TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 65


__ADS_3

POV ANDRA.


"Kau tak bisa pergi dari sini hidup-hidup Andra." Sesaat aku baru saja selesai melepas tali ikatan dari kedua tangan Alena dengan sempurna.


Dony datang dan berada di sisi sebelah tubuhku yang masih berjongkok dengan ujung pistol yang ia todongkan tepat di sebelah kepalaku. Aku bisa melihat itu dari ekor mataku dan merasakan ujung pistol itu berada di samping kepalaku.


Sepertinya Dony benar-benar berniat sekali ingin membunuhku. Aku masih terdiam di posisiku hendak berusaha untuk bisa melepaskan diri dari todongan pistol itu. Namun, aku harus hati-hati dan tidak boleh gegabah. Karena kalau aku gegabah bisa saja usahaku untuk menyingkirkan senjata api itu dari kepalaku akan gagal dan malah sebaliknya meleset menembak ke dalam kepalaku.


"Kali ini kau tak akan bisa mengelak Andra, segesit apapun ilmu dan gerak bela dirimu kalau sudah benda ini ku lepaskan pelatuknya ke arah mu. Jelas kau akan lumpuh bahkan mati seketika." Ucapnya dengan nada sombong dan juga mencemoohku.


Seperkian detik tanpa menunggu lagi kedua lenganku menarik lengannya yang menodongkan ujung pistol itu ke kepalaku, menjatuhkannya tepat ke atas lantai di sisi sebelahku. Memelintir pergelangan tangannya sampai berbunyi. 'KRETT'.


"Arrgghh.." Rintihan kesakitan Dony terdengar, saat aku memelintir sebelah pergelangan tangannya itu.


Lalu aku menarik cepat pistol itu dari genggamannya dan melemparkan senjata api itu ke sebarang arah.


Prakk..


Melepas kasar tangannya yang baru saja ku lumpuhkan sementara, agar ia tak berulang lagi setidaknya untuk kali ini. Tiba-tiba datang beberapa gerombolan lelaki dengan gaya preman dan sebagian di dominasi lelaki berbadan tegap. Sebelum mereka sampai ke arah ku, ku langsung bangkit berdiri sempurna hendak mengahalau mereka semua yang berjumlah 4 orang banyaknya.


Mereka tidak bertangan kosong 2 orang dari mereka masing-masing membawa benda panjang seperti tongkat pemukul bola kasti, dan 2 orang sisanya membawa senjata tajam , seperti pisau belati.


Saat salah satu dari mereka mulai menyerang aku pun menangkis tangannya yang memegang tongkat kasti itu, agar tidak memukul ke arahku. Berlanjut 3 orang lainnya juga kini mulai menyerangku.


Sedangkan Dony ku lihat dari ekor mataku masih terdiam santai dengan posisi berdirinya. Dony sungguh seperti penonton yang sedang serius dan asyik menonton film actions, ke arah ku dan 4 orang yang menyerangku. Aku masih terus bertarung memerangi 4 orang suruhan Dony.


Kini 2 lelaki yang menyerangku dengan pisau belati sudah ku lumpuhkan, sedangkan sisanya yang 2 orang lagi kini salah satunya sudah ku singkirkan tongkat pemukul kastinya dari genggamannya. Tapi yang satunya lagi masih erat memegang tongkat kasti itu dan masih gigih untuk memukulku dengan benda keras itu.


Kali ini aku tarik tongkat kasti itu dengan kuat dari sisa tenagaku yang masih tersedia, akhirnya tongkat kasti itu bisa ku rebut dan ku buang ke sembarang arah. Aku memang tidak suka melawan atau berkelahi dengan memakai senjata baik itu senjata tajam, senjata tumpul apalagi dengan cara licik menggunakan senjata api.


Pantang bagi ku melakukan hal yang melewati batas, apalagi kalau aku masih bisa membela diri dan melawan dengan tangan kosong ku dan tenaga serta ilmu bela diriku yang sudah bertahun-tahun aku kuasai.


