
"Sus bagaimana luka pasca operasinya, apakah sudah membaik dan benar-benar mengering luar dalam." Tanyaku pada suster yang baru saja mengechek keadaan Om Andra.
Om Andra memang selalu harus terus di chek stiap beberapa sekali dalam sehari oleh suster atau dokter spesialis.
"Alhamdulillah luka perutnya sudah jauh membaik dan mengering hanya masih ada sedikit bekasnya, begitu juga dengan luka di telapak tangannya." Sang suster memberi keterangkan dengan ramahnya.
"Terima kasih ya sus."
"Iya, sama-sama mbak. Saya permisi." Selalu dengan ramah suster itu berucap dan kini melangkah meninggalkan ruang kamar VVIP ini.
Karna sudah sore waktunya aku membersihkan tubuh si Om, aku hanya melakukannya sebisaku di bantu seorang suster khusus yang juga sebagai pemantau. Kira-kira sebentar lagi akan muncul suster yang biasa membantu akan hal membersihkan tubuh si om.
Kalian tau ternyata pasien koma itu cenderung tanpa busana, minimal badannya hanya di tutupi sebatas kain sebagai privasi tubuhnya dan untuk kesopanan. Intinya menutupi auratnya, walaupun tidak seperti pakaian pada umumnya. Itu pun harus dengan segala upaya dilakukan untuk mengenakannya dengan benar, tepat , dan berhati-hati.
Terkecuali jika melakukannya akan membahayakan keselamatan orang tersebut dengan mengganggu perangkat pendukung kehidupannya, maka sebab itu pasien koma hanya di pakaikan pakaian ala kadarnya khususnya untuk menutupi privasi tubuhnya.
Tok..
Tok..
"Selamat sore mbak Lena." Sapa suster Tari saat telah masuk dengan ramah.
"Sore juga Sus." Sapaku balik dengan seutas senyum.
"Mari kita mulai saja seperti biasa membersihkan beberapa bagian yang boleh di bersihkan ya mbak." Aku pun mengangguk , sang suster sudah siap dengan baskom yang berisikan air hangat dan handuk basah serta handuk kering di atas meja dorong yang ia bawa.
Yang di lap dengan handuk basah hanya beberapa bagian tubuh si om yang mudah-mudah saja seperti lengan, kaki, wajah dan bagian tubuh dalamnya seperti perutnya. Melakukannya pun harus extra hati-hati dan lemah lembut tidak boleh kasar apalagi asal.
Karena pada tubuhnya terdapat beberapa titik yang di pasangkan beberapa alat penunjang kebutuhan hidup manusia yang mengalami koma atau juga tak sadarkan diri.
__ADS_1
Sungguh orang koma itu bisa di ibaratkan jenazah yang belum kehilangan nafas dan detak jantungnya.
Terkadang aku sampai menitikan air mata saat melakukan hal ini , membersihkan tubuh atletisnya yang kini terlihat lebih kurus dari sebelumnya dan ada bekas luka yang masih membekas di area perut kirinya yang masih terlihat six pack bahkan eight pack itu.
"Ok, selesai. Saya undur diri ya mbak Lena." Pamitnya suster Tari dengan ramah.
"Terima kasih ya suster Tari." Timpalku juga ramah.
Suster Tari pun mendorong kembali meja khususnya itu membawa semua peralatannya keluar , hingga ia tak terlihat lagi setelah pintu pun tertutup rapat kembali.
Hari ini tepat sudah 3 minggu si om koma seperti ini, ntah sampai kapan ia akan koma seperti ini. Aku bukan bosan atau tak mau menjaganya, melainkan aku sedih dan kasihan ditambah merasa bersalah jelas terus ada dalam diriku yang bodoh ini.
Andai waktu kejadian itu aku langsung terfikir dan bergerak menghubungi polisi atau siapalah yang bisa membantu agar si om tak di tembak peluru pistol oleh orang misterius yang memakai jas hujan gelap dengan wajah yang tertutup masker.
🍬🍬🍬
Aku hanya bisa diam dengan bulir air mata , saat aku keluar dari kamar mandi. Tanpa bisa berkata dengan semua cercaan yang barusan ku terima, sungguh aku tak menyangka akan mendapatkan cercaan dan hardikan seperti ini.
Aku pun sedih dan terpukul bahkan merasa sangat bersalah dalam diri ini, mengapa takdir membuatnya meninggal secepat ini dengan cara yang cukup tragis.
Apakah Mama mertuaku tak dapat dan tak bisa melihat keterpukulanku atas kepergian putra bungsunya itu , yang merupakan suamiku.
