
POV ANDRA.
"Jika kau ingin saya makan siang dengan mu maka pergilah duluan ke restoran yang sudah kita tentukan tadi, nanti saya akan menyusul." Seruku pada Niken.
"Kenapa begitu?" Tatapnya padaku terlihat tidak senang. "Aku tidak mau pergi sendiri aku ingin kita pergi bersama ke restoran. Aku khawatir kau akan mangkir dari janjimu untuk benar-benar makan siang bersama ku hari ini." Serunya merasa tidak yakin.
"Saya bukan lelaki yang suka ingkar janji Niken." Sejenak ia terlihat seperti berfikir. "Terus aku duluan sampai disana, lalu bagaimana aku menghubungimu untuk mengabarinya." Ia berucap dengan wajah sendu.
"Ya kau tinggal hubungi saja kontakku." Aneh begitu saja kenapa harus di bikin susah fikirku.
"Tapi aku tidak tau nomor kontak mu yang baru Vian, karena sejak kau memblockir nomor kontakku kala itu aku tidak tau lagi nomormu. Teman-teman kita yang aku tau nomor kontaknya dan ku tanyai pun tidak ada yang mau memberikan nomor kontak mu pada ku, dengan alasan yang sama yaitu kau yang tak mengizinkannya. Di tambah tak lama dari itu iphoneku hilang berserta cardnya , terjatuh ntah dimana . Hingga aku sudah tidak tau lagi nomor-nomor kontak kalian, dan aku di sibukakan dengan karirku kala itu hingga sekarang lah baru aku bisa kembali ke sini." Menyebalkan sekali perempuan ini aku tidak butuh cerita atau penjelasannya yang panjang lebar tersebut.
Alih-alih ingin segera lepas dari Niken ia malah semakin banyak bicara dan membuat waktu seakan lebih lama diantara kami, itu bahkan sebelum kami benar-benar makan siang bersama.
Bagaimana lagi jika nanti kami sudah berada di restoran dan makan siang bersama, mungkin Niken akan lebih banyak bicara lagi kah melebehi ini. Hingga waktunya pun jelas bisa membuat kami akan bersama lebih banyak.? Argh..., menyusahkan sekali perempuan ini.
"Pergilah duluan nanti saya akan menghubungi mu , jika saya sudah dalam perjalanan menuju restoran." Seruku padanya.
"Sungguh kau tak'kan membohongiku kan Vian?" Kenapa sekarang matanya terkesan begitu penuh harap dan cinta padaku.
"Heumm." Jawabku singkat hanya dengan deheuman sudah cukup.
"Tapi tunggu, apa kau sudah tau nomor kontakku yang baru?" Aku menghela napas sejenak, mencoba mencari udara dari sana.
Hingga dengan sangat terpaksa aku keluarkan iphone dari saku jasku , membuka menu kontak. Lalu menyodorkan benda pipih itu kepada Niken agar ia mengetikkan nomor kontaknya yang baru di dalam layar itu.
"Kalau begitu aku duluan kesana dan akan menunggu mu disana. Jangan membohongiku ya Vian." Ucapnya penuh senyuman, tapi nadanya penuh intonasi memohon.
Walaupun aku benar-benar tidak suka pada Niken, tapi aku bukan lelaki pengecut yang suka ingkar janji, dan meskipun aku menerima ajakkannya hari ini untuk makan siang bersama. Bukan berarti aku memberinya harapan, melainkan hanya ingin menegaskan kembali bahwa dari dulu hingga kini dan seterusnya kami hanya teman biasa dan tidak akan ada ikatan lain selain dan sebatas teman masa SMA dulu.
____
Back To Alena.
Suara mulai terdengar rame karena kelas kami baru saya di tinggalkan sang dosen, perkuliahan ku hari ini telah selesai tepat di pukul setengah 12 tadi.
"Len gimana udah izin sama your husband belum?" Vera mulai bertanya.
"Ntar ya ne gue baru mau ngechat si om suami." Jawabku dan tangan ku mulai merogoh ke dalam, hendak mengambil gawaiku di dalam tas sling bag ku.
__ADS_1
Langsung kedua ibu jariku meluncur diatas layar berukuran 7 inci itu , mengetik beberapa kata yang akan tersusun menjadi sebuah kalimat yang akhirnya.
[ "Assalamualaikum. Mas , Lena mau izin siang ini pergi menemani Vera ke Gramedia. Apakah boleh?" ].
Ku kirim kalimat permohonan izin itu kepada si om suami, tapi masih centang 1 berwarna abu-abu. Itu pertanda pesan ku belum di buka dan juga belum terbaca olehnya, lewat aplikasi berlogo hijau itu.
Oke mungkin aku harus menunggu barang beberapa menit untuk bisa mendapat balasanya. Jika memang nanti sudah terkirim , lalu terbuka hingga akhirnya terbaca.
"Gimana Len?" Tanya si Vera seperti tidak sabaran.
"Ini lihat udah gue kirim, tapi masih centang satu abu-abu." Terangku sambil menujukkan layar pipih milikku kepada Vera.
"Ya udah di tunggu aja bentaran lagi." Ujar Vera acuh.
Sampai 10 menit tetap belum ada balasan dan aku chek masih centang 1 berwarna abu-abu. Apa si om suami lagi sibuk sampai nggak pegang iphonenya atau juga lupa mengisi daya baterainya.
____
POV ANDRA.
