun, aku tak dapat mengartikan arti sorot matanya kali ini.


"Ah, ya kak nggak papa." Ucapku seraya senyum pada kak Fandi sang seniorku di kampus.


"Bagaimana libur akhir semesternya pasti jalan-jalan sama suami kan sudah berstatus istri?" Tanya kak Fandi padaku kini kami sedang berjalan beriringan di lorong kampus.


Masih sedikit yang datang ke kampus dan aku memang sengaja datang agak pagian kali ini, agar tidak terlalu terburu-buru. Apalagi aku juga sudah kangen dengan kampusku ini setelah di tinggal beberapa minggu karena libur akhir semester.


"Ya lumayan kemarin itu sempat liburan ke Surabaya." Terangku pada kak Fandi dengan seutas senyum, tapi aku merasa agak kurang enak aja dengan perbahasan statusku yang memang sudah bergelar istri.


"Kakak gimana liburannya?" Tanya ku lagi tak lupa senyum masih terukir dari bibirku untuk kak Fandi.


"Ya kakak sibuk untuk urusan skripsi Len jadi tak sempat liburan."


"Oo, iya ya kak. Ok deh Alena masuk duluan ya kak." Pamitku pada akhirnya setelah aku sampai di depan pintu ruang kelasku seraya senyum.


"Ok Alena." Ucap kak Fandi dan ia pun berjalan berlalu dari ruang kelasku.


Setelahnya aku masuk ke ruang kelasku duduk di bangku nomor dua dari meja dan bangku barisan pertama. Kelas masih sepi dan Vera pun belum datang.

__ADS_1


"Hei Alena yang habis honeymoon ni ceritanya." Ucap Handy salah satu teman satu gerombolan kami.


Handy ternyata baru tiba di ruang kelas kami bersama Reno saat aku sedang memainkan gawaiku.


"Ih apaan sih lo Han." Ucapku males karena si Handy malah sebut-sebut kata honeymoon.


"Yeii, liburan lo kan maten baru pastilah liburan akhir semester kali ini lo pake honeymoon sama om suami. Lagian Vera yang bilang gitu juga kok." Ih si Vera bener-bener kelewatan paen coba sebar-sebar ke anak-anak berita beginian.


Toh aku juga bukan honeymood kan aku nggak ada ngapaen-ngapaen kok sama si om nyebelin itu.


"Ih B aja kali Han. Kalian liburan kemana aja?" Tanyaku sambil mencoba mengalihkan pembahasan agar tak merembet ke bahas honeymoon lagi.


"Kami biasalah di rumah kalau nggak nongkrong aja sesekali , nggak ada yang spesial Len." Balas Handy yang memang sudah duduk bersebelahan dengan Reno di bangku belakangku.


Hingga akhirnya datanglah si Vera dan lainnya kemudian dosen kami pun tiba dan kami pun mulai berlajar.


🍬🍬🍬


"Ndra gimana Alena sudah hamil apa belum?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir sang nenek fashionable tanpa ragu.


"Mamah ini bertanya apa sih?" Ucap Andra datar.


"Kamu ini aneh pertanyaan mamah wajar tau kepada kamu yang sudah menikah, kamu dan Alena ke Surabaya juga kan sekalian honeymoon walaupun tujuan utama adalah pekerjaanmu disana." Sang nenek fashionable alias sang mama berharap sekali. Jika kepulangan sang anak bungsu dan sang menantu dari Surabaya akan memberi kabar baik , yaitu kehamilan Alena.


"Ya makanya buat terus tiap malam sampai jadi." Sang kakek gagah pun yang juga sedang berada disana hanya tersenyum geli menanggapi ucapan sang istri kepada putra bungsunya, dengan masih menatap layar LCD besar di depannya yang menayangkan sebuah acara berita.


"Mamah ada-ada saja, lagian kerjaan Andra dan Alena di malam hari emang nggak ada selain apa yang mama sebutan tadi." Andra masih datar menjawab dan selalu begitu dengan masih fokus ke layar gawainya, memperhatikan pesan masuk tentang bisnisnya.


"Loh sebelum menikah saja kamu sudah begituan sama Alena kenapa sekarang setelah sah seakan enggan begituan." Gerutu sang mamah tanpa tau jika ucapannya tersebut bukanlah fakta yang sesungguhnya, jangankan sebelum menikah bahkan setelah menikah hitungan beberapa minggu saja Andra belum pernah melakukan begituan.


Dasar nenek fashionable suka mengadi-ngadi alias mengada-ngada tanpa benar tau keapsahan ucapannya tersebut.


"Mamah itu sebenarnya salah faham." Ucap Andra masih menatap layar gawainya.


"Salah faham bagaimana lagi jelas-jelas kamu kepergok di dalam kamar hanya berdua saja dengan Alena saat itu." Mamah Andra tetep keukeuh pada tuduhannya kepada sang putra bungsu.


"Ya salah salah faham mah." Andra pun akhirnya berucap dengan menoleh ke arah sang mamah.


"Kalau salah faham kenapa kamu mau repot-repot tanggung jawab dengan mau menikahi Alena?." Pertanyan macam apa ini ? Kenapa baru kali ini si mamah Andra lontarkan dan kefikiran seperti itu olehnya.


