TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 58


__ADS_3

POV ANDRA.


"Sssstttt." Aku berusaha kembali menahan eranganku akibat obat sialan ini. Sakit dan panas di sekujur tubuhku karena gejolak yang di paksa ku tahan.


"Mau kemana kamu Mas Andra? Ayolah kita nikmati bersama." Tiba-tiba saja perempuan bernama Sarah ini memelukku dari belakang, kedua tangannya mengapit erat tubuhku, dadanya ia gesekan ke punggungku dan meraba-raba dadaku yang masih terbalut utuh oleh stelan jas / baju kantoranku.


Sentuhan yang dia berikan membuatku seakan tidak berdaya efek obat sinting ini."Eerrrggghhh..." Aku kembali mengeram tertahan, nafasku semakin memburu serasa tubuhku meminta lebih dari sentuhan ini.


Aku kembali berusaha sadar agar aku tidak termakan pengaruh obat sialan ini. Berusaha mati-matian menahan dan melawan gejolak birahiku dengan kembali mengatur nafasku. Kini aku mencoba melepaskan perempuan ini dari tubuhku.


Membuka kapitan kedua tangannya dari tubuhku lalu menarik tubuhku ke depan, agar tubuhku dan tubuhnya menjauh. Lalu ku dorong kembali perempuan tersebut hingga ia kembali jatuh tersungkur di atas lantai sampai terletang di sana.


"Auw." Kembali ia meringis.


Saat aku akan kembali berusaha membuka pintu, akan tetapi ekor mataku seakan melihat ada suatu benda seperti kunci yang nongol sedikit dari celah saku dasternya yang ada di sebelah kanannya. Dengan masih terus mati-matian aku menahan panas dan gejolak serta sakit di sekujur tubuhku ini. Aku akan mengambil kunci tersebut yang ku yakini itu adalah kunci dari pintu utama rumah ini.


Perempuan itu mulai bangun dari jatuhnya tadi dengan gerakan pelan , sedangkan sekarang aku mencoba berpegangan pada dinding sebelah tanganku bertumpu disana. Aku berdesis sambil menggigit bibir bawahku karena menahan sesuatu yang berkedut semakin hebat di bawah sana. Ku rasa wajahku sudah memerah padam karena gairah yang semakin bergejolak tidak karuan. Aku mencoba dengan sekeras mungkin melawan siksaan dari obat sialan ini.


Aku menekan sekeras mungkin birahiku yang begitu bergejolak semaksimal mungkin, agar tidak ke bablasan. Sungguh sesuatu di dalam sana berkedut semakin hebat dan hawa panas pada tubuhku semakin terasa menggila di tambah peluhku kini semakin berjatuhan.


Aku mencoba berjalan berusaha mendekat pada perempuan itu , hanya untuk mengambil kunci yang terselip di saku dasternya. Sebelum aku mencoba mendekat pada perempuan itu, ia yang malah sudah mendekat kembali padaku.


Dia memelukku dari depan saat tubuhku memang mengarah ke arahnya, tanpa kusadari. Lagi-lagi perempuan iblis ini menyentuh tubuhku yang masih mengenakan stelan jas lengkap. Sentuhannya membuatku meremang dan refleks memejamkan mataku seraya menikmati setiap sentuhannya itu. Aku seakan menggila antara birahi yang bergejolak dengan hebatnya dan otak warasku.


"Aarrgghh ssttt..!!!" Obat perangsang ini sungguh lebih mematikan dari pada sianida.


Ku paksa mataku kembali melek dengan sempurna.


Namun, apa ini...?


Perempuan iblis ini mencoba ingin mencium bibirku untung saja otak warasku masih bisa ku kendalikan dan berfungsi dengan cukup baik di saat seperti ini, sehingga aku bisa segera mengelaknya. Kembali aku mendorongnya dan lagi-lagi perempuan tersebut jatuh di atas ubin.


Mataku sigap memerhatikan kunci tadi yang tersimpan dan menongol dari saku dasternya, dan tanpa si perempuan itu sadari kunci tersebut ternyata sudah tergelak di atas ubin. Aku melihat cepat saat perempuan itu sudah kembali bangun dari jatuhnya dan tidak memerhatikan ku karena ia masih berusaha menyeimbangkan tubuhnya.


