
"Besok malam temani saya kondangan ya Alena."
"Kondangan apa om?"
"Resepsi pernikahan." Serunya cepat.
"Oo." Aku hanya merespon dengan ber O ria sambil manggut-manggut .
Aku yang sedang asyik dengan buku novel bacaan favoriteku duduk bersandar di atas ranjang. Sedangkan si om baru saja masuk ke kamar kami.
"Om." panggil ku.
"Heumm." Jawabnya tanpa menoleh ke arah ku.
"Emang Lena harus ya besok malam temani om kondangan?" Jujur sebenarnya aku paling malas pergi kondangan kadang aku sering nolak lagi dulu kalau di ajak Mama dan Papa ku kondangan, apalagi di ajak temen.
Walaupun ya tetep aja nggak bisa nggak datang kalau kondangan teman atau saudara, paling sesekali nggak ikut kalau kondangan temen Papa atau Mama.
"Kamu kan istri saya masa saya pergi kondangan sendiri." Jawabnya dengan bersandar di kepala ranjang tepat di sebelah ku.
"Kan ada juga kadang pasutri kondangan pergi sendiri nggak selalu harus kondangan bareng pasangannya." Ujarku.
"Ya sudah terserah kamu saja." Ucap si om dingin lalu ia merebahkan tubuhnya membelakangiku.
Memang beginilah keseringan posisi kami tidur saling membelakangi/memunggunggi atau di sekat dengan satu buah bantal guling, sebagai pembatas dan hal itu aku yang buat sendiri. Hal ini terjadi sejak kami tinggal di apartement ini, karena sejak di apartement ini lah kami tidur satu kamar dan satu ranjang.
Berbeda dengan sebelumnya waktu kami masih tinggal dengan orang tua ku di rumah orang tuaku, tidur sekamar tapi tidak satu ranjang. Si om mau memilih dan suka tidur di bawah tepatnya di atas karpet bulu milikku dulu.
🍬🍬🍬
"Kamu mau kemana Alena kok berdandan secantik ini?" Matanya menatap ku terheran-heran, tapi kok seperti ada rasa kagum gitu saat kali ini ia menatapku beda dari biasanya.
Tapi tunggu apa katanya tadi secantik ini? Aku nggak salah dengar kah? Atau telingaku lagi bermasalahkan atau lidah ne om om yang lagi bermasalah, sampai-sampai ia bisa berucap kalau aku malam ini secantik ini. Aih ntah lah.
"Lena mau ikut om kondangan." Seruku tanpa basa basi lagi.
Sebelah alisnya si om terangkat. "Bukannya semalam kamu bilang_"
Aku memotong cepat ucapan si om. "Kan om bilang terserah Lena, jadi ya sekarang ini keputusan Lena." Aku berucap sambil tersenyum tanpa dosa pada lelaki di hadapanku ini.
Lelaki di hadapanku hanya diam tanpa berucap lagi, ia melangkah hendak keluar unit apartement ini. Cuss aku mengikuti langkahnya dari belakang.
Si om kali ini tak jauh beda dengan hari-hari kemarin selalu terlihat rapih dan tampan. Namun , kali ini ntah mengapa aku melihatnya berlipat-lipat tampannya. Dengan menggunakan setelan jas berwarna abu-abu senada dengan celana panjangnya, dengan ********** kemeja putih polos tanpa dasi dan tanpa di kancing di bagian teratas kancing pertama.
Rambutnya yang selalu tertata rapih dan pas di wajahnya yang putih bersih dengan hidung yang mancung bak perosotan anak TK di padu bibirnya yang seksi. Dan yang membuatnya lebih beda tapi lebih ok adalah sepatu sportnya yang berwarna putih polos. Nah itu membuatnya juga terlihat lebih muda dan lebih kasual tapi elegant.
Ih aku ini kenapa sih malah memujinya sedetail itu dalam batin ku, apa jangan-jangan aku mulai terpesona sama si om nyebelin itu. Tapi tunggu kok baju si om sama baju yang ku pakai seakan senada warnanya. Jadi berasa kek baju couple-an deh. Ih kok bisa gini ya padahal nggak janjian.
Soalnya aku memakai dress panjang yang serba tertutup dengan warna yang silver agak bergeliter polos di bagian atas dan lengan bajunya yang panjang, akan tetapi dari bawah pinggang sampai ujung dress bermotif dengan sedikit di bagian dadanya memiliki celah terbuka. Tapi tidak menyorot isi di dalamnya.
