TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 60A


__ADS_3

POV ANDRA.


"Sayang, saya tau saya salah. Tolong maafkan saya." Tuturku memohon pada Alena, ia masih setia membelakangi ku dan tidak mau berucap apapun padaku.


"Apakah masih ada yang sakit? Atau beri tau saya apa yang harus saya lakukan untuk menebus kesalahan saya yang fatal itu?" Aku mencoba berucap lagi dengan penuh kelembutan, minimal membujuknya agar ia tidak mengabaikanku seperti ini.


"Sayang, tolong maafkan saya." Seruku lagi.


"Alena pengen sendiri, plis tinggalkan Alena sendiri Mas." Aku merasa hatiku diremas saat Alena memintaku pergi dari sini tepatnya dari dirinya.


"Tapi sayang__"


"Alena mohon Mas, biarkan Alena sendiri dulu. Jangan paksa Alena, setidaknya untuk saat ini Mas." Ia masih membelakangi ku.


Sungguh kata 'paksa' yang keluar dari mulut Alena semakin membuatku merasa tertampar dan bersalah akan kejadian tadi malam saat kegilaanku tidak bisa terkendalikan efek obat sialan itu. Aku menghela nafas berat, serasa sesak di dada ku semakin terasa saat ini.


Aku bangkit dari dudukku. "Baiklah saya akan pergi dari sini, mungkin saat ini kamu memang butuh sendiri atau tepatnya tanpa saya. Tapi jangan terlalu lama sendiri dan mengabaikan saya, Alena."


Tidak ada sahutan lagi dari Alena, aku pun dengan berat hati harus melangkah keluar dari kamar rawat VVIP ini. Membiarkan istri tercintaku menenangkan diri dulu tanpa aku, itu pun atas kemauannya bahkan lebih kepada paksaannya.


Aku sudah keluar dan mendudukan diri ku di salah satu kursi tunggu yang berbahan besi yang tersusun 3 kursi menyatu, yang selalu tersedia tepat di sebelah pintu masuk dan keluar kamar rawat VVIP ini.


Ku senderkan leherku ke kepala kursi dan menatap langit-langit disana, ini masih pukul 6 pagi. Kedua orang tuaku selepas sholat subuh tadi mereka pulang sejenak kemungkinan nanti pagi menjelang siang baru akan kembali lagi ke sini dan saat orang tuaku pulang Alena belum siuman. Sedangkan mertua ku belum datang mungkin sebentar lagi.


Selepas menatap langit-langit aku meraih iphoneku dari balik jaket ku, aku akan mengabari orang tua Alena kalau Alena sudah sadarkan diri. Agar mereka segera datang dan menemani Alena, aku tidak tega jika Alena sendirian di saat ia masih sakit dan lemah begitu.


Aku pasrah apapun yang akan Alena sampaikan kepada orang tuanya nanti, karena aku pun memang bersalah. Soal mereka yang menjebakku akan aku usut tuntas penjebak itu dan sekutu-sekutunya. Harusnya aku yang jadi korban tapi ini malah Alena istri tercintaku yang menjadi korban pada akhirnya.


____


Back To Alena.


Aku menangis dalam diam dan tanpa mau di ingat kembali terbayang, bagaimana si om suami melakukan percintaan itu padaku secara kasar dan tanpa henti. Awalnya aku nyaman dan menikmatinya malam itu bahkan membuat ku terbuai dan melayang , hingga nafsu kewamitaanku juga keluar seperti biasanya. Jika kami sedang melakukan kegiatan bercinta itu bersama.


Sampai kami juga merasakan pelepasan bersama-sama dengan nikmatnya. Tiba-tiba saat si om suami melanjutkan permainan keduanya tanpa jeda dan kembali ia mencapai kepuasannya dan pelepasannya. Namun, aku malah merasa tak nyaman, apalagi menikmati setiap sentuhannya seperti biasa. Hal itu mulai aku rasakan di saat permainan keduanya hingga ntah mencapai ke permainan keberapa yang ia lakukan terus tanpa jeda dan ia semakin bergairah dan mengebu-ngebu.


Aku sampai tak bisa mengimbanginya dan malah merasakan tersiksa karena kesakitan diarea sensitifku hingga terasa juga sakit di perut bagian dalam ku, sakit sekali semakin lama kurasa saat ia terus mengukungku dalam gairahnya yang begitu tidak seperti biasanya.


Rasanya saat itu si om suami seperti bukan dirinya dan aku seperti bukan sedang bercinta dengan suami ku. Perlakuannya dalam bercinta kala itu sungguh berbeda dan begitu menggila, tapi aku malah tidak menikmatinya karena sakit yang tiba-tiba muncul, di tambah gairahnya yang seperti dan semakin kesetanan.


Aku yang sudah berusaha mengiba agar suamiku menghentikan permainannya, tapi ia tidak perduli seakan tuli dan membutakan kedua matanya. Yang jelas pasti ia cukup mendengar rintihan kesakitanku , walaupun aku berucap dengan lirih dan di iringi cairan bening itu jatuh membasahi pipiku.

__ADS_1


Mengingat itu kembali aku malah merasa takut, ya takut si om suami melakukannya dengan kasar kembali seperti kemarin.


Ceklek..


"Assalamualaikum." Suara Mama memberi salam


kini memasuki kamar rawat inap ini, bersamaan dengan Papa.


Aku langsung berusaha berbaring dengan posisi sedikit duduk menyandar pada bantal dan mengahadap ke depan, tidak lagi menyamping. Ku buat mimik wajahku sebaik mungkin.


"Alhamdulillah kamu teh udah siuman Neng." Seru Mama saat sudah tiba tepat di hadapan ku berama Papa.


"Gimana sekarang keadaan kamu Nak?" Papa bertanya.


