
"Dari mana kamu sama Davin?" Suara yang familiar itu sontak mengagetkanku yang ternyata pemiliknya sudah tepat berada di hadapanku.
"Astaghfirullahalazim, om ngagetin aja." Aku melihat ke wajahnya yang terlihat seperti kesal.
Apa dia kesal padaku? Kesal karena apa coba?
"Dari mana kamu sama Davin?" Ulangnya lagi masih dengan nada dingin dan mimik wajahnya yang terlihat kesal tapi agak di tahan.
"Om kok udah tau padahal kan Lena belum kasih tau?"
Telisikku, heran.
"Tadi saat saya akan masuk RS, saya melihat kamu turun dari mobilnya, di bukain pintu oleh si Davin itu." Sewotnya.
"Ah iya tuh si Om Davin aja kurang kerjaan pake bukain pintu Lena segala, padahal Lena nggak minta dan bisa buka pintunya sendiri."
"Alah alasan saja kamu Lena, terus dari mana kamu tadi hah sama dia? Ditanya apa di jawab apa kamu ini sama suami." Ketusnya lagi dan lagi dengan mata elangnya yang menatap tajam ke arahku.
"Dari sarapan di cafe tadi." Jawabku lirih.
"Kamu janjian sama Davin?"
"Nggak Om, tadi Om Davin kebetulan aja lewat saat Lena berjalan hendak beli sarapan. Eh taunya Om Davin malah ngajak aku tuk cari sarapan bareng." Ku lihat si om menghela napas dalam-dalam.
"Terus kamu mau gitu aja?" Suaranya syarat menahan rasa kesal, tapi kesal karena apa coba? Aku heran.
Masa ni lelaki datang-datang lampiasin kesalnya ke aku gitu aja, salah aku apa coba.
"Udah yukk Om kita masuk Mama pasti udah nungguin sarapannya ni, om belum sarapan kan? Ini sekalian aja sarapan ada lontong sayur." Ajakku lalu melangkah menuju kamar rawat Papa, si om pun akhirnya tanpa menolak mau mengikutiku.
"Assalammualaikum." Ucapku bersamaan dengan si om saat kami telah masuk ke kamar rawat Papa.
"Wa'alaikumsalam." Balas Mama dan Papa dengan suara lemahnya,tapi masi bisa ku dengar.
Si om pun menyalami Mama takzim kemudian Papa. "Gimana Pa kabarnya udah lebih baikkan?" Tanyanya si om pada Papa saat sudah berada tepat di sisi bed Papa terbaring.
"Alhamdulillah Nak Andra, Do'ain Papa ya Nak."
"Insha Allah pasti Pa, semoga Papa segera sembuh." Papa mengamini, seruan si om.
"Eh Pantesan kamu teh lama ya Neng ternyata bareng sang suami beli sarapannya." Ucap Mama dengan senyum manisnya. Pasti Mama ngira aku lama karena aku sedang bersama si om tadi.
Si om yang ada si sebelahku malah melirikku tajam, duh kenapa jadi begini sih. Papa baru saja selesai sarapan dan minum obat saat tadi aku dan si om baru masuk ke kamar rawat Papa.
"Ini Neng sarapannya pan?" Ucap Mama membuka isi tentengan ku tadi yang aku letakkan di atas meja sofa.
"Iya Ma."
"Naha ngan 2 atuh Neng, ini mah pan cuma cukup untuk kamu sama Mama atuh. Satu lagi mana atuh untuk suami kamu Neng?" Tutur Mama sedikit resah.
"Ah itu Mah tad__." Belum juga selesai kalimatku si om malah motong.
"Saya tadi udah sarapan di apartement Ma , jadi itu sarapan Mama sama Alena." Timpal si om lalu kembali melirikku tajam.
"Oo, ya udah atuh ayok Neng sarapan dulu. Mama duluan ya kalau gitu , soal na udah lapar ni." Ucap mama dengan kekehan kecil , lalu membuka dan menyantap sarapannya.
"Oya, Pa saya pamit dulu mau ke kantor." Ucap si om sopan lalu kembali mencium takzim punggung tangan kanan Papa.
"Oh, ya udah hati-hati di jalan ya Nak Andra." Si om merespon dengan anggukan saja.
Lalu melangkah ke arah Mama tanpa sedikit pun melihat ke arahku, kemudian mencium takzim tangan kanan Mama seraya berpamitan. "Ma saya pamit dulu mau ke kantor."
