
Kalian tau nggak si om semakin hari semakin gila, gila akan aku. Gimana coba nggak aku bilang dia gila walaupun suamiku. Sudah 2 minggu berlalu sejak kami melakukan ritual malam pertama kami yang terbilang telat hingga satu tahun pernikahan kami. Hal itu juga karena ke kekonyolan dan ke egosisan kami.
Dan kalian tau selama hampir 2 minggu ini masa si om selalu minta jatah tiap malam, ku fikir dia yang sudah om om berumur kepala 3 tidak akan sehiper itu. Karena terbilang sudah tua dengan umurnya yang sudah mencapai 34 tahun, eh nyatanya aku salah. Dia jauh lebih menggebu-ngebu dibanding aku yang jelas masih muda dengan umur 20 tahun.
Sebenarnya aku juga candu akan si om, tapi kan tak harus setiap malam juga kali kami melakukannya. Namun, kalau sudah di pepet sama si om aku juga nggak bisa nolak selain takut dosa, jelas setiap sentuhannya membuat aku melayang dan berdesir dahsyat.
Apa yang ia lakukan mulai dari malam pertama itu adalah pengalaman pertama bagi ku, first kiss ku saja terjadi dan yang mendapatkannya adalah si om yang selama ini ku juluki makhluk nyebelin.
Jujur aku sangat suka setiap sentuhan dan keperkasaan si om suamiku. Nah ada yang kalian juga belum tau kan si om pernah tiba-tiba pulang membawa 2 buah paper bag berukuran cukup besar dan si om berikan kepadaku, kalian tau isinya apa coba?
Pasti kalian udah bisa tebak dong, ya betul sekali isinya adalah baju haram , atau juga sering disebut baju dinas atau lebih tepatnya 'Lingering.'
Kalian tau si om membeli dan memberikan aku baju haram itu tak tanggung-tanggung 10 stel sekaligus. Di dalam 2 buah paper bag yang berukuran cukup besar itu, dengan berbagai warna dan berbagai macam model.
Ntah apa yang ada di fikiran si om suami ku itu hingga gila membeli semua baju haram tersebut. Apa ia tak malu saat membeli semua itu ke toko baju seorang diri?
Ku rasa di otak si om suamiku itu sudah penuh dengan kemesuman. Tiba-tiba aku jadi terbayang dan teringat akan peristiwa itu.
Flashback On :
"Ini apa om?" Saat si om pulang membawa dan menyerahkan 2 buah paper bag dengan ukuran cukup besar kepadaku.
"Buka aja sayang." Ce'elah sekarang ni lakik udah demen banget manggil aku dengan sebutan sayang segala, walaupun sejujurnya aku seneng sih di panggil begitu sama suami tuaku ini tapi gantengnya paripurna hehe.
Aku membuka dan mengechek isinya lalu mengeluarkannya satu persatu. Mataku mendelik saat apa yang ku keluarkan dari dalam paper bag tersebut.
"Om ini apaan? Pake banyak banget segala, Om jualan beginian kah?" Tanyaku sambil mengejek, dengan mata mendelik.
Yang di katain malah nyengir kuda aja dengan watados-nya alias wajah tanpa dosa.
Kalian tau kan apa yang ada di dalam paper bag ini? Apalagi kalau bukan Lingering si baju haram alias baju dinas khusus untuk istri yang katanya salah satu alat yang bisa nyenengin serta bikin suami tercinta makin bergairah.
Bergairah udelnya, tanpa aku memakai pakaian haram ini aja ne lakik udah bergairah nggak ketulungan. Kalau nggak paen ia ngasak aku tiap malam tanpa henti, etdah kan.
"Om.." Pekikku kuat.
"Heumm." Lagi dengan watadosnya.
"Ini untuk apa?" Sewotku dengan mata kembali mendelik.
"Untuk di pakai lah sayang, masa di simpen gitu aja di dalam lemari. Mubazir dong." Etdah.
"Ya , emang makenya berapa kali sehari ampe harus sebanyak ini sih Om." Ne lakik nggak tau kalau emak nya dulu pernah belikan aku beginian ampe 3 stel dan sampai sekarang aku belum berani memakainya.