Sebenarnya baju yang ku pakai kali ini adalah baju yang memang sudah tersedia di dalam lemari tanpa aku membelinya apalagi yang mintanya. Sebenarnya baju dress panjang ini memiliki khimar yang berwarna senada dengan ukuran terbilang cukup lebar dan panjang.
Nah , aku saja yang masih enggan memakai khimar / jilbab. Jadi aku biarkan saja khimarnya tanpa ku pakai dan aku membiarkan rambutku terurai indah kali ini dengan poni yang sebagian menutup dahi mulusku.
Sebenarnya baju-baju seperti ini hampir memenuhi isi lemari, siapa lagi coba kalau bukan karena ulah si om yang semua itu tanpa memberitahuku sebelumnya.
Kami telah tiba di lobi hotel lalu memasuki lift untuk menuju acara kondangan kami, tepatnya kondangan si om.
Ting..
Lift pun berhenti di lantai atas yang kami tuju. Keluar lift dan menuju acara resepsi pernikahan tersebut sedang berlangsung.
Masuk ke dalam acara namun sebelumnya si om mengisi terlebih dahulu buku daftar hadir tamu. Setelahnya si om mengeluarkan sebuah amplop putih polos dari balik jasnya dan memasukkan amplop tersebut ke dalam kotak berukuran cukup besar. Aku pun mendapat kan souvenir cantik setelahnya.
Kami pun berjalan beriringan lalu si om menyalami 2 orang paruh baya yang beda jenis , setelahnya di susul aku pun menyalami kedua paruh baya itu.
"Akhirnya model korea kita datang juga." Celetuk lelaki paruh baya itu dengan senyum merekah.
"Iya Pah bener banget tapi kayaknya nak Andra ini makin hari makin ganteng aja, apalagi sejak beristrikan perempuan secantik ini." Sambung sang wanita paruh baya itu. Aku hanya tersenyum saja sebagai respon.
"Silahkan nak Andra dan istrinya menikmati hidangan yang sudah tersedia, kami tinggal dulu ya." Seru lelaki paruh baya itu.
"Iya om, tante silahkan." Ucap si om dengan seutas senyum kecil, tumben senyum walaupun seumprit ( sedikit ).
Kedua pasutri tersebut pun kini telah pergi dari hadapan kami, kembali menyapa tamu-tamu yang lain.
Kami pun menghampiri prasmanan, dengan si om yang melangkah duluan di depanku. Selesai mengambil nasi dan segala menu lauk pauk yang tersaji begitu banyak dan begitu mengiurkan di atas meja prasmanan, kami pun duduk di salah satu meja tamu yang tidak jauh dari panggung sang pengantin.
"Om ini resepsi siapa?" Tanyaku sedikit penasaran setelah beberapa menit kami duduk sambil menyantap makanan kami.
"Salah satu pejabat kejaksaan dan ini resepsi pernikahan putra ketiganya." Terang si om dengan ia fokus ke makanannya.
"Pantesan mewah dan ramai begini ya acara dan tamunya, nggak jauh beda seperti resepsi pernikahan kita dulu om." Eh afa-afaan aku ini kok malah menginggatkan ke resepsi pernikahan ku bersama si om dulu sih.
"Kamu menginggatnya?" Cetus si om sambil menatap ke arahku.
"Ya namanya juga itu hal pertama bagi Lena om. Pasti lah semua orang yang mengalami pernikahan pertamanya bakal sama menginggatnya seperti Lena." Jawabku semampunya, padahal dalam hati was-was kalau dia mikir aku beneran terima atas pernikahan kami yang berdasarkan salah faham Mamanya.
__ADS_1
Tak ada respon lagi dari si om, ia kembali fokus dengan makanannya dan aku pun kembali fokus juga dengan makananku.
"Lama tak bertemu....Liandra." Suara bariton dari seseorang terdengar serak di telinga ku. Aku dan si om pun menoleh ke sumber suara.
"Sepertinya takdir kembali mempertemukan kita kembali Lian?" Si om hanya diam dengan ekspresi dan tatapan dinginnya tanpa membalas pertanyaan lawan bicaranya kini.
"Siapa sih om om ini?" Hati ku bertanya.
Kami baru saja selesai menyantap makanan kami dan masih duduk di meja tamu dengan posisiku yang bersebelahan dengan si om.
"Siapa gadis cantik yang bersama dengan mu ini Lian?" Tanyanya ramah masih dengan posisinya berdiri dibelakang duduk kami yang sedikit condong kesamping dan itu terlihat juga seperti lelaki ini berhadapan di antara tempat duduk kami berdua.
"Ini istri ku." Jawabnya dengan expresi dinginya.
