TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 33


__ADS_3

Lusa yang dimaksud pun telah tiba, aku yang siang menjelang sore ini baru saja sampai rumah setelah pagi tadi hingga siang kuliah. Hari ini tepat hari sabtu, tadi pagi aku di antar si om nyebelin ke kampus dan pulang aku nebeng bersama Vera sahabatku sekaligus keponakan ku.


Lucu ya keponakan kok sebaya hahaha begini lah efek menikah dengan omnya sahabat sendiri, aneh tapi nyata dan nyata tapi aneh hahaha.


Si om nyebelin nggak bisa jemput kampus hari ini karena dia masih ada urusan yang belum selesai katanya.


"Geus sholat dzuhur can Neng?" ( udah sholat dzuhur belum Neng?). Tanya Mama saat aku baru pulang dan langsung terduduk di sofa ruangTV.


"Udah tadi di musholla kampus Ma." Jawabku.


"Ari maem geus can Neng?" ( Kalau makan udah belum Neng?). Tanya Mama lagi.


Aku menggeleng sebagai jawaban kali ini. Aku melepas sedikit lelah terlebih dahulua di ruang TV kami ini, sebelum ke kamar ku di lantai atas untuk berganti pakaian dan cuci muka.


"Ya udah atuh gi maem sono!" Suruh Mama.


"Ntar lagi Ma." Jawabku singkat dan Mama pun melangkah menjauh dari ku.


Ting...


Bunyi nada pesan yang masuk ke aplikasi hijau itu yang ada di gawai pintarku yang tadi ku letakkan di atas meja ruang TV ini. Kuraih benda pipih itu untuk melihat pesan yang baru saja masuk.


[ Assalam'mualaikum. Lena, kamu sudah menyusun barang-barang dan pakaian-pakaian kamu yang akan di bawa pindah kan, karena ingat ya. Nanti malam kita akan langsung pindah ke apartement. ]


Itulah pesan masuk yang ternyata dari si om nyebelin. Kami akan pindah malam ini dan tidak membawa banyak barang, hanya membawa barang-barang keperluan pribadi saja. Kata si om nyebelin apartement sudah terisi lengkap dengan perabot dan barang-barang elektronik yang dibutuhkan. Lagian aku sudah menyusun sebagian barang-barangku dan pakaian-pakaianku dalam koper besar dari kemarin.


Jadi hanya sedikit lagi saja aku menyusun sisanya yang akan ku bawa nanti pindahan sekalian pakaian-pakaian si om nyebelin. Sebagian pakaianku sengaja ku tinggalkan di lemariku yang ada di kamarku di rumah orang tuaku ini, agar mempermudah aku jika suatu hari nanti menginap disini. Agar tak perlu bawa pakaian banyak-banyak jika kapan-kapan aku menginap dimari, rumah orang tuaku.


Sejujurnya aku bener-bener berat untuk pergi pindah dan menjauh lama-lama atau bahkan selamanya menjauh dari orang tuaku. Tapi bagaimana lagi takdir merubah segalanya aku jadi menikah secepat ini dan harus berpisah dengan kedua orang tuaku.


Aku juga masih memikirkan bagaimana nasib ku nanti setelah aku hanya tinggal berdua dengan si om nyebelin itu di sebuah apartement. Kesannya keren sih tinggal di apartement tapi tidak gini juga caranya.


[ Wa'alaikummusalam. Iya udah om. Tapi apa nggak bisa ya pindahnya jangan malam ini? Buru-buru banget sih kek kena gusur nggak bayar uang kontrakan aja. ]


Aku mengetik dan mengirim balasan kepada si om nyebelin dengan wajah cemberut dan bibir yang ku maju-majukan.


Aku masih berharap kalau si om nyebelin bisa berubah fikiran agar berkenan menunda kepindahan kami nanti.


Walaupun sepertinya harapan itu tinggal harapan saja, karena sangat mustahil si om nyebelin bakal berubah fikirannya.


