
Mobil Fortuner GR-Sport baru warna black milik Andra mulai meninggalkan rumah duka malam ini di pukul 10 malam. Malam ini pun tiba-tiba turun hujan saat kendaraan roda 4 yang di kemudi Andra serta di tumpangi Alena melaju dengan kecepatan sedang yang masih di sekitaran jalan Jakarta.
Tiba-tiba ada yang mengahadang perjalanan mereka saat masih di pertengahan jalan pulang. Di depan mobil mereka telah ada mobil Jeep Wrangler berhenti mendadak. Seketika itu jelas membuat Andra harus mengerem mobilnya secara tiba-tiba. Otomatis hal itu pun membuat Andra menyergitkan keningnya dengan mata memicing menelisik di belakang kemudinya.
Andra membunyikan klakson mencoba memberi intruksi, agar mobil dihadapannya segera memberinya akses jalan untuknya. Akan tetapi pengemudi mobil tersebut tidak menggubrisnya, mobil tersebut tetap diam pada posisinya. Dengan gerakan cepat dan tanpa mematikan mesin mobil Andra pun langsung membuka pintu lalu turun dari mobilnya, hendak menghampiri mobil tersebut meski harus menembus hujan.
Di saat Andra akan menuju mobil Jeep Wrangler berwarna hijau army yang menghadangnya itu. Semua orang yang ada di dalam mobil itu malah keluar dengan membanting pintu secara kasar dan keras. Mereka pun sama tak menghiraukan hujan yang tengah turun malam ini.
Semua yang keluar dari dalam mobil tersebut baik dari pintu depan 2 orang , dari pintu tengah 2 orang dan pintu belakang juga 2 orang semua adalah para lelaki dengan 4 orang berbadan besar dan kekar. Lalu sisanya berbadan standart sebagian besar dari mereka berpakaian hitam dan berjaket hitam dengan gaya seperti preman dan berwajah sangar-sangar.
Tapi Andra berusaha tenang sedangkan Alena yang melihatnya dari dalam mobil berbanding terbaling , Alena merasa panik serta takut dalam diam.
Tanpa aba-aba salah satu dari mereka yang berkepala plontos dan berada di bagian depan mulai melayangkan pukulannya ke arah Andra. Namun, dengan sigap Andra menghindar akan tetapi si lawan tak langsung diam ia kembali melanyangkan pukulannya ke arah Andra.
Andra pun dengan sigap menangkisnya dan malah ia yang menghadiahkan satu pukulan ke wajah lelaki berkepala plontos itu. Lelaki berkepala plontos itu masih tak tinggal diam ia masih berusaha menyerang Andra, begitu juga teman-temannya mulai ikut menyerang Andra.
Mereka benar-benar mengeroyok Andra di tengah-tengah hujan, Andra masih terus melawan dan berusaha melumpuhkan lawan-lawannya yang jelas terbilang banyak itu. Karena Andra hanya seorang diri sedangkan sang lawan berjumlah 6 orang.
Andra memang cukup bisa melawan mereka, karena Andra memang memiliki keahlian bela diri taekwondo yang pernah ia pelajari sejak SMA sampai kuliah dulu. Hingga ia pernah meraih 'Black belt' dalam latihan taekwondonya kala itu.
Alena masih diam memerhatikan dari dalam mobil dengan perasaan cemas dan takut tak karuan. Di kala itu juga seketika beberapa dari mereka beralih ke mobil Andra. Tanpa di duga pun 2 orang lelaki berbadan kekar dengan rambut gondrong dan cepak itu mulai mengedor-gedor kaca mobil serta membuka paksa pintu mobil yang menampakkan keberadaan Alena di dalamnya.
Mereka terus mengetukan kacanya kuat dan membuka paksa pintunya, walaupun jelas pintu itu dikunci dari dalam.
Tokk...
Tokk...
"Buka Woi!"
Suara yang nyalang dengan tatap nyalang juga ke arah Alena yang berada di dalam mobil, dengan wajah perasaan takut. Alena refleks mengeleng kuat beberapa kali sebagai tanda penolakan atas lontaran 2 lelaki tersebut dari balik kaca mobil. Andra yang melihat sekilas ke arah dimana Alena berada jelas menjadi cemas dan memecahkan konsetrasinya dalam melawan dan membantai lawan-lawannya.
Hingga Andra malah tersungkur ke aspal basah itu , penampilannya yang mengenakan kemeja putih polos dan celana bahan berwarna hitam serta sepatu pantofel kini semakin berantakan akibat perkelahian tersebut.