Kedua mata lelaki itu terlihat sedikit terbelalak setelah mendengar jawaban dari si om, lalu ia tersenyum dengan berkata. "cantik anggun sekali istrimu Lian."
Lelaki tersebut melirik ke arah ku, tanpa di duga terlihat ia mengulurkan telapak tangan kanannya ke arah ku. "Davin." Ucapnya memberi tahu namanya dengan senyuman yang merekah.
Aku mengatupkan kedua telapak tanganku di depan dadaku sebagai pengganti jabat tangan seraya berucap. "Alena." Dengan seutas senyum kecil.
Lelaki yang mengenakan stelan jas lengkap berwarna biru gelap bahkan warnanya seakan tak terlihat seperti warna biru gelap. Jika tidak di terlihat sedekat ini dan tak ketinggalan di padu dasi di kerah kancing teratasnya serta sepatu hitam fantofelnya yang begitu mengkilap.
Lelaki tersebut menarik perlahan tangan kanannya dengan senyum yang terlihat sedikit masam seraya berkata. "Sepertinya istri mu tidak suka berjabat tangan dengan ku."
Si om hanya diam tanpa menjawab, kemudian lelaki yang baru saja ku tahu namanya tersebut pun berucap lagi.
"Ternyata istri mu selain memiliki paras yang cantik ia pun memiliki nama yang juga cantik." Pujinya lagi sambil menatap ke arahku tanpa berkedip, tapi tak lama aku menundukkan kepalaku.
Aku jadi merasa tak enak mendengar lelaki ini beberapa kali melontarkan pujian, yang ntah itu tulus atau bagaimana habya lelaki ini yang tau dan Tuhan.
"Alena ayokk kita kesana." Tunjuk si om melalui isyarat matanya yang mengarah ke pelaminan lalu bangkit dari duduknya.
Dan tanpa di sangka si om mengenggam tangan kiriku. "Ayok Alena." Aku pun bangkit dari dudukku dan si om pun menarik ku untuk pergi dari sini.
"Hei Lian tunggu! Kita baru saja bertemu setelah sekian lama masa tidak ada acara ngobrol-ngobrol dulu." Kami yang baru melangkah pun terhenti seketika yang di awali oleh di hentikannya langkah si om, aku pun otomatis ikut berhenti.
"Saya masih ada urusan." Ujar si om dingin lalu ia kembali melangkah sambil terus mengenggam tangan kiriku kuat, mau tak mau kakiku pun menyamai langkahnya dan pasrah atas perbuatannya mengenggam tanganku ini.
Sungguh jantungku berdetak kencang sekali akibat perlakuan si om yang tak di sangka ini. Tapi kenapa juga ne jantungku malah maraton begini, ya Allah selamatkan jantungku ini.
Kami menaiki panggung pelaminan dan si om masih mengenggam sebelah tanganku sesampainya depan kedua mempelai ia melepaskan genggamannya. "Alhamdulillah rasanya lega." Ujar ku dalam hati.
Kami pun menyalami kedua mempelai setelahnya si om malah kembali mengenggam tanganku , lalu membawa ku turun dari atas pelaminan.
"Yaelah baru juga lega lepas genggamannya eh ini malah di genggam lagi" keluhku dalam hati.
Kami kini telah keluar dari gedung acara tadi dan sudah berada di bagian pintu depan gedung ini menunggu sopir dari karywan gedung ini membawa mobil sedan civic berwarna putih milik si om kemari.
Tak lama mobil si om sudah ada di depan kami, sang sopir keluar dan menyerahkan mobilnya ke si om dan petugas hotel satunya lagi membukakan pintu untuk ku dengan ramah. Mobil pun meluncur keluar halaman gedung megah ini.
"Om kok buru-buru gini sih pulangnya, kita kan baru makan menu utamanya belum juga makan cemilan lainnya di kondangan tadi." Cetus kesal, padahal aku tadi ingin sekali mencicipi cemilannya yang terlihat enak-enak makanya aku jadi tergiur, tapi si om malah mengeluarkan mode nyebelinnya lagi.
"Udah cemilan begitu juga bisa nanti kita beli bahkan lebih enak dari itu." Ucapnya datar dengan terus fokus pandangannya ke depan seraya menyetir mobilnya.
"Tapi nggak bisa gitu juga dong om, beda loh sensasi dan rasanya walaupun cemilannya sama. Soalnya jarang-jarang juga Lena mau kondangan gitu."
"Kamu mau cemilannya atau mau tebar pesona disana Lena?"