Pesanku barusan telah terkirim ke nomor kontaknya si om nyebelin dari aplikasi hijau itu. Namun, masih centak dua berwarna abu-abu. Itu tandanya sudah sampai tapi belum di buka dan belum di bacanya. Ih nyebelin banget si suami oom ini.


Aku pun beranjak dari ruang TV hendak menuju ke kamarku dengan bibirku yang masih ku manyun-manyunkan sambil sedikit menghentak-hentakkan kadua kakiku. Rasanya masih kesel dan tak percaya aku akan pindah secepat ini.


🍬🍬🍬


"Tong hilap nya Neng! Kamu teh kudu nurut jeung alus-alus ka caroge anu pang kasep na eta." Nasehat Mama pakai bahasa Sunda saat kami berjalan beriringan menuju pintu utama.


"Insya Alloh Ma." Ucapku singkat.


Si om nyebelin sudah berada di teras depan bersama Papa.


Kini aku dan Mama sudah berada di terasa, aku berpelukan dengan Mama dan mataku mulai berkaca-kaca hingga akhirnya lolos juga air mata ini ke pipi.


"Baik-baik ya eneng sama si Aa kasep." Mama berucap di selah pelukan kami sambil mengelus-ngelus punggungku lembut, aku malah semakin menangis.


Kami merelai pelukan kami dan Mama menanggupkan kedua telapak tangannya di wajahku lalu mencium pipi kanan dan pipi kiriku serta berganti mencium keningku lembut.


"Udah atuh Neng ngalakah nangis, kaya mau pisah jauh wae. Kan masih bisa eneng sama si Aa kesini atauwa sebaliknya ya kan Nak Andra?" Mama melirik si om nyebelin di akhir kalimatnya.


"Iya Ma tentu boleh sekali , Mama sama Papa juga bisa kok menginap sesekali di apartement kami. Karena kamarnya ada dua di sana." Terangnya si om nyebelin tetap dengan expresi datar.


Aku pun mencium tangan kanan Mama takzim dan beralih berpelukkan dengan Papa. Setelah berpelukan dengan Papa sebagai salam berpamitannya aju dan si om nyebelin Papa mencium kening ku lembut.


Setelahnnya Papa berucap "Jadilah istri yang baik ya Alena untuk suami mu." Papa menasihati dengan lembut sambil mengelus puncuk kepalaku , Papa memang berbadan tinggi hampir imbang tingginya dengan si om nyebelin.


Aku mengangguk sambil berucap "Iya Pa." Masih dengan isakan kecil kemudian aku mencium takzim punggung tangan kanan Papa.


Si om nyebelin pun mencium tangan kanan Papa takzim lalu berpelukan ala lelaki "Jaga Alena baik-baik ya Nak Andra dan bimbing dia, tanggung jawab Papa jelas sudah berpindah kepadamu sejaka kamu sudah mengikrarkan ijab qabul beberapa bulan lalu." Terang Papa kepada si om nyebelin di sela pelukan mereka hingga mereka melerai pelukan mereka.


"Insya Allah Pa saya akan melakukan yang terbaik semampu saya sebagai suami Alena." Tegasnya si om nyebelin.


Si om pun beralih mencium tangan Mama takzim.


"Baik-baik selalu ya kalian berdua semoga jadi keluarga samawa ya." Mama berucap lagi.


"Aamiin." Seru Papa dan si om nyebelin, aku malah diam saja masih terisak kecil.


"Kalau begitu kami izin berangkat sekarang ya Ma , Pa." Pamit si om nyebelin kepada kedua orang tua ku.


"Oh, iya. Hati-hati di jalan atuh ya Nak Andra , Eneng."


"Udah dong anak Papa yang cantik kok masih nangis aja." Timpal Papa sambil mengelus kepalaku lembut aku kembali memeluk Papa sambil samakin menangis.