Aku langsung melayangkan bogeman ku ke lelaki berbadan besar dan kekar itu , lelaki itu tidak mau kalah ia pun mencoba melayangkan tinjunya ke arah wajahku. Tapi dengan gerak cepat tanganku menangkisnya lalu mendorongnya dan menendang perutnya hingga lelaki berbadan besar itu akhirnya bisa terjerembab ke lantai hingga beberapa jarak dari posisiku.


Sedangkan lelaki satunya lagi siap melayangkan tendangannya ke arah samping tubuhku berada, kembali dengan sigap badanku berputar dan menahan kakinya dengan kedua tanganku. Lalu aku melepas begitu saja kaki lelaki tersebut hingga ia jatuh dan kakinya membentuk gerakan split.


Di sisi lain saat Andra masih terus melawan 2 orang lagi dari orang-orang suruhan Dony, Alena yang tadinya masih terduduk menyandar tanpa ikatan di kedua tangannya. Kini kembali kedua tangannya di ikat ke belakang kursi oleh Dony begitu juga bibirnya kembali di ikat secara kasar dan asal oleh Dony , menggunakan kain.


Karna perlakuan Dony barusan kepada Alena, pada akhirnya kini Alena pun terbangun dari sadarnya. Tadi Alena sempat tak sadarkan diri akibat di cambuk oleh Dony menggunakan sabuknya dengan kuat, hingga beberapa kali pada tubuh Alena.


Alena bergerak perlahan membuka mata dan mulai mengangkat kepalanya, sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya dan juga rasa lemas yang teramat lemas.


"Mas Andra." Lirihnya, saat Alena sudah mengangkat kepalanya dan di seberang ia melihat Andra sedang melawan 2 orang yang berbadan kekar menyerang suaminya itu.


"Akhirnya istri temanku sudah sadarkan diri, bagaimana seru bukan game kali ini?" Seru Dony dengan nada santai yang berada balik badan Alena.


Sontak Alena menolehkan kepalanya sebisa mungkin ke arah belakang melihat sejenak sosok yang sangat ia benci itu, sejak ia di sekap dan di siksa disini oleh lelaki tampan itu. Tapi aneh bahkan mengerikan serasa bak spikopat.


Tiba-tiba dari arah belakang saat Andra sudah melumpuhkan satu lawannya, lawan yang satunya lagi sigap meraih tongkat kasti yang tadi sempat di rebut dan di lempar asal oleh Andra. Kini tongkat kasti itu hendak memukul punggung Andra yang membelakangi lawannya yang membawa dan siap memukulnya dari belakang.


BUGH..


Andra tersentak kaget saat merasakan pukulan kuat dari arah belakangnya, tepatnya di punggungnya yang di pukul oleh benda keras itu. Belum sempat Andra menoleh dan menghindar, kembali benda itu memukul tubuhnya dengan kuat.


BUGH..


Kali ini tepat hantaman itu mengenai tengkuk leher Andra, lalu beralih ke kaki kanan Andra.


BUGH..

__ADS_1


Kemudian ke perut bagian pingang Andra.


BUGH..


Alena yang melihat itu dari seberang tak jauh dari posisi Andra yang teraniaya, menggeleng-geleng kepalanya tanda tidak terima dengan apa yang di alami suaminya saat ini. Ia pun berusaha berontak untuk melepaskan diri dari kursi dan ikatan di kedua tangannya di belakang.


Namun , tak ada perubahan berarti dari tindakannya untuk bisa melepas ikatan di kedua tangannya itu. Alena pun rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya untuk meminta tolong.


Tapi apa dayanya mulutnya pun terkunci oleh kain yang mengikat di wajahnya secara kuat. Alena hanya bisa terdiam sambil meneteskan air mata dengan perasaan pilu dan sesak di dadanya, saat ia harus melihat suaminya di perlakukan tidak adil oleh orang suruhan Dony.


Dony menyungingkan senyuman kesenangan, karena melihat Andra kini hampir tak berdaya. Kini Andra merosot ke bawah dengan kedua lututnya bertekuk dan menyentuh lantai kotor dan berdebu itu dengan ekspresi yang terlihat jelas melemah dan menahan sakit.


Kembali Alena berusaha mencoba melepaskan ikatan itu sambil tubuhnya bergerak-gerak hendak menghampiri sang suami di depannya sana.