Keknya fix emak sama anak sama gilanya.
"Ya setiap saya suruh dong Alena sayang , kalau bisa tiap malam kamu pake pakaian itu." Etdah, mataku mendelik dengan jawabannya bener-bener ne lakik.
"Ya Lena bisa kedinginan dong tiap malam Om kalau make tu kostum."
"Kan ada saya yang menghangatkan kamu nanti, eh salah lebih tepatnya kita saling menghangatkan." Ya Alloh sejak kapan lah si om suami ku ini bisa seaneh ini dan seomes ini.
Aku langsung membawa kain-kain tipis dan nerawang itu ke dalam kamar setelah ku masukkan kembali ke dalam paper bagnya.
Flashback Off.
Aku sudah habis fikir dengan pemikiran dan hasratnya apa karena telah masa pubertasnya tu lakik jadi begitu maroknya sekarang.
Soalnya aku pernah bertanya langsung perihal berapa kali ia pacaran, ternyata apa yang pernah Vera katanya benar. Kalau si om belum pernah pacaran bahkan jatuh cinta, malah ia mengunggkapkan kalau aku lah cinta pertamannya dan juga akan menjadi cinta terakhirnya.
Dan yang lebih bikin aku mendapat kejutan ternyata first kiss si om adalah aku, ternyata persamaan itu jelas adanya. Aku jadi semakin yakin kalau aku benar-benar mulai jatuh cinta juga kepada si om suamiku.
Tunggu saja nanti aku menyatakan balasan dari pernyataan cintanya si om kala itu, aku sengaja mengulur waktu menjawab pernyataan cintanya itu atas ke inginanku saja. Walaupun si om tidak ambil pusing kapan aku akan mengaku cinta padanya.
🍬🍬🍬
Drett....
Drett...
Gawai ku yang ku genggam bergetar saat aku baru saja keluar dari kelasku, dengan segera melihat layar siapakah yang mengirim pesan. Feel ku sih si om suamiku siapa lagi.
[ Saya sudah di sebelah gerbang seperti biasa.] Isi pesan si om lewat aplikasi berlogo hijau itu.
Dengan segera aku melangkah menuju gerbang dengan menuruni anak tangga terlebih dahulu, karena ruang kelasku berada di lantai 3 gedung kampus ini.
Aku celingukan mencari dimana mobil si om yang biasa. "Tadi katanya udah sampai di sebelah gerbang, tapi mana?" Sewotku sendiri.
Tin..
Tin..
"Apaan sih berisik banget tu motor." Aku masih celingukan mencari dimana mobil si om.
Tin..
__ADS_1
Tin..
Kembali bunyi klakson dari motor sport berwarna hitam yang berada tak jauh dari posisi aku berdiri sekarang. Bodo amirr aku hanya lagi binggung dimana suamiku memarkir mobilnya, lagian tu orang paen klakson-klaksonin ke arah aku.
Akhirnya ku tekan nomor si om yang ada di dalam layar gawaiku mencoba menghubunginya.
[ Assalammualaikum. Om dimana sih? Katanya tadi udah nyampe nah mana sekarang. ] Aku berbicara ketus pada di om sangkin udah keselnya.
[ Wa'alaikumsalam. Jangan marah-marah dong sayang, coba kamu samperin yang naik motor sport warna hitam yang tidak jauh dari posisi kamu sekarang.] Panggilanpun terputus sepihak yang di akhiri oleh pihak si om.
Ku masukan gawaiku ke dalam tasku kemudian aku menoleh ke arah dimana motor sport yang dimaksud si om katakan tadi berada. Aku memicingkan mata dari posisiku berada melihat dan memerhatikan seseorang dengan helm full face gelap atau serba hitam pekat.
Seseorang itu mengenakan jaket berwarna random putih dan hitam dengan kancing jaket terbuka. Sehingga terlihat bagian kaos dalamnya yang berwarna putih polos yang di padu dengan celana panjang berwarna hitam berbahan kain serta sepatu spil on berwarna hitam dan lis bawahnya berwarna putih.