"Ya ampun si Eneng geulis ngalakah makin cerik. Atos atuh Neng cerik na." ( ya ampun , si Eneng cantik malahan semakin nangis. Udah dong Neng nangsinya.) Seru Mama.


"Udah ya sayang, besok-besok kan bisa kesini lagi atau kami yang kesana. Itu suami mu sudah menunggu." Kata si Papa.

__ADS_1


Aku melerai pelukanku dari tubuh Papa yang sudah berusia setengah abad. Ku usap air mataku dengan tangan kanan dan kiri ku melalui jari-jariku ini.


"Hati-hati ya Nak." Kompak Papa dan Mama berucap.


Aku dan si om nyebelin menuju mobil dan masuk ke kabin depannya. Membuka kaca mobil yang aku duduki melihat ke arah kedua orang tuaku dengan tatapan sedih.


Setelah si om nyebelin menstater mobilnya lalu mulai melajukan mobilnya keluar dari perkarangan rumah ini. Mama dan Papa melambaikan tangan mengiringi kepergianku , aku pun membalas lambaian tenaga mereka di ikuti oleh si om nyebelin.


Kemudian tangan kanan si om nyebelin kembali memegang kemudinya mulai melaju keluar pagar rumah ini , membunyikan klaksonnya sekali hingga pada akhirnya mobil ini pun ilang dari depan rumah orang tuaku.


Baru kali ini loh aku akan pisah dengan kedua orang tuaku lama. Jadi aku merasa sedih sekali hingga aku menitikan air mata kembali di dalam mobil ini. Ya namanya aku anak tunggal dan selama ini aku selalu bersama dengan orang tuaku dari masih di dalam rahim Mama sampai sekarang sudah umur 19 tahun.


Itu bukan hal mudah dan bukan waktu yang singkat bukan. Keluarga kami juga terbilang harmonis atau baik-baik saja , Mama dan Papa selalu perhatian dan sayang padaku. Mendidikku dengan baik, di ajarkan juga aku bagaimana mandiri dalam arti aku masih tetep bisa melakukan pekerjaan rumah sendiri. Agar aku tidak terlalu bergantung dengan orang lain atau minimal tau pekerjaan rumah.


Karena kata Mama ku secantik-cantiknya perempuan , sepintar-pintarnya perempuan dan setinggi-tingginya pendidikan serta jabatan perempuan. Tetep perempuan itu harus bisa mengerjakan pekerjaan rumah, membereskan rumah seperti menyapu , mengepel, cuci piring dan pakaian serta masak dan mengurus anak jika sudah menikah dan pekerjaan rumah lainnya.


Terutama jika di kerjakan di rumah sendiri itu bukan pembantu atau baby sitter melainkan itu tanggung jawab yang bila di kerjakan dengan ikhlas akan menuai pahala yang besar. Ya masa mengerjakan pekerjaan rumah di rumah sendiri di kata pembantu, kan lucu dan aneh.


Toh yang merasakan hasilnya kita sendiri juga kalau rumah bersih juga kan enak di lihat serta ada kepuasan tersendiri.


Begitulah yang pernah Mama jelaskan kepadaku sebagai salah satu nasehat baiknya.


Di dalam mobil hening tanpa ada obrolan walaupun ya memang keseringan selalu begitu. Aku masih menangis rasanya air mataku belum bisa terhenti. Ku alihkan pandanganku ke kaca mobil sambil masih menangis lirih , fikiranku masih tak menentu dan seketika wajah Mama dna Papa memenuhi bayanganku.


"Ini." Suara bass si om nyebelin membuyarkan fikiranku, aku menoleh melirik kepada yang terterta tepat di hadapanku. Sedangakan si om nyebelin pandangannya fokus ke depan sambil terus menyetir kemudi.


Ternyata ia menyodorkan sebuah sapu tangan berwarna biru dongker atau biru gelap dengan sedikit motif garis-garis di bagian sisi sapu tangan itu berwarna abu tua. Sekilas itu lah yang terlihat pleh ku , intinya sapu tangan khas laki-laki.