"Lumayan baik Pa."


Tokk..


Tokk..


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." Balas ku dan kedua orang tuaku.


Ibu dokter itu juga di dampingi 2 orang perawat berhijab juga disana, dan di belakang mereka aku melihat lelaki tampan yang sangat aku kenal. Lelaki itu jelas si om suami, ternyata ia ikut masuk juga aku acuh tak acuh saja padanya


"Ya dok, silahkan." Mama berucap ramah.


"Selamat pagi bu Alena." Sapa bu dokter berhijab itu padaku saat ia sudah tepat di hadapanku.


"Pagi dok." Balasku lirih.


"Alhamdulillah ya sudah siuman. Tapi sepertinya lebih cocok saya panggil mbak Alena ketimbang ibu, soalnya masih terlihat muda seperti anak saya yang paling besar." Tutur sang dokter ramah dengan senyuman.


Ibu dokter yang ku lihat name tag di jas putihnya bertuliskan Hj. dr. Amira. SpOG. Dokter tersebut pun langsung memeriksaku dengan stetoskopnya dan kembali sang dokter berucap.


"Oo, maaf ya saya coba periksa dulu. Coba sibak sedikit bajunya ya mbak Alena." Seru sang dokter yang ku jawab dengan anggukkan dan sang dokter itu menyibak sedikit bajuku, lalu memegang lembut bagian kulit perutku sedikit di tekan beberapa kali.


"Bagaimana keadaannya mbak Alena apa ada yang masih terasa sakit di area perut atau maaf bagian **** * nya?" Tanya sang dokter hati-hati masih dengan ramahnya.


Aku mengeleng sebagai jawaban.

__ADS_1


"Kalau ada keluhan kiranya nanti segera kabari saya, mbak Alena juga harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memaksimalkan kesehatan mbak pasca pendarahan ya mbak Alena."


"Baik , dok." Jawabku singkat.


"Tadi suami mbak Alena yang melaporkan langsung kepada saya kalau mbak Alena sudah siuman. Suaminya perhatian banget ya, mana tampan lagi suami mbak Alena ini kayak aktor korea hehe." Sang dokter berceloteh dengan sesekali diakhiri kekehan kecil, sambil masih terus memeriksa ku dengan beralih memeriksa tekanan darahku di bantu 2 perawat tadi.


Aku hanya diam saja mendengar celotehan sang dokter berhijab tersebut, eh napa harus bahas tentang si om suami sih ne bu dokter. Sedangkan orang yang disebutkan tadi hanya menunduk diam tanpa expresi.


"Nanti setelah sarapan jangan lupa di minum obatnya, yang sudah di siapkan oleh sang perawat ya mbak Alena. Nanti juga saat waktunya minum obat dan makan, obatnya akan di siapkan dan di antar kembali oleh sang perawat begitu juga makanannya. Agar setelah makan baru minum obat ya mbak Alena." Kembali sang dokter bersua.


Obatnya terlihat di dalam sebuah cawan kecil dan mungil, yang di tutupi dengan plastik bening yang menempel atau merekat di setiap sisi cawannya. Sepertinya itu memang tempat khusus obatnya dari RS ini, lucu dan ngemesin lihat tampilannya begitu yang di letakan di atas nakas.


"Oke, kalau begitu kami permisi ya mbak, ibu dan bapak dan Pak Andra." Pamit sang dokter sambil melangkah menuju pintu.


"Terima kasih ya dok." Seru Mama ramah.


Kemudian. "Terima kasih banyak ya dok." Kali ini dari suara deep voice yang tak lain adalah suara si om suami, yang sesungguhnya bisa membuat hati wanita mana saja bergetar atau klepek-klepek.


Hanya dengan mendengar suaranya saja , apalagi wajahnya yang memang tampan. Namun, kali ini rasa sakitku kembali mendominan jika mengingat kelakuannya semalam padaku.


Sang dokter berhijab itu beserta 2 perawat itu pun keluar dari kamar rawat VVIP ini.


"Mas bukannya tadi kamu bilang ada urusan penting di kantor kejaksaan pagi ini ya sudah pergi saja, kan sudah ada Mama dan Papa disini." Ku lihat matanya sedikit mendelik kaget atas penuturanku, namun si om suami langsung bersikap biasa kembali dan berkata.


"Ah iya, Ma, Pa bisa saya titip Alena dulu." Serunya.


"Iya, bisa Nak Andra." Ujar Papa dengan dengan senyuman.


"Maaf ya Pa , Ma jadi merepotkan?"


"Tidak masalah, Alena kan anak kami dan kamu Ndra mungkin sedang tidak bisa meninggalkan begitu saja urusan pekerjaan kamu. Jika memang sudah penting dan tidak bisa ditinggal." Kembali Papa yang berucap.


"Iya, terima kasih ya Pa , Ma. Saya pamit dulu." Si om suami pun menyalami kedua orang tuaku takzim.


Lalu beralih mendekat padaku ia mencium keningku lembut, aku mengalihkan pendanganku ke arah lain. Rasa kesal ku yang seperti rasa benci ini masih begitu kuat kurasa padanya. Dengan terpaksa juga aku meraih pungung tangan kanannya dan menciumnya takzim.


"Saya pergi dulu ya sayang, maafkan saya." Ucapnya lembut dan pelan sambil menatap ku yang aku hanya diam acuh tak acuh dan, tanpa menjawabnya.


Kini ia pun menghilang dari balik pintu, aku tak tau apa dia akan ke kantor atau kemana aku tak perduli. Apalagi akan ke kantor kejaksaan atau nggak hari ini, karena yang ku ucapkan tadi hanyalah karanganku saja. Agar ia segera enyah dari hadapanku.


🍬🍬🍬

__ADS_1


Bersambung...


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰


__ADS_2