
Sudah 2 hari 3 malam aku di rawat di RS ini sejak malam aneh itu, mertua dan Vera juga sudah datang menjenguk dan membuat kan izin untuk ku yang tidak bisa hadir dulu mengikuti perkuliahan karena sakit dan di opname di RS. Si om tetap hadir dan selalu menemaniku sesekali tapi ku abaikan ia.
Jujur aku takut tapi juga lebih kepada marah yang sedikit ada rasa benci padanya. Aku juga tidak mau mendengar apapun dari mulutnya untuk sekarang-sekarang ini, yang aku rasa aku sedang benci padanya. Kenapa ia berlaku kasar pada ku saat kami bercinta malam itu tanpa henti.
Dan selama sudah 2 hari 3 malam aku di RS ini aku pun mejalani beberapa pemeriksaan dan masih terus minum obat baik yang di minum maupun yang di disuntikkan ke dalam infusku, selain dari pada cairan infus itu sendiri. Kata dokter pemeriksaan agar lebih tau apakah masih ada luka serius lainnya di dalam rahim atau pun leher rahim yang cedera termasuk **** * ku.
Karena kalau tidak di obati dengan benar dan tuntas bisa membuat aku terkena penyakit lain juga atau rasa nyeri yang bisa kembali kambuh dan yang lebih fatal lagi, bisa sulit hamil atau kata lainnya mandul. Begitulah yang pernah dokter katakan dan jelaskan kepadaku dan juga Mama , Papaku. Jelas Mama dan Papa ingin aku sembuh betul dan bisa memiliki keturunan.
Tapi jika aku sudah benar-benar sembuh nanti, aku juga nggak yakin apakah aku bisa menjalani hubungan suami istri dengan semudah itu kembali bersama si om sang suami. Rasa takut itu ada , takut karena kekasarannya dan kesakitan yang ku rasakan. Bukan kenikmatan ataupun kenyamanan yang ku dapat sejak dan saat malam aneh itu datang menghampiriku.
"Neng."
"Iya Mah."
"Kamu teh masih ngambek sama suami kamu yang kasep itu?" Aku masih diam tak langsung menjawab.
Aku memang sudah menceritakan kejadian soal malam itu pada Mama dan Papa, reaksi Papa dan Mama hanya heran dan seakan tak percaya dengan apa yang ku ceritakan.
Walaupun kenyataannya memang itu yang terjadi hingga aku pendarahan, Mama sempat kesal tapi akhirnya hanya bisa berkata kalau aku ingin menangkan diri dulu tinggal saja dulu di rumah Mama dan Papa.
Berbeda dengan Papa yang tenang dan juga sempat bertanya. Apakah aku sudah mendengarkan penjelasan dari si om suami, yang kala itu hanya ku jawab dengan gelengan.
"Neng kok diem aja sih Mama tanya?" Mama mengintruksiku.
"Eh iya Mah."
"Kamu kan lusa udah bisa pulang tuh tadi kata dokter." Tadi dokter baru saja habis memeriksa ku kembali.
"Jadi kamu nanti mau langsung pulang ke apartement atau mau ke rumah Mama dulu?" Kembali aku diam tak langsung menjawab.
____
Ceklek..
Tiba-tiba pintu dibuka dan di tutup kembali aku menoleh saat suara pintu itu terdengar, munculah sosok tampan dan tinggi itu si om suami.
Ku lihat si om membawa sebuah tas ransel hitam, paen dia bawa itu.
"Ma..Mama..?" Aku memanggil Mama malas bertanya pada sosok tampan dan tinggi di hadapanku kini.
"Mama sama Papa sudah pulang. Malam ini saya yang akan menjaga kamu dan menginap di sini, sayang." Ucapnya membuat ku mendelik karena terkejut.
"Kok Mama sama Papa Lena nggak pamit mau pulang, pasti Mas kan yang menyuruh dan memaksa Mama dan Papa pulang begitu saja." Kesalku dengan tatapan tajam ke arahnya.