Dan kesempatan itu ku gunakan melangkah mengambil kunci tersebut yang bersatu dengan ganci dan beberapa kunci lainnya. Kini kunci tersebut telah di genggamanku.


Saat aku akan kembali melangkah hendak menuju pintu. Aku menggeleng kuat bahkan sekuat mungkin mencoba sadar dan tidak terpengaruh penuh pada obat perangsang ini. Kembali fokus untuk menekan gejolak birahi yang seharusnya tidak terjadi.


Dengan perlahan tapi pasti akhirnya aku bisa menuju balik pintu utama, dengan gerakan cepat di antara kewarasanku dan bihariku akibat obat luknat ini. Aku berperang keras memasukkan salah satu ujung kunci ini yang ku yakini adalah kunci pintu utama rumah ini, ke dalam lubang hendle pintu.


"Crekk..Crekk.."


Alhamdulillah ternyata kuncinya memang benar dan pas setelah aku memutar dua kali kuncinya ke arah kanan. Tanpa menoleh lagi aku tekan hendle pintunya ke bawah terbukalah pintunya. Dengan langkah berat kembali aku berjalan menuju motor sportku sambil berlari semampuku.


Ku pakai helm full face ku lalu naik ke atas jok motorku, setelah aku mengeluarkan kunci motor sportku lalu memasukan kuncinya ke tempatnya yang ada di dekat stang. Kemudian dengan gerakan cepat menghidupkan motorku dan segera hengkang dari tempat luknat ini.


Saat aku mulai melajukan motor sportku aku mendengar perempuan iblis itu berteriak memanggil ku.


"Mas Andra tunggu." Aku terus melaju mengabaikannya.


Aku melajukan kuda besiku ini dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di apartementku. Rumah tadi yang katanya rumah Pak Candra atau bukan? , memang jaraknya tidak terlalu jauh untuk menuju apartement ku. Namun, karena sudah sore bahkan sudah mulai masuk waktu petang jelas jalanan kota pasti ramai padat.


Tapi kali ini aku tidak perduli, aku ngebut saja dengan terus berperang melawan semua yang terasa bergelora hebat dalam tubuhku.


"Ya Allah selamatkan aku." Harapku dalam hati.


Tiba-tiba...


"Cittt..." Aku mengerem mendadak.

__ADS_1


Hampir saja aku menabrak ibu-ibu yang sedang menyeberang di jalan yang terbilang hanya aku yang saat ini mengendarai dengan begitu ngebutnya. Tanpa banyak waktu aku hanya menganggukkan sekilas kepalaku sebagai permohonan maafku pada ibu itu, lalu kembali menancap gasku dan melaju membelah jalanan dengan kecepatan tinggi seperti tadi.


_____


Sampai di baseman apartement aku langsung membuka helm full faceku dan menuju lift untuk segera sampai di lantai 11 unitku berada. Syukurlah lift sedang kosong tanpa siapapun.


Ting..


Lift berhenti di lantai yang ku tuju, aku langsung keluar setelah pintu terbuka walaupun pintu lift belum sepenuhnya terbuka. Namun, celah yang sudah terbuka sudah cukup untuk tubuhku melewatinya dengan gerakan menyamping.


Titt...Titt...Titt...Titt...


Ku masukkan pasoword unitku setelahnya terbuka dengan tergesa-gesa aku membuka sepatu dan kaos kaki ku kemudian melangkah masuk mencari keberadaan istri tercintaku di mulai dari dapur tidak ada baru ke kamar kami selanjutnya.


"Alena..?"


"Alena..?"


"Alena..?"


Lantangku memanggilnya dan saat aku sudah di dalam kamar kami, aku belum menemukan keberadaannya.


Hingga terdengar suara pintu kamar mandi terbuka dan munculan sosok yang ku cari, dengan handuk kimono dan rambutnya yang terurai sedikit berantakan di sertai tetesan air dari setiap ujungnya efek masih basah dan wajahnya yang segar alami.


"Mas udah pulang." Serunya saat berjalan ke arah ku hendak menyalami ku takzim seperti biasa.


