TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 44


__ADS_3

Tak lama beberapa menit reaksi terjadi pada tubuh Andra, ia tiba-tiba mengalami kejang-kejang. Tubuhnya bergetar hebat monitor pun berbunyi tak karuan, di kamar rawat VVIP ini sepi tak ada orang lain selain Alena yang masih di dalam toilet yang juga berada di bagian agak sudut kamar rawat ini.


____


Aku baru saja keluar dari kamar mandi berjalan dengan pelan sambil sedikit menunduk. Sesaat aku hampir tiba dekat dengan bed electric tempat berbaringnya si om kepalaku melihat ke arahnya dengan mata terbelalak , sangkin terkejutnya.


"Ya Allah, Om." Tubuh si om bergetar hebat seperti kejang-kejang dan alat monitor itu berbunyi-bunyi tak karuan dengan begitu cepatnya seperti kecepatan yang begitu kuat dari reaksi tubuh si om yang kejang-kejang atau bergetar itu.


Aku yang sesaat mematung di tempatku berdiri langsung melangkah menuju tombol nurse call berada. Aku pun langsung menekan tombol tersebut, hingga berkali-kali tanpa jeda agar segera di respon karena ini darurat sekali.


Tak butuh waktu lama datang beberapa suster dan seorang dokter lelaki paruh baya yang setau aku beliau adalah dokter spesialis jantung dan juga salah satu dokter yang menangani si om selama koma.


Mereka datang dengan langkah lebar dan tergesa-gesa.


Dokter tersebut pun langsung menghampiri si om memeriksanya, kemudian.


"Ambil defibrilator." Titah sang dokter dengan ekspresi yang terlihat cukup cemas.


Dengan sigap salah satu dari perawat itu pun langsung melaksanakan perintah sang dokter. "Baik dok."


Tanpa waktu lama alat yang disebut defibrilator itu pun langsung meluncur kehadapan sang dokter dan ke hadapan si om yang terbaring masih dengan kejang-kejangnya yang begitu hebat di atas bed electricnya.


Satu perawat itu pun menggunting seragam/ baju pasien khusus RS ini, yang di kenakan si om di bagian depannya dari bagian bawah ke atas hingga tandas. Kemudian menyibak bagian yang telah tergunting itu dengan lebarnya hingga terpampanglah dada bidang si om dan perut six packnya.


Dokter pun langsung memberikan gel kepada 2 benda yang akan di letakkan di dada atau perut si om sebelum alat itu benar-benar meyentuh tubuh atau di gunakan kepada si om.


Aku yang melihat alat itu jelas membuatku semakin cemas dan sedih, apakah keadaan si om sudah seburuk itu kah? Sehingga harus dilakukan tindakkan yang menggunakan


defibrilator. Dalam hati aku terus komat-kamit melafazkan do'a semampu ku agar si om baik-baik saja, tanpa terasa juga air mataku langsung meluncur kepermukaan pipiku.


"100 joule."


"Baik , dok."


"1..,2..,3..,shutt..!!"


"1..,2..,3..,shutt..!!"


"1..,2..,3..,shutt..!!"


"Tambah lagi 120 joule."


"1..,2..,3..,shutt..!!"


"1..,2..,3..,shutt..!!"


"Lagi..!!"


"1..,2..,3..,shutt..!!"


"1..,2..,3..,shutt..!!"


"Bagaimana dok,..?


Tak ada reaksi berarti dari detak jantung Andra yang sudah berpacu dengan sangat kencangnya saat ini. Namun, tiba-tiba sedikit melemah dan masih tetap sama tidak normal serta masih di sertai kejang-kejang walaupun tak sekencang tadi.


2 perawat itu dan 1 dokter Sp. JP / spesialis jantung tersebut saling tatap dengan tatapan tak bisa di mengerti secara gamblang.


"Terakhir 200 joule." Titah sang dokter lagi dengan tegas.


Di respon anggukan dan pelaksanaannya oleh 2 perawat yang ikut mendampingi dan menangani Andra selain sang dokter.

__ADS_1


"1..,2..,3..,shutt..!!"


"1..,2..,3..,shutt..!!"


.


.


.


.


.


Masih sama tanpa reaksi berarti, monitor itu menunjukkan gunjangan tak beraturan yang begitu cepat dari detak jantung Andra bahkan masih sangat cepat seperti sebelumnya.


"Sekali lagi!" Titah sang dokter.


"1..,2..,3..,shutt..!!"


"1..,2..,3..,shutt..!!"


.


.


.


.


.


.


 “lub-dup."


 “lub-dup."


"Alhamdulillahh." Seru sang dokter dengan hamdalah.


