
"Ternyata yang aku takutkan selama ini benar-benar terjadi Mas." Ia berucap sendu lalu mengambil napas dalam-dalam dari hidung dan dihempaskannya melalui mulutnya.
Mencoba sesak di dadanya sedikit berkurang walaupun itu terkesan nihil, sesak yang ia rasa bukanlah efek sebuah penyakit melainkan karena beban di dadanya terasa begitu berat saat ini.
"Mas putra bungsu ku yang selalu membanggakan itu kini seperti mengalami tragedi yang hampir serupa dengan mu, Mas. Sungguh aku sangat terpukul akan hal yang menimpanya, separuh jiwaku seakan hilang dibawa olehnya. Kewarasanku juga hampir hilang rasanya, jika saja suamiku tak selalu menjadi penguat imanku dan penghibur kesedihanku.
Mengapa takdir hidup seakan tak adil bagi orang-orang baik seperti kalian yang mengutamakan kejujuran dan amanah demi mereka yang mencari keadilan sebenarnya dalam dunia fana ini. Mengapa harus kalian yang mengalami insident naas itu, kalian bukan penjahatnya melainkan pahlawannya. Namun, mengapa aku jadi berfikir kalau semua yang kalian lakukan sia-sia saja. Jika harus berakhir tragis oleh ulah anarkis penjahat-penjahat yang berlindung dari harta dan kekuasaannya yang mereka salah gunakan."
Kembali ia mengambil napas dalam-dalam melalui rongga hidung dan perlahan menghembuskannya melalui rongga mulutnya. Sesak ini seakan terus menghimpit paru-parunya, sebelumnya ia pernah merasakan hal sama saat ia kehilngan Kakak lelakinya satu-satunya tepatnya saudara kembarnya yang tak seiras.
Kakak lelakinya mengalami insident pengeroyokan saat ia sedang berpergian pada malam hari bersama istri dan satu anaknya yang berumur 5 tahun kala itu. Saat itu mereka sedang menuju vila mereka bersama saat akhir pekan, tapi naasnya di tengah jalan yang terbilang sepi dari lalu lalang kendaraan serta penerangan yang minim dan pada saat itu memang waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Mereka pada dasarnya tidak merencanakan akan pergi ke Vila akan tetapi ntah mengapa tetiba sang pasutri itu mendadak ingin menghabiskan malam minggunya di Vila mereka, saat mereka sedang perjalanan pulang ke rumah, selepas berkunjung dari kediaman orang tua mereka yang di daerah Jakarta.
Mobil mereka pun di putar arah menuju arah jalan ke Vilanya, dan di tengah perjalanan itu lah mereka mengalami insident naas itu satu keluarga kecil.
"Sejak insident dan kematian Mas Ewa dan keluarga kecil mas kala itu, aku selalu berusaha membujuk Andra Mas agar dia tidak mengambil perkuliahan di bidang hukum. Apalagi menjadi seorang yang bekerja di bidang itu, akan tetapi tekad dan kemauannya sungguh tak bisa terbantahkan. Ia itu tak jauh berbeda dengan watak mu Mas dan juga Papanya yang terbilang keras kepala dan tegas. Walaupun ada beberapa bagian dari kalian yang berbeda.
Alih-alih aku melarangnya dan membujuknya Papanya malah semakin mendukungnya dan malah berkata 'Hidup dan mati seseorang itu bukan karena profesi seseorang melainkan rahasia Allah.' Kalau itu aku juga tau Mas, tapi kan niatku hanya ingin anakku bisa hidup lebih aman dalam mejalani aktivitasnya kelak. Mencari profesi yang kecil resikonya dari hal-hal buruk. Karena aku sudah melihat dari apa yang sudah menimpa mu Mas dan keluarga kecilmu, maka bukan tanpa alasan aku merasa profesi tersebut bisa saja membahayakan putra bungsu kami.
Namun, dengan perasaan yang terkadang was-was aku pun mendukung keputusan Andra, aku hanya bisa berdoa selalu berdoa kepada Allah agar ia selalu dalam lindungan-Nya. Tapi mengapa harus ini yang ia alami Mas...? Mengapa..?
