TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 39


__ADS_3

POV REZA


Aku melajukan mobil Ferrari F8 ku yang berwarna biru di tengah hujan deras malam ini. Aku baru saja dari urusan menemui klientku yang tadi sengaja temu bisnis di sebuah tempat hiburan karaoke. Saat aku akan menuju pulang ke apartement ku aku seakan melihat sebuah mobil Fortuner GR-Sport berwarna hitam terparkir sembarang dengan lampu sein dari arah belakang mobilnya yang masih menyala di tengah derasnya hujan malam ini.


Aku terus melajukan mobil, akan tetapi sekilas saat aku meliwatinya seperti terlihat bayangan dua orang. Yang seperti satu tergeletak di aspal dengan di pakuan seorang wanita yang tertunduk sambil menangis. Aku coba menepikan mobilku tepat di sekitar mereka berada.


Walau ada rasa ragu aku tetap berusaha untuk turun dan mencoba melihat lebih dekat , apa yang sebenarnya terjadi. Sebelum turun aku memerhatikan sejenak 2 orang itu dari dalam mobil sambil aku memastikan feelingku. Apakah ini sungguhan atau jebakan seperti para begal-begal beraksi.


Karena di zaman sakarang memang lagi marak begal dengan berbagai motif, pembegalan juga kerap terjadi kepada pengedara mobil. Dengan berbagai tipu daya aksi mereka berusaha menjebak mangsanya , apalagi ini terbilang masuk waktu tengah malam di tambah lagi sedang hujan deras. Jalanan jelas banyak yang sepi di saat seperti ini, karena orang-orang juga malas keluar efek hujan deras dan sudah malam.


Ku raih payung hitam yang ada di bagian dalam belakang mobilku yang biasa memang ku letakkan payung untuk berjaga-jaga, saat turun hujan seperti ini di luaran. Membuka pintu dan turun dari mobil setelah aku membuka payungku lalu melangkah ke arah mereka.


Kini aku berdiri tepat di hadapan mereka, namun aku belum dapat melihat dengan jelas wajah keduanya. Karena wanita ini masih terus menangis sambil menunduk dan memangku kepala lelaki yang terkapar tersebut, dengan wajahnya yang sebagian tertutup oleh telapak tangan wanitanya.


Terlihat jelas kemeja berwarna putih polos itu penuh dengan darah yang terlihat masih terus mengalir dari bagian perut kiri si lelaki, walaupun di basahi oleh hujan deras ini. Aku telisik dengan seksama, mengapa postur tubuh lelaki yang terkapar ini seperti postur tubuh sahabatku.


Dengan gerakan cepat segera aku berjongkok untuk memastikannya. Sebelah tanganku meraih cepat ke wajah lelaki yang terkapar di pangkuan perempuan ini yang juga belum jelas wajahnya terlihat karena terus menunduk dengan rambut yang acak-acakan sebagian menutupi wajahnya.


"Astagfirullah." Kagetku ketika benar ini adalah sahabatku.


Lalu mata ku tertuju pada perempuan di hadapanku yang kini sudah menegakkan sedikit wajahnya. Dan benar tebakkanku perempuan ini adalah Alena istri sahabatku ini, itu langsung terfikir olehku setelah aku tau wajah lelaki yang terkapar ini adalah Alvian sahabatku.


Alena pun menatap ke arah ku kemudian ia berkata.


"Om tolong , tolong om Andra Om!" Ucapnya dengan derai air mata dan nada suara yang begitu bergetar disertai kecemasan yang kuat.


Aku tak perlu bertanya dulu padanya apa yang terjadi sebenarnya, karena menolong Alvian lah sekarang yang lebih di utamakan. Aku langsung mengeluarkan ponselku menghubungi ambulance, setelah menghubungi ambulance aku masig menatap sedih dan khawatir ke arah sahabatku serta Alena yang masih terus-terusan menangis pilu.


Aku coba chek lagi sahabatku itu Alhamdulillah ia masih bernyawa setelah ku periksa denyut nadinya, dan ternyata telapak tangan kanannya pun terluka.


