TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 15


__ADS_3

Di minggu pagi hari ini hujan turun cukup deras maklumlah kan masuk bulan september, bulan tersebut memang selalu muncul hujan hingga desember malahan.


Setelah satu mingguan sejak hari kejadian aku dan si om nyebelin itu pulang dari hotel untuk hal mendesak yang si om nyebelin itu katakan, sejak itu pula si om nyebelin itu semakin dingin padaku.


Ia makin diem kayak orang bisu tidak bicara sepatah katapun kepadaku, kecuali jika sedang makan bersama dengan kedua orang tuaku ia baru bicara itupun kalau aku tanya.


Tapi kepada kedua orang tua ku si om nyebelin ini masih tetap dan selalu sopan dan bicara ramah tidak sedingin denganku.


Sebenarnya aku tidak terlalu perduli banget dan malas untuk minta maaf kepada si om nyebelin itu. Tapi kadang nggak enak juga ya di diemin banget gitu kayak orang musuhan.


Dan sampai si om nyebelin itu pun berangkat ke Surabaya ia tetep diam hingga sekarang nggak ada hubungi aku baik telpon ataupun hanya sekedar chat tanya kabar juga nggak sama sekali.


Ntah karena si om nyebelin itu memang super sibuk dengan kerjaannya atau memang karena masih marah sama aku, aku nggak tau.


Aku pun sama tak pernah mencoba menelpon ataupun mengirimkan pesan kepada si om nyebelin itu.


Walaupun aku cukup penasaran apa sebenarnya isi di dalam amplop besar berwarna coklat yang di terima si om nyebelin itu dari temannya di hotel itu yang disebut Za itu oleh si om.


Memang rasanya nggak mungkin juga seh si om itu menerima suap ataupun menyukai sesama jenis.


Si om nyebelin itu terbilang lelaki taat sholatnya rajin dan selalu di awal waktu dan cukup sering ke mesjid lagi sholatnya.


Bahkan membaca Al Qur'annya juga merdu dan baik dalan melafalkannya berbeda dengan aku.


Si om nyebelin itu juga selalu mengingatkanku dan menyuruhku untuk sholat di awal waktu tak jauh berbeda juga seperti yang mama dan papaku lakukan dalam mendidikku untuk urusan agama.


Pagi ini karena hujan aku jadi bermalas-malasan di tempat tidur setelah sholat subuh tadi aku kembali tidur lagi.


Mumpung nggak ada si om nyebelin itu juga, biasa si om pasti menyuruhku selesai sholat subuh mengaji dan berzikir.


Sebenarnya itu juga yang selalu mama dan papa titahkan tapi kadang aku mau bermalas-malasan jarang melakukannya malah tidur lagi selepas sholat subuh.


Ya biar si om nyebelin itu diemin aku tapi tetep sih dia tak luput dari menyuruhku mengaji dan berzikir selepas sholat magrib dna subuh.


Bahkan sebelum ke Surabaya subuhnya dia masih menyuruhku tetap harus mengaji dan berzikir selesai menunaikan sholat subuh di kamar.


Ia tidak berbicara tapi menyodorkan Al Qur'an dan tasbih kepadaku, aku langsung faham akan maksudnya tersebut dan melakukannya tanpa juga berkata. Si om nyebelin itu memandorin kegiatan ibadahku tersebut hingga selesai jadi aku seakan tak bisa mengelak.


Sedangkan si om nyebelin itu sholat di mesjid dan pulangnya baru mengaji di rumah.


Hingga tak terasa waktu mulai masuk siang hari dan aku bergegas beberes kamarku dan ruangan lain sekitar lantai atas.


Setelah aku selesai beberes di setiap bagian dan ruangan atas dengan merapikan , menyapu dan mengepel lantainya. Aku bergegas mandi dan bersiap turun kebawah.


Selesai mandi aku berskincare terlebih dahulu setelah tadi aku sudah berpakaian, aku pun keluar kamar dan menuruni setiap anak tangga melangkah menuju dapur melihat mama mungkin di dapur.


Dan ya mama masih berkutat di dapur dengan bahan masakannya.


"Mah bade masak naon ayeuna?"


[ Mah mau masak apa sekarang ? ]. Tanyaku langsung setelah aku tiba di dapur.


"Masak iyeu wae lah neng." [ Masak ini aja lah neng ]. Mama menunjukkan apa-apa yang tergeletak di atas meja kitchen set.


Ku lihat ada ikan kakap dan bumbu gulai yang sudah mamah giling dalam blender khusus giling cabai serta rempah-rempah lain dan serta santan dan beberapa sayuran mentah.


