TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 62A


__ADS_3

Setelah 2 hari aku pulang dari RS dan tinggal di rumah Mama dan Papaku, hari ini aku mulai ngampus kembali karena insha Allah minggu depan aku akan semimar judul skripsiku.


Harusnya minggu lalu aku seminar tapi karena aku yang masih di rawat di RS dan masih izin tidak masuk kuliah sampai aku benar-benar cukup sehat dan kuat. Maka sebab itu di undur lagi satu minggu seminar judul sekripsiku itu.


Selama aku baru kembali tinggal di rumah orang tuaku selama itu juga si om suami setiap malam rajin sekali datang hanya ingin bertemu dengan ku, walaupun hanya sekedar melihat tapi aku abaikan dia. Aku selalu di kamar apalagi jika sudah datang si om suami.


Terserah deh jika aku di katain tega olehnya atau pun kedua orang tuaku. Aku masih marah dan merasa benci serta tak sudi melihatnya.


Pagi ini aku sedang melajukan mobilku sendiri menuju kampus. "Ini kenapa mobilnya kek oleng gini." Gumamku sendiri lalu meminggirkan mobilku dan menberhentikannya di sisi jalan.


Aku membuka seat belt lalu langsung membuka pintu kemudiku dan turun dari mobil, hendak melihat apa yang terjadi pada mobil ku ini.


"Astagfirullah ban nya kempes." Keluhku seraya menghembuskan nafas pelan.


Aku terdiam dan melirik ke kanana kiri mencoba mencari seseorang yang bisa ku mintai bantuan atau apalah, sungguh menyebalkan masih pagi 1 ban belakang mobilku sudah ada yang kempes atai bocor. Tak ada siapapun yang bisa ku mintai tolong, jalan ini terbilang sepi.


Aku mematung sambil tangan kananku memegang pinggangku sendiri dan tangan kiriku memegang keningku seraya berfikir, tapi lebih terlihat seperti orang frustasi rasanya kini diriku.


"Gimana ini? Aku nggak bisa ganti ban sendiri lagi, biar pun ada ban serepnya di dalam bagasi." Gumamku pada diri sendiri.


"Mobilnya kenapa?" Tiba-tiba ada sebuah suara.


Aku hendak menoleh ke arah belakang ku karena disana aku mendengar suara tersebut berucap dan suara itu aku kenal sekali.


Mataku membeliak karena kanget dan tak menyangka, kenapa ia bisa tiba-tiba ada disini?


"Bannya kempes ya?" Saat matanya menelisik ke mobilku tepatnya ban mobilku.


Ia pun langsung menuju pintu kemudi mobilku dan membukanya tanpa aku perintahkan dan ia tanpa bertanya lagi padaku.


Aku masih terbengong karena masih cukup kaget dan tak percaya. Setelah ia dari pintu kemudi mobilku dan menutup pintunya, lalu kembali berjalan menuju bagasi mobil seraya menggulung kedua lengan kemejanya secara asal sampai siku. Sampai di depan bagasi ia pun langsung membukanya dan mengambil ban serep/ cadangan yang ada didalam bagasi, kemudian mengambil dongkrak mobil dan kunci ban serta gagang pengait dongkrak.


Sambil ia masih berusaha membantuku untuk menganti ban mobilku yang kempes/ bocor itu ia berkata. "Kamu mau ke kampus kan, masuk jam berapa? Atau kamu pakai saja mobil saya itu." Ucapnya seraya menunjuk dengan dagunya dimana mobilnya yang ternyata berada di sebrang sana.


Aku masih terdiam memerhatikan gerak geriknya, sambil berfikir kembali.

__ADS_1


"Mobil kamu biar nanti saya bawa dulu setelah saya selesai mengantikan bannya yang kempes ini. Gimana?" Serunya masih terus berusaha untuk membantu ku mengantikan ban mobilku yang kempes/ bocor itu dengan ban serep/ cadangan yang tersedia.


Kini ia pun berjongkok mulai membuka atau mengendurkan baut-baut yang mengunci di setiap sisi tengah ban, yang ada pada roda ban yang kempes/bocor itu. Lalu memasukan dongkraknya ke bagian sisi dalam mobil atau titik tumpu yang benar di sekitaran ban yang akan diganti itu.


"Om kok bisa disini sih?" Akhirnya aku bisa menyuarakan apa yang dari tadi seakan tertahan terucap, karena ulahnya yang sok jadi pahlawan.


Si om malah tak mengubris seruanku yang kesal tadi.


Kini ia berdiri tepat di hadapanku hendak nenyerahkan sebuah kunci mobilnya.