Lukanya seperti habis tersayat pisau, aku jadi menyimpulkan dugaanku benar seperti ada orang yang menyerang mereka tadi. Tapi lebih dari satu dan pasti memakai senjata tajam. Hingga di saat Alvian lengah mereka menggunakan senjata tersebut ke perutnya, itu dugaanku sementara ini.


Karena setau ku Alvian itu tak mudah di kalahkan jika dengan tangan kosong walaupun dengan beberapa orang yang mengeroyokinya. Aku tau dari dulu ilmu bela dirinya cukup tangkas dan jempolan.


Tak lama ambulance pun tiba dengan beberapa orang timnya, segera mengangkut tubuh atletis sahabatku itu agar segera masuk ambulance dan segera di tangani.


"Ayo Alena kamu ikut dengan ku, kita ke RS bersama." Intruksiku padanya.


"Tidak Om, Lena mau ikut dalam ambulan menemani om Andra." Akhirnya ku biarkan saya Alena ikut masuk ke dalam ambulan lagian itu mungkin jauh lebih baik seorang istri menamani suaminya di saat seperti ini.


"Pak bisa dia ikut masuk dalam ambulan, dia istri pasien ini." Izinku seraya memberi keterangam siapa Alena agar mereka bisa mamakluminya dan mengizinkan Alena ikut serta dalam ambulance.


"Baiklah." Ucap salah satu petugas medis itu.


Segera mereka masuk ke dalam ambulance dan melajukannya menuju RS. Aku segera menuju mobil Alvian memeriksanya sejenak lalu setelahnya mengunci pintunya dan aku kembali masuk ke dalam mobilku.


Hujan masih menguyur kota ini, didalam mobil aku menghubungi seseorang yang bisa ku mintai tolong segera datang untuk mengendarai mobil Alvian membawanya ke kantorku saja agar di parkir dan di simpan di sana saja fikirku.


Menunggu beberapa menit sekitar 20 menitan datanglah orang yang ku suruh itu, ku beri iya intruksi kembali lebih detail lagi dan ku serahkan kunci mobil Alvian padanya. Aku pun segera undur diri untuk menuju RS, kurasa Alena pun masih membutuhkan seseorang di saat seperti ini, pikirannya pastilah kacau ia butuh di temani sebelum keluarga mungkin datang menemaninya.


Aku melajukan Ferrari ku dengan kecepatan kencang tapi tetap hati-hati karena jalan pun licin akibat hujan deras. Namun , kali ini hujan sedikit cukup reda. Sampai di RS langsung aku mencari tujuaanku sambil berjalan aku mengeluarkan ponselku dan menghubungi pihak keluarga Alvian, memberi kabar.


Ternyata Alvian sudah masuk ruang operasi beberapa menit lalu, ku lihat Alena di sudut ruangan sudah berjongkok sambil melipat kedua kakinya dan kedua lengannya bertumpu di atas kedua lututnya di sertai wajahnya yang ia tengelamkan di atas tumpuan kedua lengannya.


Aku berinisiatif ke kantin RS ini dan membeli sebuah kopi susu hangat untuknya dan untukku, dia sudah mandi hujan tadi dan kini pakaiannya juga basah kuyub. Kasihan itu yang ada di fikiran ku sekarang ini kepada Alena. Mau memberi baju ganti aku juga bingung mana aku pun kali ini sedang tak membawa jaket atupun jas. Aku hanya memakai kemeja berwarna abu-abu dengan celana bahan berwarna hitam.


Setelah siap pesanan 2 cup berukuran sedang ku terima aku pun segera membawanya dan menuju area ruang operasi.


"Sebaiknya kamu minum dulu kopi susu yang hangat ini." Alena mendongakkan kepalanya ke arahku yang menyodorkan 1 cup kopi susu hangat untuknya.


Terlihat ia tak menghiraukannya dan kembali menenggelamkan wajahnya pada kedua tumpuan tangan tanganya.


"Ayolah minum ini agar suhu tubuhmu tidak terlalu dingin akibat kehujanan tadi." Aku juga mengkhawatirkannya.


Alena tetap mengabaikan kopi susu hangat yang ku bawakan untuknya, sudah cukup ku paksa tetap ia abaikan. Ku rasa ia sedang tak ingin di ganggu , ya sudahlah fikirku hingga keluarga Alvian tiba juga di RS.