"Hei kau mau kemana?" Sergah Dony sambil berjongkok dihadapan Alena, menghadang kursi yang Alena duduki.


Alena menggeleng-geleng kuat dengan air bening itu yang terus mengalir keluar dari tempatnya. Dony menyentuh wajah Alena berusaha sok menghapus air mata yang berjatuhan di wajah cantik Alena yang kacau. "Jangan menangis honey, jika suamimu itu mati. Tenang aku yang akan mengantikan posisinya " Imbuh Dony percaya diri dan tak tau malu.


Sedangkan Alena menggelengkan kepalanya dengan kuat , dengan maksud menepis tangan sial*n itu agar tak menyentuhnya lagi. Tapi lagi-lagi ia gagal dan tak semudah itu menyingkirkan tangan itu disaat posisinya tak berdaya seperti ini.


Lirih-lirih Andra mendengar perkataan Dony hingga Andra menoleh ke arah dimana Dony berada, yang kini lelaki brengs*k itu berada tepat dihadapan sang istri sambil tangan kanan Dony mengelus wajah sang istri.


Justru itu menyulut emosi Andra kembali setelah tadi sempat redam, dengan gerakan cepat tapi tertatih-tatih Andra bangkit dan melangkah menuju dua orang tersebut. Namun, kembali lawannya yang tadi memukulnya hendak melayangkan pukulan kembali ke tubuh Andra dengan menggunakan tongkat kasti itu.


Tapi kali ini Andra tak lengah lagi ia berbalik menghadang tongkat kasti yang akan menyentuh tubuhnya kembali, menarik kuat tongkat kasti itu dengan sisa tenaga yang Andra usahakan tetap ada. Melempar tongkat kasti itu kembali dengan asal lalu menendang kuat perut lawannya dengan kaki kanannya.


Kemudian melayangkan tinju bertubi-tubi tanpa henti ke wajah lawannya itu, hingga sang lawan kewalahan dan tidak bisa berkutik lagi, apalagi melawannya. Kini lawannya telah lumpuh, Andra pun segera menuju sang kawan yang kini telah menjadi lawan baginya.


Bukan tanpa alasan kini mereka menjadi lawan, tapi karena sikap kawannya yang ternyata berkepribadian jahat dan picik. Bahkan kini berani menyentuh istri tercintanya hingga berani menculik dan menyiksanya.


Andra menarik kerah baju Dony lalu tanpa aba-aba. 'BUGH' ...BUGH...BUGH..BUGH.. Bukan emosi Andra saja yang kini memuncak, tapi tenaga Andra pun kini sudah kembali.


Bahkan lebih kuat dan lebih sangar dari sebelumnya, sampai-sampai Andra terus menerus memukul dan menhajar Dony dengan membabi buta tanpa henti. Jelas itu karena Andra teramat marah saat tangan kotor Dony menyentuh wajah Alena sang istri di tambah lagi ucapan Dony yang begitu kurang ajarnya, yang ingin mengantikan posisinya menjadi suami Alena.


Andra juga tidak jauh berbeda nafasnya pun sudah engos-engosan, dadanya naik turun. Karena emosi dan tenaganya baru saja menguar kepermukaan dengan begitu hebatnya.


Alena yang melihat kejadian tadi sebenarnya takut sekali , karena baru kali ini dirinya melihat sosok Andra yang beringas seperti tadi. Selama ia mengenal dan hidup bersama Andra sang suami.


Kini Andra menoleh ke arah dimana istrinya, Andra menghembuskan nafas panjang dan dalam setelahnya Andra berjalan perlahan mendekat ke arah sang istri berada. Penampilan Andra kalah kacau saat ini sama seperti istrinya yang kembali terkunci di kursi kayu itu.


Andra langsung membuka ikatan kain yang mengikat mulut dan wajah sang istri, setelah ia sampai di dekat sang istri. Kemudian Andra beralih membuka ikatan tali tambang berukuran sedang itu dari kedua tangan Alena.