"Loh, kok buru-buru." Mama sambil mengunyah makanannya.
"Iya sebentar lagi harus ketemu klient Ma."
"Ah..Iya, ya..Hati-hati di jalan atuh kasep." Ujar Mama melirik sekilas si om dengan mulutnya yang terus mengunyah.
Kemudian si on hanya membalas dengan kata. "Iya Ma." Dengan pelan lalu melangkah ke pintu hendak keluar kamar rawat ini.
Herannnya aku lagi sampai ku antar si om depan pintu kamar rawat ini ia tak berbicara sama sekali dan tak menoleh padaku sama sekali, sejak ia tadi pamit duluan kepada Papa untuk ke kantor.
Di tambah nggak biasanya si om pergi begini tanpa berpamitan padaku dan tanpa mau ku cium tangan kanannya takzim seperti biasanya, malah cul pergi gitu aja. Udahlah malas deh aku ambil pusing, mana aku lagi pusing mikirin Papa yang sedang sakit.
Mama yang masih asik dengan sarapannya sedangkan Papa santai di bednya. Aku pun menghampiri Papa setelahnya.
"Papa gimana udah mendingan?" Tanyaku lembut.
"Alhamdulillah udah sedikit lebih baik, hanya masih lemes aja ni." Ucap Papa masih dengan suara lemahnya di campur sedikit kekehannya.
"Lain kali Papa jangan gitu lagi dong, biar Papa sehat terus kek biasanya." Ucapku sambil memijit kaki Papa pelan.
"Gimana setelah setahun menikah Nak, kamu bahagia?" Tetiba Papa bertanya seperti itu membuatku sedikit kaget.
"Kok Papa tanya begitu sih, insha Allah Lena bahagia."
"Papa harap begitu Nak."
"Maaf kan Papa jika Papa pernah menuduh mu, menikah dengan Nak Andra karena sudah hamil duluan."
"Ih Papa, Lena malah udah lupa soal itu. Papa ngapaen malah jadi inget hal itu."
"Papa sempat curiga dan berfikir jelek saat itu karena tiba-tiba ada yang melamar mu, maafkan Papa ya Nak. Papa lihat Nak Andra itu bener-bener baik dan bisa jadi pembimbing kamu dunia akherat, dia sangat bertanggung jawab dan perhatian walaupun tampaknya ia cuek dan dingin. Semoga kalian segera mendapat momongan ya sayang." Ungkap Papa panjang lebar dengan harapannya yang baik untukku dan si om.
"Papa nggak salah kok. Udah ya Pa , Papa jangan banyak fikiran oke."
__ADS_1
"Iya anak Papa sayang." Papa tersenyum di wajahnya yang masih pucat dan sudah terlihat menua walaupun tidak terlalu tua.
🍬🍬🍬
5 hari Papa sudah di rawat di RS ini dan hari ini Papa akan pulang ke rumah, karena dokter menyatakan Papa sudah membaik. Akan tetapi resep obat tetap masih di berikan dari dokter untuk Papa dan harus di minum. Papa juga harus menjaga pantangan makanan yang memang di larang bagi penderita diabetes serta yang paling utama adalah jangan banyak fikiran apalagi sampai stress.
Selama 5 hari pun aku menginap di RS ini menemani Mama yang juga kadang sesekali izin ke butik, mumpung juga aku masih libur akhir semester. Si om sejak saat itu masih saja semakin cuek dan tak mau berbicara padaku jika kami bertemu, karena si om tetep terus datang ke RS ini menjenguk Papa selama Papa ku masih di rawat disini.
Sore ini aku sedang menunggu si om yang akan menjemput ku di RS ini untuk kembali pulang ke apartement, Papa dan Mama juga masih bersiap-siap untuk pulang. Awalnya aku ingin ikut mengantar Papa ke rumah. Tapi kata Mama dan Papa aku sudah cukup lama meninggalkan suami ku untuk ikut menginap dan menjaga Papa selama Papa di rawat di RS ini.
Mereka bilang nggak baik lama-lama ninggalin suami sendirian walaupun suami mengizinkan dan ridho. Jadi mau tak mau aku nurut aja dari pada , dari pada fikirku.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." Jawab ku serentak dengan Mama dan Papa ku saat si om baru tiba dan mengucap salam setelah pintu di tutup.
Seperti biasa si om selalu menyalami takzim tangan kanan kedua orang tuaku saat mereka bertemu.
"Sudah sehatan Pa." Ujar si om.
"Alhamdulillah, Nak Andra."