"Ya kalau bisa dua-duanya kenapa nggak." Cetusku asal.
"Oo, jadi kamu suka ya tebar pesona ke orang-orang khususnya ke lelaki. Jangan-jangan kamu senang saat si Davin tadi menghampiri kita, pake sok-sok'an nggak mau balas jabat tangannya." Hardik si om dengan ketusnya menoleh ke arah ku sekilas lalu kembali fokus pandangannya ke depan.
"Loh kok om nuduh Lena kek gitu. Om aneh deh tiba-tiba sewot nggak jelas ke Lena , terus kondangan juga pulang buru-buru gini. Apa om ada hutang ya sama teman om tadi, takut di tagih jadi buru-buru pulang menghindari."
"Kamu kalau bicara jangan asal ya Lena." Ketusnya tidak terima.
"Yeii bukannya tadi yang bicara ngasal itu om ya." Nyolotku menatap tajam ke arahnya.
"Ya kamu enak aja nuduh saya ada hutang sama dia. Saya tidak pernah berhutang dengan siapapun, asal kamu tau Lena." Tegasnya , sambil terus fokus menyetir.
"Makanya kalau nggak mau di tuduh jangan nuduh juga dong, tapi kenapa juga kita sampai buru-buru gitu tadi keluar dari gedung itu om."
"Nggak apa-apa saya hanya sudah bosan berada disana." Aku hanya diam dengan jawabannya.
"Btw yang tadi itu teman SMA om dulu kah sama seperti om Reza?" Iseng aja aku bertanya demikian walaupun aku agak sedikit saja penasaran sama temannya si om yang tadi, orangnya ganteng juga sih hehe.
"Kenapa? Sepertinya kamu mau tau banget tentang si Davin itu. Kamu suka sama dia?" Ih apaam sih si om ini makin nyebelin rasanya sejak bangun dan sembuh dari komanya.
"Emang Lena nggak boleh tau temen-temennya suami Lena sendiri, termasuk si om Davin tadi." Cetus ku asal bunyi.
Tiba-tiba si om memberhentikan mobil secara mendadak hampir saja kepalaku membentur dashboard mobil yang ada di depanku, kalau saja aku tak pakai seat belt ku.
"Om ini kenapa si malah ngerem dan berhenti mendadak gini? Untung pas sepi jalanannya kalau nggak apa nggak bisa kecelakaan kita, om." Kesalku menatap marah padanya.
Si om malah menatap tajam pada ku dengan mata elangnya itu, tapi tatapan tajamnya kali berbeda dari sebelum-sebelumnya.
"Kamu beneran suka sama si Davin tadi?" Mata elangnya malah semakin menatap tajam padaku, ngeri juga kalau udah begini ni si om om.
__ADS_1
"Ih Om apaan sih." Lirihku memalingkan wajah ku dari tatapan tajamnya.
Si om pun kembali melajukan kendaraannya, hening yang kini terasa. Aku menatap ke arah jendela mobil memerhatikan jalanan dan hal-hal lain yang aku lewati dari dalam mobil ini dengan perasaan kesal.
"Ayo turun, kita sudah sampai." Aku menelisik tanpa kusadari dan tanpa terasa ternyata kami telah berada di dalam basemen apartement. Ini ni salah satu efek melamun lagi di perjalanan.
"Loh kok pulang beneran sih om, nggak jadi cari cemilan." Keluh ku tak terima, dengan wajah sendu.
"Lain kali aja saya capek mau istirahat."
"Ya udah om istirahat aja sana, Lena mau keluar bentar aja pake mobil Alena sendiri. Lena lagi bosan di malam minggu gini di apartement aja."
Aku hendak membuka seat beltku namun tangan si om menahan tanganku, menyentuh punggung tanganku dengan tangan kirinya yang terbilang besar itu. Sontak aku menatap ke arahnya.
Wajahnya dengan wajahku begitu dekat hampir saling menyentuh sedikit lagi, makin saling menatap. Ku lihat tatapan si om begitu dalam ke arah dua manikku.
"Tatapan macam apa ini, mengapa membuat ku gugup dan berdebar begini." Seru batinku.
Nafasnya menerpa wajahku , dan itu tercium wangi serta membuatku jadi makin gugup dengan debar jantung ku yang semakin kencang memompa.
Pada akhirnya si om berucap. "Ayok saya temani kamu maunya kemana sekarang." Lalu si om menjauhkan wajahnya dan tubuhnya dari ku, begitu juga tangan kirinya tadi.
"Tapi tadi katanya om capek mau istirahat." Cecarku.