"Seberapa banyak Andra membatah dan mengatakan kalau Andra bukan pria seb*rengsek itu, apa mamah akan perduli? Nyatanya tidak kan mah. Mamah terus memvonis Andra sebagai pria yang harus bertanggung jawab, atas apa yang sebenarnya tidak Andra perbuat begitupun dengan Alena." Andra berhenti sejenak dan kembali berucap. "Di tambah lagi penyakit mamah yang seakan hendak kambuh."

__ADS_1


"Jadi kamu merasa terpaksa atas pernikahanmu dengan Alena?"


"Untuk apa mamah bertanya seperti itu? Toh kenyataannya kini Andra dan Alena kan sudah sah menikah. Andra juga tak ingin mempermainkan sebuah pernikahan, Andra berusaha menjalani pernikahan ini dengan ikhlas dan Andra berharap Alena pun begitu." Terang Andra pada mamahnya yang jelas juga itu di dengar oleh sang papa, yang masih asyik menonton TV.


Namun, sebenarnya sang papa menyimak percakapan sang istri dan putra bungsunya itu sejak awal. Sang ayah hanya belum ingin ikut menimpali percakapan ibu dan anak tersebut, makanya ia seakan pura-pura fokus saja ke layar kaca television yang ada di hadapannya.


"Ya baguslah kalau kamu tidak membuat pernikahan ini sebuah permainan dan mau menjalaninya dengan ikhlas." Sang mamah seakan cuek saja tentang isi hati Andra sebenarnya, yang jelas ia mendengar bahwa sang putra ikhlas itu sudah sangat bagus baginya.


"Pokoknya kamu usaha dong Ndra agar Alena segera hamil!" Helaan nafas terdengar dari bibir Andra, ia mencoba mencari sedikit ruang agar bernafas lebih lega efek dari setiap ucapan mamahnya yang seakan menuntut lebih kepadanya.


"Alena kan masih kuliah Mah, kalau ia hamil sedini mungkin otomatis ia akan berhenti kuliah. Andra cukup tau kalau Alena itu ingin kuliahnya selesai sampai ia bisa wisuda dan menyandang gelar sarjananya." Tegas Andra.


"Kalau begitu kelamaan dong mamah punya cucu barunya, masa mamah harus nunggu sampai Alena lulus kuliah Ndra dan itu sekitar 2 tahunan lagi." Ada rasa kecewa terlihat dari wajah sang Mamah walaupun tidak terlalu dominan.


"Ya sudah mah sekasinya Allah aja kapan mamah akan dapat cucu baru lagi, jangan jadi beban fikiran mamah itu nggak baik." Andra mencoba memberi pengertian yang netral pada akhirnya.


Andra memang selalu khawatir jika mamahnya kenapa-kenapa apalagi jika sampai penyakit sang mamah kambuh lagi. Andra sangat menyayangi kedua orang tuanya khususnya sang Mamah yang telah melahirkannya.


🍬🍬🍬


[ Assalamu'alaikum. Om Lena udah kelar nich kuliahnya, om jemput Lena sekarang ya! Ntar kalau sudah sampai depan gerbang kampus kabari ya om! ] Send, sebuah pesan yang Alena kirim melalui aplikasi berlogo gagang telepon berwarna putih dipadu dengan latar belakangnya yang berwarna hijau kepada si om nyebelin alias suaminya.


Hujan begitu deras mengguyur kota Jakarta di sore hari ini dan sore ini juga Alena sudah selesai perkuliahannya. Namun, Alena masih berada di kampusnya. Vera sahabatnya tadi sudah pamit pulang duluan begitu juga teman-teman kampus lain yang sepermainan dengannya.


Alena masih berada di dalam kelasnya sedangkan beberapa temannya sudah banyak yang meninggalkan ruang kelas hanya tinggal dirinya dan satu orang teman sekelasnya yang tidak begitu akrab dengannya yaitu Yuli.


"Len lo nggak pulang?" Tanya Yuli saat hendak beranjak dari duduknya.


"Iya ntar lagi Yul , gue masih nunggu jemputan." Ucapku dengan senyuman.


"Oo, kalau gitu gue duluan ya Len." Yuli berpamitan dengan senyuman dan berlalu menuju keluar kelas, aku membalasnya dengan anggukan dan juga senyuman lalu berkata "Iya Yul hati-hati ya."


Sekarang tinggal lah aku sendiri di dalam kelas ini, aku masih menunggu om nyebelin itu menjemputku. Pesanku tadi terlihat sudah centak dua berwarna biru itu berarti si om nyebelin sudah membuka dan membaca pesanku tadi.


"Ih si om nyebelin kok belum datang juga sih?" Gumamku dalan hati sambil masih memainkan gawaiku di dalam kelas ini, tak terasa sudah 45 menitan aku menunggunya.


Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 6 sore/petang dan hujan masih turun dengan derasnya. Karena si om nyebelin belum juga muncul tuk menjemputku aku putuskan untuk menuju mushola kampus untuk melaksanakan sholat maghrib saja terlebih dahulu, karena beberapa menit lalu juga adzan maghrib telah berkumandang.


Aku masukan gawaiku ke dalam tas dan berdiri hendak melangkah untuk menghadap sang Khaliq 3 raka'at. Mana tau setelahnya si om nyebelin juga tiba di gerbang kampus untuk menjemputku.


🍬🍬🍬

__ADS_1


Bersambung..


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰


__ADS_2