
POV ANDRA.
"Apa maksud kamu berkata tidak bisa jadi istri saya lagi, Alena?" Tanya si om suami dengan penuh selidik tatapannya terlihat semakin sendu.
Alena menarik kedua tangannya dari genggamanku, dan ntah kenapa dia kembali memanggil ku dengan sebutan om.
"Maksudnya adalah kita berpisah om."
Deggg..
Lagi-lagi hatiku seperti di hantam batu besar bahkan kali ini lebih keras dan berkali-kali hingga sakitnya kini begitu terasa sekali.
"Kamu tidak serius kan Alena? Dengan maksud mu tadi?"
"Lena serius om." Ucapnya penuh yakin , tatapannya masih terlihat tajam walaupun ada kesenduan dalam tatapan itu.
"Apa kamu tidak bisa memberikan saya kesempatan sekali ini saja Alena? Kamu bahkan tidak tau apa yang waktu itu saya alami dan yang sebenarnya terjadi hingga saya seperti itu."
Alena tertawa miris. "Emang apa yang om alami, udah sana pergi om. Lena nggak mau lihat om lagi dan Lena nggak mau bersama om lagi. Lena takut bahkan benci sama om." Kini wajahnya terlihat seperti katakutan bercampur benci dan air matanya pun lolos keluar dari tempatnya.
Apa aku sebegitu menakutkannya dan sebegitu membuatnya trauma, hingga ia tidak sudi lagi melihat dan membiarkan ku membersamainya lagi.
"Dengan kita berpisah itu bukan solusi sayang, ayok kita ke psikolog berkonsultasi bahkan berobat jika perlu. Agar kamu tidak merasa takut ataupun trauma lagi kepada saya. Dan saya janji itu tidak akan terjadi lagi."
"Tinggalin Lena om, pergi dari sini. Lena nggak mau lihat wajah om lagi Lena nggak mau." Dia berucap serius dengan lelehan air mata di wajahnya.
Aku mencoba mendekapnya tapi dia malah berkata. "Jangan sentuh Alena Om, pergi dari hadapan Lena sekarang Om. PERGI!!." Serunya lirih tapi syarat penekanan di setiap katanya.
"Oke saya akan membiarkan kamu tenang dulu, saya akan keluar dulu dari kamar ini. Tapi saya tidak akan pergi dari hidup kamu Alena, karena saya mencintai kamu setulus hati saya. Sungguh saya khilaf kala itu, percayalah pada saya Lena. Saya benar-benar khilaf malam itu."
Setelah aku mengucapkan kalimat barusan yang cukup panjang itu, aku pun melangkah keluar kamar rawat ini dengan langkah gontai dan perasaan tidak karuan.
Aku langsung menelpon Mama mertua agar segera datang dan menemani Alena, lalu aku pun beranjak pergi ke kantor saja menyibukkan diri dan mencoba mengechek kasus apa saja yang baru masuk ke kantor law firm ku.
Karena selama 2 hari ini aku tidak ada ke kantor law firm milikku, aku lebih banyak di apartement dan sesekali ke RS melihat Alena. Selama 2 hari itu juga semua yang aku urus ku serahkan ke beberapa advokat dan pengacara lain yang sudah senior dan bekerja di kantor Law Firm yang aku dirikan dan jalankan bersama.
🍬🍬🍬
Back To Alena.
Tokk..
Tokk..
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." Seru ku dan Mama membalas salam mereka.
Senyumku sumringah ketika melihat teman-teman ku datang menjengukku dari mereka juag terdapat Vera yang kembali menjengukku. Mereka masing-masing menyalami Mama dengan takzim.
"Ini Tan kami bawakan sedikit parcel buah-buahan sama browmies Amanda tuk Alena sama Tante juga hehe." Seru Siska menyerahkan parcel buah-buahan tersebut di lanjut juga Wina yang menyerahkan bungkusan putih ke Mama.
"Duh kok repot-repot bawa buah tangan segala, terima kasih ya." Ucap Mama ku.
"Nggak repot lah Tan, masa jenguk teman sakit tidak bawa apa-apa." Kekeh Siska.
"Alena gimana udah baikan kah?" Kini Handy dan Suswantu yang bertanya padaku.
"Alhamdulillah udah mendingan. Terima kasih ya kalian udah pada mau datang menjenguk gue." Ujarku.