"Syukurlah kalau begitu, lain kali hati-hati soal makanannya Pa plus jangan stress." Tutur si om sopan.
Bener sih kalau kata bi Ijah si om ini sopan dan ramah jika pada yang lebih tua, serta perhatian.
"Yuk sudah selesai semua tinggal pulang." Seru Mama.
"Sus kami pamit pulang ya, terima kasih banyak." Mama berpamitan kepada suster yang juga biasa ikut merawat atau mengechek Papa, yang kebetulan sedang berada di kamar rawat VIP ini.
"Sama-sama ya bu, Pak dan mbaknya. Hati-hati di jalan." Jawab sang suster ramah.
Aku dan si om mengantar Mama dan Papa ku ke parkiran khusus mobil, Mama yang akan menyetir untuk perjalanan pulang.
"Sudah semua ya Ma, masuk barang-barangnya di belakang." Terang si om.
"Terima kasih ya kasep." Ucap Mama penuh senyum.
"Mama sama Papa hati-hati di jalan ya." Peringatanku.
"Iya Eneng sayang, Eneng sama si kasep juga hati-hati ya."
Balas Mama.
Papa pun mengucap salam. "Assalamualaikum. Ya Nak kami duluan."
"Wa'alaikumsalam." Balas ku barengan dengan si om, tak lama mobil Mama pun telah hilang dari pandangan dan dari area RS ini.
Aku dan si om menaiki mobil dia mengambil alih tas berukuran cukup besar tempat aku membawa pakaian dan beberapa perlengkapanku saat aku menginap di RS menemani Papa.
Ku menghela napas mencoba membuka percakapan. "Om nanti mau Lena masakin apa buat makan malam." Ku coba dengan ide ini mungkin si om mau merespon.
Masih diam dan fokusnya ke depan mengemudi. "Om gimana? Mau dibuatin apa?" Seruku lagi bertanya.
"Eheumm..Nggak usah saya nanti ada urusan setelah maghrib di luar." Jawaban yang tak ku harapkan.
"Oo, gitu ya Om." Lirihku melirik sekilas ke si om lalu fokus lagi ke kaca depan.
Akhirnya aku diam saja dah hingga tiba juga di apartement. Aku bergegas masuk kamar setelah masuk unit apartement. Membereskan bawaanku yang dari RS lalu bergegas mandi, ku lihat si om hendak keluar dari kamar ini setelah ia membuka dan mengantung jas nya lalu mengulung kedua lengan kemejanya asal hingga siku.
Sungguh gaya si om yang asal seperti ini membuatnya semakin tampan dan menggoda, stop dengan pemikiran kamu itu Alena. "Ih kenapa sih aku makin hari kek suka muji-muji dan terpesona sama si om nyebelin ini." Pekikku dalam hati.
Udah ah mandi trus cuss siap-siap masak makan malam untukku kalau dia nggak mau dan mau pergi ya udah sono, emang gue pikirin.
___
"Si om mana sih kok belum pulang-pulang udah jam barapa ini?" Ntah mengapa malam ini aku sulit sekali tidur bahkan tidak merasa ngantuk.
Tadi setelah bada maghrib si om pamit pergi tanpa mengatakan hendak kemana dna jam berapa pulang, tidak seperti biasa ia selalu laporan hendak kemana dan pulang jam berapa jika akan pergi. Dan anehnya juga si om nggak biasanya tanpa kabar-kabari jika pulang telat atau apa-apa.
Ku lirik sekali jam dinding di seberang sana, jarum pendeknya kini sudah menunjuk ke angka 12 dan jarum panjangnya menujuk ke 11. Tapi si om belum pulang-pulang dia kemana sih, terus kok aku jadi khawatir gini dan merasa gelisah gini si om om itu belum pulang.
Biasa ya juga masa bodo, aih ntah lah. What happen with me and what happen with you? Ku putuskan turum dari ranjang dan keluar kamar. Ku langkahkan kaki gontai menuju keluar kamar.
"Astaghfirullah.." Pekikku kaget saat melihat sosok tinggi di depan ku dengan situasi di ruang ini lampu remang-remang.
"Ya Alloh Om ngagetin Lena aja sih." Aku mengatur napasku efek kaget tadi.
"Om kok baru pulang dari mana aja?" Tanyaku dengan nada kesal dan mataku melirik tajam padanya.
"Apa urusan kamu saya baru pulang atau tidak dan dari mana." Loh ini om om kok malah nyolot balik sih, kagak biasanya.