Si om mengabaikan ucapanku dan kembali menghidupkan mesin mobilnya lalu menyetir mobilnya hingga kami keluar dari basemen ini dan meluncur ke jalan raya lagi.
"Kita mau kemana?" Malah ia bertanya padaku sambil ia fokus di kemudinya.
Aku berfikir sejenak sambil pandangan fokus ke depan ke arah luar kaca mobil. "Tiba-tiba Lena pengen makan sate padang om tapi yang ada bumbu kacangnya."
Tanpa menjawab si om pun melajukan mobilnya hingga akhirnya sampai di sebuah kedai sate padang.
"Ayo turun saya sudah lapar lagi ni." Ujarnya sembari membuka jasnya dan menyimpannya di jok mobil belakang lalu membuka pintu dan keluar dari mobil.
Aku pun membuka seatbeltku lalu keluar dari mobil. Kami kini masuk ke dalam kedai sate padang yang tempatnya di sekitaran ruko yang ada di kota ini.
Setelah kami duduk di kursi meja pelangan datanglah salah satu mas mas menghampiri kami.
"Dua porsi sate ya mas." Kata si om pada si mas tersebut.
"Kamu mau pake lontong apa nggak Alena terus minumnya apa?" Tanya si om padaku.
"Nggak deh om satenya aja bumbu padang campur." bumbu padang. Minumnya teh manis dingin."Jawabku.
"Sate 2 porsi tanpa lontong, yang satu bumbu padang full, dan satunya lagi campur bumbunya sama bumbu kacang. Minumnya teh manis dingin satu dan teh susu hangat 1 , tambah air mineralnya 2 botol ya mas." Ujar si om memberi tahukan pesanan kami.
"Baik, di tunggu pesanannya ya mas dan mbak." Ucap si mas tadi lalu pergi dari hadapan kami.
"Om suka minum teh susu yang susunya itu kental manis kan?" Tanyaku heran.
"Iya suka."
"Om tau nggak kalau mengkonsumsi teh yang di campur kental manis atau susu, setau Lena itu tidak baik bahkan bisa berbahaya bagi jantung dan ginjal kita."
"Ya saya tau itu Alena, tapi saya jarang sekali mengkonsumsinya."
"Tetep aja om, walaupun Lena tau rasanya enak sih. Karena Lena dulu pernah nyoba juga dan sempat ketagihan, tapi setelah tau efeknya nggak bagus Lena stop meminumnya."
Tiba-tiba pesanan kami pun datang , aku dan si om pun tanpa lama-lama menyantapnya. Ku lihat si om begitu lahap dan terkesan buru-buru memakan satenya seperti orang yang kelaparan.
"Om makannya kok buru-buru gitu kek setahun nggak makan aja." Aku berucap sambil memerhatikannya, yang di perhatikan cuek aja dan masih terus melahap makananya dengan nikmat.
Nggak biasanya si om ini makan seperti ini buru-buru nggak jelas gitu. Padahal tadi belum lama juga baru makan di kondangan. Tak lama si om pun menyelesaikan dengan sempurna memakan satenya.
Habis juga sateku. "Alhamdulillah, kenyang." Seru ku dengan puas sambil menepuk-nepuk ringan perutku.
Si om sudah duluan menghabiskan makanannya beberapa menit lalu.
"Oya, om tadi om apa laper banget ya ampe segitu terburu-burunya makannya. Nggak biasanya om kek gitu setau Alena." Penasaran aku hehe.
"Nggak apapa saya hanya merasa tadi benar-benar lapar aja lagi. Mau langsung pulang atau mau kemana lagi?"
"Emang boleh kemana-kemana lagi?"
"Boleh asal sama saya jangan sendirian apalagi sama lelaki lain."
"Maksud om?" Dahiku berkerut karena heran.
"Saya bayar dulu." Ucapnya bangkit dari duduknya menuju ke kasir.
Malam ini sudah pukul 10 malam lewat 20 menit dan aku pun minta ke si om jalan-jalan lagi barang sebentar saja. Cukup berkeliling kota saja di malam minggu ini. Setelah berkeliling hingga akhirnya tanpa terasa sampai di apartement sekitaran pukul 23: 34 wib.
"Sudah puas jalan-jalannya?" Tanya si om saat kami masih di dalam mobil setelah mobil berhenti dan terparkir di basemen dengan baik.
Aku hanya menganggukkan kepalaku saja sebagai jawaban. Kami pun turun dari mobil menuju ke unit kami yang berada di atas lantai 11 menggunakan lift.
🍬🍬🍬
__ADS_1
Bersambung..
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