"Maaf ya say kami baru bisa datang hari ini menjenguk elo Len." Timpal Santi dan Nita.
"Nggak apa-apa , kalian pasti sibuk juga dong." Aku menyahut lagi dengan senyuman terbaikku.
Jujur aku kangen mereka setidaknya dengan kehadiran mereka kesedihanku dan kesakitan hatiku karena ulah si om nyebelin itu, tak terlalu teringat di benakku dan tak terlalu terasa di hatiku.
Kata Vera , saat ia membuat surat izin ku tidak masuk kampus dengan alasan aku di rawat di RS karena mengalami demam tinggi. Lagian nggak mungkin dan malu juga jika harus mengatakan yang sebenarnya. Kalau aku di rawat di RS ini hanya karena ulah si om nyebelin itu yang memborbardir diriku tanpa henti sampai aku kelelahan dan pendarahan. Hal itu pasti akan jadi gosip heboh bila itu yang mereka tau.
"Oya Len kenapa bisa demam tinggi sampai di rawat begini?" Aku saling pandang dengan Vera, setelah mendengar pertanyaan Danu.
"Ah ya bisa dong Dan kalau kita udah demam tinggi kan memang harus di rawat di RS, mungkin gue juga karena sibuk dan mikirin skripsi nih sampai demam tinggi begini waktu itu." Sebisa mungkin aku bicara dengan tenang agar tak terlihat seperti berbohong, walaupun aku memang tak pintar berbohong. Karena aku memang tidak suka berbohong.
"Ih elo Danu kek gitu aja mesti di tanya." Sahut Siska.
"Oya, Neng Mama ke depan dulu ya." Izin Mama.
"Ah, iya Mah."
"Tante tinggal dulu atuh ya." Seru Mama pada teman-teman ku.
"Ah iya Tante." Seru mereka.
"Eh Len lakik lo yang super duper guateng itu mana? Kok nggak kelihatan sih batang hidungnya yang mancung itu hehe." Siska mulai bertanya.
"Eh iya bener tadi gue mau nanya itu juga." Santi menimpali.
"Biasa loh dia lagi ada tugas ke kantor kejaksaan pagi ini, tau lah kalau udah seperti itu mana bisa di pending apalagi di cancel." Terangku apa adanya, aku tidak sepenuhnya bohong. Hanya yang bohong atau lebih tepatnya tak begitu tau apakah iya si om nyebelin itu hari ini ada kunjungan dinas/tugas ke kantor kejaksaan atau tidak.
Siska dan lainnya hanya ber O ria mengangapinya.
__ADS_1
"Len gue idupkan tvnya boleh ya." Suswanto berujar.
"Ih dasar lu Wanto bisa-bisanya lagu jengung temen malah sibuk mau nonton TV , emang di rumah lo kagak ada tv apa?" Sewot si Siska , dia memang asal blak-blakan aja kadang 11 12 sama Vera dikit sih hehe.
Di saat yang lain sibuk di sofa sebrang sana sambil nonton tv dan bercengkrama, Reno duduk di sebelah bed ku yabg menghadap ke arah ku.
"Mau buah Len, biar gue kupasin." Ujar bertanya dan menawari ku dengan lembut.
"Boleh Ren." Sahutku.
"Buah pir mau." Aku mengangguk pelan.
"Bentar ya gue cuci dulu baru gue kupasin." Reno pun berdiri hendak ke kamar mandi dengan membawa satu buah pir dari parcel buah-buahan yang mereka bawa tadi.
Reno pun kini telah kembali duduk di kursi yang tadi ia duduki menghadap ke arahku kembali, ia mengupas dan memotong buah pir itu.
"Sini biar gue aja yang suapin ya Len." Tanpa banyak berfikir aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
Reno pun menyuapi potongan buah pir itu dengan telaten.
"Lo tau nggak Len, buah pir ini mengandung serat yang tinggi dan mengandung banyak vitamin. Seperti vitamin C, vitamin B2, vitamin B3, vitamin B6 dan juga vitamin K. Makanya tadi gue pas nawarin buahnya langsung pilih ke buah pir ini." Tutur Reno lembut.
"Oya, gitu ya Ren. Pinter banget lo hehe.." Seruku dengan sedikit kekehan.