Bahkan keponakan Mas yang satu ini baru saja menikah dan belum benar-benar mengecap manis pahitnya bahtera rumah tangga yang baru saja terjalin. Apalagi memiliki keturunan, ya Allah mengapa rasanya kali ini aku seperti frustasi bagini Mas. Hingga harus bercerita panjang lebar padamu seperti ini."
Tanpa aba-aba air mata itu meluncur deras menerobos dari tempatnya, kedua bahu itu bergetar karena menangis pilu sampai sengugukan walau lirih. Maniknya menatap kosong ke arah batu nissan yang bertuliskan 'Sadewa Rahmadi Bin Syahrendra Rahmadi, Lahir 26 Agustus 1963 Wafat 11 September 2001.'
Ia mengusap air matanya dengan tisu yang ia ambil barusan dari tas tangannya, merapikan penampilannya khususnya wajahnya agar tidak terlalu terlihat seperti habis nangis.
Ia peganggi kepala batu nissan sang kakak lelakinya yang telah lama berada di dalam sana, kuburannya pun berdampingan dengan istri tercinta dan juga anak semata wayangnya. Memandang kembali nissan itu dengan pilu lalu mentengadahkan kedua telapak tangannya hendak membacakan do'a untuk mereka yang sudah menyatu dalam tanah itu dengan khidmat.
Usai berdoa ia langsung bergegas berdiri tak lupa ia memakai kembali kaca mata hitamnya, lalu melangkah menuju keluar gerbang TPU tersebut.
"Ton ayokk mulih nang omah, saiki!" Titahnya setelah wanita paruh baya itu masuk dan duduk di bangku penumpang bagian belakang dengan aman.
"Injih, Bu." Sahut sang sopir sopan dan mulai menstater mobil dan melaju perlahan meninggalkan TPU tersebut.
🍬🍬🍬
__ADS_1
"Pakde, Andra sungguh tertarik dan bercita-cita ingin seperti Pakde berkecimung di dunia hukum. Kalau bisa jadi jaksa seperti Pakde Alhamdulillah, kalau nggak minimal jadi pengacara atau ad..ad..apa ya Pakde..hehe..Andra lupa satu lagi itu apa namanya..?" Cengirnya sambil mengaruk tengkuknya yang sebenarnya tak gatal sama sekali.
"Advokat, Lek namanya yang kamu maksud itu." Terang sang paman kepada keponakannya yang masih kelas 1 SMP tersebut.
"Oo, iya Pakde Andra suka lupa malah ingin berucap alpukat habis mirip Pakde sekilas bacaannya hehe." Andra remaja kembali cengir kuda saat berkata itu.
Sang paman pun hanya tersenyum menanggapinya sambil mengusap lembut pucuk kepala sang ponakan kesayangannya yang tampan itu.
"Tapi Pakde terus ajarin Andra dari sekarang ya Pakde tentang ilmu hukum pelan-pelan sebelum nanti Andra kuliah jurusan hukum dan menjadi seorang yang berprofesi di bidang tersebut. Ya Pakde." Celotehnya dengan penuh harap kepada sang paman kebanggaannya setelah kedua orang tuanya.
"Insha Allah Lek, Pakde akan bantu ajarin kamu Lek sebisa Pakde. Tapi intinya apapun cita-cita mu dan profesi mu kelak tetaplah menjadi pribadi yang selalu mengutamakan kejujuran dan amanah, selain taat kepada Allah SWT dan kedua orang tua kita. Karena itu adalah bagian terpenting yang masuk hitungan di akhir kelak Lek. Janganlah hidup sesuka hati mu dengan di bumbui hal-hal unfaedah dan jangan mau di rayu dengan godaan syetan demi kesenangan sesaat atau kepentingan pribadi yang merugikan sebagian orang. Ingat itu Lek." Wejangan sang paman panjang lebar untuk Andra sang keponakannya.
"Inggih Pakde." Sahut santuy sang ponakannya dengan mantap.
Namun, tanpa disadari wejangan tersebut adalah petuah terakhir yang ia dengar dari sang paman kebanggaannya. Jelas nasehat itu yang selalu Andra ingat sekali di benaknya hingga pada akhirnya ia terapkan juga pada dirinya dan kehidupannya.