Kini Andra berjongkok tepat di hadapan Alena, meposisikan dirinya agar sejajar dengan tubuh Alena yang masih terduduk lemah di atas kursi kayu itu.


"Mas Andra.." Ucap Alena dengan nada lemah.


Kedua manik mereka saling bertemu dan mengunci satu sam lain. Dari mata mereka ada kerinduan mendalam yang terpendam selama beberapa bulan ini, karena berbagai alasan dan ke egoisan seseorang.


Setelah hening beberapa menit dan manik mereka saling menyelami, lalu Alena berhambur memeluk suaminya. Masih dalam posisinya diatas kursi kayu itu.


Semakin mengalir kembali air bening itu bahkan kali ini Alena sampai nangis segugukan. Andra pun membalas pelukan istrinya dengan lembut dan erat. "Maafkan saya Alena..?" Suara Andra sedikit bergetar, matanya kini memanas menahan air mata.


"Alena yang harusnya minta maaf Mas, Alena yang sebenarnya salah dan terlalu egois." Suara Alena lemah dan bergetar sekali, ia berucap sambil terus menangis terisak tanpa melepas pelukannya pada Andra.


Andra pun terus memeluk lembut dan erat istrinya itu. "Saya pun salah Alena karena menjadikanmu korban secara tidak langsung, walaupun itu bukan kehendak dan niat saya. Bahkan kejadian yang baru kamu alami ini akibat kesalahan saya. Maafkan saya, maafkan saya juga yang baru datang sekarang menyelamatkan mu sayang." Akhirnya air mata Andra pun lolos juga dari tempatnya.


Mereka mengurai pelukannya lalu kembali saling tatap, Andra menyentuh wajah sang istri lembut begitu juga sebaliknya yang di lakukan Alena sang istri kepada Andra.


"Apa saja yang sudah pria brengs*k itu lakukan pada mu sayang?" Mata Andra memindai lebih detail setiap inci tubuh istrinya, ada bagian pakaian Alena yang robek.

__ADS_1


"Apa ia memperlakukanmu dengan kurang ajar atau menyakiti mu sayang?" Imbuh Andra lagi dengan perasaan khawatir dan sorot mata pilu melihat keadaan sang istri semenyedihkan ini.


Alena kembali berhambur memeluk suaminya, ia tak menjawab. Tapi hanya menangis dalam dekapan suaminya. Saat ini hanya itu yang bisa menjadi jawabannya kepada sang suami.


"Menangislah sayang, kalau itu dapat membuat mu jauh lebih lega." Seru Andra lembut sambil mengelus punggung sang istri pelan dan lembut.


Sirine mobil polisi terdengar masuk ke dalam gedung tua ini, hingga beberapa menit kemudian terdengar suara langkah kaki yang berbondong-bondong mulai masuk dari sudut pintu yang ada di lantai 2 ini.


Andra dan Alena pun mengurai kembali pelukan mereka, menoleh ke sumber suara. Berbondong-bondong polisi masuk ke sini lalu menodongkan pistol mereka masing-masing kepada orang-orang suruhan Dony termasuk Dony yang semuanya dari mereka sudah lemah tak berdaya.


"Andra , Alena..?" Yang di panggilpun menoleh ke sumber suara.


Ada Mama dan Papanya Andra, beserta Abizar dan Vera saat ini yang ikut datang kemari. Mereka pun melangkah lebar menghampiri Alena dan Andra.


"Astagfirullah Andra, Alena. Kenapa kalian sekacau ini. Pasti mereka telah banyak menyiksa kalian." Mama Andra kini salung memeluk Alena sang menantu.


Papa Andra pun memeluk putra bungsunya yang memang terlihat sudah lelah sekali, Papanya bisa tau kalau Andra pasti telah habis-habisan menghajar mereka para pembuat kejahatan hari ini. Karena sekilas Papa Andra dan lainnya melihat bagaimana babak belurnya para pelaku kejahatan itu yang sudah tergeletak lemah tak berdaya di atas lantai gedung ini.


"Ayo kita ke RS sekarang obati semua luka yang ada di tubuh kalian." Ujar Mama Andra, setelah melerai pelukannya terhadap Alena.