"Ya urusan Lena dong Om, kan Om itu suami Lena." Eh busyet sejak kapan aku bisa sebijak ini dalam berbicara dengan si om nyebelin ini.
"Kamu masih menganggap saya ini suami kamu." Ini maksudnya apa sih?
"Kan kenyataannya om memang suami Lena."
"Status aja kan anggapan kamu tidak lebih." Ih ngajak gelud keknya ne si om om ganteng.
"Om ini kenapa sih, makin nyebelin aja sejak beberapa bulan bangun dan sembuh dari koma?"
"Sudah jangan berisik saya mau tidur masih ngantuk." Eh si om kumat nyebelinnya , malah dia kabur ke kamar.
"Eh tunggu aku baru nyadar kalau si om pake baju piyama, berarti si om nggak kemana-mana atau tadi ia udah pulang tapi aku nggak nyadar. Terus si om tadi tidur di sofa itu ya?" Lirihku pada diri sendiri sambil tangan kiriku memegang pinggangku dan telunjukku menepuk-nepuk pelan bibirku, seraya berfikir.
__ADS_1
"Ah udah lah aku mau ke dapur ambil minum dulu." Monologku pelan lalu kakiku berjalan menuju dapur.
🍬🍬🍬
Hari berganti hari masih sama si om malah makin nyebelin, makin cuek dan dinginnya makin nggak ketulungan jauh banget dari sebelumnya. Karena biasanya secuek dan sedingin-dinginnya si om dia masih ada sisi perhatiannya dan sisi hangatnya sesekali , tapi kalau kek gini lama -lama mungkin aku bisa bosen atau benar-benar marah.
Malam ini kembali aku tak bisa tidur padahal sudah selarut ini. Kenapa liburan kali ini serasa lama banget, rasa-rasanya pengen banget cepet ngampus lagi, biar nggak tambah empet dan ngebatin gini.
Mana sekarang si om sering pulang tengah-tengah malam dalam beberapa hari ini sejak saat itu nggak biasanya, apa jangan-jangan dia selingkuh.
Tapi tunggu, bukannya bagus ya kan aku jadi bisa cerai sama dia. Toh pernikahan kami ini kesalah fahaman dan terkesan terpaksa.
Ceklek..
Ternyata orang yang di fikirkan baru tiba di apartement. Ku dengar tak lama suara kaki melangkah sepertinya si om menuju kamar mandi. Setelah ku pastikan tak ada suara aku bangkit dari baringku dan duduk di atas ranjang , mataku melirik ke jam dinding yang ada disana terlihat waktu menunjukkan pukul 01: 01 wib.
"Malam ini pulang larut lagi si om nyebelin." Monologku dalam hati.
Ceklek..
Beberapa detik munculah penampakan si om yang hanya menggunakan handuknya dari batas pinggangnya sampai lututnya, duh dadanya dan perutnya masih sedikit basah-basah itu di tambah perutnya yang six pack serta otot lengannya bikin aku jadi mikir aneh-aneh. Langsung aku memalingkan pandanganku ke arah lain.
Aku pun bangkit dudukku menuju lemari segera saja ku ambilkan pakaian tidur si om lalu, meletakkannya di atas ranjang. Saat si om akan mengambil pakaian tersebut aku pun mencoba bertanya rasanya ada yang nganjal, jika ini tidak tanyakan.
"Apa om ada WIL diluar sana?" Seketika si mengantungkan lengannya yang hendak meraih pakaiannya yang terletak di atas ranjang itu.
Wajahnya menoleh padaku dengan alisnya yang hampir salung bertautan.
"WIL ?.." Monolognya dengan kedua alisnya yang hampir bertautan tadi.
"WIL, wanita idaman lain?" Tanyaku memastikan.
Kini tangannya telah meraih pakaian itu, berjalan menuju kamar mandi dan pertanyaan ku tadi ia abaikan. Ih nyebelin banget sih.
"Om kok nggak di jawab pertanyaan Lena tadi?" Todongku langsung setelah ia keluar dari kamar mandi dengan stelah piyama lengkapnya.
"Segitu ingin taunya kah kamu?" Katanya dingin.
"Iyalah om itu kan lelaki beristri masa ada WIL, nggak boleh tau Om."
"Terus kamu itu apa nggak ada pria idaman lain di luar sana?" Apaan sih si om ini malah balik bilang gitu seakan menuduhku.
"Oo, jangan playing victim dong." Sewotku tajam.