"Mas Lena masih belum mau melihat wajah Mas lama-lama, apalagi satu kamar begini. Lebih baik Mas pulang saja sana, Lena bisa kok sendiri di sini tidak perlu Mas jagain." Ucapku dengan nada marah.
Aku bergerak memunggungginya, sudah malas aku bersuara. Toh dia malah diam saja sambil menatapku ntah dengan tatapan apa itu aku tak mengerti. Lebih baik aku tidur, mataku juga sudah terasa ngantuk mungkin efek habis minum obat tadi.
___
Mataku mengerjap perlahan terbangun dari tidurku, ku lirik sunyi tak ada siapapun selain aku dan seorang lelaki yang bukannya tidur di bed lain yang memang sudah di sediakan di kamar rawat VVIP ini , untuk keluarga yang menjaga pasien.
Ia malah tidur dengan duduk di kursi yang ia dekatkkan di sisi bed sebelah kananku , dengan wajahnya di tengelamkan ke atas kedua tangannya yang di lipat dan di letakkan di atas sisi bed ku. Namun, sebelah tangannya setia mengenggam jemari tangan kananku yang tanpa selang infus.
Ku lirik jam dinding yang bertengger di sana waktu menujukkan pukul 00 : 43 wib. Aku tiba-tiba ingin ke kamar mandi karena terasa ingin buang air kecil, tapi saat aku ingin bangun tangan kananku sungguh susah ku tarik dari genggaman si om suami yang tengah tertidur itu.
Aku melihat kepala si om suami bergerak perlahan sepertinya ia telah terbangun, kini kepalanya sedikit terangkat dan megerjap-gerjapkan matanya. Lalu sebelah tangannya yang tidak mengenggam tanganku mengucek matanya sekilas.
"Kamu terbangun sayang?" Tanyanya pelan.
Aku pun langsung menarik tangan kananku yang ada dalam genggamannya, tanpa menjawab pertanyaannya. Aku berusaha bangkit hendak ke kamar mandi.
__ADS_1
"Kamu mau kemana, Alena?" Tanyanya lagi karena aku sedang duduk hendak menurunkan kakiku ke atas ubin.
Aku diam tak menjawab tapi si om bergerak untuk membantuku, ku tepis tangannya yang hendak meraih bahuku dan tangaku. Tapi ia berusaha untuk meraihnya kembali.
"Udah Mas sana, Lena bisa sendiri." Sentakku , sambil merebut botol infus yang tadi ia ambil dari gantungannya dan memegangnya.
Ia diam tanpa bersua dan terus memegang botol infusku dan memapahku menuju toilet, ia tau melihat gelagatku tanpa aku bilang.
"Jangan ikut masuk, Lena bisa sendiri." Sentakku lagi.
"Saya suami kamu Lena nanti kalau kamu jatuh di dalam bagaimana? Kamu masih lemah sayang." Ucapnya lembut.
"Nggak akan , Lena udah cukup kuat kok." Ketusku.
"Tapi__"
"Stop , atau Lena teriak sekuat-kuatnya." Ancamku, ia sedikit mendelik.
"Minggir, Lena udah kebelet pipis tau." Ketus ku lagi berapi-api.
Ia mengembuskan nafas pelan dan mengalah dengan melepas bahuku perlahan dan membiarkan aku mengambil alih botol infusku dari tangannya kirinya.
"Jangan di kunci pintunya." Titah si om suami, saat aku baru saja masuk dan menutup pintunya dan hendak menguncinya.
Ku hentikan juga tanganku yang tadi hendak bergerak untuk mengunci pintu kamar mandi ini, setelah ia berucap demikian tadi.
__
Usai dari kamar mandi beberapa menit lalu aku kembali ke bedku. Aku malah gelisah tak bisa tidur sampai aku harus gerasak gerusuk di atas bedku untuk mencari posisi nyamanku. Tapi tetap tak menemukannya, mataku pun tetap tak bisa terpejam.
Si om suami baru saja selesai melaksanakan sholat tahajudnya, berzikir dan berdo', ntah do'a apa yang ia panjat aku tak tau. Karena dia berdo'a dalam dia hanya kedua telapak tangannya yang ia tengadahkan ke depan dadanya.