"Ahh iya sayang." Kurasa mataku sudah sayu dan suaraku terdengar parau seperti orang sakau.


Aku masih menahan diri dan mulai bertanya sebelum hasrat dari obat sialan itu ku salurkan ke Alena istri ku.


"Kamu nggak lagi halangan kan Alena?" Telisikku cepat.


Kini aku sudah tanpa busana di bagian atas tubuhku hingga pinggang, melangkah lebar berhampur ke arah Alena menyelipkan kedua telapak tanganku ke sisi kanan dan kiri wajahnya. Jari-jari ku mengapit rambutnya dan kedua ibu jariku berada di pipi Alena.


Sesaat setelah ku pandangi sekilas wajah Alena yang cantik natural itu, aku pun langsung melahap bibir pink alaminya secara rakus. Hingga tidak sengaja tubuh belakang Alena bertubruk dan tertahan oleh dinding, aku masih bermain dan melahap bibir dan isi di dalamnya dengan penuh gairah.


Merasa Alena sudah susah bernafas aku pun menarik benda kenyalku itu dari bibir manisnya, untuk memberikan asupan oksigen baik untuk Alena dan untukku. Nafas ku jelas begitu memburu dan mataku sayu penuh gairah , sedangkan Alena masih terlihat belum begitu tinggi gairahnya.


"Alena..?" Seruku serak syarat itu adalah panggilan syahwatku yang kian mengebu efek obat sialan ini.


Tanpa berseru lagi aku langsung membopong Alena istriku membawanya ke peraduan kami. Ku jatuhkan Alena perlahan ke tempat peraduan kami, lalu aku langsung menyalurkan hasratku yang sudah tertahan sejak tadi yang kini sudah begitu bergejolak kuat sampai ke ubun-ubun.


Obat ini sungguh obat perangsang level tinggi aku sampai mengempur istri tercintaku tanpa henti dan tanpa bisa ku tahan. Sepertinya obat ini semakin bereaksi saat HB , ibarat semakin di garuk semakin gatal dan menginginkan terus di garuk agar gatalnya menjadi terasa nikmat.


_____


Di lain tempat.


Perempuan yang mengaku bernama Sarah itu sebenarnya bukan nama aslinya, nama aslinya adalah Serli. Begitu juga yang bernama Pak Candra juga bukan nama sebenaenya melainkan nama aslinya adalah Roy.


"Gila baru kali ini gue nemu cowok udah tampan bisa jaga pandangan dan jaga diri agar tidak sembarangan menyalurkan hasratnya, padahal udah di cekokin obat perangsang level tinggi." Seru Serly sedikit terkagum-kagum.


"Ah nggak tau lagi gue, ntah jebakan seperti apalagi yang bisa kita buat untuk menghancurkan repotasinya." Kini Roy terlihat frustasi.


"Ah gue jadi gagal bisa tidur sama tu cowok super tampan dan berprinsip teguh. Beruntung banget dah tu yang jadi bininya." Serly berucap dengan pandangan menerawang jauh ntah kemana.


"Elo aja jadi cewek kali ini berasa tol*l menurut gue, kenapa bisa itu kuncinya jatuh dan di ambil alih oleh si Andra Andra itu." Kesal Roy pada Serly.


"Tapi tunggu Roy gimana kalau tu cowok tampan membawa hal ini ke rana hukum, secara tu cowok tampan kan profesinya begitu." Mata Serly melotot was was..

__ADS_1


"Aaa.." Pekiknya Serly karena rasa was dan takutnya.


"Udah santai aja lo itu udh di atur sama temen gue yang punya dendam itu. Sekarang masalahnya gimana ini kita gagal, gue jadi nggak tau mau laporan gimana nanti sama temen gue itu. Argghh.." Roy mengacak rambutkan geram akibat frustasi akan kegagal dalam penjebakannya tadi bersama Serly.


_____


POV ANDRA.


"Mas udah,...Lena nggak kuat lagi." Mohon Alena dengan suara lirih bahkan seperti bisikan sangkin lirihnya.


Aku mengabaikan Alena yang lemah di bawah sana dalam kukungan gairah iblisku.


"Sakit Mas.." Rintihnya sangat pelan disertai air bening yang mengalir deras dari kedua kelopak matanya, tapi masih bisa terdengar oleh gendang telingaku.