"Baru tau lo Len kalau gue pinter hehe.." Sahut Reno dengan kekehan, ia masih terus menyuapi potongan buah pir itu hingga semua tandas 1 buah pir.
"Mau lagi?" Tanya setelah 1 buah pir itu habis terlahap oleh ku dengan bantuan Reno.
"Udah ah cukup nanti lagi." Ujarku.
"Oke." Reno meletakkan piring kosong itu ke atas meja nakas sebelah bedku.
"Terima kasih ya Ren." Ucapku.
"Sipp, so mau makan buah yang lain atau brownisnya kagak? Biar gue kupasin atau ambilin." Reno mencoba menawarin lagi.
"Boleh deh brownisnya pengen gue coba sekalian hehe." Ucapku pada akhirnya, karena masih ingun ngunyah juga ne mulut.
Reno pun beralih mengambil beberapa potong brownis ke atas piring kecil berwarna putih itu.
"Gue suapin lagi boleh?" Kembali aku mengangguk.
Reno pun kembali memnyuapin ku dengan perlahan bolu brownis itu ke dalam mulutku.
"Ya elah Ren elo paen pake nyuapin si Alena , ntar kalau lakiknya tau elo mau di tuduh sebagai pengoda bini orang." Tiba-tiba Handy berujar demikian.
"Ih nyatai aja kali kita kan semua temen dan kita kan ramai disini bukan cuma gue sama Reno aja, Reno kan niatnya baik ingin nyuapin gue yang lagi sakit yakan Ren?" Timpalku karena aku pun memang berfikir begitu, Reno ini kan juga temen aku sama seperti yang lain.
"Elo Han asal nyocos aja, gue kan cuma bantu Alena aja. Biasa kan orang sakit itu disuapin makannya hehe." Sahut Reno kembali dengan kekehan ringan.
Handi diam tak menyahut lagi.
"Oya Mr. Andra kapan balik RS lagi jagain elo Len?" Reno kembali bersua.
Aku terdiam tak langsung menjawab karena pertanyaannya seakan sulit ku jawab, ya soalnya kan aku udah ngusir tu si om suami nyebelin itu. Biar aku tak melihatnya karena rasa sakitku ini semua.
"Ya seperti biasa orang pulang kerja lah begitu kurang lebih." Jawabku tak yakin dan ini aku marasa berbohong.
Yach kenapa hari ini aku jadi seperti banyak berbohong sama mereka.
"Oo." Beonya Reno ber O ria.
Tak terasa sudah mau malam, mereka pun izin pulang. Tadi mereka datang sore setelah pulang ngampus langsung kemari, dan Mama pun sudah kembali ke kamar rawat ku sebelum mereka hendak izin pulang. Kini kembali sunyi hanya ada aku dan Mama.
"Mah..?"
"Iya kenapa Neng?" Seru Mama tanpa melihatku ia masih sibuk dengan menyusun beberapa yang berseralan di meja depan sofa sana.
"Lena ingin pisah dengan Mas Andra Mah." Mama terdiam sejenak saat setelah aku mengucap demikian, menoleh ke arahku.
Kini Mama melangkah menuju bedku dan berdiri tepat di hadapanku.
"Mama teh nggak salah dengar atauwa kamu Neng yang nggak salah ngomong?" Dahi Mama berkerut dengan mata memandang lekat mataku.
Aku mengeleng dan berkata. "Mama nggak salah dengar kok." Jawabku seakan yakin.
Mama menarik kursi yang ada di sebelah bedku dan mendudukan bokongnya disana, duduk manis menghadap ke arah ku.
"Apa kamu teh udah memikirkannya matang-matang Neng? Kamu teh ulah gegabah gitu Neng, apa kamu teh belum mendengar cerita dan penjelasan selengkapnya dan sebenarnya dari si kasep suami mu Neng?"
"Cerita apa lagi dan penjelasan apa lagi sih Mah?" Nada du sewot saat ini.
"Kamu teh jangan egois atuh Neng, beri Nak Andra untuk menjelaskan yang sebenarnya dan selengkapnya. Andra itu teh sebenarnya lalaki bager loh." Mama terdiam sejenak menatapku lekat.