Seorang wanita cantik dengan tinggi badan semanpai telah turun dari sedan mewahnya yang berwarna merah, setelah mobil sedannya terparkir dengan sempurna di area parkiran dari sebuah restoran disana.
Dengan mengenakan dress ketat dan panjangnya jauh di atas lutut, dress ketat itu berwarna serba hitam dengan lengan panjang dan bagian atasnya terbuka hingga menampakkan pundaknya yang mulus serta dadanya yang juga menonjolkan tulang selangkanya yang memang indah dan sexy.
Kini wanita cantik itu sudah duduk di restoran yang sedikit agak ujung. Ia sedang menunggu seseorang disini, menunggu orang yang selama ini ia harapkan. Ada sedikit rasa senang dihatinya hati ini karena seseorang itu mau ia ajak makan siang pertama untuk mereka bersama. Ia seakan semakin semangat, karena pasti selanjutmya bisa saja lebih dari sekedar makan malam bersama. Asalkan ia lebih berusaha lagi dalam mengejar seseorang itu, yang sebenarnya ia salah.
"Ting."
[ "Assalam'mualaikum. Insha Allah saya sebentar lagi sampai dan saya sedang otw kesana. Apa kamu sudah sampai di restoran Niken?" ____Liandra ]
Senyum merekah terbit di bibir ranum wanita cantik itu setelah ia menerima dan membaca pesan dari seseorang yang selalu ia harapkan dan tunggu saat ini.
Kini jempolnya gencar berseluncur di atas layar iphonenya mengetikan kata-kata balasan untuk seseorang yang baru saja mengiriminya pesan.
[ Wa'alaikumsalam. Aku baru saja sampai di restoran, berhati-hatilah di jalan. Aku akan menunggu sampai kau datang Vian. ❤ ]
Dengan segera ia mengirimkan pesan itu dan tanpa rasa malu membubuhkan emoticon love di akhir pesan yang ia kirim sebagai balasan. Tidak ada balasan ia pun akhirnya memesan orange jus terlebih dahulu untuk menemaninya menunggu Andra di mejanya sendiri.
Kurang lebih sekitar 15 menitan ia menunggu sambil menyeruput orange jusnya, lalu padangannya menunduk ke arah iphone bobanya yang ia mainkan.
__ADS_1
"Eheumm." Deheuman yang baru saja masuk ke gendang telinganya, membuat ia refleks mengangkat kepalanya mengarah ke sumber suara.
Saat Niken mengangkat kepalanya dan langsung menemukan asal suara deheuman itu adalah aku, yang sudah berada di depan mejanya ia pun tersenyum sumringah.
Akan tetapi saat matanya kemudian melirik ke sisi kananku senyumnya menghilang , berganti mimik biasa tapi juga terlihat seperti heran dan penasaran. Matanya kini memindai perempuan yang berdiri tepat di sebelah kananku.
Aku menarik kursi di depan ku dan menyuruh seseorang yang berdiri tepat di sisi kananku untuk duduk disana. "Duduk lah." Seruku sambil memegang kedua ujung sisi dari kepala kursi, kepada perempuan yang ada di sisi kananku tadi dengan senyuman.
Ia pun langsung menjatuhkan bokongnya untuk duduk, tanpa berucap. Kemudian aku menarik kursi di depanku lalu mendudukan bokongku di sana , tepat aku duduk di sebelah kursi yang perempuan tadi duduki.
"Ini siapa Vian?" Mata Niken melirik ke perempuan yang ada di sebelahku.
Sepertinya ia sudah tidak sabar ingin tau siapa perempuan yang aku bawa ini.
"Perkenalkan ini Alena istri saya." Tegasku.
Seketika kedua bola mata Niken terbelalak sepertinya ia kaget sekali atas penuturanku barusan.
"Sayang kenalkan ini Niken teman SMA saya dulu." Kini aku memberitahukan siapa wanita yang di hadapanku ini kepada istri ku tercinta.
Alena langsung mengulurkan tangan kanannya kehadapan Niken dan aku lihat Niken membalas menyambut dan menjabat tangan kanan Alena.
"Alena."
"Niken."
Seru mereka bergantian, akan tetapi Niken tanpa senyum sedangkan Alena dengan seutas senyuman ramahnya.
"Sudah pesan makanan Ken?" Tanyaku melihat ke arahnya yang lebih tepat duduk di seberang meja , dan berada tepat dihadapan Alena duduk.
"Belum." Jawab Niken dengan wajah mendungnya.
"Oke mari kita pesan makan siang bersama kita hari ini." Seruku, yang rasanya membuat Niken jengkel.
Inilah syarat yang tadi aku maksudkan secara tidak langsung, dan bodohnya wanita di depanku ini malah tidak menanyakan syaratnya. Hanya mengiyakan saja bahwa ia bersedia dengan syaratnya. Mungkin pikiran Niken ia akan makan siang berdua saja denganku , sambil masih berusaha mencari dan mengambil perhatianku untuknya.
Sayangnya aku tidak sebodoh itu, aku sudah cukup faham dan memahami situasi seperti ini. Niken-Niken kenapa kamu jadi semakin aneh seperti ini fikirku lagi, tapi intinya inilah yang mau aku tegaskan secara nyata kepada Niken. Bahwa aku benar-benar sudah menikah dan inilah istriku.
🍬🍬🍬
__ADS_1
**Bersambung...
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🤗**