Aku pun melangkah agak ragu menghampiri motor sport tersebut. Menuju ke hadapan lelaki yang ada di atas motor sport itu seorang diri. Kini aku sudah ada di hadapan lelaki yang berada di atas motor sport itu dengan beberapa jarak.
"Crekk."
Tetiba helm full face yang tertutup tadi di angkat oleh si pemakainya. Terlihatlah wajah yang begitu tampan yang sangat familiar yang seatap denganku. Siapa lagi kalau bukan si om sang suami.
Terlihat ia menyungingkan senyum tipisnya padaku, ku lihat juga ada earphone bluetooth di bagian sebelah telinganya. Pantas saja aku tak melihatnya memegang gawainya saat menelpon ku tadi, ternyata oh ternyata.
Aku hanya bisa cengok melihat tampilannya kali ini sungguh berbeda dan itu membuatku terpesona, ternyata kejutan lagi yang aku dapatkan dari si om suamiku tanpa terduga.
"Ayokk naik sekarang, nanti keburu telat." Aku memicingkan mata kembali mendengar kalimat terakhirnya barusan.
Seolah memahami maksud fikiranku si om pun kembali berucap. "Kita akan pergi ke kebioskop sekarang, ayok cepet nanti keburu filmnya mulai."
Aku pun refleks segera naik ke kuda besi yang si om tunggangi ini dan ia memakai kembali memakai helm full facenya. Kini aku sudah duduk tepat di belakang si om, rasanya tadi susah juga naiknya.
Untung aku pakai celana panjang putih dengan kemeja berwarna baby blue berlengan panjang yang bagian lengannya ku gulung asal sedikit ke atas. Rambut panjang ku pun, ku ikat cepol secara asal agak tinggi kali ini.
"Pegangan yang kuat ya sayang, saya agak ngebut nih. Ntar jatuh lagi berabe." Aku hanya bisa menuruti perintahnya.
Ku lingkarkan kedua tanganku ke pinggangnya memeluk erat ia dari belakang. Setelah si om melihat kedua tanganku telah melingkar di perutnya ia pun mulai menghidupkan motor sportnya dan mulai membelah jalanan Jakarta di sore ini yang selalu padat merayap.
Bener-bener si om menjalankan motor sport ini dengan kecepatan cukup maksimal, hingga membuatku semakin mengeratkan pelukkanku dari belakang tubuhnya.
Kami melewati jalan-jalan tikus alias jalan-jalan kecil seperti dari gang ke gang demi menghindari kemacetan dan agar bisa cepat sampai tujuan. Tak terasa kami sudah sampai di salah satu mall yang ada di kota Jakarta ini.
"Ayokk turun sayang." Seru si om sambil membuka helm full facenya.
Aku pun yang masih termenung langsung buyar dan mulai turun, setelahnya di lanjut si om yang turun dari kuda besi ini.
"Om ini motor sport siapa?" Tanyaku heran dan penasaran.
Soalnya setauku si om tak punya motor hanya punya beberapa mobil saja.
"Tapi kok Lena baru lihat." Aku menjeda ucapan ku sejenak seraya melirik ke motor sport itu. "Om baru beli motor sport ini ya?" Tebakku sekarang melirik ke arah si om, menelisik.
"Ini motor lama. Hanya saja jarang di pakai kecuali di pakai saat mau ke mesjid dari apartement, biar lebih mudah dan cepat sampainya ke mesjid." Terangnya.
"Oo. Tapi tumben Om kali ini bawa motor pergi seperti ini?"
"Kan biar romantis." Jawabannya sungguh di luar dugaan.
"Gaya banget si om biar romantis." Ejekku sambil memeletkan lidahku sekilas.
Saat hendak melangkah lagi si om berhenti sejenak sambil memeperhatikan benda yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Kita sholat maghrib dulu yuk ke mushola mumpung masih pukul 18: 00, nontonya nanti pukul 19: 00." Seru si om.
"Tapi kan belum beli tiketnya Om?" Ujar ku.