Aku kembali gerasak gerusuk di atas kasur merasa kesal sendiri, karena masih belum bisa memejamkan mata untuk tidur.
Aku tak menghiraukan pertanyaannya aku sekarang memiringkan posisiku di atas bed seraya memunggunggi si om suami yang tadi berdiri mengahadap ku, setelah ia usai beribadah sunnah tengah malam ini.
Mendengar ada pergerakan di belakangku dan bedku terasa ada yang menaikinya, lalu aku merasa ada yang memeluk tubuh ku dari arah belakang. Aromanya jelas aku sangat hafal siapa lagi kalau ini ulah si om suami. Aku berusaha berontak dengan pergerakan tubuhku tanpa berucap.
Hatiku masih teramat kesal dan marah serta sakit dan benci walaupun hanya sedikit. Kini si om suami malah semakin erat memelukku dan tenagaku yang sebenarnya masih sedikit lemah ini, tak bisa berontak lebih keras lagi.
"Sudah jangan meronta sayang saya hanya ingin membuat kamu bisa kembali tidur dengan nyaman dan nyenyak. Karena biasanya juga sejak malam pertama kita kamu akan bisa tidur lebih nyaman dan nyenyak setelah saya peluk." Ucapnya lembut dan yang ia ucapkan itu memang benar.
"Mas jangan mesum ya ini rumah sakit. Apa kata dokter dan perawat atau siapapun yang masuk ke kamar ini. Jika melihat Mas begini tidur di atas bed pasien berdua. Ini sempit tau." Ucap ku ketus se ketus ketusnya padanya, sambil badanku masih berontak walaupun secara perlahan.
"Saya tidak akan mesum sayang, lagian ini sudah tengah malam tidak ada dokter dan perawat yang akan masuk untuk memeriksa sayang. Seandainya pun terlihat orang biarkan saja, kita hanya tidur masih berpakaian lengkap dan hanya berpelukan dan kita suami istri yang sah. Jadi tidak ada masalah." Tuturnya lembut dan enteng sekali.
"Tetep saja Lena nggak mau Mas dekat-dekat dengan Lena, lepaskan Lena mas dan turun lah segera." Ucapku dengan nada kesal.
Si om suami tak menghiraukan omonganku dan masih terus memelukku dengan erat. Aku pun sudah tak berontak lagi , seakan aku pasrah dengan perlakuannya karena tenagaku yang juga masih lemah.
Tapi tak bisa dipungkiri kenyamanan ini seakan sedikit melupakan kejadian malam itu, saat si om seperti setan se*ks yang kasar dan jelas itu aku tidak suka sama sekali.
Akhirnya dengan perlahan aku bisa kembali tidur dalam posisi di peluk olehnya dari belakang di atas bed yang terbilang sempit ini untuk ukuran orang dua diatasnya.
🍬🍬🍬
"Mas kenapa masih disini, Mama mana?" Ketusku pada si om suami pagi ini.
"Mama belum datang. Ayok sarapan dulu setelahnya minum obat." Si om mulai mengambil piring yang berisikan sarapan ku, yang beberapa menit lalu di antar petugas RS ini.
"Bismillahirrahmanirrahim." Si om suami membaca bassmalah dan mulai menyodorkan sesendok makanan itu kepada ku.
__ADS_1
"Nggak perlu Lena bisa makan sendiri."
Aku membuang muka agar makanan itu tak jadi masuk ke mulutku.
"Sudah izinkan saya menyuapi istri saya." Mohonya lembut.
"Nggak, Lena mau makan sendiri. Mas keluar dari kamar ini." Ucapku dengan tatapak tajam dan telujukku mengarah ke arah pintu, memberi kode keras agar ia segera keluar dari kamar rawat VVIP ini.
"Ayo sarapan dulu karena sudah waktunya minum obat Alena." Bener-bener ni lakik ya nggak bisa di bilang.
Aku menghembuskan nafas gusar, di pagi ini aku harus extra sabar ternyata.