"Bukannya kemarin kamu pergi sama Davin saat di RS, bahkan kamu nggak izin dulu sama saya. Kamu ternyata beneran suka ya sama si Davin."
"Siapa yang suka sama Om Davin sih, lagian dia kan teman Om emang salah Lena di anter sama teman Om itu?"
"Ya salah, karena kamu hanya berdua saja sama dia yang jelas bukan mahram kamu di tambah tadi kan saya udah bilang kamu nggak izin dulu sama saya." Aku baru menyadari kalau yang di lontarkan si om benar 1000% dan aku yang salah telak.
Tapi tetap aja aku nggak suka cara si om kasi tau kesalahanku. Soalnya aku mikirnya kan Om Davin itu temannya si Om, jadi fikirku si om nggak akan marah kalaupun aku kelupaan izin.
"Tapi om kan harusnya bisa kasi tau dengan jelas sebelumnya jangan main diem-diemin Lena kek gini, apalagi pake beberapa hari ini om pulang selalu tengah malam begini. Jangan-jangan memang bener om punya wanita idaman lain diluar sana." Hardikku dengan mata menantang karena udah terlanjur kesal.
Siapa suruh dia bersikap lebih dingin dan cuek dari biasanya di tambah sering pulang larut malam begini.
"Kenapa kamu bisa menyimpulkan kalau saya memiliki wanita idaman lain heumm?" Matanya menatap tajam ke arah ku sambil dagunya bergerak mengarah juga ke arahku.
"Habis om sekarang sering banget pulang larut malam begini, bisa jadi om lagi selingkuh sama wanita idaman lain om ya kan?"
Seketika si om melangkah ke arahku secara perlahan, lalu berhenti dan ia menatap ku tajam sambil berkata. "Kamu dengar ya Alena saya tidak ada WIL ..WIL yang kamu maksud itu nggak ada sama sekali. Kalau saya memiliki wanita idaman lain buat apa saya mau menikahi kamu heumm."
"Bener juga sih apa yang si om nyebelin ini katakan, paen juga ia menikahi ku kalau ia memiliki WIL." Monologku dalam hati.
"Terus kenapa Om sekarang sering pulang larut malam bahkan tanpa mengabari Lena, itu apa maksudnya coba?" Selidikku penuh penekanan dan tatapan tajam ke arahnya.
"Kamu apa nggak nyadar kalau saya sedang marah sama kamu Alena?"
Aku mengeleng kuat seraya berkata "Marah karena apa?"
Si om menghela napas gusar dia memalingkan tatapan dan wajahnya ke arah lain , ia pun kembali menghela napas gusar lalu melangkah kembali ke arahku dengan satu langkah saja.
"Kan tadi sudah saja perjelas kenapa saya marah sama kamu." Aku pun langsung berfikir dan teringat jelas apa penyebab si om marah , tapi masa ampe segitunya sih ne om om marahnya.
"Sebenarnya om marah karena Lena pergi tanpa izin atau karena Lena pergi sama Om Davin."
"Keduanya." Jawabnya cepat.
"Saya harap kamu jangan dekat-dekat lagi dengan si Davin itu, kalau kamu ketemu dia tanpa sengaja jauhi. Kamu faham Lena." Tegasnya pada akhirnya dengan mata elangnya yang menatap tajam padaku.
"Emang kenapa kalau Lena dekat sama Om Davin?" Si om menghela nafas gusar.
"Apa om sedang cemburu sama Lena?" Telisikku penasaran dengan mataku menelisik ke matanya, mencoba mencari tau apakah tebakkan ku barusan benar atau salah.
Seketika si om memalingkan pandangannya dari ku, menguyar rambutnya ke belakang dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya meraih pinggangnya. Ekspresinya seakan kebingungan bahkan seakan salah tingkah seperti tercyduk.
"Sudah lah tidak usah di bahas lagi, intinya kamu harus tau batasan Lena apalagi kamu perempuan yang sudah menikah. Saya juga berharap kamu jangan dekat-dekat dengan Davin, ingat itu." Tegas si om lagi pada akhirnya.
Lalu si om berbalik untuk melangkah ke arah pintu kamar dan keluar dari kamar ini. Aku hanya bisa termanggu mendengar kalimat terakhir si om, sebenarnya ada apa dengan Om Davin? Kok si Om keknya sensi banget sama si Om Davin? Apa ini perasaanku aja ya?
Aku jadi membatin menerka-nerkanya.
🍬🍬🍬
Bersambung...
__ADS_1
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