"Nak Andra udah menjelaskan dan menceritakan semuanya sama kami Neng, begitu juga mertua kamu. Mamah teh tau kamu sedang terluka tapi kamu harus tau juga kalau si kasep suami mu itu juga terluka bahkan rasa Mama dia teh jauh lebih terluka. Dia teh sebenarnya nggak salah hanya harus kena salah, setelah Mama mendengar semua cerita yang sesungguhnya dan setelah Mama fikir-fikir ya begitu. Maafkan dia Neng, coba kalian bicara lagi kamu jauhkan rasa sakit dna takut kamu coba kamu inget setiap kebaikannya selama ini." Tutur Mama dengan panjangnya.
"Mama nggak tau gimana rasanya takut dan trauma Mah." Sentakku kesal.
"Mama cukup tau Neng walaupun Mama tidak mengalaminya langsung, tapi kamu dengarkan dulu si kasep menjelasakan fakta sebenarnya. Bahkan dia mati-matian agar ia tidak berzina dengan yang memang tidak sah untuknya." Dahi ku berkerut mendengar kalimat terakhir yang Mama ucapkan.
__ADS_1
"Maksud Mama apa sih Mah?" Aku bingung.
"Makanya kamu kasih kesempatan Andra teh menjelaskan lebih detail yang sebenarnya. Ya Neng bicaralah baik-baik dengan suami kamu, biar tidak ada penyesalan di kemudian hari. Ingat rasa Mama teh Nak Andra itu bari kali ini bikin salah walaupun terbilang fatal, tapi itu bukan kemauannya. Itu semua kecelakaan dan musibah Neng yang di kuar kendali suami kamu Neng." Mama kenapa sekarang ini jadi seperti membela si om nyebelin itu sih.
"Udah lah Mah lihat ntar aja." Aku memalingkan wajahku ke arah lain malas kembali membahas si om nyebelin.
"Ya sudah sekarang makan dulu atuh makan malam na, omeh segera minum ubar na."
Aku pun dengan malas dan kesal hendak menyantap makan malamku yang beberap menit lalu datang.
🍬🍬🍬
Aku baru saja selesai mandi dan sudah berpakaian lengkap dan sedang bersiap-siap dibantu Mama yang mengepak-ngepak barang-barang kami. Karena hari ini adalah hari aku sudah di perbolehkan, tapi masih di kasih resep dari dokter.
Tokk..
Tokk..
Ceklek..
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." Seru Mama di iringi aku.
Aku yang sedang duduk di single kursi menoleh terlihat di ambang pintu sana ada lelaki tampan yang bergelar suamiku berdiri, manatap ke arahku dengan senyuman terbaiknya. Dengan kemeja berwarna abu-abu yang di padu dengan jas/ blazer cowok berwarna hampir senada diluarnya serta celana bahan berwarna senada dengan jasnya. Tak lupa sepatu fantofel hitamnya yang selalu mengkilap di tambah tatanan rambutnya yang rapih dan selalu sesuai di wajahnya.
Walaupun penampilannya sering seperti itu, tapi tak ku pungkiri semua itu sebenarnya membuat ia tetap tampan dan mempesona. Apalagi fostur tubuhnya yang tinggi dan atletis serta wajahnya yang terpahat sempurna.
Si om nyebelin pun melangkah dan menyalami takzim Mama. "Oya Mama keluar bentar ya mungkin Papa sudah datang." Mama malah nyelonong pergi setelah berucap izin.
"Udah siap untuk kita pulang hari ini, sayang?" Tanya si om suami dengan nada lembut dan tatapan lembutnya juga dari kedua mata elangnya itu setelah berada di hadapanku yang sedang menyisir rambut.
Kini tangannya terangkat ternyata ia ingin mengambil alih sisir yang ada di tangan kananku."Sini biar saya bantu sisir dan ikat rambutnya ya sayang." Aku menepis lengannya.
Tapi ia kembali berusaha meraih sisir yang ada di tangan kananku dan ikat rambut yang ada di tangan kiriku.
"Om udah sini Lena bisa sendiri." Sentakku.
Si om suami tanpa menjawab melangkah ke belakangku ia tetap keukeuh menyisir dan mengikat rambutku. Dengan lembut dan tanpa kaku ia menyisir dan mengikat rambutku jadi satu, aku yang di perlakukan seperti itu hanya pasrah. Habis aku berontak pun malah tidak bisa.
"Mana-mana lagi barang yang akan di bawa biar saya bantu menyusunnya?" Tanyanya dan tawarnya, matanya melirik mencari apa yang mungkin bisa ia bantu.