Kembali aku mengabaikanya dan terus melaju


Kencang dan kuat diatas tubuh polos istriku yang sudah tidak berdaya lagi. Sungguh kali ini aku seperti dirasuki iblis birahi yang gila akan ****.


Pengaruh obat sialan itu ternyata semakin menggila saat ada pelampiasan yang terpenuhi dan aku semakin di kuasai oleh pengaruh obat sialan itu yang mungkin dibantu oleh iblis yang merasuki ku saat ini. Aku pun bermain sedikit kasar kali ini kepada istriku tidak biasanya aku berlaku begini. Walaupun sebergairahnya aku pada istriku, aku tidak pernah kasar melakukannya apalagi memaksa.


"Apa ini..?" Mataku memicing menelisik.


Setelah beberapa saat aku melepaskan gempuran hebatku karena sudah mengeluarkan pelepasanku yang ntah sudah keberapa kalinya pada tubuh istriku Alena, tiba-tiba cairan merah keluar dari bagian daerah sensitifnya merembes ke bagian selangkangannya.


Mataku pun mendelik karena terkejut dan cairan itu semakin merembes lebih banyak dari bagian sesitif istriku Alena.


"Ya Allah kenapa ini?" Ku lihat Alena sudah tidak sadarkan diri, ku guncang tubuhnya mencoba membangunkannya.


"Sayang...bangun..."


"Sayang..Ayo bangun sayang..Pliss." Tidak ada reaksi apapun dari tubuhnya ku chek nafasnya masih ada, Alena pingsan.


Aku langsung bangkit dari atas ranjang yang sudah tidak karuan bentuknya. Tanpa berfikir panjang aku langsung mengambil pakaianku yang tadi ku lempar asal ke sembarang arah, memakainya dengan sempurna tanpa jas dan dasi.


Bergegas aku mengambil pakaian Alena di dalam lemari dan mamakainya secara buru-buru setelahnya ku ambil kunci mobilku dari dalam laci nakas lalu dompet dan iphoneku yang tergeletak di atas nakas. Ku masukkan ke saku kanan dan kiri celanaku semua benda itu . Aku harus membawa Alena segera ke RS.


Aku panik dan begitu ketakutan karena cairan berwarna merah itu masih saja berembes secara perlahan dari selangkangnya, walaupun sudah ku pakaikan Alena pakaian lengkapnya.


Ku gendong tubuh Alena ke pundakku seperti mengendong karung beras. Aku lalu keluar unit apartement kami menuju lift.


Sampai ke area baseman dengan langkah lebar dan engos-engosan aku menuju mobil ku, membuka dan meletakkan Alena si kursi penumpang depan. Ku pasangkan seatbeltnya dan ku perendah posisi kursinya agar lebih menyamankan tubuh Alena.


Wajahnya pucat sekali terlihat kelelahan itu di wajah cantiknya yang kini tidak sadarkan diri.


"Maafkan saya Alena, maafkan saya. Bertahanlah, kita akan segera ke rumah sakit." Aku mengecup keningnya lembut dengan mataku yang terasa panas dan berkaca-kaca, sepertinya sebentar lagi cairan bening itu bisa-bisa lolos dari sana.


Segera aku menutup pintu mobil lalu berjalan memutarinya segera masuk dan duduk di bangku kemudiku tidak lupa memakai seatbeltku. Ku hidup kan mesin mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi, aku tidak punya waktu banyak nyawa Alena dalam bahaya karena ulah ku.


"Ya Allah selamatkan lah istriku , istri tercintaku." Rampalku dalam hati sambil terus menyetir mobil dengan kecepatan maksimal.


Sesekali pandanganku menoleh ke arah samping kemudiku dimana Alena duduk terbaring tidak sadarkan diri, dan sesekali tangan kiriku menyentuh kepalanya lembut. Sungguh rasa panik dan bersalah meliputiku.


🍬🍬🍬


Bersambung..


Bagaimana bab ini menurut kalian? Terima kasih atas pembaca yang tetap setia menunggu dan mengikuti cerita recehan saya ini..🙏🤗


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰

__ADS_1


__ADS_2