"Tenang tadi siang saya udah pesan dan beli tiket nonton kita secars online." Lagi-lagi aku tak menduga dengan jawabannya, sungguh aku semakin kesini semakin di suguhkan kejutan-kejutan yang tak terduga oleh lelaki tampan ini.
Si om pun berjalan kembali di ikuti oleh ku hendak menuju mushola yang juga satu gedung dengan mall ini.
___
"Emang mau nonton film apa Om?"
"Pipeline, katanya kamu suka film actions. Pas tu Pipeline film actions korea. Kamu kan suka film atau drama actions korea.
"Om tau dari mana?" Tanya ku lagi dengan mimik heran.
"Vera." Aku mendelik mendengar pengakuannya.
"Om nanya-nanya tentang Lena ke Vera ya?" Cecarku agak kesel, paen juga ne lakik pake nanya-nanya segala ke si Vera kan aku jadi agak malu.
"Cuma nanya tentang kesukaan kamu aja kok termasuk genre film." Sahutnya si om lagi.
"Demi nonton ke bioskop ini, gitu." Cecarku lagi, kini kami telah berada di sekitaran area bioskop.
"Ya kan biar romantis nonton ke bioskop." Katanya lagi yang membuatku terus tak menyangka si om bakal bisa melakukam hal semacam ini.
__ADS_1
"Ih om kek anak remaja aja pake acara nonton ke bioskop." Ejekku.
"Kan kita lagi pacaran, lagi ngedate ceritanya. Yang lebih tua dari saya saja masih banyak yang suka dan mau nonton bareng pasangam halalnya nonton ke bioskop, masa kita nggak boleh." Degg..
Bener-bener ya ne om om masa puberitasnya telat. Tapi nggak apa deh toh aku kan masi muda dan belum pernah juga nonton bareng pacar ke bioskop, selama ini juga nggak pernah pacaran juga.
Sekalinya pacaran setelah menikah dengan pacar halalku. Ternyata si om bisa seasyik ini ya, tanpa di minta. Ih bikin aku makin jatuh cinta deh.
"Ntar ya saya beli popcorn sama minumannya dulu." Si om pun melangkah menuju tempat penjual popcorn dan minuman.
'Duh itu beneran si om yang selama ini nyebelin bukan sih, kok bisa dia se sweet ini.' Pekik ku membatin heran sekaligus senang.
____
"Filmnya seru dan ada lucu-lucunya juga ya om ternyata, actions juga bagus." Ungkapku saat kami baru saja keluar dari ruang teater bioskop yang ada di mall ini.
"Heumm."
"Om makan yukk, laper nih Alena." Aku pun menarik lengan si om menuju restoran atau juga cafe yang ada di mall ini.
"Om makan di sana aja yukk, mau nggak?" Aku menunjuk ke arah depan yang terdapat restoran Korean BBQ.
"Ok." Aku menarik kembali sebelah lengan si om untuk masuk ke restoran Korean BBQ itu , yang memang dari tadi aku terus memegang lengan kanan si om.
"Yachh penuh semua mejanya." Senduku.
"Ya sudah makan tempat lain aja kali ini besok kan bisa kesini lagi lebih awal atau kita bisa reservasi dulu sebelum kita ke sini besok. Gimana?" Si om memberi solusi.
"Iya deh Om." Ucapku mengangguk seraya senyuman ke arah si om.
Kami berjalan keluar dari restoran Korean BBQ ini dan menuju cafe biasa yang ada di Mall ini. Malam ini sudah tepat pukul 21: 00 wib, aku jelas sudah lapar karena memang belum makan malam. Tadi hanya ngemil dengan minum pepsi dingin dan popcorn saja saat berada di dalam teater bioskop.
Sampai di cafe langsung duduk dan memesan makanan dan minuman. Aku makan dengan lahap dan lebih terkesan terburu-buru.
"Maaf ya gara-gara kita nonton dulu kamu jadi kelaparan begini." Ujar si om di sela makan malam kami yang memang terbilang telat.