"Udah nggak usah, udah sama Mama semua di susun tadi tinggal bawa aja." Si om suami hanya ber O ria sambil manggut-manggut.
"Lena mau pulang tempat Mama Papa saja." Ucapku dengan nada tak bersahabat dan tatapan tajam ke arahnya.
"Ya sudah mungkin kamu lagi ingin menginap di rumah Mama dan Papa beberapa hari, saya akan izinkan." Sepertinya si om suami pasrah saja atas kemauanku kali ini, walaupun terlihat di matanya ia seperti tidak terima.
Kini aku sedang di kursi roda hendak menuju keluar RS dan masuk ke dalam mobil Mama. Si om suami yang mendorong kursi roda ku hingga sampai ke lobi RS, aku memang masih sedikit lemas makanya juga aku keluar pakai kursi roda.
Sampai di lobi RS si om suami yang menawarkan diri untuk mengambil mobil Mama di parakiran, Papa ku karena hari ini ada meeting di kantor makanya tidak bisa ikut jemput aku pulang dari RS.
Si om suami pun telah berada tepat di depan pintu RS dengan mobil Mama yang ia bawa , ia turun dari mobil membawa barang-barang ku dan Mama masuk ke dalam mobil Mama. Mamapun mendorong maju kursi roda yang aku duduki menuju mobil, setelah aku sampai dan berhenti di depan mobil dengan sigap dan tanpa aba-aba si om suami mengendongku ala bridal hendak memasukan dan mendudukanku di sebelah kursi kemudi Mama.
Nah aku yang tak siap di perlakukan seperti itu hanya bisa pasrah dan sadar atau tanpa sadar refleks sebelah tanganku bertumpu di tengkuk dan bahunya melingkar si om suami, dengan wajah dan tatapanku menuju ke wajahnya yang fokusnya sedang ke arah pintu mobil tanpa melihat ke arahku.
Aku masih marah, kesal dan juga benci serta sakit hati. Tapu kenapa jantungku berdebar kuat. Duh apakah ia menyadari detak jantungku yang berdebar kenjang ini, secara kami sedekat ini.
Ia mendudukanku dengan hati-hati lalu memasangkan seat beltku dengan hati-hati juga. Sebelum si om hendak menutup pintunya Mama berucap.
"Nak Andra ayok sekalian ikut aja antar Alena atau juga sekalian aja nginap bareng Alena di rumah barang beberapa hari." Ih Mama mama apa-apain orang sengaja mau ngunsi dulu minimal ke rumah Mama Papa , ini malah si Mama pake ngajak si om nyebelin ikut antar dan nginep bareng segala.
Si om yang masih membungkukkan sebagian badannya itu hanya berucap.
"Terima kasih Ma sepertinya saya tidak bisa ikut antar Alena, soalnya saya masih harus ke kapolsek sekarang serta temu klient setelahnya."
"Oo, ya sudah terima kasih semuanya dan hati-hati di jalan ya Nak Nadra."
"Iya Mah sama-sama. Saya titip Alena dulu ya Mah maaf kalau repotin."
"Iya, Nak Andra nggak gerepotin kok. Kamu masih sungkan aja sama kami, kita kan keluarga. Ya sudah kami jalan dulu ya Nak Andra. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Balas si om suami lalu menutup pintu mobil yang tepat di sebelahku dengan perlahan.
Si om suami melirikku sekilas dengan tatapab sendunya sebelum tadi ia menutup pintu mobil ini. Sedangkan aku terus fokus menatap ke depan kaca dari sejak si om suami berbicara pada Mama.
Kini mobil Mama sudah melaju meninggalkan area RS dan menuju ke rumah yang jaraknya sebenarnya cukup jauh dari RS ini, karena beda arah.
Untung saja ajakan si Mama tadi di elak oleh si om suami ntah itu alasannya saja atau beneran ia akan ke kapolsek dan temu klient hanya ia dan Tuhan yang tau kebenarannya. Tapi setidaknya ia cukup tau diri kalau aku sedang dan masih marah serta tak mau di usik olehnya, termasuk melihat ia berlama-lama di dekatkku.
Mana tau ada yang belum tau arti bahasa sunda ini 👇
Bager \= Baik
Lalaki \= Lelaki
🍬🍬🍬
Bersambung...
__ADS_1
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