Suara detak jantung Andra yang kini telah kembali normal, begitupun monitornya kembali normal menandakan detak jantung Andra sudah stabil walaupun masih terbilang lemah. Itu terlihat jelas di layar monitor. Andra pun sudah jauh lebih baik dan tenang tidak mengalami kejang-kejang lagi atau bergetar hebat seperti tadi.


Dokterpun langsung memberikan intruksi kembali kepada sang perawat. "Ganti botol infusnya."


Salah satu perawat pun bergegas mengantikan infusnya lalu setelah terganti sang dokterpun mengambil beberapa cairan melalui suntikan yang bisa ku tebak pasti itu obat. Kemudian menyuntikkannya ke si om melalui botol infus yang disuntikkan.


Sedangkan suster yang satunya lagi langsung mengantikan pakaian seragam pasien/ baju pasien si om yang sudah tergunting dengan sengaja, karena keadaan darurat tadi.


Aku masih cemas dan sedih serta campur aduk perasaanku, melihat hal barusan yang begitu mengerikan. Bahkan hampir sama mengerikannya seperti mimpiku kala itu tentang si om. Ku seka air mataku berusaha tenang dan berucap alhamdulillah karena si om masih terselamatkan, walaupun hatiku masih begitu khawatir.


"Sus apa ada yang memberikan obat atau suntikkan baru kepada pasien?" Tanya dokter.


"Setau kami tidak ada dok." Jawab serentak 2 perawat tersebut.


"Nanti coba chek sisa cairan di botol infus pak Andra ke lab, mengerti." Titah sang dokter sambil menunjuk botol infus yang sudah terpakai itu.


"Baik dok." Seru kedua perawat itu.


"Dok, apa yang terjadi dengan suami saya?" Tanya ku penasaran dan juga masih merasa cemas.


Mau tak mau aku lebih menyebut si om suamiku, jika dihadapan orang medis atau umum. Tidak mungkin juga kan aku harus menyebutnya seperti biasa aku memanggilnya om di hadapan orang lain.

__ADS_1


"Pak Andra mengalami takikardia." Sebut sang dokter.


"Takikardia..?" Seruku dengan mimik bingung karena aku memang tak tau apa itu takikardia?


"Iya takikardia, kondisi di mana jantung berdetak sangat cepat. Bagi orang dewasa pada umumnya, jantung yang berdebar terlalu cepat saat denyut jantung mencapai lebih dari 100 kali per menit. Ada juga beberapa kasus, takikardia tidak menunjukan gejala atau komplikasi apapun.


Namun, bila tidak segera ditangani takikardia dapat mempengaruhi fungsi jantung dan menyebabkan gagal jantung , stroke bahkan serangan jantung tiba-tiba atau pun kematian."


Sungguh aku terkejut mendengar penjelasan sang dokter kali ini dan hal itu di alami si om barusan.


"Seberbahaya itu kah dok? Lalu sekarang apa keadaan suami saya sudah benar-benar membaik kah?"


"Alhamdulillah Allah masih menyelamatkan suami anda."


"Lantas dok, kenapa tadi suami saya bisa mengalami takikardia?"


"Setelah saya chek tadi sepertinya ada efek samping dari obat tertentu yang masuk ke dalam tubuh pak Andra, sehingga menyebabkan pak Andra mengalami takikardia."


"Maksud dokter?" Dahiku berkerut pertanda aku masih bingung dengan keterangan sang dokter tentang obat tertentu.


Tapi apa mungkin ada pihak medis yang salah memberikan obat kepada si om?, hingga si om mengalami hal mengerikan barusan.


"Sepertinya kita harus mengechek cctv kamar vvip ini, untuk mengetahui lebih jelasnya lagi selain tes sisa dari botol infus pak Andra yang barusan sudah saya ganti." Tutur sang dokter panjang lebar.


🍬🍬🍬


Sejak kejadian si om kejang-kejang dan hampir meregang nyawa, sejak itu juga di depan pintu kamar rawat VVIP kami di jaga ketat oleh 2 orang dari kesatuan kepolisian. Mereka yang tak lain anak buah dari teman papa mertua yang berprofesi sebagai polisi dan memiliki jabatan cukup tinggi di kesatuan kepolisiannya.


Kasus yang menimpa ku dan si om kala hujan-hujan itu di di tambah kasus baru yang menimpa si om yang ternyata setelah di chek ada orang yang menyamar belagak menjadi dokter diam-diam menyelinap dan menyuntikkan cairan racun ke dalam infus si om.


Kasus ini semakin di tangani gencar oleh pihak yang berwajib itu semua tak lepas dari laporan papa mertua ku dan juga om Reza termasuk dibantu teman dan rekan-rekan seprofesi dengan si om alias suamiku yang kenal dan bekerja di kantor law firm si om.