"Elo nggak apa-apa kan Len." Tanya cemas sang sahabat, lalu memeluknya mencoba memberi semangat kepada sahabatnya.


"Bagaimana kalian tau kami disini?" Selidik Andra saat sudah melepas pelukan dari Papanya.


"Maaf Ndra , kemarin malam Mama diam-diam sengaja mengotak atik smart phone mu. Menyadap dan menyetel GPS nya ke smart phone Mama. Makanya Mama bisa tau keberadaan kamu hingga sampai ke tempat ini dan tadi Mama langsung menghubungi polisi dan sekalian mereka ikut kemari. Agar langsung meringkus mereka para biang keroknya." Tutur Mama Andra mejelaskan.


🍬🍬🍬


POV ANDRA.


Kami sudah dari kemarin menginap dan di rawat di RS, tepatnya Alena yang di rawat. Sedang aku hanya menginap untuk menjaga Alena istriku, karena aku merasa baik-baik saja. Hanya memang aku menjalani sedikit pemeriksaan dan kata dokter setelah memeriksa ku, aku memang baik-baik saja. Jadi aku cukup di resepkan beberapa obat pereda nyeri dan antibiotik saja, tanpa harus rawat inap.


Aku baru tau kalau hampir sekujur tubuh istriku terluka di dalamnya akibat si Dony brengs*k itu mencambuknya dengan sabuk tali pinggangnya berkali-kali pada Alena. Kini mereka sudah di tangkap dan terus di proses sesuai hukum yang berlaku, sampai vonis jatuh atau di tetapkan.


Mertuaku pun sudah dari kemarin langsung tiba di RS saat kami pun sudah tiba di RS beberapa menit sebelumnya.


"Sayang bagaimana keadaanmu apa sudah lebih baikan?" Tanyaku saat pagi ini aku menyuapinya sarapan sebelum nantinya ia harus minum obat.


"Iya, Mas Lena sudah jauh lebih baikkan. Terima kasih ya Mas." Jawab Alena dengan seutas senyum manis yang ia suguhkan untukku.


"Sudah dari kemarin kamu terus berkata terima kasih bahkan maaf pada saya, sayang. Jangan jadikan beban yang telah terjadi ya sayang, agar kamu cepat sembuh. Apa kamu mau tidak jadi wisuda tepat waktu nantinya." Tuturku pada Alena lembut dengan terus menyuapkan sarapannya.


"Jangan dong Mas, Lena maunya wisuda tepat waktu dong. Emang Mas mau aku nggak wisuda-wisuda gitu." Celotehnya sedikit kesal di akhir kalimat.


"Ya tidak lah sayang. Tapi jika itu terjadi saya sih nggak ada masalah." Kekehku.


"Mas, Lena masih lapar tapi sarapannya udah habis." Ujar Alena dengan wajah sendu.


"Ya sudah saya pesankan gofood mau kan sayang?" Alena pun mengangguk penuh senyum sebagai jawaban.


"Tapi di minum dulu obatnya pagi ini." Aku mulai megambil obat-obat yang dari kemarin sudah dokter resepkan ke Alena.


Lalu menyodorkan beberapa obat tersebut kepada Alena beserta air mineral, agar Alena segera menegaknya.


Alena jelas lapar lagi, ini pasti efek selama beberapa hari si culik dan di sekap. Alena mengaku ia tidak di beri makan dengan layak dan malah di siksa seperti di cambuk. Lena pun berkata seadainya di beri makan layak juga belum tentu ia mau memakannya, selama di sekap juga ia engan sekali memakannya. Memang biad*p Dony itu, aku rasanya ingin membunuhnya saja.


Tapi jiwa baikku masih tersisip dalam hati dan otak warasku masih cukup berfungsi. Serta prinsipku kalau membalas dendam itu dosa sama seperti ajaran agama yang aku yakini. Apalagi melenyapkan nyawa seseorang atas dasar sengaja ataupun berencana, jelas itu salah di mata hukum yang sesungguhnya. Sedangkan dalam agama kita itu pun jelas perbuatan dosa , bahkan dosa besar.


🍬🍬🍬

__ADS_1


Bersambung...


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰


__ADS_2