Pamannya harus meninggal dengan cara yang tragis beserta anak dan istrinya. Setelah di usut dan di proses kasusnya ternyata motif dari sang dalang adalah balas dendam. Efek anak lelaki semata wayangnya yang mati bunuh di diri di dalam lapas setelah tiga hari di vonis hukuman seumur hidup, atas kasus pelecehan seksual kepada beberapa perempuan hingga ada korbannya yang dibunuh oleh sang pelaku.
Nah paman Andra yang berprofesikan seorang jaksa telah menuntut sang terdakwa hingga akhirnya mendapat hukuman seumur hidup dipenjara. Pernah ayah dari sang pelaku tersebut mendatangi Sadewa paman Andra itu untuk memintanya agar tidak menyulitkan apalagi menuntut anaknya hingga di vonis hukuman yang berat.
Sadewa dengan tegas menolak tawaran dan bujukkan itu semua, haram baginya menerima suap dalam bentuk apapun dan dalam alasan apapun. Jika itu menyimpang dari kebenaran dan ajaran agamanya.
🍬🍬🍬
"Niken ternyata lo masih mengharapkannya?" Ungkap Linda sahabat sekaligus managernya itu tak tak percaya.
"Gue kira bertahun-tahun elo berkarir ke luar negri ini lo bakal dan sudah lupa sama tu lelaki." Ungkapnya lagi sambil geleng-geleng kepala sungguh merasa tak percaya.
Niken yang berprofesi sebagai model yang sudah go international ini, sudah tak dapat menutupinya lagi dari sahabatnya tersebut. Karena kali ini ia tepergok oleh Linda saat ia sedang memandangi secara intens dan penuh harap foto lelaki pujaan hatinya itu. Linda cukup tau sosok lelaki yang jadi pujaan hati sahabatnya.
"Dia cinta pertama gue Lin sejak gue ketemu dengannya gue udah langsung jatuh hati dan samakin jatuh hati dna cinta sama dia hingga kini dan mungkin selamanya. Apapun itu gue akan mengejar cinta pertama gue dan cinta mati gue." Tutur Niken penuh percaya diri.
"Lo itu tau kan lelaki yang lo suka itu dingin banget bahkan dia tidak tertarik padamu Niken. Lo inget deh selama kita satu sekolah bahkan satu kelas sama lelaki yang lo bilang cinta pertama dan mati lo itu dia selama itu tidak pernah dekat dengan satu cewek pun bahkan sampai dia sudah kuliah tetep begitu hingga dia sudah berkarir dengan usianya yang udah kepala 3. Jangan-jangan rumor tentang dia impoten atau lebih parahnya lagi rumor dia gay itu bener lagi Ken." Lontarnya panjang lebar dengan bergidik ngeri saat Linda mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Ya terus gimana sama gue yang juga sampai detik ini udah berusia kepala 3 juga belum pacaran kembali, apalagi menikah. Nah sebagai perempuan umur segitu kan udah tua sebenarnya Lin dan apa nggak sama aja gue bisa-bisa di kira lesbian juga kah sama sebagian besar orang-orang?" Cecarnya merasa tak terima pujaan hatinya di tuduh memiliki kelainan seksual atau penyuka sesama jenisnya.
"Ih elo deh , au ah gelap." Kesalnya Linda dengan wajah cemberutnya.
__ADS_1
"Ya pemikiran elo dangkal sih, salah gitu gue kejar cinta pertama dan mati gue." Timpalnya Niken kembali merasa juga tak terima dengan respon sahabatnya itu.
"Jadi elo yang pernah pacaran dulu itu cuma mau bikin si Liandra cemburu dan tau reaksinya aja gitu? Wah gaswat lo Ken , sebegitunya lo cintanya sama tu si Liandra yang ganteng banget sih tapi dingin benget juga. Kasihan banget anak orang yang pernah cuma jadi manfaat elo doang Ken, tapi ya elo cukup mendapat efeknya dengan tidak mendapat apapun kan balasan dari pujaan hati elo itu si Liandra."