"Sapu tangan ini untuk apa om?" Aku bertanya sambil melirik sapu tangan itu lalu beralih melirik si om nyebelin yang tetap fokus menatap ke depan sambil mengemudi.


"Pakai ini untuk mengelap air matamu Alena." Ucapnya datar tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.


Aku pun meraih sapu tangan itu tanpa berkata lagi.


____


Titt..Titt..Titt..Titt..Titt..


Si om nyebelin memencet sandi pintu unit apartementnya, pintu pun terbuka. "Assalamualaikum." Salamnya saat masuk ke dalam.


Aku masih bengong sambil memerhatikan di depan pintu, si om pun tak lupa menyeret ku koper kami berdua yang berukuran besar itu. Ku mulai melangkah masuk ke dalam unit apartement ini masih memerhatikan pelan, lumayan luas dan bagus fikirku.


Si om nyebelin kembali ke depan pintu ternyata ia hendak menutup pintu yang memang terlupa tak sengaja belum ku tutup.


"Apakah aku akan tinggal di apartement ini berdua dengan si om nyebelin." Pekikku dalam hati setelah aku duduk di sofa empuk yang tersedia di ruang tamu sekaligus ruang TV. Ruangannya luamayan luas juga.


"Minum lah dulu Alena sebelum masuk kamar dan mulai beristirahat." Titahnya.


Langsung ku raih gelas tersebut meneguknya rakus hingga isinya tandas tak tersisa. Ku lihat dari ujung mataku si om memerhatikanku tanpa kedip. Wah gaswat fikirku , apa nanti dia akan meminta hak nya?


Secara kini kami hanya berdua di sebuah apartement lagi, hingga akhirnya aku malah teringat kejadian naas itu walaupun belum sempat terjadi. Tapi aku sudah merasa jijik.


"Kamu kenapa Alena kok wajah mu tiba-tiba pucat begitu? Apakah ada yang sakit?" Ku lihat si om nyebelin terlihat disana mata dan binar wajahnya cemas akan perubahan raut wajahku.


Aku mengeleng dengan gerakan agak cepat sebagai jawaban kalau aku tidak apa-apa. Walaupun ada rasa tak nyaman karena teringat kejadian itu, walaupun bukan si om pelakunya. Tapi ntah mengapa apartement ini seakan dengan tiba-tiba membuat aku jadi was-was dan agak takut, karena teringat kejadian naas kala itu yang juga hampir terjadi di dalam sebuah apartement.


"Sebaiknya kamu ganti pakaian dan bersiap untuk tidur, istirahatkan dirimu Alena." Titahnya lagi.


"Om apakah kita akan pisah kamar?" Tanyaku spontan.


Si om menghentikan langkahnya yang kurasa ia akan ke kamar atau ke dapur, lalu menoleh padaku.


"Apa kamu berharap kita akan pisah kamar setelah pindah dari rumah orang tua mu Alena? Tapi sayangnya kita akan tetap satu kamar, tidak ada istilah pisah kamar. Karena kita ini suami istri sah Alena kamu ingat itu ya." Setiap kata yang barusan si om nyebelin lontarkan begitu terdengar penuh penekanan, membuatku tak bisa berkata-kata lagi.


Dasar om nyebelin selalu tak mau di bantah setiap perkataannya dan kemauannya. Oops, malah jadi ke inget pesan Mama dan Papa kalau aku harus nurut dan jadi istri yang baik buat si om nyebelin ini. Idih deh.


___


"Loh om ngapaen disini?"


"Memangnya kenapa kalau suami mau tidur seranjang bareng istrinya?"


"Biasanya juga kita tidur sekamar tapi nggak seranjang om."


"Ya itu kan biasanya mulai sekarang kita akan tidur sekamar dan seranjang."


What...??? Oo, ini tidak bisa di biarkan aku harus melawannya. Untuk yang satu ini aku jelas belum siapa dan rela.