Karena kerja keras tim dari kantor Law Firm si om juga kepolisian akhirnya para pelaku pengeroyokan si om kala itu yang sempat jadi buronan kini telah di temukan dan tertangkap, begitu juga pelaku yang menyelinap ke kamar rawat ini. Akan tetapi pelaku yang menembak si om yang masih cukup sulit di deteksi, katanya pelakunya memakai identitas palsu yang ntah mengapa kali ini cukup sulit di lacak keberadaannya.


Sedangkan dalang dari semua itu sudah terungkap yaitu seorang pria paruh baya bernama Wiraguna Atmaja yang merupakan salah satu pejabat di negeri ini, yang juga anaknya tersandung kasus narkoba. Motifnya jelas seperti prediksi sebelumnya yang juga pernah di katakan om Reza yaitu balas dendam.


Karena si om alias suamiku menolak sogokkan dan menolak keras untuk membela yang jelas salah seperti anak pejabat tersebut yang ternyata jelas-jelas pemakai sekaligus pengedar narkoba. Kasus kami pun telah di limpahkan ke kejaksaan dan akan segera di proses lebih lanjut dan di persidangkan. Sambil terus melacak dan mencari buronan yang sudah jelas menembakkan 2 letukkan pistolnya kepada si om, hingga kini masih terbaring koma.


Sudah 4 hari berlalu dari insident si om kejang-kejang kala itu aku masih terus standby untuk si om sambil terus berkuliah. Namun, sejak kejadian si om kejang-kejang itu aku semakin merasa bersalah karena lalai dalam menjaga si om sebagai istrinya.


Hingga keesokkan harinya setelah kejadian dimana si om kejang-kejang aku mengutarakan ingin cuti kuliah dulu dan fokus menjaga dan mengurus si om. Hal tersebut ku sampaikan kepada kedua orang tuaku di telepon kala itu, dan mereka menyetujuinya.


Akan tetapi saat aku mengatakan hal yang sama kepada mertuaku mereka malah berkata. "Jangan lakukan itu Nak Lena! Hal ini semua bukan muthlak salah atau kelalaian kamu Nak, harusnya pihak RS ini yang lebih bisa di salahkan karena kurangnya keamanan bahkan di ruang rawat inap sekelas VVIP seperti ini. Hingga bisa kecolongan dengan adanya orang yang menyamar menjadi seorang dokter secara diam-diam dan mencelakai Andra.


Kamu tetaplah berkuliah Nak Lena seperti biasa dan jangan sampai fokus kuliah mu terganggu, kamu bisa kok menjalaninya sambil menjaga dan mengurus Andra suamimu Nak. Mama yakin itu, kamu perempuan kuat dan baik makanya Allah memberi ujian ini kepadamu. Teruslah berdo'a untuk kesadaran dan kesembuhan Andra, Mama pun begitu Nak. Kita pasti bisa oke sayang." Tutur Mama mertua menyatakan tidak ingin aku cuti kuliah dan berusaha menyemangatiku dengan di akhiri mengenggam kedua tanganku erat dengan kelembutannya.


Aku terharu mendengar dan melihat reaksi mertuaku yang selalu baik dan sayang padaku, mereka tak pernah menyalahkanku apalagi memusuhiku atas Selalu bersikap netral dan baik selama aku mengenal lebih dekat keluarga si om yang tak lain suamiku sendiri. Bahkan si om yang dingin dan datar itu pun begitu peduli padaku walaupun sikapnya bagi ku dominan nyebelin selama aku kenal dan menjadi istrinya, walaupun baru beberapa bulan saja.


Aku pun tak jadi untuk mengambil cuti kuliah dan pihak RS pun sudah meminta maaf sedalam-dalamnya atas kejadian yang membuat ornag asing menyelinap hingga mengancam nyawa si om. Mertuaku yang memang baik mereka menerima permintaan maaf pihak RS ini, dengan catatan tegas dari kedua mertua ku jangan sampai terulang lagi baik kepada si om maupun pasien lainnya.


Ku coba menggelus punggung tangan kanannya yang tak berinfus yang kini sudah sembuh luka dari besi pisau itu, namun masih sedikit meninggalkan bekas samar-samar.


Ku usap-usap lembut telapak tangan kanan si om sambil berucap "Maafkan Lena Om,ayoklah segera bangun om! Lena tak suka om seperti ini, Lena bakal lebih suka dengan om yang kadang membuat Lena kesal setengah mati. Sudah cukup om istirahatnya, sekarang waktunya om bangun." Tanpa terasa setetes air mataku jatuh hingga mengenai punggung tangan kanan si om.


Sudah 1 bulan lebih si om masih koma seperti ini. Di saat seperti ini aku pun malah kangen dengan sikap dan ucapan si om yang terkadang membuatku kesal kepadanya.


🍬🍬🍬


Bersambung...


Terima kasih banyak ya bagi yang masih setia membaca dan mengikuti cerita ini..🙏🤗

__ADS_1


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰


__ADS_2