"Ya elo harusnya ngedukung gue dong sebagai sahabat, ini malah membuat gue patah semangat dan hati gini."
"Bukan gitu juga Ken, elo kan pernah bilang ke gue kalau elo dulu pernah ungkapin sekali perasaan elo ke Liandra. Tapi apa adanya elo di kata bercanda dan jelas elo juga di tolak mentah-mentah kan dengan alasan dia belum mau pacaran dan nggak mau pacaran. Elo nggak kapok gitu dengan alasan dia kala itu."
"Sekarang beda lah , gue kali ini bakal ungkapin perasaan gue lebih detail dan langsung ingin mengajaknya menikah."
"Wah parah bener cinta elo selama ini jauh dan lost contact elo malah seperti semakin bucin yang nggak karu-karuan, elo mikir dong Ken apakah semua itu nantinya nggak ada resikonya. Jangan terlalu percaya diri sekali jika mengahadapi lelaki seperti Liandra Alvian Abraham, elo kek kenal dia baru aja. Walaupun kita bukan sahabatnya setidaknya kita 3 tahun berteman dengannya, udah cukup bisa membacanya dong sedikit banyaknya tentang dia Ken. Jangan sampai elo patah hati paling dalam dan paling sakit setelahnya nanti, jika ternyata si Liandra nolak elo lagi dan di katain perasaan elo itu hanya candaan seperti yang pernah dia bilang ke elo dahulu." Linda memberi nasehat mengingatkannya.
Tapi sepertinya Niken tak mengubris apa yang di ungkapkan sahabatnya itu, baginya Liandra cinta matinya dan harus ia ungkap lebih benar lagi dan harus ia dapatkan juga nantinya.
"Udah ah bawel banget sih lo Lin." Ucapnya jengah dengan semua nasehat sahabatnya itu.
Niken tak mau ambil pusing lagi dengan segala ocehan Linda , baginya ia ingin segera kembali ke indonesia setelah kontraknya berakhir di Negri Ginseng ini. Wajahnya yang cantik dan oriental di tambah tubuhnya yang langsing serta tinggi semampai, itulah juga yang bisa membuat dia bisa menjadi model di negri ini.
Niken pun cukup mahir dalam berbahasa Korea begitu juga Linda karena mereka dulu adalah lulusan bahasa korea di salah satu universitas di UGM yang ada di Yogyakarta. Namun , hanya bergelar D3 karena kala itu belum masuk program study S1 untuk jurusan bahasa Korea disana.
Sejak SMA dan pertama kali bertemu Liandra atau sering di panggil Andra di keluarganya. Niken memang sudah jatuh hati pada Andra dan nyatanya semakin dia mencoba melupakan Andra malah dia semakin ingin memilikinya. Makanya juga sejak ia pernah pacaran dulu saat SMA dan kuliah dulu itu hanya cara Niken untuk melupakan Andra yang pernah menolaknya.
Akan tetapi semua usahanya sia-sia bahkan setelah ia menerima kontrak yang jauh dari negeri kelahirannya ia masih belum bisa benar-benar melupakan Andra perasaannya masih tetap ada dan sama, bahkan ia merasa semakin ingin memiliki Andra tanpa berfikir kalau bisa saja Andra sekarnag sudah punya pacar atau sudah menikah.
Karena aktivitas Niken yang juga sibuk dan padat ia dan Linda sama sekali tidak terlalu tahu menau tentang kehidupan Andra selama beberapa tahun mereka tidak stay di Indonesia.
Yang mereka tau jelas Andra berprofesi di bidang hukum selain memiliki beberapa bisnis serta yang terpenting bagi Niken yang ia tau Andra masih single sama seperti dulu-dulu. Jadi mereka memang belum tau apa yang terjadi dengan Andra sekarang.
Mereka juga tidak ikut perkumpulan atau group alumni SMA mereka, apalagi Niken ini sebenarnya termasuk perempuan yang memiliki sifat sedikit arogant.
Ntah apa yang akan Niken perbuat setelah ia nanti benar-benar kembali ke Indonesia.
🍬🍬🍬
Bersambung..
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰
__ADS_1