Rasa khawatirku kepada Alena sebatas mengkhawatirkan istri sahabatku tidak lebih, begitu juga aku mengkhawatirkan sahabatku yang masih di dalam ruang operasi berjuang antara hidup dan matinya. Aku berharap semoga semua berjalan lancar dan baik-baik saja.


Alvian itu sahabat yang baik walaupun dia terbilang dingin dan cuek tapi Alvian itu sebenarnya kepeduliannya begitu kuat apalagi kepada sahabatnya dan keluarganya. Alvian ini pernah tak dibayar sepeserpun demi membela dan medampingi perempuan dan bapak-bapak yang memang ekonominya juga lemah saat mereka pernah di fitnah dan di lecehkan. Hingga sang pelaku pun akhirnya dapat di hukum sesuai kesalahannya.

__ADS_1


Alvian juga termasuk lelaki dermawan yang setiap bulannya ia menjadi donatur tetap di salah satu panti asuhan, panti jompo dan pesantren. Dari beberapa itu pun aku juga ada menjadi donatur tetap di salah satu panti asuhan yang juga di donaturin oleh Alvian.


Selama ini Alvian lebih banyak mengabdikan dirinya untuk pendidikannya dan karirnya, hingga ia tak pernah pacaran ataupun dekat dengan para kaum hawa. Tapi yang mengaguminya dan menyukainya bahkan mencintai jelas ada, tapi ia abaikan begitu saja pura-pura tak tau.


Alhamdulillah Alvian bisa tertolong dan melewati masa kritisnya apalagi setelah ia mendapatkan transfusi darah yaitu dari ku dan ayah kandungnya. Kata dokter saat aku dan Om Abraham chek darah dokter berkata luka tembakan Alvian cukup parah karena mendapatkan 2 tembakan pada lubang yang sama. Hal itu juga di picu darah yang keluar sangat banyak sebelum tiba di RS.


Namun, malang tak bisa di cengah ternyata setelah operasi berjalan lancar begitu juga transfusi darah pun berjalan lancar dan memadai asupan darah Alvian. Akan tetapi Alvian malah di nyatakan koma setelah 1 hari 24 jam ia tak sadarkan diri.


___


Setelah 3 hari Alvian di rawat di RS aku kembali ke RS menjenguknya. Karena rutinitas kerjaanku yang juga padat maka baru sore hari ini lah aku sempat kembali ke RS ini untuk menjenguk sahabatku itu.


Saat akan tiba ke ruang ICU ada salah satu perawat yang mengenaliku. "Ini mas yang waktu itu ikut mendonorkan darahnya tuk mas Liandra ya?" Tanyanya menghampiriku yang kini terhenti karenanya.


"Ah, iya. Ada apa ya Sus?" Tanyaku balik mana tau dia membutuhkan sesuatu dari ku.


Aku baru ingat ternyata perawat muda ini yang ikut membantu ku saat transfusi darah untuk Alvian.


"Pasti mas ini mau menjenguk mas Liandra kan?" Tebakkannya tepat.


Aku refleks mengangguk seraya berakata "Iya sus."


"Pasien atas nama Liandra Alvian Abraham sudah di pindahkan kemarin ke ruang VVIP mas." Infonya.


"Oya, apakah pasien sudah sadarkan diri sus?" Aku penasaran , jika iya aku sungguh bersyukur sahabatku itu telah siuman.


Suster muda itu menggeleng "Belum mas, pasien masih koma. Ia di pindahkan atas kemauan pihak keluarganya ke VVIP dengan kelengkapan medis khusus pasien koma." Terang suster muda ini padaku singkat.


"Oo, begitu. Jadi sebelah mana kamarnya Sus?" Tanyaku selanjutnya, dengan rasa sedih. Ku kira Alvian sugguhan sudah siuman.


"Terus saja belok kanan nanti langsung ketemu." Aku mengangguk sambil berucap "Terima kasih ya Sus."


"Iya mas , ma-sama." Ucapnya seraya senyum ramah dan melangkah menjauh dari hadapanku. Ku balas dengan senyum tipis sekilas saja.


Tok.


Tok.


Tok.


"Om Reza. Silahkan masuk." Aku tersenyum sekilas saat kami saling menatap untuk beberapa detik.