"Neng sok atuh kamu sarapan heula , pan can sarapan kamu teh. Tuh mamah geus nyieun nasi goreng tingali di meja makan aya di balik tudung saji." [ Neng silahkan kamu sarapan dulu, kan kamu belum sarapan. Itu mamah udah bikin nasi goreng lihat di meja makan ada di balik tutup saji ] . Titah mama padaku , ya memang aku belum sarapan.


Aku pun sarapan terlebih dahulu dengan nasi goreng buatan mama dan aku juga membuat teh manis hangat, rasanya enak banget hujan-hujan gini minum teh manis hangat.


Lagian aku memang biasa sarapan itu minumnya teh manis hangat. Tak butuh waktu lama aku selesai mengahabiskan sarapanku dan mencuci piring dan gelas bekas sarapanku.


Kemudian kuraih kentang yang belum di kupas dan ku kupas kulitnya serta ku potong-potong sesuai selera, serta tempe juga ku potong-potong lebar untuk ku goreng tepung.


Setelah selesai membantu mama memasak lauk dan sayur-mayur aku bergegas mencuci beras untuk di masak di rescooker /magicom.


Hidangan makan siang kami kali ini telah selesai tinggal menunggu waktu makan siang sekitar 2 jaman lagi.


Nah si Mamah mengajak ingin bikin brownis kukus dan aku pun bersiap juga membantu mama untuk membuat brownis kukus tersebut.


Lumayan bisa buat goyang lidah di sore hari atau selepas makan siang hehe.


Dengan selalu membantu mama memasak dan bikin kue aku jadi cukup tau dan bisa. Saat aku dan kedua orang tuaku makan siang bersama mereka menanyai tentang kuliahku dan juga tentang si om nyebelin itu.


"Eneng kamu kan bentar lagi bakal ujian akhir semester dan setelah itu langsung menggelar acara resepsi pernikahan kamu dan si aa." Ya elah si mamah pake sebut si om dengan sebutan aa segala sih, udah jelas om om.


Aku masih saja sibuk dengan makananku sendiri.


"Terus rencana kalian apa nanti setelah resepsi kan jelas libur semester kan karena selesai ujian akhir semester. Apa kalian sudah merencanakan honeymoon." Lanjut mama berucap panjang kali lebar malah membahas honeymoon.

__ADS_1


Aku harus jawab apa? Mama dan papa kan benar-benar nggak tau pasti kenapa aku jadi bisa menikah dengan omnya si Vera yang nyebelin itu.


Aku berucap sambil masih sibuk dengan makananku.


"Belum tau Ma , Pa." Jawabku singkat.


"Loh kok bisa belum tau sih? Kumaha sih kamu Neng?" Heran si Mama.


"Ya soalnya si om juga pan belum ada bilang soal itu ke Lena mah." Aku menjawab apa adanya karena memang si om nyebelin itu belum ada bahas soalan yang di maksud mama perihal rencana honeymoon.


Kami menikah aja karena kesalahpahaman begimana ceritanya pake bahas soalan honeymoon yang ada kalau beneran honeymoon ntar aku tengdung beneran.


"Kenapa masih manggil om kamu Alena kepada suamimu? Harusnya jangan begitu kan bisa panggil aa pada Andra suami kamu seperti yang sudah mama kamu ajarkan tadi." Timpal papa.


"Belum terbiasa Pa." Jawabku lagi singkat sebenarnya aku malas banget bahas soal ini.


"Iya dibiasakan atuh neng." Seru Mama.


Aku hanya diam malas menjawab lagi.


"Oya Len udah bikin daftar nama-nama teman-teman dan para dosen atau siapa-siapa yang bakal kamu undang di acara resepsi pernikahan kalian nanti? " Aku melirik ke papa atas pertanyaannya barusan.


"Belum Pah, Lena bingung."


Asli aku memang bingung aku takut mereka teman-teman dan para dosen yang ku undang malah mikir yang negatif atas pernikahan aku ini yang bahkan menikah dengan om om.


Walau dikata om omnya ganteng dan terlihat masih muda tetep aja aku kefikiran akan hal-hal yang bisa saja mereka mengira aku hamil di luar nikah.


Karena yang mereka tau kan selama ini aku tidak pernah terlalu dekat dengan laki-laki apalagi pacaran.


Eh ujuk-ujuk malah menikah dan dengan om om yang tak lain omnya sahabatku.