Tadi siang menjelang sore setelah menjemput Alena di kampusnya mereka langsung menuju rumah duka untuk melayat hingga tak pulang dan ikut dalam sesi pemakaman dan tahlilan selepas bada isya sampai selesai.
Andra yang tersungkur ke aspal pun segera bangkit dan menuju ke arah dimana Alena berada, ia memberi serangan kepada 2 lelaki yang mencoba menganggu Alena.
Menarik bahu salah satu dari mereka dan melayangkan bugeman ke wajahnya, lalu memberi tinju di perutnya dan melakukan hal yang sama kepada lawannya yang satunya lagi dengan di akhiri mengangkat badan lawannya ke punggungnya lalu menghantamnya ke aspal dengan kuat.
"Apa mau kalian?" Tanya Andra dengan tatapan nyalangnya.
__ADS_1
Napasnya memburu akibat pertarungan yang baru beberapa menit, tapi terasa sudah berlaku cukup lama karena lawannya yang terbilang banyak dan berbadan besar dan kekar itu.
Walaupun badan Andra terbilang berotot aslinya dan memiliki ahli bela diri. Namun, lawannya ini tak bisa ia anggap remeh apalagi dengan jumlah 1 banding 6 fikirnya pun begitu.
"Kami hanya butuh nyawa mu orang sombong." Lantang lelaki berkepala plontos itu dengan sorot mata melotot tajam seperti bulatan jengkol.
Andra tertawa remeh dengan tatapan elangnya. "Siapa yang menyuruh kalian hah?" Cercanya kembali nyalang.
"Bukan urusan lo, udah jangan banyak bacot lo. Kami akan mengirim lo ke neraka sekarang juga." Lelaki berkepala plontos itu kembali menyerang dan kawannya yang tadi sempat di banting ke aspal oleh Andra pun kembali akan menyerang Andra begitupun yang lainnya.
Andra tetap sigap melawan mereka dengan tenaga yang masih terjaga. Mereka pun sebagian mulai lemah , akan tetapi tiba-tiba saat Andra akan menyerang lawan lainnya yang masih berusaha menyerangnya. Ternyata lawannya yang satu ini mengeluarkan sebuah pisau sejenis belati dengan ukuran saku.
Pisau itu mulai di arahkan ke Andra tepatnya hampir menyerempet leher Andra, tapi Andra masih sigap menghindarinya. Hingga pisau tersebut mulai lagi di arahkan oleh pemegangnya untuk menyerang Andra, kedua tangan Andra menopang besi pisau itu tepat di hadapan wajahnya.
Agar pisau tersebut tak menancap atau tak melukai wajah serta bagian tubuhnya yang lain, akan tetapi malah melukai telapak tangan kanan Andra bagian dalam. Karena tangan kanannya yang langsung bersentuhan dengan besi tajam pisau itu.
Dengan gerakan cepat dan kuat Andra mendorong lawannya dengan kedua tangannya masih memegang besi pisau itu, punggung sang lawanpun akhirnya jatuh ke aspal Andra pun menarik pisau itu dan melemparnya ke sembarang tempat setelah sebelumnya ia memelintir pergelangan tangan kanan lawannya yang tadi memegang pisau itu.
Empat orang dari lawannya sudah mulai lumpuh dan 2 lagi juga sudah sedikit oleng tapi masih berusaha menyerang Andra. Hingga ntah mengapa tiba-tiba datang mobil lain sejenis Hardtop klasik berwarna abu-abu.
Mobil tersebut berhentin tepat di belakang mobil Andra lalu keluarlah 2 orang lelaki berjas hujan dengan warna biru gelap yang menutupi kepala dan tubuh mereka. Wajah keduanya pun nyaris tak terlihat mereka berjalan tenang dengan kepala sedikit menunduk.
Napas Andra naik turun akibat pertarungan tersebut, energinya cukup terkuras. Peluhnya pun telah bercampur dengan air hujan yang malah turun semakin deras di tambah telapak tangan kanannya yang masih mengalirkan darah segar. Mata elang Andra menatap ke arah Alena berada, ia pun bergegas melangkah kesana.
Andra kini telah tiba di depan pintu dimana Alena berada menatap ke arah Alena dan mengetuk kacanya, hingga Alena pun menoleh ke arahnya lalu membuka kunci pintu mobil tersebut dari dalam. Andra pun langsung membuka pintu tersebut.
"Kamu baik-baik saja kan Alena?" Alena langsung berhamburan memeluk Andra dari tempatnya duduk dengan pelan ia mengangguk.