Saat ini hanya ada Alena seorang yang sedang menjaga Alvian, ia duduk tepat di sebelah sisi kiri Alvian. Aku pun masuk tanpa menutup rapat pintu kamar VVIP agar tak menjadi fitnah , walaupun di antara kami jelas masih ada Alvian. Akan tetapi Alvian saat ini masih dalam keadaan koma.


Alvian sudah di tempatkan di ruang VVIP yang secara khusus telah di ubah dan di desain dengan beberapa perlengkapannya , untuk menunjang kebutuhan pasien selama koma. Ruang VVIP tersebut sudah sama persis seperti ICU , tapi lebih lengkap dan sedikit lebih luas dengan beberapa barang yang biasa ada di kamar rawat inap khusus pasien VVIP di tambah adanya kamar mandi pribadi di dalamnya.


Orang yang koma berarti orang dengan tingkat kesadaran terendah dan bergantung kepada alat-alat penunjang alat vital. Jadi orang dalam posisi tertidur tanpa adanya respon sedikitpun. Pasien koma jelas harus terpasang monitor untuk tanda vitalnya.


Orang yang koma tidak mampu bernafas adekuat, walaupun ada usaha nafas dari orang itu sendiri. Akan tetapi tetap membutuhkan alat bantu nafas yang disebut dengan ventilator. Ventilator ini harus tersambung dengan listrik 24 jam dan tabung oksigen, yang artinya selain tabung oksigen utama juga tersedia tabung oksigen cadangan.


Dibutuhkan juga alat suction atau penghisap lendir yang digunakan pada jalan nafas. Serta pemberian cairan melewati infus yang masuk ke dalam pembuluh darah, dan nutrisi melalui selang makan sampai ke lambung pasien yang koma.


"Duduk Om." Ucapnya.


Kini aku telah duduk di kursi yang disediakan sejak awal aku datang tepat di sebelah kanan Alvian terbaring.


"Bagaimana keadaannya?" Kini aku sudah bersebrangan dengan Alena yang di tengahnya terbaring lemah sahabatku Alvian di atas hospital bed electric.


Alena mengeleng lemah tatapannya sedih mengarah ke arah dimana terbaringnya Alvian bak mayat hidup yang tetap tampan, walaupun sahabatku kini lebih kurusan dari sebelum kejadian insident itu.


"Belum ada perkembangan Om." Terang Alena dengan suara lemah.


"Kita berdo'a terus ya Alena jangan putus-putus dan banyak-banyaklah berzikir, serta lafazkan selalu ayat-ayat Al-qur'an sebagai terapi paling terbaik untuk kesembuhannya. Alvian orang baik insha Allah akan segera di angkat segala sakitnya dan segera bangun dan sehat seperti sedia kala."


"Aamiin. Terima kasih Om." Ucapnya Alena menatapku sekilas begitu juga aku dan aku hanya mengangguk sebagai respon.


"Assalammualaikum. Bro. Maaf ya gue baru bisa menjenguk elo sekarang, lo kan juga tau gue ini orang sibuk hehehe. Gue harap lo segera siuman dan sehat kembali seperti sedia kala, banyak kasus yang masih menunggu tangan dingin elo yang handal dan amanah itu dalam menegakkan keadilan. Semoga Allah selalu melindungi lo Alvian." Aku berucap memberi semangat dan do'a terbaik ku untuk sahabat terbaikku.


Aku tatap langit-langit mendogakkan kepalaku mencoba menghalau bulir bening yang seakan hendak jatuh dari tempatnya. Sungguh kali ini aku merasa sedih dan pilu melihat sahabatku hanya tidur dengan segala ***** begek alat-alat medis, sebagai penunjang kebutuhannya selama ia masih tak sadarkan diri.

__ADS_1


Sungguh ia seperti mayat hidup wajahnya juga terlihat pucat dari biasanya. Aku kembali menatap ke arah sahabatku, seakan tak percaya jika ia harus mengalami koma seperti ini.


"Kamu sendiri bagaimana kabarnya Alena?" Kini aku menatap ke arah Alena yang sedang menyiapkan sebuah teh hangat sepertinya untukku.