"Kamu ini aneh kok bingung cepet dibuat daftarnya karena kata Abizar dalam beberapa hari ini kartu undangannya sebagian akan di anter kerumah kita. Biar segera ditulis nama-nama yang akan kita undang di kartu undangan dan langsung di sebar ke masing-masing tujuannya." Tegas papa.


"Iya Pa."


🍬🍬🍬


Waktu begitu cepat berlalu besok adalah hari terakhir aku ujian akhir semester di semester ini.


Dan sejak itu juga sampai detik ini si om nyebelin itu masih tetap diam tanpa menelpon maupun mengirim pesan ke applikasi hijauku dan si om nyebelin itu juga belum kembali lagi ke Jakarta.


Padahal sekitar 10 hari lagi adalah hari dimana akan digelar acara resepsi pernikahan aku dan si om nyebelin itu di salah satu hotel bintang 5 di kota ini.


Memang selama si om masih di Surabaya urusan ke WO / Wedding Organizer dilakukan oleh si nenek fashionable itu dan si kakek gagah itu. Aku disuruh fokus saja kepada ujianku.


Setelah aku menyelesaikan lembar ujianku hari ini aku langsung mengumpulkannya kepada dosen pengawas di mejanya dan berlalu pamit keluar ruangan kelas.


Karena siapa yang sudah menyelesaikan lembar jawaban wajib langsung kumpul dan meninggalkan kelas.


Aku pun malas beralama-lama di kelas jika memang sudah selesai lebih baik aku menunggu diluar kelas saja lebih bebas.


Aku pun segera ke parkiran mobil khusus mahasiswa untuk menuju mobilku, mengambil tas lain dan paperbag yang juga ku jadikan tempat kartu undangan resepsi pernikahanku.


Karena kartu undangan pernikahanku dan si om nyebelin itu berbentuk kotak persegi berdesain cantik nan elegant.


Sebenarnya itu kartu undangan lebih kepada pilihan si nenek fashionable itu tapi aku juga suka cantik dan elegan.


Di tambah di dalam kotak undangannya di hadiahi kipas lipat berukuran sedang berbahan kayu cantik yang berkwalitas untuk undangan atas nama rekan perempuan dan gantungan kunci dengan gantungan mainan mobil berukuran mini untuk undangan atas nama rekan lelaki , serta kalender mini di dalamnya dengan gambar foto akad nikahku dengan si om nyebelin itu.


Setelah aku mengambil kotak undangannya , aku berjalan menelusuri lorong kampus hendak ke kantor atau ruang dosen untuk menyerahkan kartu undangan pernikahanku tersebut.


Di dalam tas dan paperbagku sudah cukup banyak kartu undangan yang ku bawa khususnya untuk teman-temanku di kampus ini dan para dosen dan beberapa stafnya termasuk untuk rektor kampus ini.


Sisanya bisa kubagikan besok jika tak tak ketemu orangnya atau jika bisa di titipkan aku akan titipan ke yang bersangkutan saja.


Tok...


Tok...


Tok...


"Assalamu'alaikum."


"Wa’alaikumsalam." Serempak beberapa dosen yang ada di ruang dosen ini menjawab salamku dan menoleh arah pintu dimana aku berdiri.


"Eh Alena masuk nak, oya Alena ada perlu apa ya kemari?" Ucap salah satu dosen di dalam ruang ini yang sudah cukup berumur dengan stelan baju dinasnya di padu dengan jilbabnya dan kaca matanya, yaitu bu Darlina


dosen matakuliah akuntansi.

__ADS_1


"Ini bu Lena mau kasih undangan untuk ibu dan para dosen yang ada disini. Ini undangannya." Ucapku sambil mengeluarkan beberapa kartu undanganku dan mulai memberikannya sesuai nama yang tercantum di depan kotak undangan.


"Undangan apa ini Alena cantik banget kartu undangannya." Celetuk bu Desi yang juga dosenku.


"Masya Allah Alena mau menikah." Ucap bu Darlina setelah menerima kartu undangan dariku.


"Udah menikah toh bu kan lihat ni di dalam kotak undangannya barusan saya buka dan baca kalau Alena sudah melaksanakan akad nikah beberapa minggu lalu di rumahnya ya Alena ? " Celetuk bu Fatwa ternyata ia langsung membuka kotak undanganku setelah tadi menerimanya dariku.


Gercep banget sih si ibu dosen satu ini.


"Duh nikah muda dong Alena ya." Ucap pak Rakha salah satu dosen muda di fakultas kampus ini bahkan belum menikah.


Usianya memang masih 27 tahun sedangkan si om nyebelin itu yang sudah menyandang sebagai suami sah ku sudah berusiakan 33 tahun.