"Alena nggak mau Om! Sekarang om minggir dan turun dari ranjang ini, sana Om tidur di karpet seperti biasa atau lebih bagus om tidur di kamar satu lagi sana." Aku mendorong-dorong tubuh kekarnya itu agar ia beranjak dari ranjang ini.


Tapi sungguh cukup sulit menolaknya agar ia turun dan beranjak dari atas ranjang ini.


"Jangan membatah suami Alena, lagian saya tidak akan apa-apain kamu. Tenang aja!" Ucapnya enteng.


"Nggak mau , udah sana om tidur disana jangan disini."


Aku dorong-dorong tubuh kekarnya, tapi kok seakan nggak ada pergerakan sih.

__ADS_1


Aku tak mau menerima si om nyebelin tidur seranjang dengan ku. Bisa saja ia bilang nggak apa-apain aku ntar aku udah tidur mana tau aku, kan bisa saja ia ternyata apa-apain aku saat aku sudah terlelap.


Eh si om nyebelin malah merebahkan badan kekarnya di sebelah ku di atas ranjang yang cukup besar ini.


"Udah tidur jangan banyak tingkah lagi! Saya hanya akan tidur di ranjang ini, bukan mau apa-apain kamu walaupun nanti kamu sudah terlelap Alena." Seakan si om nyebelin bisa membaca fikiranku hingga ia bisa melontarkan kalimat itu.


Kini si om nyebelin benar-benar merebahkan tubuh kekarnya di ranjang ini dengan membelakangiku. Aku masih menatapnya dengan cegok.


Ku hembuskan napas berat mencoba menetralkan apa yang aku rasakan di dada yang terasa dag dig dug. Apakah


ini karena tidur seranjang dengan si om nyebelin, belum apa-apa aja aku udah dag dig dug gini ya.


Aku mulai merebahkan tubuhku di sebelah si om nyebelin sambil di tengah-tengah kami ku batasi dengan bantal guling. Moga bener si om nyebelin amanah nggak apa-apain aku di saat aku sudah benar-benar terlelap.


🍬🍬🍬


"I really miss you dear. Wait for me to come." Ucap wanita itu sendu.


Wanita tersebut sedang memandangi layar smart phonenya dengan intens. Menyentuh layarnya lembut dengan tatapan nanar, di sana tertera foto pujaan hatinya, kekasih hatinya yang telah beberapa tahun ini sedang jauh dari jangkauannya.


Pria yang sedang dipandanginya adalah cinta pertama baginya dan wanita tersebut sangat mencintainya. Ia sangat merindukan pria yang sejak lama betah bertengger di dalam hatinya, prianya selain cerdas juga tampan dan berwibawa. Hatinya selalu terpaut pada prianya tak sedikitpun ia bisa berpaling ataupun melupakan prianya tersebut.


"Ken, are you going back to Indonesia? After your cooperation contract ends at this agency."


( Ken, apa kamu akan balik indonesia? Setelah kontrak kerja sama mu berakhir di agensi ini?" ) Tanya seorang wanita yang baru saja masuk ke ruangannya.


"Heumm." Jawab wanita yang di panggil Ken tadi hanya dengan deheuman dan ia mulai mematikan smart phonenya lalu ia genggam.


"Paen sih lu pulang kampung?, udah bagusan lu terima tu Ken kerja sama baru dari brand fashion ternama itu. Kan lumayan hasilnya , bisa nambah pengalaman lu lagi." Saran si kawan.


"Gue mau kejar masa depan gue Lin."


"Masa depan yang mana lagi sih Ken?" Heran si kawan yang disebut Lin tadi atas ucapan yang barusan ia dengar dengan dahi berkerut dan mata memicik ke arah sahabatnya tersebut.


"Udah sekarang cepetan kita kelarin tugas kita hari ini, kan masih ada sesi pemotretan?" Elaknya halus karena dia ingin pekerjaannya segera selesai.