"Udah ini kuncinya dan STNK nya bawa mobil saya saja untuk hari ini. Agar kamu bisa ke kampus tanpa terlambat." Ujarnya lembut matanya terus manatap lekat padaku aku malah membuang muka.


Menyebalkan sekali sih ni om om kenapa dia bisa ada disini, dari 2 hari lalu aku sengaja menghindar dan menemuinya walaupun ia datang setiap malam. Eh ini malah ketemu dijalan dan di saat sedang ampes begini, kempes ban mobilku.


Ia menatapku lalu menarik tangan kananku pelan dan meletakkan kunci mobil dan STNKnya di atas telapak tanga kananku yang terbuka dengan sengaja.


Ingin rasanya berdebat dan protes tapi aku memang harus segera kekampus pagi ini, dan ini termasuk untuk hal penting tentang skripsi dan seminar judul sekripsiku. Andai kan aku tidak sedang butuh segera ke kampus sudah ku pastikan aku akan berlaku semakin tidak baik pada si om yang tak lain adalah suamiku sendiri.


"Berhati-hatilah di jalan saat mengemudi ya sayang." Peringatannya yang sok sayang-sayang dan sok perhatian itu fikirku kali ini.


Setelah sampai dan masuk ke kemudi mobil si om suami aku langsung saja gegas melajukan mobilnya, tanpa menoleh atau pamit. Sa bodo aja lah sama si om suami.


"Hai Lena mantap udah sehatan dia.?" Seru Siska sumringah.


Disana juga Wina dan Vera mereka sudah ada di bangku kelas saat aku baru masuk ke kelas ini setelah tadi aku ke kantor dosen terlebih dahulu.


Aku hanya menanggapinya dengan senyuman terbaikku.


Tak lama dosen pun datang kami pun mulai kelas perkuliahan kami hari ini.


____


"Len elo di jemput sama om Andra kan?" Vera bertanya saat mata kuliah siang ini telah berakhir dan tak ada mata kuliah lagi sore ini.


"Nggak Ver, lo kan tau gue lagi tinggal sama ortu gue dan gue pasti bawa kendaraan sendiri." Terang gue.

__ADS_1


Kami masih di dalam ruang kelas selesai membereskan perentelan-perentelan kami ke dalam tas kami masing-masing.


"So jadi minggu depan seminar judul skripsi lo di mulai Len?" Aku pun mengangguk sebagai jawaban.


"So elo gimana udah di acc kan judul skripsinya?" Tanyaku balik dengan melirik ke arah Vera.


"Udah, minggu depannya lagi setelah seminar elo terlaksana insha Allah giliran seminar gue yang di laksanakan." Ucap Vera dengan semangat.


"Alhamdulillah." Aku sambil tersenyum bahagia.


Kami pun kini berdiri dan melangkah menuju pintu dan keluar dari kelas dengan jalan beriringan.


Tiba kini kami di parkiran roda 4 , kami pun hendak ke kendaraan kami masing-masing.


"Len itu bukannya sedan civicnya om gue ya?" Mata Vera memicing saat ia menemukan mobil omya terparkir di area parkir kampus tempat kami menuntut ilmu.


"Emang." Seruku enteng.


"Kata lo nggak dijemput tapi itu mobil si om kok ada di parkiran mobil kampus ini, tapi tunggu tumben mobilnya jemput ampe masuk area parkiran dalam kampus kita? Biasanya juga kan di sebelah gerbang kampus." Vera dengan mimik heran di barengi mimik berfikirnya saat ini.


"Emang, si om elo nggak jemput gue Ver. Cuma tadi pas gue bawa mobil gue sendiri taunya gue kena acara ban belakang mobil gue satunya ada yang kempes.


Vera manggut-manggut. "Jadi ceritanya om gue bantuin elo dengan mengantikan ban elo yang bocor/ kempes itu terus nawarin elo bawa mobilnya ke kampus sendiri dan dia yang bakal pake mobil elo kalau udah beres." Matanya Vera menelisik ke arah ku mencari kebenaran itu. Aku jawab dengan anggukan.


"Oya, gue duluan ya Ver. Elo hati-hati ya." Ujarku Vera hendak menuju mobil dan pulang.


"Sipp dah, elo juga hati-hati ya Len." Aku menjentikkan telunjukku dengan ibu jariku sebagai jawaban, dengan senyuman sok imutku pada Vera sahabatku.


Kini aku sudah di dalam mobil dan melajukannya untuk menuju pulang kembali ke rumah orang tuaku.


🍬🍬🍬


**Bersambung...


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰**

__ADS_1


__ADS_2