'Ya Alloh beri aku kekuatan dalam ujian ini, semoga om Andra suamiku husnul khotimah. Maafkan Lena Om selama ini tidak bisa menjadi istri yang baik untuk om.' Batinku berucap demikian dengan terusnya air mata keluar dengan derasnya dari kedua kelopak mataku.
Jenazah Om Andra sudah berada di rumah duka siang ini tepatnya rumah orang tua Vera sahabatku. Pelayat sudah mulai ramai berdatangan , papan bunga besar sebagai ucapan berbela sungkawa dan duka cita sudah cukup banyak berjejer di sekitaran depan kediaman keluarga Abraham yang ada di kota Jakarta.
Tubuh kaku dengan wajah tampannya yang telah memucat sekali itu sudah berada di tengah-tengah mereka yang sudah dari beberapa waktu lalu membacakan surah Yaasiin dengan khidmat.
Baru kali ini nenek fashionable alias Mama mertuaku berkata kasar dan menatap nyalang seperti tadi kepadaku selama kami bertemu hingga menjadi bagian dari keluarga ini, yaitu menjadi menantunya.
__ADS_1
Selang kurang lebih 1 jaman jenazah si om pun akan segera di mandikan untuk di sholatkan dan dikebumikan selepas bada Ashar. Orang tuaku baru saja tiba, tapi baguslah setidaknya mereka tak melihat dan tak mendengar dengan apa perkataan besannya terhadap ku tadi.
Vera dari tadi selalu melihatku sinis ntah mengapa bahkan ia menjauhiku. Apakah ia berfikir sama seperti Mama mertuaku tadi , hingga sekarang ia pun bersikap demikian kepadaku.
"Sing sabar ya Neng." Mama mengusap-usap punggungku lembut memberikan sedikit ketenangan untukku anaknya.
Kini jenazah si om telah di mandikan dan di kafani dan akan segera di sholatkan. Sebelum di sholatkan kami para keluarga inti satu persatu menciumi wajahnya yang sudah lebih bersih dari sebelum dimandikan, yang mencium wajahnya si om untuk terakhir kalinya hanyalah beberapa keluarganya yang semahram saja.
Kulihat wajahnya begitu teduh dan tenang serta bercahaya, masha Allah suamiku sungguh-sungguh orang baik. Bulir-bulir air mataku malah semakin ingin keluar dari tempatnya kembali, inikah penyesalan yang akan ku bawa seumur hidupku.
Bahkan aku belum memberikan haknya selama kami sudah sah menjadi suami istri, hingga takdir ini sebagai jawabannya. Sungguh aku begitu berdosa kepada suamiku sendiri , sekaranglah aku baru menyadarinya setelah lelaki tampan, baik dan sholeh ini sudah tak bernyawa lagi.
Ku rasa apa yang di lontarkan Mama mertuaku tadi sangat pantas untukku. Kini waktunya jenazah si om di sholatkan di mesjid terdekat di komplek kediaman om Abizar. Setelahnya akan di bawa langsung ke tempat pemakaman umum yang tidak terlalu jauh dari kompleks ini , namun lumayan memakan waktu.
___
Liang lahat telah tergali dengan sempurna kini saatnya jenazah si om bakal masuk ke dalam sana, sebagai tempat tidurnya hingga hari pembangkitan tiba. Kini semua keluarga inti sudah berkumpul di pemakaman ini dan juga beberapa rekan dan juga kolega dari keluarga Abraham.
Walaupun mungkin ada yang tidak bisa hadir hari ini, pihak keluarga memang tidak mau menunda-nunda pemakaman si om. Karena sejatinya jenazah itu sudah beda alam dan lebih baik jika segera di kebumikan, jangan berlama-lama kasihan. Itulah beberapa petuah yang juga pernah aku dengar dari orang tua zaman dulu yaitu nenekku khususnya yang memang sudah meninggal beberapa tahun lalu.
Saat jenazah si om akan di masukan ke liang lahat aku semankin terisak bahkan menangis sesenggukan rasanya begitu sesak melihat ini secara nyata di depan mata ku sendiri. Andai waktu bisa di putar kembali ingin aku bisa berbuat baik untuk si om yang lebih dari biasanya.
Saat setelah jenazah si om telah menyatu dengan tanah ,di saat itu juga aku merasa kepalaku tiba-tiba begitu sakit dan mataku berkunang-kunang. Tanpa terasa tubuhku limbung dan aku terjatuh ke bawah lalu semua terasa gelap menyerang.
🍬🍬🍬
Bersambung...
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰
__ADS_1