🍬🍬🍬


Malam ini turun hujan di sekitaran kota Jakarta , hujan pun lumayan deras. Andra masih sibuk di ruangannya yang ada di kantor Law Firm miliknya dengan kerjasama timnya dari orang-orang yang berkompeten dan terpercaya.


Tokk...


Tokk...


Pintu pun di buka sedikit setelah seseorang mengetuk pintu beberapa kali, seseorang itupun mengempulkan kepalanya kedalam ruangan tersebut. Melirik ke arah seseorang yang duduk di kursi kebesarannya.


"Pak Boss gue pulang ya, kerjaan gue udah kelar. Tinggal besok ke persidangan."


"Heumm." Jawabnya sesingkat mungkin.


"Lo nggak balik pulang, ujan ne kelonan sama bini sedep hehe." Ucapnya kekeuh dengan matanya masih tertuju pada Andra yang merupakan teman sekaligus pemilik utama kantor Law Firm ini.


"Gue balik duluan ya Pak Boss." Pintu pun di tutup rapat.


Andra hanya sibuk dengan berkas-berkasnya kembali tanpa menanggapi celotehan temannya tadi.


Waktu akhirnya sudah menunjukkan pukul 10 malam, Andra pun baru menyelesaikan tugasnya tadi. Kini ia bersiap untuk pulang, biasa ia membawa pekerjaannya ke rumah atau apartementnya.


Namun, terkadang ia pun mau menuntaskan apa yang akan dia chek dan pelajari dari kasus yang ia tangani di kantor. Sudah sebulan lebih Andra dan Alena hidup berdua di apartement, sejak itu mereka terlihat baik-baik saya hanya pertikaian kecil yang kadang terjadi.


Andra kini sudah keluar dari ruangannya dan menuju keluar kantornya, di depan selalu ada security yang berjaga-jaga.


"Baru mau pulang Pak Boss?" Tanya sopan sang security yang shift malam ini.


"Iya Zak. Saya duluan ya Zak, kamu hati-hati berjaganya." Ucap Andra perhatian kepada salah satu karyawannya juga, namun tetep datar gaya bahasa dan expresinya.


"Iya Pak Boss juga hati-hati di jalan, soalnya masih hujan walaupun tidak sederas tadi." Sang security yang bernama Zakir mengingatkan dengan sopan.


Andra hanya menanggapinya dengan sekilas anggukan dan juga sekilas deheuman." Heumm." Seraya menepuk pelan pundak Zakir si security.


Ya begitulah keseringan seorang Andra karakternya memang terbilang dingin dan datar tapi tegas dan penuh tanggung jawab di sertai perhatian yang baik sebisanya kepada orang-orang sekitarnya. Apalagi orang-orang sekitarnya bagian dari hidupnya dan juga pekerjaannya.


Pajero Sport hitam Andra kini sudah melaju keluar halaman kantornya. Dia mengendarai roda empatnya dengan kecepatan sedang. Setelah beberapa kilo meter ntah mengapa Andra merasa seperti di ikuti oleh mobil besar sejenis truck dari arah belakang mobilnya.


Andra melirik kaca spion di depannya agar terlihat ke belakang, keningnya berkerut sedikit berfikir kenapa truck itu mengikutinya. Truck itu pun seakan melaju cepat dan semakin memepet ke arah kendaraan roda empat Andra.


Andra berusaha tetap melaju dan menghindar dari pepetan truck tersebut. Namun, truck itu malah seperti ingin menyerempet mobil Andra dari bagian sisi kanan dimana Andra duduk dan mengemudi kendaraannya.


Sedangkan di bagian sisi kirinya kosong dan mendekati pembatas jalan. Truck terus memepet mobil Andra hingga akhirnya.


BRUKKK...


Teetttt....Teetttt....Teetttt....


🍬🍬🍬


Bersambung...

__ADS_1


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰


__ADS_2