"Ini om Lena bikinin teh hangat untuk Om." Ia kini sudah berada di sebrangku dan menyodorkan secankir teh hangat itu.


Aku pun meraihnya "Terima kasih. Harusnya kamu tak perlu repot begini Len." Kurasa aku tak perlu disuguhkan minuman, karena aku bukan bertamu melainkan menjenguk orang sakit.


"Kamu harus tetap jaga kesehatan kamu Len , Alvian pasti tidak akan suka jika istri kecilnya ini sampai sakit karena menjaganya." Sedikit aku memberikan semangat kepadanya agar dia tetap ada untuk suaminya yang masih berjuang antara hidup dan mati di alam lain.


"Insha Allah Lena tetap sehat dan baik-baik saja Om. Lena akan menjaga dan merawat Om Andra sebaik dan semampu Lena." Kenapa sih ne perempuan masih manggil Om sama suaminya sendiri.


Apa Alvian tidak keberatan cara istrinya memanggilnya begitu, trus keluarga Vian apa tidak marah akan hal ini. Aku benar-benar heran, lagian tampang Vian bersanding dengan perempuan ini juga tak terlihat seperti seorang om dan keponakannya. Bahkan dengan Vera keponakannya Vian sendiri mereka terlihat seperti sepasang kekasih, jika orang lain tak tau mereka adalah paman kandung dan keponakan kandung.


Ingin rasanya menegur atau sekedar bertanya akan panggilan yang dia sematkan untuk suaminya ini. Tapi sutra lah rasanya itu tak terlalu penting juga bagi ku.


Aku menyeruput teh hangat buatan istri sahabatku untuk pertama kalinya. Sepertinya perempuan ini walaupun masih muda dia cukup cekatan dalam urusan begini, terlihat bagaimana dia memperlakukan tamu yang datang dengan segera menyuguhkan minuman tanpa basa basi.


"Oya Om , terima kasih waktu itu om Reza sudah menolong kami khususnya menolong Om Andra hingga mendonorkan darah Om juga untuknya. Serta ikut andil juga sebagai salah satu saksi atas insident penyerangan yang kami alami. Maaf Alena baru bisa berucap ini kepada Om Reza." Ia menunduk setelah berucap demikian, dari nada ucapannya terdengar tulus namun terasa ia seakan tak enak hati.


Mungkin karena telat berucap terima kasih padaku, tapi aku dari awal tak mempermasalahkan itu kok. Mungkin takdir juga yang selalu mengaitkan aku dan Alvian sang sahabat. Dulu sekali zaman aku masih sekolah Alvian malah jauh yang sering membantuku jika aku mengalami kesulitan atau apapun itu. Dari situ juga aku jadi dekat dan bersahabat dengannya sejak SMA hingga kini dan insha Allah seterusnya sampai menjadi sahabat hingga jannah.


"Iya, sama-sama Alena. Kamu tidak usah merasa tak enak hati begitu. Alvian itu sahabatku sejak dari awal kami satu sekolah bahkan satu kelas di Sekolah Menengah Keatas, dulu dia lah yang selalu membantuku bahkan hingga setelah kalian sudah menikah waktu itu. Jadi wajar saja aku sekarang membantunya semampuku." Beberku tentang bagaimana persahabatan kami selama ini.


Sebelumnya saat aku dan om Abraham selesai mendonorkan darah aku dan om Abraham telah menuju Kapolsek setempat untuk melaporkan insident Alvian dan Alena. Om Abraham juga dengan hati-hati mencoba bertanya kepada menantunya itu tentang apa yang mereka alami sebelumnya hingga membuat Alvian mengalami luka tembakan 2 peluru di perutnya dan satu luka akibat pisau di telapak tangan kanannya. Hingga Alvian berujung koma hingga saat ini.


Dengan berbekal keterangan singkat dari Alena aku dan om Abraham langsung saja melaporkan perihal tersebut kepada pihak yang berwajib. Aku pun di tetapkan menjadi salah satu saksi atas insident tersebut yang menimpa mereka berdua.


Tapi malangnya hingga detik ini para pelaku masih menjadi borunan walaupun sudah di ketahui identitasnya, akan tetapi dalang dari insident tersebut belum bisa di ketahui siapa dan apa motifnya juga sama belum bisa di ketahui secara jelas. Hanya saja kesimpulannya bisa jadi balas dendam.