"Mas kamu nggak ngerti bahasa indonesia ya sekarang? Lena bilang pergi dari kamar ini, Lena nggak mau lihat Mas disini apalagi dekat-dekat seperti semalam lagi. Pergi!!" Volume suaraku kali ini lebih tinggi dari sebelumnya.
"Iya saya akan pergi tapi biarkan saya menyuapkan sarapan kamu ini sampai habis dan memberi mu obat, Alena." Ucapnya datar tapi terlihat dari sorot matanya begitu memohon.
Dengan terpaksa aku diam dan pasrah di suapin oleh si om suami.
"Ayo ini suapan terakhir, lalu minum obat." Seru si om suami.
Usai juga makanku yang disuapin si om suami lalu berlanjut ia memberikan obat-obat yang harus aku minum pagi ini.
"Mas kok masih disini?" Ketusku heran sudah hampir 30 menit berlalu tapi si om suami masih tetap disini.
"Kan tadi bilangnya selesai menyuapi dan memberikan Lena minum obat, Mas pergi dari kamar ini. Kenapa masih terus disini." Mataku menatap tajam padanya.
Dia sedang duduk di sofa seberang sana sambil memainkan benda pipih mahalnya itu. Kemudian ia memasukkan benda pipih itu ke balik jas hitamnya, melangkah ke bed dimana aku sekarang dengan posisi duduk di atas bedku.
Si om suami duduk di kursi yang di hadapkan ke arah ku, sorot matanya syarat kesedihan menatap ke arahku. Ia menundukkan kepalanya sejenak lalu kembali lagi menatapku dengan tatapan sendunya.
"Tolong maaf kan saya Alena." Ucapnya pelan dan intonasi suaranya penuh permohonan , sedangkan aku menatap tak suka padanya tapi dengan pandangan sendu.
"Waktu itu saya khilaf Alena, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Jangan abaikan saya terlalu lama apalagi menyuruh saya pergi dari kamu, perempuan yang saya cintai."
"Diam, Lena nggak mau dengar apa-apa lagi dari mulut Mas, Lena belum bisa memaafkan Mas. Jadi keluar saja Mas dari kamar ini."
Si om suami meraih dan mengenggam kedua tanganku , memegangnya dengan lembut dan erat. Matanya menatap sendu dengan syarat permohonan kepadaku.
"Beri saya kesempatan atau pun apa yang harus saya lakukan agar kamu memaafkan saya dan kita kembali baik dan bersama seperti sedia kala sayang?"
"Pergi om, pergi dari sini. Lena tidak mau melihat om."
Degg...
Rasanya hati Andra seperti di hantam batu besar mendengar Alena sang istri tercinta memanggilnya kembali dengan sebutan Om di tambah di teriakin kata pergi oleh belahan jiwanya sendiri.
"Lena kamu belum mendengar penjelasan saya dengan lengkap, kenapa juga saya malam itu bisa berlaku begitu pada kamu."
"Stop om Lena tidak ingin mendengar apapun dari mulut om, malam itu Lena seperti hanya sebagai budak nafsu om yang terbilang ganas. Apakah itu aslinya om, Lena sekarnag bukan hanya sakit fisik tapi juga batin Lena. Karena perlakuan kasar om kala itu yang tiada henti, Lena juga merasa takut dan trauma. Jika melihat om karena mengingat hal itu kembali, Lena sepertinya tidak bisa jadi istri om lagi."
Degg..
Aku rasanya terlalu sakit dan trauma hingga sadar ataupun tanpa sadar aku berucap demikian di akhir kalimatku. Mungkin dengan tidak menjadi istrinya lagi aku tidak akan merasa takut, atau trauma karena masih bersamanya dan menginggatkan ku akan kejadian malam itu.
"Apa maksud kamu berkata tidak bisa jadi istri saya lagi, Alena?" Tanya si om suami dengan penuh selidik tatapannya terlihat semakin sendu.
Sangkin kesal dan marahnya aku pun kembali memanggilnya dengan sebutan om.
🍬🍬🍬
Bersambung...
__ADS_1
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