"Ya pak Rakha kapan jangan mau kalah dong sama Alena mahasiswinya." Kelakar bu Fatwa dan semua dosen di ruang ini pun tertawa termasuk pak Rakha sendiri.


"Ya Alena kan salah satu mahasiswi tercantik di kampus ini suaminya takut kali si Alena di ambil lelaki lain jadi nggak pake lama langsung di bawa nikah aja ya Alena?" Celetukan dari pak Edi yang juga dosenku.


"Bener juga tu pak." Timpal pak Rakha.


"Mereka cocok loh ganteng dan cantik." Timpal pak edi lagi.


"Rupanya suami kamu omnya si Vera ya Alena?" Sahut bu Desi.


"Iya bu." Jawabku singkat dengan senyum kikuk.


"Wah-wah jadi tantenya si Vera dong kamu Alena sekarang." Celetuk bu Fatwa kembali.


Aku hanya diam tak bicara hanya merespon dengan senyum yang kurasa kikuk.


Mereka pun para dosenku yang ada di ruang dosen ini mengucapkan selamat kepadaku dan mengucapkan akan hadir ke acara resepsi pernikahanku nanti.


Semoga tidak ada halangan katanya agar kami bisa datang dan semoga lancar resepsinya.


Begitulah kiranya celetukan-celetukan dari para dosen-dosenku yang ada di ruang dosen ini.


Aku hanya senyum ramah saja sebagai respon.


Sebagian undanganku ada juga yang ku serahkan dan ku mintai tolong kepada Vera untuk membagikannya agar lebih cepat selesai.


Setelah sebagian besar kotak undangannya ku bagikan baik kepada para dosen yang bersangkutan dan juga teman-teman kampusku.


Kini aku mencoba mencari kak Fandi kating aku di fakultasku, karena pas di dalam tasku yang tertinggal adalah kotak undangan atas nama Fandi Fabian.


Aku mencoba berjalan menuju ruang kelasnya dimana ia ujian ntah sudah selesai atau belum karena dia tidak satu jadwal bukan jam ujiannya.


Saat aku sudah di lantai 2 dan hampir sampai di ruang kelasnya aku sudah melihat kak Fandi ada dekat kelasnya di luar kelas.


Belum sempat aku memanggilnya kak Fandi sudah melihatku dan mulai berjalan ke arahku hingga akhirnya berada tepat di hadapanku.


"Alena mau kemana?" Tanyanya langsung saat kami sudah sama-sama berhadapan.


"Lena memang mau menemui kakak." Ucapku langsung setelahnya.


"Ada apa ? Apa ada yang bisa kakak bantu?" Tanyanya lagi lembut dan dengan senyum manisnya.


Kak Fandi memang ramah dan juga tampan serta berprestasi juga. Cukup banyak cewek-cewek kampus menyukai dan mengangguminya. Kalau aku jangan ditanya aku cukup kagum tapi nggak sampai bucin hanya kagum biasa saja.


"Alena mau menyerahkan ini kak jangan sampai nggak datang ya kak." Ucapku sambil menyodorkan kotak undangan tersebut yang sudah aku keluarkan dari dalam tasku.


"Undangan apa ini Alena?" Tanyanya setelah ia menerima kotak undangan tersebut.


Karena bagian luar kotak undangannya hanya tertulis nama yang di undang saja di bagian bawah kotak undangannya dan tidak ada gambarnya sama sekali hanya kotak berbahan cukup tebal dibalut kain warna sutra ungu dengan pita berwarna ungu muda/soft di lilit dibagian tengah di depan tutup kotaknya yang beri bros berkilau di tengah pitanya membuat kotak undangannya terlihat semakin cantik dan elegan.


"Coba kak Fandi buka dulu kotak undangannya!" Pintaku sedikit ragu.


Ku lihat kak Fandi terkejut hingga kedua matanya terbelalak


setelah ia membuka dan mengangkat ganci dan kalender mini yang terdapat di dalam kotak undangan lalu melihat ke dalam kotak undangan tersebut yang tertera jelas pertama kali tulisan nama si om nyebelin itu dan namaku terpatri cukup besar dan bagus di atas kertas undangan resepsiku.


"Kamu mau menikah Alena?" Tanyanya lagi dengan tatapan matanya mengarah ke mataku cukup tajam.


Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Sedangkan kak Fandi malah mengelengkan kepalanya


Dan berkata dengan lirih namun aku tetap bisa menangkap ucapan lirihnya tersebut. "Ini nggak mungkin."


🍬🍬🍬


Bersambung..

__ADS_1


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰


__ADS_2