Memang menjadi ahli hukum yang juga pengusaha/ pembisnis sekaligus lebih banyak resikonya, antara lain bisa jadi para klient atau juga para pesaing atau malah para terdakwanya. Aku berharap Alvian segera sadar dan pulih serta kasusnya ini segera terselesaikan dengan sebaik-baiknya.


Aku jadi teringat saat pertama kami bertemu di masa orentasi siswa di SMA dulu kami dimana aku yang lupa membawa kalung jengkol, hingga akhirnya aku dapat hukuman dari kakak senior/ kakak kelas ku yang merupakan panitia MOS.


Hukuman ku membersihkan wc khusus siswa laki-laki, tapi tanpa di sangka ternyata Alvian juga tidak membawa kalung jengkol yang di hari sebelumnya sudah di intruksikan untuk di buat di rumah dan di bawa hari ini dengan cara di pakai ke diri sendiri.


Jadi pada akhirnya aku dan Alvian lah yang membersihkan wc khusus wc siswa laki-laki bersama-sama, tepatnya hanya kami berdua saja. Kejadian itu sungguh konyol tapi berkesan, disana lah mulanya kami jadi sahabat.


"Oya, maaf ya Lena aku datang tak sampat membawa buah tangan. Tadi aku dari selesai meninjau proyek langsung kesini." Aku marasa kurang enak juga menjenguk orang sakit bahkan sahabatku sendiri tapi tak membawa apa-apa. Walaupun ya keadaannya koma.


Akan tetapi minimal membawa buah-buahan segar bisa di konsumsi oleh istri sahabatku ini sebagai asumpannya juga selama menjaga sang suaminya.


"Tidak papa Om, lagian Om Andra masih begini keadaannya. Yang terpenting seperti yang Om Reza katakan tadi jangan putus-putus berdo'a intinya. Itu jauh lebih baik dari buah tangan." Sungguh Lena terlihat bijak dari ucapannya kali ini.


Aku tidak tau jelas sifat dan karakter istri sahabatku ini, lagian bukan urusan ku di ranah itu. Aku berharap mereka bisa benar-benar jatuh cinta dan menjadi keluarga SAMAWA, itu saja harapanku sejak tau Alvian sudah menikahi perempuan cantik berkulit putih mulus di hadapanku saat ini.


Terlihat ia agak kurusan dari sebelumnya. Apa efek beban dari insident ini kah? Itu sudah pasti bagaimanapun.


"Oya, apakah tante dan om Abraham akan kemari sore ini atau malam ini?" Tanyaku.


"Belum tau Om." Jawabnya. Aku manggut-manggut saja.


Aku bangkit dari dudukku hendak undur diri dari sini, rasanya tak baik berlama-lama hanya aku dan Alena istri sahabatku yang ada di sini. Saat Alvian suaminya masih terbaring lemah tanpa sadar, kecuali ada keluarga Alvian ntah itu Mamanya juga atau Papanya juga di ruangan kamar ini.


"Vian gue balik dulu ya, insha Allah secepatnya gue jengguk elo lagi dan gue harap jika gue kemari lagi elo udah siuman oke. Terus berjuang ya pantang menyerah gue tau elo lelaki kuat dan no menyek-menyek. Gue balik ya, assalammualaikum." Pamitku terlebih dahulu kepada Alvian sahabatku.


"Aku pamit pulang ya Alena, kamu yang sabar ya. Salam untuk Tante Putri dan Om Abraham." Aku menatap Alena sejenak lalu melangkah menuju pintu.


"Terima kasih banyak ya Om Reza, insya Allah Lena sampaikan salamnya nanti." Tuturnya.


"Ok, sipp." Ku acungkan satu jempol kepadanya dengan senyum kecil di bibirku. Alena hanya menanggapinyanya biasa.


Aku pun akhirnya telah keluar dari kamar VVIP tersebut setelah ku tutup rapat pintunya.


🍬🍬🍬


Bersambung..


Terus ikuti ya cerita receh ini ya dan tinggalkan jejak baik jempol/like dan krisannya, terima kasih..🙏😊

__ADS_1


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰


__ADS_2