Aku menoleh ke arah si om yang duduk dihadapanku sambil terus mengunyah. "Nggak apa apa kok om."
"Lain kali harusnya kita makan dulu, sekali lagi saya minta maaf ya sayang." Terdengar ada rasa menyesal dan bersalah dari ucapan maafnya lagi kali ini.
"Lena nggak apapa kok om, toh ini kita udah makan." Serunya terseyum lalu melanjutkan makanku yang belum kelar.
Si om masih begong sejenak lalu melanjutkan makannya kembali. Selesai makan dan membayarnya kami pun akan keluar dari cafe ini menuju ke parkiran.
Si om pun tiba-tiba mengenggam tanganku kami pun kini berjalan dengan saling mengenggam tangan sampai ke parkiran area parkiran motor, sudah persis remaja yang sedang kasmaran saja atau pacaran saja hehe.
Hati ku berbunga-bunga dan dada ku berdebar dengan kencangnya. Walaupun sudah melakukan lebih dekat dan lebih jauh dari sekedar mengenggam tangan. Tapi tetap saja aku masih merasa gugup dan berdebar-debar, jika berdekatan sedekat ini baik di depan umum maupun saat hanya kami berdua saja yang ada.
Saat kami sudah berada di atas motor sport si om dan motor pun melaju dengan kecepatan sedang, aku memeluknya erat merasakan sensasi berbeda dari naik motor sport ini dengan kekasih halal ku.
"Om, ternyata om pernah mondok di pesantren ya?" Ku naikkan volume suaraku sedikit agar terdengar oleh si om sang suami.
Si om pun menjawab dengan gerakan kepalanya yang mengangguk dari dalan helm full facenya.
"Tapi kenapa SMA nya malah sekolah umum om? Kenapa nggak nyambung mondok lagi?" Aku sedikit penasaran atas pengalaman mondok si om.
Si om membuka kaca helm full facenya lalu berkata. "Dulu saya berfikir kalau saya mondok lagi di pesantren, saya nggak akan bisa berkuliah di universitas dengan mengambil fakultas atau jurusan hukum. Makanya saya putuskan lulus dari pesantren untuk bersekolah umum saja."
Aku manggut-manggut di sisi bahu bagian kiri si om dari balik tubuhnya, sesungguhnya wangi pakaian dan tubuh si om sungguh membuat aku makin betah jika berada di sisinya. Apalagi semenempel begini situasinya.
Tiba-tiba tangan kiri si om memegang erat tanganku yang melinggar kuat di perutnya. Sungguh ini membuat aku semakin gugup tapi juga berbunga-bunga.
"Dingin ya sayang." Tanyanya saat kami masih di perjalanan pulang.
"Nggak juga Om." Jawabku.
Tiba-tiba si om agak meminggirkan laju motornya ke sisi kiri dan berhenti.
"Loh kok berhenti disini om?" Tanyaku heran setelah aku melepakkan pelukkanku dari tubuhnya.
Ku lihat si om melepaskan jaketnya seraya membalikan setengah tubuhnya dan berkata. "Pakai jaket saya ya sayang." Masha Allah suamiku begitu membuatku semakin meleleh begini.
"Tapi ntar om gimana, itu om tipis loh baju kaosnya?" Ku melirik ke arah kaos putih polos berlegan pendek yang di pakai si om, memang tipis.
Tanpa menjawab si om langsung menyampirkan jaketnya di pundakku tanpa kami turun dari kuda besi miliknya.
"Pakailah, saya tidak apa-apa." Mau tak mau akupun menuruti kamuan sekaligus perintahnya.
Ia pun kembali menegarahkan tubuhnya ke depan dan membelakangi ku kembali, kemudian menghidupkan kuda besinya dan melajukannya dengan kecepatan sedang. Aku kembali memeluknya kali ini dengan hati yang semakin meleleh.
Bener kata si om naik motor bikin romantis bahkan sangat romantis. Ya Allah beginikah indahnya cinta apalagi dengan kekasih halal kita, kata ustadz jadi berpahala.
🍬🍬🍬
Bersambung
__ADS_1
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