Andra yang tadi melihat jelas raut wajah Alena yang masih begitu ketakutan itu dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Baju saya basah Alena, sudah nanti kamu ikutan basah." Alena tak menghiraukan ucapan Andra, ia masih memeluk erat Andra.
Andra pun dengan ragu membalas pelukan Alena dengan mengusap-usap punggung Alena lembut, menggunakan tangan kirinya yang tak terluka. Sedangkan tangan kanannya yang terluka itu ia biarkan tanpa menyentuh, ia mencoba mengalirkan ketenangan untuk sang istri yang saat ini dalam mode ketakutan.
Pelukan mereka pun terurai setelah beberapa menit.
"Sudah tenanglah jangan takut semua baik-baik saja, ayo kita pulang sekarang." Ucap Andra lembut sambil menatap kedua manik indah itu yang masih memancarkan ketakutan.
"Tapi salah satu tangan Om terluka. Bagaimana itu ? Pasti sakit sekali." Ucap Alena menatap telapak tangan Andra yang masih terus mengalirkan darah segar, dengan nada sedih dan rasa khawatir.
"Sudah jangan khawatirkan ini, saya masih bisa tahan dan bisa nyetir kemudi. Tolong ambilkan dasi saya yang ada di balik jas saya itu Alena." Dengan sigap Alena berbalik ke arah kursi kemudi yang di balik kursi itu tersampir jas kerja Andra dan ia langsung mengambil apa yang di minta Andra barusan.
__ADS_1
Alena yang faham maksud Andra meminta dasinya tapi juga ragu, mencoba bertanya sebelum ia mempraktekkan.
"Apa om akan menggunakan dasi om ini untuk membalut luka om itu sementara?" Alena memperlihatkan dasi tersebut ke pendapan Andra.
Andra mengangguk, lalu tangan Alena meraih tangan kanan Andra dan langsung membalut telapak tangan Andra dengan dasi tersebut. Andra hanya diam sambil memerhatikan hal yang dilakukan Alena kepadanya.
Alena masih menunduk karena sedang fokus membalut telapak tangan Andra, dengan posisi Andra yang masih tetap berdiri di hadapan Alena yang duduk di kursinya sambil memerhatikannya.
Tanpa mereka sadari 2 lelaki berjas hujan tadi yang sempat bersembunyi di bagan mobil Andra yang memang tak terlihat oleh Andra. Karena pun Andra fokus melihat ke arah Alena berada.
Dengan gerakan cepat salah satu dari mereka sudah berada di balik punggung Andra. Sesaat setelah luka itu terbalut sebelah bahu Andra di tarik paksa untuk menghadap ke arah lelaki berjas hujan itu, separuh wajahnya ternyata di tutup oleh masker berwarna hitam.
DORRR...
Satu letukan suara tembakan itu terdengar cukup jelas di iringi suara hujan yang deras ini.
DORRR...
Kembali tembakan itu terdengar. Refleks Andra memegang perutnya yang tertembak itu dengan tangan kirinya, ia mata elangnya mendelik akibat perihnya tembakan itu yang terjadi hingga 2 kali tembakan di tempat yang sama.
Alena yang menyaksikan dan mendegar letukan itu pun tak kala mendelik karena terkejutnya hingga bibirnya mangganga sedikit.
Andra pun seketika langsung terjatuh ke aspal dengan sendirinya, matanya mulai berkunang-kunang. Seakan kegelapan akan datang , ia menatap dengan tatapan kosong ke arah lelaki berjas hujan itu dan sekilas ia melihat tak jauh dari sana pun terlihat lelaki yang berpenampilan sama seperti dihadapannya tersenyum devil dari balik masker wajahnya.
Alena langsung bangkit dari duduknya dan turun untuk berhambur ke arah dimana Andra sudah terlihat tak berdaya.
"Om jangan mati, om?" Alena berucap sambil memangku kepala Andra dan memeganginya.
Andra tak dapat berucap hanya bisa menatap kosong ke arah Alena, yang kini kedua manik Alena telah mengalir deras air mata membasahi wajahnya.
Alena dapat melihat begitu banyak darah segar mengalir dari perut Andra dan juga mendengar suara kesakitan Andra saat ini akibat luka tembak itu. "Om bertahanlah kita akan ke rumah sakit, om jangan mati ya." Suara Alena bergetar dengan derai air mata.
Hingga akhirnya mata elang Andra pun tertutup rapat dan badannya pun terkulai lemas. Hujan pun masih deras dan membasahi mereka.
🍬🍬🍬
Bersambung...
Apakah Andra akan mati ?..🤔😥
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰
__ADS_1